Bab 3
Rexa duduk di dekat jendela, wajahnya begitu tampan dan memesona. Matanya memancarkan perpaduan antara kesejukan dan kelembutan yang sangat memikat. Tonjolan kecil di pangkal hidungnya membuatnya terlihat lebih istimewa dan tidak membosankan. Pada momen itu, seolah sinar matahari dari luar pun memancarkan cahaya khusus untuknya.
Melihat pemandangan ini, Arlina tanpa sadar menarik napas dalam-dalam. 'Tampan sekali!!!'
Namun kemudian, dia baru teringat ini bukan saatnya untuk genit. Hatinya kembali merasa gelisah dan akhirnya dia berkata dengan gugup, "Pak Rexa."
Arlina menundukkan pandangannya dan memasang wajah bersalah. Meskipun, itu sebenarnya lebih untuk menutupi rasa gugupnya.
Dibandingkan dengan kegugupan Arlina, Rexa justru tampak tenang. Sikapnya benar-benar mencerminkan statusnya sebagai seorang tenaga pendidik. Dia menunjuk kursi di depannya dan berkata, "Duduk."
Akan tetapi, mana mungkin Arlina berani duduk? Dia hanya berkata dengan senyum tersipu, "Nggak usah, Pak. Saya berdiri saja."
Rexa telah bangkit dari tempat duduknya. Tingginya melebihi Arlina hampir satu kepala, membuat gadis itu harus mendongak untuk menatapnya. "Coba jelaskan, kenapa kamu melamun waktu jam kuliah?" Nada bicaranya terdengar datar, seolah benar-benar hanya ingin tahu alasan Arlina melamun.
Mana mungkin Arlina berani mengatakan alasan sebenarnya? Setelah berpikir keras cukup lama, dia akhirnya menjawab dengan gugup, "Karena ... tadi malam saya kurang tidur." Kemudian, dia langsung mengucapkan permintaan maaf dengan penuh penyesalan, "Maafkan saya, Pak. Saya berjanji lain kali nggak akan seperti ini lagi."
Rexa tidak menunjukkan apakah dia percaya pada ucapan Arlina atau tidak. Dia hanya berjalan ke tempat menyeduh teh, mengambil sebuah gelas dan sekantong teh susu, lalu menuangkan air panas ke dalamnya.
Gerakannya santai, jari-jarinya panjang dan lentik, memancarkan aura elegan dan berkelas. Asap tipis mengepul dari cangkir teh, menciptakan pemandangan yang menenangkan.
"Aku baru kembali dari luar negeri beberapa waktu lalu dan mungkin belum terlalu terbiasa dengan metode pengajaran di sini. Kalau kelasku terlalu membosankan, aku harap kamu bisa langsung bicara jujur."
Astaga ... rendah hati sekali dosen ini. Dosen setampan dan semurah hati ini malah telah dilecehkannya. Bahkan Arlina sendiri juga merasa dirinya benar-benar berengsek.
"Ng ... nggak, kok. Penjelasan Pak Rexa sangat bagus," sahut Arlina buru-buru. Meski Arlina tidak mendengarkannya dengan saksama, dilihat dari reaksi teman-teman sekelasnya, jelas sekali menunjukkan bahwa kemampuan mengajar Rexa sangat bagus.
Rexa hanya tersenyum tipis. "Baguslah kalau begitu."
Setelah berkata demikian, dia menyerahkan segelas teh susu yang baru diseduhnya kepada Arlina. Jari-jarinya tampak ramping dengan sendi yang tegas, kukunya juga terawat dengan rapi dan bersih
"Ini pemberian dari dosen lain, anak-anak biasanya suka minuman ini." Dia malah menyebut Arlina sebagai anak-anak.
Wajah Arlina memerah. Dia buru-buru mengulurkan tangan untuk menerima cangkir itu. "Terima kasih, Pak Rexa." Cangkir itu terasa hangat, tetapi tidak sampai membuat tangannya panas. Uap panas mengepul perlahan dan aroma teh susu yang pekat menguar ke hidungnya.
Sejak masuk ke ruangan ini, Arlina merasa begitu tegang dan penuh kewaspadaan. Namun, Rexa sama sekali tidak menyinggung kejadian malam itu. Sebaliknya, dia justru mengobrol ringan seolah-olah sedang berbincang santai.
Ditambah lagi, dengan hangatnya aroma teh susu yang menguar, membuat ketegangan dalam dirinya perlahan mencair. Dia menunduk untuk menyesap sedikit teh susu tersebut. Rasa manis yang lembut menyebar di dalam mulutnya.
Namun pada saat itu, terdengar suara Rexa yang tenang di telinganya. "Malam itu ... itu kamu, bukan?"
Kata-kata ini menghantam Arlina bagaikan petir, membuatnya mendongak kaget menatap Rexa. Mata pria itu seolah-olah bisa menembus hatinya dan melihat semuanya dengan jelas.
Tujuan Rexa mengobrol santai dan menyeduhkan teh susu untuknya adalah agar kewaspadaan Arlina menurun.
"Uhuk uhuk!" Arlina hampir tersedak oleh teh susu yang baru diseruputnya.
Rexa yang seolah-olah sudah mempersiapkan diri, langsung menyerahkan sebuah tisu dengan lancar. Arlina menerima tisu itu, lalu menyeka bibirnya dengan buru-buru. Setelah menenangkan diri, dia langsung menyangkal, "Aku bukan ... bukan aku."
Rexa memicingkan matanya dengan senyuman tipis. "Aku belum bilang malam yang mana dan kejadian apa."
Arlina menyadari dirinya telah tanpa sengaja membocorkan rahasia, seketika hatinya diliputi kepanikan. Teh susu yang semula terasa hangat pun, kini tidak lagi terasa nikmat. "Pak Rexa, aku nggak tahu apa yang Bapak bicarakan, tapi yang jelas itu pasti bukan aku. Makanya aku menyangkalnya."
Dengan ekspresi yang masih tetap sama, Rexa tiba-tiba mengulurkan tangan padanya.
Jari-jarinya yang panjang dan ramping, mencengkeram pergelangan tangan Arlina. Saat kulit mereka bersentuhan, Arlina merasa seperti tersengat dan refleks menggigil sedikit.
Apa yang hendak dilakukannya?
Jantung Arlina berdegup kencang.
"Aku ingat malam itu ... ada tahi lalat di telapak tanganmu." Setelah ucapan itu dilontarkan, Rexa langsung membalikkan telapak tangan Arlina. Di telapak tangannya yang halus itu ternyata memang ada sebuah tahi lalat.
Pelaku dan buktinya sudah tertangkap basah. Rexa mengangkat pandangannya melihat Arlina sembari bertanya, "Kamu mau jelaskan gimana lagi?"
Arlina seketika merasa seperti tidak punya tempat untuk bersembunyi. Sebenarnya, dia bisa saja terus berpura-pura tidak tahu apa-apa. Lagi pula, bukan hanya dia yang memiliki tahi lalat di telapak tangan.
Namun, aura Rexa terlalu menekan. Sebagai seorang dosen, Rexa memiliki posisi yang membuat mahasiswa merasa tertekan. Lagi pula, sekeras apa pun dia menyangkal, Rexa sudah yakin bahwa itu pasti dia.
Air mata Arlina mendadak hampir mengalir, suaranya gemetaran dan terisak, "Pak Rexa, aku salah. Ini semua salahku. Aku nggak seharusnya tidur sembarangan sama orang asing. Anggap saja hal ini nggak pernah terjadi, aku janji nggak akan mengulanginya lagi."
Arlina merasa hancur. Sebelum air matanya benar-benar menetes, dia segera memalingkan wajah dan berlari keluar dari kantor.
Mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras, Rexa sontak merasa terkejut. Dia bahkan belum sempat mengatakan apa-apa, kenapa gadis itu malah sudah kabur?
Rexa mencarinya hanya untuk melihat bagaimana masalah ini bisa diselesaikan. Bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya dia menghadapi kejadian seperti ini.
Rexa alergi alkohol, biasanya dia tidak pernah menyentuhnya. Malam itu saat teman-temannya mengadakan pesta penyambutan untuknya, dia salah mengambil gelas dan meneguk minuman beralkohol.
Tak lama setelah itu, seluruh tubuhnya terasa panas dan dia pergi ke toilet untuk mencuci muka agar sadar. Tak disangka, seorang gadis tiba-tiba menabrak dadanya dan menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Mungkin karena pengaruh alkohol, dia melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Untuk pertama kalinya, dia kehilangan kendali dan tidur dengan gadis asing. Keesokan paginya saat terbangun, gadis itu sudah tidak ada di sampingnya.
Rexa sempat mencoba mencarinya. Noda merah di seprai membuatnya terus memikirkan hal itu. Rexa yang jelas-jelas lebih tua dari gadis itu, merasa perlu bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik.
Akan tetapi, dia tidak pernah menyangka gadis itu ternyata adalah mahasiswanya sendiri. Informasi ini terlalu mengejutkan hingga membuatnya kehilangan kendali di kelas. Dilihat dari situasinya sekarang, gadis itu sepertinya jauh lebih panik darinya.
Bab 4
Dalam perjalanan kembali ke kelas, Arlina bertemu dengan Rio dan beberapa teman mereka. Rio lebih tinggi dibandingkan teman lainnya dan wajahnya yang tampan juga paling mudah dikenali. Mereka berjalan di depan Arlina dan tidak menyadari keberadaannya.
"Rio, kudengar, pengikutmu itu sudah nggak pernah cari kamu lagi sejak sebelum masuk kuliah. Pasti dia dengar kamu pacaran, jadi hatinya langsung hancur."
"Lihat saja, di kelas Profesor Rexa hari ini dia kelihatan linglung, pasti gara-gara kamu duduk sama Fanny di depannya. Dia jadi sedih, hahaha."
Mendengar hal ini, Arlina baru menyadari bahwa ternyata "pengikut" yang sedang dibicarakan mereka adalah dirinya sendiri. Nilainya dan Rio sama-sama masuk peringkat 10 besar seangkatan. Karena menyukai Rio, Arlina memang sering mengajaknya belajar bersama.
Tak disangka, di mata teman-temannya, Arlina malah dianggap sebagai pengikut. Arlina langsung merasa tersindir. Sikap teman-temannya jelas mencerminkan sikap Rio. Bisa dibayangkan, Rio juga pasti berpikiran sama.
Akan tetapi, setiap kali dia mengundang Rio, Rio juga tidak pernah menolak. Saat mereka belajar bersama, suasananya juga sangat menyenangkan, sampai membuat Arlina keliru mengira dia punya harapan.
Saat itu, terdengar suara Rio berkata, "Lain kali jangan sebut-sebut dia di depan Fanny, nanti Fanny ngambek lagi."
"Ya, ya, ngerti," sahut salah satu temannya. "Sekarang pacar resmimu itu Fanny."
"Menurutku, kamu itu beruntung sekali, Rio. Punya pacar secantik Fanny dan masih ada Arlina si kutu buku yang ngejar kamu. Gimana kalau kamu ambil dua-duanya saja?"
"Ah, jangan ngomong sembarangan. Aku cuma menganggap Arlina teman."
"Kamu anggap dia teman, tapi dia mau jadi pacarmu."
"Eh, menurut kalian, Arlina bakal tetap suka sama Rio nggak? Dari cinta terang-terangan jadi cinta diam-diam, tinggal menunggu Rio putus sama Fanny."
"Gimana kalau Rio nggak putus sama Fanny?"
"Kalau nggak putus, dia bakal terus menunggu dan menghabiskan hidupnya tanpa menikah, hahaha."
"Kamu kira ini sinetron apa?"
"Gimana kalau kita taruhan, berapa lama Arlina bakal menyendiri demi Rio? Setahun? Dua tahun? Lima tahun?"
Rio menghentikan pembicaraan mereka di saat yang tepat, "Sudah, kalian jangan ribut."
Walau begitu, sudut bibirnya sedikit terangkat dan ekspresinya tampak sedikit bangga. Seorang wanita yang mau menjomlo bertahun-tahun demi seorang pria. Bagi mereka, hal ini memang sesuatu yang membanggakan.
Sementara bayangan mereka semakin jauh, Arlina yang berdiri di tempat hanya bisa mengepalkan tangannya. Bisa melihat sifat asli seseorang dengan konsekuensi seperti ini ... sepertinya juga bukan hal yang terlalu buruk.
Hari itu, Arlina merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk. Pertama, dia baru sadar bahwa pria yang dia tiduri ternyata profesor di kampus. Setelah itu, obrolan Rio dan teman-temannya telah menarik dirinya dari perasaan sukanya terhadap Rio sepenuhnya.
Setelah jam kuliah selesai, dia meminta Tania membawa buku-bukunya ke asrama, sementara dia sendiri bersiap pergi bekerja paruh waktu di toko teh susu.
"Dari awal masuk kuliah kamu sudah kerja sambilan setiap hari, malamnya juga nggak ikut belajar di kelas tambahan, tapi tetap bisa masuk 10 besar seangkatan. Aku salut sama kamu," kata Tania sambil memandangi Arlina yang sedang merapikan barang-barangnya.
"Mau gimana lagi, aku harus cari uang untuk biaya hidup."
Tania yang sudah berteman lama dengan Arlina, kurang lebih memahami soal kondisi keluarganya. "Orangtuamu itu keterlaluan sekali. Anaknya secerdas ini malah nggak diurus, tapi anak laki-lakinya yang pemalas malah disayang habis-habisan."
Usai bicara, Tania merasa seolah telah menghina keluarga Arlina. Dia buru-buru berkata, "Maaf ya, Arlin, aku cuma ngomong ceplas-ceplos."
Arlina tersenyum padanya, "Nggak apa-apa, aku tahu maksudmu baik. Sudah hampir telat, aku pergi dulu ya." Setelah itu, dia pun memanggul tas ranselnya dan melangkah keluar dari gerbang kampus.
Jalan dari gerbang kampus ke toko teh susu ini sudah sering dilewati Arlina selama lebih dari setahun. Dia memanfaatkan waktu belajar malam untuk bekerja. Di saat orang lain sudah tidur nyenyak, lampu kecil di samping tempat tidurnya tetap menyala sampai tengah malam.
Orang-orang selalu mengatakan bahwa dia mudah sekali mendapatkan beasiswa. Padahal, hanya dia sendiri yang tahu betapa sulit dan berat perjalanan yang telah dilaluinya.
Begitu sampai di toko teh susu, Arlina mengganti pakaian dengan seragam toko dan mengambil alih sif dari rekan kerja yang bertugas siang. Meskipun statusnya hanya sebagai pekerja paruh waktu, Arlina sudah bekerja di sini lebih dari setahun, sampai-sampai sudah seperti karyawan tetap.
Malam itu toko tidak terlalu ramai. Setelah permisi dengan rekan kerjanya, Arlina pun masuk ke toilet. Saat berdiri dari posisi jongkok, tiba-tiba kepalanya terasa berputar hebat. Dia buru-buru menahan diri dengan menyentuh dinding dan mencoba menstabilkan tubuhnya, sementara jantungnya berdetak cepat tak karuan.
Dalam sekejap, sebuah pikiran yang menakutkan melintas di benaknya. Bulan ini dia belum datang bulan! Tidak mungkin, pasti tidak mungkin. Arlina masih sangat yakin, malam itu Rexa menggunakan pengaman. Kalau tidak, dia juga tidak akan berani.
Apa mungkin pengamannya bocor?
Hati Arlina langsung dipenuhi kekhawatiran. Begitu selesai bekerja, dia segera pergi ke apotek membeli alat tes kehamilan. Arlina bahkan sengaja memilih apotek yang jauhnya lima sampai enam kilometer dari kampus agar tidak ketahuan.
Sambil memegang alat tes kehamilan, Arlina begitu gugup hingga tangannya gemetaran. Sambil menunggu hasilnya, dia berjongkok di toilet dengan kedua tangan yang terkatup sambil berdoa.
"Tolong jangan, kumohon."
"Aku janji nggak akan mengulanginya lagi, tolong jangan begini padaku."
"Huhu, Tuhan dari aliran mana pun ... tolonglah diriku ini ...."
Arlina sampai-sampai memohon pada semua kepercayaan yang ada. Dengan perlahan-lahan, dia membuka mata untuk melirik hasilnya. Ketika melihat dua garis merah di alat tes kehamilan itu, dunia Arlina seakan runtuh.
Habis sudah ... tamatlah riwayatnya ini ....
Bab 5
Arlina harus menanggung konsekuensi atas kesalahan yang dilakukannya karena kebodohan sesaat. Beberapa hari berikutnya, dia benar-benar kehilangan semangat, seakan-akan jiwanya telah melayang. Saat ini dia bahkan belum lulus kuliah. Arlina tahu pasti bahwa anak ini tidak bisa dipertahankan.
Namun, dia juga tidak berani memberi tahu orang tuanya. Sementara untuk menjalani aborsi, dia butuh tanda tangan keluarga dan setelah operasi pun, dia harus beristirahat. Kalau sampai ketahuan pihak kampus, masa depannya akan hancur.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Arlina merasakan ketakutan dan kepanikan yang begitu mendalam, sampai-sampai Tania pun memperhatikan perubahannya dan bertanya dengan cemas, "Arlin, kamu kenapa? Ada masalah apa?"
Beberapa hari ini, wajah Arlina pucat pasi dan tatapannya kosong bagai arwah gentayangan.
Arlina hanya menggelengkan kepala dengan lemah. "Aku nggak apa-apa."
Mana mungkin tidak apa-apa?
"Kalau kamu ada masalah, cerita sama aku. Kita cari solusi sama-sama." Tania merasa iba melihat kondisi Arlina, lalu bertanya dengan ragu, "Apa ini gara-gara masalah Rio?"
Masalah Rio sekarang bahkan bukan apa-apa bagi Arlina. Namun, Tania juga masih seorang mahasiswa. Jika dia mengetahui hal ini, yang ada hanya akan menambah satu orang lagi yang kebingungan.
Arlina memaksakan senyum. "Aku benar-benar nggak apa-apa, kamu nggak usah khawatir."
Melihat Arlina tetap menolak bicara, Tania pun tidak bisa memaksanya lagi, lalu berusaha mengalihkan pembicaraan, "Nanti jam pelajaran terakhir ada kelas anatomi Pak Rexa, kita datang lebih awal biar dapat tempat bagus."
Namun saat mendengarnya, wajah Arlina malah terlihat menderita. "Boleh nggak aku nggak ikut kelas itu?"
"Nggak bisa, kamu juga tahu Pak Rexa itu orangnya sangat ketat. Setiap kali kuliah, dia selalu absen satu per satu. Memang sih, tindakannya ini agak berlebihan. Kalau mata kuliah lain sih, aku nggak berani jamin. Tapi untuk mata kuliah ini, nggak ada satu pun mahasiswa yang berani bolos."
Tentu saja ada. Arlina adalah yang pertama.
Meskipun dia punya niat, Arlina tetap tidak berani melakukannya. Selama dua tahun kuliah, dia belum pernah bolos sekali pun. Apalagi sekarang Rexa sudah tahu siapa dirinya. Kalau dia meminta Tania untuk menggantikannya absen, bukankah itu sama saja seperti menyerahkan diri ke kandang harimau?
Belum sampai jam kuliah, Tania sudah menarik tangan Arlina menuju ruang kelas. Sialnya, kali ini mereka malah dapat tempat di barisan depan.
"Nia, gimana kalau kita duduk di belakang saja? Masih ada tempat kosong di sana," kata Arlina mencoba membujuk. Setelah meniduri profesor, ditambah dengan kehamilannya ini, Arlina semakin tidak berani berhadapan dengan Rexa.
"Nggak bisa, tempat ini sudah paling bagus." Tania langsung duduk. "Di sini paling strategis. Dari sini kita bisa menikmati ketampanan Pak Rexa dari jarak dekat."
Arlina sempat berpikir untuk pindah ke belakang. Namun begitu menoleh, semua tempat duduk di belakang sudah penuh. Akhirnya, dia hanya bisa pasrah duduk di depan.
Tak lama kemudian, bel kuliah berbunyi. Arlina berusaha meringkuk di belakang Tania, mencoba menyamarkan keberadaannya.
Seperti biasanya, Rexa tampil memesona. Dia melangkah masuk ke kelas dengan langkah panjang dan berdiri di panggung dengan tubuh yang tegap dan ramping. Mantel berwarna khaki membalut tubuhnya, seolah-olah dia baru keluar dari majalah mode. Matanya bersinar tajam, fitur wajahnya tegas, dan ekpresinya tampak tenang.
Begitu dia muncul, seluruh kelas langsung sunyi. Suara lembutnya terdengar jelas dan matanya menyapu sekilas ke seluruh kelas saat berkata, "Kita mulai kuliahnya."
Kali ini Arlina tidak berani lagi melamun. Dia mencatat semua poin penting yang disampaikan Rexa di buku catatannya. Sambil mendengarkan, mata Arlina tanpa sadar terus mengikuti gerakan tubuhnya. Rexa benar-benar pria yang paling memikat yang pernah dia lihat.
Dirinya memancarkan aura yang tenang dan penuh pesona. Kalimat "kecerdasan membuat seseorang bersinar dari dalam" rasanya sangat cocok untuk menggambarkan Rexa.
Cara Rexa mengajar juga sangat terstruktur. Materi yang rumit bisa disampaikannya dengan sederhana, membuat semua orang mudah mengerti. Semua mahasiswa larut dalam suasana kuliah, perhatian mereka sepenuhnya tertuju pada materi yang disampaikan olehnya.
Arlina mendengarkan dengan sungguh-sungguh, pandangannya terus tertuju pada Rexa. Tiba-tiba, Rexa menoleh ke samping dan pandangan mereka kembali bertemu tanpa sengaja. Arlina seketika tersadar dan buru-buru menundukkan kepala dengan cemas.
Tiba-tiba dia teringat, kira-kira bagaimana reaksi Rexa jika tahu dirinya hamil? Rexa adalah ayah biologis anak ini, apakah dia harus memberi tahu Rexa?
Arlina menggigit bibirnya dengan bimbang. Dia benar-benar tidak ingin punya keterkaitan lebih jauh dengan pria itu.
Akhirnya, bel tanda berakhirnya kelas berbunyi. Rexa mematikan proyektor dan berkata, "Kelas selesai. Kalau ada yang masih kurang jelas, bisa bertanya sekarang."
"Pak, saya mau tanya."
"Saya juga ada pertanyaan."
Beberapa mahasiswa langsung mengerubungi Rexa dan dia menjawab pertanyaan mereka satu per satu. Dari sudut matanya, dia melihat sosok yang duduk di barisan depan itu. Arlina sudah menggendong tasnya dan melarikan diri terbirit-birit dari kelas.
Beberapa hari ini, mereka sudah dua kali berpapasan di kampus. Setiap kali melihatnya dari kejauhan, Arlina langsung terkejut dan buru-buru memutar arah, jelas sekali dia sedang menghindari Rexa.
Rexa sempat memeriksa data mahasiswa Arlina. Usianya 21 tahun, dua tahun kuliah dengan kehadiran penuh, nilainya termasuk peringkat 10 besar seangkatan, dan setiap tahun mendapatkan beasiswa. Dia adalah murid teladan di mata para dosen.
Rexa menundukkan pandangan, lalu melanjutkan menjelaskan materi kepada mahasiswa-mahasiswa yang bertanya.
....
Arlina biasanya jarang pulang ke rumah di akhir pekan. Mungkin karena kejadian-kejadian belakangan ini membuat hatinya tidak tenang, dia berharap bisa menemukan sedikit penghiburan di rumah. Jadi, pada Jumat sore, dia memutuskan untuk pulang.
Begitu pintu rumah dibuka, aroma harum masakan langsung menyambutnya. Dari dapur terdengar suara ibunya, Heidy, "Max pulang ya? Ibu sebentar lagi selesai masak, tunggu sebentar ya."
Arlina meletakkan ranselnya dan berjalan ke pintu dapur, lalu memanggil, "Ibu, ini aku."
Heidy menoleh ke belakang. Begitu melihat Arlina, tangannya yang memegang spatula langsung berhenti. "Kenapa kamu pulang?"
"Besok akhir pekan," jawab Arlina pelan.
Heidy mengernyit. "Kamu ini ... kenapa nggak kasih tahu dulu sebelum pulang? Ibu jadi nggak masak nasi untukmu."
"Aku sudah bilang kemarin," ucap Arlina.
"Oh ya?" Nada bicara Heidy terdengar acuh tak acuh. "Kalau begitu aku lupa. Siapa juga yang ingat hal-hal beginian, biasanya juga kamu nggak di rumah."
Arlina hanya terdiam.
Orang tua Tania bahkan sudah menanyakan anaknya akan pulang untuk makan atau tidak sebelum akhir pekan tiba. Namun di rumah ini, keberadaan anak perempuan seperti tidak berarti.
"Kenapa bengong saja? Cepat bawa lauknya ke meja makan. Terus telepon ayahmu, suruh dia beli nasi putih dari luar," perintah Heidy.
"Oh, oke." Arlina buru-buru mencuci tangan dan membawakan lauk ke meja, lalu menelepon ayahnya, Godric.
Setelah semua lauk selesai dimasak, Godric masuk rumah dengan membawa kotak nasi sambil melepaskan sepatunya dan menggerutu, "Kenapa nggak bilang-bilang dulu kalau mau pulang. Sekarang nasi putih dari luar makin mahal. Kotak nasi juga harus bayar, enam ribu sudah cukup untuk masak nasi sekeluarga."
"Harga barang-barang semakin naik, semua serba mahal, cuma gaji kamu yang nggak tambah. Rumah ini sebentar lagi nggak ada yang bisa dimakan lagi," keluh Heidy sambil merebut kotak nasi dari tangan Godric.
"Untuk apa bawa kotak nasi segala? Plastiknya ini juga bersih, langsung pakai plastik saja, dong."