Bab 2

Setelah bercinta satu malam, lalu ternyata pria itu adalah dosen di kampus sendiri. Kenapa ini bisa terjadi? Kata "semua harapan musnah" benar-benar menggambarkan situasi Arlina saat ini.

Tania yang tadinya bersemangat, menunduk sejenak, lalu memandang Arlina yang tergeletak lemas di meja seolah kehilangan semangat hidup. "Arlin, kamu kenapa? Kenapa wajahmu seperti habis makan kotoran?"

Jika memungkinkan, Arlina lebih rela benar-benar memakan kotoran.

"Tania." Suara Arlina nyaris serak saat berkata, "Habis sudah, aku benar-benar hancur."

"Ada apa sebenarnya?" Tania menatapnya dengan bingung.

Tiba-tiba, terdengar suara yang jernih dan tegas dari arah panggung, "Harap tenang."

Suara ini mengingatkan Arlina pada suara yang didengarnya malam itu. Arlina yang tadinya masih memiliki secercah harapan, kini benar-benar merasa hancur. Ternyata benar-benar pria itu. Meski suaranya malam itu terdengar lebih serak, Arlina yakin dia tidak salah mendengarnya.

Ucapan pria itu tadi membuat seisi ruang kelas menjadi hening seketika. Saking heningnya, bahkan suara napas pun nyaris terdengar.

Melalui mikrofon, suara merdu pria itu bergema di seluruh sudut ruangan, "Perkenalkan, nama saya Rexa Pariaman. Mulai hari ini, saya yang akan mengajar kalian mata kuliah anatomi."

"Wow."

"Wow."

Ucapan ini memicu keriuhan dari seluruh ruangan.

'Tidak!!!!!'

Pada saat itu, Arlina baru benar-benar memahami makna kalimat "penderitaan manusia tidak saling terhubung." Terutama ketika Tania yang berada di sisinya bersorak heboh hingga nyaris memekakkan telinga Arlina.

Di atas panggung, Rexa hanya mengangkat tangan memberi isyarat untuk diam. Kemudian, seisi ruang kuliah langsung kembali hening.

"Tanpa menunda-nunda lagi, ayo kita mulai perkenalan singkat mengenai mata kuliah anatomi."

Layar di panggung menampilkan materi presentasi. Rexa berdiri tegak di depan. Sekujur tubuhnya memancarkan aura elegan dan percaya diri yang alami.

"Anatomi adalah ilmu yang mempelajari struktur bentuk tubuh manusia. Melalui pengamatan langsung, mikroskop, maupun teknologi pencitraan, kita akan mempelajari bentuk, letak, hubungan, serta perkembangan organ, jaringan, dan sistem tubuh manusia ...."

Suaranya yang tenang mengalir memenuhi ruang kuliah, membuat seluruh mahasiswa mendengarkan lebih saksama daripada saat belajar untuk ujian nasional.

Kecuali Arlina ....

Sepanjang pelajaran, dia duduk di kursinya dengan gelisah. Tidak ada satu pun materi kuliah yang bisa dicernanya.

Tania yang menyadari hal ini, membisikkan dengan suara pelan, "Kamu ini ambeien ya, nggak bisa diam duduknya?"

'Kasar sekali sih omongan Tania ini?'

Sejak awal pelajaran, Arlina terus menunduk dalam posisi yang membuat punggungnya pegal. Jadi, dia refleks mencoba meluruskan tubuhnya. Namun saat dia mengangkat kepala, pandangannya langsung bertemu dengan tatapan Rexa di atas panggung. Seolah-olah, semua ini memang sudah ditakdirkan.

Seketika, Arlina merasa kepalanya berdengung.

Di atas panggung, Rexa yang sedang menjelaskan materi kuliah, tiba-tiba berhenti. Tatapannya mengarah pada posisi Arlina.

"Ada apa ini?"

"Kenapa Pak Rexa tiba-tiba berhenti?"

Suara bisikan mulai terdengar di ruang kuliah.

Tania menarik lengan baju Arlina dengan hati-hati dan berbisik, "Kenapa aku seperti merasa Pak Rexa sedang melihatmu?"

Arlina tersadar dan tertawa pelan, lalu mencoba mengalihkan perhatian dengan berpura-pura menoleh ke belakang, "Mana mungkin. Mungkin dia lihat orang di belakangku yang nggak memperhatikan pelajaran."

Tatapan Rexa yang berada di atas panggung seakan-akan bergejolak. Jarang sekali dia menunjukkan sikap yang tidak terkendali seperti ini. Namun, reaksi Rexa cukup cepat. Dia segera memalingkan pandangan dan melanjutkan kuliah seperti biasa.

Tak seorang pun menyadari bahwa tangan yang memegang pointer laser itu mengepal erat hingga buku jarinya memutih.

'Dia mengenaliku? Nggak mungkin, 'kan?' Arlina tidak yakin. Namun di dalam hatinya, dia diam-diam berharap agar Rexa tidak mengenali dirinya. 'Tolonglah, tolonglah, Tuhan ....' Dia berdoa dalam hati sambil mengatupkan kedua tangan.

Namun, suara Rexa yang tenang kembali terdengar dari panggung, "Baiklah, sekarang saya minta mahasiswa yang duduk di baris ketiga dari belakang, kursi kelima dari kanan, mengenakan jaket abu-abu, untuk menjawab pertanyaan saya tadi."

Ucapannya itu ditujukan dengan sedetail mungkin ....

Arlina hanya bisa terpaku melihat semua pandangan mahasiswa serempak mengarah kepadanya. Saat menatap ke depan, tatapan matanya kembali bertemu dengan mata Rexa yang begitu dalam.

Apakah masih sempat kalau dia melepas jaket abu-abu ini sekarang?

Arlina berdiri dengan bengong.

Sebagai profesor, Rexa tersenyum lembut sambil berkata, "Silakan jawab pertanyaan saya tadi."

Arlina benar-benar tidak tahu pertanyaan apa yang dimaksud. Sejak awal kuliah hingga sekarang, pikirannya kosong total. Dia hanya bisa bergumam, "Ma ... maaf, pertanyaan yang mana?"

Suara tawa pelan terdengar dari sekitar.

Rexa tetap tenang, seolah memiliki kesabaran yang tiada habisnya. "Metode pewarnaan yang paling umum digunakan untuk preparat parafin, baru saya jelaskan beberapa menit yang lalu."

Arlina menunduk memandang Tania dengan penuh harap. Tania hanya menggerakkan bibir tanpa suara, berusaha membisikkan jawabannya. Namun dari posisi itu, Arlina sama sekali tidak bisa membaca gerak bibirnya.

Akhirnya, dia hanya bisa berkata dengan wajah memelas, "Saya tidak tahu."

Rexa memandangnya dengan tenang. "Siapa namamu?"

Selesai sudah!

Arlina mendadak merasa bahwa pertanyaan itu hanya sebagai alasan. Tujuan sebenarnya adalah menanyakan identitasnya. Arlina hampir saja ingin memberikan nama palsu, tetapi dia tidak berani. Akhirnya dia mengumpulkan keberanian dan menjawab dengan pelan, "Arlina Khoman."

Mata Rexa tampak memancarkan kilau yang dalam. "Arlina, ya?"

Arlina tidak berani menatapnya sama sekali. Seketika, dia merasa sekujur tubuhnya merinding.

"Di pertemuan pertama kuliahmu saja sudah melamun. Setelah kuliah ini selesai, datang ke ruangan saya."

Arlina seakan-akan menangis dalam hati. Kemudian, dia menjawab, "Baik, Pak."

Akhirnya Arlina duduk kembali. Saat ini, tubuhnya seolah-olah mati rasa.

"Arlin, jangan takut. Pak Rexa kelihatannya lembut sekali. Dia nggak akan berbuat macam-macam padamu," Tania berbisik menenangkan.

Arlina tetap diam. 'Huh .... Lembut? Waktu di ranjang, dia jelas nggak lembut.'

Tania menambahkan, "Lagi pula, ini kesempatan untukmu bisa berdekatan sama Pak Rexa. Kamu malah beruntung."

Kesempatan seperti ini ... biarlah orang lain yang ambil. Dia sama sekali tidak mau.

Kuliah yang terasa menyesakkan itu akhirnya selesai juga. Rexa pun melangkah keluar dari ruang kelas. Ruangan seketika dipenuhi oleh suara riuh, semua orang membicarakan betapa tampannya profesor baru itu dan betapa memesona suaranya.

Kalau ini terjadi di masa lalu, Arlina mungkin akan menjadi salah satu dari mereka. Namun sekarang, dia tidak bisa tertawa sama sekali.

"Nia ...." Arlina memegang erat tangan Tania, lalu berkata dengan serius, "Kalau terjadi sesuatu padaku, tolong jaga keluargaku untukku."

Usai bicara, dia menoleh dengan ekspresi penuh pengorbanan dan berjalan menjauh. Tania hanya bisa memandang kepergiannya dengan terkejut.

'Cuma ketemu dosen saja, kenapa seolah-olah nggak akan bisa kembali dengan selamat? Paling-paling cuma akan diceramahi, dosen juga nggak mungkin makan orang, 'kan?'

Di kantor.

Arlina berdiri di luar pintu dengan perasaan gelisah. Tangannya terangkat hendak mengetuk pintu, lalu diturunkan lagi. Setelah mengulang gerakan itu beberapa kali, dia akhirnya memberanikan diri.

Bagaimanapun, hasilnya akan tetap sama, lebih baik cepat selesai daripada berlarut-larut. Lagi pula, selama dia tetap bersikeras tidak mengaku, Rexa tidak akan memiliki bukti yang bisa menunjukkan bahwa Arlina adalah wanita yang bersamanya malam itu.

Arlina menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu. Tak lama kemudian, terdengar suara lembut dan tenang dari dalam ruangan, "Silakan masuk."

Ketika Arlina mendorong pintu, detak jantungnya semakin cepat tak terkendalikan.

Bab 3

Rexa duduk di dekat jendela, wajahnya begitu tampan dan memesona. Matanya memancarkan perpaduan antara kesejukan dan kelembutan yang sangat memikat. Tonjolan kecil di pangkal hidungnya membuatnya terlihat lebih istimewa dan tidak membosankan. Pada momen itu, seolah sinar matahari dari luar pun memancarkan cahaya khusus untuknya.

Melihat pemandangan ini, Arlina tanpa sadar menarik napas dalam-dalam. 'Tampan sekali!!!'

Namun kemudian, dia baru teringat ini bukan saatnya untuk genit. Hatinya kembali merasa gelisah dan akhirnya dia berkata dengan gugup, "Pak Rexa."

Arlina menundukkan pandangannya dan memasang wajah bersalah. Meskipun, itu sebenarnya lebih untuk menutupi rasa gugupnya.

Dibandingkan dengan kegugupan Arlina, Rexa justru tampak tenang. Sikapnya benar-benar mencerminkan statusnya sebagai seorang tenaga pendidik. Dia menunjuk kursi di depannya dan berkata, "Duduk."

Akan tetapi, mana mungkin Arlina berani duduk? Dia hanya berkata dengan senyum tersipu, "Nggak usah, Pak. Saya berdiri saja."

Rexa telah bangkit dari tempat duduknya. Tingginya melebihi Arlina hampir satu kepala, membuat gadis itu harus mendongak untuk menatapnya. "Coba jelaskan, kenapa kamu melamun waktu jam kuliah?" Nada bicaranya terdengar datar, seolah benar-benar hanya ingin tahu alasan Arlina melamun.

Mana mungkin Arlina berani mengatakan alasan sebenarnya? Setelah berpikir keras cukup lama, dia akhirnya menjawab dengan gugup, "Karena ... tadi malam saya kurang tidur." Kemudian, dia langsung mengucapkan permintaan maaf dengan penuh penyesalan, "Maafkan saya, Pak. Saya berjanji lain kali nggak akan seperti ini lagi."

Rexa tidak menunjukkan apakah dia percaya pada ucapan Arlina atau tidak. Dia hanya berjalan ke tempat menyeduh teh, mengambil sebuah gelas dan sekantong teh susu, lalu menuangkan air panas ke dalamnya.

Gerakannya santai, jari-jarinya panjang dan lentik, memancarkan aura elegan dan berkelas. Asap tipis mengepul dari cangkir teh, menciptakan pemandangan yang menenangkan.

"Aku baru kembali dari luar negeri beberapa waktu lalu dan mungkin belum terlalu terbiasa dengan metode pengajaran di sini. Kalau kelasku terlalu membosankan, aku harap kamu bisa langsung bicara jujur."

Astaga ... rendah hati sekali dosen ini. Dosen setampan dan semurah hati ini malah telah dilecehkannya. Bahkan Arlina sendiri juga merasa dirinya benar-benar berengsek.

"Ng ... nggak, kok. Penjelasan Pak Rexa sangat bagus," sahut Arlina buru-buru. Meski Arlina tidak mendengarkannya dengan saksama, dilihat dari reaksi teman-teman sekelasnya, jelas sekali menunjukkan bahwa kemampuan mengajar Rexa sangat bagus.

Rexa hanya tersenyum tipis. "Baguslah kalau begitu."

Setelah berkata demikian, dia menyerahkan segelas teh susu yang baru diseduhnya kepada Arlina. Jari-jarinya tampak ramping dengan sendi yang tegas, kukunya juga terawat dengan rapi dan bersih

"Ini pemberian dari dosen lain, anak-anak biasanya suka minuman ini." Dia malah menyebut Arlina sebagai anak-anak.

Wajah Arlina memerah. Dia buru-buru mengulurkan tangan untuk menerima cangkir itu. "Terima kasih, Pak Rexa." Cangkir itu terasa hangat, tetapi tidak sampai membuat tangannya panas. Uap panas mengepul perlahan dan aroma teh susu yang pekat menguar ke hidungnya.

Sejak masuk ke ruangan ini, Arlina merasa begitu tegang dan penuh kewaspadaan. Namun, Rexa sama sekali tidak menyinggung kejadian malam itu. Sebaliknya, dia justru mengobrol ringan seolah-olah sedang berbincang santai.

Ditambah lagi, dengan hangatnya aroma teh susu yang menguar, membuat ketegangan dalam dirinya perlahan mencair. Dia menunduk untuk menyesap sedikit teh susu tersebut. Rasa manis yang lembut menyebar di dalam mulutnya.

Namun pada saat itu, terdengar suara Rexa yang tenang di telinganya. "Malam itu ... itu kamu, bukan?"

Kata-kata ini menghantam Arlina bagaikan petir, membuatnya mendongak kaget menatap Rexa. Mata pria itu seolah-olah bisa menembus hatinya dan melihat semuanya dengan jelas.

Tujuan Rexa mengobrol santai dan menyeduhkan teh susu untuknya adalah agar kewaspadaan Arlina menurun.

"Uhuk uhuk!" Arlina hampir tersedak oleh teh susu yang baru diseruputnya.

Rexa yang seolah-olah sudah mempersiapkan diri, langsung menyerahkan sebuah tisu dengan lancar. Arlina menerima tisu itu, lalu menyeka bibirnya dengan buru-buru. Setelah menenangkan diri, dia langsung menyangkal, "Aku bukan ... bukan aku."

Rexa memicingkan matanya dengan senyuman tipis. "Aku belum bilang malam yang mana dan kejadian apa."

Arlina menyadari dirinya telah tanpa sengaja membocorkan rahasia, seketika hatinya diliputi kepanikan. Teh susu yang semula terasa hangat pun, kini tidak lagi terasa nikmat. "Pak Rexa, aku nggak tahu apa yang Bapak bicarakan, tapi yang jelas itu pasti bukan aku. Makanya aku menyangkalnya."

Dengan ekspresi yang masih tetap sama, Rexa tiba-tiba mengulurkan tangan padanya.

Jari-jarinya yang panjang dan ramping, mencengkeram pergelangan tangan Arlina. Saat kulit mereka bersentuhan, Arlina merasa seperti tersengat dan refleks menggigil sedikit.

Apa yang hendak dilakukannya?

Jantung Arlina berdegup kencang.

"Aku ingat malam itu ... ada tahi lalat di telapak tanganmu." Setelah ucapan itu dilontarkan, Rexa langsung membalikkan telapak tangan Arlina. Di telapak tangannya yang halus itu ternyata memang ada sebuah tahi lalat.

Pelaku dan buktinya sudah tertangkap basah. Rexa mengangkat pandangannya melihat Arlina sembari bertanya, "Kamu mau jelaskan gimana lagi?"

Arlina seketika merasa seperti tidak punya tempat untuk bersembunyi. Sebenarnya, dia bisa saja terus berpura-pura tidak tahu apa-apa. Lagi pula, bukan hanya dia yang memiliki tahi lalat di telapak tangan.

Namun, aura Rexa terlalu menekan. Sebagai seorang dosen, Rexa memiliki posisi yang membuat mahasiswa merasa tertekan. Lagi pula, sekeras apa pun dia menyangkal, Rexa sudah yakin bahwa itu pasti dia.

Air mata Arlina mendadak hampir mengalir, suaranya gemetaran dan terisak, "Pak Rexa, aku salah. Ini semua salahku. Aku nggak seharusnya tidur sembarangan sama orang asing. Anggap saja hal ini nggak pernah terjadi, aku janji nggak akan mengulanginya lagi."

Arlina merasa hancur. Sebelum air matanya benar-benar menetes, dia segera memalingkan wajah dan berlari keluar dari kantor.

Mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras, Rexa sontak merasa terkejut. Dia bahkan belum sempat mengatakan apa-apa, kenapa gadis itu malah sudah kabur?

Rexa mencarinya hanya untuk melihat bagaimana masalah ini bisa diselesaikan. Bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya dia menghadapi kejadian seperti ini.

Rexa alergi alkohol, biasanya dia tidak pernah menyentuhnya. Malam itu saat teman-temannya mengadakan pesta penyambutan untuknya, dia salah mengambil gelas dan meneguk minuman beralkohol.

Tak lama setelah itu, seluruh tubuhnya terasa panas dan dia pergi ke toilet untuk mencuci muka agar sadar. Tak disangka, seorang gadis tiba-tiba menabrak dadanya dan menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Mungkin karena pengaruh alkohol, dia melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Untuk pertama kalinya, dia kehilangan kendali dan tidur dengan gadis asing. Keesokan paginya saat terbangun, gadis itu sudah tidak ada di sampingnya.

Rexa sempat mencoba mencarinya. Noda merah di seprai membuatnya terus memikirkan hal itu. Rexa yang jelas-jelas lebih tua dari gadis itu, merasa perlu bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik.

Akan tetapi, dia tidak pernah menyangka gadis itu ternyata adalah mahasiswanya sendiri. Informasi ini terlalu mengejutkan hingga membuatnya kehilangan kendali di kelas. Dilihat dari situasinya sekarang, gadis itu sepertinya jauh lebih panik darinya.

Bab 4

Dalam perjalanan kembali ke kelas, Arlina bertemu dengan Rio dan beberapa teman mereka. Rio lebih tinggi dibandingkan teman lainnya dan wajahnya yang tampan juga paling mudah dikenali. Mereka berjalan di depan Arlina dan tidak menyadari keberadaannya.

"Rio, kudengar, pengikutmu itu sudah nggak pernah cari kamu lagi sejak sebelum masuk kuliah. Pasti dia dengar kamu pacaran, jadi hatinya langsung hancur."

"Lihat saja, di kelas Profesor Rexa hari ini dia kelihatan linglung, pasti gara-gara kamu duduk sama Fanny di depannya. Dia jadi sedih, hahaha."

Mendengar hal ini, Arlina baru menyadari bahwa ternyata "pengikut" yang sedang dibicarakan mereka adalah dirinya sendiri. Nilainya dan Rio sama-sama masuk peringkat 10 besar seangkatan. Karena menyukai Rio, Arlina memang sering mengajaknya belajar bersama.

Tak disangka, di mata teman-temannya, Arlina malah dianggap sebagai pengikut. Arlina langsung merasa tersindir. Sikap teman-temannya jelas mencerminkan sikap Rio. Bisa dibayangkan, Rio juga pasti berpikiran sama.

Akan tetapi, setiap kali dia mengundang Rio, Rio juga tidak pernah menolak. Saat mereka belajar bersama, suasananya juga sangat menyenangkan, sampai membuat Arlina keliru mengira dia punya harapan.

Saat itu, terdengar suara Rio berkata, "Lain kali jangan sebut-sebut dia di depan Fanny, nanti Fanny ngambek lagi."

"Ya, ya, ngerti," sahut salah satu temannya. "Sekarang pacar resmimu itu Fanny."

"Menurutku, kamu itu beruntung sekali, Rio. Punya pacar secantik Fanny dan masih ada Arlina si kutu buku yang ngejar kamu. Gimana kalau kamu ambil dua-duanya saja?"

"Ah, jangan ngomong sembarangan. Aku cuma menganggap Arlina teman."

"Kamu anggap dia teman, tapi dia mau jadi pacarmu."

"Eh, menurut kalian, Arlina bakal tetap suka sama Rio nggak? Dari cinta terang-terangan jadi cinta diam-diam, tinggal menunggu Rio putus sama Fanny."

"Gimana kalau Rio nggak putus sama Fanny?"

"Kalau nggak putus, dia bakal terus menunggu dan menghabiskan hidupnya tanpa menikah, hahaha."

"Kamu kira ini sinetron apa?"

"Gimana kalau kita taruhan, berapa lama Arlina bakal menyendiri demi Rio? Setahun? Dua tahun? Lima tahun?"

Rio menghentikan pembicaraan mereka di saat yang tepat, "Sudah, kalian jangan ribut."

Walau begitu, sudut bibirnya sedikit terangkat dan ekspresinya tampak sedikit bangga. Seorang wanita yang mau menjomlo bertahun-tahun demi seorang pria. Bagi mereka, hal ini memang sesuatu yang membanggakan.

Sementara bayangan mereka semakin jauh, Arlina yang berdiri di tempat hanya bisa mengepalkan tangannya. Bisa melihat sifat asli seseorang dengan konsekuensi seperti ini ... sepertinya juga bukan hal yang terlalu buruk.

Hari itu, Arlina merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk. Pertama, dia baru sadar bahwa pria yang dia tiduri ternyata profesor di kampus. Setelah itu, obrolan Rio dan teman-temannya telah menarik dirinya dari perasaan sukanya terhadap Rio sepenuhnya.

Setelah jam kuliah selesai, dia meminta Tania membawa buku-bukunya ke asrama, sementara dia sendiri bersiap pergi bekerja paruh waktu di toko teh susu.

"Dari awal masuk kuliah kamu sudah kerja sambilan setiap hari, malamnya juga nggak ikut belajar di kelas tambahan, tapi tetap bisa masuk 10 besar seangkatan. Aku salut sama kamu," kata Tania sambil memandangi Arlina yang sedang merapikan barang-barangnya.

"Mau gimana lagi, aku harus cari uang untuk biaya hidup."

Tania yang sudah berteman lama dengan Arlina, kurang lebih memahami soal kondisi keluarganya. "Orangtuamu itu keterlaluan sekali. Anaknya secerdas ini malah nggak diurus, tapi anak laki-lakinya yang pemalas malah disayang habis-habisan."

Usai bicara, Tania merasa seolah telah menghina keluarga Arlina. Dia buru-buru berkata, "Maaf ya, Arlin, aku cuma ngomong ceplas-ceplos."

Arlina tersenyum padanya, "Nggak apa-apa, aku tahu maksudmu baik. Sudah hampir telat, aku pergi dulu ya." Setelah itu, dia pun memanggul tas ranselnya dan melangkah keluar dari gerbang kampus.

Jalan dari gerbang kampus ke toko teh susu ini sudah sering dilewati Arlina selama lebih dari setahun. Dia memanfaatkan waktu belajar malam untuk bekerja. Di saat orang lain sudah tidur nyenyak, lampu kecil di samping tempat tidurnya tetap menyala sampai tengah malam.

Orang-orang selalu mengatakan bahwa dia mudah sekali mendapatkan beasiswa. Padahal, hanya dia sendiri yang tahu betapa sulit dan berat perjalanan yang telah dilaluinya.

Begitu sampai di toko teh susu, Arlina mengganti pakaian dengan seragam toko dan mengambil alih sif dari rekan kerja yang bertugas siang. Meskipun statusnya hanya sebagai pekerja paruh waktu, Arlina sudah bekerja di sini lebih dari setahun, sampai-sampai sudah seperti karyawan tetap.

Malam itu toko tidak terlalu ramai. Setelah permisi dengan rekan kerjanya, Arlina pun masuk ke toilet. Saat berdiri dari posisi jongkok, tiba-tiba kepalanya terasa berputar hebat. Dia buru-buru menahan diri dengan menyentuh dinding dan mencoba menstabilkan tubuhnya, sementara jantungnya berdetak cepat tak karuan.

Dalam sekejap, sebuah pikiran yang menakutkan melintas di benaknya. Bulan ini dia belum datang bulan! Tidak mungkin, pasti tidak mungkin. Arlina masih sangat yakin, malam itu Rexa menggunakan pengaman. Kalau tidak, dia juga tidak akan berani.

Apa mungkin pengamannya bocor?

Hati Arlina langsung dipenuhi kekhawatiran. Begitu selesai bekerja, dia segera pergi ke apotek membeli alat tes kehamilan. Arlina bahkan sengaja memilih apotek yang jauhnya lima sampai enam kilometer dari kampus agar tidak ketahuan.

Sambil memegang alat tes kehamilan, Arlina begitu gugup hingga tangannya gemetaran. Sambil menunggu hasilnya, dia berjongkok di toilet dengan kedua tangan yang terkatup sambil berdoa.

"Tolong jangan, kumohon."

"Aku janji nggak akan mengulanginya lagi, tolong jangan begini padaku."

"Huhu, Tuhan dari aliran mana pun ... tolonglah diriku ini ...."

Arlina sampai-sampai memohon pada semua kepercayaan yang ada. Dengan perlahan-lahan, dia membuka mata untuk melirik hasilnya. Ketika melihat dua garis merah di alat tes kehamilan itu, dunia Arlina seakan runtuh.

Habis sudah ... tamatlah riwayatnya ini ....

Dosenku di Siang Hari, Suamiku di Malam Hari

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya