Bab 1

Aku merasa bosan di rumah, jadi memutuskan ikut suami pergi melaut.

Keesokan harinya setelah naik kapal, terjadi kecelakaan dan aku terpaksa bersembunyi di dalam ruang aman.

Tiba-tiba, tangan seorang pelaut menyelinap masuk ke dalam pakaianku, bergerak perlahan dari pinggang ke bawah.

Aku memejamkan mata erat-erat, merasakan sensasi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, hingga kakiku gemetar tanpa henti.

Dalam hati, aku berharap tangan itu tidak berhenti ...

Namaku Lusi dan suamiku bernama Jefri, dia adalah seorang pelaut. Kami baru saja menikah, dia sudah harus pergi berlayar jarak jauh.

Malam sebelum keberangkatannya, aku terus-menerus memintanya menemaniku tanpa henti.

Aku benar-benar ingin menghabiskan semua tenaga untuk bersamanya sepanjang malam.

Aku berharap dengan begitu, semua keinginanku bisa terpuaskan, sehingga aku tidak lagi memikirkannya selama dia pergi.

Kepergiannya berlangsung selama enam bulan. Dalam waktu selama itu, aku takut tidak bisa menahan kesepian.

Aku adalah wanita yang penuh energi, memiliki kebutuhan yang berbeda dari kebanyakan orang dalam hal itu, sesuatu yang sering membuatku frustasi.

Baru dua hari setelah suamiku pergi, aku sudah merasa ada api dalam diriku yang sulit dilampiaskan.

Bahkan saat berjalan di jalanan, hatiku bisa berdebar-debar saat melihat pria bertubuh kekar.

Rasanya ingin segera menarik mereka ke gang untuk memenuhi kebutuhanku.

Berbagai alat bantu yang kubeli online menumpuk di kamar.

Semuanya sudah kucoba satu per satu, tapi meskipun begitu, aku tetap setia pada suamiku dan tidak pernah melangkah terlalu jauh.

Ketika aku benar-benar tidak tahan, aku pun menelepon suamiku.

Aku mengungkapkan betapa aku merindukannya, bahkan memintanya untuk pulang lebih awal karena aku merasa sangat kesulitan tanpa dia.

Jefri dengan lembut memintaku untuk bersabar.

Dia bahkan memberiku izin jika benar-benar tidak menahan diri, aku boleh mencari orang lain dan dia tak akan menyalahkanku.

Dia malah merasa ini semua adalah salahnya.

Pengertian suamiku sangat menyentuh hatiku, tetapi tentu saja aku tak akan pernah mengkhianatinya.

Setengah tahun kemudian, akhirnya suamiku kembali. Malam itu, kami melewati malam yang panjang, hingga aku benar-benar puas dan melepaskannya hanya setelah dia kelelahan.

"Sayang, aku juga mau jadi pelaut," ujarku padanya.

Aku memutuskan ini karena aku tahu betapa beratnya menjalani setengah tahun tanpa dirinya, .

Aku juga tidak yakin apakah aku bisa menjaga kesetiannku jika dia harus pergi lagi.

Jefri menatapku dengan tajam, lalu berkata, "Kamu sudah memikirkannya dengan matang?"

"Hidup di laut nggak sama seperti di rumah. Begitu naik kapal, rasanya sudah masuk ke sarang harimau."

"Tentu saja, aku sudah memikirkannya dengan baik. Aku nggak mau terus sendirian di rumah."

Aku sangat antusias pertama kali ikut suamiku melaut. Akhirnya, aku tidak perlu lagi menahan kerinduan di rumah.

Setelah naik kapal, Jefri membawaku untuk bertemu kapten.

Kapten tersenyum melihatku dan berkata, "Jefri, kamu harus menjaga dia baik-baik."

"Pertama kali ada wanita secantik ini di kapal kita."

"Hati-hati dengan pelaut di sini, mereka belum pernah bertemu wanita seperti ini."

Ketika melihat para pelaut lain, tatapan mereka penuh gairah.

Seperti yang dikatakan kapten, mereka terlihat seperti ingin segera menyeretku ke dalam kabin.

Tubuh kekar mereka benar-benar menggoda, membuat pandanganku kabur.

Aku sadar bahwa tubuh mereka yang kuat telah membangkitkan sesuatu dalam diriku. Aku bahkan merasakan sesuatu yang basah di celanaku.

Hari-hari ke depan akan sangat panjang, aku khawatir tidak bisa mengendalikan diriku.

Untungnya ada Jefri. Saat aku tidak tahan lagi, dia selalu siap membantuku.

Malam itu, aku melepaskan semua keinginan yang tertahan sepanjang hari.

Aku memintanya lagi dan lagi, hingga seluruh kapal bergoyang hebat.

Aku bahkan mendengar suara pelaut yang gaduh berhenti setelah itu.

Malam itu, aku benar-benar merasa bebas dan merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Keesokan harinya, Jefri pergi bekerja seperti biasa, sementara aku merapikan kabin.

Ketika aku keluar untuk menghirup udara segar, aku mendengar beberapa pelaut berbicara,

"Ada yang dengar suara itu semalam? Aku sampai nggak bisa tidur."

"Siapa yang nggak dengar? Kapal saja sampai bergoyang, aku pikir ada badai. Aku bahkan keluar untuk memeriksa."

"Ternyata lagi aktivitas malam, wanita itu benar-benar liar."

"Iya, suaranya dari kabin Jefri."

"Menurutmu, Jefri gemetaran nggak ya kakinya hari ini?"

"Sudah pasti! Cepat atau lambat, dia bakal kehabisan tenaga gara-gara wanita itu."

"Mendengarnya saja membuatku ingin ikut bergabung tadi malam."

"Siapa yang nggak mau? Wanita itu pasti sangat menyenangkan kalau diajak main."

Bab 2

Mendengar kata-kata kotor mereka, wajahku memerah.

Dua pelaut yang berbicara itu adalah orang yang kulihat kemarin.

Saat melihatku, mulut mereka terus menelan ludah, membuatku ingin memarahi mereka sejak awal.

Kali ini, aku tak tahan lagi dan melangkah keluar. Melihat tindakan mereka, aku langsung memaki,

"Bercermin dulu kalian! Bahkan kalau aku punya pilihan, aku lebih memilih anjing daripada kalian!"

Usai bicara demikian, aku pergi dengan penuh amarah.

Saat suamiku kembali, aku pun menceritakan semuanya padanya. Aku juga bertanya mengapa orang-orang di kapal ini bisa begitu tidak sopan.

Namun, dia malah tertawa dan tampak tidak peduli.

"Lusi, beginilah kehidupan di kapal, kamu harus terbiasa."

"Lagipula, nggak banyak hiburan di kapal, jadi mereka juga sangat kesepian."

"Pria memang hanya punya kesenangan seperti ini, lain kali jauhi mereka saja."

Aku pun menjawab, "Aku ini istrimu! Mereka memperlakukanku seperti ini, kamu nggak marah?"

"Sudah terbiasa. Lusi, lagipula mereka hanya membicarakannya saja, nggak melakukan apa-apa."

"Sudahlah, aku sudah tahu, jangan bahas lagi."

Setelah mengatakan itu, dia langsung berbaring dan tidur.

Padahal aku berharap setelah curhat, kami bisa bermesraan. Aku adalah wanita dengan kebutuhan besar setiap malam.

"Sayang, aku mau," ujarku meletakkan tanganku di dadanya.

"Lusi, jangan hanya memikirkan hal itu setiap hari, apa kamu terlalu santai?"

"Besok aku harus bekerja, mencari uang tambahan untuk kebutuhan rumah tangga dan meringankan bebanku."

Aku langsung terdiam dan merasa sangat kesal.

Sebelum menikah, dia tahu aku adalah wanita dengan kebutuhan besar.

Dia bahkan berkata akan menanggung hidupku dan melarangku bekerja.

Sekarang dia malah berkata aku terlalu santai dan memarahiku.

Padahal semua pekerjaan rumah, mencuci pakaian dan memasak setiap hari kulakukan sendiri.

Tapi sekarang, aku justru disalahkan. Dengan hati penuh amarah, aku berbaring di ranjang.

Teringat kata-kata kotor para pelaut siang tadi, aku benar-benar sangat marah tadi.

Namun sekarang, entah kenapa ada sedikit perasaan berdebar.

Jika mereka ada di sisiku sekarang, apa aku benar-benar bisa menolak mereka?

Keesokan harinya, aku bangun agak siang.

Baru saja melangkah ke geladak, tiba-tiba alarm berbunyi. Ini adalah pertama kalinya aku mengalaminya, aku tidak tahu apa yang terjadi.

Tiba-tiba, aku mendengar seseorang berteriak, "Cepat masuk ke ruang aman, ada perompak!"

Melihat semua orang berlarian panik menuju ruang bawah, aku ikut berlari sambil memanggil Jefri.

Namun, setelah berteriak lama, aku tidak juga menemukannya.

Ketika sampai di pintu ruang aman, tiba-tiba seseorang menarikku masuk ke sebuah ruangan kecil di sebelahnya.

Semua orang diam, takut membuat suara yang bisa menarik perhatian perompak.

Ruangan itu gelap gulita.

Tiba-tiba, aku merasakan sebuah tangan menyentuh punggungku, bergerak ke atas dan ke bawah.

Aku hampir menjerit, tetapi hanya berbisik dengan suara gemetar, "Kamu siapa? Jangan sentuh aku."

Awalnya aku berpikir itu tidak sengaja, mungkin karena ruangannya sempit.

Aku mencoba menjauh, tetapi tangan itu justru semakin berani

Tangan itu menyusup ke dalam bajuku dan saat menyentuh kulitku, tubuhku mulai gemetar.

"Ja ... jangan ... " Aku tidak berani berteriak, takut suara itu terdengar oleh perompak di luar.

Lalu terdengar suara yang familiar di belakang, "Sayang ... "

"Kamu pernah memakiku sebelumnya, bilang anjing pun lebih baik daripada kami."

"Hari ini aku akan jadi anjing untukmu," katanya sambil tertawa dingin, tubuhnya semakin menempel erat padaku ...

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B83270" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B83270
Salin

Dosa Di Lautan

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya