Bab 1

Aku adalah seorang dosen cantik di sebuah universitas yang menderita penyakit kecanduan seks. Penyakit ini kambuh tanpa mengenal waktu dan tempat, dan hal ini sangat memengaruhi kehidupan asmaraku dengan tunanganku.

Akhirnya, tunanganku mencarikan sebuah klinik kecil di luar kampus untuk menjalani pengobatan pengendalian hasrat.

Namun, yang bertugas memeriksa pasien di klinik itu ternyata adalah mahasiswa laki-lakiku sendiri, dan metode pengobatannya sangatlah tidak biasa. Tampilannya memang kalem, tapi tanpa banyak bicara dia langsung membuka kakiku dan memasukkan jarinya ke dalam...

Dalam perjalanan menghadiri seminar akademis bersama tunanganku, aku berjalan lambat dengan kaki merapat dan enggan melangkah cepat. Mainan kecil yang terselip di sana sudah tidak mampu lagi memuaskanku. Hasratku untuk dipenuhi oleh seorang pria makin menjadi-jadi.

Dalam keadaan tidak berdaya, aku hanya bisa menatap tunanganku dengan wajah memerah.

Tunanganku memakiku jalang dengan muka masam. Kemudian, menyergapku ke semak-semak di pinggir jalan, menarik celanaku, dan langsung memasukkan jarinya ke dalam.

"Ah!"

Aku mengerang.

Mainan kecil itu belum dikeluarkan, tapi tunanganku sudah menambah tiga jarinya. Aku merasa seperti akan meledak, dan cairan tubuhku mengalir deras.

Namun, jari-jarinya tetap tidak bisa menggantikan itu. Aku memandang area selangkangannya dengan tatapan menggoda.

Plak!

Tunanganku menamparku keras, lalu menarik jarinya.

"Aku nggak mau melakukannya denganmu. Kamu punya sepuluh menit, selesaikan sendiri!"

Setelah mengatakannya, dia pergi meninggalkanku di semak-semak itu.

Aku merasa sedih sekaligus malu.

Di awal penyakit kecanduan seksku, tunanganku cukup senang. Dengan penuh semangat, dia memuaskanku setiap hari. Namun, lama-lama dia tidak sanggup lagi.

Aku menggesek-gesekkan diri pada sebuah ranting pohon dengan perasaan kecewa. Tiba-tiba, sebuah tangan menyusup ke dalam bajuku dan meremas keras, sementara napas kasar seorang pria mendesis di dekat telingaku.

"Nggak tahu malu, siang-siang seperti ini sudah bermain dengan ranting!"

Dia bukan tunanganku!

Aku yang terkejut buru-buru menoleh. Ternyata benar, itu wajah seorang pria asing.

Aku ingin berteriak, tapi mulutku ditutup paksa, sementara tubuhku didorong ke bawah, ranting itu pun menusuk masuk! Aku mengerang kesakitan, tapi hal itu segera digantikan oleh kepuasan karena terisi penuh.

"Memang j*lang, pantas tunanganmu nggak tahan dan menyuruhku untuk menanganimu."

'Apa?'

Aku seperti tersambar petir.

Namun, setelah dipikir-pikir, apa yang dikatakan pria itu mungkin saja benar.

Tunanganku memang pernah berulang kali mengatakan akan mencari belasan pria untuk memuaskan hasratku.

Saat itu, pria di belakangku menarik celananya dan berniat memasuki dari belakang.

Bagaimana mungkin aku setuju? Aku tidak mungkin berbuat mesum dengan pria lain.

Aku memberontak sekuat tenaga, tapi itu hanya membuat ranting makin menusuk ke dalam. Air mata mengalir deras akibat nyeri yang menyiksa, sementara tubuhku yang sensitif malah makin lemas dan tidak berdaya.

Pria itu makin terangsang, dia mendekatkan bibir tebalnya untuk menciumku.

"Atas bawah sama-sama basah, kamu memang wanita menggoda!"

Ketika dia melepaskan tangan yang menutupi mulutku, aku langsung berteriak memanggil nama tunanganku.

Pria itu tidak peduli, ciuman yang terasa menjijikkan itu mendekat, tapi aku berhasil menghindar sehingga ciuman itu hanya mengenai leherku.

Aku merasa jijik, lalu meraih lengannya dan menggigitnya dengan keras.

Pria itu berteriak, menarik rambutku, dan terus memukul.

Tunanganku yang mendengar keributan langsung masuk dengan tergesa-gesa.

Barulah pria itu berhenti dan berkata dengan kesal, "Bung, dua ratus ribu nggak sebanding dengan perlakukan seperti ini. Lain kali, jangan bayar orang, langsung cari anjing jantan saja!"

Setelah mengatakannya, pria itu segera mengenakan celananya dan pergi.

Tunanganku mengangkatku dari ranting itu. Melihat wajahku yang bengkak, dia berkata dengan canggung, "Setelah ini, bagaimana bisa kamu menghadiri seminar dan berbicara di podium?"

Bab 2

Perkataannya benar-benar membuatku naik pitam.

"Kamu menyuruh pria lain memperkosaku. Aku dilecehkan, tapi kamu malah nggak peduli, dan hanya memikirkan seminar. Sebenarnya kamu ini tunanganku atau bukan?"

Tidak disangka, tunanganku juga marah.

"Kamu sekarang seperti jalang yang minta kusetubuhi kapan saja. Tanpa diisi pun tetap basah, bahkan aku harus makan obat kuat sampai nggak bisa fokus mengajar. Kalau seperti ini terus, bagaimana aku bisa menjadi lektor kepala?"

"Dengan kondisimu yang seperti ini, seminar hari ini pasti batal lagi!"

Setelah mengatakannya, dia pergi.

Aku merasa sangat sedih hingga meneteskan air mata, tapi aku juga tahu bahwa penyebab masalah ini ada pada diriku sendiri. Jika tidak segera mencari jalan keluar, aku akan kehilangan hubungan ini.

Aku segera menyusul dan membujuk tunanganku.

"Jangan marah lagi, bukankah kamu sudah menemukan klinik? Ayo kita pergi ke sana sekarang."

Dia melepaskan tanganku dengan kasar, lalu berkata, "Kalau nggak sembuh, aku akan beli lem untuk menempelkannya padamu!"

Namun, yang bertugas di klinik ternyata adalah seorang mahasiswa laki-laki yang sedang magang menggantikan dokter, dan dia adalah mahasiswaku!

Dia tampak sangat terkejut ketika melihatku, lalu berkata, "Bu Susan?"

Aku merasa sangat malu dan langsung berbalik untuk pergi, tapi tunanganku berkata, "Untuk apa kamu malu? Aldo sudah tahu masalahmu."

Aku terdiam di tempat.

Tunanganku berulang kali berpesan kepada Aldo agar menyembuhkanku. Aku tidak bisa menahan diri untuk diam-diam mengamati Aldo.

Aldo berpenampilan kalem dan memakai kacamata. Dia terlihat seperti kutu buku, tapi bisa mengobati penyakit area sensitif wanita, sungguh tidak terduga.

"Tolong, Pak Rian keluar sebentar. Pengobatan selanjutnya bersifat rahasia," ujar Aldo.

Aku terkejut. Apa ini artinya aku harus berduaan dengannya?

Aku mulai gugup.

Tunanganku memandangku dengan penuh peringatan. "Di depan mahasiswa, kamu harus berhati-hati!"

Aku paham, dia memintaku tidak bertingkah liar di hadapan mahasiswa.

Aku juga tidak ingin bertingkah liar, tapi tubuhku belum tentu bisa mengendalikannya.

Aku merasa sangat bingung, tapi tunanganku pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Setelah pintu tertutup, Aldo bertanya secara rinci tentang gejalaku.

Berbicara tentang hal seprivat ini di hadapan mahasiswaku sendiri membuat wajahku memerah malu. Namun, Aldo sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun.

Setelah mendengarkan penjelasanku, dia mengangguk dan menunjuk ke tempat tidur pasien di sebelah. "Bu Susan, silakan berbaring dulu."

Aku menurut dan berbaring. Namun, di detik berikutnya, Aldo membungkuk dan membuka kakiku, lalu mendekatkan kepalanya ke bawah rokku!

Aku terkejut dan langsung bangun. "Aldo, apa yang kamu lakukan?"

Wajah Aldo memerah, sepertinya karena melihat sesuatu. "Bu Susan, aku sedang memeriksamu."

Aku kira pemeriksaannya seperti USG atau semacamnya, tapi ternyata dia ingin langsung melihatnya secara langsung.

Memikirkan hal itu, bagian bawah tubuhku kembali mengencang.

Gawat, celana dalamku sudah sangat basah. Pasti tadi Aldo melihatnya.

Selain itu… mainan itu masih ada di dalam. Seharusnya tidak akan ketahuan, 'kan?

"Bu Susan, karena sudah sangat basah, celana dalamnya harus dilepas untuk pemeriksaan."

Ucapan Aldo yang terus terang membuatku malu hingga tidak berani menatapnya. Aku melepas celana dalamku dengan canggung.

Mata Aldo membelalak dan daun telinganya memerah.

Aku mendengar suara dia menelan ludah.

Tubuhku makin terangsang.

Tiba-tiba, Aldo menunduk dan mendekatkan wajahnya, napasnya yang hangat menyentuh kulitku.

Badanku langsung tegang, lalu gemetar sebelum akhirnya mengeluarkan cairan.

Aldo mengangkat kepalanya dari antara pahaku dan menjilat sudut bibirnya dengan ekspresi polos. "Asin."

Aku ingin menghilang.

Tunanganku benar, aku memang benar-benar seorang jalang. Aldo hanya mendekat untuk memeriksaku, tapi aku sudah kehilangan kendali di hadapannya.

Bab 3

"Bu Susan bukan sengaja gitu." Aku menahan rasa malu sambil meminta maaf, dan berusaha keras merapatkan kedua kaki.

"Nggak apa-apa, Bu Susan. Ini hanya reaksi alami tubuh," ucap Aldo dengan wajah tenang. Rasa maluku pun perlahan hilang.

Namun, Aldo lanjut berkata, "Bu Susan, pemeriksaannya belum selesai. Tolong buka kakinya."

Aku pun terpaksa membuka kakiku membentuk huruf M.

Aldo mengambil senter.

Melihat kebingunganku, dia menjelaskan, "Agar lebih jelas melihatnya."

Rasa gugup dan malu kembali muncul. Saat dia menyorotkan senter ke sana kemari, pikiranku menjadi kacau.

Jangan-jangan dia mencium bau tidak sedap dariku...

Seharusnya tadi aku membersihkan diri dulu sebelum datang.

"Sedikit kemerahan dan bengkak. Hmm, kenapa masih terbuka terus?"

Aldo mengulurkan tangannya dengan penasaran. Aku langsung merapatkan kakiku.

Barulah aku tersadar, tangannya terjepit di area sensitifku. Seketika, rasa basah pun mengalir deras.

Aldo juga ikut memerah. "Bu... Bu Susan, tolong buka kakinya. Aku mau keluarkan tanganku."

Aku merasa sangat malu sampai ingin menghilang.

Untungnya, Aldo sudah menemukan masalahnya.

"Sepertinya ini karena Bu Susan terlalu sering merangsang diri sendiri, sampai menyebabkan kecanduan."

Aku sudah tidak peduli lagi dengan rasa malu dan buru-buru bertanya, "Lalu, harus bagaimana?"

"Pertama-tama, harus menurunkan sensitivitas, atau desensitisasi. Untuk itu, kita harus cari tahu dulu alat-alat apa saja yang bisa merangsang titik sensitif Bu Susan."

Aku juga tidak begitu paham, jadi aku hanya berbaring dengan patuh di tempat tidur pasien, membuka kaki ke arahnya, dan mengangkat rok hingga ke pinggang.

Aldo mengenakan sarung tangan, lalu dengan malu-malu berkata, "Bu Susan, klinik ini kehabisan cairan pelumas, jadi pemeriksaan hanya bisa dilakukan secara langsung."

Bahkan tanpa pelumas pun aku sudah basah. Tentu saja aku mengiyakan.

Agar lebih mudah memeriksa, Aldo menarik kursi dan duduk di ujung tempat tidur, lalu menarik kakiku lebih dekat ke arahnya.

Sekarang, tubuhku terbuka lebar di hadapannya.

Aldo memasukkan dua jarinya ke dalam.

Aku menahan erangan yang hampir keluar dari mulutku, lalu bertanya, "Bukannya pakai alat?"

"Aku perlu merasakan dengan jari dulu, agar bisa memastikan nanti saat menggunakan alat, nggak akan menyakiti Bu Susan."

Mendengar itu, hatiku tersentuh.

Aldo benar-benar baik.

Untuk memudahkan pemeriksaan, Aldo mengangkat bagian kepala tempat tidurku. Dia mengeluarkan mainan yang masih menempel di tubuhku, dan aku bisa melihat dengan jelas tangannya yang berurat itu bergerak keluar-masuk.

"Bu Susan, kalau nggak nyaman, bilang saja."

"Nggak nyaman? Ini sangat nyaman!" jawabku spontan. Begitu menyadari ucapanku, aku langsung malu dan tidak berani menatapnya.

Aldo tidak mempermasalahkan, dia malah memberiku semangat. "Kalau Bu Susan merasa nyaman, boleh bersuara. Dengan begitu, aku bisa menilai tingkat sensitivitas setiap area dari reaksi Bu Susan."

Aku langsung melirik ke arah pintu.

Tunanganku masih di luar. Bagaimana jika dia mendengar eranganku?

Aldo pun tersadar, lalu tersenyum canggung. "Kalau begitu, aku akan menilai dari reaksi tubuh Bu Susan saja."

Setelah mengatakannya, jari Aldo menekan lebih kuat.

Aku menggigit bibirku keras-keras dan hampir kehilangan kendali.

Kemudian, berbagai sentuhan dan tekanan beruntun menyusul.

Kakiku secara tidak sadar merapat, tapi Aldo membukanya paksa.

Dosa di Balik Kacamata Sang Dewi

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya