Bab 1

Aku adalah seorang dokter pria spesialis ginekologi. Meskipun sudah berinteraksi dengan banyak wanita, tetanggaku, Teresa Bunanta, merupakan wanita yang paling sempurna di mataku. Diam-diam, aku sering berharap bisa memeriksa tubuhnya ....

Aku adalah seorang dokter pria spesialis ginekologi. Meskipun sudah berinteraksi dengan banyak wanita, tetanggaku, Teresa Bunanta, merupakan wanita yang paling sempurna di mataku. Diam-diam, aku sering berharap bisa memeriksa tubuhnya ....

....

Teresa sering terlihat mengenakan kaus putih yang sederhana. Dia seolah-olah tidak mengenakan apa pun di balik kaus putih itu. Setiap gerakannya membuat bagian itu ikut bergoyang dengan jelas. Sementara itu, rok pendek yang biasa dia kenakan juga memperkuat kesan seksinya.

Aku sendiri sudah lama hidup melajang sejak perceraian bertahun-tahun lalu. Namun sejak mengenal Teresa, rasanya seperti musim semi datang kembali dalam hidupku ....

Hari itu, aku sedang memeriksa pasien di ruang praktik. Teresa berjalan masuk dengan sedikit canggung dan malu-malu. Wanita itu mengenakan terusan berpotongan tajam di bagian leher. Bahunya yang cerah terlihat jelas. Penampilannya begitu memikat.

Teresa menyapa dengan kaget, "Paman Alfred? Kamu kerja di sini rupanya!"

Suara lembut Teresa langsung menyadarkanku dari lamunan. Aku tersenyum canggung ketika berkata, "Aku adalah dokter spesialis ginekologi di sini. Teresa, kamu punya keluhan apa?"

Teresa duduk perlahan di kursi dengan ragu-ragu, lalu membalas dengan malu-malu, "Paman Alfred, belakangan ini bagian dadaku terasa sangat bengkak, tapi anakku sulit menyusu. Bisa tolong bantu periksa?"

Mendengar itu, mataku sontak berbinar-binar. Aku segera mendekati Teresa, lalu mengamatinya tajam dengan mataku. Kemudian, aku mengulurkan tangan dan coba mencubit buah dadanya beberapa kali.

Teresa sama sekali tidak menyangka bahwa aku akan begitu lugas. Wajahnya langsung berubah menjadi canggung dan salah tingkah.

Namun, aku berpura-pura tidak melihat ekspresi gugupnya. Aku memberi tahu dengan serius, "Aduh, kenapa kamu baru datang setelah bengkak begini? Kalau dibiarkan terlalu lama, pembengkakan seperti ini bisa berisiko cukup serius. Bahkan, bisa berujung pada operasi pengangkatan payudara lho."

Seperti yang kuduga, wajah Teresa langsung memucat. Dia segera menimpali, "Pak Alfred, jangan menakut-nakutiku! Aku cuma merasa bengkak selama beberapa hari. Mana mungkin sampai separah itu?"

Aku tahu Teresa mungkin tidak terlalu percaya. Itu sebabnya, aku mengambilkan beberapa informasi medis tentang gejala kanker payudara dan risiko penyumbatan saluran ASI agar dia bisa memahami dampaknya.

Dalam hati, aku benar-benar mengagumi diri sendiri. Baru kujelaskan sedikit, raut wajah Teresa sudah berubah panik. Tak lama kemudian, dia berucap dengan suara lirih dan bergetar, "Paman Alfred, aku mohon tolong bantu aku. Aku benar-benar merasa sangat nggak nyaman."

Aku lalu sengaja menjawab, "Sebenarnya, aku bisa saja kasih resep obat. Tapi, kamu sedang menyusui. Kalau minum obat, khawatirnya itu bisa berdampak pada anakmu. Jadi, kamu harus pertimbangkan matang-matang."

Teresa langsung menimpali seraya menggeleng, "Uhuk! Sekarang meski demam dan batuk pun, aku nggak berani minum obat. Apa ada cara lain? Bagian iniku benar-benar sangat bengkak. Nggak nyaman banget."

Aku berpura-pura berpikir sejenak, lalu menatapnya sambil membalas, "Kalau kamu nggak mau konsumsi obat, ada satu metode alternatif yang cukup efektif!"

Teresa bertanya dengan panik, "Paman Alfred, selama itu memang bisa meringankan bengkaknya, aku siap melakukan apa pun yang diperlukan."

Aku menimpali dengan tenang, "Saluran ASI-mu tersumbat, jadi butuh dilancarkan. Biasanya, hasil dari pijat laktasi cukup cepat terasa."

Mendengar itu, Teresa berujar sambil menggigit bibir, "Pijat? Ini ... nggak terlalu baik, 'kan? Aku ...."

Melihat wajah Teresa yang cantik, aku benar-benar sudah tidak sabar. Aku pun menjelaskan, "Efek dari pijatan cukup cepat. Dalam waktu setengah jam, saluran ASI-mu bakal lancar lagi. Apalagi aku terkenal jago pijat dalam dunia medis, sangat nyaman kok. Setelah kali ini, dijamin kamu bakal ketagihan dan minta dipijat lagi!"

Usai berkata demikian, aku sungguh sudah tidak sabar untuk memeriksa payudara Teresa. Sayangnya, dia masih bertanya dengan ragu-ragu, "Kamu akan memijat bagian mana?"

Aku menjawab dengan ekspresi serius, "Tentu saja bagian dada. Cuma dengan begitu, penyumbatan baru bisa dilancarkan. Kamu juga bisa segera pulih."

Teresa baru ingin menolak, tetapi aku sengaja bertanya, "Karena payudaramu bengkak dan nggak mengeluarkan ASI, gimana anakmu bisa menyusu? Kalau menundanya kelamaan, aku khawatir itu akan berubah menjadi kanker payudara."

Teresa tetap berbicara dengan tidak nyaman, "Paman Alfred, perbedaan usia kita begitu jauh. Aku benar-benar nggak bisa terbuka di hadapanmu. Lebih baik lupakan saja."

Teresa berdiri dan hendak berjalan keluar dari ruang praktik. Melihat itu, aku sengaja berujar dengan kesal, "Kamu ini cuma lagi menghindari pengobatan. Kalau nggak percaya, pergi saja ke dokter lain. Selain minum obat dan pijat, aku nggak percaya masih ada cara lain!"

Teresa berhenti melangkah dan duduk kembali dengan ragu-ragu. Kemudian, dia menarik tubuhku sambil berucap, "Paman Alfred, maaf ini salahku. Bagian iniku benar-benar sangat bengkak. ASI-nya banyak banget. Aku benaran ingin mengeluarkan semuanya ...."

Aku pun meminta Teresa berbaring di ranjang. Pipi wanita itu sudah memerah, lalu dia membuka kaitan branya dengan malu-malu ....

Bab 2

Payudara Teresa sudah sangat bengkak. Aku bahkan tidak tega melihatnya. Aku benar-benar ingin mengisap semuanya keluar.

Setelah Teresa berbaring dengan patuh, aku tidak sabar untuk meletakkan tanganku di atasnya dan memijatnya. Kulitnya sangat halus, pasti luar biasa ketika disentuh.

Aku baru saja memijatnya beberapa kali, tetapi Teresa langsung menekuk sepasang kakinya. Tubuhnya juga terlihat sedikit gemetar. Tepat ketika aku ingin melangkah lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

"Teresa, dokter sudah selesai memeriksamu belum? Anakmu sudah nangis karena lapar nih!" Aku terkejut mendengarnya. Ternyata itu suara ibu mertua Teresa, Gemma!

Gemma terlihat masih muda. Tubuhnya yang berbentuk indah tidak kalah dengan Teresa, tetapi dia sering memarahi menantunya dengan kata-kata kasar.

Aku segera menarik tubuhku kembali, lalu sengaja merendahkan suara ketika membalas, "Bisa diam nggak? Dia lagi diperiksa, tolong jangan berisik!"

Di luar sana, suasana langsung menjadi sepi. Aku pun melanjutkan aksiku. Jariku menyentuh perut Teresa, tetapi dia tiba-tiba menahan tanganku. Wanita itu berujar, "Paman Alfred, jangan di bagian ini!"

Aku menarik kembali tanganku dengan canggung. Teresa lalu bertanya, "Sudah lancar belum?"

Mana mungkin aku mau melepaskannya semudah itu? Aku sengaja menjawab, "Sekarang, justru momen yang paling penting. Nggak bisa buru-buru. Coba kamu miringkan badan, biar aku bantu pijat lagi."

Aku memutar lewat sisi ranjang, lalu berdiri di belakangnya. Berhubung ranjangnya sangat kecil, saat Teresa memiringkan badan, hampir setengah tubuhnya terekspos ke luar. Selama proses pemijatan, posisi kami jadi sangat berdekatan ....

Teresa menegakkan tubuhnya. Dia menggigit bibir pelan dan tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun.

Kini, wajah Teresa sudah memerah sampai ke telinga. Segera setelah itu, dia bertanya dengan suara yang sangat pelan, "Paman Alfred, sudah cukup belum? Aku merasa tubuhku sudah jauh lebih ringan dan nyaman."

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu memberi tahu, "Teresa, aku tahu kamu terburu-buru, tapi ini nggak bisa diselesaikan dengan cepat. Sekarang, tinggal satu langkah terakhir saja ...."

Teresa membalikkan badannya. Dia menatapku lekat-lekat dengan wajah memerah. Dia akhirnya bertanya, "Paman Alfred, jangan-jangan kamu berniat buruk padaku? Jangan ya! Kalau begini, aku akan merasa sangat bersalah pada suamiku."

Wajahku langsung berubah sedikit tegang, tetapi aku tetap memaksa diri berujar, "Apa yang kamu bicarakan? Sekarang, kamu merasa lebih enak, 'kan? Itu artinya peredaran darahmu sudah lancar. Itu juga berarti cara pijatku berhasil. Aku cuma ... mau coba apakah sudah bisa keluar ASI-nya."

Teresa memutar mata ke arahku sembari memarahi, "Kamu benar-benar bejat. Mimpi saja!"

Teresa pun turun dari ranjang. Dia segera merapikan bajunya dan mengaitkan kembali kait branya. Wajah dan telinganya sudah memerah, tetapi matanya justru menatap celanaku tanpa berkedip dengan ekspresi seperti masih belum puas.

Aku berdeham sebelum membela diri, "Kalau nggak dicoba, gimana tahu ASI-nya bisa keluar atau nggak? Jangan-jangan kamu mau menyusui anakmu begitu saja? Kalau nggak ada ASI, mertuamu pasti akan memarahimu habis-habisan. Memangnya kamu nggak takut padanya?"

Teresa langsung terdiam. Ibu mertuanya memang dikenal di lingkungan sebagai wanita tua yang galak dan suka marah-marah. Hampir setiap beberapa hari sekali, aku bisa mendengar suara Gemma yang memaki Teresa dari rumahku.

Benar saja, sekujur tubuh Teresa langsung gemetar mendengar ucapanku. Dia tertegun di tempat sebelum membalas, "Paman Alfred, tolong bantu aku. Aku takut dimarahi dia. Huhu ...."

Aku tersenyum puas, lalu menepuk bahunya sambil menimpali, "Kamu angkat saja bajumu. Biarkan aku mencobanya. Kalau masih belum bisa keluar, aku bisa bantu memijat untuk melancarkannya lagi. Untuk apa nangis?"

Teresa tidak ragu-ragu lagi. Dia mengangkat bajunya, lalu aroma susu langsung tercium. Aku menelan air liur sebelum mendekati wanita itu.

Tepat ketika aku membuka mulut dan hendak mengisap payudaranya, Teresa malah mendorongku. Dia bertanya, "Bisakah kamu bersikap lebih lembut ...."

Saat ini, napasku sudah tidak teratur. Aku segera membalas, "Oke, aku akan lebih lembut. Payudaramu benar-benar bagus!"

Kepalaku pun mendekati dada Teresa. Ketika aku membuka mulut, pintu ruang praktik mendadak didobrak.

Berhubung panik, aku segera duduk kembali di kursiku dengan ekspresi serius. Di sisi lain, Teresa juga benar-benar kaget hingga melepaskan tangannya. Bajunya lalu melorot dan kebetulan menutupi bagian dadanya.

Bab 3

Suami Teresa mendadak masuk bersama mertuanya. Pria itu bertanya, "Apa yang kalian lakukan di dalam? Kenapa lama banget?"

Aku mendorong kacamataku dan berusaha tetap tenang. Aku menyapa, "Julius? Aku lagi periksa istrimu, kenapa kamu malah marah-marah?"

Julius baru sadar kalau itu aku, lalu dia dan ibunya mulai tersenyum malu-malu. Dia membalas, "Ya ampun, kenapa bisa begitu kebetulan? Kalau aku tahu Paman Alfred praktik di sini, aku nggak akan berani masuk begitu saja ...."

Gemma juga menambahkan sambil tersenyum, "Dokter Alfred, maaf ya. Anakku ini memang suka begitu. Kalau ada kesempatan, nanti aku undang kamu ke rumah deh biar kamu bisa makan dan minum sepuasnya. Anggap saja itu sebagai permintaan maaf. Hehe ...."

Julius menggaruk kepala belakangnya, lalu memberi tahu, "Anak ini nangis minta susu, jadi aku panik. Hehe!"

Aku melambaikan tangan sambil merespons, "Sudahlah, masalah istrimu sudah kubereskan. Kalian bisa keluar sekarang. Masih ada pasien lain yang harus kuperiksa!"

Teresa menundukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih, lalu segera berjalan keluar. Aku pun duduk kembali di kursi. Benakku dipenuhi oleh wanita itu dan juga segala hal yang baru saja terjadi. Adegan yang agak memalukan ini sepertinya bisa kutulis di memoarku nanti.

Aku rasa setelah kejadian ini, Teresa tidak akan datang lagi mencariku. Aku juga khawatir kalau Teresa akan memberi tahu suaminya tentang apa yang terjadi. Kalau suaminya tahu, dia pasti tidak akan melepaskanku begitu saja.

Bagaimana kalau suami Teresa datang ke rumah dan menghajarku? Bagaimana kalau masalah kami tersebar luas? Meskipun sudah bercerai, aku mengadopsi seorang putra. Kalau dia tahu tentang ini, bukankah aku akan merasa sangat malu?

Semua itu membuatku agak takut. Aku menyesal karena terlalu gegabah. Hampir saja tindakanku menyebabkan masalah besar.

Namun beberapa hari kemudian, saat sedang tidur siang di rumah, tiba-tiba aku mendengar suara ketukan pintu. Begitu membuka pintu, aku langsung terkejut.

Gemma bersandar di kusen pintu dalam piama renda bertali. Meskipun umurnya sudah 40 tahunan, dia merawat dirinya dengan sangat baik. Sekujur tubuhnya memancarkan aura dewasa. Dia terlihat seolah-olah berusia awal 30 tahunan.

Dalam hati, aku berpikir bahwa mertua dan menantu ini benar-benar menakjubkan. Kalau bisa menaklukkan Gemma hari ini, aku bahkan rela jika umurku harus dipotong beberapa tahun.

Gemma memainkan rambutnya sambil memberi tahu, "Dokter Alfred, dadaku terasa nggak nyaman, bahkan sangat geli. Tadi, aku terus memainkannya sampai keluar air lho. Apa kamu bisa membantuku?"

Gemma pun membelai dadanya sendiri. Meskipun kedua buah dadanya tidak semontok milik Teresa, tetap saja masih kencang. Lebih parahnya lagi, aku bisa melihat puting susunya di balik piama renda bertali yang seksi itu. Dia ternyata tidak mengenakan apa pun di baliknya ....

Aku pun mengangguk, lalu berpura-pura mengambil kotak medis dan ikut dengan Gemma ke rumahnya. Dia duduk di sofa dengan kedua kaki yang terbuka lebar.

Wanita paruh baya itu menggodaku dengan tatapan mata sambil menyentuh kakinya yang indah. Pada saat ini, aku baru sadar bahwa Gemma tidak memiliki pasangan.

Aku buru-buru menahan napas dan berusaha tetap fokus. Aku pun mengambil stetoskop dari kotak medis, lalu menempelkan alat itu di dada Gemma. Tidak disangka, dia malah langsung menyingkirkannya.

Sebaliknya, Gemma menggenggam tanganku dan menempelkannya di dadanya. Ini membuatku sangat terkejut hingga merasa panas di hidungku.

Aku segera bertanya, "Ge ... Gemma, apa yang kamu lakukan?"

Gemma meletakkan kakinya di atas celanaku, lalu berujar dengan kaget, "Gila, besar banget?" Segera setelah itu, dia menambahkan, "Kamu ini cuma pura-pura nggak tahu."

Napasku pun menjadi lebih cepat. Tadinya, aku memang ingin menaklukkan Gemma. Hanya saja, bagaimanapun kami sedang berada di rumahnya. Nyaliku pun menciut.

Tepat ketika aku sedang ragu-ragu, Gemma bertanya, "Kamu sudah menahan diri sangat lama, 'kan? Hari ini, aku akan membiarkanmu merasakan hal yang berbeda. Dijamin akan sangat menegangkan!"

Usai berkata demikian, Gemma tersenyum genit dan berjongkok. Ketika aku sedang menikmatinya sambil memejamkan mata, suara pintu tiba-tiba terdengar. Seseorang berseru, "Bu, aku sudah pulang!"

Dokterku, Cintaku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya