Bab 2

"Korban punya resesi gusi yang dalam, mungkin ada masalah dengan giginya," ujar kakakku sambil menatap Kapten Timmy. Wajahnya kembali tenang. "Kalau nggak ada laporan orang hilang, kita bisa coba cari identitas korban melalui catatan perawatan di klinik gigi. Mungkin itu bisa memberi petunjuk."

Aku hanya bisa tersenyum pahit.

Timmy mengangguk tanpa berkata apa pun, lalu berbalik dan menendang pintu hingga setengahnya terlepas. "Semuanya kumpul! Kalau pelakunya nggak ditemukan, nggak seorang pun boleh pulang!"

Dengan kebiasaan menghormati jenazah, kakakku meletakkan kepala itu kembali ke tempatnya dengan lembut. Kemudian, dia membungkuk. "Tenang saja, aku akan memastikan kamu bisa beristirahat dengan tenang."

Rasanya seperti ada sesuatu yang menusuk hatiku. Kalau Kakak tahu bahwa tubuh ini adalah aku, apa dia masih akan mengatakan itu?

Ponsel Kakak bergetar, menunjukkan panggilan dari seseorang yang diberi nama kontak "Arya Tukang Ikan" Kakakku mengerutkan alisnya, tetapi tetap menjawabnya.

"Halo, maaf mengganggu, Pak Darren. Belakangan ini, kamu lihat Suzanne nggak? Sudah lebih dari seminggu dia nggak buka lapak di pasar. Ditelepon nggak angkat, rumahnya juga diketuk nggak ada yang jawab. Apa dia ada di tempatmu?"

Arya adalah tetangga lapakku di pasar. Meski namanya terdengar tua, dia sebenarnya hanya dua tahun lebih tua dariku. Keluarganya menjalankan bisnis ikan besar, tetapi dia sendiri orang yang rendah hati dan selalu mau membantu orang yang kesulitan.

Sebelum Yani meninggal, aku sering membawa Kakak ke tokonya untuk membeli ikan.

Aku menatap ke atas dengan mata yang terasa perih. Yani dan Kakak sangat menyukai ikan kecap buatanku. Namun sejak hari itu, Kakak tidak pernah lagi makan ikan.

"Bajingan seperti itu nggak pantas tinggal sama aku." Itulah yang selalu dikatakan kakakku setiap kali mendengar namaku.

Kalau bisa, dia bahkan ingin membuang ponsel yang menyebut namaku ke tempat sampah, lalu mencuci tangannya berkali-kali seolah namaku itu racun. Di ujung telepon, Arya terdiam sesaat.

Seolah-olah sedang menimbang sesuatu, Arya menghela napas, "Pak Daren, sebenarnya sebagai orang luar, aku nggak seharusnya ikut campur. Suzanne bukan gadis yang kejam."

"Lagian, tim polisi sudah mengidentifikasi bahwa situasi saat itu nggak menunjukkan adanya niat jahat. Aku bisa memahami rasa sakitmu kehilangan tunangan, tapi hubunganmu sama Suzanne ...."

"Cukup." Kakakku memotong dengan ketus."Kalau tahu kamu orang luar, sebaiknya jaga ucapanmu dan aku juga nggak punya adik bajingan itu!" Setelah itu, dia langsung menutup telepon dan memblokir nomor Arya.

Ketika mengangkat kepala, dia mendapati Timmy sedang berdiri di ambang pintu dengan ekspresi rumit.

"Eh, tadi rokokku jatuh." Timmy menunjuk ke bawah meja otopsi, di mana sebungkus rokok tergeletak.

Kakakku mengambil rokok itu, lalu berjalan menghampiri Timmy dan menyerahkannya. Kemudian, dia mengunci pintu.

"Pak Darren, aku tahu ini berat untukmu," kata Timmy sambil meremas bungkus rokok di tangannya, "Tapi jejak di tempat kejadian waktu itu diidentifikasi oleh gurumu sendiri, seseorang yang sangat kamu hormati. Selama kariernya, dia nggak pernah membuat kesalahan. Kau pasti tahu apa artinya itu."

"Berhentilah menyiksa Suzanne. Dia juga hidup menderita selama beberapa tahun ini."

Kakakku tertawa dingin, "Memangnya siapa yang nggak menderita? Yani? Aku? Atau Fifi yang malang? Hanya karena dia takut mati, Yani ditikam 56 kali di luar pintu, sementara si pembunuh sampai sekarang masih bebas berkeliaran!"

"Kalian semua yang nggak tahu apa-apa, malah memintaku untuk memaafkannya? Asal tahu saja, bahkan kalau dia dibakar jadi abu di hadapanku sekalipun, aku masih belum puas!"

Suara kakakku yang penuh amarah menggema di lorong, membuat hatiku terasa hancur berkeping-keping.

Bab 3

Aku benar-benar tidak tahu kenapa setelah Yani mendorongku masuk ke dalam kamar mandi waktu itu, pintunya langsung terkunci dari dalam dan tidak bisa dibuka. Semuanya terjadi begitu mendadak dan ponselku tertinggal di luar. Sampai sekarang, jeritan Yani masih terngiang di telingaku.

Aku terus berteriak meminta pertolongan sampai tenggorokanku berdarah, sebelum akhirnya kelelahan dan pingsan. Saat aku sadar kembali, polisi yang sedang menginterogasiku mengatakan bahwa pintunya terkunci dari dalam. Kakakku nyaris mencekikku di tempat saat mendengar itu.

Kini, tubuhku memang telah terbakar, meski tidak sepenuhnya menjadi abu. Namun jika identitasku berhasil ditemukan, mungkin Kakak akan merasa sedikit lega, 'kan? Namun sekarang, fokus mereka adalah memecahkan kasus ini.

Timmy menarik napas dalam-dalam, "Maaf, aku terlalu banyak bicara. Akhir-akhir ini kamu sibuk sekali. Pulanglah dan istirahat."

Kakakku tidak menjawab. Dia hanya langsung berbalik dan turun ke lantai bawah. Namun saat itu, ponselnya kembali berbunyi. Nomor tak dikenal. Biasanya kakakku langsung menutup telepon seperti itu, tapi kali ini panggilan terus berulang-ulang.

Setelah beberapa kali, akhirnya sebuah pesan singkat masuk.

[ Halo, saya staf dari bank. Bu Suzanne belum melunasi cicilan rumah bulan ini dan sudah melewati batas akhir pembayaran. Kami telah mencoba menghubungi dan mendatangi rumahnya, tapi tidak berhasil menemukan orang yang bersangkutan. ]

[ Setelah memeriksa data, kami menemukan bahwa Anda adalah kakaknya. Mohon bantu menginformasikan bahwa jika keterlambatan ini berlanjut, akan memengaruhi catatan kreditnya. ]

Ekspresi kakakku langsung berubah menjadi sangat kelam setelah membaca pesan itu. Dengan penuh amarah, dia langsung menelepon balik, "Dengar, aku nggak ada hubungan apa pun sama manusia nggak berguna itu!"

"Uangnya mau dibayar atau nggak, aku nggak peduli! Jangan hubungi aku lagi! Kalau kalian telepon lagi, aku akan melaporkan kalian!"

Timmy yang sudah hampir masuk ke kantornya, kembali mundur dengan berat hati sambil mengusap keningnya yang terasa tegang. "Suzanne utang apa?"

"Itu bukan urusanku," jawab kakakku dingin sambil menatapnya tajam. "Pak Timmy, kalau kamu masih mau pecahkan kasus jasad terbakar ini, lebih baik jaga ucapanmu."

Kerutan di dahi Timmy semakin dalam. Namun kali ini, dia hanya menghela napas panjang, lalu berbalik kembali ke dalam kantornya.

Saat itu, suara tangisan pria dari lantai bawah terdengar jelas.

"Pak, tolong bantu aku! Adik perempuanku hilang! Pagi-pagi dia bilang mau pergi jalan-jalan sama temannya, tapi sampai sekarang belum pulang. Teleponnya juga nggak bisa dihubungi. Aku ... aku nggak bisa hidup tanpa dia!"

Timmy segera bergegas turun, sementara kakakku yang sepertinya teringat sesuatu, mengikuti di belakangnya.

"Jangan panik dulu. Tolong tunjukkan foto adikmu. Lebih bagus lagi kalau ada foto yang memperlihatkan dia tersenyum sambil menunjukkan giginya," ujar Timmy dengan suara tegas.

Permintaan itu jelas mengarah pada sesuatu, tetapi pria itu terlalu cemas untuk menyadarinya. Sambil menangis, dia buru-buru membuka ponselnya, "Orang tua kami sudah lama meninggal, satu-satunya yang kupunya cuma dia. Kalau terjadi sesuatu sama dia, gimana aku bisa menghadapi mereka di alam sana nanti?"

Aku tersenyum pahit sambil melayang untuk melihat fotonya. Gadis di foto itu terlihat sangat imut. Dia memeluk leher kakaknya sambil membuat tanda V dengan satu tangan dan wajahnya terlihat gembira.

Aku juga pernah mengalami masa-masa seperti itu ....

Timmy dan kakakku saling bertukar pandang dengan ekspresi terkejut. Setelah beberapa saat, Timmy berkata dengan perlahan, "Hari ini kami menerima jasad seorang korban yang terbakar parah, identitasnya belum bisa dikenali. Tapi ... ada tanda pada giginya ...."

Ya, gigi gadis di foto itu juga hilang sebagian.

"Adikku!!!"

Pria itu langsung histeris mendengar pernyataan tersebut. Dia terduduk di lantai sambil menangis tersedu-sedu, "Kalau benar begitu, gimana aku harus hidup ke depannya?!"

Kakakku mengerutkan kening lebih dalam dan memalingkan wajah. Aku tahu apa yang dia pikirkan. Melihat kasih sayang antara kakak dan adik lainnya hanya akan membuat dia semakin merasa jijik padaku.

Timmy menghela napas, "Turut berduka cita. Tapi untuk memastikan identitasnya, kami masih membutuhkan lebih banyak detail tentang adik Anda."

Setelah itu, dia memberi isyarat kepada salah satu petugas yang ikut turun, "Lakukan pencatatan lengkap."

Namun jelas terlihat, kakakku enggan tetap berada di situ. Hanya saja, sebagai seorang ahli forensik, dia tahu bahwa setiap kata yang diucapkan pria itu mungkin menjadi petunjuk penting dalam mengungkap kasus ini.

Dia harus mendengarnya. Bahkan merekamnya untuk didengar berulang kali. Itu adalah kebiasaannya yang unik untuk membuat jasad "berbicara".

"Adikku, dia ...." Pria itu membuka mulutnya dengan hati yang remuk, tetapi seolah kehilangan kemampuan untuk melanjutkan. Saat itu, ponselnya berdering.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B51661" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B51661
Salin

Dokter Forensikku, Kakakku

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya