Bab 2
Jillian mendengus. "Ini peringatan terakhir. Keluarkan gelang itu sekarang juga, atau aku telepon polisi!"
Aku mengerutkan kening dan mengambil ponselku untuk menelepon polisi secara langsung.
"Jangan repot-repot, biar aku sendiri yang telepon."
Siapa sangka, saat Adrian melihat aku benar-benar menelepon polisi, rasa bersalah melintas di matanya. Dia cepat-cepat merebut ponselku.
"Lucy, kamu gila? Jangan memperburuk keadaan! Aku melakukan ini demi kebaikanmu. Cepat keluarkan gelangnya!"
Adrian tidak tahu, tiga tahun pacaran dengannya membuatku kenal betul dengan segala tindak-tanduknya.
Aku bisa melihat dengan jelas emosi yang terpancar dari matanya.
Aku segera menyadari bahwa hilangnya gelang Jillian kemungkinan besar ada hubungannya dengan Adrian.
Aku pun tertawa dingin. "Terima kasih, tapi nggak usah. Kalaupun kalian nggak mau lapor polisi, aku tetap ingin lapor. Kalian pikir aku terima difitnah?"
Tanpa tunggu lama, aku langsung telepon polisi untuk menjelaskan duduk perkara masalah ini.
Wajah Adrian langsung panik. Matanya memelototiku dengan tajam. "Lucy, kamu akan menyesalinya!"
Setengah jam kemudian, polisi datang dan membawa kami ke kantor polisi.
Setelah aku menjelaskan segalanya secara detail, aku keluar dari ruang interogasi.
Jillian melihatku dengan wajah marah. "Pak polisi, orang ini pencuri, kenapa dia nggak ditangkap?"
Polisi itu berkata dengan wajah tegas, "Kalau kalian curiga padanya, berikan barang buktinya. Jangan memfitnah sembarangan."
Jillian tidak bisa membantah dan duduk dengan sewot.
Kemudian, Adrian juga dipanggil sendirian. Tapi yang mengejutkan, dia juga keluar dan masih baik-baik saja.
Sampai kembali di kantor, Adrian memberiku tatapan tajam dan mengikuti Jillian ke ruangannya.
Dia bahkan tidak pura-pura lagi dan tidak repot-repot menyembunyikannya dariku.
Tentu saja, aku sudah tidak peduli dengannya. Dia cuma sampah busuk, paling pantas dimasukkan tong sampah saja.
Aku baru saja duduk di meja kerjaku, dan seseorang di sampingku berkata dengan nada menyindir, "Kalian semua harus lebih hati-hati menyimpan barang berharga. Ada pencuri di kantor kita. Jangan sampai ada yang kehilangan sesuatu lagi. Sudah lapor polisi pun nggak mempan."
Itu suara Fiona, salah satu penjilat Jillian.
Aku terlalu malas untuk menanggapi omongan seperti ini. Pokoknya, kebenaran akan selalu terungkap.
Tapi ternyata dia sangat berani. Saat kembali dari pantry membawa secangkir kopi, dia menumpahkan seisi cangkir itu ke arahku.
Kopi panas itu tumpah ke pangkuanku.
Rasa sakit dan terbakar menyerangku dalam sekejap.
"Fiona!"
Fiona mengangkat bahu dengan polosnya. "Ups, maaf, aku nggak sengaja."
"Mungkin tanganmu terlalu jahat, jadi Tuhan mengutusku untuk memberimu pembalasan."
Aku menahan rasa sakit luar biasa itu. "Maksudnya apa?"
Fiona tersenyum mengejek. "Kamu belum mengerti juga? Kamu orang termiskin di kantor. Siapa lagi kalau bukan kamu yang mencuri gelang Bu Jillian? Seluruh tubuhmu bau orang miskin, siapa yang mau percaya omonganmu?"
Aku melihat pada pakaian sederhana di tubuhku. Pakaian ini buatan tangan orang tuaku, jadi kelihatannya sangat sederhana. Tapi sangat nyaman dipakai.
Aku memandang Fiona. "Memangnya kamu polisi, berani bilang begitu? Bahkan polisi nggak menghukumku. Apa hakmu menuduhku?"
Fiona memutar matanya. "Mungkin kamu kenal orang dalam. Siapa yang tahu?"
"Tadi kamu bilang aku orang miskin. Sekarang kamu bilang aku kenal orang dalam. Kamu bisa mikir nggak sih? Kalau ingin menjilat Jillian, jilat sepatunya sekalian. Atau jangan-jangan, dia nggak menganggapmu sama sekali?"
Aku lalu pergi ke dapur untuk mengambil secangkir kopi dan mengguyurkannya ke wajah Fiona.
Bab 3
Fiona berteriak kepanasan. Aku perlahan-lahan mengangkat bibirku dan tersenyum polos.
"Maaf, aku nggak sengaja."
"Mungkin karena mulutmu terlalu jahat, jadi Tuhan mengutusku untuk memberimu pembalasan."
Aku berbalik dan berjalan pergi, tanpa melirik Fiona sama sekali.
Aku naik taksi ke rumah sakit. Kakiku terasa semakin sakit, mengingatkanku bahwa aku harus mendapatkan perawatan sesegera mungkin.
Di ruang gawat darurat, Ayah menelepon saat lukaku sedang dirawat.
Melihat wajah orang tuaku di layar ponsel melalui panggilan video, aku tidak bisa menahan air mata.
Hari ini sangat penuh dengan kejutan dan semuanya terjadi begitu cepat. Aku sampai tidak sempat untuk mencerna semua emosi yang kurasakan. Begitu melihat wajah orang tuaku, rasa sesak di dadaku akhirnya pecah.
Ayah dan ibuku langsung panik saat melihatku air mataku dan buru-buru bertanya apa yang terjadi.
Aku menceritakan kejadian hari ini sambil menangis.
Ayahku marah dan menggebrak meja. "Nggak masuk akal! Buat apa anakku mencuri gelang yang harganya cuma 200 juta?"
Dia ingin membeli tiket pesawat ke sini sekarang juga untuk membantuku, tapi aku menghentikannya.
Aku sudah dewasa sekarang, tidak perlu menggantungkan segalanya pada orang tuaku lagi.
Selain itu, aku ingin menangani urusan Adrian sendiri.
Aku pulang ke kontrakan naik taksi, mengemasi semua barang, dan mengirimkannya ke apartemen yang pernah dibelikan orang tuaku di pusat kota.
Demi menjaga harga diri Adrian, aku belum pernah tinggal di apartemen ini sebelumnya. Aku ingin menyimpannya sampai kami menikah. Tapi ternyata, semua akan berakhir seperti ini.
Di apartemen baru ini masih belum ada perlengkapan mandi. Aku turun ke bawah untuk belanja dan kebetulan bertemu Jillian dan Adrian di lift.
Mata Adrian jelas terkejut saat melihatku.
"Lucy, kamu gila, ya! Beraninya kamu mengikutiku kami ke sini. Kamu psikopat?"
"Kamu sudah lihat sendiri sekarang, jadi aku terus terang saja sekalian Aku sudah lama nggak tahan denganmu. Kita putus. Keluar dari rumahku!"
Melihat aku masih berdiri diam, Adrian mengerutkan kening. "Kamu nggak dengar? Pergi dari sini! Ngaca dulu, lihat pakaianmu itu seperti apa. Ini bukan tempat untuk orang-orang sepertimu!"
"Pergi! Atau aku minta Jillian untuk panggil satpam!"
Memandang wajah garang Adrian, aku tidak merasakan kesedihan sama sekali.
Aku hanya merasa bahwa tiga tahun yang aku habiskan bersamanya adalah waktu yang terbuang sia-sia. Apa yang kusukai dari bajingan seperti ini?
Jillian sejak awal menyilangkan tangan di depan dada dan memberiku tatapan menghina.
"Lucy, aku memang nggak mempermasalahkan gelang yang kamu curi. Tapi jangan pikir kamu bisa menguntit kami. Yang kamu lakukan ini melanggar hukum. Kamu bisa dipenjara tujuh hari, tahu nggak?"
"Kamu memang muda dan agak cantik, tapi kamu nggak ada gunanya bagi laki-laki. Kamu terlalu menyebalkan!"
"Adrian masih sangat muda dan menjanjikan."
Dia dengan lembut menggandeng lengan Adrian. "Kalau dia terus bersama denganmu, dia akan sengsara seumur hidup."
Aku sangat ingin bertepuk tangan untuk mereka berdua. "Kalian memang mengagumkan. Selingkuh kok dibuat-buat jadi seperti tindakan mulia. Entah apa yang terjadi, kamu tetap selingkuhan. Jangan sok suci!"
"Kamu ...."
Jillian tampak geram dan Adrian tidak tahan lagi. "Lucy, kenapa kamu nggak cepat pergi? Aku panggil satpam sekarang!"
Lima menit kemudian, seorang satpam berdiri di luar pintu lift dan membungkuk kepadaku. "Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?"
Bab 4
Adrian berteriak keras, "Kamu buta, ya? Kamu salah orang."
"Kenapa keamanan di sini jelek sekali? Orang jorok seperti dia dibiarkan masuk? Apartemen elite apanya? Masa kamu nggak kenal orang yang memberimu uang setiap bulan?"
Kualitas satpam di apartemen elite memang tidak bisa diragukan. Ekspresinya bahkan tidak berubah menghadapi omelan kasar Adrian.
"Saya nggak salah orang. Kalian memang penyewa, tapi Bu Lucy ini pemilik apartemen di lantai paling atas."
"Apa?"
Adrian kehilangan suaranya dan menuding wajahku dengan tidak percaya. "Kamu bilang dia mampu beli apartemen lantai paling atas? Kamu pasti salah orang! Dia anak peternak sapi!"
Satpam itu masih tetap tenang. "Saya nggak salah."
Wajah Adrian dan Jillian merah karena marah. Aku akhirnya memberi tahu satpam bahwa kami baik-baik saja dan menyuruhnya pergi.
Setelah itu, aku menoleh pada pacarku dan selingkuhannya. "Kalian salah. Nyatanya, aku memang cantik dan kaya."
Aku langsung masuk ke lift menuju lantai bahwa tanpa menoleh ke belakang. Tidak peduli apakah wajah mereka marah, jengkel, atau apa pun.
Saat pulang dari berbelanja, aku mendengar seseorang memanggilku.
"Lucy!"
Saat menoleh ke belakang, aku melihat ayahku berdiri di gerbang.
Seketika itu juga, air mataku berlinang dan aku langsung berlari untuk memeluknya.
"Ayah, kenapa kamu di sini?"
"Anak tercintaku dibuat menderita! Ayah harus datang untuk membelamu."
Aku melihat ke belakang. "Mama ikut juga?"
"Mamamu masih ada urusan di rumah. Nanti nyusul kalau sudah selesai."
Keesokan paginya, aku ingin pergi ke kantor untuk mengundurkan diri. Perlu usaha ekstra untuk menahan ayahku agar tidak ikut pergi.
Setibanya di kantor, semua orang memandangku dengan tatapan aneh.
Kukira mereka masih curiga perihal gelang kemarin, jadi aku mengabaikannya. Aku langsung pergi menuju printer untuk mencetak surat pengunduran diri yang sudah kusiapkan kemarin.
Saat itulah Adrian muncul di depanku.
"Lucy, aku baru tahu kamu begitu menjijikkan!"
"Pantas saja kamu mampu beli apartemen mahal itu. Ternyata kamu jadi simpanan orang kaya. Kamu sudah nggak punya malu?"
Aku mengerutkan kening. "Adrian, kamu sedang mengigau, ya?"
Adrian mencibir dan menunjukkan sesuatu di ponselnya.
Itu adalah video aku dan ayahku masuk lift sambil bergandengan tangan, persis ketika aku menjemput ayahku kemarin. Video itu bahkan masuk pencarian panas sebuah media sosial.
Komentar di bawahnya bahkan lebih menjijikkan lagi.
"Gadis zaman sekarang nggak mau kerja keras, maunya jalan pintar saja. Nggak punya harga diri. Mau jadi apa dia kalau sugar daddy-nya sudah nggak suka lagi?"
"Bisa-bisanya lelaki tua bertingkah seperti ini? Aku jadi ingin muntah."
"Gadis muda jual diri, orang tua yang makan daun muda juga lebih nggak tahu malu."
Aku masih bisa tahan diri melihat serangan yang ditujukan padaku. Tapi kenapa sangat banyak orang menyerang ayahku? Kata-kata mereka juga sangat kejam.
"Kamu yang upload video ini?"
Aku menatap Adrian, melihat wajahnya penuh dengan kesombongan dan penghinaan. "Lucy, sejak kapan kamu mulai berhubungan dengan laki-laki kaya ini? Saat masih pacaran denganku? Ini cuma sedikit hukuman untukmu."
Aku mengeluarkan surat pengunduran diri yang baru keluar dari printer dan menyobek-nyobeknya.
Aku awalnya ingin mengundurkan diri dan menjauh dari mereka. Tapi Adrian malah menantangku lagi dan lagi. Bahkan sekarang sampai melibatkan keluargaku.
Ini adalah hal yang paling kubenci dan tidak bisa kumaafkan.
Karena Adrian sendiri yang memulai, aku akan melayaninya sampai selesai.