Bab 1

Di pesta pernikahan yang kurancang sendiri, tunanganku yang biasanya serius dan jarang tersenyum malah kabur bersama asistennya yang mengenakan gaun pengantin.

Adiknya tiba-tiba naik ke mobil pengantin, menarikku yang masih panik ke kantor catatan sipil, lalu bilang mau menikah denganku.

Dekorasi tiba-tiba ambruk, memperlihatkan tamu-tamu undangan yang menertawakanku.

Dua sahabat masa kecilku yang dulu bersumpah akan menjagaku seumur hidup, malah merobek surat nikah palsu demi membuat si asisten tersenyum dan melemparkan sobekannya ke wajahku.

Mereka bertiga bersulang di atas panggung, seolah dunia milik sendiri.

“Konsep pernikahanmu terlalu kuno, dijadikan pesta lajang untuk Yovita itu justru keberuntunganmu!”

“Pernikahan resminya diadakan di hari minggu! Bagaimana? Ide Yovita mengejutkan sekali, ‘kan?”

Kedua orang itu begitu yakin aku tak akan meninggalkan mereka.

Namun, aku hanya dengan tenang mengambil ponselku.

“Jadwal nikahku dengan putra mahkota Keluarga Lessy ditetapkan di hari minggu ini saja.”

Pesan penuh semangat terus berdatangan tanpa henti, [Segera atur jadwal pernikahannya!]

Yovita manyun dan bersandar manja pada Leslie Soman, “Kak, aku itu penganut anti menikah. Hanya saja, aku mau merasakan rasanya menikah, jadi Kak Leslie dan Kak Kezzy langsung menyiapkan semuanya!”

Aku tak menjawab, tapi ponselku tiba-tiba dihantam keras oleh Leslie hingga terlempar.

“Kamu tuli? Keluarga Soman nggak mengajarkan sopan santun padamu? Yovita itu hanya polos, haruskah kau begitu kecil hati, sampai nggak mau menjawabnya?”

Kezzy, tunanganku melangkah ke arahku dan berdiri untuk melindungi Yovita.

Dia sempat melirik ponselku yang tergeletak, lalu berkata, “Jadwal apa? Kamu mau dinas keluar kota?”

Aku buru-buru mematikan layar dan mengambil ponselku, menjawab, “Proyek kantor.”

Mereka bertiga terlihat sangat kompak, membuat diriku yang mengenakan gaun pengantin dengan potongan kertas surat nikah palsu itu benar-benar tampak konyol.

Dari bawah panggung, terdengar bisikan pelan.

“Lihat, jangan-jangan dia masih mengira dirinya itu pengantin? Padahal ini pesta yang disiapkan kedua kakak adik itu khusus untuk Nona Yovita!”

“Begitu tunangan kabur dari pernikahan, dia langsung menikah dengan adiknya. Sepertinya Pak Leslie tahu wanita ini nggak bisa hidup tanpa laki-laki ….”

Para tamu yang datang adalah anak orang kaya yang memang akrab satu sama lain dan mereka hanya memberiku tatapan penuh hinaan.

Sementara dua sahabat masa kecil yang dulu bersumpah akan melindungiku seumur hidup, sekarang malah mengelilingi Yovita dengan penuh kasih sayang.

Aku memandang sekeliling, semua kejutan romantis yang sudah susah payah kusiapkan hancur berantakan.

Balon putih dan bunga mawar disemprot dengan cat merah menyala bertuliskan “Selamat Menikmati Masa Lajang!”

Bahkan drama yang mempermalukanku ini ternyata juga rencana mereka, demi menunjukkan betapa mereka memanjakan Yovita.

Aku pun memungut potongan kertas itu dengan tangan yang gemetaran.

Yovita terdiam sejenak, lalu matanya langsung berkaca-kaca.

“Kak, maaf, ini salahku. Aku yang usul ke mereka untuk diam-diam kasih kejutan pesta lajang ini. Maaf ….”

Kezzy mengusap kepala Yovita, lalu menatapku dengan ekspresi dingin dan langsung menegur,

“Bisa nggak sih berhenti pura-pura jadi korban? Kamu itu perencana pernikahan, seharusnya sudah banyak melihat kejadian seperti ini, ‘kan?”

Emosi Leslie langsung meledak. Dia mencengkeram pergelangan tanganku dan menyeretku ke depan Yovita.

“Ketrin! Yovita itu hanya gadis muda yang masih polos. Kok kamu bisa-bisanya menyudutkannya seperti itu? Hanya dia yang masih bisa percaya dengan sandiwaramu itu! Cepat minta maaf!”

Tanganku terasa sakit. Begitu berhasil berdiri tegak, aku hanya mengangkat tangan dan melepas cincin yang kudesain sendiri.

Ekspresi kezzy langsung berubah, lalu reflek menutup tangannya.

Cincin kawin buatan tangan yang kubuat sendiri selama tiga bulan, sudah diganti dengan versi yang sama seperti milik Yovita.

Aku menjawab cepat,

“Benar yang kalian bilang, harus menikmati pesta lajang hari ini baik-baik.”

Mereka semua menatapku dengan tatapan terkejut.

Ini pertama kalinya aku menuruti mereka dalam urusan yang menyangkut Yovita.

Padahal dulu, aku sering bertengkar dengan mereka karena Yovita.

Waktu Yovita membuang semua obat maagku, mereka bahkan memblokir semua akses ambulans.

Sebelum pergi, mereka hanya melirikku dengan dingin.

“Bisa nggak sih berhenti buat drama dan pura-pura sakit? Setiap kali Yovita muncul, kamu terus menyudutkannya!”

Namun sekarang, aku tidak akan berdebat lagi.

“Kita putus.”

Ujarku tanpa ragu, lalu melemparkan cincin itu. Kezzy terpaku, wajahnya langsung memuram.

Aku tersenyum tipis, “Selamat menikmati masa lajang, ‘kan?”

Leslie yang langsung merespon,

“Kau sudah gila? Nggak hanya menolak kejutan dari Yovita, sekarang kamu bahkan menolak menikah dengan Keluarga Soman? Kamu pikir siapa lagi yang mau denganmu?!”

Kupikir hatiku sudah kebal terhadap rasa sakit, tapi ternyata kembali membeku sedikit.

Aku tersenyum kecil, lalu dengan tenang mengangkat tangan dan melemparkan potongan surat nikah palsu itu ke arah Leslie.

Dia menatapku tak percaya, lalu mencengkeram tanganku dan berteriak marah,

“Berani-beraninya kamu?!”

Rasa sakit itu terasa jelas dan aku teringat masa-masa dulu saat aku terluka, mereka selalu panik, buru-buru mengobatiku, menjagaku seperti sesuatu yang sangat berharga.

Namun sekarang, aku bukan lagi orang yang ingin mereka lindungi.

Dengan tenang, Aku berkata, “Ini idenya Nona Yovita, kamu juga harus merasakannya.”

Leslie terdiam, emosi di wajahnya tak terkendali. Lalu dengan ekspresi jijik, dia melemparkan potongan keras itu ke arahku.

“Ketrin! Sudah cukup belum, sih?!”

Kezzy berjalan mendekat dengan dahi berkerut, “Pernikahan kita itu minggu depan. Kalau kamu terus buat malu di depan banyak orang seperti ini, jangan salahkan aku kalau batalkan semuanya!”

Bab 2

Jika ini terjadi dulu, aku pasti sudah meminta maaf pada mereka.

Setelah orang tuaku meninggal demi melindungiku, nenekku menolak mengasuhku karena benci padaku.

Akhirnya, aku dibawa pulang oleh Keluarga Soman yang saat itu berhubungan baik dengan keluargaku.

Perasaan minder karena menumpang hidup membuatku selalu jadi pihak yang meminta maaf duluan sejak kecil, tak peduli siapapun yang marah.

Mereka bilang kasihan padaku, katanya akan memanjakanku dan tidak akan membiarkanku bersedih sedikit pun.

Setelah bersama selama tujuh belas tahun, akhirnya aku menjalin hubungan dengan Kezzy yang lebih dewasa.

Leslie sempat marah besar, tapi setelah dewasa pun dia tetap memperlakukanku seperti adiknya sendiri.

Namun, waktu telah mengubah semuanya. Ibu mereka pergi untuk berobat keluar negeri dan aku pun ditinggalkan seperti barang usang, tak ada lagi yang peduli padaku.

Pernikahan yang sangat kunantikan, akhirnya menjadi bahan tertawaan.

Sorakan sinis dari para tamu semakin keras, bahkan ada yang ikut berteriak,

“Ceraikan saja wanita itu! Biar tahu siapa yang pantas jadi nyonya!”

Dua sahabat masa kecilku berdiri di hadapanku, menatapku dengan tanpa perasaan, seolah menunggu diriku meminta maaf.

Aku tersenyum tipis, “Semoga hubungan kalian bertiga langgeng sampai kakek nenek, selamat menempuh hidup baru!”

Suasana di bawah panggung langsung hening. Dengan marah, Leslie mengangkat tangan, hendak menamparku.

“Apa maksudmu?! Kamu tahu betapa pentingnya reputasi bagi seorang perempuan, kenapa kamu malah menyebarkan fitnah soal Yovita? Benar-benar menyebalkan!”

Padahal dia juga tahu, ini pernikahan yang sudah kusiapkan dengan penuh harapan.

Namun tetap saja, dia memilih mempermalukanku demi orang lain.

Saat menatap mataku yang mulai bergenang air mata, gerakannya terhenti sesaat.

Aku langsung melangkah keluar.

Leslie tampak panik dan reflek ingin mengejarku, tapi suara dingin Kezzy menahan langkahnya.

“Biarkan dia pergi! Aku nggak percaya yatim piatu yang nggak punya siapa-siapa seperti dia, bisa ke mana tanpa kita!”

Langkah kakinya sempat terhenti sebentar, tapi Leslie tetap berlari mengejarku, berteriak di lorong kosong itu,

“Kamu benar-benar berani pergi?! Pelihara seekor anjing bahkan lebih berguna daripada pelihara kamu di rumah kami!”

Aku hanya diam, air mataku mengalir. Kudengar dia mengumpat dua kalimat itu, lalu kembali ke ruang pesta.

Keramaian di belakang mulai mereda, aku pun melangkah ke arah mobil di pinggir jalan.

“Ayo, kita pergi urus surat nikahnya sekarang.”

Setelah mendapatkan surat nikah, aku masih merasa agak linglung.

Aku kenal dengan Jacob Lessy lewat pekerjaan. Setelah menolak pernyataan cintanya, ujung-ujungnya kami malah menikah karena perjodohan.

Karena sudah menikah, lima hari yang tersisa ini sebaiknya kupakai untuk menyelesaikan semua hubungan lama.

Aku pulang untuk beres-beres, tapi hubungan antara aku dan Keluarga Soman terlalu rumit. Uang yang harus kubayar juga bukan jumlah kecil yang bisa ditanggung sendiri.

Dengan waspada, aku menelepon Jacob. Tanpa banyak tanya, dia langsung mengirimkan uangnya.

Syaratnya hanya satu.

“Temani aku merancang sebuah pernikahan megah yang akan disiarkan di seluruh negeri.”

Tawa Jacob terdengar rendah dan hangat. Aku melihat sketsa pesta pernikahan yang indah, rasanya hati ini seperti digelitik.

Dia memberiku akses ke perencana pernikahan kelas atas yang biasanya tak mungkin kujangkau. Lokasi acaranya juga bisa diubah kapanpun sesuai ideku.

Seolah dia memang berniat mengangkatku setinggi mungkin.

Sedangkan semua sumber daya bagus di perusahaan Keluarga Soman sudah diberikan ke Yovita dan aku hanya kebagian sisa-sisanya.

Bahkan rancangan yang kubuat, namanya dicantumkan atas nama Yovita.

Memikirkan ini, senyuman di wajahku perlahan memudar.

Apa yang dikatakan Kezzy memang benar, dulu aku memang tak bisa lepas dari mereka.

Namun, sekarang sudah berbeda.

Ternyata cinta bukan tentang mengendalikan seseorang, tapi memberi dukungan yang membebaskan.

Hingga di malam hari keempat sebelum hari h, aku yang sedang mengantuk samar-samar mendengar suara pelan dari luar pintu.

“Sudah kubilang dia nggak akan pergi meninggalkan kita. Mulutnya saja galak, ujung-ujungnya tetap balik lagi seperti seekor anjing.”

Aku memaksakan diri untuk bangun, tapi rancangan di tanganku dirampas oleh Kezzy.

“Pernikahan kita sebentar lagi, untuk apa dirancang segala?”

Dia tidak tahu, rancangan itu adalah untuk pesta pernikahanku dengan Jacob.

Aku tak menjawab dan mengambilnya kembali. Dia pun mengernyit dan mulai melembutkan suaranya,

“Yovita yang mau kasih kejutan untukmu. Lagipula, minggu depan kita juga sudah menikah, jangan marah lagi, ya?”

Aku tahu betul, pesta ini pasti idenya Yovita.

Dari hari peringatan mereka bertiga, hingga pesta ulang tahunku, mereka selalu menyerahkannya pada Yovita dan membuat semuanya kacau.

Selalu Yovita yang menjadi bintang pestanya dan bersinar di tengah keramaian.

Sedangkan aku hanya bisa duduk di pojokan, memakan kue ulang tahun yang sudah rusak dan hancur berantakan.

Seperti sekarang, demi Yovita mereka meninggalkanku selama dua hari, tanpa satu kabar pun.

Aku sudah sangat mengantuk, jadi hanya menanggapinya dengan malas tanpa menoleh.

Barulah Kezzy menghela napas lega. Dari luar, Leslie yang sejak tadi bersembunyi, masuk dengan enggan.

“Maaf Ketrin, kami yang keterlaluan tadi siang, tapi pintu rumah kami akan selalu terbuka untukmu.”

Aku mengangguk pelan, Kezzy pun akhirnya tampak tenang dan mengeluarkan kotak kado.

Begitu dibuka, isinya sepasang sepatu hak tinggi bekas pakai.

Mereka berdua langsung tampak panik tak karuan.

Aku menatap mereka dengan senyuman mengejek.

Bab 3

Dengan gugup, Leslie menunduk dan mengambil sepatunya, lalu menggerutu,

“Mungkin ada tamu yang yang tak sengaja menaruh di sana, kotaknya mirip sekali, jadi salah ambil.”

Kezzy yang pernah bersumpah tak akan berbohong apa pun dariku, juga ikut-ikutan untuk menutupinya.

“Iya, kamu juga tahu ada tamu yang suka lebih santai ….”

Padahal aku tahu tak pernah ada tamu yang bisa pulang naik mobil pribadi mereka.

Bahkan setelah Yovita muncul, kursi penumpang depan mobil pribadi mereka sudah menjadi miliknya. Kakinya juga menginjak sandaran punggung yang dulu biasanya kupakai.

Namun, aku sudah tak peduli lagi.

Sikap pengertianku justru membuat mereka merasa tak nyaman.

“Ketrin, kok rasanya kamu nggak begitu senang? Kamu benaran sudah nggak marah?”

Namun, detik berikutnya mereka langsung bersikap waspada.

“Apa pun itu, bicarakan saja dengan kami, jangan menyalahkan Yovita.”

Aku menggeleng, “Aku hanya merasa nggak seharusnya mengambek lagi.”

Mereka pun saling pandang, kaget melihat sikapku yang sangat patuh.

Nada dering khusus tiba-tiba berdering, keduanya saling bertatapan dengan wajah gembira, bersiap untuk pergi.

Aku menunduk, “Bukannya hadiah itu untukku?”

Mereka membeku sejenak, ekspresi bahagia mereka langsung berubah menjadi jijik dan melempar kotak hadiah itu ke wajahku.

“Kamu mengerti prioritas nggak, sih? Perasaan dulu kamu bukan wanita matre!”

Melihat wajahku berdarah, mereka agak panik, tapi langkah mereka tak berhenti.

“Kamu balut sendiri saja, ada obat di kotak P3K!”

Pintu depan ditutup dengan keras.

Jam menunjuk ke pukul 00:00, hitungan mundur 3 hari.

Dengan suara lirih, aku berbicara sendiri,

“Kalian tahu nggak? Sebenarnya hari ini hari ulang tahunku.”

Pada akhirnya, mereka sudah sampai di tahap melupakan hari ulang tahunku.

Namun, tak masalah. Setidaknya aku tak perlu lagi jadi bahan olokan orang.

Aku memesan tiket pesawat untuk lusa, hari minggu. Pagi-pagi sekali, aku berangkat ke pemakaman menerobos gerimis.

Waktu kecil, aku pernah merengek ingin main ke pegunungan di hari ulang tahunku. Tapi, justru di sanalah ayah ibuku meninggal tertimbun longsor.

Aku tak bisa menerima kenyataan orang tua yang begitu menyayangiku malah mati karenaku.

Rasa bersalah dan duka itu tumbuh bersamaku. Sepanjang perjalanan, Jacob terus menghiburku.

“Mereka sangat sayang denganmu, makanya waktu longsor, mereka berusaha sekuat tenaga mengangkatmu ke atas kepala. Mereka mau kamu bisa hidup bahagia.”

Air mataku menetes.

Belum pernah ada yang bilang begitu padaku. Orang-orang hanya menyebutku pembunuh orang tua sendiri.

Bahkan dua sahabat masa kecilku pun selalu menghindari topik itu.

Aku bilang ke Jacob, aku ingin bicara sendiri dulu dengan ayah dan ibu. Dia pun menunggu di luar area pemakaman.

Tanpa sengaja, aku melihat Kezzy dan Leslie berdiri di depan makam orang tuaku.

Aku terdiam sejenak. Sejak ada Yovita, sudah tiga tahun mereka tidak pernah ke sini lagi.

Tanpa sadar, aku pun melangkah maju.

Namun, di detik berikutnya, mereka malah mengambil sekop dan mulai menggali makam orang tuaku!

Aku berlari dengan mata merah penuh amarah, berdiri menghalangi Kezzy dan Leslie yang sedang menggali.

“Apa yang kalian lakukan?! Itu makam orang tuaku!”

Mereka sempat terlihat gugup saat melihatku, tapi tak lama kemudian, langsung kembali dengan sikap angkuhnya.

“Laba-laba peliharaan Yovita meninggal. Berdasarkan perhitungan tanggal lahir dan kematiannya, tempat ini cocok untuk menguburnya. Kami bakal cari tempat yang lebih baik untuk orang tuamu.”

“Tapi mereka itu orang tuaku!”

Aku berteriak histeris, air mata juga mengalir deras.

Tiba-tiba, entah dari mana Yovita muncul, dia langsung mendorongku, ingin melindungi Leslie.

“Dasar wanita gila! Jangan sakiti Kak Leslie!”

Di tengah kekacauan, guci abu tertabrak dan terguling.

Dua pria itu langsung serempak memeluk Yovita dan menggenggam pergelangan kakinya yang terluka karena pecahan guci.

Aku buru-buru meraih guci itu dan memeluknya erat, air mataku mengalir tanpa henti.

Padahal mereka juga menerima banyak kasih sayang dari ayah dan ibuku.

Namun sekarang, hanya karena seekor laba-laba, mereka tega menggali makam orang tuaku!

Yovita kembali berteriak kesakitan, tapi, kali ini dua pria itu tak langsung memperhatikannya.

Tatapan Leslie tampak goyah saat melihat aku yang menangis dengan begitu malang.

Kezzy yang lebih dulu berjongkok dan memelukku, mencoba menenangkanku, “Ketrin, orang yang sudah meninggal, tak akan hidup kembali ….”

Aku reflek mengangkat tangan ingin menamparnya.

Namun, Yovita menjerit keras dan dengan cepat melompat ke arah kami, menangkis tamparanku lalu terjatuh ke lantai.

“Nggak apa-apa, kak. Wajahku cacat juga nggak masalah, asal Kak Ketrin nggak marah lagi ….”

Dia langsung berlutut, menangis tersedu-sedu.

Padahal aku tahu jelas, tanganku hanya menyentuhnya pelan!

Detik berikutnya, kedua sahabatku yang tadi sempat peduli, seketika berubah membenciku.

Leslie menekan kepalaku, membenamkannya ke tanah yang berlumpur.

Kezzy menekan lututku hingga aku terpaksa berlutut di depan guci abu yang sudah tumpah.

“Kamu yang sudah mencelakai orang tuamu, sekarang malah mau mencelakai Yovita juga?! Kok bisa kamu sekejam ini? Nggak malu dengan pengorbanan orang tuamu?!”

Kata-kata mereka menusukku seperti jarum-jarum tajam.

Yovita yang berdiri di belakang mereka tersenyum mengejekku.

Lalu, dia mengangkat guci abu dan menghantamkannya ke lantai dengan keras!

Kezzy menggertak, “Kami bakal suruh orang bersihkan abu ayah ibumu nanti!”

“Yang paling penting sekarang itu mengubah sikap burukmu!”

Aku berteriak sambil merangkak maju, tapi mereka malah menyeretku dengan kasar.

Di tengah keputusasaan, tiba-tiba sosok Jacob muncul di pintu keluar sisi lain.

Mataku langsung berbinar dan berteriak sekuat tenaga minta tolong!

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B81952" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B81952
Salin

Ditinggal Nikah, Aku Langsung Menikahi Putra Mahkotan

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya