Logo
Dipaksa Menjadi Boneka di Hadapan Istri Palsu
Dipaksa Menjadi Boneka di Hadapan Istri Palsu

Dipaksa Menjadi Boneka di Hadapan Istri Palsu

35 Bab
Tamat
Dalam romance novel Dipaksa Menjadi Boneka di Hadapan Istri Palsu, Sakti terjebak antara nyawa kakeknya dan cinta pada Anjani. Terpaksa menjalani pernikahan modern poligami demi donor jantung, ia harus menjaga rahasia besar sebelum pengkhianatan ini menghancurkan hidupnya di web novel ini.
Bab 1 dari Dipaksa Menjadi Boneka di Hadapan Istri Palsu

Langit Jakarta malam itu bertabur bintang, tapi bagi Sakti, cuma ada satu bintang yang dia mau lihat: mata Anjani. Mereka duduk di bangku kayu usang di taman panti asuhan tempat Anjani tinggal. Tempat ini, walau sederhana, sudah jadi surga rahasia mereka selama dua tahun terakhir.

"Dingin, Sakti," bisik Anjani pelan, suaranya kayak angin malam yang lembut. Anjani selalu begitu. Semua gerakannya halus, nggak pernah tergesa-gesa. Beda banget sama Sakti, cowok yang hidupnya selalu dipacu adrenalin, baik di kantor ayahnya yang sebesar gedung pencakar langit, atau di trek balap mobil.

Sakti cuma tersenyum, melonggarkan jaket kulitnya, lalu menyampirkannya ke bahu Anjani. "Kalau dingin, harusnya kamu protes dari tadi, bukan malah diam. Nanti sakit."

"Aku nggak mau kehilangan momen," jawab Anjani, bersandar ke lengan Sakti. "Momen di mana kamu cuma milik aku, bukan milik rapat, bukan milik saham, atau milik..." Dia berhenti, nggak mau menyelesaikan kalimatnya.

Sakti tahu apa yang Anjani maksud: bukan milik 'dunia' Sakti. Dunia yang dipenuhi marmer dingin, janji bisnis miliaran, dan harapan keluarga besarnya. Sakti Valentino, nama belakang yang membawa beban seberat emas batangan. Anjani, nggak punya nama belakang yang istimewa, cuma nama yang diberikan pengurus panti.

"Aku selalu milik kamu, Anjani. Di mana pun aku berada," kata Sakti, menarik Anjani mendekat dan mencium pucuk kepalanya. Aroma sampo murah tapi segar dari rambut Anjani adalah satu-satunya wewangian yang benar-benar menenangkan Sakti.

Malam itu seharusnya berjalan seperti biasa: penuh bisikan janji, rasa aman yang singkat, dan perpisahan yang berat. Tapi malam itu terasa berbeda. Ada firasat aneh yang merayap di punggung Sakti, kayak bayangan hitam yang nggak bisa dia sentuh.

"Kamu kenapa, Sakti? Dari tadi senyumnya agak tegang," tanya Anjani, mengusap pipi Sakti.

Sakti menghela napas. "Nggak tahu. Mungkin cuma capek. Papa lagi gila-gilaan dengan proyek baru. Dia mau aku ambil alih semua urusan investasi luar negeri."

Anjani membenarkan jaket Sakti. "Pulanglah. Kamu butuh istirahat. Aku juga nggak mau kamu kena masalah gara-gara sering telat pulang."

Masalah. Kata itu terngiang di telinga Sakti. Masalah terbesar dalam hidup Sakti itu bukan saham atau proyek, tapi fakta bahwa cintanya adalah sebuah anomali di mata keluarganya.

"Aku janji, kita nggak akan lama-lama sembunyi begini," ucap Sakti penuh tekad. "Aku akan bicara dengan orang tuaku. Mereka harus tahu, kamu bukan cuma pacar biasa. Kamu..."

Tiba-tiba, ponsel Sakti berdering kencang di saku celananya. Nomor Papanya.

Sakti merasa jantungnya langsung mencelos ke perut. Dia nggak pernah dapat telepon dari Papanya jam 11 malam, kecuali ada... keadaan darurat.

"Ya, Pa?" suara Sakti terdengar lebih formal dan kaku dari yang dia inginkan.

"Sakti. Pulang sekarang juga. Sekarang." Suara Ayahnya, Bapak Hardian Valentino, dingin, tajam, dan sama sekali nggak menerima bantahan. Nggak ada basa-basi, nggak ada pertanyaan tentang apa yang sedang Sakti lakukan.

"Ada apa, Pa? Kakek kenapa?" Sakti langsung panik.

"Kakekmu baik-baik saja. Ini tentang kamu. Dan... gadis panti asuhanmu itu. Cepat pulang, Sakti. Atau Papah yang akan menjemputmu ke sana."

Telepon itu langsung diputus.

Sakti berdiri tegak, wajahnya pucat. Skenario terburuk yang selama ini dia takuti, terjadi. Keluarga besarnya sudah tahu. Rahasia yang mereka jaga rapat-rapat, bocor.

"Sakti? Ada apa? Gadis panti asuhan? Siapa yang dimaksud Papamu?" tanya Anjani, matanya membesar ketakutan. Dia pasti mendengar sedikit percakapan itu.

Sakti memegang kedua tangan Anjani erat-erat. "Nggak apa-apa, sayang. Dengar aku. Ini akan berat. Mereka sudah tahu tentang kita. Tapi nggak ada yang perlu kamu takutkan. Aku akan hadapi mereka. Kamu tunggu di sini, ya. Janji sama aku, jangan keluar dari panti malam ini, apa pun yang terjadi."

Anjani hanya mengangguk, terlalu terkejut untuk bicara.

Perjalanan dari panti asuhan ke rumah keluarga Valentino terasa seperti perjalanan ke jurang. Lima belas menit yang dipenuhi adrenalin dan rencana di kepala Sakti.

Rumah besar itu, atau lebih tepatnya 'Istana Valentino', berdiri megah dengan gerbang besi tempa yang selalu tertutup. Saat Sakti masuk, lampu-lampu di ruang tamu utama menyala terang benderang. Terlalu terang.

Di sana, sudah menunggu Ayahnya, Hardian Valentino, duduk di kursi berlengan kulit dengan ekspresi datar yang mematikan. Di sampingnya, Mamanya, Ibu Diana, yang kelihatan sudah menangis, tisu basah ada di tangannya.

Suasana ruangan itu begitu hening, kecuali suara jam kuno yang berdetak pelan, kayak menghitung mundur waktu kehancuran.

Sakti melepas jaketnya, berusaha terlihat tenang. "Ada apa, Pa? Bisa dijelaskan kenapa kamu harus pakai cara begini?"

Ayahnya nggak menjawab. Dia cuma melempar selembar foto ke meja kopi di depan Sakti. Foto itu adalah foto candid Sakti dan Anjani yang diambil beberapa hari lalu, saat mereka makan di warung soto pinggir jalan-salah satu tempat kencan favorit mereka.

Foto itu bukan cuma menampilkan kedekatan fisik mereka, tapi yang lebih penting, kontras latar belakang mereka: Sakti dengan kemeja mahal yang dia gulung, Anjani dengan sweater rajutnya, dan di latar belakang, sebuah becak lewat. Itu adalah bukti nyata, visual, yang nggak bisa dibantah.

"Kamu pikir kamu sedang main film, Sakti?" Hardian akhirnya membuka suara, nadanya rendah, tapi setiap kata menusuk kayak belati es. "Menjalin hubungan serius, selama dua tahun, dengan... pengemis cinta dari panti asuhan? Di mana otakmu? Di mana harga diri keluarga ini?"

Sakti nggak bergeming. "Dia bukan pengemis cinta. Namanya Anjani. Dan dia perempuan paling baik yang pernah aku kenal."

"Baik? Kami tidak butuh yang baik! Kami butuh yang sepadan!" Ibu Diana, yang selama ini diam, akhirnya angkat bicara dengan suara bergetar. "Kami sudah menyiapkan segalanya untuk masa depanmu. Calon istrimu, Tifany, sudah siap menunggu. Keluarganya akan memperkuat jaringan bisnis kita di Eropa. Dan kamu? Kamu malah berkubang dengan lumpur di panti asuhan!"

"Mama, aku nggak cinta Tifany. Dan aku nggak akan pernah menjadikan pernikahan sebagai alat bisnis!" balas Sakti, mencoba mengendalikan nada suaranya.

"Cinta? Cinta itu omong kosong, Sakti! Yang ada di dunia kita adalah aliansi, kekuatan, dan warisan! Dan kamu, anak tunggal yang akan mewarisi semua ini, seenaknya merusak semuanya demi wanita yang bahkan nggak punya apa-apa selain... air mata drama," bentak Hardian, kini suaranya meninggi.

Hardian berdiri, berjalan mendekati Sakti, matanya menyala marah. "Aku nggak mau tahu bagaimana kamu mengenalnya. Aku nggak mau tahu apa yang sudah kamu janjikan padanya. Malam ini, aku mau kamu dengar baik-baik: Ini adalah ultimatum. Kamu putuskan dia. Sekarang. Telepon dia, katakan semua sudah berakhir. Atau..."

Sakti menahan napas. "Atau apa, Pa?"

"Atau aku pastikan, panti asuhan itu akan kehilangan semua donasi yang mereka terima. Semua. Dan akan aku buat dia dan semua temannya di sana, hidup menderita. Kamu pilih. Masa depanmu, atau panti asuhan itu."

Ancaman itu menghantam Sakti lebih keras daripada pukulan fisik. Ayahnya bukan main-main. Ayahnya punya kekuatan untuk menghancurkan hidup banyak orang hanya dengan satu panggilan telepon.

Sakti memejamkan mata sebentar, mencoba menelan kemarahannya yang memuncak. Dia sadar, kali ini dia nggak cuma berhadapan dengan egonya sendiri, tapi dengan nyawa dan tempat berlindung Anjani.

Dia menarik napas panjang. "Aku nggak akan putusin Anjani."

Hardian terdiam sesaat, seolah nggak percaya dengan apa yang dia dengar. "Apa kamu bilang?"

"Aku nggak akan putusin Anjani," ulang Sakti, kali ini lebih tenang, lebih tegas. "Kamu boleh ambil semua asetku, semua kartu kreditku, semua yang aku punya. Kamu boleh memecatku dari perusahaan. Tapi kamu nggak berhak mengancam panti asuhan itu."

"Jangan bodoh, Sakti! Kamu pikir kamu bisa hidup tanpa uangku? Tanpa nama belakang Valentino?" Hardian tertawa sinis, tawa yang nggak lucu sama sekali.

"Aku bisa. Dulu aku nggak punya apa-apa sebelum aku lahir. Aku bisa mulai lagi dari nol. Tapi aku nggak akan pernah membiarkan kamu menyentuh Anjani atau orang-orang di sana. Kalau kamu nekat mengusik mereka, aku akan pastikan semua rahasia bisnis gelapmu akan terbongkar ke publik, Pa. Aku tahu lebih banyak daripada yang kamu duga."

Hardian terpaku. Dia tahu Sakti adalah anak yang cerdas dan selama ini memang memegang banyak kunci penting di perusahaan. Ancaman Sakti bukan gertakan kosong.

Hardian mengepalkan tangan. "Baik. Kamu pilih perang, Sakti. Perang yang akan kamu sesali seumur hidup."

"Itu pilihanmu, Pa," balas Sakti, mengambil foto Anjani dari meja. Dia melipatnya rapi dan menyimpannya di saku kemejanya, dekat dengan jantungnya.

Sakti berbalik, meninggalkan ruang tamu. Ibu Diana hanya bisa menutup wajahnya, menangis histeris melihat anak tunggalnya memilih jalan yang paling sulit.

Sakti menyalakan mobilnya, meninggalkan 'istana' itu tanpa menoleh. Dia tahu, mulai detik ini, dia adalah orang asing di rumahnya sendiri. Statusnya sudah dicabut.

Dia mengemudi kembali ke panti asuhan. Janjinya pada Anjani tadi harus ditepati: dia harus meyakinkan Anjani, bahwa ini semua belum berakhir.

Saat Sakti tiba di panti, jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Lampu di jendela kamar Anjani sudah mati. Sakti mengirim pesan singkat: Aku di sini. Jangan tidur.

Tak lama kemudian, pintu belakang panti terbuka pelan. Anjani keluar, masih mengenakan jaket kulit Sakti, wajahnya sembab.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Anjani, langsung memeluk Sakti erat-erat. Pelukan yang penuh ketakutan.

"Aku baik. Kita baik-baik saja," bisik Sakti, mendekap Anjani. "Mereka sudah tahu. Papaku marah besar. Dia kasih aku ultimatum."

Anjani menarik diri sedikit, menatap mata Sakti dalam-dalam. "Dia minta kamu putusin aku, kan? Aku tahu. Sakti, aku nggak mau kamu menderita. Aku nggak mau kamu kehilangan semua yang kamu punya. Kalau memang... kalau memang ini jalannya..."

"Nggak," potong Sakti cepat. "Nggak akan ada kata 'putus'. Aku sudah putuskan. Aku pilih kamu. Aku bilang ke dia, dia boleh ambil semuanya, tapi aku nggak akan melepaskan kamu."

Anjani menggeleng, air matanya tumpah lagi. "Sakti, kenapa kamu bodoh? Kamu nggak ngerti risiko apa yang kamu ambil? Kamu bisa kehilangan segalanya! Panti ini... Papamu bisa benar-benar menghancurkan panti ini kalau kamu terus begini!"

"Panti ini aman, aku janji. Aku sudah buat 'jaring pengaman'. Aku bilang ke Papaku, kalau dia nekat mengusik panti, aku akan bocorkan rahasia bisnisnya. Dia nggak akan ambil risiko itu, Anjani." Sakti memaksakan senyum meyakinkan. "Dia bisa ambil uangku, tapi dia nggak bisa ambil hatiku. Dia nggak bisa ambil kamu."

Sakti memegang wajah Anjani, menyeka air matanya dengan ibu jari. "Kita akan hadapi ini, tapi kita hadapi sebagai suami istri."

"Suami istri?" Anjani bingung.

"Ya. Kita nggak bisa menunggu restu yang nggak akan pernah datang. Aku nggak mau sehari pun hidup dalam ketakutan Papaku akan memisahkan kita. Besok, kita harus lakukan apa yang kita bicarakan dulu. Kita akan nikah siri, secepatnya. Sebelum dia bisa bergerak lagi."

Anjani menatap mata Sakti, mencari keraguan, tapi nggak ada. Yang ada cuma tekad membara, dan cinta yang begitu tulus. Dia tahu, pernikahan itu akan jadi pengkhianatan besar bagi keluarga Sakti, sebuah tamparan keras di wajah Hardian Valentino. Tapi, itu juga satu-satunya cara untuk mengikat diri mereka secara sah di mata Tuhan.

"Tapi... dengan cara siri? Kamu yakin?" tanya Anjani lirih.

"Yakin. Seribu persen yakin," jawab Sakti, mencium kening Anjani lama. "Mulai sekarang, kita resmi jadi musuh keluarga Valentino. Dan kita akan berjuang bersama."

Malam itu, di bawah bayangan pohon mangga di halaman panti asuhan, janji suci yang belum terucap secara resmi, terpatri kuat. Mereka berdua tahu, mereka baru saja menyalakan api peperangan yang akan membakar habis segalanya.

Pagi menjelang. Sakti harus pergi untuk mengatur semuanya, mencari saksi, mencari penghulu. Dia nggak bisa kembali ke rumahnya. Dia hanya bisa kembali ke Anjani, sebagai suaminya.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Amanah dari Sang Ayah
Amanah dari Sang Ayah
Dalam romance novel Amanah dari Sang Ayah, Rahel terpaksa memenuhi janji terakhir ayahnya untuk menikahi pria asing yang belum pernah ditemui. Menghadapi kehidupan modern yang penuh dilema, ia harus menjalani pernikahan ini demi wasiat terakhir sang ayah yang wafat tepat sebelum akad.
Cacat Sebagai Penebus Jasa
Cacat Sebagai Penebus Jasa
Dalam novel Cacat Sebagai Penebus Jasa, seorang anak rela mengorbankan fisiknya demi melunasi hutang budi kepada ibunya. Kisah modern ini mengeksplorasi perjuangan menebus ampunan lewat pengorbanan tubuh. Baca romance novel ini untuk melihat akhir dari pencarian restu yang tulus.
Calon Istri Tuan Muda Dingin
Calon Istri Tuan Muda Dingin
Dalam romance novel Calon Istri Tuan Muda Dingin, Althafandra terpaksa bertunangan dengan Vivana demi wasiat kakeknya. Sebagai billionaire romance books populer, kisah ini menguji kesetiaan Fandra saat kekasih masa lalunya kembali di tengah rahasia janji besar yang dibawa Vivana.
Diperas Mafia Tengil
Diperas Mafia Tengil
Dalam novel Diperas Mafia Tengil, Rania terjebak ancaman Radin, CEO sekaligus mafia yang menghalangi pengunduran dirinya. Di tengah konflik mantan suami, rahasia masa lalu terungkap. Baca romance novel ini untuk mengikuti kisah billionaire romance books penuh intrik dan perlindungan tak terduga.
Istri yang Tak Kau Percaya Ternyata Kaya Raya
Istri yang Tak Kau Percaya Ternyata Kaya Raya
Dalam novel romantis miliarder Istri yang Tak Kau Percaya Ternyata Kaya Raya, Analea berusaha bercerai dari suaminya yang berselingkuh. Setelah bekerja di Eternal Group, ia terjebak dalam misteri masa lalu dan tawaran tak terduga dari Fabian. Baca novel online ini untuk mengungkap kebenarannya.
JIKA CINTA INI SALAH
JIKA CINTA INI SALAH
Dalam JIKA CINTA INI SALAH, seorang ibu harus memilih antara bertahan dalam pengkhianatan atau mengejar kebahagiaan baru. Novel modern ini menggambarkan dilema kesetiaan dan cinta dalam romance novel yang menguras emosi. Temukan kisah perjuangan hidupnya di platform web novel kami.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Antara Dusta dan Hasrat
Antara Dusta dan Hasrat
Mantan pengacara top yang jatuh dari jayanya × Pewaris buangan keluarga kaya yang berani berbuat apa pun. Yang satu butuh uang demi menyelamatkan nyawa, yang satunya lagi haus kekuasaan mencari jalan untuk naik posisi. Dino Naro setuju membayar Sisil Marta dengan jumlah besar, dengan satu syarat: Sisil harus ikut terseret ke dalam pusaran konflik keluarga, jadi mata-mata bisnis sekaligus kekasih bayangan. Sebuah kesepakatan dengan empat misi: menyusup, meracuni, menggoda, mengakhiri cinta dengan adik ketiga, Danu Naro. Dua orang yang seharusnya nggak saling jatuh cinta, bertemu di waktu yang salah, dengan orang yang salah . Saat semua pilihan adalah kesalahan, cinta dan benci terjalin erat. Apakah semuanya bisa memadamkan api dendam dan kejahatan?
Penentu Takdir
Penentu Takdir
Nina, makhluk abadi penguasa hidup dan mati, diminta melindungi Keluarga Vior selama setahun, ditukar dengan nyawa dan pahala sang kepala keluarga. Setahun berlalu, Nina hendak diusir. Tapi tiba-tiba, Keluarga Sena datang memohon, karena hanya Nina yang bisa selamatkan pemimpin mereka.
Jangan Usik Dia
Jangan Usik Dia
Saat Sheila Collin mengunjungi kakaknya yang miliarder, Nathan Collin, tunangannya, Megan, mengira Sheila orang miskin dan menghujaninya dengan hinaan. Megan tak tahu bahwa Sheila adalah bos besar Collins Group yang sesungguhnya. Di pesta ulang tahun mewah, kebenaran pun terungkap, menentukan nasib si tunangan sombong.
Terjerat dalam Dirinya
Terjerat dalam Dirinya
Ayah Jennifer dijebak dan dipenjara. Dia bukan lagi putri dari keluarga kaya dan memilih untuk menjadi kekasih rahasia Zayden. Dia mendapati dirinya sangat terjebak dalam hubungan cinta yang diperhitungkan ini. Zayden, meskipun mengetahui motif Jennifer, masih jatuh cinta padanya dan membantunya mengungkap kebenaran.
Pernikahan Kilat dengan CEO Misterius
Pernikahan Kilat dengan CEO Misterius
Pada hari pernikahannya, Katherine mendapati pengantin prianya, Alan, akan menikahi orang lain. Dia menghadapi serangkaian peristiwa yang menyayat hati termasuk dieksploitasi oleh keluarga Alan, dikhianati oleh sahabatnya, dan dibebani dengan utang. Seorang pria tua menawarkan sejumlah besar uang untuk menikahi Katherine. Ketika mereka menghadapi ejekan dari para penonton, Jonny, cucu pria tua itu, muncul untuk menikahi Katherine atas perintah kakeknya. Salah paham Katherine menjadi penggali emas yang menipu pria tua, Jonny awalnya menyembunyikan identitas aslinya sebagai taipan bisnis untuk tinggal bersama Katherine. Namun seiring berjalannya waktu, dia mendapati dirinya perlahan tertarik padanya ....
Janda? Aku Tetap Menikahinya!
Janda? Aku Tetap Menikahinya!
Untuk menyelamatkan ibu mertua yang sakit parah, janda Melly Lauwis melakukan pengorbanan besar. Semalam di penjara, dia bertemu Hilman Yongki yang rela menusuk tangannya sendiri daripada mencemari dirinya. Setelah itu, Hilman setiap hari datang ke kios pangsit, kikuk mencoba menyenangkan dan melindungi Bu Melly. Setelah melewati banyak cobaan, ia akhirnya menyadari ketulusan Hilman, dan Hilman baru mengerti kedalaman perasaannya di saat genting. Dari lumpur, mereka saling menopang, satu mengajarkannya mencintai diri sendiri, yang lain memberinya rumah dan keluarga.