Bab 1

Suamiku mengidap sindrom XYY.

Aku pernah menyelamatkan nyawanya. Dia langsung terobsesi padaku dan mengejarku selama tiga tahun.

Dia menabrak pacarku yang juga merupakan teman masa kecilku, mengancam akan membunuh seluruh keluargaku jika aku menolak menikah dengannya.

Setelah menikah tujuh tahun, obsesinya makin menjadi-jadi. Dia menanam cip di tubuhku untuk membatasi kebebasanku. Namun, dia juga selalu bersikap lembut dan memanjakanku.

Ketika ibu mertuaku menunjukku dan memarahiku, suamiku langsung mematahkan jarinya.

Ketika anak kakaknya mengganggu tidur siangku, dia langsung mengusir mereka dan memilih untuk putus hubungan.

Aku tidak ingin melahirkan anak dengan sindrom XYY. Dia langsung menginvestasikan semua asetnya untuk mengembangkan teknologi yang bisa membuatku mengandung bayi sehat.

Hari ketika aku mengetahui aku hamil, ibu mertuaku malah membawa teman-temannya datang dan menuduhku hamil anak haram.

Mereka memukulku hingga aku sekarat. Suamiku akhirnya tiba. Ibu mertuaku menunjukkan video editan sambil memekik, "Putraku! Istrimu selingkuh! Ini buktinya!"

Ketika melihat dua garis merah pada tespek, aku sontak merenung. Aku dan Axel telah berhubungan sekitar 10 tahun.

Sekarang kami sudah punya anak. Sebaiknya aku menerima kenyataan ini. Sekalipun dia adalah seekor anjing gila, setidaknya aku yang memegang tali pada lehernya.

Setelah memikirkan semua ini, aku memotret tespek itu dan mengirimkannya kepada Axel yang sedang dinas di luar kota.

Sesaat kemudian, aku tiba-tiba mendengar keributan di lantai bawah. Aku memandang dari jendela. Ternyata ibu mertua yang sudah lama tidak kujumpai membawa beberapa temannya yang sudah beruban datang kemari.

Ibu mertuaku berjalan sambil memaki, "Keluargaku benar-benar sial! Kalau bukan karena dia terlalu kelewatan, mana mungkin aku menyebarkan aib keluarga! Hari ini, aku akan mencabik-cabik jalang yang selingkuh itu!"

Aku tidak tertarik. Setelah menikah, ibu mertuaku ini terus merasa aku merebut putranya. Dia terus menyindirku, alhasil jarinya dipatahkan oleh Axel. Dia juga diusir dari rumah. Itu sebabnya, hubungan kami berdua sangat buruk.

Beberapa menit kemudian, ada yang mengetuk pintu apartemenku. Aku melihat jam. Sekarang baru pukul 9 pagi. Pembantu tidak mungkin datang secepat ini.

Dengan perasaan bingung, aku membuka pintu. Ibu mertuaku langsung membawa teman-temannya menerobos masuk. Sebelum aku memahami apa yang terjadi, dia tiba-tiba menunjukku dengan jarinya yang bengkok dan memekik, "Semuanya, lihat! Ini menantu jahat yang kubilang!"

"Begitu menikah, dia langsung menghasut putraku untuk mematahkan jariku! Dia juga menyuruh putraku mengusirku dan putriku! Putraku sampai putus hubungan dengan kami!"

Aku mengernyit dengan kesal, lalu berkata, "Ini rumahku. Tolong keluar dari sini."

Ibu mertuaku malah tiba-tiba melayangkan tamparan. "Putraku begitu mencintaimu, tapi kamu malah berselingkuh darinya!"

Wajahku seketika merasa sakit. Telingaku juga berdengung. Sejak menikah dengan Axel, Axel sangat melindungiku. Jika dia tahu ibunya menamparku, ibunya pasti akan mendapat konsekuensi fatal.

Demi mencegah terjadinya tragedi rumah tangga, aku menahan amarahku sambil berucap, "Kalau kamu keluar sekarang, aku anggap nggak ada masalah yang terjadi hari ini."

Axel selalu bersikap lembut di hadapanku. Namun, dia mengidap sindrom XYY. Dia sangat kejam terhadap orang luar.

Ibu mertuaku sama sekali tidak peduli. Dia menjambak rambutku dan berkata, "Dasar jalang! Kamu sudah takut, 'kan? Kamu harus menanggung konsekuensinya karena berani berselingkuh."

Aku melepaskan diri dari tangan ibu mertuaku. Aku bertanya dengan ekspresi dingin, "Kamu berani memfitnahku? Kamu sudah lupa gimana jarimu patah?"

Bab 2

Setelah menikah, Axel menanamkan cip di tubuhku untuk mengetahui lokasiku. Jadi, Axel akan tahu jika aku bersama pria lain. Namun, ibu mertuaku malah memfitnahku berselingkuh. Konyol sekali!

Aku mengira ucapanku ini bisa memperingatkan ibu mertuaku. Siapa sangka, dia malah menamparku lagi. "Hentikan sandiwaramu ini! Kamu seharusnya jadi pemain sinetron saja! Kalau aku berani datang, berarti aku punya bukti kuat!"

Ibu mertuaku mengeluarkan ponselnya dan mengklik sebuah video. Di dalam video itu, seorang wanita berpakaian seksi sedang berciuman panas dengan seorang pria. Kemudian, wanita itu ditindih oleh pria itu.

Yang paling mengejutkan adalah wajah wanita di video itu punya wajah yang sama denganku. Teman-teman mertuaku mulai menghinaku.

"Dasar nggak tahu malu! Di zaman dulu, wanita yang nggak bisa menjaga kesuciannya seperti kamu bakal ditenggelamkan!"

"Kalau kamu menantuku, aku pasti sudah menghajarmu sampai mati!"

"Zaman memang sudah berubah. Kamu terlihat seperti wanita baik-baik, tapi malah melakukan hal sekotor ini!"

Aku benar-benar kesal mendengar hinaan para wanita tua ini. Sejak kecil sampai dewasa, aku tidak pernah dihina sekasar ini.

Hanya dengan melihat sekilas, aku sudah tahu itu adalah video editan. Namun, aku tahu para wanita tua ini tidak akan memercayaiku.

Aku langsung mengeluarkan ponselku untuk menelepon Axel. Bagaimanapun, ini adalah ibunya. Sudah seharusnya Axel yang menangani masalah ini.

Namun, ibu mertuaku langsung merebut ponselku dan membantingkannya. Seketika, layar ponselku retak. Aku terkejut dibuatnya. "Kalau Axel tahu apa yang kamu lakukan, aku sekalipun nggak bisa melindungimu!"

Ibu mertuaku terkekeh-kekeh, lalu menyahut dengan tidak acuh, "Kalau putraku tahu kamu selingkuh, kamu rasa dia masih akan membelamu?"

Aku menatap para wanita tua itu dan memberi peringatan, "Tindakan kalian ini sudah termasuk tindakan ilegal. Aku akan memberi kalian kesempatan terakhir. Segera pergi dari rumahku."

Teman-teman ibu mertuaku malah memakiku, "Benar-benar nggak tahu diri! Sudah selingkuh masih berani berbicara selantang ini!"

"Ya! Rita, hari ini kamu harus menunjukkan wibawamu sebagai seorang mertua. Kamu harus memberi jalang ini pelajaran!"

Ibu mertuaku terprovokasi mendengar ucapan mereka. Dia maju dan menendang kursi kayu rumahku. "Kamu hidup dengan mengandalkan putraku! Tanpa putraku, kamu cuma bisa tinggal di gubuk! Beraninya kamu menyuruhku pergi!"

Tindakan ibu mertuaku ini pun membuat teman-temannya bersorak. Mereka merasa ibu mertuaku sangat hebat.

Kemudian, teman-temannya itu ikut menendang kursi di rumahku. Itu adalah kursi kayu yang dibeli Axel untuk membuatku senang. Harganya sangat mahal.

Saat ini, salah satu wanita tua hendak membanting vas antik yang ada di atas meja. Dengan wajah suram, aku memperingatkan, "Harga vas itu 40 miliar."

Wajah wanita tua itu menjadi agak takut. Ibu mertuaku pun maju dan merebutnya untuk dibanting.

"Semua yang ada di sini adalah barang putraku. Sudah kubilang, kalian boleh menghancurkan apa saja. Kita harus memberi jalang ini pelajaran!" serunya.

Setelah mendengar ucapan ini, para wanita tua itu pun makin merajalela. Aku hanya menyaksikan dengan tatapan dingin. Semua ini akan menjadi bukti kuat untuk memenjarakan mereka.

Tiba-tiba, seseorang menepuk bahu ibu mertuaku dan berkata, "Rita, lihat, dia memelototimu! Yang kamu hancurkan ini adalah barang-barang yang dibeli putramu. Mana mungkin dia merasa sayang? Kamu harus memberinya pelajaran besar supaya dia kapok!"

Setelah mendengarnya, ibu mertuaku pun mendongak menatapku. Tebersit kebencian pada tatapannya. Dia menghampiriku.

Jumlah mereka sangat banyak. Aku tidak mungkin bisa melawan mereka sendirian. Jadi, aku hendak melarikan diri.

Namun, ibu mertuaku tiba-tiba menarik lenganku dan menendang lututku dari belakang. Seketika, aku hanya bisa berlutut di lantai.

Bab 3

Ibu mertuaku sontak menginjak pahaku dengan kuat. Rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhku membuatku tak kuasa berteriak kesakitan.

Ibu mertuaku memaki, "Dasar jalang! Wanita murahan sepertimu hanya pintar berpura-pura lemah! Aku cuma menginjakmu dengan ringan. Ngapain kamu teriak sekuat ini? Kamu teriak untuk siapa dengar?"

Aku menatapnya dengan dingin. "Rita, kamu pasti akan menyesali tindakanmu hari ini."

"Kamu masih berani melawanku? Hari ini, aku akan mengajarimu cara menjadi menantu yang baik!" pekiknya.

Sejak hari pertama aku menjadi istri Axel, ibu mertuaku memang ingin mengajariku banyak hal. Dia menuliskan daftar pekerjaan yang sangat banyak, termasuk mencuci kaki dan mencuci pakaian dalamnya.

Dengar-dengar, nenek Axel juga melakukan hal yang sama dulu. Makanya, ibu mertuaku ingin aku merasakan penderitaannya pada tahun itu. Sejak zaman dulu, hanya wanita yang paling tahu cara menyiksa sesama wanita.

Namun, dia lupa bahwa aku punya suami yang mengidap sindrom XYY. Sebelum daftar itu diserahkan kepadaku, Axel langsung merobeknya dan memakinya.

Ibu mertuaku tidak berani berkutik. Dia hanya terus mencari kesempatan untuk melampiaskan amarahnya kepadaku. Hari ini, kesempatan itu akhirnya datang.

Ibu mertuaku menyuruh teman-temannya mengambil air dari kamar mandi. Dia menjambak rambutku sambil berkata, "Di zaman dulu, wanita yang selingkuh bakal ditenggelamkan. Hari ini, kamu harus merasakannya."

Usai berbicara, kepalaku ditekan masuk ke baskom. Air yang dingin mengenai seluruh wajahku. Aku merasa sesak napas.

Tubuhku terus meronta-ronta. Aku mencoba melepaskan diri, tetapi tidak bisa. Ketika aku sudah mencapai limitku, ibu mertuaku tiba-tiba menarik rambutku supaya wajahku keluar dari baskom.

Aku langsung menarik napas dalam-dalam. Wajah dan pakaianku basah. Penampilanku terlihat sangat menyedihkan.

"Kamu masih berani bertingkah sombong sekarang? Aku membesarkan putraku dengan susah payah. Kamu malah menjadikannya babumu? Kamu mau menghinaku ya?" bentak ibu mertuaku.

Setelah napasku teratur, aku melirik dengan tatapan penuh kebencian. "Kalau kamu memang hebat, bunuh saja aku. Kalau nggak, kamu bakal menyesal."

Saat ini, kebencianku terhadap Axel juga memuncak. Siapa suruh Axel memaksaku menikah dengannya? Gara-gara dia, aku mendapat perlakuan buruk seperti ini.

Rita menamparku lagi. Darah mengalir di sudut bibirku. "Kamu masih berani melawanku? Hari ini, aku bakal membuatmu kapok!"

Usai berbicara, ibu mertuaku menekan kepalaku ke dalam baskom lagi. Kali ini, waktunya lebih lama. Aku pun mulai kehilangan tenagaku.

Saat ini, seorang wanita tua yang melihat wajah pucatku mulai membujuk, "Rita, jangan terlalu kejam. Jangan sampai dia mati. Di zaman sekarang, kamu bisa dipenjara kalau membunuh menantumu. Nanti kami juga bakal terkena imbasnya."

Begitu mendengarnya, mereka mulai membujuk ibu mertuaku. Ibu mertuaku mengempaskanku. Aku sontak terbaring di lantai. Dia mencela, "Hari ini aku bakal melepaskanmu dulu. Biar putraku yang memberimu pelajaran nanti!"

Aku bersumpah dalam hati, kalau nanti ibu mertuaku berlutut dan memohon ampun saat Axel memberinya pelajaran, aku tidak akan membelanya sedikit pun.

Saat ini, seorang wanita tua berjalan keluar dari kamar mandi. Dia menyerahkan tespekku kepada ibu mertuaku. Begitu melihatnya, ibu mertuaku sontak terbelalak dan menendangku. "Kurang ajar! Ternyata kamu hamil anak haram!"

Aku meringkukkan tubuhku, tanpa sadar melindungi perutku. Ibu mertuaku ingin menendangku lagi. Aku yang cemas pun berseru, "Ini anak Axel!"

Ibu mertuaku menyergah, "Kamu kira aku bisa ditipu? Kamu kira aku nggak tahu Axel melakukan vasektomi karena keinginanmu?"

Ibu mertuaku menunjukku dan meneruskan, "Kamu pasti ingin membuat keluargaku nggak punya keturunan, 'kan?"

Ketika aku baru menikah dengan Axel, Axel tidak ingin menggunakan kondom. Dia mengatakan ingin benar-benar bersatu denganku.

Aku pun membeli banyak obat kontrasepsi dan memberitahunya akan mengonsumsinya setiap kali berhubungan badan. Aku tidak akan mengandung anak dengan kelainan genetik.

Axel khawatir obat-obatan itu akan berdampak buruk pada tubuhku. Jadi, dia melakukan vasektomi.

Para wanita tua itu sungguh murka mendengarnya. Bagaimanapun, di usia mereka yang sekarang, tidak punya keturunan adalah hal yang sangat fatal.

"Wanita ini kejam sekali. Dia bukan cuma nggak ingin melahirkan keturunan suaminya, tapi juga ingin suaminya menjadi ayah dari anak orang lain."

"Ya ampun! Sekarang kejahatannya sudah terbongkar! Mantan menantuku juga pernah selingkuh. Dia melahirkan anak pria lain. Aku menjaga anak itu sampai tiga tahun sebelum ketahuan. Kalau tahu itu bukan cucuku, pasti sudah kubunuh sejak awal."

Ketika mendengar provokasi teman-temannya, ibu mertuaku menatapku dengan tatapan penuh kebencian. "Hari ini aku akan membuatmu keguguran! Aku nggak ingin anak haram itu mengotori masyarakat!"

Seketika, aku merasa sangat panik. Aku menatapnya sambil menjelaskan, "Dia bukan anak haram. Axel mengembangkan teknologi terbaru supaya aku bisa mengandung bayi yang sehat. Kalau nggak percaya, kamu tanya Axel saja."

"Kamu kira aku nggak tahu apa yang ada di pikiranmu? Axel sangat terobsesi padamu. Kalaupun tahu kamu selingkuh, dia nggak bakal tega menyakitimu. Tapi, sebagai ibunya, aku nggak bisa menahan hinaan ini!"

Usai berbicara, dia mengangkat kakinya untuk menendang perutku. Rasa sakit yang menusuk sontak menjalar ke seluruh tubuhku.

Dimanja Suami Psikopat

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya