Bab 1

Setelah lima tahun menikah, Rowan ingin menyerahkan aku kepada atasannya.

Pertama kali, dia berkata, "Emma, kalau kamu temani dia minum, proyek itu akan menjadi milikku."

Kedua kalinya, "Emma, temani dia tidur satu malam saja, jadi semua utangku akan lunas."

Rowan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, tetapi dia mengingkarinya.

"Emma, gimana kalau kamu memberinya seorang anak? Jadi dia bisa mengangkatku menjadi manajer umum."

Pada hari Rowan dipromosikan menjadi manajer umum, aku menceraikannya, lalu menikah dengan atasannya.

Aku berdiri di depan jendela besar, menatap anggur merah yang tertinggal di dinding gelas. Sayang sekali, anggur sebagus ini.

Di luar jendela, kota ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan, tetapi hatiku terasa dingin.

"Emma."

Suara Rowan Lawson terdengar dari belakang dan mengandung sedikit keraguan.

Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kami yang kelima. Aku sengaja memesan restoran mewah ini dan mengenakan gaun favoritnya.

Namun, Rowan datang terlambat selama satu jam, dan saat masuk pun dia tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk menjelaskan alasannya.

"Pak Aidan akan perjalanan dinas ke Kota A besok. Dia butuh seseorang untuk menemaninya minum," suaranya makin lama makin pelan. "Katanya, kalau kamu bersedia ikut..."

Tanganku gemetar hebat hingga membuat anggur merah tumpah ke atas karpet putih, cahayanya seperti kilauan cincin berlian yang dia sematkan di jariku saat pernikahan kami dulu.

"Hanya untuk menemaninya minum? Kamu tahu apa yang sedang kamu katakan?"

Aku berbalik dan menatap mata Rowan dengan tajam.

Mata yang dulu membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama itu kini menghindar, tidak berani menatapku.

"Emma dengarkan aku." Rowan bergegas mendekat dan mencoba menggenggam tanganku. "Hanya kali ini saja. Asal kamu bersedia menemaninya, proyek itu akan menjadi milikku. Kamu tahu aku sudah menunggu kesempatan ini begitu lama."

Aku mundur selangkah dan menghindari sentuhannya.

Saat itu, Rowan rela berdiri di depan asrama selama dua jam di bawah hujan, hanya untuk menyerahkan semangkuk wedang jahe hangat kepadaku.

Dia pernah berkata akan selalu melindungiku dan tidak akan membiarkanku tersakiti sedikit pun.

"Kamu memintaku menemani pria lain minum?" Aku berkata dengan suara bergetar, "Rowan, aku ini istrimu."

"Aku tahu!" Dia tiba-tiba meninggikan suaranya, lalu melembut. "Namun, Emma, aku benar-benar butuh kesempatan ini. Kamu tahu sendiri, aku sudah lima tahun di perusahaan, tapi masih jadi kepala tim kecil."

Aku menatap Rowan. Tiba-tiba, sosok di hadapanku terasa begitu asing.

Anak muda penuh semangat itu, sejak kapan berubah jadi seperti ini?

"Bukankah kamu selalu ingin pergi ke pantai?" katanya tergesa. "Setelah proyek ini selesai, kita pergi ke Valdira. Hanya kita berdua."

Aku memejamkan mata dan merasakan sesuatu yang hangat mengalir di pipiku.

Di telingaku terngiang janji pernikahannya, dalam suka dan duka, dalam sehat maupun sakit, aku akan selalu mencintaimu dan menjagamu.

"Oke." Aku mendengar diriku sendiri berkata, "Aku akan pergi."

Rowan menghela napas lega, lalu berbalik mengambil jasnya.

Aku tetap berdiri di tempat, menatap noda merah tua di atas karpet. Tiba-tiba aku teringat, pagi tadi sebelum keluar rumah, aku sengaja menyemprotkan parfum pemberiannya.

Sekarang, aroma manis itu justru membuatku mual.

Bab 2

Aku berdiri di depan cermin, jari-jariku gemetar saat mengancingkan kancing terakhir kemeja renda.

Sosok di cermin itu tampil dengan riasan sempurna, tetapi tidak bisa menyembunyikan kelelahan di balik sorot mata.

Rowan sengaja memilihkan pakaian ini, kerahnya sangat rendah, dan ujung rok yang pendek nyaris tidak menutupi apa pun.

"Emma, kamu sangat cantik."

Rowan merangkul pinggangku dari belakang dan dagunya bersandar di bahuku.

Aku mencium aroma parfum lembut dari tubuhnya, itu adalah hadiah ulang tahun pernikahan dariku.

Aku perlahan melepaskan pelukannya dan mengenakan jas.

Sosok di cermin itu berubah menjadi lebih tegas, seolah-olah pesona menggoda tadi hanyalah ilusi.

"Aku pergi dulu." Aku mengambil tas dan keluar kamar lebih dulu.

Rowan segera mengikuti dan mengambil koper dari tanganku.

"Aku antar kamu ke bandara."

Aku berjalan di belakangnya, langkah kaki Rowan yang riang itu seperti menginjak-injak hatiku.

Apakah dia benar-benar sebahagia itu saat mengantarku pergi perjalanan dinas bersama pria lain?

Tidak, yang membuat Rowan senang adalah proyek yang hampir menjadi miliknya.

Aku adalah kepala sekretaris Aidan Davies. Sejak terakhir kali aku menemani Aidan dalam jamuan bisnis untuk membahas proyek itu, Rowan jadi sangat terobsesi dengan proyek tersebut.

Di bawah tatapan Rowan, aku melewati pintu pemeriksaan bandara.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan menuju ruang tunggu dengan sepatu hak tinggi. Baru saja berbelok, aku melihat Aidan datang membawa dua gelas kopi.

Matanya tertuju sebentar padaku, lalu senyum tipis muncul di bibirnya.

"Bu Emma hari ini... terlihat berbeda."

Aku refleks merapatkan jasku, lalu dengan susah payah memaksakan senyum profesional. "Pak Aidan."

Aidan mengangguk pelan dan menyerahkan satu gelas kopi padaku.

Namun, pandangan Aidan masih tertuju pada kerah bajuku yang terbuka, seolah dia bisa melihat potongan rendah di baliknya.

Aku merasa tidak nyaman dan menutup kerah bajuku. Saat aku menatapnya kembali, Aidan sudah mengalihkan pandangan sambil membawa saputangan di tangannya.

Aku menghela napas, lalu menarik koperku dan bergegas mengikutinya.

Pesawat sudah lepas landas dan mendarat di Kota A, tapi pikiranku masih terfokus pada kalimat Rowan yang menyuruhku menemani Aidan minum.

"Bu Emma."

Suaranya yang tiba-tiba membuatku terkejut. Saat aku menengadah, Aidan sudah mengambil koperku dan jari-jarinya yang panjang menyodorkan kartu identitas.

"Kita sudah sampai di hotel," ujarnya sambil sedikit membungkuk. "Pergilah mengurus lapor masuk."

Karena perjalanan dinas ini diatur secara mendadak, aku hanya memesan kamar untuk Aidan. Sekarang, aku harus mengurus lapor masuk untuknya sekaligus memesan kamar untuk diriku.

"Maaf, Bu, semua kamar sudah penuh."

Aku menoleh dan hendak berdiskusi dengan Aidan untuk mencari hotel lain, tiba-tiba dia bertanya dengan suara lembut.

"Bagaimana kalau satu kamar denganku?"

Aku terkejut menatapnya. Ucapan seperti itu sama sekali tidak seperti dirinya.

Sebelumnya Aidan memang pernah memberi sinyal ingin menjalin hubungan lebih jauh denganku, tapi setelah tahu aku sudah menikah dengan Rowan, dia selalu menjaga jarak, apalagi mengajukan permintaan yang melampaui batas.

Bahkan mengenai perjalanan dinas ini, saat Rowan mengatakan bahwa Aidan memintaku menemani minum, aku masih sulit memercayainya.

Aidan bukanlah tipe pria yang memaksa wanita menggunakan kekuasaannya.

"Aku tinggal di suite, ada dua kamar tidur," ujarnya santai, meskipun telinganya sedikit memerah.

Pipiku memanas, tapi aku mengangguk.

Aku mengikuti Aidan masuk ke lift.

Di dalam ruang tertutup itu, aroma cedar yang samar-samar tercium dari tubuhnya.

Aku tanpa sadar merapat ke sudut, lalu mendengar tawanya pelan. "Bu Emma, nggak perlu gugup seperti itu."

Aku sengaja menghindarinya, begitu masuk kamar aku langsung membereskan barang-barang.

Setelah selesai, aku keluar dan melihat Aidan sudah duduk di depan sofa sembari menyerahkan dua berkas padaku.

"Bu Emma." Aidan memberikan salah satu berkas padaku. "Perjalanan dinas kali ini utamanya untuk membicarakan proyek baru."

Aidan terdiam sejenak. "Hal lainnya adalah... aku sudah menyelidiki Rowan. Dia nggak pantas untukmu."

Aku tiba-tiba menatapnya dengan serius. "Pak Aidan, aku dan suamiku punya hubungan yang baik."

"Benarkah?" Aidan bersandar di sofa dan pandangannya penuh makna. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita bertaruh?"

Aku menggenggam erat berkas di tanganku.

"Aku bertaruh," katanya pelan, "tanpa aku meminta apa pun, Rowan akan dengan sukarela menyerahkanmu ke ranjangku."

Aku menggigit bibir bawahku dan tidak menjawab, tapi hatiku berdegup kencang.

Bab 3

Selama dua minggu perjalanan dinas, Aidan selalu menjaga jarak yang pas.

Meskipun kami tinggal di suite yang sama, dia tidak melakukan apa pun padaku, bahkan menghindari sentuhan yang tidak disengaja.

Namun, Aidan selalu bersikap sangat sopan, dia membukakan pintu ruang rapat untukku dan menolongku menolak minuman saat jamuan bisnis.

Bahkan saat klien bersikap tidak sopan padaku, dia langsung menghentikan kerja sama.

Dalam penerbangan pulang, aku bersandar lelah di sandaran kursi. Aidan menyerahkan segelas air hangat kepadaku sembari berkata, "Kamu sudah bekerja keras."

Aku menerima gelas itu dan sempat melirik layar ponsel yang menampilkan pesan dari Rowan.

[Istriku, perjalanan dinasnya lancar? Aku sudah pesan meja di restoran tempat kita merayakan ulang tahun pernikahan, untuk menyambutmu pulang.]

Aku pikir, Rowan masih peduli padaku.

Aku langsung pergi ke restoran, tapi aku diberi tahu bahwa Rowan sudah pergi.

Aku merasa bingung, Dalam sekejap, berbagai kemungkinan buruk melintas di pikiranku.

Rowan kenapa? Apa dia sakit? Apa ada urusan penting di perusahaan yang harus segera diselesaikan?

Jantungku berdegup kencang, tapi aku memaksakan diri untuk tetap tenang.

Aku membuka aplikasi pelacak keluarga dan menemukan Rowan di sebuah bar kecil.

Saat aku sampai di bar, Rowan sudah mabuk berat dan tergeletak di meja.

"Suamiku?"

Aku menariknya bangun dan menepuk wajahnya dengan lembut .

Rowan membuka mata dengan linglung. Begitu melihatku, dia langsung memeluk erat. "Emma, aku dalam masalah besar!"

Seiring penjelasannya yang terputus-putus, hatiku perlahan tenggelam.

Dalam proyek yang Rowan kerjakan, dia tidak melakukan pengecekan latar belakang dan langsung mentransfer uang muka sebesar 30 persen, yang akhirnya menyebabkan kerugian sebesar sepuluh miliar.

Bagi kami sekarang, jumlah itu sama saja dengan angka yang fantastis.

Kami masih memiliki cicilan rumah dan mobil. Bahkan jika digadaikan dan ditambah tabungan, paling hanya terkumpul empat miliar.

"Laporkan ke polisi saja."

"Nggak boleh!" Rowan menggenggam bahuku dengan kuat. "Kalau lapor polisi, aku akan tamat! Karierku, reputasiku, dan hidupku akan hancur! Emma, hanya kamu yang bisa menyelamatkan aku sekarang."

Mata Rowan memerah, aku tiba-tiba merasakan firasat buruk.

"Kalau kamu mau menemani Pak Aidan tidur satu malam saja, dia pasti mau membantu menutupi kerugian ini."

Plak!

Suara tamparan keras terdengar di bar.

Aku menarik kembali tanganku dengan gemetar, lalu menatap pria asing di depanku.

"Rowan, kamu gila, ya?" Suaraku gemetar. "Aku istrimu!"

Rowan berlutut dan memeluk kakiku erat-erat. "Emma, aku mohon, sekali ini saja."

Aku memejamkan mata, lalu menangis tanpa bersuara.

Di telingaku terngiang kembali ucapan Aidan tempo hari, aku yakin Rowan akan dengan sukarela menyerahkanmu ke ranjangku.

Setelah kutepis, Rowan kembali memeluk kakiku erat-erat. Air mata dan ingus membanjiri wajahnya, sampai-sampai ucapannya pun tidak jelas.

"Hanya satu malam saja, Emma. Pak Aidan sudah janji, dia nggak akan melakukan hal lain... Aku mohon."

Aku mencoba menenangkan diri dari rasa pusing yang mendadak menyerang. Aku menarik napas dalam-dalam dan berusaha meyakinkan diriku sendiri.

Rowan hanya panik karena semuanya terjadi begitu mendadak. Setelah dia sadar dari mabuknya, Rowan pasti bisa berpikir lebih rasional. Saat itulah, baru kita pikirkan bagaimana menyelesaikan masalah ini.

Meskipun hatiku sudah terasa dingin, aku masih berusaha membohongi diri sendiri.

Aku memperlambat ucapanku dan mencoba tampil setenang mungkin.

"Rowan, aku nggak menyetujuinya. Aku ini manusia, bukan alat tawar-menawar yang bisa kamu pergunakan. Pikirkanlah baik-baik."

Setelah mengatakannya, aku melepaskan tangannya dan berdiri.

"Rowan, aku nggak menyetujuinya. Aku ini manusia, bukan alat tawar-menawar yang bisa kamu pergunakan. Pikirkan baik-baik."

Sebelum aku keluar dari bar, Rowan mengejarku dan menggenggam tanganku dengan ekspresi penuh penyesalan.

"Istriku, tadi aku salah. Aku kehilang akal. Sejak kita menikah, kita belum pernah ke bar lagi, 'kan? Selagi ada kesempatan, ayo kita santai sebentar hari ini."

Mata Rowan memohon seperti seekor anjing kecil yang menyedihkan.

Aku tidak bergerak dan hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa.

Rowan buru-buru menambahkan, "Aku janji, aku nggak akan lagi memintamu menemani Pak Aidan."

Mendengar itu, beban berat yang mengganjal di hatiku akhirnya sedikit terangkat.

Baguslah kalau dia akhirnya bisa menyadarinya sendiri.

Aku mengikuti Rowan kembali ke meja sambil menggenggam tangannya erat.

"Bagus kalau kamu bisa sadar. Besok kita lapor ke polisi, lalu lihat bagaimana perusahaan akan menanganinya. Kalaupun harus berhenti kerja, kita bisa mulai bisnis bersama."

"Ya, aku ikut saja kata Istriku."

"Ayo, Istriku, coba koktail ini. Rasanya sangat enak, manis asam seperti yang kamu suka."

Aku sama sekali tidak curiga. Aku menerima koktail dari tangannya dan langsung meminumnya.

"Terima kasih, Suamiku."

Begitu cairan itu masuk ke mulutku, aku langsung merasa ada yang tidak beres. Di balik rasa asam manis, tersembunyi rasa pahit samar yang mencurigakan.

Begitu aku sedikit bergerak, kepala langsung terasa berat dan pusing.

Dikhianati Demi Jabatan, Dicintai oleh Atasan

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya