Bab 1
Suamiku berkata, "ASI-mu sebanyak itu, kalau nggak dikasih ke anak, apa mau disimpan untuk diminum pria lain?"
Tak disangka, ucapannya malah menjadi kenyataan. Dia menganggapku sebagai barang untuk dibarter dan mengirimku ke rumah orang lain untuk menyusui anak mereka.
Namun, aku malah menjadi incaran tuan rumah laki-laki. Pria itu memiliki alis tegas, mata berkilat tajam, tubuh atletis, dan penuh aura maskulin. Di balik dirinya, tersembunyi sebuah rahasia besar yang menggemparkan dunia .…
Suamiku berkata, "ASI-mu sebanyak itu, kalau nggak dikasih ke anak, apa mau disimpan untuk diminum pria lain?"
Tak disangka, ucapannya malah menjadi kenyataan. Dia menganggapku sebagai barang untuk dibarter dan mengirimku ke rumah orang lain untuk menyusui anak mereka.
Namun, aku malah menjadi incaran tuan rumah laki-laki. Pria itu memiliki alis tegas, mata berkilat tajam, tubuh atletis, dan penuh aura maskulin. Di balik dirinya, tersembunyi sebuah rahasia besar yang menggemparkan dunia .…
....
Suamiku mengundang orang untuk minum-minum, sementara aku pergi ke dapur untuk menghidangkan makanan ringan.
Terdengar suara langkah kaki di belakangku. Aku berbalik dan tiba-tiba menabrak dada yang keras. Aroma pria asing bercampur bau alkohol langsung menyeruak.
"Ka ... Kak Deswan?"
Pria itu tingginya lebih dari 180 cm, memiliki alis tegas, mata tajam, tubuh atletis, dan memakai kaus hitam ketat yang menonjolkan otot-ototnya. Seluruh auranya memancarkan daya tarik maskulin yang kuat.
Tatapannya terpaku ke dadaku, penuh dengan aura agresif. Karena ASI yang mengalir, bajuku basah di bagian depan dan meninggalkan noda yang jelas terlihat. Wajahku langsung memerah. Aku buru-buru membalikkan badan untuk menghindari tatapannya.
Namun, pria itu semakin mendekat hingga memojokkanku di sudut dapur. Seluruh tubuhnya memancarkan tekanan yang membuatku sesak napas. "Kamu baru saja melahirkan? ASI-mu melimpah, ya."
Dalam sekejap, pikiranku menjadi kosong. Tanganku gemetar dan kacang tanah di piring yang kupegang berjatuhan ke lantai.
Pria itu menjilat bibirnya, sedikit membungkuk, dan perlahan mendekatiku.
"Ah ... Kak Deswan, jangan begini. Orlan lagi nunggu Kakak untuk minum bersama di ruang depan."
Aku mendorong pria itu dengan panik, lalu membawa dua piring makanan ringan dari atas meja dapur dan berlari keluar.
Setelah itu, aku kembali ke kamar tidur untuk mengganti pakaian dan bersembunyi di sana. Aku tidak keluar selama lebih dari satu jam sampai suasana di luar terasa sudah tenang.
Ketika aku akhirnya keluar, aku melihat suamiku, Orlan, wajahnya memerah karena mabuk. Dia melirikku sekilas dan berkata, "Besok kamu pergi ke rumah Kak Deswan untuk membantu menyusui anaknya."
Bukan permintaan, tapi perintah.
Aku mengerutkan kening karena merasa tidak nyaman. "Anaknya bisa minum susu formula."
Deswan adalah sopir jarak jauh yang jarang berada di desa. Namun, dia menghasilkan banyak uang, murah hati, dan sangat dihormati di desa. Beberapa hari yang lalu, dia membawa pulang seorang bayi berusia lebih dari dua bulan, katanya untuk didaftarkan dalam kartu keluarga.
"Deswan bilang, anaknya lemah dan butuh ASI. ASI-mu sebanyak itu, kalau nggak kasih ke anak, mau disimpan untuk diminum pria dewasa?"
Wajahku langsung memerah.
Melihatku terdiam, Orlan menjadi tidak sabar dan menatapku dengan marah. "Kamu nggak akan kerja gratis, Kak Deswan akan bayar! Kalau kamu nggak pergi, akan kuhabisi kamu!"
Keesokan harinya, di bawah desakan Orlan, aku terpaksa pergi ke rumah Deswan.
"Anaknya ada di kamar," katanya sambil menatapku dengan tatapan seperti predator menatap mangsanya sehingga membuatku merasa tidak nyaman. Aku hanya mengangguk dan segera melangkah cepat masuk ke kamar.
Anak itu sepertinya lapar. Dia berusaha mencari-cari ke arah dadaku. Aku buru-buru membuka kancing bajuku dan menghiburnya dengan lembut, "Jangan terburu-buru, minum pelan-pelan."
Beberapa saat kemudian, pintu yang tidak sepenuhnya tertutup itu pun terdorong terbuka dan Deswan masuk. Aku terkejut dan segera memalingkan tubuhku.
Melihat anak itu sudah kenyang dan tertidur, aku meletakkannya di tempat tidur dengan hati-hati dan segera merapikan pakaianku.
Namun, Deswan tiba-tiba menggenggam tanganku dan menarikku mendekat. Aku terhuyung beberapa langkah dan buru-buru menutupi dadaku dengan tangan.
Aku merasa terkejut dan marah. "Kak Deswan, tolong jaga sikapmu! Aku ke sini untuk menyusui anak, bukan untuk ...."
Deswan tertawa. "Aku cuma mau cek kualitasnya."
Setelah berkata demikian, dia mendekatkan wajahnya ke arahku.
"Ah!"
Rasanya berbeda dibanding saat menyusui anak. Napasku mulai tidak teratur, bibirku bergetar, dan aku mencoba melawan sekuat tenaga. "Lepaskan aku!"
Anak yang baru saja tertidur terbangun karena keributan itu dan mulai menangis keras.
Akhirnya, Deswan melepaskanku. Kemudian, dia mengangkat kepala dan menjilat bibirnya yang masih basah sambil berkata dengan mesra, "Nggak buruk, terima kasih atas kerja kerasnya."
"Kamu gila!" Aku mengenakan pakaianku dengan tergesa-gesa, lalu berlari pulang ke rumah dengan panik.
Setibanya di rumah, aku berkata kepada Orlan bahwa aku tidak ingin lagi pergi ke rumah Deswan untuk menyusui. Mendengar ucapanku, wajah Orlan langsung berubah masam.
Bab 2
Dengan temperamennya yang kasar, Orlan menendang kursi hingga terbalik. Wajahnya penuh amarah dan alisnya berkerut tajam.
"Lidya, coba kamu ulangi lagi apa yang barusan kamu bilang! Aku cuma minta kamu melakukan hal kecil, tapi kamu selalu menolak dan bikin alasan. Kamu cari mati, ya? Aku nanti mau ikut kerja sama Kak Deswan untuk cari uang, jangan sampai kamu jadi penghalangku!"
Apa yang terjadi sebelumnya terlalu sulit untuk diungkapkan. Aku tidak mau lagi melangkahkan kaki ke sarang harimau itu.
"Aku nggak mau pergi! Aku nggak nyaman. Bahkan anakku sendiri hampir nggak dapat ASI karena semuanya diberikan untuk orang lain .... Aku nggak mau ...."
Belum selesai aku berbicara, Orlan sudah melayangkan tamparan keras di wajahku, lalu mendorongku hingga aku terhuyung dan kepalaku membentur dinding. Seketika, aku pingsan.
Ketika aku sadar, hari sudah pagi.
Aku duduk di tempat tidur sambil memegangi kepala yang sakit. Rasa sakit di kepala itu tidak sebanding dengan rasa sakit di hati.
Aku sebenarnya pernah memiliki seorang anak perempuan. Namun, sayangnya, dia meninggal tak lama setelah lahir. Keluarga Orlan yang sangat menginginkan anak laki-laki sama sekali tidak peduli pada bayi perempuan itu, seolah-olah dia tidak pernah ada. Hanya aku yang masih mengingatnya.
"Sayang, Mama rindu sekali sama kamu ...."
Orlan membuka pintu dan melihatku duduk termenung. Dengan nada penuh ketidaksabaran, dia berkata, "Hei, kalau kamu sudah nggak apa-apa, cepat pergi dan susui anak itu!"
Karena takut dipukul lagi, aku tidak mengatakan apa pun. Aku hanya menatapnya dalam-dalam, lalu bangkit dan pergi mencuci wajah.
Sesampainya di rumah Deswan, dia melihat luka di sudut keningku dan hanya mengangkat alisnya tanpa melakukan hal yang lebih buruk. Aku segera masuk ke kamar, mengunci pintu, dan mulai menyusui bayi itu sambil duduk terpaku.
Saat aku mulai kehilangan fokus, pikiran-pikiran aneh mulai muncul di benakku. Setelah aku pingsan kemarin, beberapa potongan ingatan yang kabur muncul seperti kenangan yang hilang.
Apakah ini ingatanku yang telah hilang?
Aku tidak bisa mengingat apa pun tentang masa laluku. Orlan pernah berkata bahwa aku mengalami kecelakaan karena jatuh dari gunung dan akhirnya hilang ingatan.
Aku berasal dari desa kecil di pegunungan yang jauh dari sini. Kedua orang tuaku sudah meninggal dan aku tidak punya keluarga lagi di sana. Setelah pulih dari cedera, aku hamil dan tidak bisa bergerak dengan bebas, sehingga aku tidak pernah kembali ke desa.
Hidup tanpa kenangan adalah hidup yang tidak utuh. Aku ingin menemukan kembali siapa diriku yang sebenarnya.
Dua hari terakhir berlalu tanpa kejadian apa pun. Deswan sering keluar pagi-pagi dan pulang larut malam, sehingga tidak lagi menggangguku. Aku akhirnya bisa menghela napas lega.
Orlan mengatakan bahwa minggu depan Deswan akan kembali ke kota. Aku hanya perlu bertahan selama dua atau tiga hari lagi, lalu semuanya akan berakhir.
Saat malam mulai menyelimuti dan langit semakin gelap, bayi itu telah selesai menyusui dan tertidur lelap. Aku berniat kembali untuk mencuci muka dan bersiap-siap untuk tidur. Namun, baru saja keluar dari kamar, aku bertemu dengan Deswan yang baru pulang dalam keadaan mabuk.
Sambil berusaha tetap tenang, aku berjalan menuju pintu sambil berpura-pura tak peduli. Namun, ketika kami berpapasan, dia tiba-tiba meraih lenganku. Dengan satu dorongan, aku terjatuh ke sofa.
Kemudian, dia mulai menindih tubuhku dan menahan kedua kakiku di bawah tubuhnya.
"Hei, Deswan, jangan gila!"
Deswan tidak menggubrisku. Dengan posisi menunduk, napasnya yang hangat berembus di leherku. Kedua tangannya bergerak menggerayangi sekujur tubuhku sehingga membuat aku bergidik pelan.
"Aku ini istri Orlan! Sadarlah! Lepaskan aku!" Aku menggertakkan gigi sambil meronta. Salah satu tangannya mencengkeram pergelangan tanganku dan mengangkatnya ke atas kepalaku. Sementara itu, tangannya yang lain mulai membuka kancing kemejaku.
Karena perbedaan tenaga antara pria dan wanita, aku jadi tidak bisa bergerak sedikit pun. Aku panik hingga air mataku mulai menggenang di pelupuk mata.
"Kalau kamu terus begini, aku akan teriak! Orlan bakal mukul kamu sampai mati!"
Deswan terkekeh. "Kamu bodoh ya? Pria paling paham sama sesama pria. Kamu kira Orlan nggak tahu aku mau ngapain? Suamimu malah mohon kerjaan sama aku. Kamu ini hadiah darinya untukku."
Aku tertegun sejenak sebelum akhirnya tersadar.
Deswan telah merobek kerah bajuku. Telapak tangannya sangat besar. Dia mulai bergerak terus meraba seluruh tubuhku. Warna kulit kami yang berbeda jauh tampak sangat kontras saat berdampingan.
Dia berdecak sambil memuji, "Lembut, putih, dan wangi."
Air mataku akhirnya berderai.
"Deswan, aku bisa ... kasih kamu, juga bisa bantu kamu jaga anak. Tapi, kamu harus bawa aku pergi. Aku mau meninggalkan Orlan. Dia itu kasar dan sering mukul aku! Selain itu, jangan setujui apa pun permohonannya. Kamu nggak boleh biarkan dia sukses."
Sejak jatuh dari gunung, ponselku menghilang dan Orlan tidak pernah membelikan ponsel baru untukku. Setelah aku hamil, dia mulai membatasi aktivitasku dan hampir tidak pernah membiarkanku keluar rumah.
Aku tidak punya uang ataupun teman, sehingga sulit bagiku untuk bertindak.
Deswan tertawa santai, "Boleh saja."
Setelah itu, dia menarik celanaku dengan cepat dan melepas sabuk pinggangnya ....