Bab 1

Aku dan adikku menikah di hari yang sama.

Suamiku adalah kapten pemadam kebakaran, sedangkan suami adikku adalah seorang polisi. Dua pria itu berteman baik sejak kecil dan bahkan membeli apartemen di lantai yang sama agar bisa bertetangga.

Suatu hari, saat terjadi kebakaran di rumah, kami menelepon mereka untuk meminta bantuan, tapi mereka tidak bahkan tidak mendengarkan.

Pada akhirnya, bayiku lahir mati dan bayi adikku keguguran. Kami berdua pun memutuskan untuk menceraikan mereka.

Aku dan adikku menikah di hari yang sama.

Suamiku adalah kapten pemadam kebakaran, sedangkan suaminya adalah seorang polisi. Dua pria itu berteman baik sejak kecil dan bahkan membeli apartemen di lantai yang sama agar bisa bertetangga.

Tidak lama kemudian, aku dan adikku hamil.

Namun, sepuluh hari sebelum hari perkiraan lahirku, gedung apartemen kami tiba-tiba kebakaran.

Asap tebal mendesak ke semua ruangan. Aku kesulitan bernapas hingga terpicu kontraksi. Darah mengalir di kakiku, dan kesadaranku kabur selama beberapa saat.

Dengan tangan gemetaran, aku menelepon suamiku untuk meminta bantuan.

Tapi dia marah-marah dengan tidak sabar. "Ratna, kamu gila, ya? Kenapa kamu harus telepon sekarang? Aku sedang menyelamatkan orang!"

"Kamu tahu nggak, Monika sedang disandera pembunuh di atap gedung. Nyawanya sedang dipertaruhkan!"

"Tapi kamu bawel terus setiap hari!"

Tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan, panggilan itu ditutup.

Saat aku mencoba telepon lagi, dia menolak panggilan.

Di ambang kematian, adikkulah yang mempertaruhkan nyawa untuk terjun ke dalam api yang membumbung dan menggendongku menuruni tanda. Tapi dia sendiri menunjukkan tanda-tanda akan keguguran.

Menurut satpam, kebakaran ini mungkin disengaja.

Pasalnya, beberapa kabel di ruang distribusi listrik tampak sengaja dipotong.

Adikku juga menelepon suaminya yang seorang petugas polisi, tetapi sama-sama dimarahi ....

"Otakmu dan otak kakakmu sama-sama tersedot plasenta?"

"Orang yang menculik Monika belum tertangkap. Bisa nggak kamu berhenti mengganggu pekerjaanku?"

"Aku dan Yudha benar-benar bodoh menikahi kalian!"

Teleponnya juga ditutup dengan kasar.

Pada akhirnya, aku terlambat sampai di rumah sakit dan bayiku lahir mati.

Bayi adikku juga tidak bisa diselamatkan.

Aku berpelukan dengan adikku dalam derai air mata. Kami bertekad akan menceraikan mereka.

*

Tubuhku sangat lemah dan kesakitan, tidak bisa berhenti gemetar.

Bergerak kecil untuk menyalakan ponsel dan memanggil nomornya saja membuatku banjir keringat. Sangat lelah dan terengah-engah.

"Ada apa lagi!"

Pada panggilan kelima, Yudha akhirnya menjawab telepon dengan amarah tertahan. "Dimarahi saja masih belum cukup?"

Kata-kata itu disusul isak tangis lirih dari sisinya.

Itu suara Monika.

Aku tersenyum sendiri dan berkata, "Kita cerai saja. Aku doakan kalian bahagia."

Yudha tertegun sejenak, lalu menggeram, "Ratna, kalau kamu sedang bosan, carilah kesibukan lain!"

"Sudah kubilang, aku dan Monika cuma berteman. Dia takut ketinggian sejak dulu. Hari ini dia disandera di atap. Lantai 24!"

"Ratna, apa maumu?! Ada nyawa yang sedang dipertaruhkan!"

"Berhenti bertingkah seperti orang gila setiap mendengar nama Monika, oke?"

"Ini terakhir kalinya aku memberimu peringatan. Kalau kamu cari-cari masalah tanpa sebab lagi, aku nggak segan-segan meninggalkanmu! Nggak peduli kamu sedang hamil!"

Telepon lalu ditutup.

Air mataku pecah dan menggenang di layar ponselku.

Bab 2

Aku dulu berkhayal bahwa aku pasti akan bahagia setiap hari setelah menikah.

Tapi dia ingat Monika takut ketinggian. Padahal dia tidak peduli sama sekali dengan asma yang aku derita sejak hamil.

Aku terengah-engah dalam asap yang menyesakkan. Tanganku terlalu lemah untuk memegang ponsel dan sampai ponselku terjatuh beberapa kali. Rasa sakit yang luar biasa akibat kontraksi mewarnai gaun kuning mudaku menjadi warna merah darah.

Tapi dia?

Teleponku ditolak berulang kali. Baru saat aku hampir kehilangan kesadaran, dia akhirnya mengangkat panggilan.

"Sayang ... perutku ... sakit ... tolong ... cepat ke sini ...."

Suaraku jelas sangat lemah dan pendek, tidak bisa mengucapkan satu kalimat dengan lengkap.

Tapi yang kudengar pertama kali dari sana adalah tangisan Monika. "Terlalu berbahaya, Kak Yudha, jangan naik! Tinggalkan aku!"

Hatiku pun membeku seutuhnya.

Api membumbung semakin besar.

Dan Yudha memarahiku tanpa pikir panjang. "Lagi-lagi sakit lagi. Mengeluh sakit terus setiap saat. Ibu hamil lain nggak ada yang seperti kamu!"

"Kamu bukan tuan putri, nggak usah pura-pura manja!"

"Aku sedang bertugas, jangan telepon lagi!"

Tapi dia bahkan tidak tahu bahwa kesadaranku kabur beberapa kali hanya dalam beberapa kalimat itu.

"Jangan!"

Suaraku parau, berteriak sekuat tenaga, "A-aku ... pendarahan ...."

"Ah! Kak Yudha, aku takut!"

Jeritan Monika tiba-tiba terdengar dari telepon.

Yudha seketika kehilangan kesabarannya. "Pendarahan bukan berarti melahirkan. Yang seperti ini saja masih harus kuberi tahu?"

"Kenapa kamu harus telepon sekarang? Aku sedang bertugas menyelamatkan orang! Kamu tahu nggak, Monika sedang disandera pembunuh di atap gedung. Nyawanya sedang dipertaruhkan!"

"Kamu bawel terus setiap hari!"

"Nggak bisa panggil dokter sendiri? Aku bukan bidan!"

Saat ucapannya selesai, aku sudah kehabisan tenaga.

Ponselku terjatuh ke lantai. Aku memejamkan mata dan membiarkan air mataku meluncur, sementara Tiara mungkin sedang menunggu ajal menjemputnya.

Tapi kemudian, adikku itu muncul.

Tanpa peduli bahwa dia juga hamil lima bulan, Tiara menutupi kepalaku dengan handuk basah dan berlari menuruni lantai 13 sambil menggendongku di punggungnya.

Tapi begitu menurunkanku di bawah, dia memegangi perutnya kesakitan.

Jadi, tidak seperti aku.

Adikku terpaksa melakukan aborsi darurat.

"Kak, sakit ...."

Di rumah sakit, ranjangnya tepat di sebelah ranjangku. Air mata mengucur di wajahnya yang pucat. Tatapannya hampa. "Perutku sakit. Hatiku juga sakit ...."

Aku jadi semakin sedih dan kehilangan kata-kata.

Karena saat menelepon tadi, aku juga sayup-sayup mendengar suara Dimas, suaminya.

Dia terdengar seperti sedang menghibur Monika dengan sangat lembut.

Sungguh konyol.

Kami kira, kami menikah di hari yang sama karena cinta. Mana tahu, hanya satu tahun kemudian kami berdua akan berakhir seperti badut.

Ponsel adikku tiba-tiba berdering.

Dimas menelepon. Dia langsung marah-marah begitu panggilan terhubung. "Otakmu mengerut ya sejak hamil?! Sudah berapa kali kubilang, jangan berhubungan lagi dengan kakakmu yang suka drama itu!"

"Semua omonganku cuma lewat saja di telingamu, ya 'kan?"

"Penculikan Monika sangat berbahaya. Kalau Yudha salah sedikit saja dan gagal menyelamatkannya, dia bisa jatuh dari ketinggian!"

"Kakakmu pintar sekali memilih waktu. Apa dia ingin Monika mati?!"

"Jangan ikut-ikutan kakakmu. Kalau suatu hari benar-benar ada yang mati karena dia, aku sumpah akan menangkap kalian berdua dan menghukum mati kalian!"

Tanpa menunggu jawaban, telepon langsung ditutup.

Adikku hanya sempat menggerakkan bibirnya dan nomornya sudah diblokir.

"Kak ... kenapa? Kenapa bisa seperti ini?"

"Kalaupun dia salah paham, kenapa dia nggak tanya keadaan anaknya sama sekali?"

"Dia sudah satu bulan nggak pulang ...."

Adikku terisak-isak dan menutupi perutnya dengan lembut.

Masker oksigennya segera dipenuhi kabut. Suara napasnya yang sesak seperti pisau tumpul menusuk-nusuk jantungku.

"Tiara, maafkan aku. Ini semua salahku ...."

Aku menutupi wajahku penuh sesal, tersedu-sedu tak terkendali.

Bab 3

Orang tua kami meninggal saat kami masih sangat kecil. Kami tumbuh besar mengandalkan satu sama lain. Adikku adalah hartaku yang paling berharga. Satu lecet kecil di jarinya saja membuatku khawatir setengah mati.

Sayangnya, aku buta.

Aku memperkenalkan Dimas kepadanya!

Kami memberikan seluruh isi hati kami dengan setulus-tulusnya. Lalu berjuang tanpa lelah untuk mengandung seorang anak. Tapi pada akhirnya, semua itu hanya alat yang digunakan oleh dua pria tak tahu malu ini untuk menyulut perasaan Monika!

"Hahaha ...."

Adikku tiba-tiba tertawa. Isak tangisnya semakin menjadi-jadi.

Aku menoleh dan melihatnya memegangi ponselnya.

Menatap foto di layar.

Yudha bertelanjang dada, seutas tali melingkar di pinggangnya yang ramping.

Monika menjatuhkan diri ke dalam pelukannya dan diselamatkan ke bawah. Di saat yang sama, Dimas yang mengenakan seragam polisi sedang bergegas berlari ke sana.

Sebuah momen yang diabadikan dengan penuh cerita.

Monika ada di antara mereka, bagaikan tuan putri yang selalu dilindungi oleh kesatria dan tidak perlu lagi merasa takut.

Ini adalah foto yang baru saja Monika unggah di media sosialnya.

Bahkan disertai tulisan yang sangat menggugah pikiran: "Kalau diberi kesempatan lagi, siapa yang harus kupilih dari dua pria berseragam ini?"

Komentarnya juga sangat ramai.

"Kenapa harus memilih? Sikat dua-duanya!"

"Ya Tuhan, semoga kalian nyata. Dari caption-nya saja aku sudah bisa membayangkan cerita panas kalian di kamar!"

"Sekarang juga, aku ingin lihat tiga orang ini menikah!"

Aku tersenyum pahit, dan hatiku semakin sakit.

Sebab, liontin cincin yang melingkar di leher Monika dalam foto itu ternyata versi perempuan dari cincin kawin Yudha dan Dimas, layaknya pasangan.

"Kukira, empat cincin kita sengaja dibuat sama, sebagai bukti besarnya cinta kita."

"Ternyata cincin kita juga model cincin laki-laki."

"Kak, konyol sekali, ya?"

Air mata adikku kembali berderai. Suaranya semakin pilu dan menggetarkan dada.

Aku berjuang untuk bangkit dan mengambil ponsel itu dari tangannya.

Lalu, aku berbaring di sampingnya seperti saat kami masih kecil, menepuk punggungnya dengan lembut untuk menghiburnya. "Tiara, jangan dipikirkan lagi, nanti nggak sembuh-sembuh loh. Walaupun aku menyesal, yang penting kita nggak akan seumur hidup mengurung diri dalam pernikahan yang seperti neraka."

Tapi tenggorokanku semakin tercekat saat mengatakannya.

Kenapa?

Kami bahkan tidak tahu soal Monika sebelum kami menikah. Kenapa kami harus jadi bagian dari permainan mereka dan menanggung penderitaan yang begitu tragis!

Yang lebih konyol lagi, Yudha juga memblokir nomorku.

"Kak, apa kita terlalu menyebalkan?"

"Mereka menjauhkan diri seakan kita punya sakit menular yang sangat berbahaya."

Setelah beristirahat selama beberapa hari, adikku akhirnya mendapatkan semangatnya kembali. Dia menertawakan diri sendiri sambil tergenang air mata.

"Tenang saja, aku akan mencari cara, lalu pergi dari sini."

"Hidup sesuka kita. Jangan dekat-dekat dengan laki-laki lagi. Jangan pernah hamil lagi ...."

Aku mengusap rambut adikku dengan hati sesak. Suaraku tercekat oleh isak tangis.

Kalau dipikir-pikir, cara yang paling efektif adalah dengan menyewa pengacara perceraian. Agar Yudha dan Dimas mengerti bahwa tekad kami sudah benar-benar bulat.

Bukan cari gara-gara saja.

Tapi ...

"Bu Ratna, kami nggak sanggup membantu kalian!"

"Bajingan macam apa suami kalian itu? Punya mulut nggak dipakai untuk bicara! Begitu dia dengar kalau kalian klien kami, dia langsung menendang kursi sampai hancur berkeping-keping. Anjing gila!"

"Apanya yang pelayan masyarakat?! Dia lebih seperti preman sampah masyarakat!"

"Saya sudah kembalikan biayanya. Mohon maaf, kami nggak sanggup!"

Pengacara itu mengeluh penuh amarah dan langsung menutup telepon.

Tak lama kemudian, telepon berdering lagi.

Yudha membuka blokir nomorku. "Ratna, bisa nggak kamu lebih dewasa sedikit?! Kamu tahu sendiri kenapa nomormu kublokir!"

"Kalau semua perempuan di dunia ini separah kalian setiap cemburu, semua laki-laki pasti musnah!"

"Kalian berani sampai panggil pengacara ke kantor Dimas! Bikin malu saja!"

"Kami sial tujuh turunan menikah dengan kalian!"

Masih dengan penghinaannya yang sangat menyakitkan.

Aku sangat marah sampai gigiku terasa ngilu, tapi aku malah tertawa. "Hahaha ...."

Terlalu marah sampai aku hanya bisa tertawa.

Yudha semakin jengkel saat mendengarnya. "Apa yang kamu tertawakan! Jangan kira aku nggak berani menceraikanmu cuma karena kamu sedang hamil!"

Dicampakkan Suami dalam Kebakaran Rumah

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya