Bab 2

Suamiku memohon dengan suara pelan, "Tolonglah! Saat aku melihatmu mengenakan gaun, aku jadi teringat saat pertama kali kita bertemu. Gaun ini dapat membangkitkan fantasiku!" "Kalau kamu khawatir pakaian dalammu kelihatan … sekalian saja nggak usah dipakai! Lagi pula, kita sedang berada di negara asing dan tidak ada yang mengenal kita. Semuanya demi kebahagiaan kita kelak …" lanjut suamiku.

Melihat suamiku menatapku dengan mata berbinar, aku menggertakkan gigi dan mengangguk setuju.

Suamiku sangat bersemangat. Dia membawa kamera DSLR dan mengajakku ke berbagai tempat wisata dan pantai pesisir yang ramai.

Dia mengambil fotoku dari waktu ke waktu, katanya semua itu untuk mengambil penampilan terbaikku.

Aku dapat dengan jelas merasakan tatapan mata membara yang tak terhitung jumlahnya, melotot ke arahku. Pandangan mata mereka seakan akan menembus ke dalam pakaianku.

Beberapa pria yang lebih berani, datang mendekat dan berbicara padaku.

Malam harinya, seorang laki-laki asing bertubuh tinggi dan berhidung mancung tiba-tiba mengadang jalanku. Dia mengeluarkan segenggam uang kertas, lalu mengajakku untuk menghabiskan malam yang indah bersamanya.

Melihat otot-ototnya yang kekar, bulu dadanya yang lebat tebal dan tonjolan pada celana renangnya ….

Aku bahkan mengalami reaksi fisik yang memalukan, beberapa fantasi tak senonoh tanpa sadar muncul dalam benakku.

Tanpa sadar, aku menatap dengan raut wajah memohon bantuan ke arah suamiku yang sejak tadi mengambil fotoku, posisinya berada tak jauh dari situ. Baru saat itulah aku menyadari kalau suamiku sudah tidak di sana!

Sebelum aku sempat sadar kembali, orang asing itu mencengkeram dan menyeretku dengan paksa ke arah deretan kamar kecil di pantai.

Aku berusaha melawan dengan sekuat tenaga, tetapi dia tiba-tiba mengedipkan mata dan memasukkan tangannya ke dalam rokku.

"Jangan, jangan! Aku bukan wanita seperti itu …."

Aku berusaha melawan dengan keras, tetapi orang asing itu tidak melepaskanku. Dia tersenyum nakal dan mengajukan pertanyaan dalam bahasa asing.

"Apakah kamu yakin?"

Dilihat dari tindakannya, dia hendak mengangkat rokku.

Perasaan malu yang luar biasa langsung menyelimuti hatiku.

Kalau sampai terungkap, semua orang akan dapat melihat ….

Aku menggertakkan gigiku dan menutupi rokku agar tidak terangkat.

Namun, terong kecil itu membuatku merasa kesulitan.

"Jangan lakukan ini, lepaskan aku atau aku akan memanggil polisi!" Aku memohon dengan suara rendah, sambil menangis.

Pada saat yang sama, aku diam-diam merasa kesal, bertanya-tanya ke mana suamiku pergi dan kenapa dia tidak datang untuk membantuku? Aksi kami menarik perhatian beberapa orang.

Seseorang yang baik hati mencoba bertanya tentang hal tersebut, tetapi orang asing itu menarik rokku dan mengancamku. Dia juga menyatakan pada orang lain kalau kami adalah pasangan.

Aku dipenuhi rasa malu dan marah, bagaimana mungkin aku berani membantahnya?

Dia sangat kuat dan dengan mudah mengangkatku, lalu bergegas ke kamar kecil. Tangannya dengan terburu-buru meraba tubuhku.

"Oh … kamu benar-benar seksi!"

Aroma hormon lelaki itu segera menyergapku, sekujur tubuhku merasa lemah dan aku tak punya tenaga untuk melawan.

Pada saat ini, sebuah pikiran pun terlintas di benakku.

Kalau aku benar-benar sampai … itu bukan salahku!

Pada saat kritis itu, terdengar ketukan secara tiba-tiba di pintu. Aku pun mendengar teriakan suamiku!

Hatiku bergetar, dia akhirnya datang!

Namun, kenapa aku merasa sedikit kecewa?

Saat pintu kamar kecil dibuka secara paksa, beberapa pria pendek, kuat, berkulit sawo matang dan berseragam pun mengusir orang asing itu. Suamiku memelukku dan menghiburku dengan lembut. "Hu hu … kenapa kamu baru datang sekarang?" Aku melemparkan diriku ke pelukan suamiku.

Sebelum aku sempat bereaksi, salah satu manajer memarahiku dengan raut wajah dingin. "Ikut kami! Kamu dicurigai sedang berdiri di jalan secara tidak pantas, kamu telah melanggar hukum adat setempat!"

Aku tercengang, kontan berkata, "Tidak, aku tidak …."

Suamiku pun bergegas membelaku, tetapi sayangnya mereka sama sekali tidak percaya dan malah membawa kami pergi dengan paksa ke kantor manajemen terdekat.

Manajer itu menjelaskan dengan wajah serius.

Di daerah ini, melakukan pekerjaan seks komersial adalah tindakan legal, tetapi harus memiliki izin dan wajib mematuhi peraturan setempat!

Bab 3

Kalau tidak, kami akan dituntut dan bahkan dijatuhi hukuman.

Aku dan suamiku benar-benar panik.

Manajer itu tampak tidak sabar, dia kembali berkata, "Kalau tidak ada bukti kuat, kami tidak akan menangkap orang sesuka hati! Menurut laporan dari orang asing tadi, kamu bahkan tidak mengenakan pakaian dalam apa pun di balik rokmu. Kamu bahkan sengaja mengangkat rokmu untuk merayunya."

"Beranikah kau membiarkan orang-orang kami melepas rokmu dan memeriksanya?" lanjut manajer itu.

Aku begitu marah sampai hampir menangis. Aku dengan kesal memukul suamiku beberapa kali dengan tinjuku.

"Ini semua salahmu. Kalau bukan karenamu …."

Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku bahkan tidak bisa membuktikan kalau aku sama sekali tidak bersalah!

Suamiku juga menjadi cemas dan menggertakkan giginya, lalu dia mengeluarkan berbagai dokumen dari ranselnya.

"Kami adalah pasangan suami istri, kami hanya bersenang-senang dan mengambil beberapa foto …."

Sambil berbicara, dia menunjukkan foto-foto dari kameranya.

Di dalam foto-foto itu, aku berpose dengan beraneka macam gaya menggoda, yang membuat beberapa orang termasuk manajer itu menatapku dengan takjub.

Beberapa pasang mata yang nakal itu mulai mengamati ke arahku.

Aku menundukkan kepala karena malu, tidak berani membalas tatapan mereka. Setelah suamiku berulang kali menjelaskan dan memohon, pihak manajemen akhirnya mengalah. Mereka tidak lagi mengirim kami ke kantor polisi dan tidak lagi mengajukan gugatan hukum.

Namun, menurut hukum dan peraturan setempat, kami harus menanggung tiga kali cambukan!

Aku dan suamiku saling memandang, kami terpaksa mengangguk setuju.

Namun, ketika aku melihat cambuk yang direndam dalam air, bulu kudukku lekas berdiri!

"Ini … ini tidak akan membunuhku, 'kan? Sayang, aku takut!"

Ryan menarik napas dalam-dalam. Dia diam-diam mengeluarkan segulungan uang, lalu menarik pemimpin mereka ke sudut ruangan untuk mengobrol sebentar. Saat dia kembali, dia tampak jauh lebih santai.

"Jangan khawatir, itu hanya formalitas saja!"

Dengan suasana hati yang gugup, aku dibawa ke meja oleh dua orang pria kekar. Aku mengikuti instruksi mereka dan membungkuk serta bertumpu ke atas meja.

Tak lama kemudian, tangan dan kakiku tiba-tiba diikat.

"Ini adalah prosedur normal untuk mencegah tahanan melarikan diri atau melukai orang lain dengan kekerasan!"

Kemudian, aku merasakan hawa dingin di sekujur tubuhku.

"Apa yang akan kalian lakukan?"

Aku menggeliat dan meronta dengan tidak nyaman, tetapi mereka malah mengangkat rokku!

"Tidak, tidak, lepaskan aku …."

Sayangnya, sudah terlambat untuk mengatakan apa pun sekarang. "Piak!"

Cambuk yang dibasahi air itu menghantamku dan membuat seluruh tubuhku gemetar. Meskipun mereka tidak mencambukku sekuat tenaga, bokongku masih terasa panas. Aku tidak bisa menahan diri dan mendesah dengan pelan. Hatiku terasa sedikit aneh. Aku mengerutkan bibirku dan menatap suamiku dengan berlinang air mata.

Aku terkejut saat melihat matanya memerah. Seluruh tubuhnya gemetar, matanya dipenuhi kegembiraan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan tubuh suamiku pun mulai bereaksi ….

Apakah ini … sebuah kejutan yang tidak disangka-sangka?

Lalu, suara berbincang orang-orang sekitar yang bercampur tawa jahat pun terdengar di telingaku.

Seluruh tubuhku langsung menegang dan aku merasakan firasat buruk.

"Apa yang sedang kalian lakukan?"

Aku merasa sangat malu ketika tubuhku disentuh oleh pria asing.

Yang lebih memalukan lagi, tindakan kasar pria lain itu justru menyebabkan tubuhku bereaksi.

Mungkinkah … mungkinkah aku memang seorang wanita murahan?

Saat ini pikiranku sedang kacau.

Suamiku seharusnya menyadari reaksi tubuhku, 'kan?

Apa yang akan dia pikirkan?

Tunggu, kenapa dia belum datang menyelamatkanku?

Aku tidak percaya kalau suamiku yang begitu mencintaiku, akan menyerah di saat seperti ini. Begitu merasakan adanya tangan besar yang hendak menyentuh bagian tubuhku yang sensitif, aku meronta mati-matian dan berteriak sekuat tenaga untuk meminta tolong pada suamiku.

"Suamiku, selamatkan aku …."

Namun, sesaat kemudian, mataku tiba-tiba ditutup.

Tak lama kemudian, sepasang tangan besar dan kasar menyentuh pinggang rampingku dan meraba ke arah bawah ….

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B14907" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B14907
Salin

Dicambuk atau Diceraikan?

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya