Bab 1
Ayahku bertanya siapa yang akan kupilih untuk menjadi suamiku. Setelah terlahir kembali, aku tidak memilih Ronaldo lagi. Sebaliknya, aku memilih kakak kandungnya, Evan Vittori.
Ayahku terlihat bingung. Bagaimanapun juga, seluruh Chicako tahu bahwa Ronaldo dan aku adalah teman sejak kecil dan aku telah mengejarnya selama sepuluh tahun.
Sebagai putri Keluarga Luchese, dari dulu, namaku telah terukir di samping namanya dalam daftar perjodohan keluarga. Semua orang yakin bahwa pernikahan kami adalah takdir yang tidak bisa dihindari.
Aku tersenyum getir dan mengingat kehidupan lampauku. Aku menikahi Ronaldo sesuai keinginanku. Namun, setelah menikah, dia tidak pernah menyentuhku. Aku mengira dia menderita penyakit yang tidak bisa diungkapkannya dan berusaha sekuat tenaga untuk menutupinya.
Sampai ulang tahun pernikahan kami yang ke-6, aku tidak sengaja membuka brankas di ruang kerjanya. Di dalam sana, tersimpan deretan rapi foto-fotonya bersama seorang wanita. Wanita itu adalah putri angkat yang kupaksa ayahku adopsi.
Mereka bahkan punya anak haram berusia dua tahun. Di dalam foto keluarga itu, mereka bertiga terlihat sangat bahagia. Pada saat itu juga, aku baru menyadari bahwa dia tidak sakit, melainkan tidak pernah menganggapku sebagai istrinya.
Untuk menyingkirkanku, dia dan adik angkatku bekerja sama untuk membunuhku. Jadi, di kehidupan ini, aku memilih untuk merestui mereka.
Namun, ketika aku mengenakan gaun pengantin dan berjalan memasuki gereja dengan merangkul tangan Evan, Ronaldo yang bersenjata berlari menghampiriku seperti orang gila.
"Madeline!" Suaranya terdengar sangat serak. "Kamu berani menikahinya?"
Seminggu setelah perjodohan itu diresmikan, aku menaiki kapal pesiar pribadi termewah di Chicako. Saat tiba di luar pintu aula pesta, aku melihat Ronaldo memangku seorang wanita bertubuh seksi di atas sofa. Dia sedang memakaikan kalung zamrud di leher wanita itu.
"Ini terlalu mahal. Apa aku boleh menerimanya?"
"Sayang, ini kalung yang memang kubelikan untukmu. Wanitaku cuma pantas untuk dapatkan yang terbaik," ujar Ronaldo dengan penuh dengan kasih sayang.
Wanita itu pun mengusap-usapkan kepalanya dalam pelukan Ronaldo dengan genit.
"Aku akan pergi ganti gaunku supaya cocok sama kalung cantik ini."
Pada saat ini, aku membuka pintu dan berjalan masuk.
Teman-teman Ronaldo saling berpandangan dengan penuh arti, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Ronaldo, pengikutmu sudah datang!"
"Dia benar-benar mirip anjing penjaga yang mengawasimu sepanjang waktu!"
"Kalian sudah tunangan, tapi kamu masih diawasi dengan begitu ketat? Kamu cuma hadiri pesta temanmu, tapi dia juga mau ikut?"
Begitu mendengar ejekan-ejekan itu, Ronaldo yang memegang gelas alkohol mengerutkan keningnya. Dia sama sekali tidak menutupi kekesalan yang terpancar di matanya.
"Madeline, memangnya kamu begitu nggak sabar?" tanya Ronaldo dengan malas. Nada suaranya begitu dingin hingga terasa menyesakkan ketika lanjut berkata, "Tanpa persetujuanku, kamu biarkan kedua keluarga menetapkan perjodohan itu. Sekarang, semua orang di Chicako tahu kamu akan akan jadi menantu Keluarga Vittori. Kamu benar-benar luar biasa."
Hatiku serasa ditusuk jarum.
Di kehidupan sebelumnya, meskipun dia bersikap dingin, setidaknya dia masih memainkan peran sebagai suami yang baik di depan semua orang. Sekarang, dia bahkan tidak ingin bersandiwara lagi.
Aku menyahut dengan tenang, "Hal itu pada dasarnya memang nggak butuh persetujuanmu kok. Orang yang mau kunikahi bukan kamu."
Setelah hening sejenak, suara tawa pun meledak di aula pesta.
Teman-teman Ronaldo tertawa terbahak-bahak hingga tidak bisa menegakkan punggung mereka. Mereka menatapnya dengan pura-pura terkejut.
"Ronaldo, tunanganmu ngambek! Cepat hibur dia! Kalau nggak, dia akan buat keributan dan bunuh diri lagi!"
"Madeline, sekarang kamu bahkan sudah belajar trik tarik-ulur?"
Dia berjalan mendekatiku selangkah demi selangkah dengan aura mengerikan. "Kalau bukan menikahiku, siapa lagi yang bisa kamu nikahi?"
Tepat pada saat aku hendak menjawab, dia tiba-tiba mencondongkan tubuhnya dan berbisik di telingaku, "Aku nggak peduli sama pertunangan itu. Ingat, aku bisa memberimu pernikahan yang megah ... tapi aku nggak akan izinkan namamu dimasukkan ke dalam daftar silsilah keluarga."
Di kalangan keluarga mafia, semua orang tahu bahwa hanya istri yang benar-benar diakui yang namanya akan tercatat dalam daftar silsilah keluarga. Jika tidak, meskipun pernikahannya diadakan, dia tetap hanyalah pelengkap yang tak berarti.
Hatiku tiba-tiba bergejolak.
Menurut alur waktu di kehidupan lampau, saat ini, Ronaldo seharusnya mematuhi pengaturan keluarganya dan segera menikahiku. Apa dia juga terlahir kembali?
Tepat saat aku hendak membantah, tiba-tiba terdengar suara manja seseorang berkata, "Pahlawanku, Kak Ronaldo ...."
Aku mengerutkan kening dan melihat bahwa orang itu adalah putri angkat ayahku dan juga sahabatku, Dora. Sepuluh tahun yang lalu, aku meminta ayahku untuk mengadopsinya saat dia masih adalah gadis yang berkeliaran di zona prostitusi. Siapa sangka, dia malah membunuhku di kehidupan lampau.
Ketika melihatku, ekspresinya langsung berubah. Dia mencengkeram ujung gaunnya erat-erat, lalu berkata dengan mata berkaca-kaca dan suara gemetar, "Tadi, aku dengar kalian ... akan segera menikah. Aku ... doakan semoga kalian bahagia."
Sebelum selesai berbicara, air matanya pun menetes. Kemudian, dia berbalik dan berlari keluar dari aula pesta.
Pada detik berikutnya, Ronaldo tiba-tiba meletakkan gelas alkoholnya dengan wajah muram dan mengejarnya tanpa ragu.
"Kamu sudah puas? Kamu merasa hebat karena membuatnya menangis? Dasar wanita jahat!"
Bab 2
"Gawat! Dora melompat ke laut!" teriak seseorang.
Orang-orang di aula pesta mulai heboh.
Setiap melihat Ronaldo berbicara dengan wanita lain dulu, aku pasti akan membuat keributan. Apalagi jika melihatnya melompat ke laut untuk menyelamatkan wanita lain. Akan tetapi, aku tidak menunjukkan reaksi apa pun sekarang karena aku tahu Dora sengaja membuat masalah.
Setelah beberapa saat, Ronaldo berjalan masuk sambil menggendong Dora. Pakaian mereka berantakan dan tubuh mereka basah kuyup. Mata Dora terlihat merah dan penuh kesedihan, sedangkan bibirnya bengkak dan merah. Dia pasti sudah dicium secara mendalam oleh seseorang.
"Sudah lihat?" Ronaldo menatapku. Nadanya terdengar dingin nan tegas, juga mengandung penghinaan saat berujar, "Cara kejammu sudah memaksanya melompat ke laut."
Para anggota mafia di sekitar menonton pertunjukan ini dengan gembira. Ada beberapa yang terkekeh, ada juga yang menatapku dengan penuh minat, seolah-olah menungguku menggila.
Aku melirik mereka berdua dengan acuh tak acuh dan menyahut dengan tenang, "Oh? Kalau begitu, kenapa dia masih hidup?"
Raut wajah Dora sontak berubah, ada jejak kegugupan yang melintasi matanya. Kemudian, dia mencengkeram lengan Ronaldo erat-erat dan berkata dengan lembut, "Kak Ronaldo, aku baik-baik saja. Ini nggak ada hubungannya dengan Kak Madeline."
Tatapan Ronaldo tiba-tiba berubah dingin. Pada detik berikutnya, dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat hingga aku hampir terjatuh.
"Kalau begitu, kamu juga harus mencoba gimana rasanya jatuh ke laut."
Sebelum selesai berbicara, dia sudah menggendongku dan berjalan menuju dermaga.
Angin dingin bertiup di wajahku, sedangkan lampu-lampu di aula pesta terlihat makin jauh dan digantikan oleh air laut yang gelap. Pada saat berikutnya, aku pun dilempar ke laut.
Air laut yang dingin langsung menelanku dalam seketika. Rasa sakit dari tidak dapat bernapas membuat anggota tubuhku mati rasa, sedangkan paru-paruku serasa terkoyak. Aku terombang-ambing di atas ombak yang bergulung liar.
Aku meronta sekuat tenaga, tetapi yang kudengar hanyalah seruan panik orang-orang dan tatapan acuh tak acuh Ronaldo.
Seiring berjalannya waktu, kesadaranku berangsur-angsur kabur sampai sebuah tangan dingin mencengkeramku dan menyeretku keluar dari air. Aku dilempar ke atas papan kayu dermaga dan batuk hebat. Penampilanku sangat menyedihkan.
Ronaldo menatapku sambil tersenyum menghina.
"Jangan buat onar lagi." Dia berjongkok, lalu mendekat ke telingaku dan menyelipkan sebuah cincin ke telapak tanganku. Suaranya terdengar rendah dan dingin saat berkata, "Asal kamu patuh, aku akan menikahimu. Setidaknya secara nama, semua orang akan mengira kamu itu istriku."
Aku mendongak dan bertanya kepadanya, "Siapa sebenarnya yang ingin kamu nikahi? Dora?"
Ronaldo tiba-tiba marah, tetapi ada sedikit kebanggaan yang terpancar dari ekspresinya.
"Sudah kutahu kamu cuma bersandiwara selama ini. Kuperingati kamu, jangan coba-coba bocorkan hal ini kepada orang tua kita! Hubunganku dengan Dora bukanlah sesuatu yang bisa kamu bayangkan! Dia baik dan rapuh, juga nggak seperti kamu yang licik!"
Aku pun tertawa. Jelas-jelas, dia sendiri yang pengecut dan tidak berani mengungkapkan keinginannya kepada ayahnya. Namun, dia malah bersikap seperti akulah biang keladinya.
Dia terdiam, lalu berkata dengan dingin, "Tapi, kalau kamu berani menyakiti Dora lagi, aku nggak keberatan untuk membuatmu menghilang sepenuhnya."
Dia berdiri, lalu memerintahkan tangan kanannya, "Bawa Nona Madeline kembali ke kamar untuk beristirahat dengan baik."
Aku tidak melawan. Kapal ini penuh dengan anak buahnya, aku tidak mungkin bisa melawan. Aku hanya bisa kembali ke kamarku terlebih dahulu.
Setelah mengganti pakaianku yang basah, aku mengamati kamar ini dengan gelisah. Tipu muslihat Dora sudah makin kejam. Aku bahkan mulai bertanya-tanya apakah dia juga terlahir kembali?
Aku perlu menenangkan diri dan memikirkan hal-hal ini dengan baik. Jadi, aku berbalik dan pergi ke ruang spa dengan niat untuk merilekskan tubuhku dengan air panas. Namun, begitu membuka pintu, langkahku tiba-tiba terhenti.
Kabut tebal menyelimuti ruangan ini. Di bawah cahaya redup, Ronaldo duduk bersandar di tepi kolam dengan bertelanjang dada. Sementara itu, Dora yang bagian atas tubuhnya juga telanjang menempelkan dadanya yang montok ke punggung Ronaldo sambil memijat bahunya dengan lembut.
Ronaldo mengembuskan napas rendah dan serak, seolah-olah sangat menikmatinya. Kemudian, dia berbalik dan menekan Dora ke dinding kolam.
"Sayang, aku mau kamu lahirkan seorang anak untukku, yang akan jadi satu-satunya pewaris Keluarga Vittori."
Wajah Dora memerah. Dia melingkari leher Ronaldo, lalu memutar pinggangnya dengan genit dan berkata lembut, "Pahlawanku ... aku mencintaimu. Biarkan aku merasakan seluruh kekuatanmu ...."
Hatiku terasa seperti diremas orang. Pemandangan ini sangat menusuk mata.
Aku buru-buru melangkah mundur dan ingin pergi, tetapi tidak sengaja menendang sebuah wadah di samping dan menimbulkan suara nyaring.
Gerakan Ronaldo terhenti dan matanya tiba-tiba menjadi suram.
"Siapa itu?"
Bab 3
Aku tidak boleh tertangkap oleh Ronaldo. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan padaku. Aku segera berbalik dan pergi, lalu menelepon tangan kananku.
"Kirim kapal untuk datang menjemputku sekarang juga."
Baru saja aku kembali ke daratan, ponselku bergetar dan sebuah pesan muncul di layar.
[ Kak Madeline, yang tadi itu kamu, 'kan? Kamu seharusnya tahu Ronaldo akan menikahimu, tapi yang namanya akan dimasukkan ke silsilah keluarga itu aku. ]
[ Selain itu, Kak Ronaldo menginginkan tubuhku setiap hari. Aku baru saja melakukan tes dan aku sudah hamil. Kali ini, giliran aku yang lebih dulu jadi istri sah bos mafia. ]
Itu adalah pesan dari Dora.
Di kehidupan lampau, dia dan Ronaldo tidak memiliki interaksi apa pun di permukaan. Namun, di kehidupan ini, mereka berdua malah seperti sudah tidak sabar untuk mengumumkan hubungan mereka kepada dunia, padahal baru terlahir kembali beberapa hari. Ternyata, mereka telah merencanakannya sejak lama. Kali ini, mereka akan beraliansi secepat mungkin untuk menyingkirkanku.
Aku teringat bahwa di kehidupan lampau, dengan bantuan keluarga kami, Keluarga Vittori berhasil merebut kembali pelabuhan perdagangan yang vital, juga mendapatkan pesanan senjata yang tak terhitung jumlahnya sehingga kekayaan mereka meningkat dengan stabil. Hanya dalam kurun beberapa tahun, mereka pun menjadi pemimpin dunia mafia area selatan.
Para senior Keluarga Vittori sangat menyukaiku dan merasa bahwa semua ini adalah jasaku. Mereka pun dan memperlakukanku dengan sangat baik.
Sampai aku menemukan foto-foto itu ....
Pada saat ini, Ayah masuk ke kamarku dan berkata dengan suara yang berat, "Evan akan kembali dari luar negeri dalam lima hari."
Aku tertegun sejenak.
Di kehidupan lampau, setiap tunangan kakak kandung Ronaldo ini akan menghilang secara aneh. Menurut rumor, dia memiliki kelainan seksual sehingga tidak ada yang berani menikahinya. Dengan begitu, dia tentu saja tidak memiliki pewaris.
Namun, aku tahu bahwa dia adalah orang yang sangat kompeten dan cerdik. Jika ingin membalas dendam, aku harus menikahinya. Setelah itu, dia mungkin akan menjadi senjataku yang paling mematikan.
Keesokan harinya, aku pergi ke peternakan kuda pagi-pagi. Sepasang kuda perang hitam ras murni berdiri anggun di bawah matahari pagi. Mereka memiliki surai halus dan otot yang kencang.
Ini adalah kuda yang kupelihara dan latih secara pribadi. Di kehidupan lampau, aku menghadiahkan kuda ini kepada Ronaldo. Sebab, pada saat itu, orang yang ingin aku nikahi adalah Ronaldo. Jadi, aku menyesuaikan semuanya sesuai kesukaannya. Bahkan hiasan pelana dan tali kekang kuda pun berwarna emas yang disukainya.
Di kehidupan ini, aku akhirnya bisa mendandani kudaku sendiri sesuai dengan kesukaanku.
Namun, beberapa hari kemudian, aku melihat sebuah postingan Dora. Di foto itu, dia sedang menunggangi kuda ras murni yang aku latih dengan sepenuh hati, sedangkan Ronaldo berdiri di sampingnya sambil tersenyum.
[ Kak Ronaldo tahu aku kekurangan kuda yang bagus, jadi dia secara khusus menghadiahkannya untukku. Ternyata begini rasanya dimanja! ]
Tanganku terkepal erat. Aku langsung bergegas pergi ke peternakan kuda dan melihat Dora sedang menunggangi kudaku, juga sengaja pamer di depan Ronaldo. Dia bersikap sangat santai, seperti sedang menikmati hak istimewa.
"Siapa yang izinkan kamu menungganginya?" tanyaku dengan dingin.
Begitu melihatku, Dora langsung memasang tampang kasihan. Dia menggigit bibirnya dan matanya agak merah. "Kak Ronaldo ... apa Dora sudah melakukan kesalahan .... Kenapa Kakak kelihatan begitu marah ...."
Ronaldo dengan santai melingkarkan lengannya ke pinggang Dora, lalu berujar dengan kesal, "Bukannya itu cuma seekor kuda? Lagian, itu milikmu. Bukankah kelak itu juga akan jadi milikku? Apa salahnya aku biarkan Dora menungganginya sekarang?"
Aku benar-benar tidak menyangka dia bisa bersikap begitu tidak tahu malu. "Siapa bilang itu akan jadi milikmu?"
Ronaldo tersenyum sinis dan menyahut dengan nadanya penuh sarkasme, "Madeline, barang-barangmu itu milikku. Pada akhirnya, peternakan kudamu ini juga akan dipakai untuk kepentingan keluarga kami."
Aku melirik cambuk di sebelahku, lalu langsung mengambilnya dan mencambuk pelana kuda dengan kuat. Kuda itu pun terkejut, lalu mengangkat kaki depannya dengan tiba-tiba dan menjatuhkan Dora.
Dora jatuh terduduk di lantai dengan tampang menyedihkan. Roknya sudah kotor dan ada sedikit kepanikan di matanya.
"Madeline, kamu makin mirip wanita gila saja! Dengan temperamenmu ini, kamu sama sekali nggak pantas jadi istriku!"
Ronaldo memelototiku, sedangkan aku menatapnya dengan dingin dan berujar, "Ronaldo, kamu terlalu meremehkan aku bisa jadi seberapa kejam begitu membulatkan tekad. Aku paling benci sama orang yang menginjak-injak ketulusanku, juga berulang kali menguji batas kesabaranku. Aku sudah nggak mencintaimu dan nggak akan menikahimu!"
Ronaldo pun terkejut. Dia tidak pernah melihatku yang seperti ini.
Dulu, tidak peduli apa pun yang terjadi, aku akhirnya akan tetap mengalah. Namun, kali ini, aku sudah bertekad bulat untuk memutuskan semua hubungan dengannya.
Ketika aku hendak pergi, dia secara refleks ingin mencengkeram tanganku. Akan tetapi, Dora malah tiba-tiba menangis. "Kak Ronaldo ... aku sakit .... Kakiku berdarah ...."
Ronaldo pun terpaku di tempat. Matanya penuh dengan amarah dan rasa percaya diri yang tidak tertandingi. Dia menggertakkan gigi dan berseru dengan suara berat, "Madeline, kamu pasti akan menangis dan kembali untuk memohon padaku nanti! Jangan kira aku nggak tahu tipu muslihatmu!"