Bab 1

Lima tahun aku menikah dengan Tritan Wirajaya, salah satu miliarder yang namanya tercatat di daftar sepuluh besar Forbes.

Sementara aku? Aku hanyalah istri bayangan, seorang mahasiswi yang sebentar lagi akan lulus, nyaris tak pernah dikenal publik.

Aku selalu menenangkan diriku sendiri.

“Tak apa. Status Nyonya Wirajaya tak penting. Selama ada cintanya… biarlah identitasku tetap tersembunyi. Publik tahu atau tidak, itu bukan masalah.”

Namun kenyataan menamparku ketika cinta pertamanya kembali dari luar negeri. Baru kusadari, pernikahan kami… hanyalah sekadar selembar kertas bernama akta nikah.

Rasa yang kusebut cinta… mungkin sepenuhnya sepihak dariku.

Akhirnya, kuletakkan sebuah surat cerai di hadapannya. Kusamarkan sebagai berkas kuliah yang butuh tanda tangannya.

Tanpa curiga, dia menorehkan namanya, dan pada detik itu, pernikahan kami resmi berakhir.

Sikap acuhnya saat menandatangani berkas itu, sama persis dengan caranya memperlakukanku selama lima tahun, dingin, tanpa hati.

Tak ada cinta di antara kami. Maka aku memutuskan untuk mengejar kebebasanku sendiri.

Namun ketika akta cerai itu mulai berlaku, yang kumiliki bukan hanya diriku sendiri… tapi juga janin kecil yang tengah kukandung.

Hanya saja, entah kenapa… saat aku meninggalkannya sejauh mungkin, ke tempat yang tangannya tak bisa jangkau… barulah dia sadar.

Baru dia mengerti apa yang hilang dari hidupnya, seorang wanita yang mencintainya sepenuh hati, dan juga ahli warisnya sendiri!

Saat akhirnya kembali menemukanku, meminta untuk memulai dari awal…

Aku sudah berubah.

Aku sudah dewasa.

Aku sudah mandiri.

Aku memiliki karier dan hidupku sendiri.

Aku bukan lagi wanita yang hanya hidup berputar di sekitar cinta semata.

Dan kini, dia berlutut di hadapanku, memohon cintaku, memohon agar aku kembali…

Aku melangkah ke kantor pengacara sambil membawa berkas perceraian. Pengacara itu hanya melirikku sekilas, dingin dan acuh, sama sekali tak menganggapku sebagai klien.

Dia mengenakan setelan jas khusus, sepatu kulit mengilap. Sementara aku… hanya memakai rok selutut sederhana dengan atasan rajut. Penampilanku lebih mirip seperti mahasiswa.

“Apa surat cerai ini sah? Kalau sudah dibubuhkan stempel resmi, lalu suamiku menandatanganinya, apakah itu cukup untuk berlaku?” tanyaku hati-hati.

Pengacara itu mengerutkan kening, seolah tak percaya aku sudah menikah. Dia menunduk, memeriksa berkas yang kubawa dengan teliti.

“Nggak ada masalah dengan berkas ini…”

Jawaban itu membuatku menghela napas lega.

'Tritan, biarlah pernikahan kita berakhir diam-diam seperti ini.'

Saat kembali ke kediaman Keluarga Wirajaya dengan berkas di tangan, para penjaga di depan pintu tetap saja memperlakukanku seolah aku tak pernah ada. Wajar saja, Tritan memang tak pernah mengumumkan aku sebagai istrinya.

Bagi mereka, aku hanya mahasiswi miskin yang kebetulan ditolong tuannya.

Di vila semegah ini, aku bukan siapa-siapa. Bahkan, di mata Tritan sendiri… mungkin aku juga tak pernah benar-benar dianggap sebagai istrinya. Mungkin aku dikira adalah mahasiswi miskin yang dibiayai hidupku oleh Tritan.

Klik...

Aku membuka pintu ruang kerja. Dan duniaku berhenti.

Renata Kusuma ada di sana.

Dia duduk manis di sofa, sementara Tritan menyuapkan biskuit kaviar ke mulutnya. Renata membuka mulut manja, menerima suapan itu. Mereka saling tatap, bertukar senyum intim.

Kaviar.

Makanan yang dulu paling Tritan benci. Dia pernah melarang keras makanan itu masuk rumah. Dia bahkan melarang ada makanan apapun di ruang kerjanya. Ini aturan yang dia tetapkan sejak awal pernikahan kami.

Tapi sekarang? Renata bisa dengan bebas melahapnya di sana, di ruang kerja yang dulu kusebut wilayah terlarang.

Bukankah itu berarti, dia jauh lebih penting daripada aku?

Aku sebenarnya sudah tahu sejak sebulan lalu.

Namun tetap saja, saat sekali lagi dibandingkan dan kalah, hatiku dipenuhi kekecewaan.

Aku menekan getir, berusaha menampilkan wajah tenang.

“Tritan, ini formulir pemeriksaan kesehatan dari kampus. Tolong tanda tangani,” ucapku lirih, meletakkan berkas di meja kerjanya.

Formulir pemeriksaan kutaruh paling atas, sementara surat cerai kusembunyikan di bawahnya, hanya menyisakan sudut kertas agar tak jelas terlihat.

Renata menoleh begitu melihatku datang. Dia bangkit dengan senyum ramah.

“Isabel…kamu sudah pulang? Aku sama Tritan lagi bahas menu makan malam. Mau ikutan?” katanya sambil merangkul lengan Tritan seolah menantangku.

Tatapan Tritan sempat jatuh pada berkas itu. Namun sebelum sempat membaca, Renata menyelipkan senyumnya yang santai.

“Cuma formulir pemeriksaan kesehatan saja, ‘kan? Untuk apa dilihat lagi? Tritan, Tritan… caramu memperlakukan Isabel terlalu keras. Sama sekali nggak kayak suami, lebih mirip kakak atau orang tua yang suka ngatur.”

Tritan terdiam. Lalu meletakkan formulir dan menandatangani.

“Benarkah? Aku nggak seperti itu.”

Degup jantungku melonjak saat dia meletakkan pena-nya. Aku menahan kebahagiaanku, buru-buru melipat berkas itu, menyelipkannya ke dalam tas.

“Makasih, maaf merepotkan...” ucapku cepat, tak berani menatapnya lebih lama.

Aku segera keluar. Ujung jariku bergetar, jantungku berdebar tak karuan.

Tritan sudah menandatangani.

Artinya… aku bisa benar-benar melepaskan diri dari pernikahan ini, melepaskan diri darinya.

Pernikahan kami sejak awal hanyalah sebuah kesalahan.

Ayahku, sopir pribadi Pak Niko, kakek Tritan. Dalam jebakan yang dibuat pesaing bisnis, ayahku mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Pak Niko hingga akhirnya meninggal. Sebagai balas budi, Keluarga Wirajaya membesarkanku.

Sepuluh tahun lalu, Pak Niko meninggal.

Sejak itu, aku tinggal bersama Tritan, pria sepuluh tahun lebih tua dariku.

Sikapnya selalu dingin dan tegas, nyaris tak pernah menyingkap senyum. Dalam dunia bisnis, namanya terkenal karena ketajaman dan kekejamannya. Setiap orang yang pernah berurusan dengannya selalu dibuat gentar sekaligus kagum.

Aku menganggapnya seperti kakak, mengagumi dan menyukainya diam-diam. Namun perasaan itu selalu kusembunyikan, terkunci rapat jauh di dalam hati.

Kami jarang berinteraksi, hingga suatu malam di pesta keluarga, dia mabuk dan masuk ke kamarku… malam itu mengubah segalanya.

Dia memilih bertanggung jawab, kami pun menikah.

Awalnya, aku mengira itu adalah awal kebahagiaan.

Namun perlahan, aku sadar semua itu hanyalah fatamorgana.

Sejak Renata kembali dari luar negeri, sikap Tritan padaku semakin dingin.

Dan kini… akhirnya aku menutup bab itu, merebut kembali kebebasanku.

Aku menggenggam erat berkas itu, seakan sedang memegang kunci menuju kebebasan yang selama ini kurindukan.

Bab 2

Renata bilang apartemennya sedang direnovasi, jadi untuk sementara dia akan menumpang di kamar tamu Keluarga Wirajaya.

Tritan mengiyakan dengan alasan yang terdengar dibuat-buat.

“Keluarga Kusuma sudah lama jadi mitra bisnis kita, nggak bisa diabaikan.”

Aku cuma bisa menghela napas. Alasan muluk seperti itu keluar dari mulutnya tanpa menanyakan pendapatku seolah aku memang tak pernah ada.

Begitulah akhirnya Renata masuk ke kediaman kami secara terang-terangan. Dia bebas berjalan di vila, bertingkah layaknya nyonya rumah. Sering kulihat dia lalu-lalang di ruang tamu hanya memakai piyama seksi, tanpa sungkan menyela percakapan antara aku dan Tritan. Dan Tritan? Dia tampak tak keberatan. Malah menikmati kedekatannya.

Suatu hari, saat lewat depan pintu ruang kerja, kudengar tawa Renata. Dari celah pintu kulihat dia duduk di samping Tritan. Mereka menunduk membahas dokumen, sangat dekat. Bibir merahnya nyaris menyentuh daun telinga Tritan.

“Tritan, kamu masih ingat, ‘kan? Dulu kamu pernah bantu aku ngerjain tugas matematika,” ucap Renata dengan tawa manja.

Tritan ikut tertawa.

“Gimana bisa lupa! Waktu itu nilai matematikamu parah banget, terpaksa deh aku bantu.”

Suaranya begitu lembut, sesuatu yang tak pernah kudengar darinya sebelumnya. Hatiku tiba-tiba terasa berat, membuatku enggan masuk.

Aku berbalik hendak pergi, tapi sudah terlambat. Tritan melihatku.

“Isabel, kamu datang tepat waktu. Renata usulkan mau pasang ayunan di taman,” katanya sambil melambaikan tangan.

“Ayo, kita diskusikan model ayunannya. Kamu suka yang seperti apa?”

Aku masuk dengan langkah berat.

“Oh, terserah saja… Aku masih harus menyelesaikan skripsi. Kalian bahas sendiri saja,” jawabku sambil menggaruk kepala. Aku akan segera pergi dari sini, lagi pula model ayunan itu bukan untukku, jadi itu tidak penting bagiku.

Renata menyungging senyum manja.

“Skripsi? Apa itu? Oh, aku ingat… dulu aku juga pernah nulis, tapi waktu itu Tritan yang buatkan. Minta tolong saja sama Tritan, dia hebat, lho!”

Tritan menatapku sesaat, seolah menunggu aku minta tolong. Namun aku tak butuh bantuannya. Aku bisa menyelesaikannya sendiri.

“Nggak perlu. Aku bisa sendiri,” jawabku lalu segera pergi, dada sesak seperti ada batu besar menekan hingga aku sesak napas.

Malam itu Tritan kembali ke kamar cukup larut. Ada aroma parfum samar di tubuhnya, persis yang biasa dipakai Renata. Aku pura-pura tertidur saat dia berbaring di samping, tangannya menyentuh pinggangku, bibirnya menyentuh leher. Tubuhku tegang, perasaan campur aduk.

Aku ingin menolak, tapi tubuhku seolah tak mau menurut. Tiga tahun bersama, aku terbiasa dengan sentuhannya, terbiasa dengan kehadirannya di dekatku. Namun malam itu… perutku mual, hampir membuatku muntah.

“Ada apa?” Tritan menyadari ada yang berbeda pada diriku, lalu bertanya lembut.

“Nggak apa-apa… mungkin cuma salah makan,” jawabku pelan, menyingkirkan tubuhnya.

Tritan tak berkata apa-apa lagi, hanya menepuk punggungku dengan lembut.

Napasnya dekat, membuat hatiku campur aduk.

Lalu tiba-tiba terdengar keributan dari bawah, teriakan Renata.

“Tritan! Lampu tiba-tiba mati, sepertinya ada orang masuk ke kamar!”

Tritan langsung turun, buru-buru mengenakan pakaian, berlari ke lantai bawah. Setengah jam kemudian dia kembali. Ternyata hanya bohlam korsleting dan seekor kucing liar. Tapi reaksinya begitu panik, seolah Renata yang paling penting baginya.

...

Keesokan paginya, aku bangun lebih awal, bersiap ke laboratorium. Tritan masih tertidur, Renata pun belum muncul. Aku sedikit lega. Namun saat aku melangkah ke ruang tamu, kusadari tasku tertinggal. Di dalamnya berkas surat cerai yang sudah ditandatangani dan formulir permohonan penelitian ke Norevia.

Saat hendak mengambilnya, terdengar suara Tritan dari belakang.

“Isabel, apa yang tertinggal?”

Aku berbalik, melihatnya memegang berkas. Wajahku memucat.

“Itu punyaku…”

Aku terbata-bata, berusaha menjelaskan.

“Ini apa? Formulir permohonan penelitian ke Norevia?” Tritan menatap berkas itu sebentar, lalu wajahnya berubah drastis.

“Kamu mau ke Norevia? Kapan? Aku nggak izinkan!”

“Oh, itu cuma formulir yang kubawa untuk temanku.” Aku berdalih canggung.

“Noveria, ya… kamu ‘kan nggak suka iklim di sana,” katanya datar, seolah tak peduli sama sekali.

Namun kata-katanya menusuk hatiku seperti pisau tajam.

Dulu kami pernah pergi berbulan madu ke Norevia, dan saat itu aku bahkan sempat memberitahunya bahwa aku menyukai suasana di sana.

Tapi sekarang… dia sudah tak mengingatnya, atau mungkin dari awal, dia memang tak pernah benar-benar peduli.

Tiba-tiba Tritan mengalihkan pembicaraan.

“Ngomong-ngomong, kalau kamu masih mau lanjut penelitian… Wirajaya Medical Center akan buka posisi kepala peneliti. Aku mau kamu mengisinya. Begitu lulus, kamu bisa langsung mulai.”

Aku terkejut, lalu menggeleng.

“Nggak perlu. Aku punya rencanaku sendiri.”

Kenyataannya, kemampuan risetku diakui semua dosen. Aku tak butuh hidup di bawah bayang-bayang ‘kebaikan’ atau ‘tawaran’-nya.

Bab 3

Permohonan riset empat tahun ke Norevia dari kampus akhirnya disetujui.

Aku berpikir, mungkin menjauh dari Tritan dan Renata adalah satu-satunya cara untuk menemukan kembali diriku yang dulu.

Sebenarnya, saat pertama kali kusadari ada kedekatan di antara mereka, aku pernah berusaha mempertahankan rumah tangga ini. Aku terus meyakinkan diri.

“Mungkin aku yang kebanyakan pikiran. Mungkin mereka cuma teman baik.”

Namun tiap kali melihat senyum di wajahnya saat bersama Renata, tiap kali mendengar bisik-bisik mesra mereka, hatiku seakan ditusuk-tusuk oleh pisau tumpul.

Aku tahu, aku tak bisa menipu diri sendiri lagi.

Kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya saat bersama Renata… itu bukan sandiwara. Itu nyata. Ekspresi yang tak pernah sekalipun kulihat ketika kami sedang bersama.

Jadi ketika tawaran riset ke Norevia datang untuk kedua kalinya, aku tak menolak. Sudah waktunya pergi.

Hari itu aku bangun lebih pagi dari biasanya. Aku mulai merapikan barang-barang. Pakaian, buku, kosmetik, semua masuk koper satu per satu.

Aku berjalan ke ruang tamu, menyingkirkan foto dan pajangan. Mataku terhenti pada bingkai kristal yang memajang foto pernikahan kami, senyum kami yang dulu manis sekali, seolah dunia sedang merayakan. Kini semuanya terasa asing. Aku menarik napas panjang, lalu melemparkan foto itu ke tempat sampah.

Lima tahun pernikahan... berakhir seperti ini.

Minggu berikutnya kuhabiskan untuk menyelesaikan tesis dan persiapan penelitian. Komunikasi dengannya nyaris terputus. Aku menunggu saja sampai akta cerai resmi keluar. Aneh... hari-hari itu justru terasa lebih ringan.

Suatu sore, ketika keluar dari laboratorium, ponselku berdering. Nama Tritan muncul di layar.

“Isabel, sudah selesai? Aku jemput, ya.” Suaranya rendah, lembut, seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara kami.

Aku terdiam, lalu menjawab pelan, “Baik.”

Setengah jam kemudian, mobilnya menepi di depan gedung. Aku masuk, duduk membisu. Tritan menoleh sebentar.

“Akhir-akhir ini kamu sibuk?” tanyanya.

“Ya, jadwal peneletian lagi padat,” jawabku datar. Bagaimanapun, sebentar lagi aku akan pergi. Semua pekerjaan harus beres sebelum itu.

“Oh iya… bulan depan Renata mau pindah. Katanya… takut ganggu kamu,” ucapnya hati-hati.

Seketika aku menunduk.

“Oh, begitu? Katakan padanya nggak masalah, kok. Aku nggak keberatan.”

Tritan tampak terkejut mendengar responku. Tatapannya sempat berhenti padaku, seolah ingin berkata sesuatu lagi, tapi urung. Aku menutup mata, berpura-pura tertidur.

Keesokan harinya, sesuatu yang tak terduga terjadi. Aku merasa tak enak badan, dan menstruasi terlambat. Aku memutuskan periksa ke rumah sakit.

Setelah serangkaian pemeriksaan, dokter menatap hasil USG lalu menatapku di balik kacamatanya.

“Selamat. Usia kandungan Ibu sudah dua setengah bulan.”

Kata-kata itu menghantamku seperti benda berat. Anak ini... mungkin buah dari pertemuan terakhirku dan Tritan, sebelum Renata hadir dalam hidup kami.

Kulangkahkan kaki keluar ruang pemeriksaan, berniat memberi tahu Tritan. Belum sempat telepon tersambung, kulihat dia memasuki rumah sakit. Di sisinya Renata melangkah tenang, berselimutkan mantel miliknya.

Suara dokter dari balik pintu terdengar jelas di telingaku.

“Ibu baru hamil, banyak istirahat, jangan lakukan aktivitas berat.”

Renata juga hamil?

Tubuhku membeku. Ada sesuatu yang meremas dadaku sampai kata-kata tak lagi mau keluar.

Tritan menoleh dan melihatku. Sekilas wajahnya terkejut, lalu buru-buru menghampiri.

“Isabel? Kenapa kamu di sini?”

Aku hanya menatapnya, dadaku terasa seperti dihantam palu godam.

“Aku…” Bibirku bergetar, suaraku tercekat tak keluar.

Haruskah kukatakan? Haruskah kuberitahu kalau aku juga sedang hamil?

Namun… aku dan Renata hamil di waktu yang sama. Apa dia akan memilihku?

Tidak. Dia tak akan memilihku.

Lalu untuk apa kuberitahu?

Melihat aku tak menjawab, Tritan mengulang, “Isabel, kenapa kamu di rumah sakit?”

Wajahnya penuh khawatir.

“Aku… aku nggak apa-apa. Cuma belakangan sering sakit kepala.” jawabku serak, menunduk, berusaha menyembunyikan gemetar di mataku.

Tritan mengulurkan tangan hendak menggenggamku, tapi aku menepisnya.

Tanganku gemetar, memeluk erat kertas hasil USG yang cepat-cepat kuselipkan ke dalam tas.

“Aku masih ada urusan. Aku pergi dulu.”

“Isabel, tunggu! Dengar dulu penjelasanku!” Tritan segera mengejarku, suaranya panik.

“Jangan sentuh aku!” Aku membentak dengan nada dingin, lalu berbalik dan berlari tanpa menoleh.

Namun di saat yang sama, Renata menggenggam lengan Tritan.

“Tritan! Kamu sudah janji padaku… Jangan biarkan orang lain tahu tentang hal ini…”

Tubuh Tritan seketika kaku seolah tersengat listrik. Langkahnya terhenti, tangannya jatuh lemas di sisi tubuhnya.

Aku tak menoleh.

Aku hanya berbalik melangkah pergi dengan punggung yang dingin.

Angin malam menusuk wajahku seperti bilah pisau, persis seperti rasa perih yang menjerat hatiku. Getir, pedih, dan hampa.

Diam-Diam Kuserahkan Surat Cerai

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya