Bab 1

Aku mengetahui bahwa aku hamil pada waktu yang sama dengan Rosa, kekasih masa kecil suamiku yang seorang mafia.

Demi melindungi bayi Rosa agar tidak digugurkan oleh orang tuanya, suamiku mengakui bayi itu sebagai anaknya.

Lalu bayiku? Dia membujukku dengan janji bahwa dia akan mengakuinya setelah bayi Rosa lahir.

Aku menantangnya dan menuntut penjelasan mengapa dia tega melakukan hal itu kepadaku.

Jawabannya dingin dan tak tergoyahkan. "Mengakui bayi Rosa sebagai anakku adalah satu-satunya cara untuk melindungi mereka berdua. Aku nggak akan membiarkan sesuatu terjadi pada dia atau anak itu."

Saat itu, ketika aku menatap pria yang telah kucintai selama sepuluh tahun, aku menyadari bahwa cintaku padanya telah mati.

Tak lama kemudian, keluargaku mengutukku dan menyebutku perempuan jalang karena mengandung anak tanpa ayah dan memaksaku untuk menggugurkannya.

Sementara itu, suamiku berada di kota lain, mendampingi kekasihnya menjalani masa kehamilan. Ketika dia kembali, aku sudah pergi.

POV Isabel:

Aku mengetahui bahwa suamiku sedang menemani kekasih masa kecilnya, Rosa, untuk pemeriksaan kehamilan di rumah sakit langgananku siang ini.

"Vincent, bayi kita kelihatan lucu banget di monitor."

Dari celah pintu, aku melihat wajah Vincent berseri-seri dengan senyuman. Rosa menunjuk ke arah monitor dan Vincent mengangguk, membalas senyumnya.

Kalau aku tidak tahu bahwa pria itu adalah suamiku, ayah dari bayiku, aku pasti mengira mereka adalah sepasang kekasih yang bahagia dan sedang jatuh cinta.

"Isabel Chandra? Dokter sudah siap untuk pemeriksaan Ibu," panggil perawat.

Vincent menoleh, wajahnya mendadak pucat, matanya menyapu lorong. Dia pasti mendengar namaku.

Saat pandangannya bertemu denganku, mulutnya terbuka, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar.

Aku telah menikah dengan Vincent Farhan, suamiku yang seorang mafia, selama hampir sepuluh tahun. Tahun ini, aku akhirnya hamil anaknya. Dia, lebih dari siapa pun, seharusnya tahu betapa sulitnya aku mendapatkan kehamilan ini. Bagaimana mungkin dia tega melakukan ini kepadaku?

Aku melangkah perlahan ke arahnya, dengan hati yang mendidih karena amarah, kemarahan, dan kesedihan yang dalam saat menyadari betapa aku telah dibohongi.

"Jadi ini alasan kamu bilang nggak bisa datang ke pemeriksaanku hari ini?" Aku mencoba menjaga nada suaraku tetap tenang, tetapi amarahku meluap, tidak bisa kukendalikan.

Tanpa pikir panjang, aku mengangkat tanganku dan menampar Vincent dengan keras.

Itu adalah pertama kalinya aku meluapkan emosi seperti ini kepadanya. Namun, bahkan setelah aku menamparnya, dia tetap berdiri di sana, diam, dan menghindari tatapanku.

"Diam aja nggak bakal membantu, Vincent. Kamu berutang penjelasan sama aku."

Vincent tidak bergerak, tetapi Rosa, yang berdiri di belakangnya, melangkah maju dan berdiri di antara kami seolah ingin melindunginya dari amarahku.

"Bu Isabel ya?" ucapnya dengan suara gemetar. "Salahkan semuanya ke aku. Vincent nggak salah apa-apa."

"Itu kesalahanku, Isabel. Aku yang hamil."

"Menyalahkan semuanya ke kamu?" ejekku, nada suaraku penuh kepahitan.

Aku perempuan yang kuat, tetapi tetap saja, air mata mengalir di wajahku.

Seakan tangisku membangkitkan sesuatu dalam dirinya, Vincent akhirnya melangkah melewati Rosa dan menarikku ke dalam pelukannya.

"Jangan nangis, Isabel. Bayinya bukan anakku," bisiknya lirih.

Aku terdiam. Apa?

Kemudian, Rosa bicara. Dia berkedip manja ke arah Vincent dengan mata bulat polosnya. "Vincent, bukannya kamu janji bakal lindungi bayiku dengan ngakuin itu anak kamu? Kenapa kamu bilang ke dia sekarang?"

Melindungi bayinya? Apa-apaan ini?

Aku melepaskan diri dari pelukan Vincent dan menatapnya. "Apa-apaan ini, Vincent? Maksudnya apa sih dia ngomong kayak gitu?"

"Vincent!" Rosa ikut memanggil, jelas berusaha menghentikannya bicara lebih jauh.

Namun, Vincent tidak ragu. "Isabel itu istriku. Dia pantas tahu."

"Baiklah," kata Rosa sambil menatapku, matanya berlinang air mata. "Kalau kamu memang perlu tahu, Isabel .... Vincent memutuskan untuk mengakui bayiku sebagai anaknya, jadi mungkin dia nggak bisa ngakuin anakmu."

Wajah Vincent kembali pucat, tetapi dia tetap diam, tidak membantah.

"Tapi tenang saja," lanjut Rosa, nada suaranya mendadak manis saat dia mengulurkan tangan seolah ingin menyentuhku. "Vincent bilang dia bakal adopsi anakmu setelah kamu melahirkan."

"Anak kita bakal pakai nama Keluarga Farhan," tambahnya, suaranya seolah-olah tulus, meski terdengar palsu.

Aku bersumpah melihat senyum sinis sekilas di bibirnya, tetapi menghilang sebelum aku memastikannya.

Aku menatap Vincent. Dia masih diam, menunduk seolah tidak sanggup menatap mataku.

"Ini benar, Vincent?" Suaraku bergetar saat memaksakan diri untuk bertanya. "Kamu rela ninggalin anak kita demi selamatin anak dia?"

"Aku minta maaf, Isabel," bisiknya, suaranya serak nyaris tak terdengar.

Air mata kembali menggenang. "Anaknya sebegitu penting buat kamu sampai kamu tega ninggalin anak kita?"

Vincent ragu sejenak dan keheningan itu terasa seperti pisau yang melukai dadaku.

"Kamu nggak ngerti soal keluarganya Rosa," ucapnya pelan dan hati-hati. "Orang tuanya Rosa nggak bakal berani menentangku. Tapi mereka sudah bilang, mereka cuma mau terima anak itu sebagai cucu kalau aku nggak punya pewaris lain."

"Jadi aku nggak bisa mengakui anak kita sekarang, setidaknya sampai bayi Rosa lahir." Dia menatapku seolah dia sedang memperjuangkan sesuatu yang mulia, seakan setiap kata yang dia ucapkan bisa dibenarkan.

Namun, logikanya nyaris terdengar seperti lelucon.

Satu hal yang benar dari Vincent adalah tidak ada yang berani menantangnya, setidaknya di wilayah selatan. Dia adalah bos mafia, terlibat dalam perdagangan senjata dan narkoba.

Meskipun keluargaku juga terlibat dengan dunia mafia, mereka hanya sebatas pemilik beberapa kasino. Kami tidak sebanding dengannya.

Itulah sebabnya, saat orang tuaku tahu bahwa aku adalah kekasihnya, mereka langsung menyeretku ke altar untuk menikah dengannya.

Vincent, yang biasanya dingin dan berwibawa, hanya menunjukkan sisi lembutnya kepadaku. Namun, hari ini, aku melihat dia melakukan hal yang sama untuk Rosa.

Dia kembali mencoba meraihku, kedua lengannya terentang, mencoba memelukku. "Jangan khawatir. Aku nggak bakal biarin anak kita tumbuh tanpa seorang ayah. Percaya sama aku ya? Begitu bayi Rosa lahir, aku bakal bersihkan namamu."

....

Setelah pemeriksaan selesai, Vincent bersikeras mengajakku makan malam. Rosa dengan senang hati ikut. Dia bilang senang karena sekarang dia tidak jadi satu-satunya yang sedang hamil, tetapi aku bisa melihat betapa palsunya sikap itu.

Dia terlalu berusaha tampil sebagai sahabat yang perhatian dan peduli.

"Gimana kalau ke tempat biasa? Aku sudah ngidam makanan di sana dari kemarin," usul Rosa, bahkan sebelum aku duduk dengan nyaman.

Vincent terdengar terlalu bersemangat. "Kedengarannya enak. Ayo ke tempat di Jalan Avenue itu."

Aku menjaga wajahku tetap tenang, meski perutku terasa mual karena gelisah. Rosa menyembunyikan sesuatu dari senyum yang terlalu cerah itu.

Rosa duduk di kursi belakang, tangannya refleks meraih tangan Vincent. "Aku pikir ... gimana kalau setelah makan kita mampir beli baju bayi? Aku belum ketemu yang pas banget."

"Kamu nggak keberatan, 'kan, Isabel?" Dia menoleh ke arahku dengan tatapan menantang. "Sekarang aku sendirian. Vincent satu-satunya yang bisa kuandalkan."

Konyol sekali. Suamiku lebih terlihat seperti pasangan Rosa daripada pasanganku.

"Kamu marah, ya, Isabel?" Rosa berkedip ke arahku, matanya lebar dan polos, tetapi sinarnya menyimpan sesuatu yang jauh dari kepolosan. "Kalau kamu mau ikut juga nggak apa-apa kok."

"Ngapain? Aku sudah siapin baju bayi di rumah." Aku sudah muak meladeni permainan ini.

Saat mobil akhirnya berhenti, aku keluar dan mendapati diriku berdiri di depan restoran Jepang yang terkenal dengan sashimi dan sushi.

Apa Vincent lupa kalau aku tidak pernah makan seafood mentah? Lupa bahwa sejak aku hamil, baunya saja bisa membuatku ingin muntah?

Bab 2

POV Isabel:

"Aku nggak mau makan seafood."

Kemudian, seolah tiba-tiba teringat sesuatu, nada suara Vincent berubah. "Oh, iya. Kamu sebaiknya nggak makan sashimi. Aku baru ingat kamu alergi atau semacamnya, 'kan?"

"Maaf, Isabel." Rosa melirikku. "Aku ngidam sashimi sejak hamil," tambahnya sambil mengangkat bahu. "Tapi kalau kamu nggak mood makan seafood, kita bisa pindah ke restoran lain."

Vincent tampak ragu saat menatapku, jelas terlihat bingung harus bagaimana. "Gimana kalau kita tetap pergi dan biarkan Rosa pilih tempatnya, nanti aku ajak kamu makan di restoran yang kamu suka?"

Aku menatap mereka bergantian. Sikap ngotot Vincent terasa janggal dan kepura-puraan Rosa yang terkesan peduli justru membuatku merasa lebih terekspos.

Aku tetap diam, menolak tanpa kata. Apakah dia akan pergi bersamaku setelah mengingat bahwa aku benci seafood?

Namun, waktu terus berlalu dan Vincent tetap diam. Tatapannya berpindah-pindah antara Rosa dan aku, penuh keraguan.

Kesabaranku habis. Tanpa sepatah kata pun, aku berbalik dan menghentikan taksi. "Lupakan saja. Aku makan di rumah saja."

Suara Vincent mengikutiku, tajam karena kesal, bukan karena khawatir. "Isabel, jangan bikin drama. Kita lagi di tempat umum."

Aku tidak menggubris. Aku buka pintu mobil dan sebelum masuk, aku melemparkan kalimat terakhir dari balik bahu.

"Selamat menikmati makan malam kalian."

Kemudian, aku masuk dan membanting pintu sebelum Vincent sempat bicara lagi. Sopir taksi bahkan belum sempat bertanya mau ke mana ketika aku menyebutkan alamat vila dengan lantang. Kedua tanganku mengepal di pangkuan dan jantungku berdegup keras. Bukan hanya karena marah, tetapi karena sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang lebih buruk.

Vincent tidak mengejarku. Dia bahkan tidak mencoba.

Itu sudah cukup memberi tahu segalanya.

Aku adalah istrinya, istrinya yang sedang hamil, tetapi sejak dia memutuskan untuk melindungi bayi Rosa, aku dan bayiku seolah tak terlihat di matanya.

Bayi ini dulu adalah harapan dan impianku, setelah bertahun-tahun menanti.

Namun sekarang? Sekarang, aku rasa tidak. Aku telah melakukan kesalahan.

Aku seharusnya tidak punya anak ini kalau tahu dia akan lahir di keluarga seperti ini, keluarga di mana ayahnya lebih peduli pada anak orang lain dibandingkan anak kandungnya sendiri.

Vincent kembali ke vila saat aku mengira aku sudah bisa istirahat. Wajahnya tampak kusut, jelas sedang terbebani sesuatu.

Dia langsung berlutut di hadapanku dan dengan gaya seolah menjelaskan sebuah misi mulia, dia berkata, "Sayang, jangan marah ya?"

Dari penjelasannya, Vincent juga sempat dijebak oleh Rosa. Saat itu dia sedang di mobil, menelepon untuk menegosiasikan kesepakatan senjata dengan Negara Afrian, ketika Rosa muncul dengan mata bengkak karena menangis.

Dia tidak punya pilihan selain menghiburnya. Bagaimanapun, mereka tumbuh bersama. Rosa adalah cinta masa kecilnya dan orang tua mereka juga berteman.

Rosa bilang kalau orang tuanya tahu dia hamil, mereka akan memaksanya untuk menggugurkan kandungan. Dia ingin mempertahankan bayinya.

Vincent tidak bisa membiarkannya kehilangan anak itu, jadi dia setuju untuk pura-pura menjadi ayah dari bayi itu, setidaknya untuk sementara. Ternyata, saat orang tua Rosa mendengar kabar itu, mereka sama sekali tidak marah.

Lagi pula, siapa yang tidak mau punya cucu dari seorang Vincent Farhan?

"Isabel, aku benar-benar butuh kamu percaya sama aku," katanya, terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Anggap saja kita menyelamatkan satu nyawa. Kalau aku nggak bantu, bayi Rosa bakal digugurkan begitu orang tuanya tahu."

"Terus ...?" Aku memotong ucapannya. "Jadi kamu sudah mutusin buat bikin anak kita tumbuh tanpa seorang ayah? Anak kita bakal jadi anak haram, mungkin lahir tanpa nama, tanpa keluarga untuk membelanya?"

Vincent menggenggam tanganku dan menempelkannya ke bibirnya. "Maaf, Isabel. Tolong bersabar sedikit lagi. Setelah Rosa melahirkan, aku akan bawa anak kita pulang dan mengakuinya sebagai anakku."

"Aku nggak tega lihat Rosa menderita."

Aku menarik napas dalam. "Kalau begitu, mungkin anak kita nggak perlu dilahirkan."

"Nggak!" Vincent berdiri, wajahnya menegang karena marah. "Kenapa kamu nggak bisa ngerti sih? Aku sudah bilang, aku akan akui anak kita setelah anak Rosa lahir. Kenapa kamu harus sekeras kepala ini? Kamu jangan menyerah sama anak kita dan aku juga akan bantu urus anak Rosa. Selesai."

Kemudian, begitu saja, dia pergi. Seolah tak terjadi apa-apa.

Keesokan harinya, Vincent mengirim selusin pengawal untuk menjaga vila dan selusin pelayan untuk membantuku. Aku tahu maksudnya. Mengawasi agar aku tidak melakukan sesuatu yang membahayakan bayi kami.

Dia takut.

Dia bahkan mengambil ponselku, memutus semua jalur untuk melarikan diri.

Kenapa bersikeras mempertahankan bayi kami kalau dia sendiri sudah memilih bayi Rosa lebih dulu?

Apa Vincent benar-benar menganggap aku selemah itu, sampai bisa seenaknya diperlakukan begitu?

Persetan dengannya. Aku bukan boneka dan aku tidak akan diam saja menerima semua omong kosongnya.

....

Waktu berlalu. Aku terjebak di sini dan menurut Vincent, aku sedang "menikmati" kehamilanku.

Suatu pagi, setelah selesai sarapan, aku mendengar pintu depan terbuka. Rosa berdiri di sana bersama seorang perempuan yang tak kukenal.

Begitu melihatku, perempuan itu langsung menyemburkan sarkasme. "Seseorang tampaknya sangat percaya diri. Kenapa masih nempel dengan gelar Nyonya Farhan kalau jelas-jelas kamu main serong dan hamil? Memalukan banget."

"Kasihan anak perempuanku," ujarnya manja. "Kamu pasti sangat menderita, Rosa."

Itu ibunya Rosa? Apa maksudnya aku yang selingkuh dan hamil?

Aku hamil anak Vincent, bukan dia. Justru Rosa yang berselingkuh dan akhirnya hamil.

Aku menyaksikan lebih banyak orang masuk membawa koper dan kotak. Rosa bertingkah seperti pemilik rumah, menyuruh-nyuruh para pelayan dan pekerja sambil memindahkan barang-barangnya ke salah satu kamar kosong. Setelah selesai, dia menatapku dengan senyum sinis.

"Isabel," ejeknya. "Kamu pikir kamu menang karena menikah dengan Vincent ya? Lihat aku sekarang. Aku berdiri di sini, sebentar lagi akan tidur di ranjang yang dia belikan untuk vila ini."

"Kamu bukan siapa-siapa, Isabel."

Aku menatapnya tertawa, suaranya penuh racun. Aku tidak bisa menahan amarah lagi. Aku berjalan ke arahnya, langkah demi langkah, lalu menampar wajahnya sekuat tenaga.

Dia menjerit dan terjatuh ke sofa di belakangnya.

Saat itu juga, Vincent masuk, menyaksikan kejadian tersebut. Namun, aku belum selesai dengan Rosa. Aku sudah terlalu lama menahan ejekannya, tetapi itu bukan berarti dia bisa terus menginjakku.

Bab 3

POV Isabel:

Aku melangkah mendekati Rosa, siap menamparnya sekali lagi. Vincent buru-buru maju, menahan tanganku. "Apa yang kamu lakukan?"

"Itu salahku, Vincent. Isabel berhak marah padaku. Pertama, aku memintamu menemaniku periksa kehamilan, lalu aku pindah ke sini." Rosa kembali memasang wajah polosnya. "Ini semua salahku. Aku seharusnya pergi. Aku nggak seharusnya datang hari ini."

'Silakan pergi saja.' Pikiran itu melintas dalam benakku.

Yang mengejutkanku, Vincent, yang barusan mencoba menghentikanku, malah berkata, "Aku setuju. Kamu harus pergi, Rosa. Aku nggak akan mengusir istriku dari rumah ini."

Aku tertegun. Setelah semua yang terjadi, aku kira dia akan membentakku, menyuruhku pergi.

Rosa juga tampak terkejut, tetapi dalam hitungan detik, air mata mulai mengalir di pipinya. "Aduh, perutku sakit sekali. Apa bayinya marah padaku?"

Sekali lagi, aku menyaksikan ekspresi serius Vincent melembut. Tangannya melayang di atas perut Rosa, seolah-olah dia adalah sesuatu yang paling rapuh di dunia. Darahku mendidih melihatnya.

Cara dia selalu luluh setiap kali Rosa berpura-pura menjadi korban benar-benar membuatku muak.

"Vincent," ucapku dengan rahang mengeras. "Kamu nggak mungkin percaya sama dia, 'kan?"

Namun, dia tidak menoleh padaku, perhatiannya hanya tertuju pada Rosa. "Dia kesakitan," katanya lembut, seolah kata-kata itu hanya untuk Rosa. "Jangan bikin semuanya tambah parah."

Hanya dengan begitu saja, Rosa tetap tinggal. Kamarku jadi miliknya dan aku disuruh pindah ke lantai satu, ke kamar kecil di sebelah kamar pengasuh.

Vincent mencoba menenangkanku. "Cuma sampai perutnya tenang. Aku janji, kamu bakal balik ke kamar itu secepatnya ya?"

Lagi-lagi, aku disuruh bersabar.

Namun, yang Vincent tidak tahu, aku sudah tidak ingin punya anak ini lagi.

Seorang anak yang lahir tanpa sosok ayah di sisinya, tanpa keluarga yang mencintainya dan merawatnya. Untuk apa kehidupan seperti itu hadir ke dunia?

Tidak perlu ada jiwa lagi yang menderita di rumah ini.

....

Setelah hari kepindahan yang dramatis itu, Rosa pun menetap, tetapi aku tidak pernah melihatnya. Seolah-olah tidak ada yang berubah.

Sementara dia mungkin sedang menikmati ruang barunya, aku sibuk mencari cara untuk menghubungi dunia luar. Vincent masih belum mengembalikan ponselku.

Aku bahkan sempat mencoba bernegosiasi dengan Rosa, mengatakan bahwa jika dia membantuku, aku akan pergi dari sini untuk selamanya, memberikan Vincent sepenuhnya padanya.

Namun, dia hanya memandangku dengan jijik.

"Kamu pikir aku menginginkan Vincent? Astaga, Isabel, aku harus akui. Kadang aku nyaris mengagumimu. Usaha yang kamu lakukan, akting polosmu yang begitu sempurna, nyaris membuatku iba."

Aku salah menilai Rosa. Kukira dia hanya menginginkan Vincent dan dia akan membantuku pergi. Namun, aku salah. Dia bukan mengincar Vincent, dia mengincar kendali. Bagi Rosa, kami hanyalah tontonan, sebuah pertunjukan yang bisa dia putar sesuka hati demi hiburannya.

Kedalaman rencana jahatnya jauh lebih dari yang pernah kubayangkan. Dia benar-benar membuatku muak.

Setiap hari, Vincent pulang, memeriksa kondisi bayi Rosa, bertingkah seolah seperti ayah yang sempurna, bermain dengan anak yang bahkan bukan darah dagingnya.

Namun kebalikannya? Dia hanya mengetuk pintu kamar, melihat aku sudah berbaring, lalu menutupnya lagi tanpa sepatah kata pun. Dia tidak pernah bicara pada bayiku. Dia tidak pernah meluangkan waktu.

Kamarku sekarang bahkan lebih sempit dari kamar pengasuh. Hanya ada satu ranjang kecil. Bahkan tidak ada tempat untuk duduk.

Semua kamar di rumah ini telah diklaim Rosa. Satu untuk bayinya, satu untuk menari, satu untuk komputer dan buku, satu untuk pakaian, dan satu untuk penyimpanan.

Vincent bisa dianggap tinggal bersamanya, tidur sekamar. Katanya, itu untuk membantunya melalui masa kehamilan. Namun, siapa yang tahu apa lagi yang terjadi di balik pintu itu?

Hari ini, Vincent mengejutkanku dengan mengetuk pintu kamarku. Dia ragu sejenak sebelum bicara. "Isabel, gimana keadaanmu? Kamu masih mau menggugurkan bayi itu?"

"Kamu bisa percaya padaku," katanya lembut. "Aku mencintaimu. Aku akan melindungimu."

Itu pertama kalinya Vincent mengatakan bahwa dia mencintaiku. Namun sejujurnya, aku tidak tahu apakah dia benar-benar serius ... atau hanya sedang mencoba memanipulasiku agar mempertahankan bayi ini.

Aku memejamkan mata, menguatkan diri, dan berkata, "Aku akan melahirkan bayi ini."

"Kalau ...."

"Kalau apa?"

"Kalau kamu kembalikan ponselku. Kamu tahu aku nggak punya siapa-siapa di rumah ini. Aku akan kesepian dan itu nggak baik buat bayi."

Vincent menarikku ke dalam pelukannya, suaranya terdengar begitu bahagia. "Aku akan memberimu segalanya. Asal jaga bayi kita tetap bahagia ya?"

....

Akhirnya aku mendapatkan ponselku kembali. Aku bisa bernapas lebih lega, tahu bahwa aku punya cara untuk menghubungi siapa pun yang kuinginkan.

Tak ada yang tahu bahwa aku sebenarnya diadopsi oleh keluarga yang dikenal Vincent.

Soal orang tuaku kandungku, aku menemukan mereka dua tahun lalu. Namun saat itu, aku masih sangat mencintai Vincent, masih menjadi istrinya. Aku tidak bisa pergi begitu saja.

Mereka sedih saat aku menolak ikut, tetapi mereka memberiku nomor dan berkata, "Isabel, kalau kamu merasa nggak bahagia, atau sekadar merindukan kami, hubungi nomor ini. Kami akan datang menjemputmu."

Aku tidak pernah mengira akan menekan nomor itu, tetapi kini aku melakukannya. Mereka satu-satunya harapanku sekarang.

Keluarga angkatku memperlakukanku dengan cukup baik, tetapi bagi mereka, menjaga kebahagiaan Vincent selalu lebih penting daripada melindungiku.

....

Saat kandungan Rosa memasuki bulan kedelapan, tiba-tiba dia bilang ingin pergi ke Calnia, ke dekat pantai, untuk menjalani dua bulan terakhir kehamilannya.

Awalnya Vincent berniat tetap tinggal, tetapi lagi-lagi dia luluh pada permintaan Rosa, apalagi setelah Rosa berjanji itu akan membantu bayinya.

Sebelum mereka pergi, Vincent datang ke kamarku untuk terakhir kalinya. "Aku akan kembali sebelum kamu melahirkan. Kamu mau menungguku, 'kan?"

"Aku tahu aku sudah keterlaluan," lanjutnya. "Tapi aku janji akan menebus semuanya. Isabel, percayalah padaku. Aku mencintaimu."

Apa pun yang dia katakan, aku hanya tersenyum dan mengangguk.

Kemudian Rosa memanggil dan Vincent berbalik pergi.

Namun kali ini, dia tampaknya menyadari ada yang berbeda dariku. Aku terlalu tenang. Terlalu sunyi.

Dia memelukku erat, hampir mencekikku. "Katakan saja, Isabel. Satu kata saja dan aku nggak akan pergi."

Aku membiarkan dia memelukku, tetapi dalam hati, aku tidak merasakan apa pun, tidak merasakan pelukannya, tidak merasakan apa pun pada kata-katanya.

"Kamu sebaiknya pergi, Vincent," bisikku. "Kalau kamu tetap tinggal, kamu bukan lagi pria yang aku nikahi."

Vincent masih tidak bergerak, tetapi aku sudah tidak ingin bermain dalam permainannya.

"Baiklah. Kalau begitu, usir perempuan jalang itu dan semua barangnya dari rumah kita."

Aku melihat Vincent berkedip, terkejut dengan nada tajam dalam suaraku. Namun, aku tidak menunggu jawabannya. Aku hanya menyeringai. "Itu yang aku mau. Kalau kamu nggak bisa melakukannya, jangan omong kosong lagi. Aku muak dengan janji-janji kosongmu."

Setelah itu, aku langsung melangkah ke kamar mandi.

Diabaikan Berujung Penyesalan

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya