Bab 1
Pada hari Idul Adha, aku menyiapkan satu meja penuh hidangan kesukaan Brian.
Namun lagi-lagi, dia tidak datang.
Aku terdiam sejenak, lalu dengan cekatan membuka postingan instagram, orang yang cinta sejati Brian.
[Harus diberi pujian! Aku baru bilang lampu rusak, dia langsung meninggalkan pacarnya demi datang ke sini.]
[Tolong pertahankan sifat yang lebih mementingkan teman daripada pacar.]
Fotonya memperlihatkan Brian yang sedang berdiri di atas bangku, mendongak untuk mengganti lampu.
Dia menopang kaki Brian dengan kedua tangan, wajahnya tanpa sengaja menyapu bagian paling sensitifnya.
Brian tidak menghindar, malah menyunggingkan senyuman samar.
Pemandangan itu begitu menusuk mata, tapi aku tidak lagi menangis ataupun marah.
Aku hanya dengan tenang memberi tanda suka, lalu mengajukan putus dengannya.
Brian tidak percaya sama sekali.
“Paling hanya mengambek saja, cuekin saja beberapa hari. Nanti aku hanya perlu ulurin tangan saja, dia pasti bakal luluh lagi.”
Namun, Brian tidak tahu, aku bisa begitu mudah luluh dulunya, karena aku mencintainya.
Mulai sekarang, dia tidak akan pernah bisa membujukku lagi.
Pesan putus itu terkirim, tapi tenggelam tanpa balasan.
Sebaliknya, malah Cindy yang mengirimkan sebuah video.
Di dalam ruang VIP yang ramai, teman-teman Brian menertawakan.
“Mutia sudah mengejarmu selama tujuh tahun, berani-beraninya minta putus? Jangan-jangan dia serius, loh?”
Sambil memotong kue mangga, Brian menjawab dengan santai, “Paling hanya mengambek saja, sengaja memancing aku untuk pulang.”
“Padahal setelah ganti lampu, aku memang mau pulang, tapi semakin dia begitu, semakin nggak akan kuturutin.”
“Cuekin saja beberapa hari dulu.”
Sambil bicara, Brian menyuapkan kue itu ke mulut Cindy, “Ini produk baru dari Elise, Cobain dulu, lihat suka nggak?”
Teman-temannya langsung bersorak menggoda.
“Lagipula Mutia hanya pengganti, langsung diputuskan saja.”
“Sekarang pemeran aslinya sudah kembali, kalian nggak kepikiran mau berpacaran saja?”
“Iya, Cindy, selama ini hanya ada kamu di hati Bang Brian.”
Brian tidak menjawab, hanya menatap Cindy dengan sorot mata yang lembut.
“Apa yang kalian bicarakan? Aku dan Brian itu teman baik, persahabatan yang murni.”
Cindy pura-pura terkejut, lalu dengan manja menepuk lengan Brian.
“Cepat pulang dan hibur pacarmu. Kalau nggak, aku bakalan susah menjelaskan nanti.”
Tatapan Brian tampak sedikit kecewa, suaranya terdengar berat, “Tenang saja, aku hanya perlu ulurin tangan saja, dia pasti langsung luluh.”
Aku menonton video itu dengan tanpa ekspresi. Padahal sudah berniat melepaskan, tetap saja hatiku terasa getir.
Bagaimanapun juga, Brian adalah orang yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama dan sudah kucintai selama tujuh tahun lamanya.
Di hari Idul Adha saat semester satu perkuliahan, aku mengungkapkan perasaan padanya.
Aku tahu dia itu pria idola di kampus yang sudah menolak banyak sekali perempuan.
Aku menyatakan cinta hanya agar tidak meninggalkan penyesalan.
Namun malam itu, di bawah sinar bulan, dia menatap wajahku lama sekali, lalu tiba-tiba mengacak rambutku dan berkata, “Bodoh, seharusnya aku yang mengungkapkan perasaan duluan.”
“Kamu mau nggak jadi pacarku?”
Aku pikir diriku akan selamanya mengingat detak jantung dan kebahagiaan yang kurasakan saat itu.
Sampai suatu hari dia menciumku, lalu di tengah gairah, dia memanggil nama ‘Cindy’.
Tubuhku langsung membeku.
Itulah pertama kalinya kami perang dingin.
Tiga hari kemudian, dia datang dengan membawa kue kecil, “Itu hanya perempuan yang dulu pernah kusukai diam-diam, hanya sebatas itu.”
Melihat lingkar hitam di matanya, hatiku pun luluh dan memaafkannya.
Waktu itu aku yakin, Cindy tidak akan bisa menggoyahkan hubungan kami.
Dia hanyalah orang yang cinta sejati Brian di masa mudanya, masa lalu yang bahkan tak pernah dimulai.
Sedangkan aku adalah pacarnya, masa kini dan sekaligus masa depannya.
Selama empat tahun kuliah, aku mencintainya sepenuh hati. Setelah lulus, aku bahkan mengikutinya pindah ke kota asing ini, meski harus berpisah dari keluarga.
Brian juga memperlakukanku dengan baik.
Saat Toko Kue Elise yang viral merilis menu baru, Brian bakal langsung membelikannya untukku.
Dia bakal dengan sabar mengeringkan rambut panjangku dan memijat perutku semalaman saat datang bulan.
Tanpa banyak kata-kata manis, tapi penuh dengan kehangatan yang sederhana.
Aku pernah yakin, kami akan berjalan dari masa kampus hingga ke pelaminan, bersama seumur hidup.
Hingga setengah tahun lalu, Cindy pulang dari luar negeri.
Dengan lantang, Cindy berkata, “Kamu benar-benar mencari pacar yang mirip denganku, ya.”
Sedikit demi sedikit, kebenaran yang kejam menghancurkan duniaku.
Ternyata, pengungkapan cintanya dulu hanya karena ingin menebus penyesalan saat Cindy tidak menerimanya.
Ternyata kue yang selalu dibeli itu adalah merek kesukaan Cindy.
Ternyata semua perhatian dan sikap manisnya hanyalah bayangan pacar ideal yang diinginkan Cindy.
Dia hanya menggunakan aku untuk menemaninya melewati kesepiannya, sekaligus tempat dia berlatih menjadi sosok sempurna di hadapan Cindy.
Aku teringat janjinya dulu.
“Mutia, setelah bersama tujuh tahun, kita menikah saja.”
“Kamu sudah meninggalkan kampung halaman demi aku, setiap hari Idul Adha berikutnya, aku pasti ada di sampingmu.”
Dan hari raya kali ini adalah tepat tujuh tahun kami bersama.
Dan jelas, dia sudah lupa.
Baguslah kalau dia sudah lupa.
Karena aku juga akan pulang untuk menikah atas perjodohan keluarga.
Bab 2
Jarum jam sudah melewati pukul dua belas malam, tapi Brian belum juga pulang.
Dulu, aku pasti akan gelisah semalaman dan tak bisa tidur.
Namun malam ini, anehnya aku malah tidur nyenyak.
Mungkin memang begitu rasanya ketika kita rela melepaskan orang yang tidak layak dipertahankan, sekaligus membebaskan diri sendiri.
Pagi-pagi sekali, aku terbangun gara-gara mendengar suara dari dapur.
Brian dengan kemeja yang digulung sampai siku, lengan kekar dan berotot itu sedang sibuk membolak-balik wajan, menghangatkan kembali semua masakan semalam.
“Hari ini aku temani kamu merayakan hari Idul Adha yang terlewat kemarin.”
Dia menjepit sepotong daging asam manis dengan spatula dan mencicipinya.
“Lumayan enak juga.”
Aku menatapnya terkejut.
Selama ini, dia selalu hidup serba teratur dan bersih, tidak pernah mau makan makanan sisa.
Kini dia menunduk, seolah menunggu reaksiku.
Barulah aku sadar, sebenarnya ini juga salah satu cara untuk membujukku.
Dia sedang menungguku luluh seperti biasanya.
Jika dulu mungkin akan berhasil, tapi kali ini aku hanya menggeleng, “Nggak perlu.”
Tidak perlu merayakan hari Idul Adha yang sudah lewat, apalagi membujukku.
Kening Brian sedikit berkerut. Dia berbalik, mengambil sepotong kue dan mendorongnya ke hadapanku dengan santai.
“Kue baru dari Toko Kue Elise, kesukaanmu.”
Aku menatap potongan kue di hadapanku, penuh dengan irisan mangga segar. Hatiku tetap saja terasa perih.
Sebenarnya aku tidak terlalu suka kue manis.
Yang membuatku merasa manis selama ini adalah niat tulusnya.
Namun setelah tujuh tahun, dia ingat semua kesukaan Cindy, sementara dia tak pernah ingat sama sekali bahwa aku alergi mangga.
Aku terdiam, baru sadar betapa sia-sianya tujuh tahun yang sudah kulewati.
Tatapan matanya mulai tampak kesal, dia menahan amarahnya dan berkata,
“Sudahlah, aku sudah kasih kesempatan untuk mundur, jangan begitu keras kepala dan malah hilang semua kesempatannya.”
“Kalau bukan Cindy yang menyuruh, aku juga nggak bakal buru-buru pulang untuk membujukmu.”
“Jangan pernah ungkit soal putus lagi lain kali, paham?”
Ternyata begitu.
Bahkan usahanya membujukku pun ternyata karena Cindy.
“Brian, aku serius.”
Ujarku perlahan.
“Aku benar-benar ingin….”
Putus denganmu dan pulang untuk menikah.
Namun, kalimatku terpotong oleh nada dering khusus dari ponselnya.
“Cindy?” Suaranya langsung berubah lembut, wajahnya langsung tersenyum.
“Iya, aku segera ke sana.”
Begitu telepon di tutup, ekspresinya kembali dingin.
“Cindy ada perlu, aku harus pergi sebentar.”
Seperti biasa, dia tidak menunggu jawabanku dan langsung melangkah pergi.
Hanya saja kali ini, aku tidak lagi menatap punggungnya dengan tatapan kehilangan.
Di tengah libur panjang, karena tidak ada hal lain yang bisa kulakukan, akhirnya aku pun pergi ke kantor.
Setelah libur selesai, aku berencana mengundurkan diri.
Aku pun merapikan dokumen lebih awal sekarang, agar nantinya proses serah terima lebih mudah.
Hingga menjelang sore, aku baru keluar dari kantor dan langsung menuju sebuah restoran viral di dekat sana.
Restoran itu bukan hanya terkenal rasanya yang enak, tapi juga karena mitosnya katanya pasangan yang berfoto bersama di sana akan lebih mudah berjodoh.
Aku sudah beberapa kali ingin pergi bersama Brian, tapi setiap kali selalu ada alasannya sehingga rencana itu tidak pernah jadi.
Sekarang, karena sebentar lagi akan meninggalkan kota ini, aku pun memutuskan datang sendiri.
Tak disangka, baru saja masuk, aku langsung melihat Brian bersama dengan Cindy.
Mereka duduk berdampingan, begitu dekat satu sama lain.
Meja penuh dengan hidangan yang sebenarnya tidak bisa dimakan Brian, tapi semuanya adalah kesukaan Cindy.
Selama ini, Brian tidak suka pedas dan tidak suka seafood, jadi akulah yang selalu menyesuaikan selera.
Namun ternyata, dia juga bisa menyesuaikan selera demi orang lain.
Keduanya belum menyadari keberadaanku. Dengan senyuman manis, Cindy menyodorkan sepotong ayam pedas yang sudah digigit setengah langsung ke mulut Brian.
“Enak sekali, kubagi setengah untukmu.”
Ujung jarinya nyaris menyapu sudut bibir Brian.
Dan wajah Brian perlahan memerah.
Dalam ingatanku, Brian selalu terlihat dingin dan tenang.
Ternyata, di usia dua puluh lima tahun ini, dia masih bisa menunjukkan ekspresi malu-malu seperti remaja yang baru jatuh cinta.
Semua itu hanya karena orang di hadapannya adalah orang yang benar-benar dia cintai.
“Cindy, bagaimana kalau kita foto berdua?”
Tanya Brian dengan nada suaranya yang terdengar biasa saja.
Namun, tatapan matanya terlihat penuh ketegangan sekaligus mengharapkan.
Cindy tidak langsung menjawab, hanya tersenyum sambil mendorong bahunya pelan, lalu tiba-tiba menoleh ke arahku.
Bab 3
Ekspresinya terlihat seperti menyeringai, seperti sedang menonton pertunjukan.
Dia menunggu aku bertindak gila, seperti sebelumnya.
Memang benar, aku sudah berkali-kali hancur terpuruk karena hubungan mereka.
Saat peringatan hari jadian kami, Brian bisa begitu saja dipanggil Cindy hanya dengan satu panggilan telepon. Alasannya karena Cindy malas begadang membuat PPT dan meminta Brian yang membuatnya.
Saat aku dirawat di rumah sakit karena demam tinggi hingga radang paru-paru, Cindy bilang listrik rumahnya mati dan dia takut gelap. Brian pun memilih untuk menemaninya.
Di malam yang gelap dengan petir menyambar, hanya karena Cindy telat membalas pesan, Brian cemas dan langsung keluar mencarinya.
Akhirnya, mereka malah minum anggur merah dan hanya tidur bersama sambil mengobrol sepanjang malam.
Aku pernah mengamuk dan bertanya dengan histeris, bahkan memohon tanpa harga diri agar Brian tidak meninggalkanku.
Namun, dia selalu menjawab dengan dingin, “Jangan berlebihan.”
Brian mencari berbagai alasan untuk tidak mau datang ke tempat ini bersamaku, ternyata alasannya sederhana, yaitu gadis yang ingin dia ajak foto adalah orang lain.
Kebenaran ini cukup membuat diriku yang dulu hancur terpuruk.
Namun, sekarang aku mengerti. Orang yang tidak peduli padamu tidak akan melihat rasa sakitmu. Mereka hanya akan menganggapmu berisik.
Aku hanya memandangi mereka dengan tenang, “Kenapa melihatku? Perlu bantuanku untuk fotoin kalian?”
Brian terkejut. Rasa canggung di tatapannya langsung berubah menjadi amarah.
“Mutia, kamu menguntit kami? Untuk apa bicara sinis seperti itu?”
“Kamu sendiri yang keras kepala dan minta putus, padahal aku sudah memberimu kesempatan untuk berbaikan, tapi kamu yang nggak mau.”
“Aku lagi banyak pikiran, jadi keluar makan dan foto bersama teman lama. Apa salahnya?”
“Kamu tahu nggak, perilaku menguntit seperti ini membuatku merasa tertekan dan hanya akan mendorongku semakin menjauh darimu?”
Jarang sekali Brian bicara begitu banyak padaku.
Tentu saja itu bukan karena cemas atau peduli padaku, tapi hanya karena merasa bersalah.
Namun, itu tidak lagi penting bagiku.
Aku menjawab dengan datar, “Aku hanya datang untuk makan. Lagipula, kita sudah putus. Apapun yang kalian lakukan nggak ada hubungannya denganku.”
Cindy mengangkat alisnya, reaksiku di luar dugaannya.
“Mutia, jangan bicara gegabah seperti itu,” katanya dengan santai.
“Aku hanya bilang lagi nggak nafsu makan hari ini, makanya Brian datang menemaniku seharian. Tapi jangan salah paham, kami hanya teman.”
Sebenarnya Cindy memang agak wanita bermuka manis tapi berhati licik. Dulu aku tidak mengerti, dia tidak mau menerima Brian, tapi kenapa masih saja menghabiskan begitu banyak waktu untuk menggantungkan Brian seperti itu? Apa itu menyenangkan?
Bagaimanapun juga, itu tidak ada lagi hubungannya denganku, jadi aku pun tidak tertarik untuk mencari tahu lebih dalam.
Aku tidak lagi mempedulikan mereka. Aku mencari tempat duduk yang membelakangi mereka dan membuka menu.
Dulu, jika melihat pemandangan seperti ini, aku mungkin sudah menangis dan keluar dari tempat itu dengan tidak ada harga diri.
Namun, bukan aku yang salah. Aku hanya ingin makan enak di tempat yang sudah lama kuincar.
Aku memesan banyak hidangan, semuanya makanan kesukaanku, tanpa perlu memikirkan orang lain.
Satu per satu hidangan pedas yang lezat datang.
Aku bersyukur tidak melewatkan makanan seenak ini hanya karena orang yang tidak penting.
Aku tidak bisa melihat mereka, tapi suaranya terus mengganggu.
“Sejak kapan kamu jadi sekaku ini? Aku ingat kamu jago menghibur.”
Ada suara tepukan yang pelan dan familiar. Tanpa melihat pun aku tahu, itu pukulan mesra Cindy pada Brian.
“Dulu saat kelas dua SMP, aku gagal dalam ujian matematika. Setiap hari ada bunga lily kesukaanku di meja. Setelah itu aku baru tahu ternyata itu darimu untuk menghiburku.”
“Saat kelas tiga SMP, aku stres mau ujian nasional, kamu selalu menulis kutipan motivasi untukku. Katamu bisa kasih semangat sekaligus bantu menambah nilai esai.”
“Saat SMA, kamu nggak pernah absen membawakan sarapan untukku, mengantar jemput meski hujan badai, bahkan bangun hanya untuk membelikan aku figur eksklusif untukku. Kok sama pacar sendiri malah nggak bisa sesabar itu?”
Kalimat demi kalimat, penuh rasa kemenangan dan pertanyaan yang disengaja.
Brian terdiam sejenak, lalu dengan suara kesal dia menjawab,
“Mana bisa dia dibandingkan denganmu.”
Aku tetap makan dengan tenang, meski hampir meneteskan air mata karena tersedak rasa pedasnya.
Tujuh tahun berpacaran, yang aku dapatkan hanya satu kalimat seperti itu.
Aku juga pernah berkali-kali meragukan diri sendiri, bertanya-tanya apakah diriku yang kurang baik, sehingga Brian tidak begitu mencintaiku.
Ternyata, itu bukan salahku.
Sejak awal, semua cinta dan ketulusannya sudah diberikan pada orang lain, bahkan sampai sekarang pun belum bisa melepaskannya.
Dan aku… memang sudah saatnya melepaskannya.