Bab 2
Sudut Pandang Kellen.
Di luar, jalanan kota dipenuhi dengan keceriaan liburan. Pasangan-pasangan berpegangan tangan, anak-anak membawa permen natal, dan setiap pejalan kaki tampaknya akan pulang ke rumah.
Tapi kata 'rumah' tak lagi punya arti bagiku.
Aku terus berjalan tanpa tujuan, hanya ingin bergerak.
Entah bagaimana, pikiranku kembali ke malam itu, sebuah telepon memberi tahu tentang orang tua kami terjadi kecelakaan pesawat. Itu padahal awalnya hanya perjalanan bisnis yang biasa, tapi mereka tidak akan kembali lagi.
Aku tertidur di lantai ruang tamu dengan wajah yang dibasahi air mata. Ketika terbangun, ketiga saudara laki-lakiku sudah memelukku, seperti benteng yang melindungiku.
Anto yang berani dan lembut, memelukku dengan erat dan berbisik, “Jangan khawatir, Kellen. Kamu masih punya kita. Kamu tidak akan sendirian.”
Aku bertanya-tanya apakah Anto yang dulu bisa mengenali dirinya yang sekarang.
Saudari yang pernah dia janjikan akan lindungi selamanya? Dia telah membuangku seperti aku tidak pernah penting.
Seminggu lagi. Hanya itu waktu yang tersisa untukku.
Kemudian aku akan pergi. Aku berharap saudara-saudaraku akan senang. Lagian mereka emang tidak menginginkan aku berada di sini lagi.
…
Aku adalah murid yang terbaik dan jenius dalam kimia serta fisika dengan juara pertama di kelasku. Sementara teman-temanku memburu pekerjaan di perusahaan top 500, aku malah tidak perlu.
Aku kembali ke rumah.
Perusahaan Keluarga Kurniawan tidak terdaftar di majalah bisnis terkenal. Kami berurusan dengan obat-obatan-yang tidak dilengkapi dengan resep dokter.
Sementara aku? Aku adalah ahli kimia termuda di seluruh perusahaan kami. Tugasku sederhana, yaitu mengembangkan produk baru yang dapat memenuhi pasar dan menghasilkan uang.
Tapi saudara-saudaraku tidak pernah melihat betapa berharganya posisi ini. Bagi mereka, menjadi ahli kimia hanyalah peran pendukung. Kekuasaan, distribusi, pencucian uang, ketiga itulah yang benar-benar penting. Apa gunanya formula jika tidak ada yang mendistribusikan produk?
Mereka tidak pernah mengerti bahwa tanpa aku, tidak ada produk untuk dijual.
Tapi aku akan pergi, dan sisa waktu seminggu lagi untuk menyelesaikan semuanya. Itu berarti menyelesaikan pengujian produk akhir di laboratorium. Aku menyelubungi diri dalam formula, labu, bertekad untuk pergi dengan pekerjaan yang sudah selesai.
Ketika aku melepaskan sarung tangan dan keluar dari laboratorium, sudah tengah malam.
Lalu aku ingat, aku harus mengemas kamar lamaku.
Sudah bertahun-tahun aku tidak tinggal di sana, tapi aku juga tidak pernah pindah keluar secara resmi. Jadi, barang-barangku masih tertinggal di laci dan lemari.
Aku menyelinap masuk ke rumah seperti hantu dan naik tangga belakang menuju kamarku.
“Kamu lebih terlihat seperti pencuri daripada orang yang pernah tinggal di sini.” Suara Anto yang rendah dan datar terdengar dari belakangku.
Aku berbalik badan. “Maaf,” kataku. “Aku hanya ingin mengemas barang-barangku.”
Dia melipat lengan dan menatap dengan tajam, “Bukankah kamu bilang kemarin akan pergi menguji produk? Ke mana sebenarnya kamu pergi?”
“Aku…” Mataku melirik ke arah belakangnya. Siti telah keluar dari bayangan dan menatapku dengan rasa ingin tahu yang polos.
“Hanya ke laboratorium lama di Kubara,” kataku dengan pelan. “Tidak penting.”
“Bagus.” Dia mengangguk sekali. “Lakukan pekerjaanmu dengan baik.”
Dia pun berbalik pergi, tapi Siti ragu-ragu.
“Kellen.” Dia berbisik, suaranya cukup rendah sehingga hanya aku yang bisa mendengar. “Kamu akan pergi berapa lama?”
“Cukup lama.” Aku melihat wajahnya bersinar seperti aku memberinya hadiah Natal dini hari.
Tiba-tiba Anto menoleh. “Siti, dia mengganggumu lagi?”
“Tidak!” serunya dengan cepat. Lalu dia menatapku dan tersenyum manis. “Aku tidak mau Kellen pergi. Dan... aku tidak mau mengambil kamarnya. Tolong jangan pindah…”
“Jangan khawatir,” kataku dengan lembut. “Aku tidak akan memintanya kembali.”
Jason menaiki tangga, menyilangkan tangan dan menyeringai. “Wow. Sangat dramatis. Kalau kamu memang mau pergi, pergi saja. Jangan buang waktu dengan omonganmu.”
Aku tidak menjawab dan hanya berbalik dan masuk ke kamarku.
…
Saat aku masuk ke kamarku, kebenaran menghantamku dengan keras.
Gambaran sketsa masa kecilku masih tertempel di papan gabus. Foto keluarga yang warnanya mulai pudar masih di atas meja. Gaun merah muda ulang tahunku yang ketujuh masih tergantung dalam plastik, seperti sangat berarti.
Aku menghela napas dan mulai bekerja karena sudah tidak ada waktu untuk menangis.
Pada akhirnya, aku telah mengemas lima kotak. Setiap jejakku menghilang. Bahkan tanda-tanda pensil kecil yang diukir di dinding untuk mencatat tinggiku selama bertahun-tahun, hampir hilang semua.
Sekarang mereka akan senang karena gadis tercinta mereka akhirnya bisa pindah ke kamarku dan tidak terganggu oleh aku.
Aku menelepon Joni, pengawal pribadiku, untuk mengangkut kotak-kotak tersebut. Dia datang beberapa menit dan mengangkat kotak-kotak ke mobil.
Di luar mulai hujan lembut dan terus menerus. Sangat menyedihkan.
Jason berdiri di ambang pintu dengan tangan disilangkan dan ekspresi puas di wajahnya seperti itu tampaknya memang diciptakan untuk wajahnya. “Jangan pulang dan menangis nanti. Kami tidak akan mengembalikan kamar itu.”
“Aku tahu,” jawabku tanpa menoleh ke belakang.
Aku tidak melihat rumah itu sekali pun saat pergi. Aku tidak melihat ke arah Anto, Jason, atau Rio. Tapi aku merasakan tatapan mereka di aku.
Kegelapan berat menekan sekitarku ketika Joni Setiawan datang membopongku.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Joni dengan suara pelan.
Aku menganggukkan kepala, berusaha menahan diri. “Ya. Jangan khawatir.”
Joni melirik ke arah saudara-saudaraku, namun ekspresi mereka tidak terbaca. Kemudian berbalik kepadaku. “Ayo pergi.”
Tapi tentu saja, mereka tidak akan membiarkan aku pergi tanpa luka terakhir.
“Huh.” Rio secara santai, seolah-olah ini hanyalah percakapan hal biasa. “Jadi itu alasan kamu bergegas keluar? Ternyata sudah tidur dengan pengawalmu? Kellen, kamu sungguh mengecewakan.”
Aku membeku. “Aku tidak…” Suaraku nyaris tak bisa keluar.
Tapi Joni maju setengah langkah, berdiri di depanku seperti perisai manusia.. “Kami hanya teman, Pak Rio. Tolong hormati saudarimu dan juga hormati aku.”
Anto menyeringai dengan penuh amarah. “Apa yang kamu katakan? Kamu hanya pengawal. Kamu kira kamu layak dihormati?”
Aku menarik lengan Joni, jari-jariku menggenggam bajunya seolah memohon dia. “Jangan. Jangan berdebat dengan mereka. Tidak pantas, karena kamu hanya akan terluka.”
Joni menatapku, tatapan kasihan di matanya lebih kuat daripada penghinaan apa pun. Hal itu menusuk diriku. “Baiklah.” Dia berbisik. “Mereka sudah tidak penting lagi. Kita akan pergi…”
“Joni!” Aku berteriak dan menariknya ke arah mobil.
Tapi sudah terlambat.
Pandangan Rio menjadi tajam. “Pergi?” Dia mengulangi dengan tenang seperti biasa. “Apa yang dia maksud, pergi?”
“Tidak ada apa-apa,” kataku dengan cepat. “Dia hanya berbicara tentang liburanku. Aku membawa dia bersama.”
Pandangan Rio menusuk, seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan. Seolah mungkin… hanya mungkin… dia ingin aku tinggal. Atau mungkin hanya khayalanku.
Bagaimanapun, mengapa dia ingin aku di sini? Mereka mungkin bahkan tak ingat aku pernah jadi bagian dari keluarga ini.
Bab 3
Sudut Pandang Kellen.
“Mereka akan menyesal,” kata Joni begitu kami masuk ke dalam mobil, pintu-pintu tertutup di belakang kami seperti mengakhiri semuanya. “Maaf kalau saya lancang. Tapi saya benar-benar tidak paham, saudara macam apa yang memilih orang asing ketimbang saudara kandung sendiri?”
Aku menatap jendela, melihat tetes hujan yang meluncur di atas kaca. “Mereka dulu tidak begitu,” bisikku. “Dulu mereka memperlakukanku dengan baik.”
Aku adalah anak tak terduga di usia senja orang tuaku.
Saat aku lahir, orang tuaku sangat sibuk mengurus kerajaan Kurniawan. Usia mereka sudah empat puluhan. Urusan membesarkanku, semua diserahkan sepenuhnya kepada saudara-saudaraku.
Aku ingat saat aku kena masalah di sekolah, bukan hal besar, hanya kenakalan bodoh. Kepala sekolah memanggil orang tua, tapi Anto datang sebagai gantinya. Berpakaian rapi dengan dasi sedikit miring dan bersikap dewasa secara terpaksa, dia berpura-pura menjadi ayahku.
Dia selalu melindungiku.
Sementara Jason? Dia sembrono, cerewet, tapi tulus seperti anak laki-laki pada umumnya. Suatu malam, aku bilang ingin melihat meteor. Dan pada saat tengah malam, dia membawaku keluar melalui garasi, walaupun tahu Anto pasti marah besar jika ketahuan.
Kami berbaring di rumput taman yang basah, menghitung bintang seperti tidak ada hari esok.
Saat itu, mereka adalah segalanya bagiku.
Kemudian, tepat sebelum ulang tahun ke-16ku, ayah dan ibu pergi dalam perjalanan yang seharusnya menjadi perjalanan bisnis rutin, bertemu dengan beberapa pemimpin kartel terkenal di Selatan. Tidak ada yang aneh.
Tapi pesawat mereka jatuh. Keduanya meninggal di tempat.
Anto yang membawa pulang jenazah mereka. Saat itu usianya belum genap tiga puluh tahun. Dan dalam sekejap, dia jadi pewaris tunggal kekaisaran Kurniawan.
Angga Wiardi, orang kepercayaan ayah, juga tewas dalam kecelakaan itu. Katanya, Angga memiliki seorang anak perempuan, konon seumuran dengan aku. Namanya Siti.
Jadi, saudara-saudaraku membawanya pulang dan memintaku memperlakukannya seperti saudara sendiri, seperti “keluarga”, kata mereka.
Tapi yang tidak mereka tahu, atau mungkin tidak peduli untuk mengetahuinya adalah gadis yang mereka bawa pulang itu bukanlah anak perempuan Angga.
Dia adalah keponakan Angga yang sering sakit.. Anak perempuan aslinya bernama Anita Wiardi.
Aku tahu secara tidak sengaja saat berkunjung ke rumah sakit dan melihat rekam medisnya.
Siti tahu aku sudah mengetahui kebenaran itu. Dia dan ibunya berusaha keras menghapus Anita dan menggantinya dengan Siti, tapi dengan versi yang lebih baru dan lebih baik. Sosok seorang anak yatim piatu menyedihkan yang membutuhkan perlindungan, seorang gadis yang layak dikasihani.
Aku memberitahu Anto. Memohon agar dia menyelidikinya lebih dalam.
Dia melakukannya. Dan kemudian dia pulang untuk menuduhku berbohong.
“Jangan gini, Kellen,” katanya, suaranya dingin dan lelah. “Jangan berubah menjadi gadis yang mengarang cerita karena cemburu. Aku sudah lihat berkas Siti. Dia memang anak Angga. Dan setelah apa yang dia alami, kita berutang padanya. Jika ayahnya tidak meninggal menyelamatkan ayah kita, dia masih akan memiliki keluarga sungguhan.”
Dia tidak melihat bagaimana Siti secara perlahan menyusup ke dalam kehidupan kami dengan satu demi satu tangisan palsu.
Dia cerdas. Aku harus akui itu. Cukup pintar untuk mengetahui dengan tepat bagaimana cara mengadu domba aku dengan saudara-saudaraku. Bagaimana berpura-pura tidak bersalah ketika aku memergokinya mengintip ruang kerja ayah. Aku menyuruhnya pergi untuk menghormati ruang tersebut.
Tapi tentu saja, ketika kata-kataku sampai ke saudara-saudaraku, kenyataan telah diputar-putar. Dihasut. Dan karena aku “pernah berbohong”, mudah untuk percaya aku akan berbohong lagi.
Siti telah menulis ulang ceritaku. Mengubahku menjadi anak nakal yang manja, sang ratu drama.
Dan saudara-saudaraku percaya semua kata-katanya.
Bahkan ketika dia melompat ke kolam yang dingin di tengah bulan Desember, tidak ada orang lain kecuali aku dan aku yang disalahkan.
Tampaknya aku yang mendorongnya. Karena mereka sudah percaya aku wanita yang jahat.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Joni sambil menyalakan mobil, matanya melirik ke arahku di sela-sela mengemudi.
“Aku nggak apa.” Aku menghadap ke arah jendela. Aku menyeka air mataku pelan dengan jemariku yang gemetar.
Hanya beberapa hari lagi. Dan kemudian aku akan pergi.
Jika mereka tidak bisa menghormati kebenaranku, apa gunanya untuk jujur?
Biarkan mereka mempertahankan kebohongan kecil mereka.
Aku punya kehidupan baru untuk dibangun, yang tidak membutuhkan kehadiran mereka
…
Aku kembali ke laboratorium Kurniawan keesokan paginya, lalu kembali bekerja.
Aku sedang menyelesaikan senyawa baru ketika aku mendengar suara-suara bergema di koridor.
Anto membawa Siti datang.
Aku pernah mengatakan kepada Anto bahwa tidak peduli seberapa dia memanjakan dia, laboratorium dilarang masuk. Tempat ini menyimpan proyek paling sensitif Keluarga Kurniawan.
Ini bukan taman bermain.
Tapi logika tidak pernah berpeluang melawan keinginan Anto untuk memanjakan dia.
“Dia tidak boleh di sini,” kataku dengan tegas, melepas kacamata pengaman saat aku melangkah keluar dari balik partisi pengujian. “Kami sedang melakukan uji coba produk.”
“Aku tahu,” jawab Anto sama sekali tidak peduli. "Dia hanya ingin melihat-lihat. Itu saja."
Aku tidak membantah, hanya meminta izin pergi ke atap untuk merokok. Kebiasaan buruk yang jarang aku lakukan.
Ketika kembali, senyawa yang aku kerjakan hilang.
Aku mencari di mana-mana. Rak atas. Laci bawah. Akhirnya menemukannya di selipan tempat sampah yang paling jauh.
Tanganku gemetar saat mengambil botol kecil itu, isinya sudah rusak.
Tidak ada CCTV karena banyak pekerjaan kami yang dirahasiakan. Tapi aku tidak butuh rekaman untuk mengetahui siapa pelakunya.
Aku bertemu Siti di ruang istirahat, dia sedang menikmati secangkir teh seperti dia memang pantas berada di sana.
“Apa kamu yang buang senyawa baru itu?” tanyaku dengan pelan.
Siti berkedip lalu tersenyum. Dan dengan cepat, bibirnya bergetar, mata berkaca-kaca.
“Tolong, Kellen… aku tidak melakukan apa-apa…”
Suaranya terdengar serak saat tepat Anto muncul, begitu melihat Siti menangis, dia melangkah dengan cepat.
“Apa yang kamu lakukan?” Dia membentakku.
“Dia membuang formula baru kita ke sampah. Sudah tidak bisa digunakan. Kita harus mulai dari awal.”
Rahangnya mengencang. “Apa kamu punya bukti?”
“Aku…”
“Kalau tidak ada, jangan perlakukannya seperti penjahat. Kamu menginterogasinya tanpa alasan.”
“Karena aku tahu.” Aku mendesis. “Meskipun aku tidak bisa membuktikannya, tapi aku tahu.”
Anto beralih ke Siti, nadanya melembut. “Apa kamu melakukannya?”
Dia terisak dan menggelengkan kepalanya. “Tidak...”
Itu sudah cukup.
Jika formula baru itu tidak dapat diselesaikan sebelum aku pergi... mungkin memang ditakdirkan begitu.
Anto menyusulku di dekat lift. Kami berjalan dalam keheningan, tapi aku merasakan matanya tertuju padaku yang selalu mengawasiku.
“Kamu aneh belakangan ini,” katanya. “Dengar, aku tahu kamu kesal. Tapi kamu tidak boleh menyerang Siti seperti itu.”
Aku berhenti dan berbalik menghadapnya.
“Kak,” kataku pelan. "Kamu tidak perlu terus mencari-cari alasan untuk Siti. Jika dia tidak melakukannya, maka baiklah, aku yang salah. Tetapi jika dia melakukannya... apa kamu sadar apa sebenarnya yang kamu lindungi?"
Aku menatapnya tanpa bergeming. "Domba-domba tak berdosa? Atau serigala berbulu domba?"
Lift berbunyi di belakangku. Sebelum dia sempat menjawab, aku melangkah masuk dan membiarkan pintu tertutup.
Bab 4
Sudut pandang Kellen.
Besok adalah hari keberangkatan.
Aku pikir sisa waktuku akan berlalu dengan tenang, mungkin bahkan damai, sampai ponselku menyala dengan panggilan tak terduga dari Rio.
“Apa kamu bakal pulang untuk makan malam?” tanyanya.
Pertanyaan itu membuatku terkejut. “Mungkin tidak, aku sedang sibuk berkemas.”
Ada jeda. Kemudian aku mendengar suara napasnya yang samar di ujung telepon.
“Hari ini ulang tahunku,” katanya.
Oh ya. Aku tidak pernah lupa ulang tahun mereka sebelumnya. Tidak sekalipun, sampai tahun ini.
“Maaf,” gumamku, rasa bersalah mengaduk perutku.
Rio berbicara lagi, kali ini lebih lembut. “Jadi, pulang untuk makan malam? Aku membuat pasta. Favoritmu.”
Aku hampir menolak. Aku membayangkan masuk ke dalam ruang makan, hanya untuk merasa seperti orang asing di keluargaku sendiri sementara mereka bertiga mengitari Siti seakan dia adalah matahari.
“Siti tidak di rumah,” tambah Rio, seolah dia bisa mendengar setiap pikiran di kepalaku.
“Baiklah,” kataku.
…
Ketika aku tiba di vila Keluarga Kurniawan, Anto sedang di halaman menyiram tanaman. Dia pun menoleh dan tersenyum. “Ayo. Rio membuat makanan favoritmu.”
Rasanya hampir seperti masa lalu.
Di meja makan, Anto menuang anggur ke gelasku. Jason membawa keluar kue. Sementara Rio mengisi piring kami dengan pasta yang baru matang.
Suasana yang kukira akan dipenuhi dengan kecanggungan, ternyata tidak. Bahkan Jason bercakap dengan sopan, bertanya mengenai laboratorium seolah dia benar-benar peduli.
Lalu Rio berdehem. “Mau ikut kami ke Franzia?”
Membayangkan musim dingin di Prancis...
“Saat itu aku sudah bakal ada di labolatorium di Kuba,” kataku sambil berhati-hati memutar garpuku.
“Oh…” Rio menuduk melihat piringnya.
“Apakah tidak bisa ditunda?” tanya Jason. “Hanya beberapa hari, sampai kami kembali.”
“Aku sudah membuat janji/”
Anto pun memotong dengan lembut, menyodorkan piring salad segar kepadaku. “Kellen selalu serius. Tidak ada gunanya memaksanya ikut jika dia punya pekerjaan.”
“Mau lagi?” Anto terus memandangku. Seperti ada sesuatu yang ingin dia katakan tapi tidak bisa. Akhirnya, dia berdehem. “Rio berkata padaku…tentang hari itu. Pengawalmu. Joni, bukan?”
“Benar.”
“Gini...” Anto mulai, memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Kamu tahu bagaimana orang-orang di sekitar Keluarga Kurniawan. Banyak yang mendekat dengan alasan yang salah. Penting untuk tahu siapa yang benar-benar peduli padamu dan siapa yang hanya mengejar keuntungan.”
Aku meletakkan garpuku, nafsu makanku hilang.
Joni adalah salah satu dari sedikit orang yang tidak memperlakukanku seperti aku mudah untuk dibuang. Dan sekarang, Anto mempertanyakan kesetiaannya.
“Joni orang baik,” kataku dengan datar. “Kalau kamu mau mengenalnya, kamu tidak akan bilang begitu.”
“Aku hanya menjagamu...”
Aku segera memotong. “Kamu sudah lama berhenti menjagaku. Ini bukan tentangku. Kamu hanya takut aku mungkin membocorkan rahasia keluarga kepada seseorang yang benar-benar memperlakukanku seperti manusia.”
Mata Anto melotot. “Kamu...”
Kedamaian yang rapuh itu pecah.
Jason membanting kursinya ke belakang dan berdiri, pipinya memerah karena marah. “Sudah kubilang, Anto. Dia bukan keluarga lagi. Dia manja dan buta. Bahkan tidak bisa membedakan kapan untuk berpihak pada orang luar.”
Aku juga berdiri. “Setidaknya aku tidak berpura-pura.”
“Duduk, Jason!” bentak Anto, matanya menyipit. Lalu dia menoleh padaku. “Aku sudah menyelidiki temanmu Joni. Dia berkaitan dengan salah satu saingan kita. Grup Wijaya. Kamu harus hati-hati dengan siapa yang kamu percayai,” lanjut Anto. “Membiarkan mereka dekat dengan lini produk kita bukan hanya sembrono, itu berbahaya. Jika kamu—”
“Cukup. Terima kasih atas perhatiannya, kakak, tapi aku bisa menjaga diri sendiri. Kakak tidak perlu berdiri di depanku, bertingkah seolah kamu berhak mempertanyakan teman-temanku.”
Jadi ini alasan mereka mengundangku makan malam. Bukan untuk merayakan ulang tahun Rio. Ini peringatan. Agar aku tetap dalam batasan. Kalau tidak...
Andai mereka tahu. Akulah yang akan bergabung dengan Grup Wijaya.
Makan malam itu berantakan dengan cepat setelah itu. Jason melempar piring ke lantai. Anto menatapku seperti aku pengkhianat. Dan Rio… Rio tidak mengatakan apa-apa.
Aku pun pergi tanpa sepatah kata pun.
…
Hari keberangkatan tiba lebih cepat dari yang kuharapkan.
Joni datang lebih awal, mengetuk ringan di pintu.
“Siap?” tanyanya, suaranya rendah. Maksudnya adalah segala yang akan datang setelahnya.
Aku mengangguk.
…
Hidupku dengan Grup Wijaya dimulai saat aku turun dari feri di Mankalis. Koordinator mereka menjemputku di pelabuhan dan memberiku satu hari untuk beristirahat sebelum membawaku ke vila.
Kompleks itu lebih mirip dengan rumah mewah dengan nuansa bangsawan tradisional, batu putih, taman hijau, dan rumah-rumah kecil yang tersebar di lahan seperti bidak catur dalam permainan yang baru saja kumulai.
Pak Adam Wijaya menemuiku di aula utama.
Usia awal tiga puluhan. Rambut pirang, mata cokelat. Rapi. Menawan. Dan sama sekali tidak seperti yang kuharapkan dari seorang pria yang dikabarkan memerintahkan eksekusi di sela-sela mencicipi anggur.
“Aku dengar kamu berasal dari keluarga seperti kami,” katanya dengan lancar. “Apa yang membuatmu pergi?”
“Orang tuaku meninggal,” kataku. “Jadi kurasa sudah waktunya untuk mengganti pemandangan.”
Dia mengangguk, matanya mempelajariku. “Sayang sekali. Seharusnya mereka pasti bangga pada gadis sepertimu.”
Lalu dia mendekat, suaranya merendah. “Jika ada seseorang yang ingin kamu hubungi… lakukan hari ini. Setelah malam ini, kamu akan menghilang dari radar.”
Dia lalu berjalan pergi, meninggalkanku dengan pilihan itu.
Aku mengeluarkan ponselku.
Jemariku berada di atas nama-nama, Anto, Jason, Rio.
Aku pun memilih Anto. Telepon berdering sekali. Dua kali. Lalu... “Kellen?” Itu Siti.
Dengan cemas, aku berkata, “Mana Anto?”.
“Dia bersama Jason. Dia suruh aku angkat teleponnya. Kamu bisa bilang padaku apa saja yang mau kamu sampaikan padanya.”
Di belakang, aku mendengar tawa. Anto. Jason. Bahkan Rio. “Ayo, Siti!” mereka memanggil dengan riang.
Aku menelan rasa sesak di tenggorokanku. “Tidak ada. Hanya memeriksa.”
Aku pun mengakhiri panggilan. Mengeluarkan kartu SIM. Menjatuhkannya ke tanah dan menghancurkannya di bawah tumitku.
Mulai besok, tidak akan ada Kellen Kurniawan. Hanya seorang gadis dengan nama baru. Hidup baru.