Bab 1

Sahabat masa kecil pacarku hamil di luar nikah.

Demi menjaga reputasinya, Timo memutuskan untuk menikahinya.

Dengan tak percaya, aku bertanya bagaimana dengan aku dan anak kami padanya.

Timo menjawab dengan ekspresi tenang, “Selina berbeda denganmu, hanya aku satu-satunya keluarganya. Dia nggak akan sanggup menanggung gosipan hamil di luar nikah!”

Timo lupa, aku juga tidak punya siapa-siapa selain dia.

Kemudian, saat semua orang mengejekku mengandung anak haram yang tidak jelas siapa ayahnya, Timo hanya berdiri di samping sahabat kecilnya dan menatapku dengan tatapan dingin.

Barulah saat itu aku sadar, ternyata cinta memang ada tingkatannya.

Akhirnya, aku menggugurkan bayi yang sebenarnya bukan anak haram itu, demi merelakan pacarku untuk setia pada sahabat kecilnya.

Di bulan pertama saat tahu aku hamil, aku dengan penuh semangat memberitahu Timo.

Namun, reaksinya waktu itu sangat aneh. Dia tidak kelihatan senang sama sekali.

Justru malah mengernyit dan wajahnya terus memuram.

Saat aku tanya kapan dia mau menikahiku, dia malah panik dan buru-buru ganti topik.

Sampai hari ini, aku datang ke rumah sakit sendirian untuk periksa kehamilan.

Tanpa sengaja, aku ketemu dengan sahabat kecilnya Timo di rumah sakit.

Barulah aku tahu, ternyata mereka diam-diam sudah menikah dan hamil di belakangku.

“Anak nakal, kamu harus jadi anak baik, biar ibu nggak terlalu capek. Kalau nggak, nanti setelah lahir, aku suruh ayahmu pukul pantatmu!”

Timo keluar dari ruang periksa sambil membawa obat penunjang kehamilan khusus untuk ibu hamil.

Wajahnya bersinar lembut, penuh kehangatan seperti calon ayah baru.

Dia mengelus perut hamil Selina dengan lembut.

“Dia masih begitu kecil, belum mengerti apa-apa, kamu sudah ancam dia duluan!”

Detik berikutnya, mesin antrian memanggil namaku.

Aku bangkit dari pojok ruangan dan saat itu juga, Timo langsung menoleh, tatapan kami saling bertemu.

Di matanya tampak jelas rasa kaget dan gugup.

Mungkin dia tidak menyangka bisa begitu kebetulan bertemu denganku di rumah sakit yang sama dan di waktu yang sama.

Padahal sehari sebelum periksa, aku sudah mengajaknya untuk menemaniku ke rumah sakit.

Namun, dia bilang lagi sibuk, tak ada waktu.

Dan aku langsung percaya saja.

Akhirnya, aku datang ke rumah sakit, daftar dan antri sendirian.

Ironisnya, ternyata yang dia sebut lagi sibuk itu sebenarnya untuk menemani sahabat kecilnya periksa kandungan. Dia sama sekali tidak memikirkan aku, pacarnya yang sah.

Aku berjalan pelan mendekat, menatap perut Selina yang mulai membuncit. Ekspresiku datar, bahkan seperti sudah mati rasa.

“Sudah berapa bulan?”

Timo diam, bibirnya tertutup rapat, tatapannya menghindar.

Sebaliknya, Selina malah tersenyum penuh kemenangan.

“Hampir dua bulan, ini anakku dengan Kak Timo!”

Begitu mendengar jawabannya, aku menggigit bibir bawahku erat-erat.

Sungguh kebetulan, usia kandungannya sama dengan yang ada di perutku.

Hatiku seperti terkoyak dan akhirnya air mata yang kutahan-tahan tak bisa dibendung lagi, menetes deras di pipi.

Aku mendongak menatap Timo, bibirku pucat karena tergigit terlalu keras.

Nada bicaraku nyaris tercekat, “Kamu nggak mau kasih penjelasan apapun?”

Melihat aku menangis, Timo panik dan menatapku dengan penuh rasa bersalah.

Dia langsung menarikku ke dalam pelukannya, membujukku dengan suara pelan.

“Aku yang salah, aku membohongimu untuk temani Selina periksa kandungan. Tapi tenang saja, anak yang dia kandung itu bukan anakku.”

“Aku hanya khawatir dia periksa sendirian, takut terjadi apa-apa, makanya aku menemaninya.”

Dari belakang, Selina mendengus pelan, lalu langsung menampilkan wajah penuh kepiluan.

Matanya yang berkaca-kaca menatap Timo dengan ekspresi sedih dan memelas.

“Kak Timo, bukannya kamu sudah janji mau jadi ayah anak ini?!”

“Kita juga sudah resmi menikah. Nanti setelah anak ini lahir, namanya ada di satu kartu keluarga denganmu!”

Bab 2

Sebuah kalimat yang sebenarnya tidak terlalu lantang, tapi di telingaku terdengar seperti petir yang menggelegar.

Aku langsung mendongak dan mendorong Timo dengan keras.

Mataku menatap tajam ke arahnya, seolah ingin mencari sebuah jawaban.

Namun, Timo hanya menunduk, sama sekali tidak berniat menjawabku, jelas sekali dia sedang merasa bersalah.

Dengan mata memerah, aku menunjuk ke arah Selina, lalu bertanya pada Timo,

“Benarkah yang dia katakan?”

“Timo, kamu bahkan sudah menikahinya, lalu bagaimana dengan aku dan anak kita?”

“Kamu bahkan rela meninggalkan anak kandungmu sendiri, demi menjadi ayah bagi anak yang bahkan nggak jelas siapa ayahnya?”

Usai aku bicara, langsung terdengar tangisan sesenggukan Selina, sambil mengusap air matanya.

Tangisannya begitu nyaring dan memilukan.

“Anakku bukan anak haram! Anakku punya ayah!”

Timo langsung panik.

Dengan alis berkerut, tanpa ragu dia menamparku keras-keras.

“Plak!” Suara tamparan itu begitu nyaring dan pipi kananku terasa panas terbakar.

Tatapan Timo dingin saat melihatku, lalu dia menarik kembali tangannya dengan santai. Tatapan itu penuh ketidakpedulian.

“Nessi, kamu ini semakin lama semakin nggak tahu sopan santun! Kamu pikir semua hal bisa sembarangan diucapkan?”

“Kamu tahu nggak, ucapanmu tadi bisa menyakiti Selina sedalam apa?”

Aku tidak tahu seberapa besar rasa sakit yang dirasakan Selina, yang aku tahu, pria di depanku ini sudah berubah!

Aku mengusap luka di ujung bibir karena tamparan itu, rasa amis mulai menyebar di mulutku.

Setiap kali menyangkut Selina, dia selalu kehilangan kendali atas emosinya.

Dengan suara nyaris putus asa, aku bertanya padanya,

“Lalu kamu mau aku bilang apa?”

“Tunanganku bahkan nggak mau bertanggung jawab atas aku dan anakku lagi, malah siap menjadi suami untuk perempuan lain dan ayah untuk anak orang lain. Kamu pikir aku bisa dengan tenang bertepuk tangan dan mendukungmu?”

Suara yang tadinya tenang, kini perlahan meninggi karena emosi.

Timo sempat terdiam, matanya tampak menyimpan sedikit rasa iba dan bersalah.

Namun akhirnya, dia hanya menjawab dengan dingin,

“Selina berbeda denganmu, hanya aku satu-satunya keluarganya. Dia nggak akan sanggup menanggung gosipan hamil di luar nikah!”

“Bersabarlah, Nessi. Setelah Selina melahirkan, aku pasti menikahimu!”

Usai bicara begitu, dia memelukku erat, seakan sedang memberiku janji.

“Percayalah padaku, Nessi. Setahun lagi, setelah semua ini selesai, aku pasti akan menikahimu dengan resmi dan megah!”

Aku tidak menjawab.

Di belakangnya, Selina tampak tak senang dan langsung memotong,

“Kak Timo, anakku sudah lapar. Ayo kita pulang dan masak di rumah!”

Tubuh Timo sempat menegang, tapi dia tidak ragu sedikit pun.

Saat melepas pelukannya, dia menepuk kepalaku pelan, lalu meninggalkanku sendirian di rumah sakit.

Melihat sosok mereka yang menjauh, saat itulah aku benar-benar menyadari sangat mudah membedakan dicintai atau tidak dicintai.

Selesai kontrol kehamilan di rumah sakit, aku pulang ke rumah sendirian.

Rumah terasa jauh lebih sepi dari biasanya.

Baru selesai mandi dan rebahan di kasur, mataku sudah mulai mengantuk.

Tiba-tiba, terdengar suara pintu dibuka. Tak lama kemudian, terdengar suara Timo yang terdengar kesal tapi lembut.

“Rambutmu masih basah, kamu bisa sakit kalau tidur seperti ini.”

Aku tetap tak bergerak sedikit pun, Timo menghela napas, lalu menggendongku dan membawaku ke depan meja rias.

Dengan cekatan, dia memegang pengering rambut dan perlahan merapikan rambutku dengan tangannya.

Sampai rambutku kering, aku juga belum mengucapkan sepatah kata pun.

“Kamu masih marah soal kejadian tadi?”

“Bukannya aku sudah janji, begitu semuanya selesai, aku pasti menikahimu!”

Timo tahu betul cara membuat emosiku goyah.

Dia baru saja meniupkan napas hangat ke telingaku, membuat seluruh tubuhku merinding.

Aku tak tahan dan akhirnya bertanya,

“Bagaimana kalau aku nggak setuju?”

Wajah pria itu langsung berubah muram.

“Nessi, aku sedang memberitahumu keputusanku. Aku bukan sedang meminta pendapatmu!”

Setelah mengatakan itu, dia terdiam sejenak, lalu kembali dengan nada lembut,

“Kamu juga tahu, sekarang Selina hanya punya aku. Nggak ada orang lain yang bisa dia andalkan.”

“Aku nggak mungkin nggak membantunya.”

Setelah itu, Timo mulai membereskan pakaian. Tak butuh waktu lama, satu koper sudah penuh.

Sebelum pergi, dia hanya meninggalkan satu kalimat,

“Selina sering mual parah belakangan ini, aku mau temani dia beberapa hari. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku saja.”

Hingga Timo pergi dengan kopernya, barulah aku menyadari air mataku sudah mengalir di wajahku.

Ternyata ini tujuan dia datang hari ini.

Bukan karena dia tidak tahu bahwa aku juga tak punya siapa-siapa untuk bergantung.

Bukan karena dia tidak tahu bahwa aku juga mual setiap malam sampai tak bisa tidur.

Tapi, karena dia sudah tidak peduli padaku lagi!

Dibandingkan dengan Selina, aku memang tidak ada artinya.

Bab 3

Sejak hari itu, aku dan Timo nyaris tak saling menghubungi.

Dia sibuk mengurus Selina setiap hari, hanya sesekali menanyakan kabarku di tengah malam.

Melihat aku tak pernah membalas pesannya, lama-lama dia pun makin jarang menghubungiku.

Hingga akhirnya, di usia kandungan tiga bulan.

Saat sedang kontrol kehamilan di rumah sakit, aku tanpa sengaja bertemu dengan adik perempuan Timo.

Grace menatapku dengan wajah penuh keterkejutan. Dia langsung merebut laporan hasil pemeriksaan di tanganku, lalu suaranya naik beberapa oktaf karena emosi.

“Nessi, berani-beraninya kamu mengkhianati kakakku? Hamil anak haram laki-laki lain pula?”

Aku langsung mengernyit, tak menyangka dia bisa berpikiran seperti itu.

Aku buru-buru menjelaskan,

“Ini anaknya kakakmu, aku nggak mengkhianatinya!”

Namun, Grace justru menatapku penuh rasa jijik dan tertawa sinis.

“Sudah ketahuan begini masih saja cari alasan? Nessi, aku benar-benar nggak menyangka kamu yang kelihatannya polos ternyata begitu murahan. Hamil anak haram segala!”

“Kamu pikir bisa menjebak kakakku dengan anak ini? Lalu masuk ke keluarga kami dan mengubah nasib jadi nyonya besar?”

Aku tahu Grace memang tak suka padaku, tapi aku tak pernah menyangka kebenciannya sampai segininya.

Suaranya sangat keras.

Tak butuh waktu lama, orang-orang mulai mengerumuni kami.

Berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.

Aku menggigit bibir bawahku sampai terasa perih dan berdarah.

Bahkan bernapas pun terasa seperti menusuk, pedih sekali.

Beberapa kali aku mencoba berlari keluar dari rumah sakit, tapi selalu berhasil dicegat oleh Grace.

Akhirnya, aku hanya bisa berdiri di tempat, menatapnya dengan wajah malang dan dengan susah payah bertanya,

“Apa sebenarnya yang kamu mau? Sudah kubilang, ini anak kakakmu!”

“Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa langsung tanya ke dia!”

Grace hanya tertawa dingin dan menatapku sinis.

“Nessi, jangan pikir aku nggak tahu. Anak yang dikandung Kak Selina itu baru benar-benar anak kakakku. Hari ini kakakku juga sedang menemaninya periksa kandungan.”

“Kalau kamu memang mengandung anak kakakku, mana mungkin dia biarkan kamu datang sendiri ke rumah sakit?”

“Beraninya kamu selingkuh dan hamil anak haram, siap-siap saja dapat balasan dari keluargaku!”

Usai bicara, dia melambaikan tangan dan beberapa pengawal langsung muncul di belakangnya.

Aku mulai panik, buru-buru meraih ponsel ingin menelepon Timo.

Namun, detik berikutnya, sebuah tamparan sudah mendarat di pipiku.

Tamparan itu langsung meninggalkan jejak di wajahku dan ponselku juga jatuh ke lantai.

Dengan tatapan buas, Grace mencengkeram rambutku kasar, tatapan matanya tajam penuh kebencian.

“Sampai sekarang masih nggak menyerah? Masih berharap kakakku datang menyelamatkanmu? Nessi, kamu sudah bosan hidup?!”

Aku dipaksa masuk ke mobil Grace oleh para pengawalnya.

Tak butuh waktu lama, kami pun tiba di rumahnya.

Ternyata Timo dan Selina sedang berada di sana, mereka melihatku digiring masuk oleh para pengawal.

Rambutku berantakan, sudut bibirku berdarah dan bajuku lusuh serta kusut tak karuan.

Selina bersandar santai di sofa, wajahnya berseri-seri, menikmati suapan sup ayam dari Timo.

Sementara itu, Grace berdiri dengan kepala terangkat tinggi, tampak sangat puas dengan dirinya sendiri.

“Kak, si Nessi jalang ini selingkuh dan bahkan hamil anak haram.”

“Hari ini dia pergi periksa kandungan dan aku berhasil menangkap basah dia!”

Aku mendongak perlahan, bibirku pucat karena terlalu keras kugigit. Pipi kiriku membengkak, terlihat jelas jejak lima jari.

Aku menatap Timo, masih sempat berpikir dia akan menjelaskannya.

Namun, ternyata dia bahkan tak menoleh. Satu tatapan pun enggan diberikan padaku.

Dia berkata dengan dingin, “Kunci dia di loteng. Tanpa izinku, siapapun nggak boleh biarkan dia keluar!”

Dia Kehilangan Segalanya

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya