Bab 1
Putra bungsuku yang berusia tujuh tahun digigit ular. Aku segera melarikannya ke rumah sakit tempat putra sulungku bekerja.
Tak disangka, pacar anakku mengira aku adalah selingkuhan anakku.
Dia tidak hanya menghalangi pengobatan anak bungsuku, tapi juga menampar wajahku.
"Aku dan pacarku adalah pasangan sempurna, tapi kamu malah datang menantangku membawa anak harammu ini."
Aku ditendang dan dipukuli. Dada dan kecantikanku dirusak.
Dia mengancam, "Pelacur sepertimu baru bisa insaf kalau mulut bawahmu disegel langsung."
Aku dibawa ke ruang gawat darurat dalam keadaan mengenaskan, dan dokter bedah yang menanganiku ternyata adalah putra sulungku.
Tangannya gemetaran hebat memegangi pisau bedah dan wajahnya pucat pasi.
"Bu, siapa yang menyiksamu seperti ini?"
Anak bungsuku yang bandel bermain-main dengan ular dan akhirnya tergigit.
Suamiku sedang dinas ke luar kota dan putra sulungku sedang shift malam di rumah sakit.
Aku tidak menunda-nunda dan segera naik taksi menuju rumah sakit tempat putra sulungku berada.
Seorang perawat cantik berlari menghampiriku, menanyakan kondisi putra bungsuku, lalu mengatur tempat tidur untuk dikirim ke ruang gawat darurat.
Aku menjelaskan sebab dan akibatnya dengan tangisan tercekat dan memohon padanya untuk menyelamatkan anakku.
Dia menatap alat di tangannya dan tidak berhenti bicara dengan orang di sampingnya.
Tapi saat hampir tiba di ruang gawat darurat, tempat tidurnya tiba-tiba berhenti.
Aku tidak mengerti apa yang terjadi dan bertanya ada masalah apa.
Tatapan perawat itu kelam, entah kenapa. Dia menatap wajah anakku dengan saksama, bertanya, "Kamu kenal Ilham Ranuwijaya?"
Aku mengangguk. "Tentu saja kenal, dia ...."
Sebelum sempat mengucapkan kata "anakku", aku merasakan sebuah tamparan tepat di wajahku.
"Apa maksudnya ini?"
Aku memegang pipiku yang bengkak dan menatap gadis yang menamparku.
Perawat itu berwajah arogan, menatapku penuh kebencian dan berkata kasar.
Apa kamu tahu siapa aku? Aku sudah pacaran Ilham satu tahun. Hubungan kami stabil dan kami siap menikah."
Pada saat itulah aku mencermati wajahnya lebih dekat, dan sepertinya aku pernah melihatnya di status WhatsApp putra sulungku.
Pacar Ilham, Erina Galih.
Aku mengangkat tangan, ingin berjabat tangan dengannya.
Meski ini bukan saat yang tepat untuk bertemu dengan calon menantu untuk pertama kalinya, aku memperkenalkan diri terlebih dahulu.
"Aku ...."
Sebelum kata "ibu" saja sempat terucap, tamparan lain menghantam wajahku.
Kali ini dengan kekuatan penuh. Pipiku terasa terbakar dan sakit.
"Pelacur murahan. Jangan kira cuma karena kamu cantik, kamu bisa merebut pacarku."
Dia menendang perutku. Rasanya sangat sakit sampai aku tidak bisa berdiri tegak.
Dia menatap tajam ke arah putra kecilku di ranjang rumah sakit. "Ini anak haram yang diam-diam kamu lahirkan?"
Putra bungsuku sangat mirip dengan kakaknya. Keduanya lebih mirip ayah mereka ketimbang aku.
Aku ingin menjelaskan bahwa Ilham juga mirip ayahnya, tapi Erina tidak memberiku kesempatan.
Dia melirik putraku yang pucat pasi dan berkata perlahan.
"Kami sedang banyak pasien yang lebih mendesak, jadi kalian harus menunggu."
Dia lalu mengajak perawat di sampingnya pergi.
Kepalaku terasa berat, tapi aku mengerti bahwa kondisi putra bungsuku tidak bisa ditunda.
Aku buru-buru mengeluarkan ponsel untuk menelepon Ilham.
"Tut ... tut ... tut ...."
Nada tanda sibuk terdengar dari telepon.
Wajah putra bungsuku semakin memucat, hatiku semakin cemas. Ilham tidak bisa dihubungi.
Aku mengumpat dengan suara rendah.
Tapi, siapa sangka Erina belum pergi jauh dan mengira aku mengumpat kepadanya.
Dalam sekejap, dia berbalik dan menjambak rambutku, berkata dengan wajah garang.
"Siapa yang kamu telepon?"
"Ilham barusan terima panggilan darurat korban kecelakaan mobil dan masih di ruang operasi."
"Kamu pikir Ilham akan langsung membantumu setelah kamu telepon?"
Dia mengeluarkan kalung dari lehernya. Batu delima yang tampak tidak asing itu tergantung di depan mataku.
"Ini tanda cinta dari Ilham kepadaku. Dia akan menikahiku. Jangan kira dia akan peduli padamu hanya karena kamu melahirkan anak haramnya."
"Hubungan kami nggak akan goyah, camkan itu!"
Dia menghempaskanku ke lantai dengan begitu keras hingga bajuku setengah terbuka, memperlihatkan batu delima di leherku.
Mata Erina membelalak, kemarahannya semakin membumbung tinggi.
"Kenapa kamu juga punya batu delima pusaka ini?"
Bab 2
Batu delima ini memang pusaka keluarga kami.
Jumlahnya ada dua buah.
Satu buah aku berikan kepada Ilham untuk diberikan kepada gadis pilihannya.
Satunya lagi tadinya akan kuberikan kepada putra bungsuku, tapi karena dia masih terlalu kecil, aku menyimpannya untuk saat ini.
Erina jelas salah paham.
Dia merenggut kalung batu delima di leherku dan tertawa histeris.
"Ilham, kamu pembohong. Kamu janji hanya akan mencintaiku, tapi akhirnya kamu selingkuh dengan perempuan tua ini."
"Aku membencimu. Aku sangat membencimu."
"Hatiku sangat sakit, tapi aku tetap ingin mencintaimu."
Dia bergumam pada dirinya sendiri, dan setelah menggila beberapa saat, matanya tiba-tiba suram dan mengerikan.
"Asal mereka mati, nggak akan ada lagi rintangan di antara kita."
"Benar! Itu jawabannya!"
Erina mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. Setelah berdering sebentar, aku mendengarnya berkata, "Kak, kamu harus membantuku mempertahankan hubunganku!"
Tapi aku tidak punya waktu untuk menyaksikan kegilaannya. Aku merangkak ke tempat tidur anak bungsuku dan melihat kondisinya semakin parah.
"Tolong, tolong selamatkan anakku!"
"Dia digigit ular berbisa dan wajahnya sudah membengkak. Dia bisa mati kalau terlambat diselamatkan!"
Perawat lain di sekitar juga menasihati Erina.
"Bisa gawat kalau sampai beneran meninggal."
"Bagaimana kalau kita bawa anak ini ke UGD dulu?"
Erina mendecakkan lidah dengan kesal, mengamati kerumunan orang itu dengan mata tajam.
"Kalian yakin ingin berpihak dengan selingkuhan?"
"Jangan lupa, ayah Ilham direktur rumah sakit ini. Setelah aku jadi menantunya, kesempatan kalian mendapat promosi ada di tanganku."
Begitu mendengar kalimat ini, semua orang saling memandang dan langsung pergi, pura-pura sibuk.
Aku hampir memohon, "Erina, tolong, biarkan anakku pergi ke ruang gawat darurat dulu. Dia sudah hampir nggak tertolong."
Namun, wajah Erina dingin dan matanya menusuk tajam.
"Pas sekali, aku ingin dia mati. Mati, biar nggak ada kerenggangan antara aku dan Ilham setelah kami menikah!"
"Aku nggak mau hubungan kami dikeruhkan oleh anak haram. Aku nggak mau jadi ibu tiri anak orang lain."
Aku buru-buru menjelaskan, "Dia bukan anak haram Ilham, dia adik Ilham."
"Adik kandung, aku jamin."
Erina menendang hatiku. "Bilangnya adik Ilham, tapi kamu memperlakukan dia seperti anakmu."
"Konyol sekali. Kamu juga mau ngaku-ngaku jadi ibu Ilham?"
Aku segera mengangguk. "Aku memang ibu Ilham, ibu kandung."
Erina seperti melamun sejenak, menatap wajahku dengan cermat.
Pada saat itu, pintu terbuka.
Sekelompok orang yang membawa tongkat menghambur masuk. Yang memimpin adalah seorang pemuda yang rambutnya dicat pirang. Dia berteriak, "Siapa yang berani merebut pacar adikku?"
Dia lalu melihat aku yang berlutut di lantai dengan pipi bengkak dan penampilan acak-acakan, serta Erina yang berdiri di seberangku dengan wajah tidak bersahabat.
"Kak, ini dia pelacur itu. Dia juga ngaku-ngaku jadi ibu Ilham."
Pemuda itu tertawa sinis, menatapku dari atas ke bawah dengan jijik:
"Dia? Istri Pak Direktur? Jangan bercanda!"
"Erina, perempuan murahan ini cuma ingin menakut-nakutimu."
Tatapan skeptis Erina menjadi semakin yakin. "Kak, untunglah kamu di sini. Kalau nggak, aku sudah tertipu perempuan selingkuhan ini."
Dia menyerbu ke arahku dan menampar wajahku beberapa kali berturut-turut seperti kesetanan.
Telingaku berdengung, tapi aku tidak berani mengelak, hanya terus memohon, "Tolong anakku, tolong selamatkan anakku ...."
Mata Erina tiba-tiba bersinar dengan tatapan mengolok-olok. Dia berkata dengan jahat.
"Bisa. Kalau kamu ingin aku menyelamatkannya, lepas pakaianmu, tampar wajahmu, dan bilang kamu pelacur dan selingkuhan. Minta maaf padaku dan katakan ke kamera kalau kamu menyesal merusak hubungan kami."
Bab 3
Aku tertegun mendengar permintaan tidak masuk akal ini.
Erina mendorongku, lalu menjambak rambut putra bungsuku dengan tidak sabar dan menyodorkan wajah pucatnya ke hadapanku.
"Jangan terlalu lama, waktumu hampir habis."
Hatiku remuk redam.
Di sekelilingku ada pria-pria kekar yang dibawa kakak Erina, menatapku dengan penuh nafsu. Mata mereka yang menjijikkan terpaku pada dadaku.
Aku memegangi kancing atas bajuku erat-erat, menggelengkan kepala sambil berlinang air mata.
Erina mencibir, "Aku nggak terburu-buru. Tapi entahlah anak sialan ini punya waktu atau nggak menunggumu lepas baju selambat itu."
Tangisku berderai.
Ilham pernah menceritakan Erina kepadaku sebelumnya. Katanya, dia adalah gadis yang baik hati.
Aku menatap wanita berwajah garang di depanku, dan tanpa sadar tubuhku gemetar.
Para pria berbadan besar di sisi ruangan menatap dengan penuh semangat.
"Lepas saja. Kamu memang sudah murahan, malu buat apa?"
"Apa yang kamu sembunyikan di dada membusungmu itu? Buka bajumu, biar kita lihat!"
Erina mengeluarkan ponselnya dan merekam wajahku serta mengancam.
"Bisa ular biasanya menjalar dalam waktu satu jam. Hitung sendiri saja kamu masih bisa menunda-nunda berapa lama."
Demi anakku, aku akan berjuang.
Aku memejamkan mata dan mulai melepas atasanku.
Kakak Erina bersiul. "Wah, pelacur, badanmu lumayan juga."
Aku dibesarkan dengan aturan keluarga yang ketat, menikah dan memiliki anak sesuai aturan, dan tidak pernah mengalami penghinaan seperti ini.
Aku menggigit bibirku sampai muncul rasa amis di lidahku.
"Bisakah kamu menyelamatkan anak aku sekarang?"
Erina masih belum puas. Kameranya membidik dari atas ke bawah. Aku memalingkan muka untuk menghindar.
Tapi dia memegang rahang bawahku agar seluruh wajahku tersorot kamera.
"Kenapa buru-buru sekali? Yang dilepas baru baju luar saja. Pakaian dalamnya belum."
"Kamu nggak ngerti bahasa manusia? Aku bilang, kamu harus telanjang dan teriak ke kamera kalau kamu pelacur dan selingkuhan."
"Sekarang ini baru hidangan pembuka."
Kakak Erina menimpali dengan tertawaan. "Benar, lepas, cepat lepas!"
Erina menyeringai. "Nggak mau? Atau kamu mau tunggu ..."
"Aku lepas sekarang!"
Aku langsung menyela, takut dia melanjutkan kata-katanya.
Tanganku gemetaran, meraih ke belakang untuk membuka kait ....
Di bawah tatapan mata Erina yang berapi-api, aku melihat ke kamera dan perlahan membuka mulut.
"Aku wanita selingkuhan, aku pelacur. Tolong selamatkan anakku ...."
Plak!
Erina menampar kepalaku ke samping.
"Siapa yang suruh kamu tambah satu kalimat lagi? Aku cuma mau membeberkan kejahatanmu, jangan bicara yang lain-lain."
Aku berlutut dan memohon di kakinya. "Dia benar-benar bukan anak haram, dia adik kandung Ilham. Selamatkan dia dulu. Apa pun aku nggak peduli asalkan kamu menyelamatkannya."
Erina tertawa sinis dan menyilangkan lengannya. "Apa pun?"
"Pelacur, kamu nggak berhak minta apa-apa di sini."
"Sudah membodohi orang lain, membodohi diri sendiri juga."
Sambil bicara, dia menjambak rambutku dan membenturkan kepalaku ke dinding.
"Kamu cuma selingkuhan yang hina. Aku ingin muntah lihat wajahmu yang sok itu!"
Seolah belum cukup melampiaskan amarahnya, dia berteriak kepada orang-orang di belakangnya, "Kenapa kalian diam saja? Rekam juga pakai ponsel kalian!"
Lampu kilat membidik kepadaku dari segala arah.
Aku tidak bisa sembunyi sama sekali.
Dalam kepanikan dan keinginan kuat untuk melarikan diri, aku menabrak ranjang putraku.
Aku spontan ingin menggenggam tangan putra bungsuku untuk menenangkannya.
Tapi ....
Jantungku berdegup kencang seketika.
Kenapa tangan putra bungsuku sangat dingin?
Firasat buruk menjalar dalam hatiku. Aku berusaha meyakinkan diri bawa firasat itu salah dan tidak mungkin terjadi. Tapi aku tidak bisa menghentikan jari-jariku yang bergerak menuju ujung hidungnya.
Tidak ada embusan napas.
Kenapa tidak ada embusan napas?
Aku mengguncang putra bungsuku seperti orang gila. Tapi tubuhnya tetap lemas sekeras apa pun aku mengguncangnya, lunglai seakan tidak bertulang.
Putra bungsuku meninggal!
Menyadari kebenaran ini membuat pikiranku dipenuhi kemarahan.
Aku telah merendahkan diri serendah-rendahnya, membiarkan Erina mempermalukanku. Semua agar putra bungsuku bisa dibawa ke ruang gawat darurat lebih cepat. Tapi sekarang, putra bungsuku sudah meninggal.
Jadi, aku tidak perlu menahan diri lagi.
Aku perlahan menjauh dari ranjang rumah sakit, menatap dengan penuh kebencian pada pembunuh di depanku.
Erina tanpa sadar mundur beberapa langkah. "A-apa .... Mau apa kamu?"