Bab 1

Aku dan Deon telah berpacaran selama tujuh tahun. Namun saat dia dituntut dan dipenjara, aku memilih meninggalkannya dan berbalik menjalin hubungan dengan sahabat terdekatnya.

Setelah keluar dari penjara dan bangkit kembali, Deon menggunakan segala cara untuk memaksaku menikah dengannya.

Orang-orang di luar mengira dia benar-benar mencintaiku. Namun tak ada yang tahu, setiap malam setelah pernikahan kami, dia membawa wanita yang berbeda ke ranjang pernikahan kami. Bahkan adik kandungku sendiri pun tak luput dari perbuatannya.

Itulah hukumannya untukku, karena merasa aku telah mengkhianatinya.

Namun tanpa sepengetahuannya, demi membersihkan namanya, aku rela menyusup ke markas mafia. Aku menukar satu ginjal dan setengah hatiku demi mendapatkan bukti kunci.

Sayangnya, waktuku di dunia ini sudah tidak lama lagi ....

"Bu Griselle, Anda yakin ingin menjadwalkan program euthanasia bulan depan dan menandatangani surat donasi organ jenazah?"

"Aku yakin," jawab Griselle lirih sambil menunduk menatap hasil pemeriksaan yang kacau balau. Suaranya penuh kepedihan. "Kalau terus begini, itu cuma buang-buang sumber daya saja."

Seluruh organ di tubuhnya telah mengalami kerusakan yang tak bisa diperbaiki. Waktu hidupnya paling lama tinggal satu tahun.

Daripada menghabiskan hari-hari terakhirnya terbaring tak berdaya di ranjang, Griselle lebih memilih pergi dengan bermartabat. Setidaknya dia masih bisa memberikan kontribusi kecil untuk dunia ini. Diiringi tatapan menyesal dari sang dokter, Griselle berdiri dan meninggalkan rumah sakit.

Begitu sampai di rumah dan membuka pintu, suara desahan penuh gairah dari dalam kamar langsung menyambutnya.

Wajah Griselle yang memang sudah pucat, tampak semakin memutih. Dia buru-buru menyembunyikan lembaran hasil pemeriksaan, lalu bersandar di ambang pintu kamar untuk mendengarkan suara-suara yang menyayat hati dari balik pintu. Tanpa sadar, kukunya menancap dalam ke daging telapak tangannya.

Dia sudah tak sanggup lagi menghitung berapa banyak wanita yang dibawa pulang oleh Deon.

Selama dua tahun pernikahan, Deon selalu membawa wanita yang berbeda ke rumah setiap hari dan bermesraan terang-terangan di depan mata Griselle. Dia bahkan tidak mengizinkan Griselle untuk sekadar menghindar.

Satu jam penuh berlalu sebelum suara di dalam kamar mulai mereda. Deon keluar dari kamar dengan bertelanjang dada. Melihat Griselle berdiri mematung di ambang pintu, dia berkata dengan nada dingin, "Masih berdiri saja? Naomi haus. Ambilkan air untuknya."

Dada Griselle langsung tercekat, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Naomi?" Dia melangkah dengan cepat ke ambang pintu kamar dan menatap wanita yang berbaring di ranjang.

Gadis itu berwajah sangat mirip dengannya. Dia terkulai lemas di atas kasur dengan mengenakan gaun tidur sutra milik Griselle yang kini sudah kusut dan robek tak karuan.

Tangan Griselle bergetar hebat. Dia menoleh menatap Deon dengan sorot mata yang penuh amarah dan luka. "Kamu gila?! Naomi itu adik kandungku! Kenapa kamu begitu!"

Deon mencengkeram pergelangan tangan Griselle dan menekannya ke dinding. Tatapan matanya yang dalam dipenuhi ejekan. "Lalu kenapa?"

"Oh iya, dia satu-satunya keluarga yang kamu punya, 'kan? Nggak enak ya rasanya dikhianati oleh orang yang paling kamu percaya?" Nada bicaranya ketus, sorot matanya yang kelam bagaikan badai yang akan menghantam. "Griselle, semua ini adalah balasan yang pantas kamu terima!"

Griselle memejamkan mata. Rasa getir yang tak terucapkan memenuhi mulutnya.

Dulu, dia dan Deon adalah pasangan kekasih yang tumbuh bersama sejak kecil. Mereka menjalin hubungan selama tujuh tahun, bahkan sudah lama bersiap untuk melangkah ke pelaminan.

Namun tepat di malam sebelum pernikahan mereka, rumah sakit yang dikelola Deon tiba-tiba terseret dalam skandal perdagangan organ ilegal. Deon ditetapkan sebagai dalang utama, didakwa, dan dipenjara.

Dalam sekejap, pria yang dulu dielu-elukan sebagai anak emas, jatuh menjadi tahanan yang dicemooh.

Dari balik jeruji, dia mengirim ratusan pesan, menelepon berkali-kali untuk menjelaskan dan memohon agar Griselle percaya padanya. Dia juga meyakinkan Griselle bahwa dia akan segera dibebaskan setelah kasusnya naik banding.

Namun, di saat paling rapuh dalam hidupnya, Griselle malah meninggalkannya. Lebih dari itu, dia malah mengumumkan hubungan dengan sahabat terbaik Deon.

Deon bisa tetap bersikap tenang saat menghadapi tuntutan dan penangkapan. Namun ketika mendengar kabar itu, seluruh pertahanannya runtuh. Dia mencoba bunuh diri dan memohon pada polisi agar mengizinkannya bertemu Griselle.

Lukanya terlalu parah, dia kehilangan banyak darah dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Namun yang didapatnya hanyalah kabar bahwa Griselle telah keluar negeri bersama pacarnya.

Deon tidak percaya Griselle bisa sekejam itu. Dia meminjam ponsel orang lain dan menelepon Griselle berkali-kali, tetapi tidak pernah bisa tersambung.

Dengan kondisi tubuh yang belum pulih, dia nekat ingin ke bandara mencarinya. Namun sebelum sempat tiba, dia malah jatuh pingsan di jalan.

Setelah itu, Griselle tetap pergi tanpa menoleh ataupun meninggalkan pesan sama sekali.

Sejak saat itu, kebenciannya terhadap Griselle tumbuh begitu dalam. Ketika akhirnya keluar dari penjara, Deon menggunakan segala cara agar bisa menikahinya, hanya untuk menyakitinya setiap malam.

Namun, Deon tidak tahu bahwa Griselle-lah yang telah mempertaruhkan nyawanya. Melalui salah satu teman Deon, dia berhasil menyusup ke markas perdagangan organ gelap. Di sana, dia menukar satu ginjal dan separuh hatinya demi mendapatkan bukti kunci yang mampu membalikkan kasus Deon.

Bab 2

Keheningan Griselle justru membuat amarah Deon semakin membara. Dia melepaskan cengkeramannya dan menghapus tangannya dengan tisu seolah jijik karena baru saja menyentuhnya. "Kenapa masih bengong? Naomi masih nunggu airnya."

Langkah Griselle menuju dapur terasa kacau dan goyah. Dia menuangkan segelas air hangat, lalu membawanya ke kamar. Saat meletakkannya di nakas sebelah ranjang, tangannya masih tampak gemetar.

"Terima kasih, Kak." Suara Naomi terdengar serak, masih menyisakan sisa-sisa gairah, "Sepertinya aku akan merepotkan ke depannya."

"Deon bilang aku boleh pindah ke sini. Lagian kita semua keluarga, Kakak nggak keberatan, 'kan?"

Gerakan Griselle terhenti sejenak saat hendak berbalik. "Dia sudah gila, kamu juga ikut-ikutan?"

Nada sarkastis dalam suara Griselle langsung memicu amarah Naomi. Suaranya mendadak melengking tajam, "Ya, aku memang gila!"

"Dari kecil kamu selalu lebih baik dari aku. Lebih pintar, lebih disayang, semua orang di rumah cuma peduli padamu!" Naomi mencengkeram seprai hingga membentuk lipatan kasar.

"Satu-satunya orang yang tetap peduli padaku hanyalah Kak Deon. Meskipun begitu, dia tetap cuma mencintaimu! Bahkan setelah kamu mengkhianatinya, dia tetap mau menikahimu!"

Nada bicara Naomi dipenuhi perasaan iri dan luka, "Kenapa? Apa yang membuatmu pantas mendapatkan semua itu?"

Griselle tersenyum pahit. "Jadi karena itu kamu rela menjatuhkan harga diri dan naik ke ranjang kakak iparmu?"

"Kalau bukan aku, pasti akan ada wanita lain." Naomi duduk tegak dan meraih tangan Griselle, lalu berkata dengan nada pelan, "Kak, tadi rumah sakit meneleponku. Aku tahu, umurmu nggak lama lagi."

"Daripada nanti posisi Nyonya Maxime direbut sama wanita nggak jelas, lebih baik biarkan aku yang jaga dia. Kak, seumur hidupku, aku nggak pernah rebut apa pun darimu. Tapi kali ini ... tolong, berikan aku kesempatan. Kumohon, Kak ...."

Griselle menggeleng pelan. "Kamu nggak perlu minta izin dariku."

Wajah Naomi sempat berubah masam, tapi segera melunak setelah mendengar kalimat selanjutnya. "Dia sebenci itu padaku ... apa yang masih bisa kuhalangi darimu?"

Naomi mengambil gelas air dan menyerahkannya kembali ke tangan Griselle, kemudian dia berkata dengan suara rendah, "Kalau begitu ... Kakak bantu aku terakhir kali saja, ya?"

Griselle langsung merasakan firasat buruk. Dia refleks menarik tangannya, tapi Naomi tiba-tiba mencengkeram kuat dan menyiramkan seluruh isi gelas ke wajahnya sendiri!

Bersamaan dengan itu, Naomi menjerit melengking, "Ahh! Jangan ...!"

Deon langsung menerobos masuk ke kamar. Yang dia lihat adalah Griselle berdiri di samping ranjang sambil memegang gelas kosong, sementara Naomi duduk di tempat tidur dengan kondisi basah kuyup dan terlihat sangat menyedihkan.

"Griselle, kamu gila?!" Deon bergegas memeluk Naomi. Sorot matanya dipenuhi kebencian saat menatap Griselle. "Naomi itu adik kandungmu!"

Naomi meringkuk dalam pelukan Deon, suaranya terisak pelan. "Kak Deon, jangan salahkan Kakak. Dia cuma terlalu kaget ...."

"Kenapa kamu sebodoh itu? Dia sudah begini sama kamu, kamu masih mau bela dia?" Deon menunduk menatap Naomi dengan penuh kelembutan. "Jangan khawatir. Selama ada aku, nggak akan ada yang bisa menyakitimu."

Griselle baru tersadar kembali setelah beberapa saat. Melihat adegan penuh kasih dari kedua orang di hadapannya, hatinya langsung terasa dingin. Dia menoleh dan beranjak pergi, meninggalkan pemandangan kedua orang yang mesra itu di belakangnya.

Bab 3

Malam itu, Deon dan Naomi seolah sengaja ingin menyiksa Griselle. Suara-suara dari kamar sebelah terdengar begitu sengaja dibuat keras dan menggoda.

"Naomi, aku sangat mencintaimu ...."

"Kak Deon, aku juga cinta kamu ... ah ...."

Griselle yang berada di kamar sebelah menggigit bibirnya erat-erat dan menarik selimut untuk menutupi kepalanya.

Dulu, mereka juga seperti itu. Berduaan di atas ranjang yang sama, saling memeluk dengan bergairah. Suara Deon saat itu juga sama lembutnya.

Dulu mereka pernah saling berjanji untuk menua bersama, membayangkan masa depan yang hangat dan bahagia dengan anak-anak yang berlarian di sekitar mereka.

Namun, waktu telah mengubah segalanya. Semua impian itu kini hancur lebur, remuk seketika tanpa jejak. Memikirkan hal itu, hati Griselle diliputi kesedihan yang tak berujung. Air matanya diam-diam mengalir melewati pipinya.

....

Keesokan paginya, Griselle bangun dengan mata yang sembap dan lingkaran hitam di bawah matanya.

Di meja makan, dia duduk diam sambil menyendok bubur. Di depannya, Deon dan Naomi kembali mempertontonkan kemesraan mereka tanpa malu-malu.

"Kak Deon, roti ini enak sekali. Kamu harus coba," ujar Naomi ceria, lalu mengoleskan selai di sepotong roti dan menyodorkannya ke mulut Deon.

Deon tersenyum dan membuka mulut untuk menggigit roti, lalu mengambilnya dan menikmati perlahan.

Pemandangan itu membuat dada Griselle terasa perih. Namun, rasa perih yang semula emosional, mendadak berubah menjadi nyeri yang nyata dari dalam perutnya. Rasa sakit itu semakin menusuk. Keringat dingin mulai mengucur dari pelipisnya.

"Kamu kenapa?" tanya Deon dengan dahi mengernyit.

"Aku ...." Griselle mencoba menjawab, tapi belum sempat berkata apa pun, darah segar menyembur dari mulutnya. Tubuhnya goyah dan nyaris roboh dari kursinya.

"Griselle!"

Ekspresi Deon langsung berubah. Dia berdiri dengan panik dan meraih tubuh Griselle yang limbung. "Aku antar kamu ke rumah sakit sekarang. Tahan sebentar, ya!"

Ekspresi panik dan cemas di wajah Deon saat ini, sekilas membawa Griselle kembali ke beberapa tahun yang lalu.

Saat itu, bahkan ketika dia hanya demam biasa sekalipun, Deon akan langsung panik luar biasa. Ingin sekali rasanya dia menanggung semua rasa sakit itu agar Griselle tidak perlu merasa kesakitan sedikit pun.

Kenangan itu membuat hati Griselle merasa tersentuh ... tapi perasaan hangat itu segera lenyap begitu saja.

Naomi tiba-tiba tersenyum tipis dan berdiri. "Kak Deon, jangan terlalu khawatir. Kebetulan tadi pagi aku nemu satu kantong darah di kamar mandi ...." Dia mengeluarkan sebuah kantong darah kosong dari saku bajunya.

Ekspresi Deon langsung berubah muram.

"Kalau tebakanku nggak salah, darah yang Kakak muntahkan tadi ... pakai ini, ya? Tujuannya supaya Kak Deon merasa kasihan padamu. Benar, 'kan?"

Deon menatap Griselle dengan sorot mata tajam. "Palsu? Kamu mempermainkanku?" Tangannya yang semula menopang tubuh Griselle kini perlahan ditarik mundur. Dia berdiri mematung di tempat dan menatap Griselle dengan sorot yang dingin.

"Hah. Kamu sebodoh itu?" Griselle menahan rasa perih yang kembali naik ke tenggorokan, lalu mengelap sudut bibirnya seolah tak terjadi apa-apa. "Tentu saja itu darah palsu. Aku bahkan nggak nyangka kamu bisa ketipu sama trik serendah itu."

"Kamu ... benar-benar menjijikkan!" Suara Deon terdengar ketus dan benci, "Kamu mau mati atau nggak, itu nggak ada hubungannya sama aku! Asalkan kamu nggak mati di depan mataku saja sudah cukup!"

Deon menggertakkan giginya, nada bicaranya terdengar penuh kemarahan.

Dendam Mengubur Cinta

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya