Bab 1
Demi berkencan dengan asisten di malam natal, suamiku mencampurkan obat tidur ke dalam susu anak kami.
Ketika aku mengantar anakku yang demam tinggi ke rumah sakit, aku malah melihat suamiku sedang menggendong asistennya ke lantai atas.
"Kaki Nelly terkilir, aku menemaninya berobat."
Anaknya jelas-jelas berada di ruang gawat darurat, tetapi dia sama sekali tidak peduli.
Aku mencengkeram tiket lotre yang ada di sakuku. Sudah saatnya aku mengakhiri pernikahan selama tujuh tahun ini.
Setelah menyelesaikan pekerjaan yang ada, aku menelepon Cullen. "Sayang, jangan lupa pulang untuk merayakan natal hari ini ya! Aku punya kabar baik untukmu!"
Namun, dari seberang telepon terdengar suara terburu-buru dari Cullen. "Yuna, ada sedikit masalah di proyek perusahaan. Aku harus ke sana untuk melihat. Jane sudah minum susu dan tidur. Tenang saja!"
Dua kalimat singkat itu membuatku sangat cemas. Putri kami, Jane, baru berusia satu tahun lebih. Bagaimana bisa aku tenang meninggalkannya sendirian di rumah? Namun, ketika aku mencoba menelepon kembali suamiku, teleponnya sudah tidak bisa dihubungi.
Orang-orang yang keluar untuk berkencan di malam natal sangat banyak, sementara aku hanya bisa terjebak di kemacetan lalu lintas dengan hati yang gelisah, sambil berdoa agar Jane baik-baik saja.
Saat aku terburu-buru kembali ke rumah, aku menemukan suasana rumah yang sangat sunyi.
Aku bergegas ke tempat tidur bayi dan melihat Jane tidur nyenyak. Aku tak bisa menahan diri untuk menyentuh pipinya yang tembam. Namun, begitu aku menyentuhnya, aku terkejut. Dahi Jane sangat panas, dia demam tinggi.
Aku segera mengendarai mobil membawa Jane ke rumah sakit sambil mencoba menelepon Cullen. "Cullen, Jane tiba-tiba demam! Cepat datang ke rumah sakit kota untuk melihatnya!"
Suamiku terdengar cemas. "Kok bisa demam? Ini semua salahmu! Sudah berulang kali aku bilang cepat cari pengasuh, kenapa kamu nggak mau mendengarku? Aku lagi rapat. Nanti kita bicarakan lagi!"
Aku menggertakkan gigi, memegang erat setir mobil. Sebelumnya kami pernah mencari pengasuh untuk Jane, tetapi pengasuh itu diam-diam mencubit Jane saat kami bekerja. Setelah tertangkap kamera, dia langsung dipecat.
Sejak saat itu, aku semakin ketat dalam memilih pengasuh dan sampai sekarang belum menemukan yang cocok. Tak kusangka, hal ini justru menjadi senjata Cullen untuk menyalahkanku.
Namun, aku tidak punya waktu untuk marah pada Cullen saat ini. Aku menerobos tiga lampu merah untuk sampai ke rumah sakit kota, lalu menggendong Jane ke ruang gawat darurat.
Awalnya, aku mengira ini hanya demam biasa akibat flu. Namun, setelah pemeriksaan, dokter mengatakan Jane tanpa sengaja menelan obat tidur dan harus segera menjalani cuci lambung!
Kata-kata itu seperti petir di siang bolong. Semua makanan Jane selalu diurus olehku dan Cullen. Bagaimana mungkin dia menelan obat tidur?
Melihat Jane didorong masuk ke ruang operasi dengan wajah kecilnya yang memerah karena panas, aku berharap bisa menggantikan posisinya untuk menanggung semuanya.
Dalam kepanikan, aku mencoba menelepon Cullen lagi, tetapi tetap tidak bisa dihubungi.
....
Untungnya, sejam kemudian, operasi berhasil dilakukan. Jane dipindahkan ke ruang perawatan biasa untuk observasi.
Aku baru saja ingin mengikuti dan merawatnya, tetapi dokter yang menangani memanggilku dengan wajah serius. "Bu Yuna, tunggu sebentar."
Dia tampak ragu-ragu. "Apa aku boleh tahu siapa yang menyiapkan susu untuk anakmu?"
Aku agak bingung. "Aku dan suamiku, kami berdua selalu menyiapkan susu untuknya."
Dokter bertanya lagi, "Kalau malam ini, siapa yang menyiapkannya?"
Aku semakin bingung. "Suamiku. Ada apa, Dokter? Apa ada yang salah?"
Dokter menghela napas, menepuk bahuku. "Kalau ada CCTV di rumah, coba periksa rekamannya."
Meskipun tidak mengerti maksud dokter, aku tidak punya waktu untuk memikirkannya. Aku segera kembali untuk merawat Jane.
....
Melihat suhu tubuh Jane yang perlahan turun, hatiku merasa lega. Ketika melihat ponselku, waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 malam.
Setelah hari yang melelahkan, aku merasa tubuhku hampir remuk dan memutuskan untuk pergi ke supermarket rumah sakit dan membeli roti untuk mengganjal perut.
Namun, saat turun ke bawah, aku justru melihat Cullen yang seharusnya sedang lembur! Lebih mengejutkan lagi, Cullen sedang menggendong asisten barunya, Nelly!
"Pak, semua salahku. Aku malah terkilir saat turun dari mobil. Kita jadi nggak bisa merayakan natal bersama."
"Jangan berkata begitu. Terkilir bukan masalah kecil, aku khawatir kamu kenapa-napa. Lagi pula, anggap saja kita merayakan natal di rumah sakit. Kalung berlian yang kamu mau sudah kubeli kok."
"Ah, dasar menyebalkan ...."
Cullen berbicara lembut kepada Nelly, sama sekali tidak menyadari keberadaanku di sudut ruangan.
Dalam campuran kesedihan dan kemarahan, air mataku mengalir deras. Anak kandungnya sedang terbaring di rumah sakit karena demam tinggi, tetapi Cullen masih sempat-sempatnya berkencan dengan asistennya!
Dia sama sekali tidak peduli dengan hidup atau mati putrinya! Bahkan, saat dia menghamburkan uang untuk Nelly, dia tidak pernah berpikir, istri sahnya ini bahkan tidak pernah menerima kalung darinya.
Aku dan Cullen menjalin hubungan sejak kuliah. Setelah lulus, dia ingin memulai usaha, jadi aku memberinya 400 juta dari keluargaku sebagai modal awal. Ketika dia merintis usahanya, aku berhemat habis-habisan, sampai makan dan pakaianku pun seadanya.
Setelah usaha Cullen mulai berkembang, aku tetap hidup sederhana. Bagiku, membangun keluarga itu mudah, tetapi mempertahankannya yang sulit.
Terlebih lagi, belakangan ini, perusahaan Cullen sedang mengalami masalah arus kas. Aku semakin berhemat. Bahkan saat belanja di pasar, aku menghabiskan banyak waktu untuk tawar-menawar.
Namun, aku tak menyangka semua pengorbananku tidak dihargai olehnya. Dia malah berselingkuh dengan wanita lain. Aku menghapus air mataku dengan kasar, menggenggam erat tiket lotre yang ada di sakuku.
Ya, aku memenangkan lotre. Awalnya, aku ingin memberi tahu Cullen di malam natal ini di rumah. Aku juga ingin memberitahunya bahwa aku sudah mengundurkan diri dari pekerjaan agar bisa fokus merawat Jane. Namun, sekarang ....
Tidak masalah. Kini, aku tidak perlu memberi tahu Cullen tentang uang ini lagi. Hubungan tujuh tahun kami juga sudah saatnya untuk diakhiri.
Bab 2
Setelah menghabiskan malam yang melelahkan, keesokan harinya Jane keluar dari rumah sakit.
Setibanya di rumah, aku membuatkan susu untuk Jane dan menidurkannya. Rasa lelah karena semalaman tidak tidur akhirnya menyergapku. Aku langsung tertidur di sofa.
Ketika terbangun, hari sudah siang. Aku berniat memasak, tetapi tiba-tiba teringat ucapan dokter kemarin. Dia memintaku untuk memeriksa rekaman CCTV di rumah.
Apa maksudnya? Apa mungkin kejadian Jane menelan obat tidur bukan sebuah kecelakaan, tetapi disengaja?
Pikiran itu membuatku merinding. Di rumah ini hanya ada aku dan Cullen. Apakah Cullen yang memberikan obat tidur pada Jane?
Namun, itu jelas tidak mungkin! Meskipun Cullen selingkuh, aku yakin dia tidak akan sekejam itu terhadap anak kandungnya sendiri.
Dengan sedikit rasa ragu, aku tetap membuka rekaman CCTV. Baru saja melihat sebentar, amarah sudah menyelimuti hatiku!
Rekaman itu menunjukkan dengan sangat jelas bahwa Cullen menghancurkan obat tidur dan mencampurnya ke dalam susu Jane!
"Tenang saja, aku akan menjemputmu tepat waktu. Bocah ini terus nangis, aku tenangkan dia sebentar."
Cullen pasti tidak tahu CCTV masih aktif. Kalau tidak, dia tidak akan berani bertindak seberani ini.
Namun, aku tidak menyangka dia bisa begitu kejam pada Jane! Jane itu anak kandungnya!
Air mata mengaburkan pandanganku lagi. Kali ini bukan karena sedih, melainkan karena marah. Di dunia ini, tidak ada ibu yang akan membiarkan siapa pun menyakiti anaknya, sekalipun itu ayahnya sendiri!
Aku menyeka air mataku, memaksa diriku untuk tenang, lalu lanjut melihat rekaman CCTV. Aku sungguh terkejut. Ternyata selama aku bekerja, Cullen yang katanya bekerja dari rumah, sering membawa Nelly ke rumah.
Mereka berdua bercumbu di sofa tanpa peduli pada Jane yang menangis hingga suaranya serak, padahal Jane tepat di sebelah mereka! Ternyata jauh sebelum aku tahu, Cullen sudah selingkuh!
Bagus, sangat bagus. Aku menyimpan semua rekaman itu, menelepon pengacara dengan tenang. "Pak, tolong bantu aku buat surat cerai."
Aku sudah memutuskan untuk meninggalkan Cullen bersama Jane.
....
Setelah selesai berbicara dengan pengacara, aku mendengar suara pintu terbuka. Cullen masuk sambil membawa banyak tas belanjaan dengan senyuman lebar di wajahnya. Sudah lama aku tidak melihat dia tersenyum seperti itu.
Namun, begitu melihatku, senyumannya langsung pudar. "Kenapa kamu nggak pergi kerja hari ini?"
Aku tersenyum sinis. "Aku nggak sepertimu yang bisa bersikap seolah-olah nggak terjadi apa-apa, padahal anak kita demam tinggi semalaman."
Cullen mengerutkan kening. "Kamu jangan langsung mencari masalah. Kemarin aku lembur! Kalau bukan demi kamu dan Jane, apa aku harus bekerja mati-matian setiap hari?"
Saat itu, aku melihat seorang wanita berdiri di luar pintu. Nelly.
Dengan sopan, dia menjulurkan tangannya padaku. "Kak Yuna, maaf mengganggu."
Aku tidak menggubrisnya dan tidak memberi jalan. Sebaliknya, Cullen tampak tidak sabar. Dia menarikku ke samping dan membawa Nelly duduk di sofa dengan lembut. "Nelly cedera. Untuk sementara waktu, dia akan tinggal di rumah kita."
Aku memandang mereka berdua. "Cedera kok tinggal di rumah orang lain? Cullen, kamu ini terlalu baik hati."
Cullen melambaikan tangannya dengan tidak sabar. "Kamu juga tahu Nelly hidup sendiri dan bekerja keras di luar sana. Ini bukan hal mudah untuk wanita. Dia bekerja di perusahaanku, jadi aku tentu harus menjaganya. Ini cuma hubungan kerja. Jangan pikir macam-macam."
Nelly menatapku dengan mata memerah. "Kak Yuna, maafkan aku kalau sudah mengganggumu dan Pak Cullen."
Aku mengangguk. "Memang mengganggu. Seperti yang kamu lihat, di rumah ini ada anak kecil. Jadi, benar-benar nggak nyaman."
"Yuna! Tutup mulutmu!" Cullen menyela, "Apa kamu bisa punya sedikit rasa iba? Nelly lima tahun lebih muda darimu. Kamu nggak perlu memperlakukan dia seperti ini."
"Di rumah kita ada kamar tamu, biarkan dia tinggal beberapa hari. Lagian, rumah ini aku yang beli. Aku yang memutuskan siapa yang boleh tinggal."
Cullen berbicara dengan penuh keyakinan, tetapi dia lupa saat aku menemaninya berjuang dari nol, aku seusia dengan Nelly. Pada masa terbaikku, aku memilih untuk memulai segalanya dari awal bersama dia.
Saat itu, dia berjanji akan memberiku kehidupan yang indah. Namun, sekarang dia lebih peduli pada wanita lain.
Aku tersenyum tipis dan menghalangi Cullen menuju kamar tamu. "Kalau begitu, biar Nelly tinggal di kamar utama saja. Aku dan anak akan pindah ke kamar tamu."
Cullen tampak bingung, mungkin merasa sikapku hari ini tidak biasa. Biasanya aku akan marah dan ribut dengannya, tetapi kali ini aku langsung setuju dengan keputusannya, bahkan menawarkan kamar utama.
"Yuna, kamu baik-baik saja?"
Aku mulai mengemasi barang-barangku dengan cekatan. "Tentu saja. Aku cuma ingin membuat semuanya lebih nyaman."
Cullen akhirnya setuju, lalu hendak membantuku membereskan barang. Dasar pria bermuka dua.
Saat dia membantu, Nelly yang katanya kakinya terkilir, tiba-tiba berdiri dan membungkuk padaku. "Terima kasih, Kak Yuna. Aku pasti akan membalas kebaikanmu ... aw ...."
Sebelum selesai berbicara, dia terjatuh karena tidak bisa berdiri dengan baik. Kejadian itu membuat Cullen sangat khawatir. Dia langsung melewatiku, menggendong Nelly, dan membawanya ke kamar utama.
Melalui bahu Cullen, Nelly menatapku dengan senyuman puas, seolah-olah mengejekku karena tidak mampu menjaga suamiku sendiri. Namun, dia tahu di mataku, Cullen tidak lebih baik dari sampah sekarang.
Setelah Nelly pindah ke kamar utama, Cullen menawarkan diri untuk tidur di sofa ruang tamu dengan alasan ingin menjaga batas.
Namun, saat aku bangun di malam hari, aku tidak melihat Cullen di sofa. Sebaliknya, aku mendengar suara-suara menggoda dari kamar utama.
Di depan istri sah, mereka masih bisa melakukan hal seperti itu. Sungguh pasangan yang penuh gairah!
Bab 3
Ketika aku bangun keesokan harinya, Cullen dan Nelly sedang sarapan di meja makan. Cullen meniup pangsit di hadapannya, lalu menyuapkannya kepada Nelly. Mungkin karena berpikir aku belum bangun, gerak-gerik mereka menjadi lebih berani.
Nelly berkata, "Cullen, aku rasa Kak Yuna sangat baik. Kalau ada waktu, bantu dia jaga anaknya. Bagaimanapun, dia putrimu."
Cullen tersenyum cerah. "Aku nggak peduli dengan anak itu. Kalau harus peduli, aku cuma peduli pada bayi yang ada di perutmu! Ini adalah buah cinta kita!"
Wajah Nelly memerah. "Ah, kamu ini .... Tapi kamu sudah janji, kalau bayinya laki-laki, kamu akan menceraikannya dan menikah denganku."
Cullen segera mengangguk. "Tentu saja, Nelly. Kapan aku pernah membohongimu?"
Aku merekam percakapan ini dan langsung mengirimkannya kepada pengacaraku. Jadi, ini alasan kenapa Cullen tiba-tiba menjadi sangat berani. Rupanya, Nelly mengandung anaknya.
Namun, yang lebih membuatku marah adalah kenyataan bahwa putri yang kulahirkan dengan susah payah ternyata tidak berarti apa-apa di mata Cullen.
Ini bukan kerajaan yang membutuhkan penerus takhta, kenapa harus anak laki-laki? Rasanya, aku ingin muntah. Aku menempatkan Jane di kereta dorong, bersiap untuk keluar rumah mengajaknya jalan-jalan.
Saat aku sampai di ruang tamu, Cullen langsung berhenti menyuapi Nelly dan mendekatiku untuk berbicara, "Sayang, ayo makan sarapan dulu."
Aku melihat makanan sisa di meja dan menolak dengan halus, "Nggak, cuaca hari ini cerah. Aku mau bawa Jane keluar untuk berjemur."
Jane yang masih kecil lantas mengulurkan tangannya ke arah Cullen, meminta untuk digendong. Namun, saat berikutnya, Nelly mengeluh dengan suara keras, "Aduh, perutku sakit sekali."
Ekspresi Cullen langsung berubah. Dia mengabaikan Jane yang masih mengulurkan tangannya dan berlari ke sisi Nelly. "Nelly, ada apa denganmu?"
Nelly memegang lengan Cullen. "Aku juga nggak tahu. Tolong bawa aku ke kamar untuk istirahat."
Cullen langsung menggendong Nelly dan membawanya ke kamar. Aku menenangkan Jane yang tampak kecewa, lalu memakai masker dan keluar rumah. Hari ini, aku berniat menukarkan tiket lotre.
Aku pergi ke loket bersama Jane. Setelah menukarkan tiket, ternyata aku memenangkan 16 miliar. Aku mendonasikan 200 juta ke yayasan anak yatim piatu, berharap bisa membantu lebih banyak anak-anak dan menambah karma baik untuk Jane.
Sisa uang itu menjadi modal untuk meninggalkan Cullen dan memulai hidup mandiri bersama Jane.
....
Kontrak dari pengacara membutuhkan beberapa hari lagi. Untuk menghindari kecurigaan Cullen, aku pulang ke rumah setelah menukarkan lotre.
Sesampainya di rumah, aku menerima telepon dari atasan, yang mengatakan ada laporan kerja yang harus segera kukirimkan.
Melihat itu, Nelly mendekat sambil membawa mainan kecil Jane. "Kak Yuna, aku bantu jaga anakmu sebentar. Kamu bisa fokus bekerja."
Aku menggeleng. "Nggak perlu, Jane bisa bermain sendiri."
Aku menempatkan Jane di dalam pagar mainan untuk melindunginya, lalu segera mencari berkas di komputer. Baru saja aku selesai mengirim laporan itu, kurang dari lima menit, aku mendengar Jane menangis histeris.
Aku bergegas keluar dan melihat lengan Jane terdapat bekas luka yang jelas. Jane adalah nyawaku. Siapa pun yang menyakitinya, sama saja dengan menyakitiku.
Aku menarik rambut Nelly dengan kuat dan menampar wajahnya, "Kamu berani menyakiti putriku?"
Nelly tidak melawan, malah menangis keras. Tangisan itu segera menarik perhatian Cullen. Dia bergegas menghampiri, melindungi Nelly dengan tubuhnya. "Yuna! Apa yang kamu lakukan!"
Aku memeluk Jane yang terus menangis, mencoba menenangkannya. "Aku melakukan apa? Apa kamu nggak lihat dia menyakiti anakmu? Luka ini jelas-jelas dia yang buat!"
Meskipun Cullen tidak terlalu menyayangi Jane, Jane tetap darah dagingnya. Dia langsung mengernyit dan menatap Nelly. "Apa yang terjadi?"
Nelly mengusap air matanya, terlihat sangat menyedihkan. "Cullen, aku nggak sengaja. Tadi aku mau main sama Jane, tapi dia terus menendang perutku. Aku nggak punya pilihan selain menghukumnya sedikit."
Aku hampir tertawa karena marah. "Jane baru satu tahun lebih, mana mungkin dia menendang perutmu?"
Air mata Nelly mengalir lagi. "Cullen, kamu harus percaya padaku ...."
Mungkin karena memikirkan anak yang ada di perut Nelly, Cullen kembali berpihak padanya. Dia memeluk Nelly dan menenangkannya, lalu melirikku dengan tajam. "Yuna, cepat bawa anakmu ke kamar. Jangan mempermalukan diri sendiri lagi."
Aku benar-benar kehilangan harapan pada Cullen. "Mempermalukan diri? Cullen, anakmu disakiti dan kamu nggak peduli?"
Cullen menyeretku ke kamar. Aku yang penuh amarah, langsung menarik rambut Nelly lagi. Nelly yang tidak menduga itu pun tidak sengaja menjatuhkan ponselnya. Seketika, aku melihat sebuah pesan di layar ponselnya. Mataku membelalak kaget.