Bab 1
Suamiku mengajak anak kami pergi jalan-jalan bersama cinta pertamanya ke sebuah hutan.
Tapi di tengah jalan, suamiku meninggalkan anak kami sendirian dan pergi berdua dengan cinta pertamanya.
Ketika si kecil dikelilingi serigala di dalam mobil, nomor suamiku tidak dapat dihubungi.
Aku pergi menyusul ke sana, tapi yang tersisa di dalam mobil hanya cokelat valentine yang berlumuran darah.
Di tengah pedihnya hatiku, suamiku menelepon.
"Kita sedang merayakan hari kasih sayang, haruskah kamu merusak suasana?"
Oh? Selamat hari kasih sayang!
Izinkan aku mengirimkan cokelat rasa darah untukmu!
Aku membuka pintu rumah, dan pemandangan yang menyambutku membuat kakiku hampir ambruk.
Lampu ruang tamu menyala terang benderang, diwarnai gelak tawa. Meja bundar di tengah ruangan dipenuhi hidangan mewah. Aroma manis cokelat menyeruak memenuhi udara. Pemandangan yang sangat menggembirakan.
Tapi hatiku serasa jatuh ke palung laut yang terdalam. Sekujur tubuhku kaku sedingin es.
Dhanu dan Citra duduk bersebelahan di sofa. Keduanya bersentuhan mesra dihiasi senyum bahagia.
Ibu mertuaku duduk di seberang mereka sambil memangku anak laki-laki Citra yang bernama Miko, menyuapinya makan cokelat sedikit demi sedikit.
Sekitar mulut anak itu berlumuran cokelat. Dia tertawa-tawa kecil, persis seperti anak perempuanku dulu.
Cokelat .... Anakku ....
Jantungku tiba-tiba tersentak keras. Pandangan mataku kabur, seperti akan pingsan.
"Widya sudah pulang? Sekarang hari kasih sayang loh, kenapa wajahmu cemberut begitu?" Mata tajam Citra yang paling cepat melihatku berdiri di depan pintu. Nada suaranya seperti memanas-manasi.
Dia sengaja bersandar lebih dekat kepada Dhanu, seolah menegaskan kemenangannya.
Dhanu pun menoleh kepadaku. Wajahnya sedikit tidak senang. "Jangan pasang wajah kusam terus setiap hari. 'Kan aku sudah bilang berkali-kali, belajarlah dandan seperti Citra. Paling nggak rapikan bajumu."
Pakaianku berantakan dan berlepotan. Seharusnya terlihat jelas bahwa aku telah melalui suatu masalah.
Tapi dia tidak peduli sedikit pun. Matanya hanya dipenuhi rasa tidak suka dan jijik.
Aku menarik napas dalam-dalam untuk mengendalikan emosiku, lalu menatapnya dengan dingin. "Dhanu, kamu tahu anakmu pergi ke mana?"
Mendengar pertanyaan ini, ibu mertuaku menepuk-nepuk anak yang ada di pangkuannya. Dia menggerutu, "Masih berani kamu bicara begitu? Anakmu itu sama bodoh dan nakalnya denganmu! Sudah malam, masih keluyuran nggak jelas. Nggak penurut seperti Miko."
"Kenapa kamu yang marah?!" Aku menggeram kepada ibu mertuaku dengan tangan terkepal.
Suaraku tajam dan tanpa hormat, menggelegar seperti guntur menyambar bumi, mengguncang semua orang yang ada di sana.
Mereka tidak pernah melihatku bersikap seaneh ini.
Dhanu yang paling cepat tersadar dari rasa terkejutnya. Sontak berdiri dari sofa dan menudingkan jarinya kepadaku, berteriak-teriak. "Widya! Kamu sudah gila, ya?! Jaga sikapmu!"
Tapi aku seolah tidak mendengar dan hanya berjalan menuju ibu mertuaku selangkah demi selangkah. Mataku seperti belati yang terhunus tepat kepada anak dalam pelukannya.
"Kalian nggak pantas menyebut nama anakku! Kalian semua terlalu kotor!" Suaraku semakin keras, hampir berteriak.
Dadaku naik turun dengan hebat. Mataku semerah darah. Seperti ada gelombang kemarahan yang menyala, membakar seluruh tubuhku dari dalam.
Ledakan amarahku mengagetkan Dhanu. Matanya menatapku tidak percaya, diselingi rasa jijik dan marah.
"Widya, apa sih maumu?!" Dia kembali menuding wajahku dan berkata tanpa perasaan, "Lihat sendiri seperti apa penampilanmu sekarang. Apa kamu masih terlihat seperti seorang istri dan ibu?!"
Bibirku gemetar. "Ibu? Apa kamu tahu anak kita ..."
"Dhanu, jangan marah. Widya mungkin tersinggung melihatku di sini ...." Suara lembut Citra memotong perkataanku. Dia menatap Dhanu dengan memelas, matanya sedikit berkaca-kaca. "Aku dan Miko pergi dulu saja. Aku nggak mau membuat Kak Widya kesal ...."
"Citra, jangan pergi. Yang seharusnya pergi itu dia!" Dhanu menolak tanpa pikir panjang, lalu lanjut menyerangku. "Widya, sudah cukup ribut-ributnya? Keluar dari sini sekarang juga! Pikirkan sendiri apa salahmu. Aku akan memberimu pelajaran nanti!"
"Aku ..." Satu kata sudah terucap, tapi aku tiba-tiba merasa terlalu lelah untuk menjelaskan.
Aku sudah putus asa. Pria yang pernah berkata bahwa dia mencintaiku kini terasa seperti orang asing. Dingin dan tidak punya perasaan.
Aku berbalik tanpa ragu dan berjalan dengan langkah berat menuju kamar anakku di lantai atas.
"Dhanu, kamu harusnya nurut kata Ibu sejak awal, jangan menikah dengan dia! Lihat sekarang, dia seperti habis keluar dari got, bikin malu keluarga kita saja!"
"Bu, jangan marah! Ayo lanjut makan dengan tenang, jangan pikirkan dia!"
Suara-suara itu terdengar jelas dari belakangku. Hatiku saat ini benar-benar tenggelam ke dalam jurang tak berdasar.
Aku berjalan terhuyung-huyung ke kamar putriku dan terjatuh lemas di tempat tidurnya.
Air mataku berderai tanpa suara, membasahi seprai merah muda kesayangan putriku. Air mataku itu juga seolah meresap ke dalam hatiku, membuatku menggigil kedinginan.
Kamar ini masih beraroma seperti wangi khas putriku, manis seperti permen. Tapi aku tidak bisa merasakan manisnya sedikit pun.
Ini semua salahku. Kalau saja aku tidak lemah dan tidak memilih untuk menyerah. Kalau saja aku tidak terlalu mudah percaya kepada Dhanu dan bersikeras ikut dengan putriku, dia tidak akan ...
Aku menutupi wajahku. Hatiku pilu. Perasaan menyesal dan menyalahkan diri sendiri melilit di sekujur tubuh seperti ular berbisa, membuatku tidak bisa bernapas.
Ada suara "pluk", sesuatu terlepas dari tanganku dan jatuh ke lantai.
Aku melihat ke bawah, melihat boneka kesayangan putriku tergeletak di lantai dengan sepasang mata kosong, seolah meratap tanpa suara, menangisi takdir yang tidak adil.
Dengan tangan gemetar, aku mengambil boneka itu dan mendekapnya erat-erat di dadaku, ingin merasakan sisa-sisa kehangatan putriku.
"Sedang apa kamu?" Suara tidak sabar Dhanu tiba-tiba muncul dari depan pintu, membuyarkan lamunanku.
Bab 2
Aku mengangkat kepala dan menatapnya dengan mata dingin. Pria ini sekarang sangat asing dan menjijikkan di mataku.
"Menurutmu?" Aku bertanya balik. Suaraku dingin tanpa kehangatan sedikit pun.
"Kamu kenapa, sih?!" Dhanu mengerutkan kening, suaranya mengungkapkan rasa tidak senangnya. "Sedikit-sedikit marah. Aku cuma tanya, apa salahnya?"
"Aku ingin tanya." Aku menatap kedua matanya lekat-lekat. "Kenapa kamu tinggalkan Selsa sendirian di dalam mobil?"
"Kenapa? Kamu tanya kenapa?" Dhanu tertawa sinis seolah mendengar sesuatu yang lucu. "Widya, otakmu pergi ke mana? Mobilnya mogok. Miko di rumah tiba-tiba demam. Akhirnya kami harus minta bantuan tim penyelamat, tapi mobil mereka cuma muat tiga orang. Jadi kami tinggalkan Selsa di dalam mobil dulu."
"Mobil tim penyelamat cuma muat tiga orang?" Aku mengulangi kata-katanya. Dadaku seperti diremas-remas. Rasanya sangat sakit sampai aku lupa cara bernapas.
"Memang begitu." Dhanu menjawab dengan tidak sabar. "Masa Citra yang harus disuruh menunggu di hutan? Anaknya sedang sakit! Lagian kami sudah minta orang lain untuk menjemput Selsa. Tinggal tunggu sebentar lagi. Masalahnya apa?"
"Sudah minta orang lain? Tinggal tunggu sebentar lagi?!" Aku melompat berdiri dan mengibaskan tangannya yang terulur. Mataku merah padam. "Dhanu, sadarkah kamu, karena kamu menganggap ‘tinggal tunggu sebentar lagi’ itu ... Selsa ... "
Suaraku tercekat oleh isak tangis. Aku tidak sanggup mengucapkan kata-kata kejam itu.
Dhanu mengerutkan keningnya tidak sabar. "Kalau bicara yang jelas."
"Selsa ... dia ..." Aku menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan gemetar, "Dia ... mati diserang serigala!"
Mengucapkan kata-kata ini terasa seperti menjatuhkan diriku sendiri dari tepi jurang. Seluruh tubuhku dingin dan pandanganku dipenuhi kegelapan.
Dhanu tertegun sesaat, lalu berteriak marah, "Widya! Kamu benar-benar sudah gila! Aku nggak menyangka kamu sampai berani mengutuk anakmu sendiri. Ke mana perginya hati nuranimu?"
Penghinaan dan ejekan di matanya bagaikan pisau tajam, menusuk-nusuk hatiku tanpa ampun. Sakit sekali.
"Apa?" Mataku terbelalak. Suaraku bergetar. "Kamu nggak percaya?"
Dia menunjuk ke arahku dan berkata keras, "Widya, aku benar-benar salah menilaimu. Kamu bahkan nekat melakukan tipuan yang nggak masuk akal demi mencapai tujuanmu. Ibuku memang benar, kamu nggak layak sama sekali menjadi ibu!"
“Dhanu, jangan marah. Mungkin Widya cuma ingin ditemani kamu, makanya dia bohong." Citra tiba-tiba menghambur memasuki pintu. Dia menggandeng lengan Dhanu, tatapannya cemas dan kata-katanya menghibur.
Tapi, rasa bangga yang terpancar dari matanya tidak bisa disembunyikan.
Dhanu menepuk punggung tangan Citra dengan sedih, lalu lanjut memarahiku. "Widya, kamu membuatku kecewa! Citra juga ibu. Lihat betapa perhatiannya dia. Bandingkan dengan dirimu sendiri. Kamu nggak terlihat seperti ibu sama sekali."
Dia menarik napas dalam dan masih berkata tanpa perasaan, "Aku sudah putuskan. Mulai hari ini, Selsa harus bersama Citra, agar Citra bisa mendidiknya dengan baik. Agar kamu juga bisa belajar cara menjadi istri dan ibu yang baik!"
"Aku bersedia. Aku pasti akan membesarkan Selsa dengan baik." Citra menyetujui dengan lembut dan menyunggingkan senyum kemenangan di bibirnya.
Dhanu pergi ke kamarnya. Menatap Citra, aku sudah terlalu marah sampai hampir kehilangan kemampuan bicaraku. "Kamu cuma simpanan yang cuma bisa disembunyikan selamanya. Punya hak apa kamu membesarkan anak orang lain?! Anakmu sendiri saja diajari bohong!"
"Diam!" Aku menyerang tepat di titiknya yang paling sensitif. Citra langsung marah, lalu mendekat padaku dan berbisik padaku dengan nada yang paling kejam. "Kamu keras kepala sekali. Sudah tahu Selsa mati, masih keras kepala saja?"
Tanganku spontan menghantam wajah Citra.
Suara "plak!" keras menggema di ruangan yang sunyi.
Harusnya aku sudah menduganya sejak awal. Semua ini akal-akalan Citra!
Selsa mati di tangan wanita kejam ini!
Kemarahan dan rasa takut menguasai akal sehatku. Aku sangat ingin menerjang ke arahnya dan mencabik-cabik wajahnya.
Dhanu bergegas keluar kamar saat mendengar suara keributan. Dia seketika marah melihat Citra duduk di lantai dengan mulut tertutup sementara aku bertingkah seperti orang kesetanan.
"Widya, apa-apaan kamu ini?!"
Sebelum aku sempat bicara, Citra menangis dan menghempaskan dirinya ke dalam pelukan Dhanu sambil terisak-isak. "Dhanu, aku cuma takut Kak Widya khawatir, karena sekarang sudah malam dan Selsa belum pulang. Jadi aku mau memberi tahu dia kalau Selsa tadi sudah pamit mau main. Tapi Kak Widya tiba-tiba mengamuk dan memukulku ...."
Dia menangis sambil memelototi aku dengan mata penuh kebencian. Seakan-akan akulah orang yang berdosa dan keji.
Dhanu memeluk Citra erat-erat dan memarahiku dengan tegas. "Widya, sekarang aku yakin sepenuhnya kalau kamu benar-benar wanita licik. Keluar sekarang juga, aku nggak sudi melihatmu!"
Aku menunjuk Citra dan berteriak marah, "Kamu ingin dia membesarkan Selsa? Tapi dia sudah membunuh Selsa duluan! Kamu nggak berhak menentukan siapa yang bisa jadi ibu untuk Selsa!"
Aku menghela napas panjang, lalu merogoh ke dalam tas dan melemparkan surat perjanjian cerai yang sudah kusiapkan sejak lama.
"Tanda tangan sekarang. Kita bercerai!" Meski hatiku sudah bersimbah darah menanggung kesedihan, aku berkata lagi kepada Dhanu, "Kita sudah menikah bertahun-tahun. Aku tahu kamu sudah pindah ke lain hati, tapi apa kamu benar-benar lupa aku orang seperti apa? Mungkinkah aku bercanda tentang keselamatan anakku sendiri?"
Ekspresi ini belum pernah muncul di wajahku sebelumnya, mungkin Dhanu bisa merasakannya. Setelah hening beberapa saat, dia mengambil surat perjanjian cerai itu dan berkata kepadaku dengan suara berat, "Widya, kamu pikir aku nggak tahu permainanmu? Kamu mengancamku dengan perceraian untuk memaksa aku kompromi, ya 'kan?"
"Aku tadi hampir percaya, tapi sayang sekali, Selsa mengirim pesan kepadaku."
Dia mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah pesan suara.
"Ayah, aku sudah dijemput Om Wisnu!"
"Ayah, aku nggak pulang malam ini, mau main di rumah Meila. Jangan khawatirkan aku!"