Bab 6
Olivia langsung mendongak dan terkejut melihat Ethan yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu.
Dia pun langsung sadar apa yang terjadi.
“Kamu yang menaruh obat di jusku?”
Olivia pun membentak marah, “Ethan, apa yang mau kamu lakukan?!”
Ethan malah tertawa dingin dan melangkah maju, lalu mencengkeram dagunya.
“Seharusnya aku yang tanya itu. Apa yang mau kamu lakukan? Kenapa meracuni Emma?”
“Hanya karena dia nggak sengaja memecahkan karya peninggalan ibumu? Jadi, kamu meracuninya? Kamu mau mempermalukannya di depan umum? Mau menghancurkan reputasinya?”
“Dia masih anak-anak! Olivia! Kenapa kamu bisa sekejam itu?!”
Olivia sampai terpaku saking terkejutnya.
“Sejak kapan aku meracuni Emma?!”
Ethan melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
“Jangan bohong! Aku sudah tanya ke Emma. Dia bilang hari ini hanya minum air yang kamu kasih. Kalau bukan kamu, siapa lagi?!”
Akhirnya, Olivia mengerti apa itu cinta membabi buta.
Hanya karena satu kalimat Emma, Ethan langsung menjatuhkan vonis padanya tanpa bertanya lebih dulu.
“Orang gila.”
Olivia tertawa penuh sindiran dan berusaha meraih ponselnya untuk menelepon ambulans.
Namun, Ethan langsung merebut ponselnya.
“Ethan! Kamu apain?!”
Ethan menatapnya dari atas dengan tatapan dingin.
“Efek obat ini sangat kuat, nggak ada gunanya memanggil ambulans. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan dirimu sendiri adalah memohon padaku.”
Olivia belum sepenuhnya menangkap maksudnya, “Memohon apa?”
“Tentu saja memohon agar aku membantumu menjadi penawar racun itu,” ujar Ethan sambil tersenyum sinis, lalu melanjutkan lagi, “Tapi, aku nggak akan bantu begitu saja. Kamu harus bersujud dan minta maaf ke Emma, aku baru akan membantumu.”
Olivia menatap Ethan dengan tatapan tak percaya.
Ethan baru saja selesai tidur dengan Emma di dalam mobil, sekarang malah menawarkan diri untuk menjadi penawar?
Dan dengan syarat dirinya harus berlutut dan memohonnya?
Olivia merasa jijik luar biasa.
Namun, Ethan malah membungkuk dan semakin mendekatinya.
“Olivia, nggak perlu pura-pura. Bukannya ini yang paling kamu inginkan selama ini?”
Ucap Ethan dengan dingin.
“Dulu, kamu juga pakai cara licik seperti ini untuk memaksaku menikahimu. Sekarang, aku hanya menyuruhmu minta maaf atas apa yang telah kamu lakukan, kok malah keberatan?”
Olivia akhirnya tak bisa menahan diri lagi. Menepis Ethan dengan keras, lalu meraih gunting di atas meja dan berkata dengan suara dingin,
“Mau aku sujud dan minta maaf ke Emma? Mimpi!”
Usai bicara, tanpa ragu Olivia langsung mengangkat gunting dan menusukkannya ke pahanya sendiri.
Bab 7
Wajah Ethan akhirnya berubah saat melihat apa yang terjadi.
“Olivia! Kamu apain?!”
Namun, Olivia sama sekali tak menghiraukannya, hanya terus menusukkan gunting ke pahanya, tusukan demi tusukan.
Gaun putih yang dikenakannya langsung berubah menjadi merah.
Ethan membeku di tempat.
Olivia… begitu kekeh tak ingin disentuh olehnya?
Dia bahkan lebih memilih menyakiti dirinya sendiri daripada menyerah?
Pikiran itu menghantam kesadarannya dan menimbulkan rasa gelisah yang belum pernah Ethan rasakan sebelumnya.
“Olivia!”
Teriak Ethan sambil meraih tangan Olivia. Gunting itu pun jatuh ke lantai. Rasa sakit yang menyengat membuat kepala Olivia yang tadinya terasa kabur, jadi sedikit lebih jernih.
Pada saat bersamaan, dari lantai bawah terdengar tepuk tangan. Jelas para tamu sedang menunggu Olivia, si tuan rumah pesta ulang tahun untuk memberikan sambutan.
Dengan menahan sakit, Olivia menghempaskan tangan Ethan, lalu berjalan keluar dan menuruni tangga.
Begitu melihat darah membasahi tubuhnya, seluruh ruangan langsung dipenuhi suara teriakan panik.
Namun, ekspresi Olivia tetap tenang.
Dengan dagu terangkat tinggi dan warna merah mencolok di tubuhnya membuatnya tampak seperti mawar liar di tepi jurang.
Dia mengangkat gelas anggurnya dan tersenyum pada tamu.
“Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri yang ke-29. Masa depan yang cemerlang menantiku.”
Usai bicara, akhirnya tubuhnya tak sanggup menahan lagi, dirinya pun jatuh dan pingsan.
Di tengah kepanikan, Ethan langsung berlari dan menggendongnya.
….
Olivia baru sadar kembali setelah tak sadarkan diri satu hari satu malam.
Begitu keluar dari rumah sakit dan tiba di rumah, baru saja membereskan koper untuk pindah, tak disangka Ethan malah datang bersama Emma.
“Aku sudah selidiki soal obat itu,” ujar Ethan dengan nada kaku, lalu melanjutkan, “Itu ulah orang lain, nggak ada hubungannya denganmu.”
Olivia tidak menunjukkan reaksi apa pun.
Di sisi lain, Emma malah kembali menangis.
“Tante, semua ini salahku. Aku yang sembarang bicara, membuat om jadi salah paham padamu. Untuk menebus kesalahanku, aku bakal mendesain sendiri gaun pengantin untuk kamu dan om. Anggap saja ini hadiah ulang tahun dariku….”
Barulah Olivia mengangkat kepala dan melihat ke arah gaun pengantin di tangan Emma.
Ingatan dari kehidupan sebelumnya kembali membanjiri benaknya. Olivia pun tersenyum sinis.
“Kamu desain baju nggak lihat ukuran, ya? Mana bisa aku pakai gaun sekecil itu?”
Di kehidupan sebelumnya, Emma juga menyerahkan gaun pengantin hasil desainnya sendiri kepada Ethan sehari sebelum pernikahan.
Tanpa bertanya lebih dulu, Ethan langsung membatalkan gaun pengantin mahal hasil pilihan Olivia yang sudah dipilih dengan susah payah dan bersikeras agar Olivia memakai gaun yang didesain Emma.
Ironisnya, gaun yang didesain Emma itu sangat kecil dan sempit. Olivia bahkan tidak bisa memakainya.
Namun, di kehidupan sebelumnya, Ethan hanya berkata dengan dingin, “Kamu tinggal diet saja.”
Dua hari sebelum pernikahan, Olivia sampai tak berani minum setetes air pun dan akhirnya pingsan di hari pernikahan.
Namun, di kehidupan sekarang, tentu saja Olivia tidak sebodoh itu lagi.
Begitu mendengar ucapan Olivia, wajah Emma langsung pucat.
“Ma… maaf… waktu mendesain gaun ini, aku terus membayangkan akulah yang menjadi pengantinnya. Jadi… nggak sengaja….” ujarnya dengan panik sambil menangis.
Ethan mendongak menatapnya, tatapan matanya dipenuhi emosi yang sangat rumit.
Sementara itu, Emma buru-buru menutup mulutnya, seolah menyadari telah salah bicara.
Suasana langsung hening dan canggung, sampai akhirnya Olivia memecah keheningan dengan sinis.
“Kalau begitu, kamu saja yang pakai gaun itu.”
Bab 8
Emma tertegun sejenak, sementara wajah Ethan langsung memuram.
“Olivia, kamu omong kosong apa lagi?! Aku ini omnya!”
Olivia hanya tersenyum sinis.
Lihat.
Orang yang merasa bersalahlah yang akan lebih mudah tersulut emosi.
“Kalau begitu, kasih ke orang lain saja.” Olivia malas membongkar semuanya, jadi hanya menjawab dengan nada datar, “Yang jelas, aku nggak akan memakainya.”
Ethan langsung mengernyit dan bertanya, “Olivia, apa maksudmu?”
“Aku rasa maksudku sudah sangat jelas.”
Olivia menatapnya dan mengulang dengan tegas, “Aku nggak mau menikah denganmu lagi. Aku juga nggak akan datang ke pernikahan besok.”
“Apa lagi yang kamu rencanakan….”
Tadinya, Ethan ingin menjawab dengan kesal, tapi saat melihat tatapan dingin di mata Olivia, kata-kata yang sudah sampai di ujung lidahnya mendadak tertahan.
Matanya tanpa sadar melirik ke arah luka di paha Olivia yang dibalut ketat, lalu teringat bahwa dia lebih memilih menyakiti dirinya sendiri, daripada berhubungan intim dengannya tadi malam.
Tiba-tiba, hati Ethan menjadi kacau.
“Olivia, pernikahan kita sudah dekat. Jangan mengambek seperti anak kecil.”
Benar.
Olivia pasti hanya sedang mengambek karena akhir-akhir ini dirinya terlalu sibuk dan kurang memperhatikannya.
Jika emosinya sudah reda, dia pasti akan kembali ceria dan tak sabar ingin menikah dengannya.
“Soal gaun pengantin….” Ethan melirik ke arah gaun yang tergantung di samping.
Olivia sempat mengira dia akan bertindak seperti kehidupan sebelumnya, memaksanya diet untuk memakai gaun itu.
Namun ternyata, Ethan malah berkata, “Kalau kamu suka gaun yang dipilih sebelumnya, pakai saja yang itu.”
Emma sontak mendongak dan berkata, “Om….”
Ethan hanya mengelus kepalanya dan menjawab, “Nggak apa-apa, kamu bisa desain baju yang lain saja.”
Wajah Emma langsung memucat, tapi dia tetap mengangguk patuh.
Ethan pun pergi bersama Emma.
Namun tak lama kemudian, Emma kembali lagi.
Dia berdiri di depan Olivia, langsung bicara tanpa basa-basi,
“Olivia, kamu pasti sudah lihat semua kejadian di mobil kemarin, ‘kan?”
Terlihat Emma sama sekali tidak menunjukkan sikap pemalu seperti biasanya, sebaliknya malah penuh dengan permusuhan yang begitu pekat.
Olivia tidak langsung menjawab, dia hanya balik bertanya, “Kamu yang meracuni dirimu sendiri?”
Emma tidak membantah.
“Benar. Om memang mencintaiku, aku hanya memberinya kesempatan saja.”
Akhirnya, Olivia mengerti.
Di kehidupan sebelumnya, dirinya tidak yakin apakah hubungan mereka itu cinta sepihak Ethan atau memang saling mencintai.
Di kehidupan ini, akhirnya dirinya menemukan jawaban.
Jadi, Olivia pun berkata, “Semoga kalian bahagia.”
Dia mengucapkannya dengan tulus, tetapi Emma langsung emosi.
“Olivia, jangan pura-pura baik di depanku! Tapi harus kuakui, sekarang kamu jadi jauh lebih pintar dibanding dulu.”
Olivia tertawa dingin.
“Dulu hanya bisa menempel seperti pengemis cinta, sekarang malah belajar bersikap munafik? Kamu kira dengan mati-matian menolak berhubungan intim dengan om kemarin, dia akan menilaimu berbeda?”
“Dengarkan baik-baik, itu hanya mimpi! Hari ini, aku akan membuatmu sadar siapa sebenarnya orang yang paling dipedulikan om!”
Usai bicara, tiba-tiba Emma melangkah maju, menutup hidup dan mulut Olivia dengan sapu tangan.
Bau menyengat langsung menyeruak. Olivia terkejut dan berusaha melawan, tapi karena kakinya terluka, dia tak punya kekuatan.
Sedangkan para pembantu di rumah sudah pergi sejak tadi, karena merasa mereka sedang berbincang hal pribadi.
Olivia tak bisa melawan dan akhirnya kehilangan kesadaran.
….
Olivia terbangun karena rasa panas.
Saat membuka mata, yang terlihat hanyalah kobaran api. Emma juga terbaring di sampingnya.
Olivia baru tersadar dan berteriak marah pada Emma,
“Kamu membakar rumahku? Kamu sudah gila?!”
Emma malah mencibir,
“Kamu pikir om peduli padamu? Hari ini, aku bakal tunjukin seberapa besar cintanya padaku!”
Baru selesai dia bicara, langsung terdengar suara Ethan yang panik dari belakang.
“Emma! Emma, kamu di mana?!”
Ekspresi jahat di wajah Emma langsung menghilang. Dia buru-buru meneteskan air mata dan berteriak dengan nada menyedihkan,
“Om! Aku di sini! Cepat selamatkan aku!”
Ethan segera bergegas masuk ke kamar. Begitu melihat Olivia di samping, Ethan sempat tertegun. Tapi, jeritan Emma yang penuh kesakitan langsung menarik perhatiannya kembali.
“Emma!”
Ethan langsung menggendong Emma. Saat melewati Olivia, dia berkata cepat,
“Olivia, aku bawa Emma keluar dulu, setelah itu aku bakal balik lagi untuk menolongmu.”
Usai bicara, Ethan langsung melangkah pergi.