Bab 5

Tangan Olivia yang semula hendak mengetuk pintu mobil mendadak terhenti.

Bahkan dirinya saja bisa langsung menyadari ada yang tidak beres, apalagi Ethan yang ada di dalam mobil.

Olivia mendengar suara panik Ethan,

“Emma, kamu diracuni! Aku akan segera membawamu ke rumah sakit!”

Namun, Emma malah memeluknya erat sambil menangis tersedu-sedu.

“Om, nggak nyaman sekali rasanya… tolong aku….”

Suara gadis itu lembut dan terdengar memelas, langsung menyentuh titik paling sensitif dalam diri seorang pria.

Ethan yang sejak awal sudah menahan diri sekuat tenaga, begitu mendengar suara penuh permohonan itu, akhirnya dirinya kehilangan kendali.

Dia pun berubah menjadi binatang buas dan langsung menerkam gadis itu.

Olivia menatap mobil di depannya dan mendengarkan isak tangis dari dalam mobil.

Pria itu bahkan belum juga berhenti.

Olivia tersenyum getir.

Di kehidupan sebelumnya, dia dan Ethan telah menikah selama dua puluh tahun, tapi momen intim di antara mereka bisa dihitung dengan jari.

Bahkan, rutinitas sebulan sekali yang mereka jalani pun baru dimulai setelah ulang tahun Olivia yang ke-35. Itu pun karena Olivia memohon padanya sebagai hadiah ulang tahun.

Dulu, Olivia sempat mengira Ethan memang tidak tertarik pada hal-hal seperti itu.

Namun, saat mendengar kegaduhan dari dalam mobil, barulah Olivia mengerti.

Bukan karena tidak tertarik pada hal semacam itu, tapi Ethan hanya tidak tertarik padanya.

Olivia pun membalikkan badan.

Mungkin, ini yang terbaik.

Di kehidupan ini, akhirnya semua orang bisa mendapatkan apa yang benar-benar mereka inginkan.

….

Olivia kembali ke ruang pesta. Dua jam kemudian, acara hampir selesai dan sebagai tuan rumah, dia harus memberikan sambutan.

Dia naik ke lantai atas, masuk ke ruang rias dan meneguk segelas jus.

Saat hendak merapikan riasan wajahnya, tiba-tiba ada aliran panas menjalar di perut bagian bawahnya. Dia langsung merasa ada yang tidak beres dan hendak memanggil seseorang.

Namun, belum sempat memanggil, langsung terdengar suara dingin dari arah pintu,

“Bagaimana rasanya, Olivia? Jadi korban yang diracuni itu nggak enak, ‘kan?”

Bab 6

Olivia langsung mendongak dan terkejut melihat Ethan yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu.

Dia pun langsung sadar apa yang terjadi.

“Kamu yang menaruh obat di jusku?”

Olivia pun membentak marah, “Ethan, apa yang mau kamu lakukan?!”

Ethan malah tertawa dingin dan melangkah maju, lalu mencengkeram dagunya.

“Seharusnya aku yang tanya itu. Apa yang mau kamu lakukan? Kenapa meracuni Emma?”

“Hanya karena dia nggak sengaja memecahkan karya peninggalan ibumu? Jadi, kamu meracuninya? Kamu mau mempermalukannya di depan umum? Mau menghancurkan reputasinya?”

“Dia masih anak-anak! Olivia! Kenapa kamu bisa sekejam itu?!”

Olivia sampai terpaku saking terkejutnya.

“Sejak kapan aku meracuni Emma?!”

Ethan melepaskan cengkeramannya dengan kasar.

“Jangan bohong! Aku sudah tanya ke Emma. Dia bilang hari ini hanya minum air yang kamu kasih. Kalau bukan kamu, siapa lagi?!”

Akhirnya, Olivia mengerti apa itu cinta membabi buta.

Hanya karena satu kalimat Emma, Ethan langsung menjatuhkan vonis padanya tanpa bertanya lebih dulu.

“Orang gila.”

Olivia tertawa penuh sindiran dan berusaha meraih ponselnya untuk menelepon ambulans.

Namun, Ethan langsung merebut ponselnya.

“Ethan! Kamu apain?!”

Ethan menatapnya dari atas dengan tatapan dingin.

“Efek obat ini sangat kuat, nggak ada gunanya memanggil ambulans. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan dirimu sendiri adalah memohon padaku.”

Olivia belum sepenuhnya menangkap maksudnya, “Memohon apa?”

“Tentu saja memohon agar aku membantumu menjadi penawar racun itu,” ujar Ethan sambil tersenyum sinis, lalu melanjutkan lagi, “Tapi, aku nggak akan bantu begitu saja. Kamu harus bersujud dan minta maaf ke Emma, aku baru akan membantumu.”

Olivia menatap Ethan dengan tatapan tak percaya.

Ethan baru saja selesai tidur dengan Emma di dalam mobil, sekarang malah menawarkan diri untuk menjadi penawar?

Dan dengan syarat dirinya harus berlutut dan memohonnya?

Olivia merasa jijik luar biasa.

Namun, Ethan malah membungkuk dan semakin mendekatinya.

“Olivia, nggak perlu pura-pura. Bukannya ini yang paling kamu inginkan selama ini?”

Ucap Ethan dengan dingin.

“Dulu, kamu juga pakai cara licik seperti ini untuk memaksaku menikahimu. Sekarang, aku hanya menyuruhmu minta maaf atas apa yang telah kamu lakukan, kok malah keberatan?”

Olivia akhirnya tak bisa menahan diri lagi. Menepis Ethan dengan keras, lalu meraih gunting di atas meja dan berkata dengan suara dingin,

“Mau aku sujud dan minta maaf ke Emma? Mimpi!”

Usai bicara, tanpa ragu Olivia langsung mengangkat gunting dan menusukkannya ke pahanya sendiri.

Bab 7

Wajah Ethan akhirnya berubah saat melihat apa yang terjadi.

“Olivia! Kamu apain?!”

Namun, Olivia sama sekali tak menghiraukannya, hanya terus menusukkan gunting ke pahanya, tusukan demi tusukan.

Gaun putih yang dikenakannya langsung berubah menjadi merah.

Ethan membeku di tempat.

Olivia… begitu kekeh tak ingin disentuh olehnya?

Dia bahkan lebih memilih menyakiti dirinya sendiri daripada menyerah?

Pikiran itu menghantam kesadarannya dan menimbulkan rasa gelisah yang belum pernah Ethan rasakan sebelumnya.

“Olivia!”

Teriak Ethan sambil meraih tangan Olivia. Gunting itu pun jatuh ke lantai. Rasa sakit yang menyengat membuat kepala Olivia yang tadinya terasa kabur, jadi sedikit lebih jernih.

Pada saat bersamaan, dari lantai bawah terdengar tepuk tangan. Jelas para tamu sedang menunggu Olivia, si tuan rumah pesta ulang tahun untuk memberikan sambutan.

Dengan menahan sakit, Olivia menghempaskan tangan Ethan, lalu berjalan keluar dan menuruni tangga.

Begitu melihat darah membasahi tubuhnya, seluruh ruangan langsung dipenuhi suara teriakan panik.

Namun, ekspresi Olivia tetap tenang.

Dengan dagu terangkat tinggi dan warna merah mencolok di tubuhnya membuatnya tampak seperti mawar liar di tepi jurang.

Dia mengangkat gelas anggurnya dan tersenyum pada tamu.

“Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri yang ke-29. Masa depan yang cemerlang menantiku.”

Usai bicara, akhirnya tubuhnya tak sanggup menahan lagi, dirinya pun jatuh dan pingsan.

Di tengah kepanikan, Ethan langsung berlari dan menggendongnya.

….

Olivia baru sadar kembali setelah tak sadarkan diri satu hari satu malam.

Begitu keluar dari rumah sakit dan tiba di rumah, baru saja membereskan koper untuk pindah, tak disangka Ethan malah datang bersama Emma.

“Aku sudah selidiki soal obat itu,” ujar Ethan dengan nada kaku, lalu melanjutkan, “Itu ulah orang lain, nggak ada hubungannya denganmu.”

Olivia tidak menunjukkan reaksi apa pun.

Di sisi lain, Emma malah kembali menangis.

“Tante, semua ini salahku. Aku yang sembarang bicara, membuat om jadi salah paham padamu. Untuk menebus kesalahanku, aku bakal mendesain sendiri gaun pengantin untuk kamu dan om. Anggap saja ini hadiah ulang tahun dariku….”

Barulah Olivia mengangkat kepala dan melihat ke arah gaun pengantin di tangan Emma.

Ingatan dari kehidupan sebelumnya kembali membanjiri benaknya. Olivia pun tersenyum sinis.

“Kamu desain baju nggak lihat ukuran, ya? Mana bisa aku pakai gaun sekecil itu?”

Di kehidupan sebelumnya, Emma juga menyerahkan gaun pengantin hasil desainnya sendiri kepada Ethan sehari sebelum pernikahan.

Tanpa bertanya lebih dulu, Ethan langsung membatalkan gaun pengantin mahal hasil pilihan Olivia yang sudah dipilih dengan susah payah dan bersikeras agar Olivia memakai gaun yang didesain Emma.

Ironisnya, gaun yang didesain Emma itu sangat kecil dan sempit. Olivia bahkan tidak bisa memakainya.

Namun, di kehidupan sebelumnya, Ethan hanya berkata dengan dingin, “Kamu tinggal diet saja.”

Dua hari sebelum pernikahan, Olivia sampai tak berani minum setetes air pun dan akhirnya pingsan di hari pernikahan.

Namun, di kehidupan sekarang, tentu saja Olivia tidak sebodoh itu lagi.

Begitu mendengar ucapan Olivia, wajah Emma langsung pucat.

“Ma… maaf… waktu mendesain gaun ini, aku terus membayangkan akulah yang menjadi pengantinnya. Jadi… nggak sengaja….” ujarnya dengan panik sambil menangis.

Ethan mendongak menatapnya, tatapan matanya dipenuhi emosi yang sangat rumit.

Sementara itu, Emma buru-buru menutup mulutnya, seolah menyadari telah salah bicara.

Suasana langsung hening dan canggung, sampai akhirnya Olivia memecah keheningan dengan sinis.

“Kalau begitu, kamu saja yang pakai gaun itu.”

Cintanya Bukan Untukku

Bab 5
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya