Bab 3
Tumpukan uang tunai itu diletakkan di depan umum, para karyawan di bawah panggung saling berbisik. "Gila, Pak Raka benar-benar murah hati! Sulit dibayangkan betapa banyaknya nilai separuh saham itu. Kita kerja tiga generasi pun nggak bakal bisa dapat!"
"Itu untuk Bu Maya. Kalian nggak lihat? Pak Raka hampir terang-terangan membawanya pulang ke rumah."
"Tapi bukankah Pak Raka sudah punya istri? Dengar-dengar, mereka sudah lama menikah."
"Memangnya kenapa? Aku pernah lihat istri Pak Raka, dia kalah jauh dibanding Bu Maya! Tubuhnya gemuk, wajahnya bengkak kayak roti kukus, dan kulitnya banyak flek hitam. Mana ada secantik dan semuda Bu Maya? Lagi pula, istri Pak Raka cuma ibu rumah tangga, sementara Bu Maya telah membantu Pak Raka mendapatkan banyak kontrak besar!"
Aku hanya tersenyum dan ikut bertepuk tangan bersama para karyawan yang lain.
Saat Raka melihatku, dia langsung panik. "Sa … Sayang? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Raka.
"Aku cuma sedang senang saja, jadi memberi bonus ke Maya," lanjut Raka.
Maya menoleh dan memandangku tanpa takut. Tatapannya penuh tantangan, dia berkata, "Kak Kirana, jangan salah paham."
"Pak Raka selalu perhatian pada karyawan. Dia menilai dari kerja kerasku, makanya membagikan separuh saham padaku dan bonus 12 miliar!" lanjut Maya.
Pesta yang barusan ramai, kini menjadi sunyi. Semua orang diam-diam menunggu siapa yang akan jadi pemenang malam ini. Apakah itu aku yang sebagai istri sah atau selingkuhan?
Aku malas berdebat. Tujuanku ke sini hanya untuk mendapatkan bukti bahwa Raka sudah mengalihkan harta bersama ke selingkuhannya. Dengan adanya video tadi, tujuanku sudah tercapai. "Bu Maya sudah menghasilkan keuntungan untuk perusahaan. Memberinya hadiah besar itu wajar," ucapku.
Wajah Raka jelas terlihat lega.
"Semua karyawan yang menghasilkan keuntungan untuk perusahaan nggak boleh kita rugikan. Sayang, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku akan berkeliling sebentar," lanjutku.
Melihatku beranjak pergi, Raka mengira aku marah. Dia buru-buru menyusul dengan panik, dan menjelaskan hubungannya dengan Maya.
Dia bilang hubungan dengan Maya hanya sebatas atasan dan bawahan. Maya telah berhasil menandatangani kontrak bernilai ribuan triliun untuk perusahaan, jadi dia memberi saham dan uang tunai sebagai penghargaan.
Aku diam-diam mencibir. Kontrak bernilai ribuan triliun? Semua itu dari klien yang sudah lama kupertahankan, mereka perpanjang kerja sama dengan perusahaan ini hanya karena aku. Apa hubungannya dengan Maya?
Demi dia, Raka rela membuatku mandul, tetapi sekarang dia malah berpura-pura mencintaiku. Sungguh munafik.
"Aku tahu Bu Maya memang berjasa. Kamu boleh memberi hadiah apa saja sesukamu," ucapku.
Begitu aku pergi, Raka langsung mengirim pesan kepadaku: [Nanti kita rayakan ulang tahun perusahaan berdua saja. Saat itu aku akan memberimu kejutan besar.]
Aku duduk di tepi kolam renang hotel, menelepon pengacara untuk membicarakan detail pembagian harta. Setelah itu, aku menutup telepon.
Tiba-tiba, Maya berjalan kemari.
"Kak Kirana, kenapa sendirian di sini?" tanya Maya.
Wajahnya membawa senyuman menantang. Dia lanjut bertanya, "Kenapa nggak ikut merayakan dengan yang lain?"
"Jangan-jangan kamu malu, ya? Lagi pula, di hari sepenting ini, pakaianmu …."
Dia tidak melanjutkan kalimatnya, tetapi tatapannya sudah cukup jelas menunjukkan penghinaan.
Wajahku berubah muram. Aku bertanya, "Apa maumu?"
Dia tersenyum, kemudian menjawab, "Aku ini cuma sekretaris kecil, aku bisa apa?"
"Aku cuma penasaran, kalau Pak Raka diminta memilih antara aku dan kakak, kira-kira dia akan pilih siapa ya?"
Bab 4
Begitu selesai bicara, Maya tiba-tiba meraih lengan pakaianku sambil memohon dan menangis.
Dia berkata, "Kak Kirana, aku benar-benar nggak berniat mengambil uang perusahaan."
"Uang dan saham itu hanya hadiah dari Pak Raka karena aku sudah bekerja keras selama ini. Kalau kamu nggak terima, aku bisa mengembalikannya."
Sebelum aku sempat mencerna apa yang terjadi, Raka sudah bergegas maju, lalu menggenggam tanganku dengan erat sambil bertanya.
"Kirana, apa yang sebenarnya kamu permasalahkan?" tanya Raka.
Dia menjelaskan lagi, "Aku sudah bilang bonus dan saham itu bagian dari bonus untuk karyawan. Kenapa kamu masih harus menyulitkan Maya?"
Aku menoleh, melihat para karyawan mulai berkerumun dan saling berbisik seolah akulah yang keterlaluan.
Saat aku kembali melirik Maya, dia malah tersenyum dengan penuh kemenangan.
Aku menarik tanganku dari genggaman Raka sambil mengerutkan kening. "Perusahaan ada di bawah kendalimu. Bonus dan saham mau kamu berikan pada siapa pun, berapa pun jumlahnya, aku nggak akan ikut campur."
Setelah mengatakan itu, aku pun berbalik pergi tanpa peduli pada ekspresi Raka.
Namun, saat aku baru saja melangkah keluar hotel, Raka buru-buru mengejar dan menarik tanganku dengan wajah muram.
Dia bertanya, "Kamu mau ke mana? Nanti masih ada pesta perayaan!"
"Sudah dewasa begini, kenapa masih marah-marah? Memangnya pantas seperti itu?"
Maya juga menyusul, pura-pura meminta maaf, "Kak Kirana, kamu jangan marah. Setelah pesta selesai aku akan kembalikan uang dan saham itu. Kamu jangan marah dengan Pak Raka karena hal ini."
"Kamu ini nyonya perusahaan, nggak mungkin boleh absen di perayaan penting seperti ini. Ayo kita masuk bersama," lanjut Maya.
Aku menatap mata Maya yang penuh dendam dan iri, lalu tersenyum dingin.
Sepertinya dia memang sudah tidak sabar ingin menggantikan posisiku, menjadi nyonya yang sesungguhnya.
Kereta hotel berhenti di depan. Raka dan Maya duduk berdampingan.
Aku tidak berkata apa pun, dan memilih duduk di bangku paling belakang.
Di sepanjang perjalanan, Maya terus mengajak Raka mengobrol, menceritakan hal-hal pribadi mereka. Tujuannya untuk memamerkan betapa baiknya Raka memperlakukannya.
Aku terlihat seperti orang luar yang tidak bisa bergabung.
Raka beberapa kali melirikku dari kaca spion kereta dan ingin bicara padaku, tetapi setiap kali mulutnya terbuka, Maya selalu menyelanya.
Begitu tiba di restoran hotel, kami disambut beberapa karyawan baru yang tidak mengenalku. Mereka langsung menyapa Maya dengan riang.
"Halo, Bu Maya."
"Sudah lama nggak bertemu, Bu Maya makin cantik saja."
Suasana mendadak kaku. Beberapa karyawan lama buru-buru memberi kode, membuat suasana berubah canggung.
Raka segera mendorongku masuk ke ruang makan dan tersenyum seolah menyanjung.
Dia berkata, "Ayo, kita masuk. Masih ada yang menunggu di dalam."
"Hari ini hari bahagia, jangan cemberut. Aku bahkan menyiapkan kejutan khusus untukmu."
Aku hanya mencibir, lalu berkata, "Baiklah. Aku akan menantikannya."
"Kalau begitu, aku pergi ke toilet dulu. Kamu nggak usah khawatir," lanjutku.
Raka akhirnya merasa lega dan masuk ke ruangan.
Begitu dia pergi, aku segera menghubungi pengacara. Pengacara bilang surat perceraian dan perjanjian pembagian harta sudah selesai dibuat.
Dia menjamin, pada akhirnya Raka akan pergi tanpa bisa membawa apa-apa.
Aku menutup telepon, lalu melangkah masuk kembali ke ruang makan. Maya menghampiriku sambil membawa segelas anggur merah.
Dia berkata, "Kak Kirana, izinkan aku menghormatimu dengan segelas minuman."
"Bertahun-tahun kamu sudah begitu banyak berkorban demi Pak Raka, bahkan sampai tubuhmu jatuh sakit," lanjutnya sambil melirik tubuhku dari atas ke bawah dengan tatapan penuh makna.
Aku mengabaikan tatapannya, lalu berkata dengan datar, "Nggak usah. Aku nggak mau minum alkohol, cukup jus saja."
Raka langsung mengerutkan kening, dia berkata, "Kirana, kamu bukan nggak bisa minum, kenapa menolak?"
"Sebelumnya kamu bahkan …."
Raka mungkin teringat bahwa dulu aku rela minum dan bernyanyi dengan para investor demi membantunya mendapatkan dana. Pada akhirnya, dia tidak melanjutkan kalimatnya.
Maya berpura-pura tidak mendengar, dia meletakkan gelas anggur tepat di depanku dan memaksaku untuk minum. Seolah jika aku tidak minum, berarti aku membencinya.
"Minumlah sedikit untukku," ucap Maya.
Aku menahan rasa muak di hati, lalu berkata, "Sudah kubilang, aku nggak mau minum."
Ekspresi Raka makin muram. Melihat reaksinya, Maya makin berani. Dia langsung meraih tanganku, memaksaku mengambil gelas itu.
Aku spontan menarik diri, tetapi dia malah menjatuhkan diri ke lantai dan melindungi perutnya dengan tangan.
Gelas anggur jatuh dan pecah berkeping-keping. Raka sontak berdiri dan menegurku, "Kirana, apa yang kamu lakukan?"