Bab 1
Untuk menyembuhkan depresi si putri kaya palsu, kekasih masa kecilku yang pernah bersumpah hanya akan menikah denganku, Darryl, diam-diam pergi mendaftarkan pernikahan dengannya.
Di belakangnya, aku menyetujui perjodohan keluargaku. Aku menikah dengan pewaris keluarga konglomerat di ibu kota, Vincent, yang diam-diam telah mencintaiku selama bertahun-tahun.
Setelah tujuh tahun menikah, dia memanjakanku sepenuh hati. Malam demi malam dia selalu menuntut kemesraan dariku. Bahkan jika aku menginginkan bintang di langit, dia tetap akan berusaha mengambilkannya untukku.
Aku sempat mengira, akhirnya aku telah menemukan kebahagiaan. Hingga suatu kali setelah bercinta, aku tidak sengaja mendengar percakapan Vincent dengan sahabatnya.
"Avril sudah jadi aktris internasional peraih penghargaan. Kapan kamu mau pisah sama Ariel?"
"Toh sama saja harus nikah sama orang yang nggak kucintai, jadi mau sama siapa pun itu nggak ada bedanya. Lagi pula, aku harus jaga Ariel agar dia nggak mengganggu kebahagiaan yang didapatkan Avril dengan susah payah."
Aku membuka komputer di ruang kerjanya. Di dalam sebuah folder tersembunyi, tersimpan ratusan ribu foto Avril dan seratus surat cinta yang tak pernah dia kirimkan.
Setidak percaya apa pun pada kenyataan, saat ini aku benar-benar sudah harus sadar. Aku membeli sebuah tubuh plastik, lalu merancang sebuah kebakaran besar. Mulai saat ini, entah di langit atau di neraka, aku tak akan pernah bertemu dengannya lagi.
Setelah berhasil memesan semua perlengkapan yang kubutuhkan, aku mematikan layar ponsel. Tinggal menunggu tiga hari lagi, aku akan mengikuti rencanaku dan menghilang dari dunia Vincent selamanya.
Begitu menoleh, tiba-tiba aku berhadapan dengan mata Vincent yang sedang tersenyum. Dia telah berdiri di luar cukup lama untuk menghilangkan aroma nikotin di tubuhnya. Lalu setelah menghangatkan tubuhnya, dia baru memelukku dari belakang dengan hati-hati.
"Kenapa belum tidur?" Kehangatan yang begitu familier membalut seluruh tubuhku. Pelukan itu seharusnya membuatku merasa aman, tetapi di hatiku sekarang malah merasakan keperihan yang menjalar.
Selama tujuh tahun menikah dengannya, Vincent benar-benar selalu memanjakanku. Seluruh kalangan di ibu kota tahu, Vincent memiliki seorang istri yang amat dicintainya di rumah.
Vincent berkata, dia telah jatuh cinta padaku pada pandangan pertama sejak kecil dan diam-diam mencintaiku selama 14 tahun penuh. Di hari pernikahan, dia mengucap sumpah dengan matanya yang berkaca-kaca. Katanya, berhasil menikahiku adalah mimpinya yang menjadi kenyataan.
Vincent tahu jelas tentang masa laluku. Dia menggunakan kekuasaan keluarganya untuk memberi pelajaran pada kekasih masa kecilku dan menghalangi karier Avril demi membalaskan dendamku. Katanya, dia membenci semua orang yang mengecewakanku.
Sandiwaranya benar-benar meyakinkan. Bahkan diriku yang merupakan seorang aktris pemenang penghargaan pun tak pernah melihat celah dari aktingnya.
Aku tiba-tiba teringat dengan sebuah hal yang menyedihkan. Di saat puncak kemesraan kami, dia selalu memanggil namaku. Namun, pengucapannya terdengar sangat aneh. Awalnya aku mengira itu hanya sekadar kebiasaannya berbicara. Namun setelah dipikirkan kembali sekarang, sepertinya yang dipanggilnya adalah nama "Avril".
Aku menunduk, diam-diam menyeka air mata di sudut mata dengan ujung jariku. Namun, dia sama sekali tidak menyadarinya. Dia hanya terus bergumam sendiri.
"Besok kakakmu itu akan menghadiri pertemuan industri setelah jadi aktris internasional. Kamu tinggal di rumah saja denganku, aku takut kamu akan kesal kalau bertemu dengannya."
Aku menghitung dalam hati, ini sudah lebih dari seratus kali dia menggunakan alasan seperti itu untuk melarangku tampil di depan publik.
Dulu aku mengira itu karena rasa cemburu dan keinginannya untuk menguasaiku. Aku terpaksa membiarkannya bersikap seperti itu, bahkan memilih mundur dari puncak karierku. Kini baru kusadari, ternyata semua itu hanya untuk memberi jalan pada Avril.
"Besok aku sudah janji sama Pak Garin. Dia ingin aku membintangi film barunya sebagai pemeran utama, aku nggak bisa menolak."
"Nggak usah pergi. Kalau kamu nggak mau tampil di luar seumur hidup pun, aku tetap bisa menafkahimu."
Padahal aku tidak pernah benar-benar mengejar ketenaran. Aku pernah bilang padanya, bisa membintangi film yang disutradarai Garin Nugroho adalah impianku seumur hidup.
Saat itu, dia berkata dengan yakin bahwa dia akan mendukung mimpiku ini. Sebenarnya dia bukan lupa. Hanya saja, karena Avril juga menginginkan peran itu, mimpiku pun dijadikan batu pijakannya.
Aku terdiam lama. Dia meraihku dan membujuk pelan, "Ariel, jangan ngambek lagi, ya? Pesta bisa kapan saja, tapi waktu kita berdua jauh lebih berharga, bukan begitu?"
"Lusa adalah hari pernikahan kita yang ketujuh. Aku pasti akan memberimu kejutan yang nggak akan pernah kamu lupakan seumur hidup. Bagaimana?"
Aku menarik sudut bibir, memaksakan senyum. "Baiklah. Aku juga akan memberimu hadiah terbesarku."
Vincent, tahun ketujuh pernikahan ini tidak akan bisa kita lewati bersama lagi. Mulai sekarang, kamu jalanilah hidupmu sendiri. Hadiahku untukmu adalah ... keikhlasan untuk melepaskan.
Di tengah malam, setelah Vincent terlelap sambil memelukku, aku tetap diam-diam bangkit dan berjalan menuju ruang kerja.
Bab 2
Kata-katanya sendiri yang mengaku tidak mencintaiku, ditambah dengan album foto dan surat cinta dalam komputer ruang kerjanya, sudah cukup untuk membuatku benar-benar putus asa.
Namun, tujuh tahun yang kuhabiskan bersamanya bukanlah mimpi. Kami pernah melewati begitu banyak momen manis. Aku sulit untuk benar-benar melepaskannya.
Aku melangkah menuju brankas kecil di meja kerjanya. Benda itu bagai kotak Pandora yang penuh misteri sekaligus berbahaya.
Suatu kali saat aku dan Vincent berpelukan di ruang kerja ini, aku pernah bertanya beberapa kali padanya, apa sebenarnya isi brankas itu sampai dilindunginya sewaspada itu. Namun, dia selalu mengalihkan topik. Dia tidak pernah mau memberitahuku sandinya, hanya menyuruhku menebak.
Aku sudah mencoba ulang tahunku, ulang tahunnya, bahkan hari jadi pernikahan kami ... semua salah.
Kini, dengan tangan bergetar, aku memasukkan tanggal lahir Avril. Untuk pertama kalinya, aku berharap tebakan itu salah. Namun, brankas benar-benar terbuka.
Jantungku seketika mencelos.
Di dalamnya tergeletak sepasang cincin, dengan ukiran di bagian dalamnya.
[ Vincent & Avril ]
Model cincinnya memang klasik, tetapi tetap tampak baru. Cincin itu terawat begitu rapi, jelas sekali selalu dijaga dengan penuh perhatian. Seluruh tenagaku lenyap, hatiku seakan remuk redam. Sekonyol apa pun aku dulu, sekarang aku harus sadar pada kenyataan.
Sedari awal, Vincent memang tidak pernah mencintaiku.
Keesokan harinya, untuk pertama kalinya aku menentang kemauannya. Aku memutuskan untuk tetap menghadiri pesta.
Wajah Vincent sedikit menggelap, tetapi dia tidak lagi membujukku. Dia hanya menekankan dengan nada manis, "Boleh saja pergi. Tapi Ariel secantik ini, harus selalu ada di sisiku, ya. Kalau nanti kakakmu itu berani mengusikmu, aku bisa langsung melindungimu."
Sikapnya seperti anjing kecil yang setia, tapi aku tahu jelas, dia hanya takut aku keluar dari kendalinya dan menutupi sorotan Avril. Padahal, aku sama sekali tidak punya niat itu.
Aku akan segera "menghilang" dari dunia ini. Yang kuinginkan hanyalah bertemu sekali lagi dengan sutradara dan penulis naskah yang pernah membantuku.
Saat aku muncul, semua mata pun langsung tertuju pada aku dan Avril.
"Pasti Ariel yang jadi pemeran utama wanita untuk film terbaru Garin Nugroho. Dia punya dukungan dari Vincent dan aktingnya pun sudah diakui semua orang."
Begitu mendengarnya, Avril langsung melangkah maju dengan wajah kesal. "Kenapa kalian bisa berpikir begitu? Peran ini seharusnya milikku!"
Orang-orang di sekeliling hanya melirik sinis.
"Kalau soal pengalaman, kamu memang masih kalah jauh dari Ariel. Jangan terlalu tinggi hati."
"Betul. Meskipun sekarang kamu memang jadi nyonya Keluarga Hudson, tapi di sini ada Keluarga Breymen. Sudah jelas siapa yang bakal dapat sumber dayanya, 'kan?"
"Ya, lagian bukankah kamu baru menang penghargaan kecil saja? Jadi manusia sebaiknya tetap rendah hati."
Ucapan itu membuat Avril marah besar hingga wajahnya memerah. "Kalian ...! Tunggu saja, nanti aku akan buktikan kalau kalian semua salah besar!"
Sambil berkata demikian, dia menoleh tajam padaku dengan tatapan penuh kebencian. "Kamu boleh saja merasa puas sekarang, tapi sebentar lagi pasti akan malu di depan semua orang! Hmph!"
Kalimatnya diakhiri dengan sebuah dorongan keras ke arahku. Aku terhuyung dan tidak sempat menjaga keseimbangan. Lututku membentur sudut meja, rasa sakitnya membuatku menitikkan air mata.
Namun, pria yang semalam berjanji akan melindungiku di depan semua orang, malah berpura-pura tidak melihat dan membiarkan Avril semena-mena. Bulu mataku bergetar, aku menunduk dalam-dalam, berusaha menekan kepedihan yang membanjiri dadaku.
Tepat saat itu, seluruh lampu di ruang pesta tiba-tiba padam. Suasana berubah tegang dan akhirnya lampu sorot tertuju ke arah panggung. Pengumuman resmi pemeran utama film akan dilakukan.
"Selamat kepada ... Avril!"
"Terima kasih untuk penulis naskah peraih box office, Avicent. Demi Avril, dia rela tidak mengambil bayaran sepeser pun, bahkan menginvestasikan 600 miliar, hanya agar Avril bisa menjadi pemeran utama film terbarunya. Karena baginya, Avril adalah satu-satunya inspirasi!"
Avril naik ke atas panggung dan menerima mikrofon, lalu menatap ke arahku dengan bangga. Kemudian, dia mengumbar ejekan di depan semua orang, "Ariel, sudah selama ini, kamu tetap nggak pernah bisa mengalahkanku."
"Loser!"
Dia berdiri di bawah cahaya sorot, dikelilingi pujian dan sanjungan, serta menjadi pusat perhatian yang tak tertandingi.
Aku mendongak sekilas, memandang Vincent di sampingku. Tangannya masih menggenggam tanganku, tetapi matanya justru dipenuhi sorot kebahagiaan untuk Avril karena mimpinya telah terwujud.
Mataku meredup, bibirku melengkung dengan getir.
Kemarin, aku tidak sengaja menemukan naskah Avicent di ruang kerja Vincent. Di halaman pertama naskah itu, tertulis dengan tinta tebal.
[ Dipersembahkan untuk satu-satunya pemeran utamaku, Avril. ]
Bab 3
"Avicent" adalah gabungan nama "Avril+Vincent". Cinta yang tak pernah bisa dia akui di depan semua orang.
Meski aku memang sudah menduganya, hatiku tetap saja terasa berat saat menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.
Garin berjalan menghampiriku dan berkata dengan suara lembut, "Nggak apa-apa, kamu tetap punya tempat sebagai pemeran utama wanita di dalam hatiku."
Aku hanya bisa tersenyum getir sambil menggeleng. "Terima kasih atas penghargaan itu. Tapi mungkin ... kesempatan itu nggak akan pernah ada lagi."
....
Seolah tidak tahu apa-apa, Vincent merengkuhku ke dalam pelukannya untuk menghibur, "Aku juga bisa berinvestasi beberapa film untukmu, biar kamu puas berakting, gimana? Malam ini aku sudah siapkan sebuah kejutan di tepi sungai. Percayalah, cintaku padamu lebih berharga dari sekadar peran utama."
Aku memaksakan senyuman. Kata-kata yang dulunya terasa manis, kini terdengar memuakkan. Namun agar dia tidak menaruh curiga, aku tetap memaksakan diri menjawab, "Oke."
Setelah menuntaskan ucapan terima kasih pada Garin dan para senior industri, aku berniat meninggalkan pesta lebih awal. Vincent menyuruh sopir pulang lebih dulu, berniat mengajakku jalan-jalan sendiri.
Namun tepat ketika mobil akan dinyalakan, ponselnya berbunyi. Aku melirik sekilas di layar. Aku mengenali nomor itu adalah milik Avril.
Ekspresi Vincent seketika berubah dan dia menatapku ragu-ragu. "Ariel, di kantor tiba-tiba ada sedikit urusan mendesak. Kamu bisa pergi ke tepi sungai sendiri?"
Aku tertegun sejenak, lalu tersenyum tenang. "Nggak apa-apa, kamu urus pekerjaanmu." Dia melayangkan sebuah kecupan di keningku, lalu berbalik kembali menuju ruang pesta.
Aku pun menyalakan mesin mobil, tapi arah setirku bukan ke tepi sungai, melainkan menuju vila Keluarga Breymen. Malam itu, aku mempersiapkan segalanya untuk "kematianku" esok hari.
Kenangan yang kutinggalkan bersama Vincent, semuanya kukumpulkan. Yang tersimpan secara online, termasuk cadangan di cloud, telah kuhapus dengan tuntas. Yang tersisa secara fisik, kusiapkan untuk kubakar habis.
Tiba-tiba, sebuah pesan anonim muncul di layar ponsel.
Foto itu langsung menusuk mataku. Vincent berbaring di sisi Avril yang tengah tertidur dalam keadaan mabuk.
[ Padahal dia ada sakit maag, tapi tetap bantu aku nahan minuman dari orang lain. Kakak nggak akan nyalahin aku, 'kan? ]
[ Sebenarnya, meski di depan semua orang dia terlihat menentang Keluarga Hudson dan merebut semua sumber dayaku, tapi sebenarnya dia diam-diam ngasih aku kompensasi yang berkali-kali lipat. Kamu tahu kenapa? ]
[ Kamu tahu nggak Vincent itu pengikutku sejak kecil. Orang yang selalu dicintainya itu aku. Nikah sama kamu itu cuma demi mengawasimu! ]
[ Kalau nggak, masa kamu benar-benar percaya, ada orang di dunia ini yang bisa mencintaimu tanpa alasan? ]
[ Dia bilang, dia cuma bisa bermesraan sama kamu kalau membayangkan kamu jadi aku. Terus dia juga bilang, kamu itu cuma wanita bekas Darryl, bahkan pertama kalinya pun bukan untuk dia. Jijik sekali! ]
Pesan demi pesan terus berdatangan. Namun dalam hatiku, tidak ada lagi gejolak emosi. Aku hanya mempercepat langkahku membereskan segalanya.
Aku memindahkan boneka pengganti ke kamar tidur, memastikan semuanya bisa terbakar habis. Lalu, aku menyiram seluruh ruangan dengan bensin.
Semua pesan yang dikirim Avril kuteruskan ke tim paparazi paling berbahaya di dunia hiburan, lalu aku mencabut kartu SIM, mematahkannya jadi dua, dan membuangnya ke semak-semak.
Begitu jariku menekan tombol pemantik, aku pun berjalan seorang diri menuju cakrawala. Di depanku hanyalah kegelapan, tapi tidak masalah. Aku yakin ... aku pasti akan menemui fajar.
Di sisi lain, Vincent masih tidak tahu apa yang terjadi. Dia menunduk menatap Avril, nada bicaranya dipenuhi teguran, "Avril, kenapa kamu datang? Besok adalah hari jadi pernikahanku dengan Ariel. Dia bisa curiga kalau begitu."
Mata Avril memerah dan suaranya bergetar, "Jadi kamu sedang menyalahkanku?"
Vincent langsung panik dan menjelaskan dengan tergesa-gesa, "Aku nggak bermaksud begitu. Maaf, Avril, aku salah."
Avril hanya menyilangkan tangan di depan dada dan mendengus pelan, seolah enggan menerima penjelasannya.
Ponsel Vincent tiba-tiba bergetar, menunjukkan telepon dari kepala pelayan Keluarga Breymen. Dia mengernyit, lalu menekan tombol untuk memutus panggilan.
Namun telepon itu datang lagi, lagi, dan lagi ... berulang lebih dari sepuluh kali. Saat itulah Vincent akhirnya sadar, ada sesuatu yang benar-benar tidak beres.
"Ada apa?"
"Tuan, gawat ... Nyonya ... bunuh diri dengan membakar diri!"
"Kami sudah berusaha memadamkan apinya, tapi ... semuanya sudah terlambat."