Bab 1

Keributan pecah di rumah sakit.

Keluarga pasien mengamuk, pisau terhunus dan diayunkan membabi buta.

Refleks, aku mendorong suamiku, Elvano Wiratama, agar selamat.

Namun, bukannya menghindar, dia justru menarik tanganku, menjadikanku tameng hidup demi melindungi adik juniornya.

Pisau itu menembus perutku.

Dan seketika… bayi kecilku yang baru saja terbentuk, hilang untuk selamanya.

Saat para rekan dokter histeris berusaha membawaku ke ICU,

suamiku malah menarik tubuhku jatuh dari brankar. Wajahnya dingin tanpa rasa iba.

“Selamatkan dulu juniorku!” bentaknya bengis.

“Kalau dia sampai celaka, kalian semua…akan kupecat!”

Suasana membeku. Semua mata terbelalak, kaget sekaligus marah.

“Elvano, kamu sudah gila! Lihat dia… dia cuma lecet sedikit, sementara istrimu… dia sekarat!”

Aku menahan darah yang terus mengalir dari perutku. Aku mengangguk pasrah.

“Nggak apa-apa… lakukan saja… begitu,” ucapku lirih, nafasku berat.

Elvano, setelah utang ini terbayar, aku tak lagi berutang apa pun padamu.

Kesabaranku… hanya dibalas dengan ejekan dingin Elvano.

“Aruna, hentikan sandiwara menyedihkanmu itu! Luka kecil begitu bukan masalah besar, kamu sendiri tahu, ‘kan!”

Begitu kata-kata itu terucap, dia menarikku dengan kasar, lalu melemparkan tubuhku ke lantai, tanpa peduli pada belati yang masih menancap di perutku.

Rasa sobekan di perutku membuatku meraung kesakitan. Darah mengalir deras, meresap ke kain pakaianku, sekaligus merenggut paksa janin kecilku yang tak berdosa.

Sementara aku berlumuran darah, dia justru dengan lembut menggendong adik juniornya, Maira Safira, lalu meletakkannya di atas brankar.

“Maira, jangan takut. Ada aku di sini. Kamu pasti baik-baik saja.”

Padahal hanya ada goresan tipis di lengannya, tapi Maira menangis seolah dunia runtuh.

“Sakit banget, Kak Elvan. Kalau sampai kena saraf, terus aku nggak bisa lagi pegang pisau bedah… aku harus gimana?”

Elvano menatapnya penuh iba, suaranya lembut.

“Bodoh… jangan khawatir, aku sendiri yang akan merawatmu. Aku juga akan pastikan orang yang melukaimu mendekam di penjara!”

Wakil direktur rumah sakit yang berdiri di dekatnya tampak mengerutkan kening.

“Pak Direktur, istri Anda sedang hamil! Luka itu sangat dalam. Kalau nggak segera ditangani, nyawa istri dan anak Anda nggak akan tertolong!”

Namun, yang kudapat hanyalah tatapan jijik dari Elvano.

“Itu semua cuma sandiwara. Pasti dia menaruh kapas dan kantong darah di perutnya. Dia pasti sudah bersekongkol dengan perusuh itu untuk menipuku! Aku nggak akan tertipu!”

Dokter-dokter lain terdiam, tercengang sekaligus marah. Bagaimana mungkin kata-kata itu keluar dari mulut seorang direktur rumah sakit?

Dan lebih menyakitkan lagi… dia adalah suamiku, yang sudah tujuh tahun menikahiku.

Elvano mengejek dengan senyum sinis, lalu menendang perutku dengan keras dua kali.

“Kamu memang licik, Aruna! Sampai-sampai semua dokter di rumah sakit ini membelamu. Wanita kampung sepertimu memang berhati busuk! Demi merebut perhatian, kamu sampai melakukan hal sekotor ini. Seharusnya dulu aku nggak perlu menuruti nenek untuk menikahimu!”

Mendengar semua itu, aku tanpa sadar menoleh ke Maira yang terbaring di brankar. Tak salah lagi, matanya memancarkan kilasan kepuasan.

Aku masih ingat jelas… saat pisau tajam itu mengarah padaku, dia berbisik lirih, “Aruna, mau taruhan? Di hati Kak Elvan cuma ada aku. Meski kamu mati di depannya, dia nggak akan goyah sedikit pun.”

Dan nyatanya, Elvano benar-benar mempercayai tipu daya Maira.

Wakil direktur sudah tak tahan lagi, kembali ingin membelaku. Tapi aku menggeleng lemah, menghentikannya.

“Sudahlah… selamatkan dia saja.”

Aku menopang perutku yang sakit luar biasa, berusaha bangkit dan meninggalkan ruangan. Namun, begitu mengangkat kaki, rasa sakit menghantam hingga aku terjatuh berlutut lagi. Aku menggigit bibir menahan derita, perlahan-lahan merangkak keluar ICU, langkah demi langkah, meninggalkan jejak darah panjang di lantai.

Dari belakang, suara dingin Elvano terdengar menusuk telinga.

“Berhenti berakting, Aruna! Pulang sana, ganti pakaianmu, lalu kembali ke sini untuk meminta maaf pada Maira. Dia terluka karena ulahmu!”

Dulu, setiap kali dia salah paham dan lebih percaya pada Maira, aku pasti mati-matian membela diri.

Tapi kali ini… tidak lagi.

Di ambang pintu, tubuhku nyaris tak kuat menopang. Aku sempat menoleh sekali… yang kulihat hanyalah tangan Elvano dan Maira yang saling menggenggam erat.

Dengan tangan gemetar, aku melepas cincin kawin dari jariku, lalu melemparkannya ke dalam tong sampah.

Bab 2

Saat polisi datang menenangkan keluarga pasien yang membuat keributan, mereka melihatku tergeletak tak berdaya di depan ruang ICU, tubuh berlumuran darah.

Mereka sontak terkejut.

“Dokter! Mana dokter?!” teriak seorang polisi panik.

“Di sini ada ibu hamil terluka parah, kenapa nggak ada yang menolongnya!”

Saat itu, sekujur tubuhku terasa dingin, seolah sudah berada di ambang kematian.

Elvano melangkah keluar dari ruang ICU dengan langkah santai, penuh keyakinan.

“Nggak perlu pedulikan dia, Pak. Dia cuma akting. Pura-pura pingsan untuk cari perhatian. Kalau nggak, kenapa dia jatuh tepat di depanku?”

Polisi menatapnya tak percaya.

“Aku seorang penyidik senior. Dia mengeluarkan banyak darah. Aku tentu bisa membedakan mana darah asli atau bukan!”

Suara keras polisi menggema di Lorong. Orang-orang mulai berkumpul menonton drama tragis ini.

Elvano jelas tak suka dirinya menjadi tontonan.

Tanpa pikir panjang, dia menendang perutku yang sudah tak lagi sanggup merasakan sakit.

“Bangun, Aruna! Polisi sudah datang, apa kamu nggak malu, hah? Mau sampai kapan kamu bersandiwara?”

Tanganku refleks memeluk perutku meski tubuhku sudah lemas karena kehilangan banyak darah. Dalam kesadaran yang kabur, aku bahkan lupa... luka tusukan ini kuterima karena menggantikan Maira. Dan kini… anakku pasti sudah tiada.

Aku tersungkur ke lantai. Seseorang segera menolongku.

“Ya Tuhan! Bukannya ini Dokter Aruna? Cepat, selamatkan dia!” ucapnya sembari menutup mulut seolah tak percaya.

“Direktur Elvano, dia ‘kan istrimu!”

Namun, Elvano tetap tak bergeming. Dia hanya tertawa sinis.

“Aruna, Aruna… banyak juga figuran yang kamu bawa! Apa uang Keluarga Wiratama harus kamu hamburkan begini?”

Bersandar pada dinding yang dingin, aku menutup mata dengan putus asa.

Elvano… tahukah kamu kalau anak kita sudah tiada?

Kalau aku bisa bertahan kali ini… seumur hidup aku tak ingin lagi bertemu denganmu.

Di sisi lain, polisi terus membujuk, memintanya mengizinkan tim medis menolongku. Tapi Elvano keras kepala, bahkan menuduh polisi sebagai orang suruhanku.

Polisi pun naik pitam, mengeluarkan ponsel dan hendak menghubungi rumah sakit lain.

Tepat saat itu, Maira muncul.

“Kak Aruna, apa kamu nggak malu? Menghabiskan tenaga medis dan polisi hanya untuk drama semacam ini. Sudahlah, Kak. Bangunlah. Aku bisa kok memberimu maaf.”

Elvano menatap Maira penuh kelembutan.

“Kamu terlalu baik, Maira. Nggak perlu buang waktu meladeni dia.”

Tiba-tiba, wajahnya berubah dingin. Dia memanggil security.

“Security! Seret wanita ini ke gudang. Tanpa izinku, jangan ada yang buka pintu!”

Polisi sontak protes.

“Nggak bisa! Tindakanmu ini sudah masuk ranah pidana. Itu penyekapan!”

Elvano tak peduli.

“Penyekapan? Dia istriku. Aku hanya mendidiknya karena sudah keterlaluan.”

Dua satpam menyeretku dengan kasar. Rasa sakit akibat luka yang robek membuatku menjerit kesakitan.

Saat itu, Livia, sahabat sekaligus dokter dari rumah sakit lain, datang tergesa-gesa setelah menerima telepon dari polisi.

Begitu melihat pisau buah yang masih tertancap di perutku, air matanya jatuh.

“Kamu gila, Elvano! Kamu benar-benar ingin membiarkannya mati, hah!”

Livia segera memeriksa kondisiku, lalu memanggil tim medis untuk membawaku ke ranjang darurat.

Aku sedikit lega… tapi Elvano kembali menghalangi.

“Dia nggak boleh pergi! Dia sudah melukai Maira dan belum minta maaf!”

Livia melirik Maira, yang wajahnya segar bugar tanpa luka. Kemarahannya langsung meledak. Mereka berdua pun bersitegang, suara pertengkaran memenuhi lorong.

Aku hanya bisa berbaring, hatiku sudah mati rasa.

Elvano… tujuh tahun menikah, tak bisakah kita berpisah secara baik-baik?

Haruskah aku kehilangan anak dan nyawaku?

Tiba-tiba, bayangan gelap tepat berada di depanku.

Elvano melangkah mendekat, wajahnya penuh ejekan.

“Baiklah, kalau kalian masih nggak percaya… aku akan buktikan! Kalian akan tahu, apakah perutnya benar-benar tertusuk, atau hanya kantong darah murahan!”

Senyum sinis menghiasi wajahnya.

“Aruna, aku sudah memberimu banyak kesempatan. Tapi kamu malah menolak… sekarang lihat akibatnya!”

Tangannya terulur, menggenggam gagang pisau yang masih menancapdi perutku… bersiap mencabutnya dengan paksa.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B12542" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B12542
Salin

Cinta yang Telah Menjadi Masa Lalu

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya