Bab 1
Setelah lima tahun menikah, demi melindungi anaknya dengan wanita simpanannya, Nathan tidak hanya memaksaku untuk menggugurkan bayi dalam kandunganku, tetapi juga bersekongkol dengan dewan direksi untuk mencopotku dari posisi wakil direktur.
Dengan menggandeng Lucia, dia menatapku dengan senyum sinis dan berkata, "Fira, karena kamu nggak cukup patuh, mulai sekarang Lucia akan menggantikan posisimu."
Aku menepis tangannya dan menarik Lucia ke hadapanku. Mengabaikan perlawanan darinya, aku mencengkeram rambut Fira dengan kuat dan memaksanya untuk mendongak. "Ayo, kasih tahu dia, sebenarnya kamu di pihak siapa?"
Saat mengetahui Nathan selingkuh, aku menghancurkan semua benda di rumah. Pembantu di rumah panik dan berkali-kali meneleponnya, "Tuan, Nyonya mengamuk lagi di rumah."
Aku terdiam sejenak, lalu jatuh terduduk di atas karpet. Saat Nathan akhirnya pulang, wajahnya terlihat sangat lelah. "Fira, ada apa lagi denganmu?"
Sambil berbicara, dia mengulurkan tangan untuk melonggarkan dasi di lehernya. Saat melihat simpul dasi yang dipegangnya, aku tertegun sejenak. Tadi pagi sebelum dia berangkat, aku mengikatkan simpul Windsor untuknya. Namun sekarang, simpul yang kulihat adalah ....
Simpul Pine Cone yang rumit.
Itu adalah satu-satunya simpul dasi yang bisa diikat oleh mantan sekretarisnya, Lucia. Saat masih menjadi sekretaris, dia sering bekerja dengan kikuk. Namun, Nathan selalu memperlakukannya dengan penuh kesabaran.
Aku pernah menanyakan alasannya dan dia hanya menjawab, "Fira, dia mengingatkanku pada semangat pantang menyerahmu."
Saat itu, aku tidak terlalu memikirkannya.
Aku hanya mengira dia ingin memberi lebih banyak kesempatan pada pegawai baru. Sampai ketika Nathan mulai sering menyebut nama Lucia. Meskipun dia sering mengeluhkan kesalahan Lucia, di wajahnya samar-samar terpancar kasih sayang.
Aku pun bertengkar hebat dengannya dan menuntut agar Lucia dipecat. Nathan mengernyit dan menatapku dengan nada dingin, "Fira, kamu selalu suka membuat keributan yang nggak masuk akal."
Akhirnya, dia tetap mengalah. Saat itu, aku merasa telah menang. Namun, aku lupa. Saat seorang pria ingin berkhianat, tidak ada yang bisa menahannya.
Nathan memang mengganti Lucia dari posisinya di kantor. Namun, dia membawanya ke ranjang dan memanjakannya hingga saat ini, sementara dia hanya menatapku dengan dingin seolah-olah aku tidak tahu apa-apa. Seperti orang bodoh.
Aku duduk di atas karpet sambil mendongak menatapnya. "Setelah Lucia mengundurkan diri, ke mana dia pergi?"
Ekspresi Nathan langsung berubah muram. "Kamu buat keributan hari ini cuma karena pikiran nggak masuk akal ini?"
Aku sangat mengenal Nathan. Karena itu, aku bisa membaca kecanggungan di balik kemarahannya dengan mudah. Setelah itu, aku mengeluarkan satu per satu foto yang kuterima dan menaruhnya di hadapannya. Di setiap foto, terlihat jelas keintiman Nathan dan Lucia.
Aku berusaha menahan emosiku, tetapi tubuhku tetap gemetar tak terkendalikan. Dihadapkan dengan pertanyaanku yang bertubi-tubi, Nathan tak bisa berkata apa pun. Setelah beberapa saat, dia akhirnya berkata dengan suara serak, "Jadi, kamu sudah tahu semuanya."
Nathan pun mulai bercerita tentang hubungannya dengan Lucia, seolah-olah ini adalah adegan klise dari drama roman. Pada awalnya, dia memang meremehkan pegawai baru yang kikuk itu. Namun, saat Nathan mengalami berbagai kesulitan, gadis muda itu selalu berada di sisinya dengan penuh semangat.
Bab 2
Angin di luar bertiup kencang, dinginnya yang menusuk menembus jendela. Nathan menyalakan sebatang rokok dan asapnya perlahan-lahan menutupi ekspresinya. Dia menatapku seraya berkata, "Dia seperti matahari kecil yang selalu penuh semangat dan ceria. Nggak seperti kamu yang sering kali emosi dan mudah marah."
"Kerja saja sudah cukup membuatku pusing. Saat pulang aku masih harus menghadapi sikapmu." Nathan memijat pelipisnya dengan lelah saat berkata, "Fira, aku memang capek."
Aku menatapnya dengan hampa dan bergumam pelan, "Lalu, kenapa nggak mengajukan cerai?"
Nathan menundukkan kepalanya, lalu menatapku dengan serius. "Fira, aku memang capek, tapi nggak pernah terpikir untuk meninggalkanmu. Aku cuma butuh tempat untuk bernapas sebentar. Supaya aku bisa mengatur emosiku dan kembali mencintaimu."
Jadi, Lucia adalah tempatnya untuk "bernapas", pelarian dan kenyamanan yang dicarinya. Ini begitu konyol dan juga menyakitkan. Aku menatapnya tak percaya. "Kamu benar-benar nggak tahu malu."
Nathan mengembuskan asap rokoknya. Nada bicaranya terdengar tidak sabar dan frustrasi, "Awalnya, aku juga ingin terus memahamimu. Tapi Fira, saat kamu meluapkan amarahmu ... itu sangat menjijikkan dan membuatku merasa muak."
Bagaikan sebilah gunting yang membelah jantungku, aku berusaha untuk tersenyum. Namun, senyuman itu lebih mirip senyuman getir yang jauh lebih menyedihkan daripada tangisan.
"Kamu pasti sulit sekali menahan diri selama bertahun-tahun bersamaku ya."
Nathan menarik napas panjang, lalu membungkuk untuk membantuku berdiri. "Fira, aku nggak pernah ingin berpisah denganmu ...."
Namun, dering telepon yang nyaring memotong ucapannya. Di seberang, terdengar suara Lucia yang panik, "Nathan, si kecil demam tinggi."
Wajah Nathan berubah drastis mendengarnya dan dia segera berdiri untuk pergi.
"Siapa maksudnya si kecil?" Aku refleks menarik lengannya.
Namun, dia menepis tanganku dengan kasar dan bergegas pergi. Aku menggertakkan gigi dan mengikutinya hingga ke rumah sakit. Saat menemukan Nathan di bangsal rumah sakit, dia dan Lucia tengah mengurus seorang anak kecil di tempat tidur dengan perhatian. Anak itu!
"Brak!"
Dengan perasaan seakan-akan tersambar petir, aku mendorong pintu dengan keras. Suara benturan yang keras terdengar saat pintu menghantam dinding. Nathan menoleh dan terlihat panik sekilas.
Anak di pelukannya pun terlepas dan menatapku sambil bertanya, "Papa, siapa Tante ini?"
Nathan membungkuk dan mencium pipinya. "Ini teman Papa. Sayang, kamu main dulu sama Mama. Papa kembali sebentar lagi."
Pada saat itu, hatiku terasa beku. Aku melangkah maju dan menatap anak itu tanpa berkedip.
"Kamu nggak ingat aku? Aku ini istri Papa kamu! Aku juga orang malang yang kehilangan anak setahun yang lalu karena perbuatanmu!"
"Cukup, Fira!" Nathan menarikku keluar dari ruang perawatan dengan marah.
Bab 3
Nathan menyeretku ke tangga darurat dengan emosi menggebu-gebu. "Apa yang kamu omongkan di depan anak itu?"
Aku memijat pergelangan tanganku yang memerah akibat cengkeramannya, lalu menatapnya balik dengan tajam. "Bagian mana yang salah dari ucapanku? Bagian 'aku adalah istrimu' atau bagian 'anak itu membuatku kehilangan bayiku'?"
Ekspresi marah di wajah Nathan seketika membeku. "Itu … kejadian itu cuma kecelakaan ...."
Aku bersandar pada dinding rumah sakit dan menatapnya dalam diam. "Kamu sendiri percaya sama kata-katamu itu?"
Setahun yang lalu, aku buru-buru pulang setelah selesai dinas dari luar kota, hanya untuk membagikan kabar kehamilanku kepada Nathan. Namun saat masuk ke rumah, aku menemukan kondisi rumah kacau balau. Di tangga, foto pernikahan kami hancur berantakan.
Aku naik untuk memeriksa apa yang terjadi. Namun di tengah tangga, tak kusangka ada sisa sabun mandi yang licin. Langkahku tergelincir dan aku terjatuh dari tangga. Begitulah aku kehilangan anak dalam kandunganku.
"Saat itu, kamu bilang padaku, itu ulah anak dari kerabat yang bermain di rumah. Nathan, kamu punya hati nurani nggak?"
Nathan membuka mulutnya, tetapi tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Air mataku mengalir deras dan punggungku yang awalnya tegak mulai merosot tak berdaya. "Nathan, kenapa kamu bisa? Kenapa kamu sanggup melakukan semua ini?"
Sejak kehilangan anak itu, aku tak bisa tidur semalaman. Dalam mimpiku, aku terus melihat anakku berlumuran darah dan menuduhku karena tidak bisa melindunginya.
Penderitaan ini berakar begitu dalam hingga membuat emosiku semakin tak terkendali. Aku menyalahkan diri sendiri karena ceroboh, menyalahkan Nathan karena tak membereskan kekacauan, dan menyalahkan anak dari kerabatnya.
Awalnya, Nathan merasa bersalah dan kasihan padaku. Namun perlahan-lahan, perasaannya berubah menjadi jengkel. Dia berteriak menyebutku seperti orang gila, mengatakan bahwa anak kecil mana mungkin paham konsekuensi dari perbuatannya.
Ternyata, anak itu ... adalah anaknya sendiri.
Rasa sakit yang menyayat hati menusukku dan aku menggigit lidahku untuk mengatasi rasa sakit yang lebih mendalam. "Nathan, bagaimana ini? Aku hamil."
Dia terdiam tampak seakan-akan tak bisa memproses ucapanku. "Apa kamu bilang?"
Aku menatap matanya dengan tajam dan mengulanginya sekali lagi. Mata Nathan menyipit tajam dan dia menatap perutku dengan alis yang mengerut. "Hamil ...?"
Tubuhku mendadak terasa dingin, seolah-olah dibekukan seketika.