Bab 1
Tunanganku tiba-tiba mengumumkan ingin menikah dengan kakakku. Sementara Twinkle, si bangsawan yang selalu bersikap dingin dan tenang tiba-tiba, melamarku sambil berkata bahwa dia telah mencintaiku selama bertahun-tahun.
Tiga tahun menikah, Twinkle selalu lembut dan perhatian. Tidak ada satu pun hal buruk yang bisa kutemukan darinya. Sampai suatu hari aku tanpa sengaja mendengar percakapannya dengan seorang teman.
"Twinkle, Amelie sudah mendapat semua yang dia inginkan. Pernikahan palsumu ini sebenarnya nggak perlu lagi, 'kan?"
"Kalau aku nggak bisa menikahi Amelie, menikah dengan siapa pun nggak masalah. Dengan begitu, dia juga nggak akan mengganggu kehidupan Amelie."
Di ruangan tempat Twinkle setiap hari berdoa, dindingnya penuh dengan nama Amelie. Aku mendengar dia berdoa di hadapan Tuhan.
"Semoga semua kebaikan di dunia ini menjadi milik Amelie. Aku rela menukar kebahagiaanku seumur hidup demi kebahagiaan dan kedamaian Amelie."
"Amelie, aku nggak berharap di kehidupan berikutnya bisa memilikimu. Aku hanya berharap kamu selalu mengingatku."
Inilah kenyataan di balik tiga tahun pernikahan bahagia yang kujalani. Aku pun meniadakan identitasku dan merencanakan kematian palsu. Sejak saat itu, aku dan Twinkle tidak memiliki hubungan apa pun lagi.
Sudut pandang Natalie:
Setelah mengatur semua hal tentang kematian palsuku, aku menutup telepon. Dua hari kemudian, dunia ini tidak akan lagi mengenal keberadaanku.
Saat itu, pintu gereja terbuka. Twinkle perlahan berjalan ke arahku, lalu menjatuhkan kecupan lembut di keningku.
"Lagi telepon siapa?"
"Guru dari institut piano, nggak ada yang penting."
Aku berusaha membuat ekspresiku tidak terlalu kaku, tetapi aku benar-benar sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapinya.
Dia mencubit pipiku pelan. "Akhir-akhir ini kamu kelihatan lebih kurus. Urusan institut itu nggak perlu terlalu dipikirkan, jangan sampai mengorbankan kesehatanmu."
Dari ucapannya tidak terdengar ada yang aneh, tatapannya juga tetap lembut. Selama tiga tahun ini dia selalu seperti itu padaku. Dengan ekspresi yang sama, nada suara yang sama, dan memberikan semua kasih sayangnya kepadaku.
Semua orang iri padaku, karena Twinkle begitu dingin terhadap siapa pun, tetapi hanya padaku dia memberikan kelembutan tanpa batas.
Aku selalu mengira aku beruntung, bisa memiliki suami sebaik ini. Namun, kini aku baru mengerti, dia menukar pernikahannya dengan kebahagiaan Amelie.
Twinkle menuntunku duduk di sofa, lalu berkata dengan santai, "Besok ulang tahun Amelie. Karena dia menang lomba piano, dia ingin merayakannya. Kamu istirahat saja di rumah. Aku hanya akan mengantar hadiah, lalu segera pulang."
"Besok juga hari ...."
Belum selesai aku berbicara, Twinkle langsung menyela, "Sayang, kita sedang bersiap untuk punya anak. Kamu harus banyak istirahat di rumah."
Aku menutup bibir tanpa berkata lagi, tetapi rasa getir itu perlahan merambat dari hidung hingga ke ujung mataku. Tiga tahun menikah, dia tidak pernah sekali pun mengingat hari ulang tahunku.
Kini setelah kupikirkan, bukan karena dia lupa, tetapi karena aku dan Amelie lahir di hari yang sama. Di dalam hatinya, hanya ada Amelie.
Larangan agar aku tidak ikut itu ... mungkinkah sebenarnya hanya agar dia bisa punya waktu berdua dengan Amelie?
Twinkle memelukku dengan lembut, tanpa menyadari kekecewaan di wajahku. "Natalie, dua hari lagi adalah hari jadi pernikahan kita. Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu. Semoga kehidupan kita selalu damai dan penuh sukacita."
Damai dan penuh sukacita. Aku mengulang empat kata itu dalam hati. Seketika, seperti ada sesuatu yang meledak dalam pikiranku.
Selama tiga tahun ini, setiap hari jadi pernikahan, dia selalu mengucapkan kalimat itu. Dulu aku tidak merasa ada yang aneh. Namun, sekarang aku sadar, doa damai dan sukacitanya itu bukan ditujukan padaku, tetapi untuk Amelie.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan menunggu hadiah darimu."
Twinkle mengangguk. "Tenang saja, kamu pasti akan menyukainya."
Aku memaksakan sebuah senyuman kaku di saat hatiku diliputi kesedihan.
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Melirik Twinkle yang sudah terlelap, aku diam-diam turun dari tempat tidur. Aku berjalan menuju kapel kecil yang selama ini tidak pernah aku masuki.
Kapel itu tidak besar, dindingnya dipenuhi ayat-ayat Alkitab. Namun, di antara barisan kata-kata itu, nama Amelie memenuhi setiap celah. Seketika, seluruh hatiku hancur.
Bab 2
Keesokan harinya saat Twinkle hendak keluar, aku sudah berganti pakaian. "Aku ikut kamu."
Ekspresi Twinkle sempat kaku sesaat, lalu dia tersenyum tipis. "Baiklah. Kalau begitu, nanti kita cepat balik."
Aku tahu dia takut aku akan mengganggu Amelie. Namun, tujuanku bukanlah itu. Aku hanya ingin melihat keluarga sekali lagi sebelum pergi. Bagaimanapun, mungkin seumur hidup aku tidak akan pernah bertemu mereka lagi.
Setibanya di rumah, ruang tamu yang besar sudah penuh dengan orang-orang. Amelie dikelilingi oleh semua orang yang memberikan doa dan ucapan selamat. Dia mengenakan gaun mewah, riasannya sempurna, dan dikelilingi kerumunan bak seorang putri.
Saat melihatku masuk, senyuman Amelie seketika memudar. Namun, dia tetap melangkah anggun menghampiriku. "Adikku datang juga? Kukira kamu sibuk setiap hari menjadi nyonya kaya, sampai-sampai melupakan kakakmu."
Aku tidak menanggapi ejekannya, hanya mengalihkan pandanganku ke arah lain.
"Amelie, ini hadiah dariku. Selamat ulang tahun." Suara Twinkle dipenuhi emosi mendalam. Saat dia menatap Amelie, ada kekaguman sekaligus kesedihan.
"Terima kasih, Twinkle. Doamu adalah yang paling kubutuhkan!" Amelie tersenyum menerima hadiah itu, lalu melirikku dengan senyuman penuh tantangan.
Dia menegakkan lehernya dengan anggun, lalu berjalan menuju piano dan mulai memainkan tuts dengan elegan.
Begitu nada pertama keluar, tubuhku langsung membeku di tempat. Yang dia mainkan adalah lagu yang baru saja kuselesaikan setelah berhari-hari tanpa tidur, lagu yang kusiapkan untuk lomba internasional setelah aku pergi!
Sambil bermain, Amelie menoleh ke arahku, memberikan senyuman menantang. Aku melirik Twinkle di samping. Tampak cinta yang memancar dari matanya.
Tiba-tiba, penutup tuts piano jatuh. Meskipun Amelie sempat menghindar, tangannya tetap terkena. "Ah! Sakit sekali!"
Dia menjerit, memegangi tangannya, tubuhnya bergetar, dan menangis kesakitan. Suara keras piano menggema, membuat seluruh ruangan panik.
"Ya Tuhan, penutup piano menimpa tangan Amelie!"
"Gimana ini? Dia 'kan pianis!"
"Cepat panggil dokter!"
Dalam kekacauan itu, aku mendengar satu suara penuh kegelisahan dan kepanikan yang menusuk. "Amelie!"
Tubuhku bergetar hebat. Itu suara Twinkle.
Mata Twinkle dipenuhi rasa panik. Dia langsung berlari ke sisi Amelie. "Amelie, biar aku lihat tanganmu!"
Dengan wajah berlinang air mata, Amelie menyerahkan tangannya. Kelingkingnya agak bengkak, tetapi jari lainnya baik-baik saja. Namun, di mata Twinkle, itu adalah cedera parah. Dengan hati-hati, dia menggenggam tangan Amelie dengan penuh kasih sayang.
Amelie menatapku sekilas, lalu langsung menangis lebih keras. "Piano ini hadiah dari adikku. Aku nggak pernah menyangka ...."
Kalimatnya tak dilanjutkan, tetapi maksudnya sudah sangat jelas.
Twinkle segera menoleh padaku. Suaranya terdengar lembut, tetapi sarat dengan teguran. "Natalie, apa kamu yang mengutak-atik piano ini? Cepat minta maaf pada kakakmu."
Aku menatapnya dengan mata terbelalak, tak percaya Twinkle benar-benar meragukanku. "Aku nggak melakukan apa pun!"
Piano itu memang hadiah dariku, tetapi aku hanya memesannya. Saat diantar ke rumah, aku sama sekali tidak pernah menyentuhnya.
Amelie meneteskan air mata, suaranya terdengar sangat menyedihkan. "Jangan salahkan adikku, mungkin dia juga nggak sengaja."
Twinkle hendak berkata lagi, tetapi aku menyelanya, "Kalian berdua bisa jelaskan padaku, kenapa Amelie memainkan lagu yang kutulis?"
Bab 3
Mendengar pertanyaanku, mereka berdua sama sekali tidak berbicara.
Twinkle buru-buru menjelaskan dengan wajah tegang, "Mana mungkin sama? Hanya ritme musiknya yang mirip. Itu hal yang wajar, 'kan?"
Ekspresiku tenang, tak menampakkan emosi apa pun.
Twinkle melirikku, lalu melepaskan tangan Amelie dan berjalan ke hadapanku. "Ayo kita pulang. Kamu harus istirahat dengan baik."
Aku mengangkat mata menatapnya, bibirku terangkat sedikit membentuk senyuman samar. "Baik."
Saat tiba di depan mobil, Twinkle membukakan pintu untukku. "Aku sudah menyiapkan hadiah hari jadi pernikahan kita. Beberapa waktu ke depan aku akan berusaha meluangkan waktu lebih banyak untuk menemanimu. Kita juga sebaiknya segera punya anak."
Aku tidak menanggapi. Pernikahan ini sejak awal memang sudah salah. Bahkan anak yang disebut pun hanyalah bagian dari rencana Twinkle.
Sesampainya di depan rumah, aku berjalan lebih dulu. Ponsel Twinkle tiba-tiba berdering. Dia pun mengangkatnya. Keningnya berkerut tipis saat melirikku sekilas.
"Kalau ada urusan, pergilah."
Twinkle menatapku dengan wajah serbasalah. "Natalie, aku ...."
Sepertinya dia juga teringat, di mobil tadi dia baru saja bilang akan lebih banyak meluangkan waktu untukku.
"Nggak apa-apa, aku juga agak lelah. Aku istirahat duluan."
Twinkle mengangguk, lalu berbalik dan pergi tanpa sedikit pun menoleh kepadaku.
Aku duduk sendirian di sofa. Tidak tahu sudah berapa lama, aku membuka ponsel dan melihat unggahan terbaru dari Amelie.
[ Kamu pernah bilang, kapan pun aku mencarimu, kamu pasti akan datang. ]
Komentar di bawahnya penuh rasa iri.
[ Suamimu benar-benar baik, iri sekali rasanya. ]
Namun, yang paling menarik perhatianku justru adalah foto yang disertakan. Dalam foto itu, meskipun wajah pria itu tidak terlihat jelas, area dagu dan lehernya tampak jelas mengenakan kalung salib yang sangat kukenal.
Itu Twinkle. Aku langsung menekan nomor Twinkle. Namun, yang mengangkat justru adalah Amelie. "Ada apa, adikku tersayang? Malam-malam begini sendirian pasti kesepian ya? Jangan ditunggu lagi, Twinkle nggak akan pulang malam ini."
"Kamu benar-benar nggak berguna. Suami sendiri nggak bisa dijaga. Kesempatan sudah kuberikan, tapi kamu memang terlalu lemah."
Aku langsung menutup telepon, lalu menyuruh semua pembantu pergi. "Nyonya, masa Nyonya sendirian di rumah?"
Aku tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, aku sudah terbiasa."
Mereka tidak bisa melawan perintahku. Setelah semua pergi, aku menutup rapat seluruh pintu dan jendela. Kemudian, aku melangkah ke dapur, membuka aliran gas.
Bersandar di jendela, aku menengadah menatap langit penuh bintang. Ribuan bintang berkumpul rapat, tak satu pun dari mereka terlihat kesepian.
Hingga lewat tengah malam, Twinkle masih juga belum pulang. Aku memejamkan mata, membiarkan kenangan tiga tahun terakhir berkelebat dalam benakku. Kelembutannya, perhatiannya, janjinya ....
Setiap kata-katanya masih kuingat dengan jelas. Namun, kini aku sadar, semua itu hanyalah kebohongan yang dia ucapkan demi mempertahankan pernikahan palsu kami. Wajah munafik itu dan setiap ekspresi pura-pura penuh cinta itu, terasa begitu menggelikan bagiku.
Aku kembali mengangkat ponsel, untuk terakhir kalinya menekan nomor Twinkle. Nada sambung terdengar lama, tetapi tidak pernah ada jawaban. Berkali-kali kuhubungi, tetap saja tidak ada yang mengangkat.
Aku terkekeh pelan, lalu menyetel rekaman suara dan video proses penciptaan lagu yang kubuat agar terunggah secara otomatis dengan jadwal tertentu.
Setelah menyelesaikan semuanya, aku menoleh, menatap rumah yang kutinggali selama tiga tahun ini untuk terakhir kalinya. Kemudian, aku mengambil pemantik api dan menekannya.