Bab 1
Seminggu sebelum pernikahan, Jimmy, tunanganku tiba-tiba bilang bahwa dirinya harus menikahi cinta pertamanya sebelum menikah denganku.
Katanya, karena ibu cinta pertamanya baru saja meninggal dan meninggalkan pesan terakhir, berharap mereka bisa menikah.
"Semasa hidup, ibunya Mia selalu berharap dia bisa menikah dengan pria yang baik. Aku hanya mau memenuhi harapan terakhir seorang ibu, kamu jangan pikir aneh-aneh."
Padahal, perusahaan kami sudah merencanakan peluncuran proyek perhiasan bertema cinta sejati, tepat di hari pernikahan kami.
Dengan nada kesal, dia menambahkan, "Hanya proyek triliunan, mana bisa dibandingkan dengan bakti Mia ke ibunya? Kalau kamu memang sangat menginginkan keuntungan triliunan itu, cari orang lain untuk menikah saja."
Mendengar kata-katanya yang tak berperasaan itu, aku pun sadar sepenuhnya. Aku berbalik dan menelepon keluargaku.
"Kak, bantu carikan calon suami baru untukku."
Kakakku tak percaya, “Kamu mau batalkan pernikahan?”
“Bukan, dia yang mau menikah dengan orang lain.”
Aku tersenyum pahit.
Demi bisa bersama Jimmy, aku susah payah meyakinkan orang tua dan keluargaku. Aku bahkan menjadwal peluncuran perhiasan bertema cinta sejati bersamaan dengan hari pernikahan kami.
Namun sekarang, semuanya lenyap.
Kakakku terdiam lama, hingga akhirnya berkata, “Kalau begitu hanya ada satu pilihan, yaitu Arthur. Keluarganya terus mendesak dia untuk menikah, kabarnya mereka lagi mencari calon untuknya.”
Keningku berkerut. Arthur adalah musuh bebuyutanku. Bahkan di hari pertunanganku dulu, dia sempat mengutuk hubunganku akan hancur dan ternyata kutukannya jadi nyata.
Karena waktu mepet, aku hanya bisa menjawab, “Kalau begitu, coba tanyakan dulu. Kalau dia nggak mau, aku cari cara lain.”
Namun, kakakku malah langsung menjawab, “Nggak perlu tanya, dia pasti mau.”
“Apa?”
Belum sempat aku tanya lebih jauh, sekelompok orang sudah mengerumuniku.
“Kamu tunangannya Jimmy? Wah, cantik sekali!”
“Kamu datang menunggu dia pulang kerja? Dia bakalan turun sebentar lagi. Romantis sekali kalian!”
Aku menggenggam erat setir mobil, menunduk untuk menyembunyikan tatapan sinisku.
Jimmy sudah lama memperkenalkanku ke rekan kerjanya. Di mata orang luar, kami adalah pasangan sempurna yang membuat banyak orang iri.
Namun siapa sangka, Jimmy akan segera menikah dengan wanita lain.
Setelah pamit dari kerumunan, Jimmy masuk mobil dan menyodorkan kalung ke arahku.
“Mia menyuruhku untuk kasih ini ke kamu. Kemarin waktu pemakaman, kamu sudah mempermalukannya, sempatin waktu minta maaf ke dia.”
Kalung itu jelas bonus dari pembelian barang lain, aku pernah lihat ini di keranjang belanjanya beberapa hari lalu.
Aku pun menolak dengan dingin, “Aku nggak mau.”
Jimmy mengernyit dan menjawab, “Kamu kenapa lagi? Kamu yang datang ke pemakaman dan bilang aku bukan tunangannya, itu sangat mempermalukannya. Mia bahkan nggak marah dan masih sempat berpikir kasih kamu hadiah. Kok kamu malah begitu?”
Dulu, Jimmy selalu ada buatku. Tapi sekarang, yang dia jaga adalah wanita lain.
Dengan wajah kesal, Jimmy membuka jendela untuk mencari angin segar. Lama kemudian, karena aku tetap diam dan tidak menuruti maunya, akhirnya Jimmy berkata, “Sudahlah, aku mengalah saja. Aku temani kamu pergi coba gaun pengantinnya hari ini.”
Ini pertama kalinya dia mengalah tahun ini.
Begitu sampai di butik gaun, pegawainya langsung menyambut,
“Pak Jimmy, Bu Mona, dua puluh set gaun pengantin dan jas yang kalian pesan sudah siap.”
Namun, Jimmy malah sibuk melihat ponsel, wajahnya terlihat agak panik.
Begitu sadar aku memperhatikannya, dia buru-buru menyimpan ponsel dan tersenyum meminta maaf.
“Mona, Mia ada masalah. Aku harus cepat ke sana. Gaunnya kamu coba sendiri saja, ya. Tolong bantu pilihkan satu jas untukku, aku percaya seleramu.”
Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung naik taksi dan pergi, meninggalkanku sendirian.
Pegawai butik mendekat dan bertanya dengan hati-hati, “Bu Mona, jasnya mau dipilih?”
Aku mengalihkan pandangan dan mengangguk pelan.
Tentu saja jas itu harus dipilih, tapi bukan untuk Jimmy.
Karena calon pengantinnya sudah diganti.
Aku naik mobil pulang ke rumah. Kupikir Jimmy tak akan pulang malam ini, tapi menjelang makan malam, dia muncul juga.
Dia berjalan cepat ke arahku, sambil membawa kotak makanan.
“Aku sengaja keliling kota buat beli ini khusus untukmu. Cemilan malam dari Restoran Hosie.”
Aku menatap pao udang itu.
Jumlahnya lebih sedikit tiga buah dari biasanya dan salah satunya bahkan ada bekas gigitan, jelas sudah dimakan orang.
Setengah jam sebelumnya, aku melihat unggahan Mia di media sosial.
Foto makanannya persis seperti yang ada di tanganku.
“Tengah malam pun suamiku masih ingat beli cemilan untukku, terima kasih sayang, muach!”
Aku meletakkan sumpit, selera makanku langsung hilang.
“Nggak mau, buang saja.”
Wajah Jimmy langsung berubah kesal, tapi dia menahan emosinya dan duduk di sampingku, lalu mengeluh,
“Kamu nggak tahu saja betapa kasihannya Mia hari ini. Orang tuaku datang ke rumahnya dan marahin dia karena keluarganya miskin, nggak bisa kasih mas kawin yang layak. Dia sampai nangis.”
“Mia baru balik dari luar negeri, belum punya banyak uang. Aku pikir mungkin bisa pakai dulu mas kawin yang kamu siapkan untuk dia.”
Nada bicaranya yang seolah sudah memutuskan sendiri membuatku muak.
Aku menatapnya dengan sinis dan menjawab, “Jadi aku juga harus siapkan mas kawin untuk istrimu?
Bab 2
Dulu, aku sangat peduli dengan Jimmy. Selama dia mengatakannya, apapun akan kuberikan, apapun akan kulakukan demi dia.
Namun sekarang, Jimmy sendiri yang menyadarkanku.
Kalau dipikir-pikir, sejak Mia kembali, semua yang Jimmy lakukan hanyalah demi perempuan itu.
Jimmy bahkan sudah lupa bahwa akulah orang yang seharusnya menjadi pendamping hidupnya.
Jawabanku membuat Jimmy marah, “Apa maksudmu? Kamu nggak mau? Sebaiknya kamu tahu diri! Mia itu sahabat terbaikku, kamu sebaiknya buat dia senang. Kalau nggak, aku nggak akan menikahimu!”
Usai bicara, dia pun membanting pintu dan pergi.
Perasaanku kacau. Aku pun turun ke taman buat jogging.
Baru lari satu putaran, aku mendapat panggilan telepon dari Arthur.
Begitu ingat wajahnya yang selalu kaku seperti mayat hidup, aku sempat ragu beberapa detik, hingga akhirnya menekan tombol jawab.
“Begitu naik ke kapalku, kamu itu sudah menjadi milikku! Kalau berani kabur, aku bakal menyeretmu kembali!”
Kalimat pertama Arthur langsung seperti serangan telak.
Aku hanya diam dan dia melanjutkan lagi,
“Kirim foto KTP-mu, biar aku bisa urus surat nikahnya.”
“Aku takut kamu berubah pikiran.”
Aneh sekali kamu, Arthur.
Dalam hati, aku sudah membayangkan ribuan cara dia menyiksaku lewat pernikahan ini.
Tapi, akhirnya yang keluar dari mulutku hanya, “Sampai bertemu di pelaminan, Pak Arthur.”
Baru saja aku selesai bicara, tiba-tiba Jimmy sudah muncul di belakangku entah sejak kapan.
Kamu undang Arthur ke pernikahan kita? Aku nggak izinin!”
Jimmy menatapku seolah sedang menatap musuh besar dan melanjutkan,
“Mona, bukannya sudah kubilang jangan berhubungan dengan Arthur lagi? Dia jelas punya maksud lain ke kamu! Kalau kamu tetap maksa undang dia ke pernikahan kita, jangan salahkan aku marah dan putus hubungan denganmu!”
Aku belum sempat menjawab, Jimmy sudah mengucapkan ancaman itu duluan.
Jimmy memang dari dulu tidak suka dengan Arthur. Entah kenapa selalu bersikap seperti musuh. Awal-awal kami pacaran, dia bahkan pernah marah besar hanya gara-gara aku dan Arthur sering berdebat iseng di Whatsapp. Sejak itu, aku pelan-pelan menjauh dari Arthur.
Dan sekarang, Jimmy bilang … Arthur ada niat lain padaku?
Baru saja aku mau bertanya lebih lanjut, tiba-tiba Mia jatuh ke pelukan Jimmy.
“Jimmy, tanganku sakit … “
Baru kusadar mereka sedang jalan berdua sambil bergandengan tangan.
Jimmy buru-buru batuk kecil, kelihatan canggung, tapi tangannya tetap menggenggam tangan Mia, tak ada niat untuk melepas.
Mia menatap Jimmy dengan pandangan penuh kasih, lalu berpura-pura minta maaf padaku,
“Maaf, Kak Mona. Aku dan Jimmy hanya latihan buat hari pernikahan nanti, jangan dimasukkan ke hati.”
“Soal kamu menyuruh orang untuk memukulku dan merusak makam ibuku, aku nggak bakal sebarkan. Tapi tolong jangan sakitin Jimmy. Cinta yang tulus sekalipun, nggak akan tahan diuji terus-menerus.”
Aku sudah malas melihat aktingnya. Tanpa banyak bicara, aku langsung berbalik untuk pergi.
“Kalau kamu begitu berharap, aku bakal menyuruh orang untuk menghajarmu dan sekaligus bongkar makam ibumu!”
Plak!
Jimmy menamparku keras-keras.
“Mona, kok kamu kejam sekali?!”
Matanya melotot emosi, dadanya naik turun menahan marah.
Aku kejam?
Dia begitu mudah percaya omongan orang lain, padahal aku sudah bersamanya selama lima tahun. Tapi kepercayaannya bahkan tak sebanding dengan satu kalimat orang lain.
Api amarahku langsung terbakar. Baru saja mau protes, Mia sudah berdiri di depan Jimmy dan berkata,
“Kumohon Kak Mona, begitu pernikahan ini selesai, aku bakal kembalikan Jimmy padamu.”
“Tolong … jangan sakitin orang-orang sekitarku, jangan sakitin Jimmy juga.”
Sambil berbicara, dia juga mau berlutut di depanku.
Jimmy langsung merangkul pinggang Mia, tak membiarkannya berlutut. Dia menatapku tajam dan berkata,
“Mona, jangan pakai gaya anak orang kayamu yang suka menindas orang itu!”
“Kamu tahu aku paling benci dengan hal seperti ini. Kalau masih mau menikah denganku, jangan buat masalah lagi!”
Usai bicara, dia memperingatkanku supaya jangan muncul di depan mereka lagi sampai hari pernikahan nanti.
Tapi tak disangka, besoknya Jimmy malah menghubungiku duluan.
Begitu tersambung, dia langsung memarahiku, “Mona, kamu benar-benar gali makam ibunya Mia? Aku nggak menyangka kamu sekejam itu!”
Dengan penuh kebingungan, aku menelepon asisten untuk menyelidiki semuanya dan hasilnya sungguh mengejutkan.
Ternyata … ibunya Mia belum meninggal.
Bab 3
Pantas saja Mia bisa sampai segila itu menggali makam ibunya sendiri hanya demi menjebakku.
Ternyata, kematian itu hanya tipu daya.
Aku mengirim pesan ke Jimmy, [Ibu Mia belum meninggal, kebenarannya ada di email yang kukirim padamu.]
Soal dia mau baca atau tidak, itu sudah bukan urusanku.
Tiket pesawat sudah dipesankan Arthur, dijadwalkan tiga hari lagi.
Saat Jimmy pulang, dia melihatku sedang berkemas.
Sebagian besar bajuku dibuang, sisanya kukirim ke Kota Calia.
“Kenapa mulai beres-beres?” tanya Jimmy dengan bingung.
Aku menjawab seadanya, “Mau pindahan.”
Dia sempat diam sejenak, tapi tak menyadari ada yang aneh. Lalu dia melanjutkan,
“Perusahaan keluargamu ada di Kota Calia, habis nikah kita memang harus pindah ke sana. Baguslah kalau kamu mulai beberes dari sekarang.”
Usai bicara, dia menatapku dengan sorot mata tajam.
“Soal ibu Mia, kamu cepat minta maaf. Jangan buat aku susah jadi orang. Minta maaf saja di hari pernikahan nanti, bagaimana?”
Setelah itu, dia buru-buru mencari KTP-nya. Hari ini memang jadwal dia dan Mia mengurus surat nikah.
Sampai malam, Jimmy belum juga pulang. Saat aku membuka ponsel, langsung muncul pesan dari Mia.
Isinya foto dia dan Jimmy yang pakai baju berpasangan, tidur di ranjang yang sama.
Aku memejamkan mata, hatiku tetap terasa sakit.
Aku berusaha menekan rasa sakit itu dan mematikan ponselku.
Malam itu, ponselku terus bergetar setiap satu jam sekali. Setiap kali bergetar, berarti ada satu video baru dari Mia, video dia dengan Jimmy, jelas-jelas Mia sengaja mengirimnya.
Keesokan paginya, Arthur mengirim pesan padaku,
[Nona Mona, bunganya sudah mekar, sudah waktunya pulang dan nikmati keindahannya.]
Dia menyertakan foto surat nikah.
Dan satu pot bunga peony merah yang mekar dengan indah.
Tak kusangka, bunga yang dulu kuberikan asal padanya, masih dirawat sampai sekarang.
Entah kenapa, perasaan aneh menyeruak di dadaku.
Aku membalas satu kata, [Iya.]
Lalu, aku meletakkan ponsel dan mulai mengemas dokumen kerja di komputer. Tak kusadari, Jimmy sudah ada di rumah.
Dia sedang membereskan barang pribadinya dan berkata, “Aku pindah ke rumah Mia beberapa hari. Dia kewalahan urus persiapan nikah. Ingat, lusa jangan telat datang ke acara.”
Usai bicara, dia masih banyak menjelaskan, katanya hanya bantu-bantu, menyuruhku untuk tidak salah paham.
“Iya, aku nggak akan pergi,” jawabku sambil menunduk.
Setelah apa yang terjadi semalam, sisa rasa cintaku padanya sudah benar-benar lenyap.
Jimmy menatapku, seolah merasakan ketenangan aneh dari sikapku. Hatinya diliputi rasa kewaspadaan.
Namun begitu teringat rayuan manja Mia, genggaman tangannya pada ponsel pun perlahan mengendur.
Mona begitu mencintaiku, mana mungkin tega melakukan sesuatu?
Dengan pikiran itu, dia merasa lebih lega. Lalu tanpa menoleh lagi, dia pergi dari hadapanku.
Aku menatap sosoknya yang menjauh, lalu menghubungi sebuah nomor.
Malam itu juga, sebuah helikopter mendarat di alun-alun.
Seorang pria berjalan mendekat dan berkata, “Bu Mona, helikopter yang kamu pesan sudah tiba. Setengah jam lagi, kami akan mengantarmu ke Kota Calia dengan aman.”
Aku mengangguk dan menyerahkan satu map dokumen padanya.
“Besok, kirimkan map ini ke lokasi pernikahan. Ini hadiah pernikahanku untuk sepasang pengantin baru itu.”