Bab 1
Setelah ayah meninggal, aku memutuskan untuk bercerai dari suamiku yang seorang komandan batalion, dan menetap selamanya di desa pegunungan kecil ini.
Hari pertama, aku menipu suamiku agar menandatangani surat permohonan cerai.
Hari kelima, aku mengajukan surat pengunduran diri ke unit tempatku bekerja sebelumnya.
Hari ketujuh, aku memasak semeja penuh hidangan lezat untuk berpamitan dengan semua teman.
Declan mengerutkan kening dan menyalahkanku karena memasak hidangan yang tidak disukai oleh cinta pertamanya sejak kecil. Aku berdiri, mengangkat gelas, dan bersulang dengan cinta pertamanya itu.
Mulai sekarang, Declan dan aku tidak lagi memiliki hubungan apa pun.
Setengah bulan kemudian, aku bertemu kembali dengan Declan yang baru pulang dari tugas di desa pegunungan kecil ini. Hanya saja kali ini, angin malam pedesaan membuat kedua matanya memerah.
Setelah ayah meninggal, aku memutuskan untuk bercerai dari suamiku yang seorang komandan batalion, dan menetap selamanya di desa pegunungan kecil ini.
Hari pertama, aku menipu suamiku agar menandatangani surat permohonan cerai.
Hari kelima, aku mengajukan surat pengunduran diri ke unit tempatku bekerja sebelumnya.
Hari ketujuh, aku memasak semeja penuh hidangan lezat untuk berpamitan dengan semua teman.
Declan mengerutkan kening dan menyalahkanku karena memasak hidangan yang tidak disukai oleh cinta pertamanya sejak kecil. Aku berdiri, mengangkat gelas, dan bersulang dengan cinta pertamanya itu.
Mulai sekarang, Declan dan aku tidak lagi memiliki hubungan apa pun.
Setengah bulan kemudian, aku bertemu kembali dengan Declan yang baru pulang dari tugas di desa pegunungan kecil ini. Hanya saja kali ini, angin malam pedesaan membuat kedua matanya memerah.
....
Hari ketiga setelah ayah meninggal, Declan masih juga tidak datang.
"Pak Kades, aku sudah pikirkan dengan matang. Aku ingin meneruskan wasiat Ayah dan tinggal di sini untuk mengajar anak-anak," kataku dengan tegas setelah membereskan barang-barangku.
Pria itu tertegun sejenak, lalu membujuk, "Anak bodoh, kamu susah payah ikut suami ke militer. Kenapa malah kembali ke tempat miskin seperti ini untuk menderita?"
Aku menggeleng pelan dan menatap jam tangan tua peninggalan ayah di pergelangan tanganku. "Aku nggak takut menderita. Beri aku tujuh hari, aku akan mengajukan cerai darinya."
Pukul tujuh malam, aku akhirnya kembali ke rumah dinas di kawasan militer. Hidangan di atas meja masih ada, persis sama seperti saat aku pergi.
Baru saja aku meletakkan koper, suara langkah kaki terdengar dari pintu. Declan yang mengenakan seragam hijau rapi dan tubuh tinggi tegap, masuk sambil berkata dengan dingin, "Masih ada makanan? Kantin sudah tutup. Panaskan sedikit dan masukkan ke kotak makan, aku mau mengantarkannya ke Safira."
"Dia sedang sakit dua hari ini, nggak enak kalau harus masak sendiri."
Aku berbalik dan memperlihatkan wajahku yang pucat dan lelah. "Aku baru pulang, nggak sempat memasak."
Declan mengerutkan kening, tapi tidak bertanya ke mana aku pergi, juga tidak peduli pada keadaanku. Setelah mendapat jawaban, dia langsung menuju dapur.
Pikirannya saat ini hanya dipenuhi kondisi tubuh cinta pertamanya.
Aku berdiri di tempat, memandangi punggungnya yang canggung saat menggoreng telur. Selama lima tahun pernikahan, ini adalah pertama kalinya dia masuk dapur.
Sejak Safira bercerai dari suaminya dan kembali ke Kota Joran, perubahan seperti ini sudah terlalu sering kulihat. Setelah memasukkan mi ke dalam kotak makan aluminium, Declan hendak melewatiku untuk keluar, tetapi aku menghentikannya.
"Beberapa hari lagi aku harus pulang ke kampung halaman. Tolong bantu aku tandatangani formulir permohonan ini, supaya aku bisa mengurus surat pengantar."
Aku mengeluarkan surat permohonan cerai yang bahkan belum terisi, lalu memberi isyarat agar dia menandatangani bagian yang masih kosong.
Declan tertegun sesaat, lalu langsung menandatangani tanpa melihat isinya sama sekali.
"Beberapa hari lalu Safira sakit, aku nggak ada waktu. Nanti setelah dia sembuh, aku akan menemanimu pulang."
Aku menundukkan pandangan, menahan sudut mataku yang mulai memerah. "Mm."
Saat kami berpapasan, aku mencium aroma krim di tubuhnya. Krim yang selama ini tidak tega kubeli untuk diriku sendiri, tetapi sering dipakai oleh cinta pertamanya.
Begitu pintu halaman tertutup rapat, aku berjalan menuju meja makan dan melipat kertas itu dengan hati-hati.
Seminggu yang lalu, kepala desa meneleponku dan berkata bahwa ayahku tiba-tiba terkena pendarahan otak saat sedang mengajar, lalu dilarikan ke rumah sakit untuk diselamatkan.
Aku langsung panik, berlari pulang dan menarik Declan yang hendak keluar rumah.
"Bisa nggak kamu temani aku pulang ke kampung halaman? Ayahku dia ...."
Kalimatku belum selesai, suara Safira sudah terdengar dari luar pintu. "Declan, cepatlah. Kamu 'kan sudah janji mau temani aku belanja."
Begitu mendengar suaranya, Declan langsung kehilangan kesabaran. Dia melepaskan genggamanku dan keluar begitu saja, hanya meninggalkan satu kalimat.
"Aku ada urusan. Kamu pulang saja dulu, nanti kalau aku ada waktu aku akan mencarimu."
Penantian itu pun berlangsung selama tujuh hari.
Bab 2
Sampai ayah dimakamkan, Declan yang katanya sedang sibuk masih tetap tak kunjung datang.
Yang kudapatkan hanyalah pesan terakhir ayah sebelum mengembuskan napas terakhir, saat dia menggenggam tanganku dan berpesan, "Declan itu anak yang baik. Tugasnya membela negara dan melindungi rakyat, wajar kalau dia sibuk. Ayah nggak menyalahkannya. Setelah kamu pulang, jangan sampai bertengkar dengannya."
'Tapi, Ayah, Declan sibuk bukan karena urusan dinas, melainkan karena dia sedang menemani Safira.'
Aku mengeringkan air mata, lalu mencuci dan merapikan peralatan makan di atas meja.
Saat menghitung mundur waktu, hanya tersisa enam hari sebelum aku pergi.
....
Hari pertama, aku datang sendirian ke kantor pimpinan unit.
"Ini adalah surat permohonan cerai antara aku dan Declan. Aku berharap pihak unit bisa segera menyetujuinya."
Tangan pimpinan unit yang sedang memegang cangkir teh terhenti. Dia segera mengambil berkas itu dan memeriksanya dengan saksama. Setelah melihat tanda tangan tanganku dan Declan di atasnya, dia menghela napas panjang.
"Kalian berdua kelihatannya baik-baik saja. Kenapa bisa sampai ke tahap bercerai?"
Ya, bagaimana bisa sampai sejauh ini?
Aku dan Declan diperkenalkan melalui perantara. Dia adalah kapten dengan masa depan yang cerah di militer, sementara aku adalah guru sekolah dasar yang lembut dan penyabar. Semua orang bilang kami pasangan yang serasi.
Namun sejak Safira kembali, kalimat yang paling sering kudengar justru adalah, "Kapten Declan benar-benar baik sama Bu Safira."
Aku menggelengkan kepala untuk menyingkirkan semua pikiran itu, lalu menjawab pertanyaan pimpinan unit, "Urusan perasaan nggak bisa dipaksakan. Kami hanya ingin berpisah dengan baik."
Pimpinan unit tidak berkata apa-apa lagi. Dia memasukkan surat permohonan itu ke dalam laci. "Datanglah lagi dua hari lagi untuk mengambilnya."
Setelah keluar dari kantor, aku pergi membeli beberapa keperluan.
Begitu sampai di konter, aku langsung melihat krim yang terpajang di rak.
Selama lima tahun menikah, aku tidak pernah tega membelinya untuk diriku sendiri.
Mengikuti arah pandanganku, kakak pegawai koperasi tersenyum sambil bercanda, "Beberapa hari lalu aku lihat Kapten Declan membeli lima atau enam kaleng krim. Cepat sekali habisnya? Bu Brenda, Kapten Declan benar-benar baik padamu."
Tanganku yang memegang barang, langsung menegang.
Beberapa hari ini aku tidak ada di rumah dan Declan sama sekali tidak pernah memberiku krim.
Mengingat aroma yang kucium tadi malam, aku langsung mengerti. Krim itu dibelikan untuk Safira.
Krim yang tidak bisa kudapatkan meski aku mengurus rumah, mencuci pakaian, dan memasak selama lima tahun untuknya. Begitu Safira kembali, dia bisa langsung mendapat lima atau enam kaleng.
Aku tidak tahu perasaan mana yang lebih dominan, entah itu rasa perih atau amarah. Menghadapi tatapan iri kakak itu, aku berkata, "Tolong ambilkan satu kaleng krim, aku beli sendiri."
Hari kelima aku berada di rumah.
Aku pergi ke kantor pimpinan unit untuk mengambil surat permohonan cerai yang sudah disetujui, lalu langsung ke sekolah untuk menyerahkan surat pengunduran diri. Karena belum masuk masa ajaran baru, tidak banyak guru yang berada di kantor.
Aku datang ke mejaku untuk membereskan barang, tetapi mendapati meja itu sudah dipenuhi benda-benda yang bukan milikku. Semua tertata penuh, menutupi seluruh permukaan meja.
Buku catatanku tertekan di bagian bawah. Saat kutarik keluar, buku itu sudah rusak parah, meninggalkan bekas lipatan yang tidak mungkin dirapikan lagi.
Guru di meja sebelah memberitahuku, "Barang-barang itu milik Bu Safira yang baru datang. Waktu kamu nggak ada, Kapten Declan sendiri yang memindahkannya ke sini. Katanya meja ini kosong juga percuma."
Orang yang dimaksudnya, tentu adalah Safira, cinta pertama Declan.
Sebulan lalu, Safira bercerai dari suaminya dan kembali bekerja di Kota Joran. Sekarang dia mengajar sebagai guru pengganti di sekolah ini, statusnya masih guru kontrak.
Aku menyeringai tipis, lalu memindahkan semua barang di atas meja ke lantai dan mulai beres-beres. Saat hampir selesai, tiba-tiba terdengar seruan kaget dari belakang.
Safira berdiri di ambang pintu, dan di belakangnya ada Declan yang katanya akan menemaniku.
"Declan, lihat ini. Kenapa barang-barangku dibuang ke lantai?"
Bab 3
Declan melangkah masuk. Begitu membuka mulut, yang dilontarkannya adalah teguran. "Brenda, cuma taruh sedikit barang saja. Sejak kapan kamu jadi sepelit ini?"
Safira menarik lengan bajunya, berkata dengan wajah penuh rasa kasihan, "Maaf, Bu Brenda. Aku cuma berpikir karena kamu nggak ada di sini beberapa hari ini, jadi aku pakai sementara saja. Aku nggak menyangka kamu akan marah, sampai melempar barang-barangku ke lantai ...."
Sambil berkata demikian, dia bahkan hendak membungkuk padaku.
Declan segera menahannya, sorot matanya tajam dan dingin. "Brenda, jangan keterlaluan. Safira juga bukan sengaja. Sudahlah, jangan dibesar-besarkan."
Ini sudah keberapa kalinya dia marah padaku demi Safira? Aku sendiri sudah tidak ingat lagi. Karena tidak ingin terlibat dalam sandiwara ini, aku memeluk kotak dan langsung pergi.
Saat melewati Safira, tiba-tiba kakiku tersandung sesuatu. Sorot mata Declan berubah, dia berusaha menarikku, tetapi tetap terlambat. Aku terjatuh ke lantai. Isi kotak berserakan di mana-mana, pergelangan tanganku pun tergores.
Declan melangkah mendekat dan mengulurkan tangan padaku. Namun kemudian, seolah melihat sesuatu, dia memungut dua lembar kertas dari lantai.
"Surat pengunduran diri? Dan satu lagi ini ...."
....
Aku segera berdiri dengan panik, lalu merebut kertas-kertas itu dari tangannya. "Aku bisa membereskannya sendiri. Jangan kamu acak-acak."
Tidak menyangka reaksiku sebesar ini, Declan menatapku dengan terkejut. "Kamu mau mengundurkan diri?"
Aku membuka mulut, tidak tahu harus menjelaskan apa, tetapi Declan justru tiba-tiba tersenyum. "Kalau kamu mengundurkan diri, berarti ada satu posisi kosong, 'kan? Kalau Safira bisa diangkat jadi pegawai tetap dan punya pekerjaan resmi, aku juga lebih tenang."
Kata-kata penjelasan itu pun terhenti di tenggorokanku. Aku menatapnya dalam-dalam, lalu bahkan malas memungut barang-barangku dan langsung keluar dari kantor.
Setelah menyerahkan surat pengunduran diri, aku tanpa sengaja bertemu seorang pria yang berdiri menunggu di gerbang sekolah sambil memeluk sebuah kotak.
Melihat aku keluar, Declan mengatupkan bibirnya, lalu menyerahkan kotak itu padaku. "Barang-barangmu."
Ekspresiku melunak. Aku baru saja ingin mengucapkan terima kasih, ketika Declan kembali berkata, "Bisa nggak kamu bantu tuliskan surat rekomendasi untuk Safira? Dengan begitu, peluangnya untuk diangkat jadi pegawai tetap akan lebih besar."
Angin berembus pelan, rasanya seperti ada pasir yang masuk ke mataku.
Aku mengusap pelan kelopak mata yang terasa perih, lalu menjawab datar, "Oke."
Anggap saja sebagai pelunasan atas sisa ikatan suami istri kami selama ini.
Setelah mendapat jawaban yang dia inginkan, sudut bibir Declan terangkat. Lalu seolah teringat sesuatu, dia kembali bertanya, "Kalau kamu sendiri gimana? Apa pekerjaan barumu?"
Aku memalingkan wajah dan menjawab seadanya, "Guru di sekolah lain."
Declan mengangguk, tampak seperti menghela napas lega.
Dia meletakkan kotak itu, lalu memelukku ke dalam pelukannya. "Brenda, bisa menikah denganmu adalah keberuntunganku. Setelah masa sibuk ini selesai, aku pasti akan mengajakmu pulang kampung, menemani Ayah minum dengan baik."
Aku bersandar di dadanya, dadaku terasa sesak.
Sudah terlambat. Semuanya sudah terlambat.
Declan masih ingin berbicara, tetapi Safira keburu berjalan mendekat. "Declan, aku agak nggak enak badan. Kita pulang dulu, ya."
Aku melirik wajahnya yang tampak sehat dan kemerahan, lalu dengan sadar menarik diri dari pelukan Declan.
Seperti yang sudah kuduga, Declan pun segera melepaskan tangannya dariku, wajahnya penuh kepanikan. "Aku antar Safira pulang dulu. Kalau ada apa-apa, nanti kita bicarakan lagi."
Declan merangkul Safira dengan hati-hati, seolah sedang menjaga sesuatu yang sangat berharga.
Aku tidak menghentikan mereka. Aku berjongkok dengan tenang sambil memeluk kotak itu, dan saat melewati tempat sampah, aku melemparkannya ke dalam.
Barang-barang yang pernah disentuh Declan, aku tidak menginginkannya lagi.
Di hari terakhir sebelum pergi, aku memasak semeja penuh hidangan untuk berpamitan dengan para teman. Sebagian besar dari mereka adalah rekan satu tim Declan.