Bab 1

Masih tersisa sepuluh hari sebelum aku mendonorkan ginjalku untuknya.

Diam-diam, di dalam hatinya, Shasa Handoko menghitung hari yang tersisa.

'Tinggal sepuluh hari lagi. Setelah itu, Arya Lexim akan mendapatkan tubuh yang sehat, sementara aku... Pengganti yang dibencinya akan menghilang dari hidupnya.'

Kira-kira... ketika Arya akhirnya bersama dengan perempuan yang dicintainya, apakah dia masih akan mengingatku?

Mungkin... tidak akan.

"Apa kamu benar-benar sudah memutuskan? Donor organ bukanlah hal sepele, apalagi tubuhmu dalam keadaan sehat. Aku harap kamu mempertimbangkannya dengan matang, ini menyangkut nyawa seseorang."

Shasa Handoko terdiam sejenak, lalu dengan suara tegas dia berkata, "Saya sudah memikirkannya. Anda tentu tahu, sekali saya memutuskan sesuatu, sulit untuk mengubahnya."

Profesor di seberang telepon menghela napas panjang. "Baiklah, kalau itu memang keinginanmu... aku menghormatinya."

"Terima kasih, Profesor."

Shasa berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan pelan, "Kalau bisa, tolong rahasiakan hal ini."

"Tentu saja."

Setelah menutup telepon, Shasa terpaku menatap layar televisi yang menyiarkan berita.

[Menurut laporan, bulan lalu pewaris Grup Lexim, Arya Lexim, tiba-tiba jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Pihak Grup Lexim kemudian merilis pernyataan bahwa meski Arya sakit, kondisinya tidak memengaruhi aktivitas sehari-harinya. Baru-baru ini, dia kembali aktif di perusahaan.]

Di layar, Arya tampak berdiri di samping seorang wanita, yaitu sekretaris pribadinya sekaligus wanita yang disebut-sebut sebagai cinta sejatinya.

Dalam tayangan itu, Arya menatap wanita di sampingnya dengan penuh kasih. "Saat aku sakit, untungnya ada Shasha yang terus menemani di sisiku."

Seketika, publik terharu dengan kisah cinta mereka yang tetap kuat di tengah cobaan. Sementara Shasa, sang istri sah yang tidak melakukan apa pun, malah menjadi sasaran cercaan semua orang.

Bahkan para wartawan pun ikut berkomentar.

"Pak Arya adalah pria yang begitu baik, tapi Nyonya Shasa malah nggak menghargainya. Saat suaminya sakit, istrinya justru meninggalkannya. Untung ada Nona Shasha. Semoga mereka segera bercerai, Nona Shasha dan Pak Arya jelas pasangan yang ditakdirkan."

Lihat saja, bahkan media pun merasa Shasha dan Arya adalah pasangan yang serasi.

Shasa menatap layar dengan wajah getir. Dia mematikan televisi dan baru hendak duduk ketika Arya membuka pintu, tangannya menggenggam erat tangan wanita di sampingnya. Wajahnya dipenuhi kelembutan yang tidak pernah Arya tunjukkan pada istrinya.

"Kamu kenapa di sini?"

Melihat Shasa, Arya langsung cemberut.

"Kalau begitu, aku nggak akan masuk dulu. Kak Arya, jaga kesehatanmu baik-baik. Dia pasti akan merawatmu," kata Shasha lembut.

Arya tertawa dingin. "Dia? Merawatku? Sejak aku sakit, apa dia pernah melakukan sesuatu untukku? Saat aku terbaring di rumah sakit, satu panggilan pun nggak pernah dia lakukan."

"Mulai sekarang, ini rumahmu," ujarnya sambil menggandeng tangan Shasha masuk. Arya berjongkok sedikit dan memakaikan sandal rumah untuk Shasha dengan penuh kelembutan.

Shasa berdiri kaku di tempat, dia seperti orang asing di rumahnya sendiri. Padahal, dialah nyonya rumah yang sebenarnya.

Shasa memang pernah menjenguk Arya di rumah sakit.

Saat itu, dia melihat pria itu terbaring lemah di ranjang sambil menggenggam tangan Shasha erat-erat. Keduanya bersandar satu sama lain, tampak seperti pasangan suami istri yang setia dalam suka dan duka. Saat itu, tangan Shasa yang sempat terangkat akhirnya perlahan dia turunkan lagi.

Arya adalah penyelamat hidupnya. Dulu, Shasa sampai memohon pada keluarganya dan melakukan berbagai cara demi bisa menikah dengannya. Dia pikir, setelah bertahun-tahun menikah, hati Arya akan luluh.

Jika memang tidak bisa diluluhkan, lebih baik dilepaskan. Sebelum pergi, setidaknya biarkan Shasa melakukan satu hal terakhir untuk Arya.

"Shasha baru kembali ke kota ini, dia belum punya teman di sini. Biarkan dia tinggal di rumah ini dulu. Dia nggak suka makanan yang terlalu berminyak, dan juga nggak suka daun bawang. Saat memasak, ingat untuk hindari itu."

Nada suara Arya datar, seperti sedang memberi perintah pada pembantu rumah tangga.

"Kak Shasa, jangan khawatir. Aku hanya khawatir dengan kondisi Kak Arya, nggak ada maksud lain."

Shasha seolah khawatir Shasa akan menolak, lalu dia menambahkan dengan hati-hati, "Aku datang tanpa diundang, kamu nggak marah, 'kan?"

Tatapan Arya beralih pada Shasa penuh rasa muak.

Selama bertahun-tahun menikah, meskipun Shasa tahu suaminya tidak mencintainya, ini adalah pertama kalinya Shasa melihat tatapan penuh kebencian dari Arya.

Setelah lama terdiam, akhirnya Shasa berkata, "Tidak."

"Lakukan sesuka kalian."

Setelah itu, Shasa mengambil satu berkas dari meja dan menyerahkannya pada Arya. "Asistenmu datang pagi ini, ini berkas yang perlu kamu tanda tangani."

Mungkin karena kondisi tubuhnya yang tidak nyaman, Arya hanya melihatnya sekilas dan langsung menandatangani semuanya dengan ekspresi kesal.

"Ambil!"

Namun, ketika menoleh ke arah Shasha, raut wajah Arya seketika berubah lembut. "Shasha, ayo kita istirahat di atas."

"Kak Arya, biar aku bantu menuntunmu."

Shasha bersandar pada Arya, mereka berdua naik ke atas sambil saling menuntun.

Sementara itu, Shasa berdiri sendirian di ruang tamu, seperti boneka rusak yang telah dibuang. Dia menggenggam erat ujung roknya, giginya menggigit bibirnya hingga hampir berdarah.

Sampai sekarang, dia masih tidak berani memikirkan, selama pernikahan mereka, saat memanggil namanya, sebenarnya siapa yang dipikirkan Arya.

Bab 2

Arya menggandeng tangan Shasha dan langsung naik ke lantai atas. Baru melangkah beberapa anak tangga, dia tiba-tiba berhenti dan menoleh ke arah Shasa.

"Oh iya, kapan kita akan bercerai?"

Setelah mengatakannya, tanpa menunggu jawaban Shasa, Arya sudah kembali menatap Shasha dan menuntunnya naik dengan lembut.

Shasa menatap tumpukan berkas yang baru saja ditandatangani Arya. Sudut matanya memerah, bibirnya bergerak pelan tanpa suara, seolah berbisik pada dirinya sendiri, "Sebentar lagi."

Dia tahu Arya tidak mencintainya. Pernikahan mereka dulu hanyalah hasil dari keadaan yang memaksa.

Namun, saat ini Shasa belum bisa bercerai. Ada sesuatu yang hanya bisa dia lakukan selama masih menyandang status sebagai istri Arya.

Begitu semuanya selesai, dia akan mengembalikan tubuh yang sehat untuk Arya, sekaligus turut merelakan cintanya.

Sesuai janji dengan Profesor, Shasa pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan.

"Masih berapa lama waktu yang saya punya untuk bersiap?"

Profesor menatapnya. "Sepuluh hari."

Shasa tertegun.

Sepuluh hari?

Lebih cepat dari yang dia bayangkan.

"Dilihat dari kondisi tubuh Arya saat ini, kemungkinan dalam sepuluh hari lagi hasil pemeriksaannya sudah cukup untuk melakukan operasi."

"Baik, saya mengerti."

Dengan beban pikiran yang berat, Shasa menekan tombol lift untuk turun. Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung menangkap sosok Arya dan Shasha.

Keduanya tampak sedang bercakap sambil tersenyum, tetapi senyum di wajah Arya langsung lenyap begitu melihat Shasa.

"Kamu ngapain di sini?" tanyanya.

Shasa gugup dan berusaha menutupi kegelisahannya. "Aku cuman ingin menemui Profesor."

Arya tahu Shasa juga mengenal Profesor. Suaranya terdengar tidak sabar. "Kamu malah lebih rajin datang daripada aku, ya."

"Lalu kamu sendiri?" Shasa tanpa sadar membalas, tapi langsung menyesal setelah kata-kata itu terucap.

Wajah Arya yang pucat tetap terlihat menawan. Bibirnya yang berwarna pucat sudah cukup menunjukkan bahwa dia datang untuk berobat.

Arya tertawa dingin dan tidak menjawab. Tatapan matanya dipenuhi ejekan, seolah menertawakan pertanyaan bodoh Shasa.

Dalam sorotan mata itu, Shasa hanya bisa menunduk dan menggigit bibirnya, dia tidak tahu harus berkata apa.

Suasana pun seketika terasa canggung.

Shasha mendadak tertawa dan berusaha mencairkan suasana. "Kak Shasa, jangan tersinggung ya. Kak Arya memang begitu orangnya, nggak suka banyak bicara."

Shasa tersenyum tipis.

Arya bukan tidak suka bicara, tetapi dia hanya tidak suka berbicara dengan Shasa.

Shasa memandangi Shasha yang merangkul lengan Arya dengan mesra. Ada sebersit iri yang menyelinap di dadanya.

Dulu, dia pun pernah membayangkan bisa seperti itu.

Sayangnya, semua itu hanya khayalan.

Seorang pengganti... pada akhirnya, tetaplah hanya seorang pengganti.

"Oh iya, Kak Shasa! Aku mau kasih tahu kabar baik!"

"Shasha."

Arya memotongnya dengan dahi berkerut, "Nggak perlu diberitahukan ke semua orang."

Shasha merengek manja sambil menggoyangkan lengannya. "Tapi ini kabar bahagia. Aku terlalu senang, sampai ingin memberitahukan ke seluruh dunia!"

Arya hanya bisa tersenyum sambil menggeleng, memperlihatkan ekspresi pasrah yang lembut, seolah sama sekali tidak bisa menolaknya.

"Hei, apa kamu nggak penasaran apa kabar baiknya?" tanya Shasha ke Shasa.

Shasa sebenarnya sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Shasha.

Kalau bisa, dia lebih memilih tidak mendengarnya sama sekali.

Namun, tatapan tajam Arya kembali menusuknya, tatapan yang seakan memaksa agar dia menanggapi.

Shasa pun bertanya dengan senyum kaku, "Kabar baik apa?"

Shasha langsung berseri-seri. "Ada orang yang mendonorkan ginjalnya khusus untuk Kak Arya, jadi aku ikut menemaninya ke sini untuk melihat apakah hasil kecocokannya sesuai."

Ketika Shasha berbicara, Arya dengan lembut menyelipkan rambut yang jatuh di dahi Shasha ke belakang telinga.

Gerakannya begitu hati-hati seolah Shasha adalah harta paling berharga di dunia.

Tanpa sadar, Shasa tertegun dan memandangi Arya.

"Eh? Apa kamu nggak senang?"

Shasha memiringkan kepala dengan wajah heran. "Kok kelihatannya kamu nggak begitu senang?"

Shasa tersadar dan memaksakan senyum. "Senang, kok! Itu benar-benar kabar yang bagus."

Arya menatapnya dengan wajah dingin. "Bagaimana mungkin dia senang? Dia pasti malah berharap uji kecocokannya gagal."

"Perempuan yang bahkan nggak datang menjenguk suaminya saat sakit, kamu masih berharap dia punya hati?"

Bab 3

Shasa refleks ingin menjelaskan sesuatu, tetapi sebelum sempat membuka mulut, Arya sudah lebih dulu merangkul pinggang Shasha dan berjalan melewatinya. Mereka berdua masuk ke dalam lift.

Shasa tetap diam, tidak bergerak sedikit pun. Hingga pintu lift perlahan tertutup, dia sama sekali tidak menoleh.

Dia takut, begitu menoleh dan melihat kedekatan antara Arya dan Shasha, ekspresi wajahnya akan mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya.

'Shasa, waktumu tinggal sepuluh hari lagi.'

'Masih banyak hal yang harus kamu urus dan selesaikan.'

Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengurus karya-karya fotografi yang belum pernah dipublikasikan.

Setiap karya adalah hasil jerih payahnya, rekam jejak dari masa lalunya.

Shasa memutuskan untuk pulang lebih dulu, menata semua hasil karyanya yang belum dipublikasikan, lalu menyerahkannya kepada perusahaan sebagai karya terakhirnya, sekalian mengajukan surat pengunduran diri.

Namun, begitu membuka pintu kamar, langkahnya langsung terhenti.

Ruangan itu penuh dengan pakaian dan barang-barang yang bukan miliknya. Negatif film dan album foto yang semula disimpan di lemari kini berserakan di lantai, disobek hingga tidak bersisa.

Pandangannya menyapu seluruh ruangan yang begitu berantakan.

Shasa mengepalkan tangan dan menarik napas panjang.

Tanpa perlu menebak pun, dia tahu siapa pelakunya, pasti Shasha. Shasa memang sudah bersiap untuk pindah, tetapi tidak disangka, perempuan itu bahkan tidak memberinya waktu beberapa hari.

Bahkan sebelum Shasa benar-benar pergi, rumah ini sudah bukan tempatnya lagi.

Dia bisa memahami tindakan Shasha, tapi tetap saja ada rasa sesak di dadanya yang membuatnya sulit bernapas.

Tidak pernah terpikir olehnya, baru beberapa hari sejak hitungan mundur sepuluh hari dimulai, seluruh karya fotografinya telah berubah menjadi tumpukan sampah.

Dengan tangan kosong, Shasa pergi ke kantor dan menyerahkan surat pengunduran dirinya.

Awalnya sang atasan menolak, tetapi melihat Shasa begitu teguh, akhirnya atasannya hanya bertanya alasannya.

Shasa tersenyum dan menjawab pelan, "Saya berencana untuk bepergian."

Saat membereskan barang-barangnya, pandangannya tertumbuk pada setumpuk foto di atas meja. Seketika pikirannya melayang.

Tanpa sadar, Shasa duduk di lantai ruang kerjanya, dia perlahan membuka dan menatap satu per satu foto itu.

Foto-foto itu diambil pada waktu yang berbeda, tetapi subjek di dalamnya hanya satu orang.

Semuanya adalah foto Arya, hanya Arya.

Dari berbagai sudut dan beragam ekspresi, keanggunan Arya yang lembut dan rapuh terpancar begitu sempurna.

Sambil menatap foto-foto itu, Shasa mengingat kembali momen-momen ketika dia memotret Arya.

Sebagian besar waktunya, dia habiskan untuk memotret Arya secara diam-diam.

Melalui lensa kameranya, dia menangkap setiap momen bersama Arya, sekaligus menuangkan perasaan cintanya dalam setiap jepretan.

Tangannya perlahan mengusap wajah Arya di salah satu foto.

Setelah lama terdiam, Shasa menghela napas pelan.

Dia memandangi foto-foto itu berulang kali, seakan ingin mengukirnya dalam-dalam di ingatannya.

Sayang sekali, foto-foto yang awalnya ingin dia simpan sebagai kenangan ini...

Sekarang, semuanya hanya bisa dihancurkan.

Shasa memegang setumpuk foto di tangannya. Setelah ragu cukup lama, akhirnya dia memasukkan semuanya ke dalam mesin penghancur kertas.

Mendengar suara mesin yang sedang menghancurkan foto-foto itu, dia tidak bisa menahan diri untuk berpikir, andai saja perasaannya pada Arya juga bisa dihancurkan seperti ini, alangkah baiknya...

Sesaat kemudian, Shasa tertawa getir, dia menertawakan kebodohannya sendiri.

Setelah menghapus semua foto beserta versi digitalnya hingga tidak bersisa. Dia pergi dengan diiringi perpisahan penuh keengganan dari rekan-rekan kantornya.

Namun, baru saja melangkah keluar dari kantor, tanpa disangka, dia melihat Arya dan Shasha.

Mereka berjalan keluar dari gedung sebelah dengan bergandengan tangan.

Bukankah kata orang, musuh bebuyutan pasti akan bertemu?

Shasha lebih dulu melihatnya daripada Arya. Sambil memanggil nama Shasa, dia tersenyum cerah dan menarik tangan Arya untuk menghampirinya.

"Ah, sungguh kebetulan sekali, kita bertemu lagi, Kak Shasa!"

Shasa hanya membalas dengan senyum tipis.

"Barusan Kak Arya mengajakku melihat-lihat cincin berlian. Modelnya banyak sekali, aku sampai bingung mau pilih yang mana!"

"Seandainya aku tahu bakal ketemu kamu, pasti aku sudah minta tolong kamu untuk bantu pilihkan."

Nada suara Shasha seolah penuh keluhan, tetapi dari raut wajahnya jelas terlihat betapa bahagianya dirinya.

Arya menunduk dan menatapnya lembut. "Bodoh, kalau suka, beli saja semuanya."

"Benarkah? Kak Arya, kamu baik sekali!" Shasha tersenyum bahagia, memamerkan kasih sayang Arya padanya.

"Tentu saja aku baik padamu. Aku hanya berharap ingin cepat sembuh, bercerai, dan bisa menikah denganmu."

Kalimat itu Arya tujukan pada Shasha, tetapi pandangannya terarah tajam pada Shasa, mata hitamnya berkilat samar.

Setiap ucapannya bagai pukulan palu yang menghunjam keras ke hati Shasa.

Meski hati Shasa tersiksa, dia tetap memaksakan diri untuk tersenyum. "Kalau begitu, kuucapkan selamat lebih dulu untuk kalian berdua."

Shasha menatapnya sambil tersenyum puas. "Ah, ucapan selamat darimu membuatku makin bahagia."

Arya merangkul pinggang Shasha, tetapi pandangannya tidak lepas dari Shasa. "Kalau gitu, kapan kamu akan menandatangani perjanjian perceraian?"

"Secepatnya," jawab Shasa. Kemudian tanpa banyak bicara lagi, dia segera meninggalkan tempat itu.

Di belakangnya, suara manja Shasha terdengar samar.

"Kak Arya, kamu sungguh akan menceraikannya demi menikah denganku? Padahal Kak Shasa juga sangat baik."

"Bodoh, di hatiku, hanya kamu yang terbaik. Hanya kamu yang kucintai."

"Benarkah?"

"Tentu saja benar."

Shasha terkekeh manja. "Kak Arya, kamu nggak lagi membujukku, 'kan?"

Setelah itu, tidak terdengar suara apa pun lagi. Melalui kaca gedung, Shasa menoleh ke belakang dan tanpa sengaja melihat dua orang itu berpelukan dan berciuman.

Wajah Shasa seketika pucat, seluruh tenaganya seolah tersedot habis. Dengan sisa kekuatan terakhir, dia memaksa diri untuk melangkah pergi.

Cinta yang Sirna Sebelum Fajar

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya