Bab 1
Saat aku melakukan pengambilan sel telur yang ketiga kalinya untuk program bayi tabung, Johannes sedang lembur dan tidak bisa menemaniku. Aku terbangun tengah malam karena kesakitan. Aku mendapati tangan dan kakiku bengkak, sedangkan perutku penuh cairan hingga membengkak bagaikan wanita hamil delapan bulan.
Aku hampir tidak bisa bernapas dan dengan panik meraih ponsel untuk menghubunginya. Telepon berdering selama semenit sebelum diangkat. Namun, yang mengangkat telepon bukanlah Johannes, melainkan seorang wanita asing.
"Halo?" Suaranya terdengar lembut dan penuh gairah.
"Siapa kamu? Johannes, aku nggak bisa bernapas."
"Kamu nakal. Kenapa kamu masih pakai baju?"
Plak! Terdengar suara cambukan yang nyaring dengan diiringi erangan wanita. Kemudian, panggilannya pun terputus.
Saat aku melakukan pengambilan sel telur yang ketiga kalinya untuk program bayi tabung, Johannes sedang lembur dan tidak bisa menemaniku. Aku terbangun tengah malam karena kesakitan. Aku mendapati tangan dan kakiku bengkak, sedangkan perutku penuh cairan hingga membengkak bagaikan wanita hamil delapan bulan.
Aku hampir tidak bisa bernapas dan dengan panik meraih ponsel untuk menghubunginya. Telepon berdering selama semenit sebelum diangkat. Namun, yang mengangkat telepon bukanlah Johannes, melainkan seorang wanita asing.
"Halo?" Suaranya terdengar lembut dan penuh gairah.
"Siapa kamu? Johannes, aku nggak bisa bernapas."
"Kamu nakal. Kenapa kamu masih pakai baju?"
Plak! Terdengar suara cambukan yang nyaring dengan diiringi erangan wanita. Kemudian, panggilannya pun terputus.
...
Setelah panggilan itu, pandanganku menjadi gelap dan rasa sakit yang menusuk di perutku membuatku tidak dapat berdiri. Kengerian yang hanya pernah kudengar sebelumnya akhirnya terjadi padaku.
Aku dengan panik merangkak menuju pintu, lalu berusaha membukanya sambil berteriak meminta tolong. Kemudian, aku pun terjerumus ke dalam kegelapan.
Ketika aku terbangun, sosok seseorang yang tinggi duduk di samping tempat tidur. Itu adalah Harmoko, seorang dokter muda yang tinggal sendiri di sebelah rumahku. Dia jelas tidak tidur semalaman sehingga ada lingkaran hitam yang menghiasi wajahnya.
"Silvia, kenapa kamu sendirian? Mana suamimu? Kamu tahu nggak, kalau aku nggak ajak anjingku jalan-jalan semalam, kamu pasti sudah ...."
Dia tidak menyelesaikan ucapannya. Melihat keadaanku yang menyedihkan, dia pun terdiam.
Bagaimana mungkin aku lupa? Melihat perutku yang membuncit seperti ibu hamil yang hamil 7-8 bulan, aku masih merasa ketakutan.
Saat mengingat suara-suara kacau dari panggilan teleponku dengan Johannes semalam, aku masih menyimpan secercah harapan dan mengira itu hanyalah halusinasiku. Setelah membuka ponselku dan melihat riwayat panggilan 15 detik itu, aku akhirnya tak kuasa menahan air mataku.
"Dokter Harmoko, terima kasih sudah membawaku kemari. Aku akan transfer uangnya padamu."
Aku menyuruhnya kembali dengan berkata bahwa aku sudah merasa jauh lebih baik dan Johannes akan segera datang.
Setelah dia pergi, aku baru membuka WhatsApp. Aku tidak berani melakukannya di depan Harmoko karena takut kehilangan kendali dan mempermalukan diri sendiri.
Johannes tidak pulang semalaman. Satu jam setelah panggilan telepon itu, dia mulai mengirimiku pesan WhatsApp. Ada lebih dari 100 pesan tak terbaca.
[ Silvia, kenapa kamu meneleponku? Aku nggak tahu kamu telepon. Aku lagi lembur dan seorang rekan kerjaku yang menjawab. Kamu baik-baik saja? ]
[ Kamu takut sendirian? Aku akan segera kembali setelah lembur. ]
[ Silvia, aku juga merindukanmu. ]
...
Setelah mengirim begitu banyak permintaan maaf dan pengakuan cinta, dia juga mentransfer uang kepadaku sebanyak dua kali untuk menunjukkan cintanya. Itu dilakukan pada pukul enam pagi.
Tiba-tiba, aku mulai meneteskan air mata dan akhirnya menangis hebat.
Johannes tahu. Dia tahu apa yang kudengar semalam. Seseorang tidak mungkin tiba-tiba merasa bersalah, juga tidak mungkin tiba-tiba mengungkapkan cintanya.
Dia biasanya adalah pria yang pendiam. Dalam setahun, aku juga belum tentu mendengar sepatah kata pun pernyataan cinta darinya.
[ Kamu mimpi buruk? Nggak apa-apa. Aku sudah belikan sebuket bunga dan meninggalkannya di depan pintu. Jangan lupa mengambilnya. ]
[ Aku akan menjengukmu saat aku kembali. ]
Aku membaca kedua pesan yang dikirim setelah jeda sekian lama tanpa membalas. Rasa mual segera melandaku. Menyatakan cinta tanpa alasan hanyalah cara untuk menenangkan hati nurani setelah melakukan kesalahan.
Aku memegangi perutku sambil termenung. Tak lama kemudian, dokter membuka pintu.
"Bu Silvia, kamu menderita sindrom hiperstimulasi ovarium dan kondisinya sangat serius. Ada penumpukan cairan di rongga dada dan perutmu, sedangkan kadar albuminmu juga menurun dan otot jantungmu juga terdampak. Semalam, kami langsung lakukan operasi darurat untukmu. Apa kamu masih ingat?"
Di kamar rawat inap yang sunyi ini, suara dokter terdengar jelas dan menusuk telinga.
Aku sudah mendengar tentang situasi kritisku semalam. Johannes tidak bisa dihubungi dan tidak ada yang menandatangani surat persetujuan operasi untukku. Bahkan darahku juga nyaris tidak bisa diambil dan aku hampir tewas di meja operasi ....
Aku ingat diriku yang pingsan diguncang hingga tersadar untuk menandatangani surat persetujuan itu.
Pada tahun ini, aku aku dan Johannes sudah mencoba program bayi tabung untuk yang ketiga kalinya. Dua kali sebelumnya, aku selalu keguguran. Namun, demi dia yang ingin memiliki anak, aku terus menjalani proses ini.
Aku menerima suntikan perangsang ovulasi berulang kali dan bekas jarum di perutku sudah terlalu banyak untuk dihitung. Aku juga minum begitu banyak obat, lalu berbaring dengan tidak berdaya di atas ranjang pasien yang dingin tanpa seorang pun menemaniku.
Uang yang dihabiskan untuk hal ini sangatlah banyak dan nada bicara ibu mertuaku juga makin sarkastis. Setiap gagal, aku juga harus menghadapi kekecewaan di mata Johannes.
Selama beberapa tahun terakhir, aku tidak mendapatkan apa-apa, tetapi mengira setidaknya aku masih memiliki cinta. Dinilai dari keadaan sekarang, sepertinya aku terlalu percaya diri.
Bahkan setelah operasi, perutku masih bengkak.
Dokter menatapku dan menghela napas. "Kondisimu sudah begini dan ini sudah lewat jam sembilan pagi. Di mana suamimu? Kenapa dia belum datang menemanimu? Dia sangat nggak bertanggung jawab. Apa kamu mau aku meneleponnya?"
Aku takut merepotkan dokter dan menolak.
Kemudian, dia mengingatkanku lagi, "Kondisimu sangat buruk dan kamu perlu dirawat di rumah sakit. Sebaiknya kamu cari orang yang bisa merawatmu."
Aku mengangguk untuk mengiakannya. Setelah dokter pergi, aku duduk sendirian di rumah sakit seharian. Johannes tidak menelepon sekali pun.
Pada akhirnya, aku mencari seorang perawat pendamping. Setelah kelaparan seharian, aku pun makan sedikit bubur.
Malam harinya, Johannes bergegas datang.
Bab 2
"Silvia, kenapa kamu nggak bilang kamu dirawat di rumah sakit!"
Begitu masuk, dia bergegas menghampiri dan memelukku. Tubuhnya agak gemetar dan dia sepertinya sangat khawatir. Bahkan matanya juga terlihat merah.
"Kenapa kamu nggak bilang keadaanmu seserius ini? Kamu seharusnya balas pesanku! Dengan begitu, aku nggak akan lembur! Kenapa kamu begitu nggak peduli sama kesehatanmu sendiri? Meski kamu nggak peduli, aku tetap peduli!"
Aku tidak menjawab. Suaranya semalam terngiang di benakku.
Aku diam-diam memperhatikannya yang sibuk mengurus berbagai macam hal. Dia dengan hati-hati membereskan barang-barangku di ruang kamar inap, lalu pergi ke pos perawat untuk menemui dokter dan meminta penjelasan lebih lanjut.
Ketika mendengar aku hampir tewas di meja operasi, wajahnya memucat dan dia menampar dirinya sendiri. "Silvia, kalau terjadi apa-apa padamu, aku nggak ingin hidup lagi."
Aku menatap ponselku dalam diam dan memikirkan sesuatu.
Johannes mengira aku masih linglung dan ketakutan. Dia pun duduk di samping tempat tidurku, lalu meraih tanganku dan menautkan jari-jari kami.
Dia menelepon dengan tangannya yang lain dan berkata, "Aku nggak akan pergi ke perusahaan selama dua hari ke depan. Aku harus temani istriku! Kalau ada apa-apa, suruh wakil presdir yang tangani semuanya. Jangan cari aku!"
Aku memandangi jari-jari ramping nan halusnya yang mengenakan cincin kawin lama. Cincin itu sudah tergores-gores dan masih sama persis dengan yang kusematkan ke jarinya sepuluh tahun lalu, seolah-olah tidak ada yang berubah.
Dia sama sekali tidak bisa diam meski hanya untuk sesaat. Hanya dalam sepuluh menit, dia sudah mengurus semuanya. Dia bahkan menyetir sendiri sejauh sepuluh kilometer untuk membelikanku bubur kesukaanku.
Aku bersandar di kepala tempat tidur, sedangkan dia duduk di sampingku dan dengan sabar menyuapiku sesuap demi sesuap. Dia meniup setiap suap dengan pelan dan menguji suhunya dengan bibir sebelum menyuapiku dengan hati-hati.
"Silvia, kita bisa tunggu beberapa tahun lagi untuk punya anak. Setelah melihatmu begitu menderita, aku benar-benar takut. Gimana aku bisa hidup tanpamu?"
Matanya memerah dan dia juga mengatakan bahwa aku sudah menderita gara-gara dia.
"Johannes, sebenarnya, aku meneleponmu semalam," kataku akhirnya.
Secercah kepanikan melintasi matanya dan gerakannya menyuapiku bubur terhenti.
"Semalam, aku lembur dan bergadang semalaman saking sibuknya. Mungkin yang angkat teleponmu itu asisten magang baruku. Kami lagi bahas tentang proyek film pendek baru. Akhir-akhir ini, semua orang suka nonton drama roman presdir yang mendominasi."
Alasannya disusun dengan sangat rapi. Akan tetapi, dia tidak tahu bahwa makin sempurna dan tanpa celah alasannya itu, justru makin munafik pula alasan itu terdengar.
Aku menunduk dan menatap perutku. Perutku penuh dengan bekas luka memar seukuran kepalan tangan dan bekas tusukan jarum dengan berbagai ukuran. Mataku pun berkaca-kaca.
"Permisi."
Pintu tiba-tiba dibuka dan aroma bunga langsung memenuhi kamar rawat inap. Sosok seseorang yang muda dan menjinjing tas kanvas tiba-tiba berjalan masuk.
Saat mata kami bertemu, hatiku langsung bergetar. Dia adalah gadis semalam.
Dia membawa sekeranjang buah. Ada sedikit kebanggaan dan tantangan yang tak tersamarkan di matanya.
Ekspresi Johannes langsung menjadi kelam. Dia segera berdiri dan menegur dengan suara rendah, "Bukankah sudah kubilang aku nggak akan pergi ke perusahaan? Apa kamu nggak ngerti bahasa manusia?"
Gadis itu jelas tidak menyangka dirinya akan ditegur dan matanya langsung berkaca-kaca. Dia benar-benar bisa meluapkan emosinya dengan sangat sempurna.
"Johannes, siapa dia? Kenapa dia kelihatan begitu sedih?" tanyaku dengan sarkastis.
Ekspresi Johannes pun makin kelam.
Dalam menghadapi tatapan acuh tak acuhku dan ekspresi Johannes yang muram, gadis itu tiba-tiba panik. Dia menunduk dan menjawab dengan suara tercekat, "Maaf, Pak Johannes. Aku cuma datang untuk jenguk istrimu. Maaf, Nona Silvia, aku sudah bertindak di luar batas."
"Kamu seharusnya panggil aku Nyonya Silvia," ucapku dengan dingin.
Dia terdiam, lalu menggigit bibir bawahnya erat-erat. Setelah terisak, dia menjatuhkan keranjang buah dan bergegas keluar dari pintu.
Johannes tidak mengejarnya, melainkan menjelaskan dengan panik, "Silvia, jangan terlalu dipikirkan. Dia anak magang baru di perusahaan. Namanya Merry. Dia baru lulus dan masih muda, makanya dia kurang pintar bersosialisasi. Jangan tersinggung, ya. Dia berniat baik kok."
Berniat baik? Aku memandangi keranjang buah penuh dengan buah pir yang dibawanya untukku.
Sikapnya begitu menyolok, seolah-olah ingin memamerkan sesuatu tepat di hadapanku. Ini benar-benar adalah pertunjukan yang sangat buruk dan murahan.
Aku masih sangat lemah dan sudah tertidur sebelum pukul delapan.
Johannes memelukku, napasnya terdengar lambat dan tenang.
Seluruh kamar sudah gelap dan tiba-tiba terdengar suara gesekan yang pelan.
Saat menyadari aku sudah tertidur lelap, Johannes diam-diam bangun, lalu mengenakan pakaiannya dengan rapi dan mengambil ponselnya sebelum berjalan keluar.
Aku baru membuka mata setelah pintu tertutup. Tidak sampai dua menit kemudian, aku berdiri dengan perutku yang besar dan naik ke kursi roda sambil menahan rasa sakit. Kemudian, aku melaju ke lift.
Begitu lift terbuka, aku dengan panik mendorong kursi rodaku untuk bersembunyi di balik dinding.
Johannes sedang berdiri di lobi. Aku melihat punggungnya yang sedang memeluk Merry dan menangkup kepala Merry dengan penuh perasaan. Mereka berdua berdiri di tengah lobi yang ramai dan berciuman tanpa sedikit pun rasa malu. Setelah sepuluh menit, dia baru dengan enggan melepaskan Merry dan menariknya pergi menuju tempat parkir.
Rasa sakit di perutku dan rasa sesak itu kembali menyergapku. Aku merasa seperti ada ribuan pisau yang menusuk perutku. Setiap langkah yang kuambil terasa sulit dan berat.
Meskipun begitu, aku tidak menyerah. Aku harus melihat wajah asli pria yang kucintai selama sepuluh tahun itu.
Di tempat parkir, hanya ada satu mobil yang lampunya menyala.
Bab 3
"Masuk!"
Di tempat parkir bawah tanah yang remang-remang, sikap Johannes yang lembut langsung berubah drastis. Dia mendorong gadis itu ke kursi belakang dengan kasar, lalu masuk, menutup pintu, dan tidak pernah keluar lagi.
Aku berdiri tak jauh dari sana, lalu menyalakan ponselku dan menghubungkannya ke CCTV dalam mobil. Saat gambar dan suaranya mulai muncul di layar ponselku, aku menggeser kursi rodaku sedikit ke belakang.
"Kenapa? Bukannya kamu marah padaku hari ini? Kenapa kamu datang lagi?"
Johannes menindihnya dengan tatapan menggoda.
"Aku merindukanmu. Aku tahu kamu mau temani Kak Silvia. Aku cuma merasa agak sedih. Kemarin, kamu bilang akan membawaku ke laut, tapi kamu malah menghilang sore ini."
Merry menangis tersedu-sedu, tetapi jari-jarinya mencengkeram punggung Johannes yang telanjang. Bekas merah di punggungnya masih terlihat jelas. Sepertinya, "pergulatan" mereka semalam sangat sengit.
"Merry, nggak boleh nangis. Tanggalkan sendiri pakaianmu," perintah Johannes.
Merry menatapnya dengan penuh pemujaan dan menanggalkan pakaiannya sepotong demi sepotong.
Aku tidak kembali ke kamar rawat inap, melainkan mencari sudut yang sepi dan menyaksikan apa yang ditampilkan di layar ponselku bagaikan seorang pencuri.
Saat hasrat mencapai puncaknya, Johannes memeluk dan menciumnya dengan penuh gairah tanpa menghentikan gerakan tangannya.
Merry berkata, "Aku sangat mencintaimu, Johannes. Aku rela menanggung kesulitan apa pun demi kamu."
"Aku juga mencintaimu, Bodoh. Sepenuhnya."
Aku menekan tombol rekam dan kembali ke ranjang pasien. Setelah itu, aku melepas headset dan tidak lagi mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Dokter yang bertugas datang untuk pemeriksaan larut malam. Dia mengerutkan kening ketika melihat ruangan yang kosong. "Di mana suamimu? Kok dia langsung hilang padahal baru temani kamu sebentar?"
Aku tidak menjawab. Sebaliknya, aku tersenyum muram dan bertanya, "Dokter, aku nggak berencana punya anak lagi. Kapan aku bisa pulang?"
Dokter itu tertegun sejenak. Setelah memberitahuku waktunya, dia pun berbalik dan pergi.
Johannes tidak kembali sepanjang malam. Keesokan paginya, dia muncul di pintu kamar rawat inap dengan pakaian berantakan dan tampang kelelahan.
"Silvia, maaf. Ada sesuatu mendesak yang terjadi di perusahaan. Setelah selesai, aku nggak ingin ganggu istirahatmu, jadi aku pulang dulu."
Dia dapat berbohong sealami bernapas.
Melihat orang yang nyaris menyatu dengan hidupku itu, jantungku yang masih berdetak terasa seperti didorong dari tebing yang dibangun atas dasar cinta, lalu terempas ke jurang yang tak berujung.
"Oh iya, aku bawakan bajumu. Ganti saja dulu bajumu."
Dia mengeluarkan sebuah tas dan berkata sambil tanpa sengaja meminta maaf, "Ada sebuah gaun barumu yang tak sengaja kukotori dan sudah kubuang. Kalau sudah senggang, beli saja yang baru pakai uangku."
Aku tersenyum dan mengiakannya.
Johannes tidak ingin pergi ke kantor, tetapi teleponnya terus berdering.
Setelah terbangun lima kali akibat deringan ponselnya, aku berkata, "Pergilah ke perusahaan. Jangan khawatirkan aku."
Akhirnya, dia menghela napas lega dan pergi dengan enggan.
Aku menelepon seseorang dari kamar rawat inap. Tak lama kemudian, aku menerima semua informasi mengenai Merry. Akun media sosialnya bernama "Putri Merry". Di bagian biodata tertulis sebaris kalimat "Keseharianku bersama Joe ....".
Postingannya mencakup aktivitas kesehariannya, termasuk foto-foto perjalanan ke luar negeri, juga tas dan sepatu desainer.
Di hadapanku, dia berpenampilan layaknya seorang karyawan magang baru yang mengenakan rok denim, kemeja putih, dan sneakers. Di belakangku, dia terlihat bagaikan wanita simpanan orang yang mengenakan barang-barang mewah dan gaun ketat.
Di semua foto mereka yang menunjukkan kemesraan, ada stiker yang menutupi wajah mereka. Dia telah mengunggah postingan-postingan itu selama hampir setengah tahun. Totalnya ada lebih dari 500 postingan dan semuanya tentang kehidupan cinta sehari-harinya dengan bos perusahaan yang kaya raya.
Merry memiliki lebih dari 100 ribu pengikut, yang mana termasuk cukup banyak. Postingan paling pertama adalah di hari ulang tahunku.
[ Bos mabuk dan aku diam-diam menciumnya. Dia nggak menolak dan bahkan memujiku imut. ]
Setelah pulang malam itu, Johannes menghabiskan sepanjang malam bersamaku dan terus-menerus membicarakan keinginannya untuk punya anak denganku.
Aku tersenyum dan melihat postingan terbarunya. Gaun baru yang katanya dibuang karena kotor itu jelas-jelas dipakai oleh Merry.
Setelah keguguran kedua, aku merasa sangat sedih hingga menjadi depresi. Gaun itu adalah hadiah dari Johannes setelah aku pulih dari depresi selama setengah tahun. Bagiku, itu adalah satu-satunya kenanganku tentang anakku yang belum lahir.
Aku tidak rela memakainya. Bukan hanya karena itu adalah pakaianku yang paling mahal, tetapi juga karena gaun itu sangat berarti. Aku menyimpan gaun itu di sudut terdalam lemariku agar tidak merusak atau mengotorinya secara tidak sengaja.
Aku memutar rekaman mobil semalam dan menyetelnya hingga detik-detik terakhir.
Johannes mengantar Merry yang pakaiannya sudah robek ke vila kami.
"Kenapa aku nggak boleh masuk?"
"Silvia sangat peka, jangan timbulkan masalah," jawab Johannes dengan suara yang berat dan pelan.
Mata Merry pun berkaca-kaca karena sedih hingga Johannes menemukan gaun kesayanganku itu dan memberikannya kepada Merry. Merry jelas tahu apa arti gaun itu dan langsung merasa gembira. Dia menyentuh dagu Johannes dengan jari kakinya yang dibalut stoking hitam.
"Kalau begitu, bantu aku memakainya. Kamu selalu menanggalkan bajuku dengan begitu agresif, kenapa kamu nggak punya kesabaran untuk membantuku mengenakannya?"