Bab 1

Aku sudah menjalin cinta dengan suamiku selama 13 belas tahun. Kami melewati masa berseragam sekolah hingga akhirnya mengenakan gaun pengantin. Demi dia, aku sampai berselisih hebat dengan keluargaku sendiri, hanya untuk memberinya sebuah perusahaan yang sudah go public.

Namun sekarang, sebuah buku catatan usang jatuh dari laci rahasia dan mendarat di dekat kakiku. Buku itu terbuka dengan sendirinya. Tulisan yang besar di dalamnya, terlihat olehku.

[ Aku muak sama Valen. ]

Barulah saat itu aku sadar, ternyata kisah asmara yang kukira adalah cinta pada pandangan pertama di antara kami berdua ini, hanyalah khayalanku belaka. Kalau dia begitu membenciku, pastinya dia juga tidak tertarik dengan perusahaan itu, bukan?

Aku merapikan buku catatan itu, mengganti pakaian, lalu pergi menjemput Zeon pulang kerja. Kami sudah beberapa hari tidak bertemu. Katanya, dia sedang sangat sibuk di kantor. Aku berpikir, bagaimana pun keadaannya, aku harus memberinya kesempatan untuk menjelaskan.

Begitu sampai di taman bawah gedung kantornya, dua sosok yang sangat kukenal sedang bersandar di depan mobil. Mataku seketika membelalak tajam.

Seorang anak magang bernama Kimmy berdiri dengan pipi memerah dan berjinjit untuk mencium sudut bibir Zeon. Zeon malah menarik Kimmy mendekat, lalu memperdalam ciuman itu.

Aku melangkah mendekat dengan pikiran yang tidak fokus. "Gimana kalau tas ini dikasih ke Kak Valen saja? Tiap kali ngasih dia barang bonus terus, rasanya nggak enak," ucap Kimmy manja sambil melingkarkan tangan di pinggang Zeon.

Zeon mengusap hidung Kimmy dengan penuh sayang dan berkata dengan suara lembut, "Kamu begitu pengertian, mana tega aku ngecewain kamu?"

Dari dalam kantong belanja yang dipegangnya, ujung sebuah tas menyembul keluar. Dilihat sekilas saja, aku langsung tahu bahwa itu adalah tas favoritku.

Tas itu tidak dijual di dalam negeri. Aku sudah membujuk Zeon berkali-kali, tapi dia selalu mencari-cari alasan untuk menolak. Akhirnya, dia hanya memberiku versi murah dari merek yang sama. Kelihatannya, tas yang dihadiahkan untukku itu cuma barang pelengkap.

Mataku mulai berkaca-kaca dan langit pun perlahan menurunkan salju. Ini adalah salju pertama tahun ini. Aku mendongak. Salju jatuh ke mataku dan membuat mataku terasa perih hingga meneteskan air mata.

Entah Zeon masih ingat tidak dengan janjinya padaku.

Aku mengeluarkan ponsel dan meneleponnya. "Turun salju, nih. Bukannya waktu itu kamu bilang bakal menemaniku lihat salju pertama setiap tahun?"

"Aku sudah reservasi restoran, kamu kapan pulang?" Aku menenangkan suaraku yang gemetaran dan mataku memperhatikan setiap gerak-geriknya tanpa berkedip sedikit pun.

Dia perlahan mendorong Kimmy, lalu berjalan ke samping untuk menjauh. "Oke, aku segera pulang. Tunggu aku, ya."

Aku mengembuskan napas lega, tapi dadaku terasa sangat sakit. Begitu sambungan telepon diputus, kulihat Zeon membisikkan sesuatu ke telinga Kimmy. Mata gadis itu langsung berkaca-kaca dan menatap Zeon dengan pandangan menyedihkan.

"Aku nggak mau apa-apa, semua hadiah itu bisa aku kasih ke Kak Valen. Aku cuma mau kamu. Jangan pergi, ya?" Setelah berkata demikian, Kimmy kembali berjinjit untuk memeluk dan mencium Zeon dalam-dalam.

Jantungku seolah berhenti berdetak. Detik berikutnya, ponselku bergetar menunjukkan pesan dari Zeon.

[ Masih ada urusan kantor, kamu makan sendiri dulu ya. Nanti aku bawain hadiah pulang. ]

Saat aku menoleh lagi, mereka berdua sudah masuk ke kursi belakang mobil. Aku terdiam sejenak. Dengan tangan gemetaran, aku memindahkan kamera dari anak tangga ke cabang pohon, lalu mengarahkannya ke mobil yang mulai berguncang dan merekamnya.

Kalau dipikir-pikir, rasanya menggelikan sekali. Mobil itu bahkan adalah maskawinku.

Aku tertawa miris dan memalingkan wajah karena tidak sanggup lagi melihatnya. Malam itu, Zeon tidak pulang. Dia juga tidak menemaniku melihat salju pertama.

Keesokan harinya menjelang siang, barulah dia menelepon, "Valen, aku udah reservasi restoran. Yuk, kita makan bareng."

Suaranya masih selembut biasanya. Aku sempat merasa bingung, seakan-akan semalam tak terjadi apa-apa. Saat aku keluar rumah setelah berganti pakaian, dia turun dari mobil dan membukakan pintu untukku dengan perhatian.

Aroma parfum yang pekat langsung menyeruak. Wanginya sangat mirip dengan aroma lilin aromaterapi yang diberikannya padaku beberapa hari lalu. Sepertinya itu juga cuma barang bonus.

Di kursi depan, ada seikat bunga dan sebuah kantong hadiah. Aku bisa langsung tahu bahwa bunga itu dibungkus dengan asal-asalan dari toko pinggiran dan kalung dalam kantong hadiah itu adalah bonus pembelian dari tas milik Kimmy.

Zeon membisikkan kata-kata manis di telingaku. "Maaf soal kemarin. Begitu kerjaan selesai, aku langsung pergi cari hadiah. Makanya aku pulang agak malam. Kamu nggak marah, 'kan?"

Zeon menundukkan kepala memandangku dengan sorot mata yang penuh rasa bersalah. Aku hanya tertawa, sinis, lalu menoleh dan pergi.

"Aku lagi nggak enak badan. Hari ini nggak usah pergi makan." Aku kedinginan selama berjam-jam semalam. Kepalaku berdenyut hebat. Namun, karena masih menyimpan harapan pada Zeon, aku tadi bahkan memaksakan diri bangun.

Aku meringkuk dalam selimut, tidak mau melihatnya sama sekali. Namun, dia tidak marah. Dia malah menyentuh dahiku, lalu menyelimuti tubuhku dengan hati-hati.

"Valen, kamu istirahat dulu ya. Aku keluar sebentar beli obat."

Aku tetap tidak menjawab dan dia hanya mengira aku sedang tidak enak badan. Dia pun memeluk dan menghiburku. Saat aku bangun lagi, pandanganku langsung bertemu dengan sorot mata Zeon yang dipenuhi kekhawatiran.

"Sudah mendingan belum? Ayo, bangun dulu makan sedikit. Aku masak bubur buat kamu."

Seperti biasa, Zeon tetap menunjukkan kelembutannya yang konsisten selama sepuluh tahun ini. Aktingnya begitu sempurna.

Saat aku bangun dengan perlahan, dia segera menyelipkan bantal di belakang punggungku dengan sigap. "Bubur talas. Bagus buat lambung," katanya lembut.

"Semua salahku. Kalau aku nggak terlalu sibuk belakangan ini, kamu pasti nggak sampai jatuh sakit."

Ada sedikit rasa bersalah di mata Zeon dan aku tahu, perasaan itu memang nyata. Akan tetapi, yang tersisa memang hanya rasa bersalah.

Aku tidak berkata apa-apa dan menghabiskan bubur itu diam-diam. Baru setelahnya, aku berkata dengan tenang, "Zeon, aku alergi talas."

Prang!

Mangkuk terjatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.

Bab 2

Zeon langsung panik dan buru-buru menjelaskan, "Aku ... aku terlalu khawatir karena kamu sakit. Di kulkas cuma ada talas. Semua ini salahku, aku sampai kehilangan akal karena cemas."

"Maaf ya, Valen. Sekarang aku antar kamu ke rumah sakit."

Aku menatapnya datar, tanpa berkata apa-apa. Hingga akhirnya, dua pesan masuk ke ponselku.

[ Bubur talas itu pasti sudah kamu makan, 'kan? Ya, kamu secinta itu sama Zeon, bahkan kalau alergi pun pasti kamu tetap makan. ]

[ Terus terang saja, bubur talas itu kesukaanku. Zeon sudah kebiasaan masakin itu buatku. Kamu nggak akan pernah menang dari aku. ]

Aku tertawa pelan. Pria baik-baik susah dicari, pria berengsek berseliweran di mana-mana. Siapa juga yang mau rebutan sama kamu?

Sejak hari itu, Zeon mulai jarang bertemu Kimmy. Hampir setiap malam, dia pulang ke rumah. Kadang bahkan dia sendiri yang turun tangan masak untukku.

Sementara itu, aku justru makin dingin terhadapnya. Aku baru tersenyum saat dia mengalihkan sebagian saham perusahaan ke namaku.

Perlahan-lahan, perusahaan mulai mengalami masalah. Zeon pun mulai kembali sering tak pulang malam.

Sampai akhirnya, aku menerima telepon dari sekretarisnya. "Bu, Pak Zeon pingsan di kantor. Sekarang dia dirawat di rumah sakit. Dia terus memanggil-manggil nama Ibu. Tolong datang sebentar, ya!"

Suara sang sekretaris terdengar cemas. Aku menyetujuinya, lalu berpikir sejenak.

Aku mengeluarkan sup ayam yang pernah dimasak Zeon seminggu lalu dari kulkas dan menghangatkannya, lalu menuangnya ke dalam termos makanan. Tidak sopan rasanya kalau menjenguk orang sakit tanpa membawa apa pun.

Namun begitu sampai di depan pintu kamar rawat, sekretaris yang tadi panik itu mendadak berubah. Bahkan, dia mengangkat tangan untuk menghalangiku masuk.

Aku agak heran, lalu sedikit memiringkan kepala dan bertanya, "Ada apa?"

Wajahnya memerah dan bingung mencari alasan. Padahal, dari kaca kecil di pintu itu, aku sudah melihat semuanya dengan jelas. Zeon sudah sadar dan Kimmy sedang memeluknya dengan erat.

Sahabat dekat Zeon berkata, "Kamu nggak tahu seberapa khawatirnya Kimmy sama kamu. Dia menangis sampai matanya bengkak. Aku saja nggak tega melihatnya."

Aku diam-diam mengeluarkan kamera dan mulai merekam.

Zeon tersenyum lembut sambil mengusap puncak kepala Kimmy dengan manja. "Aku nggak apa-apa. Sudah ya, jangan nangis."

Setelah bermesraan cukup lama, barulah keduanya berpisah. "Aku nggak peduli, kamu harus ganti rugi!" Kimmy mulai manja-manjaan lagi. "Kamu mau ganti rugi apa?" tanya Zeon.

Tatapan Kimmy turun perlahan dan berhenti pada pergelangan tangan kiri Zeon. Di tangannya terdapat seutas tali merah. Dengan ujung jarinya, Kimmy menunjuk sambil berkata, "Aku mau tali merah itu."

Jantungku langsung tercekat.

Itu adalah tali yang diminta Zeon dengan paksa dari tanganku saat melamarku. Itu milikku. Katanya dulu, tali itu adalah simbol cinta kami. Selama simbol itu ada, cinta kami juga akan tetap ada.

Namun detik berikutnya, Zeon hanya melirik sekilas, lalu melepaskannya begitu saja dari pergelangan tangannya dan menyerahkannya ke Kimmy. "Cuma barang murah begini. Kalau kamu suka, ambil saja. Nanti aku beliin kamu beberapa tas lagi, biar senang."

Kimmy menerimanya dengan gembira, meski tampak sedikit jijik saat menyimpannya ke dalam tasnya.

Aku menghapus air mata dan menelan anyir darah yang naik ke tenggorokanku, lalu menutup kembali kamera. Setelah itu, aku menyerahkan termos sup ke sekretaris, lalu pergi.

Setelah Kimmy meninggalkan rumah sakit, Zeon menatap kamar rawat yang terasa begitu kosong. Kemudian dia berkata, "Lina, tolong telepon Valen. Bilang aku di rumah sakit dan ingin minum sup yang dia masak sendiri."

Lina teringat pesan dari Kimmy sebelum pergi. Apa pun yang diberikan Valen untuk Zeon, dia harus mengatakan bahwa benda itu dibawakan oleh Kimmy. Dengan keringat dingin di pelipisnya, Lina masuk ke kamar rawat.

"Pak Zeon, kalau soal sup, di sini ada sup ayam buatan Nona Kimmy. Bagaimana menurut Bapak?"

Entah mengapa, hati Zeon mendadak terasa sesak dan gelisah. Sudah dua hari dia tidak pulang, juga tidak menelepon atau mengirimkan pesan pada Valen. Apa Valen benar-benar tidak khawatir sama sekali?

Bab 3

'Dulu Valen selalu membalas pesan dalam hitungan detik. Akan tetapi, kenapa sekarang tiba-tiba berubah? Apa karena akhir-akhir ini aku terlalu baik padanya, jadi dia mulai besar kepala? Atau ... apakah Valen sama seperti keluarganya yang memandang rendah aku? Ya, pasti begitu.'

"Nggak mau. Kamu saja yang minum. Sekalian keluar beliin aku makan." Lina langsung menghela napas lega. Semua orang sekarang tahu kalau Kimmy adalah kesayangan Zeon. Dia tidak sanggup menyinggungnya.

Zeon mendengus kesal dan bergumam pelan, "Kalau kamu nggak cinta aku, masih banyak yang cinta."

Setelah berpikir sejenak, dia pun mentransfer 400 juta ke Kimmy.

Malam itu juga, setelah meminum sup ayam tersebut, Lina bolak-balik ke kamar mandi sebanyak 13 kali. Dia bersumpah, "Pasti ada pencahar di dalamnya! Ini hukuman buat Pak Zeon! Benaran deh, belum sempat nikmati berkatnya, malah dapat siksaan duluan."

Setelah keluar dari rumah sakit, Zeon tidak pulang ke rumah. Seolah-olah sedang beradu emosi denganku.

Aku tidak habis pikir, dia yang selingkuh dan aku masih punya niat baik membawakan sup ayam yang setengah basi untuknya. Lalu, apa haknya untuk marah padaku?

Di suatu siang yang cerah dan tenang, aku pergi ke bandara menjemput ibuku yang baru kembali dari luar negeri. Dia bilang, kali ini dia datang untuk membelaku.

Tak kusangka, saat menunggu di bandara, aku justru berpapasan dengan Kimmy yang berjalan dengan percaya diri memakai sepatu hak tinggi 10 sentimeter. Dia tersenyum manis, lalu sengaja menggulung lengan bajunya dan memperlihatkan tali merah di pergelangan tangannya.

"Kelihatan nggak asing? Ini tali merah yang dipakai Zeon selama lima tahun. Aku cuma bilang kepengen, dia langsung kasih begitu saja. Sahabat masa kecil seperti kamu, ternyata cuma segini doang nilainya."

"Dia bahkan transfer 400 juta buat aku jalan-jalan ke luar negeri untuk senang-senang."

Aku hanya tersenyum, lalu berkata pelan, "Kamu lupa, tali merah itu aslinya milikku."

Kimmy tertegun sejenak, tapi setelah beberapa detik, dia malah semakin senang.

"Terus kenapa? Zeon suka aku, nggak suka wanita tua sepertimu. Gelang itu? Dia kasih ke aku tanpa mikir sama sekali. Kalaupun aku buang, dia juga nggak bakal ngomel sedikit pun!"

Usai bicara, dia langsung melepas tali merah dari pergelangan tangannya dan melemparkannya ke tempat sampah di sampingnya.

Tepat saat itu, Ibu muncul di hadapanku. Aku malas berurusan dengan Kimmy lagi, jadi sambil berjalan aku berkata, "Aku nggak pernah jadi pelakor. Dunia kita beda. Semoga kamu berhasil, ya."

Suaraku cukup keras, sehingga beberapa orang di sekitar langsung melirik dengan penasaran. Wajah Kimmy memerah karena malu, tapi dia masih nekat berteriak, "Yang nggak dicintai itu justru yang jadi pelakor!"

Tak kusangka, Kimmy ternyata cukup gesit. Saat aku sedang makan, Zeon menelepon. Ini adalah telepon pertama darinya setelah setengah bulan perang dingin.

"Halo?" jawabku datar.

"Valen, Kimmy nyariin kamu, ya?" Suaranya terdengar hati-hati.

Aku tidak menjawab. Dia pun melanjutkan dengan cepat, "Nggak ada apa pun antara aku dan dia. Aku cuma kasihan dan anggap dia seperti adik. Dia masih muda, kalau dia bikin kamu kesal, kamu maklumi saja, ya? Nanti aku akan ganti rugi ke kamu."

"Kita makan malam sama-sama, ya? Aku sudah reservasi restoran favorit kamu."

Aku berpikir sejenak, lalu berkata, "Sepertinya dia itu lebih tua sebulan dariku, deh."

"Terus, hubungan kita apa? Hubungan kalian apa? Kamu mau ganti rugi kasih aku karena dia?"

Di seberang sana, Zeon terdiam.

Berhubung aku menggunakan speaker, Ibu yang sedang menuang daging sapi ke dalam panci langsung memberi isyarat agar aku menyerahkan ponsel padanya.

"Valen itu dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Kami nggak tega kalau dia harus mengalah sama orang lain. Kalau hidup sama kamu cuma bikin dia menderita, lebih baik aku bawa dia pulang saja."

Zeon diam selama tiga detik, lalu akhirnya bersuara canggung, "Ibu ...."

Nadanya terdengar agak memelas. "Kenapa Ibu pulang ke sini?"

Ibuku hanya tertawa sinis dan berkata, "Aku kangen sama Valen, sekalian mau lihat apakah ada wanita nggak tahu malu yang berani nindas anakku. Sudah ya, kami lagi makan hotpot. Lanjutkan saja urusanmu."

Tanpa basa-basi, Ibu langsung memutus sambungan telepon.

Sesampainya di rumah, mobil Zeon sudah terparkir rapi di tempat biasa. Dia membukakan pintu untuk Ibu dengan sopan, lalu mengambil semua barang bawaan tanpa diminta.

Begitu masuk ke rumah, dia menyapa Ibu dengan ramah, lalu segera menarikku ke samping dan bertanya, "Valen, cincin nikah kita ke mana? Aku sudah cari semalaman tapi nggak ketemu."

Cincin nikahnya mungkin sudah dijadikan mainan oleh Kimmy. Sedangkan milikku, sudah kucampakkan ke tempat sampah di saat dia membuang tali merah itu.

Aku melirik sekilas ke arah tempat sampah. "Sudah dibuang," jawabku datar.

Ekspresi Zeon langsung berubah panik. Dia menggenggam tanganku erat-erat dan berkata dengan kecewa, "Itu 'kan cincin nikah kita. Kenapa kamu bisa tega buang begitu saja?"

Aku balik bertanya, "Kalau begitu, ke mana cincinmu?" Dia refleks mengalihkan pandangan dan menghindari tatapanku.

Aku tertawa tipis, lalu melanjutkan, "Mana cincin nikah dan tali merahmu? Selama ada tali merah itu, cinta kita tetap ada. Bukannya kamu sendiri yang bilang itu?"

Wajah Zeon seketika pucat pasi. Aku menepis tanganku dengan pelan untuk melepaskan diri darinya. Mungkin, baru sekarang dia teringat akan semua itu.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B87683" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B87683
Salin

Cinta yang Kukira Abadi, Ternyata Ilusi

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya