Bab 1

Saat pemeriksaan kehamilan di rumah sakit, aku bertemu dengan mantan ipar yang sudah lama tidak ketemu.

Dia melirik perutku, lalu memarahiku sambil cemberut seperti yang biasa dia lakukan.

“Umur sudah segini, masih saja belajar kabur sambil bawa janin? Bagaimana kalau kamu menyakiti cucu kesayangan Keluarga Raiz? Bisakah kamu lebih bijaksana? Jangan buat kakakku terus mengkhawatirkanmu.”

Tetapi mungkin dia lupa.

Setahun yang lalu, ibuku sakit parah. Satu-satunya keinginannya adalah melihatku menikah dan punya anak.

Aku mempertaruhkan segalanya dan melamar Aryan.

Di hari pernikahan, aku menunggu sepanjang hari, tapi hanya menerima pesan suara tiga puluh detik.

“Aku tidak akan pergi ke pernikahan dan aku tidak akan menikahimu. Ini hukuman untukmu karena telah menindas Farah.”

Ibuku yang marah karena sikap Aryan yang sembarangan, terkena serangan jantung dan meninggal dunia.

Setelah mengurus pemakaman ibuku dan membuang semua yang tidak perlu, aku meninggalkan Kota Daro dengan membawa barang-barangku yang sedikit. Aryan masih di luar negeri bersama Farah, bermain ski bersantai.

Tetapi sekarang mantan ipar berkata padaku, “Kakakku habiskan sebagian besar waktunya pergi ke luar kota setiap bulan untuk mencarimu. Berat badannya hanya 75 kg dan turun 10 kg dalam waktu kurang dari setahun. Dia selalu menunggumu. Kak Rumi, sekarang karena kamu sudah kembali, jalanilah hidup dengan baik bersama kakakku.”

Aku tersenyum lembut, mengangkat tanganku yang bercincin.

“Maaf, karena aku orang yang sederhana, aku tidak mengadakan pernikahan besar, jadi aku tidak memberitahu kalian.”

“Arumi, apa kamu tahu betapa khawatirnya kakakku mencarimu setahun terakhir ini?!”

“Kamu hampir bunuh seseorang waktu itu. Kakakku melewatkan pernikahan untuk membereskan kekacauanmu, tapi kamu pergi begitu saja? Delapan tahun hubungan bisa kau akhiri begitu saja?”

Mantan iparku menghalangi jalanku.

Aku baru saja keluar dari ruang perinatologi dan membalas pesan suamiku dengan kepala tertunduk.

Alya yang mengenakan jas putih, berdiri di hadapanku. Dia terkejut sejenak, sebelum akhirnya mengajukan pertanyaan kepadaku.

Setahun telah berlalu, tetapi kesombongan yang melekat pada Keluarga Raiz tetap tidak berubah.

Aryan telah berselingkuh, tetapi menurutnya itu terjadi karena kesalahanku sendiri.

Sebenarnya, mendengar nama ‘Aryan’ lagi tidak terlalu membangkitkan emosiku.

Bagaikan ujung jari yang menyentuh pinggiran cangkir yang panas, rasa sakitnya lenyap dalam dua detik.

Aku menatap Alya yang terus-menerus mengoceh dengan acuh tak acuh, lalu berkata dengan tenang, “Aryan dan aku berpisah setahun yang lalu. Apa yang kamu katakan tidak ada hubungannya denganku.”

Alya sedikit terkejut, matanya dipenuh ketidakpercayaan, sebelum akhirnya berkata tanpa pikir panjang, “Semua orang tahu kamu cuma budak cinta kakakku!”

“Setiap hari nggak ngapa-ngapain, cuma mantengin dia, takut ada wanita lain mendekatinya.”

“Mana mungkin kamu menyerah!”

Tatapannya jatuh ke perutku yang tak bisa kututupi, lalu menyeringai.

Dengan mata yang sangat mirip dengan Aryan, dia menatapku dengan jijik.

Seolah menatap anjing liar yang terlantar.

Aku telah melihat tatapan itu setiap hari selama delapan tahun terakhir.

Aryan adalah putra dari keluarga dokter, sementara aku putri dari orang tua tunggal yang miskin.

Ketika aku memutuskan untuk mengejar Aryan, semua orang menertawakanku, menyebutku pungguk merindukan bulan.

Kemudian, Aryan akhirnya menerimaku.

Mereka mengataiku si cinta budak dan bertaruh kapan Aryan akan mencampakkanku.

Ada yang bertaruh seminggu, ada yang sebulan, ada yang tiga bulan.

Tetapi tak seorang pun menyangka aku akan bersama Aryan selama delapan tahun.

Bab 2

Di awal tahun kedelapan kami bersama, Aryan sangat sibuk dengan kariernya.

Namun, dalam setiap pesan harian kami yang sedikit, selalu ada sosok gadis lain.

Aku bertanya kepada Aryan apa dia sudah makan, dia bilang juniornya membelikannya makanan dan rasanya sangat pedas.

Aku bertanya apa dia ingin menonton film, dia berkata semua orang sedang merayakan penerbitan artikel juniornya dan mengadakan pesta makan.

Kemudian, aku jatuh sakit dan bertanya apa dia bisa pulang untuk mengunjungiku, dia bilang juniornya telah mengacaukan eksperimen dan dimarahi, jadi dia tidak bisa pergi. Dia harus membereskan kekacauan itu.

Aku menangkap nuansa halus yang tersirat dalam kata-kata itu.

Tak lama kemudian, intuisiku terkonfirmasi.

Pada kencan rutin bulanan kami, aku meminta seseorang untuk membeli tiket konser favorit Aryan.

Namun, selama waktu kebersamaan yang berharga itu, Aryan sering kali menunduk untuk membalas pesan.

Aku agak kesal, tetapi aku memikirkan lagi betapa sibuk dan kerasnya dia bekerja.

Jadi aku bertanya pelan, “Siapa yang mengganggumu di hari liburmu?”

Aryan menjawab dengan santai, “Farah meniru eksperimenku, tapi datanya salah, jadi dia bertanya padaku.”

Farah adalah junior Aryan.

Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat itu.

Aku hanya merasa sayang sekali karena kami berdua belum benar-benar menonton konser yang sudah susah payah kubeli.

Dalam perjalanan pulang, Aryan kembali mengeluarkan ponselnya untuk membalas pesan.

Aku tak tahan lagi dan menutup ponselnya dengan tanganku.

Aryan mengerutkan kening ke arahku.

Aku menatapnya tajam, bertanya dengan nada bercanda, “Kamu sudah dua kali melewatkan kencan bulanan kita. Akhirnya aku berhasil mengajakmu, tapi kamu malah sibuk terus dengan ponselmu.”

“Kamu juga terus-terusan menyebut nama Farah, aku mulai cemburu.”

Kupikir Aryan akan berhenti dan lebih jarang menyebut nama Farah setelah aku mengucapkan kalimat itu.

Namun, aku tak pernah menyangka Aryan justru marah.

Ekpsresi wajahnya tiba-tiba berubah dingin. “Arumi, sejak kapan kamu jadi orang yang cuma mikirin calon pacar, terus pengen aku jaga jarak sama lawan jenis?”

“Aku membantunya hanya agar dia berkembang lebih cepat, tidak lebih.”

Setelah malam itu, Aryan mulai bersikap dingin padaku.

Dia tidak membalas satu pun pesan yang kukirim padanya.

Pada hari ketiga perang dingin, aku menerima pesan dari Aryan.

[Aku tidak nafsu makan. Buatkan aku makanan yang ringan dan bawakan ke Lembaga Riset.]

Bagiku, ini sama saja dengan sinyal berbaikan.

Jadi, aku izin cuti dan pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan.

Begitu selesai memasak, aku bergegas ke Lembaga Riset.

Tetapi ketika aku membuka pintu, aku melihat Aryan berjongkok di depan seorang gadis, memijat perutnya dengan lembut.

Suara dingin dan acuh tak acuh yang telah kupuji berkali-kali kini terdengar sangat lembut.

“Bagaimana rasanya? Sudah mendingan?”

“Ya, sudah mendingan, Kak.”

Melihat kejadian itu kepalaku rasanya hampir meledak, berbagai pikiran berkecamuk, membuat hatiku sakit.

Gadis itu tiba-tiba mendongak dan langsung mendorong Aryan menjauh dengan malu-malu.

“Kak Aryan, sudah cukup, ada orang.”

Aryan kemudian melihatku berdiri di pintu. Dia berdiri, mengerutkan kening. “Rumi, ini Lembaga Riset, kenapa tidak ketuk pintu?”

Aku menatapnya tanpa ekspresi, senyum mengejek tersungging di wajahku. “Kalau aku ketuk pintu, bukankah aku akan melewatkan apa yang baru saja terjadi?”

Gadis itu berdiri di samping Aryan, dengan malu-malu menjelaskan dengan suara rendah, “Kakak salah paham. Aku lagi sakit perut karena haid sampai nggak bisa ikut eksperimen, jadi Kak Aryan terpaksa memijit perutku.”

Aryan menghampiriku, ingin mengambil bekal itu.

“Lembaga Riset sedang kekurangan staf saat ini. Farah sedang tidak enak badan, tidak nafsu makan, dan belum makan. Berikan padaku bekalnya.”

Dia berkata dengan santai, seolah itu hal biasa.

Hal paling biasa di dunia.

Tetapi saat ini yang ingin kulakukan hanyalah tertawa, menertawakan diriku sendiri karena bersikap seperti badut.

Rasa sakit yang menusuk di hatiku membuatku melontarkan apa pun yang terlintas di pikiranku.

“Perutnya sakit, jadi kamu berlutut dan memijatnya.”

“Dia tidak nafsu makan, jadi kamu akhiri pertengkaran kita dan menyuruhku memasak untuknya.”

“Sejak kapan kamu begitu perhatian dan peka terhadap orang lain, Aryan?”

Kupikir aku berteriak sekeras-kerasnya, tetapi suaraku ternyata serak dan tak terdengar jelas.

Aryan yang tampaknya tak menunjukkan kesalahan apa pun, berbicara dengan acuh tak acuh, “Farah adalah anggota tim yang sangat penting. Jika dia dalam kondisi yang baik, penelitian kami baru bisa ada perkembangan. Bisa nggak berhenti memaksakan konsep rumitmu tentang hubungan lawan jenis pada kami?”

Aku menatapnya sejenak, lalu berbalik dan pergi membawa bekal yang kubuat.

Lebih baik aku berikan makanan ini pada anjing!

Setelah itu, Aryan tiba-tiba merebut bekal itu dari tanganku.

Aku kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai, beserta bekalku.

Makanan yang telah kusiapkan dengan penuh perhatian selama dua jam kini menjadi tumpukan sampah.

Ekspresi Aryan berubah kesal, dia menegurku dengan dingin, “Setelah membuat keributan seperti ini di siang bolong, sekarang kamu puas?”

Aku berlutut tanpa suara di lantai, telapak tanganku terasa perih akibat pecahan porselen, berlumuran darah.

Aryan terkejut, lalu mengulurkan tangannya untuk membantuku.

Aku mendorongnya menjauh, menggertakkan gigi untuk menahan rasa sakit, lalu berbalik dan pergi.

Bab 3

Setelah itu, Aryan mengirimiku beberapa pesan.

Aku tidak membalas, dia tidak mengirim pesan lagi.

Ulang tahunku masih seminggu lagi.

Kupikir aku akan merayakan ulang tahunku sendirian tahun ini.

Tetapi tepat sebelum tengah malam.

Aryan menerjang hujan deras, muncul di hadapanku sambil membawa kue.

Dia memberiku hadiah kalung dan memasangkannya, lalu dengan tulus meminta maaf.

“Apa yang terjadi hari itu adalah salahku.”

“Aku tidak memberimu rasa aman yang cukup, yang membuatmu curiga padaku.”

“Jangan khawatir, setelah proyek ini selesai, aku akan bicara dengan keluargaku tentang pernikahan kita.”

Ini pertama kalinya dalam delapan tahun berpacaran dia memberiku janji seperti itu.

Aku menghitung hari, dengan penuh harap menantikan pernikahanku yang telah lama kunantikan.

Namun kemudian aku menyadari bahwa hari itu sebenarnya masih lama.

Setelah berbaikan dengan Aryan, dia menemuiku setiap hari sepulang kerja untuk menikmati waktu bersama.

Ini berlangsung selama setengah bulan sebelum Aryan kembali menekuni jadwal kerjanya yang padat.

Hari itu aku menemani atasan untuk acara sosial.

Setelah makan malam selesai, aku melihat Aryan dan Farah makan di sudut restoran.

Sebelum aku mendekat, aku mendengar Aryan berbicara perlahan, “Makanan ini untuk berterima kasih atas nasihatmu. Kalau tidak, aku tidak akan bisa menenangkannya.”

“Dulu dia penurut dan bijaksana, nggak pernah kayak gini sebelumnya.”

“Sebenarnya, akulah yang menyeretmu ke dalam masalah ini waktu itu.” Farah tiba-tiba mendongak ke arahku.

Dia menyeringai dan mengangat jarinya untuk berjanji pada Aryan.

“Kudengar Kak Aryan dan Kak Arumi sudah berpacaran selama delapan tahun. Kenapa kalian belum menikah?”

“Apa Kak Aryan benar-benar masih mencintai Kak Arumi? Aku tidak ingin melihat Kak Aryan menghabiskan hidup dengan orang yang tidak Kak Aryan cintai. Aku juga tidak ingin Kak Aryan terus-menerus menyia-nyiakan waktu Kak Arumi. Masa muda seorang gadis itu sangat penting. Beritahu aku, aku janji tidak akan memberi tahu siapa pun!”

Aku tiba-tiba berhenti.

Aryan terdiam beberapa detik, lalu perlahan berkata, “Ibaratnya begini, bahkan makanan paling enak pun akan terasa membosankan jika dimakan terus-menerus selama beberapa tahun.”

“Tapi aku tidak rela kehilangannya.”

“Jadi begitulah.”

Saat itu, rasanya seperti ada gumpalan kapas yang menyumbat dadaku, membuatku sulit bernapas.

Aku menghampiri Aryan dan mengambil gelas.

Begitu melihatku, dia langsung mengulurkan tangan untuk melindungi Farah.

“Arumi, apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu mengikutiku?!”

Melihat tindakannya dan mendengar tuduhannya, rasa sakit yang tajam kembali menusuk hatiku.

Tak tahan lagi, aku melempar minuman di tanganku ke arah Aryan.

Para tamu di sini mulai penasaran dengan apa yang terjadi dan mulai melirik.

Farah tidak tega, buru-buru menyeka wajah Aryan, “Kak Arumi, gimanapun kau tak bisa memperlakukan Kak Aryan seperti ini!”

Aku mengabaikan perkataan Farah dan menatap Aryan dengan tajam.

Dia mendorong Farah dengan lembut, menyeka wajahnya, dan berkata dengan nada dingin, “Arumi, pantas saja kamu tak punya teman, pantas saja tak ada yang mau dekat-dekat denganmu.”

“Sifatmu kayak gini, siapa sih yang sanggup?”

Gelas di tanganku jatuh berdenting ke lantai.

Aku tak pernah menyangka akan ada hari di mana Aryan akan membentakku demi gadis lain.

Aku tak pernah membayangkan dia akan menggunakan kenangan pahitku sebagai pisau untuk menusukku.

Ayahku berselingkuh saat aku masih kecil, lalu meninggal di laut bersama selingkuhannya.

Ibu membesarkanku dengan susah payah.

Berasal dari keluarga tunggal yang hidup pas-pasan, dengan anggota keluarga yang hanya memiliki pekerjaan biasa menjadi sumber penindasan untukku.

Sepulang sekolah, aku dikunci di toilet, menjadi korban keisengan teman-teman.

Aryan muncul di hadapanku seperti dewa dan menyelamatkanku.

Saat kami berpapasan, dia berkata, “Jangan menyalahkan dirimu sendiri atas kesalahan orang lain.”

Tetapi sekarang, dia sendiri membantah pernyataan itu.

Aku menatap Aryan, air mata mengalir deras di wajahku.

Tetapi Aryan bahkan tidak melirikku, dia langsung meninggalkan restoran bersama Farah.

Cinta yang Jatuh Tanpa Gema

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya