Bab 1
Wira dan Raisa tidak pernah akur sejak kecil. Pada tahun itu, di kalangan mereka hanya tersisa mereka berdua yang cocok untuk dijodohkan.
Wira berkata dengan tegas, "Sekalipun mati, aku nggak akan menikahi Raisa."
Namun, Raisa malah menunjukkan ketertarikan. "Kalau begitu, aku pasti akan menikah denganmu. Cepat mati sana."
Di hari pernikahan, Wira melepaskan puluhan ekor ayam di lokasi acara sebagai bentuk penghinaan. Tanpa ekspresi, Raisa mengambil seekor ayam dan memanggilnya sebagai suaminya.
Seketika, Wira kehilangan keinginan untuk mempermalukannya. Dia menatap Raisa yang bersikeras menikah dengannya sambil mencibir. "Kamu pasti bakal nyesal."
Tiga tahun pernikahan, untuk ke-99 kalinya, Raisa memergoki Wira berselingkuh di ranjang. Barulah saat itu, dia benar-benar mengerti apa yang dimaksud Wira dulu dengan "penyesalan".
Setelah menempuh penerbangan semalaman, wajah Raisa tampak pucat saat memandangi pakaian yang berserakan di lantai. Bau menyengat di udara membuat perutnya terasa mual dan bergejolak.
Wira duduk di ranjang tanpa mengenakan atasan, sementara perempuan di pelukannya masih mengenakan piama sutra milik Raisa.
Tangan besarnya terus menjelajahi tubuh wanita itu. Senyuman di ujung matanya semakin sinis.
Wira mengangkat alis, tersenyum licik kepada orang yang datang memergokinya berselingkuh. "Gimana? Piama ini lebih cocok buat dia, 'kan? Raisa, kalau aku nggak salah hitung, ini sudah yang ke-99 kalinya ya? Kamu masih belum mau cerai?"
Dengan gerakan kaku, Raisa memijat perutnya yang terasa nyeri. Untuk pertama kalinya, dia tidak membalas ejekan Wira dengan kemarahan. "Pakai bajumu. Kita bicara di luar."
Wira tertawa sinis melihat punggungnya. "Mau bicara apa? Sudah nggak ada yang perlu dibicarakan lagi di antara kita."
Raisa berhenti, tetapi tidak menoleh ke belakang. "Soal cerai."
Wira tampak agak kaget, mulutnya sedikit terbuka.
"Baguslah! Akhirnya impianmu akan terwujud!" seru wanita di pelukan Wira.
Baru lima menit Raisa duduk di ruang kerja, Wira sudah muncul dengan pakaian lengkap dan membuka pintu. Terlihat jelas, dia sangat antusias untuk segera bercerai.
"Raisa, kamu nggak lagi bercanda, 'kan?" Tatapan meremehkan di mata Wira tidak luput dari perhatian Raisa.
Dia tidak menjawab, hanya mendorong dokumen perjanjian cerai di atas meja ke arahnya. "Lihat dulu. Kalau nggak ada masalah, langsung tanda tangan saja."
Wira mengambil dokumen itu dengan curiga, matanya tampak ragu. Dia benar-benar tidak percaya Raisa akan menceraikannya.
Keluarga Raisa sekarang sudah tak berjaya seperti dulu. Dia yakin Raisa pasti akan terus bergantung padanya, bahkan mungkin mengisap semua yang dia miliki.
Namun, setelah membaca isi perjanjian, Wira benar-benar terdiam. Raisa bukan hanya tidak meminta apa pun darinya, bahkan secara sukarela meninggalkan rumah yang mereka tempati bersama selama menikah.
Dahi Wira berkerut. "Kamu serius? Jangan-jangan hari ini bilang cerai, tapi besok kamu buat onar di rumah lama?"
Raisa tetap tenang. "Aku serius. Aku nggak akan ribut. Kamu tenang saja."
Wira tidak ragu lagi. Dengan cepat, dia menandatangani dokumen itu. Begitu selesai, senyuman tipis muncul di bibirnya. Beban di hatinya terasa terangkat.
"Karena sudah ditandatangani, kita ke pengadilan negeri buat urus prosedur sekarang juga. Masa tenang ada 30 hari. Aku nggak mau buang waktu sehari pun," ujar Wira.
"Sekarang?" Alis Raisa berkerut.
"Heh, aku sudah duga. Jangan-jangan kamu mau tarik omonganmu lagi?"
Perut Raisa kembali terasa nyeri, tetapi melihat ekspresi Wira yang penuh ejekan ....
"Ya sudah, ayo." Tanpa menunda, Raisa pergi mengurus prosedur perceraian bersama Wira.
Saat memberikan selembar formulir kepada mereka, petugas berkata, "Kalau dalam tiga puluh hari berubah pikiran ...."
"Mana mungkin berubah pikiran?" Wira meletakkan pena di atas meja. Senyuman di wajahnya semakin lebar.
Raisa keluar belakangan, tetapi melihat mobil Wira masih terparkir di sana. Pria itu memencet klakson saat melihatnya.
Jendela mobil terbuka sebagian. Wira melepaskan kacamata hitamnya, mulai mengejek dengan santai, "Bagaimanapun, kita ini pernah tidur seranjang. Nggak usah takut nggak laku. Menurutku, cowok ini lumayan."
Wira menyodorkan kartu nama padanya, sengaja ingin mempermalukannya. Yang tak dia duga, Raisa menerima kartu itu. "Oke, akan kupertimbangkan."
Setelah itu, dia berbalik dan pergi dengan tenang, meninggalkan Wira yang mematung di tempat.
Yang Wira tidak tahu adalah 30 hari itu bukan hanya hitungan masa tenang perceraian, tetapi juga hitungan mundur menuju akhir hidup Raisa.
Bab 2
Raisa berjalan menyusuri jalanan kota. Di tangannya tergenggam erat surat vonis kematian dari dokter.
"Jadi, maksudnya waktu yang tersisa untukku cuma sekitar 30 hari?"
"Maafkan kami, Bu Raisa."
Petir di siang bolong, ini bukan pertama kalinya Raisa merasakan hal itu. Keluarga Sutrisno berada di ambang kehancuran dan seluruh beban ada di pundaknya.
Saat itu, dia pernah merasa sangat tak berdaya. Dia menelepon Wira. Dia berpikir, walaupun hanya bertengkar dengannya, mungkin hatinya akan terasa lebih lega.
Namun, Wira menolak semua panggilannya. Sampai akhirnya merasa terganggu, pria itu mematikan ponselnya.
Kemunculannya kembali adalah saat dia membawa seorang model wanita muda, telanjang, tidur di ranjang pengantin mereka.
Raisa yang sedang dalam keputusasaan tidak pernah terlihat oleh Wira. Yang Wira lihat hanyalah wajah yang membuatnya muak.
Dengan sengaja, Wira mencium model itu dengan penuh gairah tepat di depan matanya. Air liur yang menghubungkan bibir mereka terasa seperti pisau yang menusuk mata Raisa.
"Gimana? Mau cerai, 'kan?"
Raisa memaksakan diri untuk tetap tenang dan melarikan diri dari kamar itu.
Di Kota Jarda, hampir semua orang tahu bahwa sejak kecil Raisa dan Wira tidak akur. Setiap kali bertemu, mereka pasti bertengkar.
Hampir semua orang juga percaya bahwa Raisa sangat membenci Wira, sama seperti Wira yang membenci dirinya.
Raisa menyentuh cincin di jari manisnya, cincin yang Wira berikan dengan terpaksa setelah menikah. Bahkan saat menyerahkan cincin itu, kotaknya dilemparkan ke wajahnya.
Awalnya, Raisa menyembunyikan perasaannya dengan sangat baik. Sampai akhirnya Wira memaksa dirinya untuk menjalankan kewajiban sebagai istri.
Di tengah momen itu saat Raisa mulai tersentuh, Wira tak sengaja menyentuh cincin di jarinya. Wira langsung tertawa keras. "Raisa, jangan-jangan kamu suka sama aku, makanya nggak mau cerai?"
"Kalau iya, mending kamu buang jauh-jauh pikiran itu. Aku nggak mungkin suka sama kamu, bahkan aku benci sama kamu!"
Tak ada kebencian yang datang tanpa sebab. Wira tak menyukai Raisa karena mereka sudah dijodohkan sejak lama. Karena perjodohan itu, cinta pertama Wira dipaksa pergi ke luar negeri.
Malam itu, Raisa menatap langit-langit kamar sampai pagi. Ibunya sudah tiada sejak dulu, tak ada yang mengajarkannya cara mempertahankan orang yang dia cintai. Saat masih kecil, satu-satunya cara yang dia tahu untuk membuat Wira memperhatikannya hanyalah dengan kata-kata tajam dan sikap keras kepala. Namun, setelah itu?
Raisa berkedip, matanya terasa kering. Getaran dari ponselnya memecah pikirannya yang kacau. Dia melirik layar, Wira sedang membagikan uang di grup.
[ Ada apa nih? Kamu lagi bahagia banget ya, Wira? ]
Wira tidak menjawab. Dia hanya mengirim foto tanda tangan pada formulir masa tenang perceraian. Satu gambar itu seperti bom, langsung menggegerkan semua orang di grup yang selama ini hanya diam-diam menonton.
[ Cerai? Raisa setuju? ]
[ Ini kabar paling baik tahun ini! Akhirnya kamu bisa lepas juga dari beban itu! ]
[ Pasti harus dirayain dong! Bukannya kamu pernah bilang setiap pulang dan lihat muka Raisa, kamu nggak bisa tidur? Nah, sekarang kamu bebas, ganti cewek setiap malam juga nggak ada yang protes! ]
[ Tapi, kalian nggak merasa aneh? Selama ini Wira tidur sama banyak model, Raisa juga masih tahan. Kenapa sekarang tiba-tiba nyerah? Jangan-jangan dia cuma main-main. Hati-hati, jangan sampai pas hari-H dia nggak muncul. Kalian nggak bakal bisa ambil akta cerai. ]
Ucapan itu membuat grup langsung hening.
Tak lama kemudian, telepon Raisa berdering.
"Raisa, jangan bilang kamu cuma main-main ya? Habis masa tenang, kamu benaran bakal datang buat ambil akta cerai, 'kan?"
Wajah Raisa yang pucat menyunggingkan senyuman kecil. Dengan suara lirih, dia menjawab, "Oh, memang aku lagi main-main. Wira, kamu bisa apa?"
Bab 3
Di seberang telepon, terdengar napas berat.
Raisa berpikir, kalau saat ini dia berdiri tepat di hadapan Wira, mungkin dia sudah dicekik mati sebelum satu bulan berlalu.
Sebelum Wira sempat melontarkan sumpah serapahnya, Raisa tertawa. "Wira, kali ini aku nggak main-main. Tapi, aku punya satu syarat."
Wira tidak menjawab.
Raisa tidak peduli, melanjutkan kata-katanya, "Aku mau kamu temani aku melakukan sepuluh hal. Setelah sepuluh hal itu selesai, aku akan mengambil akta cerai. Aku janji setelah itu, aku akan benar-benar lenyap dari hidupmu."
Kalimat itu terlalu menggiurkan.
Wira mengerutkan kening. "Sepuluh hal terlalu banyak, lima saja."
Raisa terkekeh-kekeh. "Oke."
Hal pertama, Raisa meminta Wira menemaninya ke sebuah gala amal. Dia berdandan dengan sangat anggun. Ketika Wira menjemputnya, jari-jarinya sibuk menggesek layar ponsel, matanya bahkan tidak melirik ke arah Raisa.
Raisa tidak peduli. Dia tahu dari mulut Wira tidak akan pernah keluar kata-kata manis. Namun anehnya, saat sudah duduk di mobil, Wira akhirnya melirik dan langsung mengerutkan alis.
"Kamu diet ya? Wajahmu pucat banget. Jelek."
Jari-jari Raisa menegang, tetapi pandangannya tetap lurus ke depan. Dia tidak menanggapi.
Saat turun dari mobil, Wira menarik tangannya. Ketika melihat wajah Raisa yang menegang, dia bertanya dengan nada menghina, "Kenapa? Bukannya kita pernah pegangan tangan? Yang lebih dari ini juga sudah pernah. Ngapain sok kaget?"
Tangan Raisa yang dingin dibungkus oleh telapak tangan Wira yang hangat. Ini memang bukan pertama kalinya Wira memegang tangannya, tetapi ini pertama kalinya dia melakukannya secara sukarela.
Orang-orang di sekeliling mereka memandang heran saat melihat keakraban aneh antara mereka berdua.
Acara lelang dimulai. Raisa melihat barang yang diinginkannya. Tanpa sadar, dia mengangkat papan lelang, tetapi seorang pria di sampingnya sudah lebih dulu mengangkatnya.
Itu adalah lukisan peninggalan seorang pelukis luar negeri yang telah wafat. Banyak orang menyukainya dan berlomba menawar.
Namun, pada akhirnya Wira yang berhasil memenangkannya dengan harga tinggi. Ada kehangatan aneh menyusup ke dalam hati Raisa.
"Wi ...."
"Kirimkan lukisan ini ke rumah Keluarga Taulany di Kota Nemar."
Tangan Raisa yang hendak diulurkan langsung membeku di udara. Ternyata lukisan itu bukan untuknya. Hatinya dipenuhi kegetiran, seolah-olah ingin menenggelamkan seluruh dirinya.
Dia tiba-tiba berdiri dan melangkah ke luar. Wira mengerutkan alis dan mengejar, langsung mencengkeram lengannya.
"Belum selesai, kamu mau ke mana?"
Raisa berusaha menarik diri, tetapi tak berhasil melepaskan diri dari cengkeramannya.
Wira mulai kesal. "Kamu yang minta aku ke sini, sekarang malah marah sendiri? Sakit jiwa!"
Kata "sakit jiwa" itu seperti tusukan tajam ke dalam hati Raisa.
"Ya, aku memang sakit." Raisa melepaskan tangannya dengan paksa dan berjalan pergi tanpa menoleh.
Selama seminggu, Raisa tidak menghubungi Wira. Dia juga sudah pindah dari rumah mereka. Awalnya Wira tak terlalu peduli. Namun, setiap kali memikirkan empat hal yang tersisa, dia merasa tidak tenang.
Seolah-olah kalau tidak cepat-cepat diselesaikan, Raisa akan kembali menempel padanya seperti dulu. Akhirnya, dia tidak tahan dan menelepon Raisa.
Saat panggilan masuk, Raisa baru saja selesai menjalani radioterapi. Penyakitnya semakin memburuk, sekujur tubuhnya terasa nyeri.
"Masih ada empat hal lagi. Raisa, jangan coba-coba main tipu muslihat ya."
Raisa terdiam sejenak. "Aku mau pergi ke Tiber."
Wira mengernyit. "Sekarang?"
"Ya, sekarang juga."
Wira benar-benar merasa Raisa sudah gila. Namun, demi cerai, demi terlepas dari wanita itu, dia langsung membeli tiket ke Tiber tanpa berpikir panjang.
Raisa memakai pakaian yang tebal dan tertutup. Saat dia sampai, Wira sudah tampak kesal karena menunggunya.
"Kamu ngapain sih? Aku mau jemput, kamu nolak. Sekarang malah datang telat begini."
Mendengar omelannya, Raisa hanya diam dan menyerahkan koper ke tangannya. "Bawel."
Wira tersenyum dingin, lalu secara refleks mengambil semua barang bawaan Raisa. Gerakan spontan itu bahkan tak disadari olehnya sendiri.
Pesawat hampir lepas landas. Tiba-tiba, ponsel Wira berdering. Raisa berdiri di dekat gerbang, memandangnya dari kejauhan.
Wira menggenggam erat ponselnya, tubuhnya menegang. "Maaf, Raisa. Aku nggak bisa ikut ke Tiber."