Bab 1
Suamiku selalu memandang rendah diriku hanya karena aku seorang wanita petani. Bahkan, dia tidak sayang pada anak kami.
Setelah usia anak kami genap 100 hari, dia baru memeluknya untuk pertama kalinya.
Lalu, kekasih pertamanya kembali ke Kota Jenang.
Pria yang selama ini bersikap dingin itu pun, untuk pertama kalinya tersenyum di meja makan dan bahkan menyuapi anakku.
Semalaman, anakku tampak sangat bahagia. Sebelum tidur, dia bertanya dengan suara lembut.
"Ibu, apakah paman sedikit menyukaiku?"
Aku memeluknya erat-erat. Mataku berkaca-kaca dan aku menggeleng pelan, berkata.
"Bukan, tetapi kekasih paman telah kembali. Jadi kita harus pergi."
Suamiku selalu memandang rendah diriku hanya karena aku seorang wanita petani. Bahkan, dia tidak sayang pada anak kami.
Setelah usia anak kami genap 100 hari, dia baru memeluknya untuk pertama kalinya.
Lalu, kekasih pertamanya kembali ke Kota Jenang.
Pria yang selama ini bersikap dingin itu, untuk pertama kalinya tersenyum di meja makan dan bahkan menyuapi anakku.
Semalaman, anakku tampak sangat bahagia. Sebelum tidur, dia bertanya dengan suara lembut.
"Ibu, apakah paman sedikit menyukaiku?"
Aku memeluknya erat-erat. Mataku berkaca-kaca dan aku menggeleng pelan, berkata, "Bukan, tetapi kekasih paman telah kembali. Jadi kita harus pergi."
…
Setelah putraku tertidur, aku mencari surat nikahku dengan Irfan, berencana untuk mencari waktu untuk mengurus perceraian.
Tahun ini adalah tahun kedelapan pernikahan kami dan tahun keenam kami hidup terpisah.
Waktu yang panjang telah mengikis habis semua cinta aku padanya.
Kini, aku siap melepaskannya.
“Ibu…”
Putraku yang berusia delapan tahun sudah bangun tanpa aku sadari. Dia datang ke depanku dengan kaki telanjang, matanya dipenuhi rasa enggan berpisah.
“Kita benar-benar harus pergi?”
“Hari ini ayah...paman memelukku dan memberiku makanan. Mungkin dia mulai menyukaiku?”
Aku tersentak sejenak mendengar kekeliruan panggilannya.
Akibat meniduriku saat mabuk, Irfan terpaksa menikahiku.
Jadi dia membenci aku, dan bahkan membenci anak kami karena aku.
Sejak anakku mulai bisa berbicara dan memanggilnya "ayah", dia langsung memarahinya dan melarang memanggil seperti itu.
Saat anakku berusia tiga tahun dan masih pelupa, dia dengan alami memanggil Irfan “ayah” lagi. Tapi Irfan, dengan wajah dingin, memukul mulutnya sepuluh kali dengan rotan.
Bibirnya bengkak dan berdarah. Anakku pun menangis tersedu-sedu. Sejak itu, ia hanya memanggilnya “paman” dan tidak pernah memanggilnya “ayah” lagi.
Saat aku kembali sadar, aku memeluknya dengan mata berkaca-kaca.
“Anto, kekasih sejati paman sudah kembali. Kita harus pergi.”
Namun dalam hati, aku melanjutkan, ‘kalau tidak, kita akan semakin tersakiti.’
Mata Anto berkaca-kaca dan suaranya bergetar.
“Dua hari yang lalu, paman masih bilang aku anak yang baik. Dan hari ini, dia memelukku, memberiku makanan…”
“Jelas, dia sudah mulai suka padaku!”
“Tidak bolehkah kita tidak pergi?”
Ekspresinya penuh harapan. Dia berpikir ayahnya sudah mulai menyukainya!
Dia mengira, dengan menjadi lebih patuh lagi, ayahnya akan benar-benar menyukainya!
Aku melihat keinginannya yang kuat untuk mendapatkan cinta ayahnya.
Aku pun tersentak, bahkan satu kalimat pun tak bisa kuucapkan.
Bagaimana caraku menjelaskannya?
Haruskah aku katakan bahwa sejak lahir, dia tidak pernah diterima oleh ayah kandungnya?
Atau bahwa tindakan Irfan memeluknya hanyalah karena kegembiraan melihat kekasihnya kembali, sebuah pelukan yang tidak tulus?
Aku tidak bisa mengatakan semua itu. Aku tidak tega memberitahu semua kenyataannya.
Dia baru umur delapan tahun. Bagaimana mungkin dia bisa menanggung kenyataan sekejam itu?
Lebih baik aku membawanya pergi. Membiarkan waktu menghapus lukanya perlahan.
Ini adalah cara terbaik yang bisa aku lakukan sebagai ibu.
“Anto, ibu sudah tidak sayang paman. Bolehkah kamu pergi bersama Ibu?”
Akhirnya air matanya jatuh juga, suaranya tersendat.
“Benar-benar tidak boleh tetap di sini?”
“Aku belum mendapatkan pengakuan dari ayah…”
Hatiku terasa sakit. Aku berkata dengan pelan, “Tapi kamu sudah tahu sejak dulu kalau dia tidak menyukaimu, kan?”
Anto mulai menangis lebih parah, tetapi dia menangis dengan terdiam. Isaknya membuat dadaku sesak.
Lama kemudian, dia berkata dengan suara serak dan parau, “Ibu, bolehkah kita beri paman tiga kesempatan lagi?”
“Aku masih ingin mencoba.”
Bab 2
Aku menatap mata Anto yang teguh. Dengan lembut, kuusap kepalanya dan berbisik,
“Baiklah.”
Kemudian, aku mengangkat pandangan ke arah kamar Irfan. Dalam hati, aku berkata.
‘Irfan, anakmu memberimu tiga kesempatan terakhir.’
‘Jika kau menyia-nyiakannya, aku dan anakmu akan benar-benar pergi dari hidupmu.’
‘Kita tak akan bertemu lagi.’
Keesokan paginya, Irfan tidak makan sarapan dan pergi terburu-buru. Aku tahu dia pasti pergi menemui cinta pertamanya, Citra Kusuma.
Mereka adalah teman masa kecil. Seharusnya menjadi pasangan sempurna.
Tapi beberapa tahun lalu, karena pergolakan, Irfan terpaksa pindah ke desa. Sementara Citra menikah dengan orang lain di luar kota.
Sejak itu, hubungan mereka putus total.
Saat tiba di Desa Pawani, Irfan bahkan butuh waktu beberapa bulan untuk bangkit lagi.
Setelah pindah ke desa, dia tinggal di rumah kami. Dan suatu malam, dalam keadaan mabuk, dia meniduriku. Lalu, dia terpaksa menikah denganku.
Hanya dari satu malam itu, lahirlah Anto.
Saat Anto berusia dua tahun, Irfan kembali ke Jenang dan membawaku bersamanya.
Di saat aku merasa senang karena aku berpikir dia mulai menyukaiku, dengan wajah dinginnya, dia memperingatkanku untuk tidak mengumumkan statusku sebagai istrinya.
Aku hanya dianggap sebagai pengasuh rumah tangganya.
Sejak itu, aku menjadi istri yang tidak boleh diakui. Anak kami pun juga bernasib sama.
Biasanya, jika di jalan umum, kalau bertemu pun, kami harus menghindarnya.
Menjelang jam pulang kerja, aku pergi ke kantor kepala pabrik tekstil untuk mengajukan pengunduran diri. Dia pun menatapku heran.
“Susi, meskipun kamu hanya pekerja sementara, tapi kami memberikanmu tunjangan yang cukup bagus. Kenapa tiba-tiba ingin mengundurkan diri?”
Aku tersenyum dan menjawab, “Suamiku tinggal di desa. Akan lebih baik jika saya kembali ke sana.”
“Jadi kamu bukan ibu tunggal?”
“Saya selalu melihat kamu sendiri. Kukira suamimu sudah meninggal!”
Aku melihat ekspresinya yang terkejut, dan rasa pahit menyebar di hati.
Dalam sisi tertentu, dia memang sudah "meninggal" bagiku.
Kepala pabrik hanya mengangguk pelan, “Benar juga yang kamu katakan. Jika suami di desa, lebih baik kalau kamu kembali. Aku akan daftarkan pengunduran dirimu.”
Setelah menyelesaikan semua proses, aku pergi menjemput Anto di Taman Kanak-kanak Binrah. Tapi di tengah jalan, aku melihat Irfan sedang bersama Citra.
Ekspresi dan tatapan Irfan begitu lembut.
Aku belum pernah melihat dia dengan wajah begitu lemah lembut.
Aku tertegun melihat mereka berdua, lalu menunduk melihat pakaian kerjaku yang kotor.
Rasa rendah diri menyelimuti hatiku.
Seorang rekan kerja yang juga sedang menjemput anaknya ikut melihat mereka, dan berkata.
“Pak Irfan sudah sendirian bertahun-tahun, akhirnya dia akan menikah.”
“Aku iri sekali kepada wanita itu!”
“Iri? Untuk apa? Kita ini bukan dari dunia yang sama dengan Pak Irfan. Hanya Nona Citra yang pantas berdiri di sisinya.”
Aku menekuk bibirku dengan rasa pahit.
Aku memang bukan dari dunianya.
Aku menggunakan waktu delapan tahun pun tak cukup untuk masuk ke dalam dunianya.
Kami semakin dekat. Dan Irfan juga melihatku. Ekspresinya berubah sedikit, tatapan matanya yang tajam memberi sinyal peringatan kepadaku.
Dia memperingatkan aku untuk tidak bicara macam-macam di depan Citra, tidak mengungkapkan hubungan kami.
Aku hanya tersenyum dingin, lalu dengan tenang aku melewati mereka seolah kami tak saling kenal.
Tapi pada saat aku mendongak, aku sedikit panik.
Entah sejak kapan, Anto sudah berdiri di depan gerbang sekolah, dengan tas kecil di punggungnya.
Matanya yang jernih terus menatap ayahnya yang mesra dengan wanita lain.
Melihat ayahnya yang sedang tersenyum lembut dan menjemput seorang anak laki-laki lain.
Aku melihat mata Anto yang jernih perlahan menjadi kecewa, dan hatiku merasakan sakit luar biasa.
Pada saat itu, Irfan akhirnya menyadari kehadiran anak kandungnya yang berdiri tepat di sampingnya.
Bab 3
Namun tubuhnya hanya kaku sesaat.
Setelah itu, dia tetap membawa anak laki-laki itu melewati Anto begitu saja dengan sikap dingin.
Seolah mereka benar-benar orang asing!
Mata Anto tiba-tiba memerah.
Aku segera menghampirinya. Dia masih menatap punggung Irfan dan bertanya dengan suara pelan, "Ibu, apakah itu orang yang disayangi ayah dan anaknya?"
Mendengar suara kecilnya yang penuh luka, seluruh tenagaku seakan hilang. Air mataku jatuh tanpa bisa ditahan.
Anto pun tak bertanya lagi. Dia hanya menggenggam tanganku erat dan berjalan pulang.
Hanya mata yang semakin merah menunjukkan rasa sakitnya.
Aku hanya bisa menatapnya penuh iba, kasihan melihat Anto menahan emosinya sendiri.
Irfan, kau hanya punya dua kesempatan lagi.
Setelah Anto menyelesaikan tugas sekolahnya, dia bertanya ragu-ragu, "Ibu, hari minggu nanti ada lomba olahraga keluarga. Ayah bisa datang?"
Aku menatap mata yang penuh harapan, dan terdiam.
Sejak masuk sekolah, Irfan belum pernah sekalipun ikut kegiatan keluarga.
Aku tidak tega menyakiti hatinya, jadi aku hanya menjawab lembut, "Ibu akan tanya, ya."
Aku menunggu di sofa hingga dini hari, barulah Irfan pulang dan meletakkan sebuah robot di meja dengan sembarangan.
Aku berbicara, "Hari Minggu nanti ada lomba olahraga keluarga di sekolah. Anto ingin kamu datang."
"Aku akan datang."
Sebenarnya aku tidak berharap apa pun, tetapi tidak menyangka dia akan setuju.
Pagi harinya, Anto bangun dan memandangku, dan berkata dengan pelan, "Ayah tidak mau datang, ya?”
“Tidak apa-apa, ibu juga bisa menemani aku."
Ia berkata begitu seolah menenangkan dirinya sendiri.
Melihat betapa dewasanya dia, hatiku teriris.
Aku segera mengucapkan, " Ayah sudah janji akan datang."
"Ayah sibuk, aku harus mengerti dia..."
Dia masih menggumam sendiri, namun ketika dia mendengar kata-kataku, dia terdiam. Ia lalu menatapku dengan tidak percaya.
"Ibu, apakah benar?"
"Kapan ibu pernah bohong sama kamu?"
Aku mengelus kepalanya dengan sayang.
Anto pun tersenyum sangat cerah.
Ini pertama kali Irfan menemani anaknya.
Saat melihat robot di meja, matanya langsung bersinar, dan dia berkata dengan senang, "Ini pasti hadiah dari Ayah untukku, kan?"
Aku ikut menatap robot itu. Tanpa berpikir panjang, aku juga mengira begitu. Aku pun mengangguk dan tersenyum.
Anto begitu gembira, sampai langkahnya sedikit goyah.
Hari-hari berikutnya, Anto sangat bersemangat.
Namun setiap hari, dia selalu bertanya dengan cemas, "Ayah pasti datang, kan?"
Aku melihat dia yang khawatir, merasa sangat kasihan. Berkali-kali aku meyakinkannya bahwa Irfan pasti akan datang.
Hari Minggu pun tiba. Aku membawa Anto ke sekolah terlebih dahulu. Satu per satu, ayah-ayah anak-anak lain mulai datang. Sementara Anto tampak gelisah, terus menatap ke arah gerbang.
Telapak tangannya yang aku genggam terasa basah oleh keringatnya.
Lalu, aku melihat Citra datang bersama anak laki-laki itu.
Robot di tangan anak laki-laki itu sangat mencolok, anak-anak lain segera mengerumuninya.
Anto juga melihatnya. Matanya langsung tertuju pada robot itu. Dalam sekejap, matanya dipenuhi air mata.
Aku juga terkejut ketika melihat robot itu, hingga jemariku agak bergetar.
Aku tahu betul itu robot yang Irfan bawa pulang beberapa hari lalu.
Sejak Anto lahir, Irfan tak pernah membelikan mainan untuknya. Aku sempat berpikir mungkin Irfan mengingat ulang tahun Anto yang sebentar lagi, jadi itu adalah hadiah darinya.
Tapi ternyata mainan itu dibelikan untuk anak lain!
"Ini dari ayahku! Cuma ada satu di seluruh kecamatan!"
Suara bangga anak itu terdengar jelas ke telingaku dan Anto.