Bab 1
Belakangan ini, nafsu makan anakku jelek dan gampang melamun.
Sampai suatu hari aku melihat dia sedang menonton video sahabatku… barulah aku sadar, ternyata dia sudah masuk masa puber.
Aku pun cerita ke sahabatku dan dia juga bilang lagi bingung. Ternyata anaknya juga tertarik padaku….
Akhirnya kami pun sepakat untuk saling membantu mengarahkan anak satu sama lain ke jalan yang benar dan paham seperti apa hubungan antar lawan jenis.
Namaku Tina, karena anakku melanjutkan studi keluar negeri, aku pun ikut datang ke sini untuk menjaga dan menemaninya.
Kebetulan, sahabatku juga sedang menemani putranya di sini, jadi sesekali aku main ke rumahnya untuk berkumpul bersamanya.
Saat aku sedang asik berbincang dengan Vena, sahabatku, tiba-tiba aku menyadari ada yang aneh dengan tingkah laku anaknya.
Biasanya, anaknya paling suka main game, tapi sekarang dia hanya duduk diam tanpa gerak sama sekali dalam waktu yang cukup lama.
Tatapan matanya sesekali berpaling dari ponsel dan mengarah padaku, wajahnya pun semakin lama semakin merah.
Mungkin karena sudah lama berpisah dengan suamiku akhir-akhir ini, jadi pandangan dari pria asing membuatku jadi lebih peka.
Anehnya, aku justru menikmati perasaan diperhatian seperti itu. Karena itu, saat keluar rumah, aku sengaja memakai gaun pendek hitam dengan tali tipis di bahu.
Gaunnya sangat pendek dan bagian atasnya pun berpotongan sangat rendah di bagian leher.
Tadi dalam perjalanan ke sini, banyak pria yang menatapku. Entah kenapa, aku merasa cukup menikmati perhatian mereka.
Namun, mereka semua adalah pria lokal negara ini dan menurutku tubuh mereka kurang berisi, bukan tipe yang kusuka.
Tiba-tiba, aku menyadari bahwa Freddy, putra sahabatku yang masih muda sedang menatapku, tubuhku langsung terasa bersemangat dan panas.
“Nggak kusangka Freddy sudah begitu berotot.”
Aku menatap Freddy yang wajahnya merah merona, tiba-tiba ingin menggoda pemuda kekar ini.
Mendengar ucapanku, Freddy menunduk dan menjawab pelan, “Tante Tina, jangan bercanda denganku.”
Dia terlihat malu dan tak berani menatapku.
Hal itu membuatku semakin ingin bermain-main, sekaligus merasa ada kepuasan yang aneh di dalam hati, bahkan timbul sebuah pemikiran yang tidak biasa.
Selama suamiku tidak di sini, rasanya punya hubungan khusus dengan pemuda seperti dia juga terdengar cukup menyenangkan.
Namun, dia adalah putra sahabatku. Jika aku benar-benar melakukan itu, bagaimana perasaan sahabatku?
Aku pun membuang pikiran itu jauh-jauh dan berdiri, menyadari tatapan Freddy tertuju pada kakiku, sambil menelan ludah.
Aku pun pamit pada sahabatku mau pergi memperbaiki riasan, lalu berjalan menuju kamar mandi. Mata Freddy masih terus menatapku, penuh dengan rasa panas yang tak terbendung.
Baru saja aku dan sahabatku minum sedikit alkohol, ditambah tatapan yang intens, wajahku jadi agak memerah dan tubuhku terasa hangat.
Saat pikiranku melayang-layang, tanpa sengaja kakiku tersandung dan Freddy pun sigap menggunakan tangannya yang besar untuk menopangku.
“Tante Tina, kamu nggak apa-apa?”
Tangan besarnya terasa sangat hangat dan pakaian tipis yang kupakai sama sekali tak bisa menahan hangat dari sentuhannya, membuat tubuhku semakin terasa panas.
Entah sengaja atau tidak, tangannya meluncur turun dan menggenggam bagian belakangku.
Aku spontan mengeluarkan suara kecil, membuat Freddy terkejut dan segera menarik tangannya kembali,
“Maaf, Tante Tina….”
Ekspresi paniknya membuatku sedikit malu, tapi di dalam hati aku merasa ada api yang ingin menyala.
“Ayo, Tina.”
Sahabatku mengambil tasnya dan mengajakku berjalan keluar.
Aku bisa merasakan tatapan Freddy yang masih tertuju ke arahku dari belakang, membuat hatiku geli dan panas.
Entah kenapa, tubuhku ingin bergerak tak biasa, seolah berharap Freddy akan menatapku lebih lama.
Aku menahan sebisa mungkin dorongan yang sudah bukan sekadar menggoda itu dan berjalan keluar bersama sahabatku.
Sahabatku ingin berbelanja, jadi kami berpisah di depan pintu apartemen. Aku pun bersiap pulang ke rumah.
Raut wajah Freddy terlihat seperti enggan berpisah.
Karena hal itu, sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar dan mengambil mainan yang sudah sejak lama kusiapkan di samping ranjang.
Biasanya saat melakukan ini aku selalu membayangkan suamiku, tapi hari ini tanpa sengaja bayangan Freddy muncul di benakku.
Wajah tampan dan tubuh kekarnya membuatku merasa sangat bersemangat dan panas di seluruh tubuh.
Bab 2
Setelah beraktivitas cukup lama dan kelelahan, aku akhirnya tertidur pulas, tapi terbangun karena ingin buang air kecil.
Baru kusadari kalau waktu sudah tengah malam.
Dengan setengah sadar, aku bangkit dari tempat tidur, lalu membuka pintu kamar dan langsung terpaku.
Di ruang tamu, entah sejak kapan anakku sudah pulang. Dia sedang bersandar di sofa, menonton sesuatu dari proyektor di depannya.
Yang diputar di proyektor ternyata adalah rekaman acara menyanyiku bersama Vena, saat menghadiri pesta pertunangan teman kami.
Waktu itu, aku dan Vena mengenakan kostum panggung yang sangat tipis dan tembus pandang. Tubuh kami terlihat anggun dan terus bergoyang mengikuti irama musik.
Yang membuatku terkejut, bagian yang difokuskan di video itu adalah tubuh Vena dari jarak yang sangat dekat, bahkan samar-samar bisa terlihat pakaian dalam ungu di balik roknya.
Jelas sekali itu hasil dari video yang diambil diam-diam.
Anakku bersandar di sofa sambil tubuhnya tampak bergerak-gerak dan di tangannya ada celana dalam kecil berwarna merah muda, yang pernah dikatakan Vena padaku bahwa dia sudah membuangnya.
Aku terpaku di tempat, tidak bergerak cukup lama.
Tiba-tiba, aku teringat anakku yang terlihat lesu akhir-akhir ini, sering mengantuk dan linglung, wajahnya pun pucat.
Ternyata dia suka melakukan hal seperti ini di tengah malam selama ini!
Aku mulai khawatir.
Jika terus-terusan begini, bukankah kondisi tubuhnya bisa semakin memburuk?
Aku tak berani buka pintu dan keluar. Begitu teringat aku enak-enak menikmati di kamar sendirian, rasanya tingkah anakku itu masih bisa dimaklumi.
Namun, aku tahu ini tak bisa dibiarkan terus-terusan.
'Anakku belum pernah pacaran, dia nggak mengerti bagaimana rasanya perempuan yang sesungguhnya. Kalau dia terus-terus larut dalam hal beginian… nggak boleh. Banyak hal yang harus dia alami sendiri, biar dia mengerti dan nggak begini lagi.'
Aku pun kepikiran satu cara.
Daripada dia terus melakukan ini sendirian, mending aku coba jodohkan dia sama Vena.
Namun, bagaimana aku membicarakan hal seperti ini?
Aku menghela napas dan balik ke kamar. Berpikir kesana kemari, bolak-balik di kasur, tak bisa tidur juga.
Besok malamnya, aku sengaja tidur lebih awal. Tengah malam aku terbangun lagi dan benar saja, anakku mulai melakukan gerakan yang sama lagi.
Beberapa hari berturut-turut keadaannya terus seperti itu. Aku tahu, kalau tak dihentikan, ini bisa jadi masalah. Aku pun semakin cemas.
Sampai suatu hari, waktu makan bersama sahabatku, aku coba curhat tentang hal yang membuatku resah.
Namun, aku hanya bilang kalau anakku suka diam-diam melakukan itu tengah malam dan itu membuat kondisi fisiknya semakin menurun.
Aku tak bilang kalau dia sebenarnya melakukan itu sambil menonton video joget sahabatku sendiri.
Namun, setelah aku menceritakannya, aku pun sadar ekspresi sahabatku juga menjadi aneh. Seolah-olah dia juga ingin menceritakan sesuatu tapi ragu-ragu.
Dia duduk di sampingku, lalu tangannya tiba-tiba menyentuh punggungku yang terbuka.
Begitu tangannya sampai ke bagian bawah, menyentuh lekuk tubuhku, dia kelihatan sedikit getir.
“Tina, kita sahabat yang sudah begitu dekat, bahkan pernah tukar cara pakai mainan itu, jadi aku juga nggak perlu menutupin apa-apa lagi darimu.”
“Anakmu suka hal beginian? Sebenarnya anakku juga dan….”
Sahabatku tampak agak sulit untuk mengatakannya, tapi akhirnya dia tetap melanjutkan,
“Waktu kita minum-minum terakhir kali, dia diam-diam memotret kita dan ternyata dia melakukan hal itu malam-malam sambil melihat foto-fotomu.”
Aku langsung terkejut bukan main.
Tak kusangka anak-anak kita sama-sama menyukai sosok kita yang sudah dewasa ini.
Bahkan mereka suka menggunakan video kita untuk melakukan hal seperti itu.
Ekspresi sahabatku terlihat penuh pergolakan. Dia menggertak dan berkata padaku,
“Bagaimana kalau….”
Sahabatku mencubit keras bagian belakang tubuhku, sampai-sampai aku hampir berteriak.
Dia mendekati telingaku dan berbisik, “Bagaimana kalau biarkan anakku bersamamu dan aku bersama anakmu. Biarkan mereka tahu bagaimana rasanya perempuan sesungguhnya, mereka pasti nggak akan melakukan itu lagi.”
“Mereka sedang dalam masa puber, butuh bimbingan dari kita.”
Anakku memang sudah masuk masa pubertas dan butuh bimbingan.
Aku dan sahabatku berdiskusi cukup lama. Demi anakku, akhirnya aku menyetujui usul sahabatku.
Di dalam hati ada rasa malu, tapi entah kenapa juga ada sedikit rasa senang yang sulit dijelaskan.
Bab 3
Sesuai saran sahabatku, kami berdua mengganti pakaian yang lebih terbuka, bahkan cukup berani karena kami tidak memakai pakaian dalam sama sekali.
Penampilan seperti ini benar-benar menonjolkan bentuk tubuh kami yang berlekuk-lekuk.
Terutama aku yang punya tulang agak besar, sehingga terlihat begitu menonjol di bagian belakang dan depan.
Sahabatku menatapku dengan mata berbinar.
“Tina, bentuk tubuhmu memang sudah bawaan lahir. Kalau aku jadi pria, aku pasti suka. Nggak heran anakku bisa begitu terpesona denganmu.”
Wajahku sampai merona malu mendengar pujian sahabatku.
Kami memilih untuk melakukan ini di rumah sahabatku, karena rumahnya lebih besar.
Setelah semuanya siap, aku menelepon anakku, Hans. Menyuruhnya datang ke rumah sahabatku.
Sahabatku juga menghubungi Freddy.
Setelah kedua orang itu kembali, kami membiarkan mereka bermain dulu, sementara aku pergi masak bersama sahabatku.
Agar semuanya berhasil, kami bahkan menambahkan sedikit obat khusus ke dalam minuman alkohol.
Soalnya kami sudah saling sangat mengenal, jadi kalau benar-benar melakukannya tanpa tambahan itu, rasanya agak canggung. Dengan tambahan ini, semuanya akan berjalan alami dan lancar.
Bayangan tentang apa yang akan terjadi membuatku merasa geli dalam hati dan wajahku jadi merona sekali.
Aku melihat sahabatku juga begitu.
Saat kami berdua muncul di depan anak-anak kami dengan pakaian yang cukup terbuka, mata mereka langsung tertuju pada kami.
Ekspresi mereka yang ingin melihat tapi tidak berani itu benar-benar menghibur.
Sahabatku mengajak anakku duduk di sebelahnya dan Freddy pun dengan alami duduk di sampingku.
Aku bisa merasakan pandangan samping Freddy diam-diam terus mengawasiku, tangannya yang memegang sendok terus tidak bergerak.
Setelah menuangkan alkohol, aku menyodorkannya ke Freddy.
“Freddy, ayo dicoba.”
Melihat tanganku yang menyodorkan gelas, Freddy terlihat agak panik. Matanya berputar-putar saat menerima gelas itu, sambil sempat melirik ke dapanku.
Wajahnya langsung memerah, lalu menenggak habis minumannya.
Dasar bocah ini, mau tapi tak punya nyali!
Anakku yang diseberang juga sudah menghabiskan satu gelas.
Sahabatku melirik padaku memberi isyarat, lalu kami berdua lanjut menuangkan minuman untuk mereka.
Karena diam-diam mengintip kami, mereka jadi agak merasa bersalah dan tanpa sadar minum gelas demi gelas.
Tak lama kemudian, wajah mereka mulai memerah dan tatapan mereka pada kami pun mulai berubah.
Sahabatku berdiri, lalu memapah anakku masuk ke kamar.
“Hans, ayo tante bawa kamu pergi istirahat.”
Sebelum pergi, sahabatku sempat mengedipkan mata padaku, memberi isyarat agar aku segera bertindak.
Pengaruh alkohol membuat orang lebih berani, ditambah lagi minuman itu sudah diberi sesuatu. Freddy jadi semakin berani, dia bahkan berani menatapku terus tanpa berkedip.
“Tante Tina, inimu besar sekali….”
Dari kamar terdengar suara tertahan anakku, sepertinya sahabatku sudah mulai bergerak.
Aku tertawa malu-malu, lalu dengan berani menggenggam tangan Freddy dan meletakkannya di depanku.
“Kalau begitu, coba kamu ukur sendiri seberapa besar ukurannya.”
Freddy tak menyangka aku akan melakukan itu. Gerakan tangannya sempat membeku, tapi kemudian langsung meremasnya dengan kuat.
Sudah lama aku tidak merasakan hal seperti ini, aku pun tanpa sadar mengeluarkan suara lirih.
Suara itu membuat napas Freddy jadi berat. Dia perlahan mendekatiku, lalu kedua tangannya mulai bergerak dengan sendirinya, meraba dan meremas tanpa ragu.
Dari dalam kamar terdengar suara sahabatku, sementara sorot mata Freddy semakin panas, seolah ingin melahapku habis-habisan.
Sentuhannya membuatku kehilangan kendali, tubuhku pun terus bergetar tanpa bisa kutahan.
Tiba-tiba, Freddy menggendongku dan meletakkanku di atas meja.
“Tante Tina, ini yang kamu mau, ‘kan? Aku nggak akan sungkan.”
Dia buru-buru merobek rokku dan memperlihatkan rahasia terlarang di dalamnya….