Bab 1
Di bagian timur Kota New York ada dua ahli waris. Satu adalah maniak kecepatan yang mendominasi arena balap, satu lagi adalah aktuaris genius yang mengendalikan arus modal.
Keduanya berasal dari keluarga terpandang dan sifat mereka berbeda jauh. Namun, mereka tumbuh bersama sejak kecil dan menjadi satu-satunya sahabat sejati. Mereka pernah berebut perhatian seorang gadis, juga berselisih karena taruhan di arena balap.
Namun, saat berusia 15 tahun, mereka sama-sama menggantungkan sebuah lencana tembaga di dada. Itu adalah hasil latihan ukiran tangan dari Mia di kelas kerajinan, dengan sebuah huruf "M" yang tergores di bagian belakang.
Saat itu, Mia duduk di bangku paling belakang kelas. Tak seorang pun tahu siapa identitas dia sebenarnya. Namun, kedua laki-laki itu mengenakan lencana tersebut selama 10 tahun penuh.
Entah itu saat berdiri di podium juara F1 atau saat mengetukkan palu pada investasi triliunan di bursa, lencana tembaga murahan itu selalu menempel di dada mereka dan tak pernah tergantikan.
Sampai akhirnya muncul Ella. Putri kesayangan dari keluarga konglomerat baru.
Ella menyulam sebuah emblem kain berhiaskan benang emas dan memberikannya kepada mereka.
Kain itu cuma benda biasa yang mirip dengan pernak-pernik murahan yang dijual di pasar loak. Namun, mereka malah sama-sama melepas lencana tembaga itu dan menggantinya dengan kain murahan yang diberikan Ella.
Mia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya diam-diam menyimpan foto lama mereka yang tercetak di sebuah koran usang.
Malam itu juga, dia menelepon ayahnya yang jauh di Sisilia. Nada bicaranya sangat tenang saat berkata, "Papa, aku menerima pernikahan politik ini."
Sudut pandang: Mia
Di seberang telepon, suara ayah terdengar penuh semangat, "Bagus! Tiga tahun lalu aku sudah ingin kamu pulang, tapi kamu bersikeras tinggal di New York. Aku akan segera pesan tempat pernikahan. Paling cepat mungkin bisa ...."
Tanpa menunggunya selesai bicara, aku langsung memotong, "Seminggu lagi saja!"
Ayah terdiam sejenak, lalu bertanya dengan ragu-ragu, "Cepat sekali? Kamu nggak ingin menjalin hubungan sama calon pasanganmu dulu?"
Aku menjawab dengan nada datar, "Nggak perlu. Ini cuma pernikahan politik. Aku akan pulang sehari sebelumnya."
Baru saja ayahku hendak bicara lagi, tiba-tiba pintu kamarku didorong terbuka. Aku spontan menutup telepon.
Ella masuk sambil memeluk setangkai besar mawar. Dengan nada ringan, dia bertanya, "Mia, kamu mau pergi jauh? Tapi minggu depan kita harus menghadiri pesta dansa, 'kan?"
Aku menatap mawar di pelukannya, lalu berkata dengan tenang, "Maaf, aku agak alergi dengan serbuk bunga. Bisa kamu keluarkan dulu bunganya?"
Usai bicara, aku beranjak membuka jendela. Namun di belakangku, aku mendengar suara tangisan. Ella menjatuhkan vas tanpa sengaja dan pecahannya berhamburan ke mana-mana.
Mawar-mawar berserakan di lantai. Dengan suara serak, dia berkata, "Mia, aku nggak tahu kalau kamu alergi serbuk bunga. Aku lihat Leo dan Max sering membelikanmu bunga, kukira kamu menyukainya. Aku benaran nggak sengaja, pecahan ini akan aku bersihkan. Tolong jangan marah padaku, ya ...."
Belum sempat dia mengakhiri kalimat, Leo dan Max yang melihat adegan itu dari luar langsung bergegas masuk.
Leo menggenggam tangan Ella dengan panik. Sementara itu, Max langsung menendang pecahan kaca ke arahku. Dalam kepanikan, salah satu serpihan kecil itu menggores kakiku. Aku refleks berlutut menahan sakit.
Namun, tak seorang pun dari mereka menoleh padaku. Di mata mereka hanya ada Ella yang tampak rapuh dan tak berdaya.
Leo yang emosinya selalu meledak-ledak, langsung menatapku penuh amarah begitu melihat setitik darah di tangan Ella. "Kenapa kamu tega memperlakukannya begitu? Dia bukan pembantumu! Setiap kali kamu sibuk, dia yang selalu membantumu merapikan rumah. Hal kecil begini saja kamu mau perhitungan?"
Max menyesuaikan letak kacamata di batang hidungnya. Sorot matanya tampak menyiratkan sedikit kekhawatiran. "Sudahlah Leo, jangan ribut dulu. Kita bawa dia ke rumah sakit sekarang."
Leo melotot padaku dengan kejam. Dia lalu menggenggam tangan Ella, berniat membawanya pergi.
Namun di ambang pintu, Ella malah berkata dengan hati-hati, "Memang agak sakit ... tapi aku nggak ingin Mia sedih. Kalian pergi lihat dia saja, tanganku ini cukup dioles obat, nggak apa-apa."
Max segera menggeleng. "Kalau sampai terinfeksi bisa repot. Lebih baik tetap dibawa ke rumah sakit."
Bahkan Leo yang biasanya keras kepala, kali ini mengangguk mengiakan.
Ella kembali menoleh padaku dengan ekspresi penuh dilema. "Tapi ... Mia sepertinya juga sedang nggak enak badan, 'kan?"
Leo tertawa sinis. "Dia takut kami menyalahkannya, makanya sengaja berpura-pura. Jangan pedulikan dia."
Max merapikan helaian rambut di pelipis Ella. Dia bahkan tidak menoleh sedikit pun padaku saat berkata, "Bagaimanapun, nggak semua orang sebaik dirimu."
Aku hanya bisa memandang punggung mereka yang perlahan menjauh. Saat itulah aku benar-benar mengerti, sudah saatnya aku pergi.
Bab 2
Sudut pandang: Mia
Sebelum Ella datang, akulah orang yang paling penting di hati Leo dan Max.
Aku berasal dari sebuah keluarga mafia tua di Italia, tapi pada usia 15 tahun aku bersikeras mengikuti sepupuku ke New York untuk bersekolah di SMA. Awalnya, ayahku menentang keras. Namun karena terlalu sibuk dengan urusan keluarga, akhirnya dia tidak lagi mendesakku untuk pulang.
Saat itulah aku bertemu dengan teman-teman sepupuku, Leo dan Max. Setiap hari, Leo dan Max akan ikut sepupuku menjemputku pulang sekolah.
Akhir pekan, kami hampir selalu bersama. Demi membantuku bisa masuk ke universitas yang sama dengan mereka, keduanya bergantian mengajariku pelajaran. Bahkan dengan alasan belajar, mereka sampai menyingkirkan semua pria yang mencoba mendekatiku.
Ketika dewasa, Leo dan Max akhirnya memiliki karier masing-masing. Leo menjadi seorang pembalap, sementara Max sukses menjadi seorang aktuaris. Meski pekerjaan mereka sibuk, mereka tetap meluangkan waktu menemaniku bermain bisbol setiap kali liburan.
"Mia, tangkap bolanya, hebat!" Hari-hari sederhana itu membuatku merasakan kebahagiaan seorang gadis biasa untuk pertama kalinya.
Sebagai putri seorang mafia, hampir semua orang tidak berani mendekatiku sejak kecil. Semua orang hanya bisa bersikap hormat dan menjaga jarak dariku. Kehadiran mereka membuatku merasa seperti gadis normal.
Itulah alasannya, meskipun ayahku selalu menentang, aku tetap memilih tinggal di New York dan tidak kembali ke Italia. Namun sejak Ella datang, semuanya berubah.
Ella berasal dari keluarga kaya. Namun karena hubungannya dengan Leo dan Max, dia sering muncul di rumahku. Bahkan, dia sering membantu membersihkan rumah. Aku tahu betul itu hanya cara dia menunjukkan dirinya sebagai gadis yang pengertian, rajin, dan bersih. Aku sudah menolak berkali-kali, tapi Leo justru menasihatiku.
"Mia, lagian Ella memang gadis yang penuh perhatian. Dia memang suka mengurus pekerjaan rumah. Pas banget kamu juga nggak pandai beres-beres, biar dia yang bantu kamu!"
Aku sebenarnya tidak ingin menyetujui, tetapi juga tak sanggup menolak permintaan Leo dan Max. Namun sejak hari itu, hidupku berubah.
Leo memang masih membawakan kue untukku, tapi sekaligus juga akan membawakan seporsi yang lebih besar untuk Ella. Saat Max membeli pakaian, dia juga akan membeli sepotong untuk Ella dan ukurannya selalu pas sekali.
Hal-hal seperti itu semakin sering terjadi, sampai-sampai aku tidak bisa lagi mengingat detailnya satu per satu.
Lencana tembaga di dada Leo dan Max, itu adalah benda yang kuukir sendiri dan kukalungkan untuk mereka. Sudah sepuluh tahun lamanya mereka mengenakan lencana itu dan tidak pernah melepasnya.
Namun sejak Ella datang, lencana itu raib entah ke mana, berganti dengan emblem kain bersulam benang emas pemberian Ella. Mereka seolah lupa, dulu orang yang paling mereka cintai adalah aku.
Untunglah, ketika menghadapi lamaran mereka berdua, aku tetap tidak tergoyahkan. Aku tidak memilih salah satu dari mereka. Aku menandai sebuah lingkaran di kalender, hari itu adalah hari pernikahanku dengan seorang pria asing.
"Permainan antara kita berempat, cukup sampai di sini!"
Karena sudah memilih untuk pergi, pekerjaan di New York pun harus kuserahkan. Aku mengajukan surat pengunduran diri.
Atasanku yang menerimanya, langsung mengerutkan kening. "Mia, pekerjaanmu baru saja mulai stabil, kenapa tiba-tiba mau berhenti? Apa terjadi sesuatu? Kalau perlu, aku bisa memberimu cuti."
Aku menggeleng pelan. "Nggak usah, terima kasih atas perhatian Anda selama ini. Hanya saja, ayah saya sudah mendesak berkali-kali. Saya harus pulang dan menikah."
Mendengar hal itu, atasanku hanya bisa mengangkat bahu dengan pasrah. "Selamat, ya! Tapi memang terlalu mendadak."
Aku hanya tersenyum tanpa menjawab. Memang terlalu mendadak, bahkan aku sendiri juga tak menyangka. Hanya tersisa satu minggu lagi, aku akan menikah dengan seorang pria yang bahkan belum pernah kutemui.
Aku berkemasd an memasukkan barang-barang ke dalam mobil. Tiba-tiba, ponselku berdering. Nama yang muncul di layar adalah Ella.
Sebenarnya aku tidak ingin mengangkat telepon itu. Namun mengingat terakhir kali dia menyalakan kompor hingga dapur hampir kebakaran, aku pun menahan diri dan menjawabnya. Terdengar suaranya yang manis dan manja bertanya, "Kamu beli kue belum pulang juga?"
Mendengar ucapannya, aku mengernyitkan kening dan berkata, "Aku beli ...."
Namun sebelum kalimatku selesai, Ella tiba-tiba menutup telepon. Tak lama kemudian, pesan singkat darinya masuk.
[ Mia, maaf ya barusan! Aku panik jadi salah tekan nomor. ]
[ Hari ini Leo dan Max mau merayakan untukku, soalnya aku akhirnya lulus dapat SIM! Nanti kalau kamu keluar, aku bisa antar kamu! Max hari ini masak sendiri lho! Leo juga beli kue dari toko favoritmu, bahkan rasa rum yang paling kamu suka. Kamu mau ikut bareng kami? ]
Aku melihat pesan itu, tanpa sadar tersenyum dingin.
Saat mobil berhenti di depan rumah, aku langsung melihat tiga sosok yang sibuk. Aku tak kuasa menahan tawa sinis, mereka benar-benar datang ke rumahku hanya untuk merayakan keberhasilan Ella dapat SIM?
Begitu aku mendorong pintu, seluruh ruangan penuh dengan dekorasi bertuliskan nama Ella. Rumahku seakan-akan sudah sepenuhnya menjadi milik Ella. Aku merasa kesal, tapi tetap diam dan tidak ingin menyela mereka bertiga.
Ella tiba-tiba menarik kedua pria itu dengan bersemangat sambil berkata, "Ini adalah momen paling membahagiakan dalam 20 tahun hidupku. Karena ada kalian, aku berharap setiap hari ke depannya, selalu ada kalian yang menemaniku."
Begitu ucapannya selesai, pandangan Ella terarah ke arah pintu, lalu melihatku berdiri terpaku di sana.
Dia pun berseru dengan penuh semangat, "Mia, kamu pulang untuk merayakan bersamaku ya?"
Bab 3
Sudut pandang: Mia
Aku tahu, ini semua hanyalah jebakan yang sudah diatur Ella dengan hati-hati. Dulu, aku sering marah karena hal seperti ini. Bahkan sempat menyalahkan Leo dan Max karena hanya melihat Ella dan seakan sudah melupakanku sepenuhnya.
Namun, sekarang aku sudah tidak peduli lagi. Lagi pula, beberapa hari lagi aku akan menikah dengan orang lain.
Aku menatap mereka bertiga dengan tenang dan berkata, "Selamat ya, sudah lulus ujian SIM."
Leo dan Max yang mendengar ucapan itu, langsung meletakkan barang di tangan mereka dan tidak berkata apa pun. Suasana seketika menjadi canggung dan dingin. Aku tidak menoleh lagi pada mereka, hanya berbalik lalu naik ke lantai dua.
Mulai hari ini, aku dan Leo serta Max ... hanyalah teman.
Malam itu juga, aku mulai mengemasi barang-barang penting di rumah karena berniat mengirimkannya lebih awal. Sementara barang-barang yang dibelikan Leo dan Max, semuanya kutinggalkan apa adanya. Aku sudah berencana setelah pergi nanti, aku akan menyuruh orang untuk mengemasnya dan mengirimkannya kembali pada mereka.
Namun, keesokan harinya saat orang yang kupanggil datang untuk memindahkan barang-barang itu, aku malah berpapasan dengan Leo dan Max yang baru saja masuk rumah.
Melihat tumpukan barang, ekspresi Leo seketika berubah, lalu bertanya, "Mia, bukankah itu barang-barang yang biasa kamu pakai? Kamu mau pindah ke mana?" Dia menunjuk ke arah truk ekspedisi yang terparkir di luar.
Aku tetap diam, hingga akhirnya Max yang membuka suara, "Mia, kamu mau pindah?"
Lantaran tidak ingin mereka mengetahuinya, aku hanya menjawab dengan samar, "Barangku terlalu banyak, jadi aku kirim sebagian pulang ke Italia."
Leo yang cenderung tidak terlalu peka pun tidak banyak bertanya. Namun, Max langsung menyadari ada yang aneh dan berkata, "Kenapa harus dikirim pulang? Kamu nggak betah tinggal di rumah ini?"
"Bukan nggak betah, cuma rasanya terlalu sempit. Lagian, sepupuku ...."
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, tiba-tiba ponsel Leo berdering. Begitu tersambung, suara Ella terdengar jelas, "Leo, hari ini aku sengaja buat kue kesukaanmu, tapi aku nggak melihatmu di lapangan latihan. Mobilku sekarang malah mogok di tengah jalan."
Begitu dia menjawab telepon itu, aku bisa mendengar suara Ella begitu manja dan jelas.
Max melirik ke langit yang sudah dipenuhi awan hitam, lalu berkata lembut ke telepon, "Kamu tunggu saja di sana, kami segera datang."
Begitu menutup telepon, keduanya langsung bergegas pergi.
Aku menatap langit yang sebentar lagi akan turun hujan deras, lalu menyunggingkan senyum dingin.
Pernah suatu kali saat hujan badai, mobilku juga mogok di tengah jalan. Aku menelpon Leo dan Max, tetapi tidak ada yang datang. Aku hanya bisa menggigil kedinginan di tengah hujan, sampai akhirnya mobil derek yang menyelamatkanku.
Namun ketika aku pulang, yang kulihat adalah mereka bertiga duduk bersama sambil menikmati makan malam romantis. Sementara itu, aku mengalami demam tinggi selama tiga hari karena kehujanan.
Mengingat semua itu, aku pun langsung menelpon maskapai dan memesan tiket pesawat.