Bab 1
Di tahun ketujuh pernikahan kami, Jefry Marson tampak kembali jatuh cinta.
Dia daftar di tempat gym dan sangat memperhatikan bentuk tubuhnya.
Saat aku sedang mengikat dasinya, Jefry tiba-tiba ingin mengganti dasi berwarna kotak merah.
Dia bilang, "Aku tiba-tiba mulai menyukai warna yang lebih cerah."
Saat membalas pesanku, Jefry yang serius tembek mengirimiku emoji yang imut, lalu segera dihapus.
Namun, dia tetap pulang tepat waktu, membawakanku bunga dan memasak untukku setiap hari.
Aku mencela diri sendiri karena pikiran konyolku. Jefry sangat mencintaiku, mana mungkin dia selingkuh?
Kebetulan suatu hari, aku menemukan kamera dashboard.
Jefry dan muridnya sedang berpelukan dan saling bermesraan di dalam mobil.
Aku pernah bertemu gadis itu, dia pernah makan di rumah dan memanggilku Bu Melda.
Gadis itu sangat ceria. Setiap kali berbicara, dia selalu melirik Jefry dengan penuh kekaguman.
Dalam video tersebut, Jefry mengingatkannya, "Jangan sampai Melda tahu. Dia sedang promil, aku tidak mau dia sedih. Aku sangat mencintainya."
Hatiku sangat kecewa. Ternyata Jefry mencintaiku sambil menyukai yang lainnya?
...
Aku menyalin dan mengirim video tersebut ke ponselku, lalu duduk melamun di tepi jalan.
Jefry menemuiku saat pulang kerja sambil membawa bunga mawar. Dia mengenakan setelan jas dan tampak anggun seperti biasanya.
"Melda, kenapa kamu nggak pulang?"
Dia menyerahkan bunga mawar padaku, sambil tersenyum, "Lihat, hari ini aku minta bos pilihkan yang paling segar untukmu."
"Bos bilang aku sudah beli bunga lili setiap hari selama tujuh tahun, kamu pasti bosan. Dia menyuruhku mencoba sesuatu yang baru. Bagaimana? Apa kamu suka?"
Aku tertegun sejenak ketika melihat bunga mawar di tangan Jefry.
Aku memijat dahiku, "Sudah kubilang aku alergi mawar."
Jefry tiba-tiba kaget, "Maaf, Melda. Aku terlalu sibuk dengan urusan di sekolah sampai lupa."
Dia langsung membuang bunga mawar itu ke tong sampah.
"Aku janji nggak akan ulangi kesalahan bodoh ini lagi."
Dalam tujuh tahun pernikahan kami, ini pertama kalinya dia tidak ingat kalau aku alergi mawar.
Mungkin ada orang lain yang menyukai mawar, Jefry hanya salah ingat.
Aku tiba-tiba teringat Kina Yapin, gadis di video tersebut.
Suaranya merdu, tubuhnya seindah buket mawar merah ini.
Dulu aku juga selalu dibilang cantik dan menawan. Saat baru pacaran dengan Jefry, kami selalu dipuji pasangan serasi.
Namun, tujuh tahun kemudian, perutku penuh dengan bekas suntikan promil.
Aku memandangi bekas cincin kawin di tanganku dan bergumam, "Jefry, menurutmu apa kita akan bersama selamanya?"
Ekspresi Jefry agak berubah. Tiba-tiba dia menggenggam erat tanganku dan menjawab dengan sungguh-sungguh, "Melda, kita bakal langgeng sampai tua, bahkan setelah mati kita tetap akan dimakamkan bersamapun."
"Hatiku hanya akan berdetak untukmu."
Jefry berjalan pulang dengan menggandeng tanganku. Dia berganti pakaian dan mulai memasak untukku.
Jefry adalah suami yang baik. Selama tujuh tahun menikah, dia selalu mengutamakanku dan tidak pernah membiarkanku memasak.
Melihat hidangan lezat di hadapanku, tiba-tiba aku merasa sulit untuk menelannya.
"Jefry, kamu..."
Saat aku memberanikan diri untuk bertanya tentang hubungannya dengan Kina, ponselnya tiba-tiba berdering.
"Tunggu sebentar."
Jefry mengeluarkan ponselnya untuk melihat pesan. Awalnya, dia mengerutkan kening, lalu segera menggelengkan kepala sambil mengambil foto hidangan di atas meja.
Dia mengeluh, "Murid sekarang memang menyebalkan! Masa bilang aku tampak tidak bisa memasak."
Jefry tidak menyadari kalau senyuman penuh kasih sayang muncul di wajahnya saat dia berbicara.
Aku terkejut, tanpa sadar aku merasa orang itu adalah Kina.
Aku bertanya, "Apa itu Kina?"
Dia mengangguk acuh tak acuh. "Ya, gadis ini sangat iseng dan banyak bicara, ubanku bertambah banyak saat mengajarnya."
Aku merasa agak sakit hati ketika mendengar ini.
"Kalau begitu, kenapa tidak biarkan dosen lain yang mengurusnya? Kamu bisa bepergian denganku untuk sementara waktu."
"Dulu kita memang mau pergi berbulan madu, tapi kamu ada urusan mendesak di kampus, jadi tertunda. Kebetulan sudah hampir mau liburan, gimana kalau bepergian denganku?"
"Nggak," tolak Jefry sambil mengerutkan kening.
"Nggak boleh menyerahkan mahasiswa pascasarjana di tengah jalan. Aku sudah berjanji akan memeriksa makalah mereka, jadi nggak punya waktu untuk liburan."
Mungkin menyadari kalau nadanya terlalu kasar, Jefry melembutkan nadanya dan menepuk kepalaku.
"Sabar, Melda. Setelah liburan ini, aku akan cuti untuk pergi bersamamu."
Hatiku terasa seperti ditusuk, darah mengalir tak berhenti.
"Nggak usah lagi."
Aku berdiri dan kembali ke kamarku.
Bab 2
Aku terbangun karena merasa haus di tengah malam. Aku hendak menepuk Jefry di sebelahku untuk mengambilkan segelas air, tapi malah menemukan dia sama sekali belum tidur.
Ponselnya menyala terang di ruangan yang gelap. Dia memunggungiku, agar tidak membangunkanku, ponselnya mungkin dalam mode senyap.
Aku diam-diam memperhatikan obrolan Jefry dan muridnya dari belakang.
Nama kontak yang dia buat untuk Kina adalah Kina Bunny. Aku melihat Kina sedang menanyainya.
[Apa kamu berhubungan seks dengan Bu Melda hari ini? Kamu bilang paling menyukai diriku yang manis seperti Bunny. Hari Selasa bukan masa suburnya, bukan?]
Ternyata inilah sebabnya Jefry membuat sebutan Kina Bunny.Nggak nyangka dia bahkan memberitahunya soal promil.
Jefry membalas, [Jangan memikirkan sesuatu yang nggak harus kamu pikirkan. Masalah aku dan Melda bukan urusanmu, kamu nggak bisa berbanding dengannya."
Keheningan di ujung sana membuat Jefry gugup. Dia mengirimkan emoji bingung.
Tak lama kemudian, Kina pun membalas dengan emoji imut.
[Baik, aku mengerti. Pak Jefry paling mencintai Bu Melda, Kina sangat patuh kok.]
[Apa Pak Jefry mau menghadiahi Kina, dengan membuatkanku iga rebus?]
Jefry sengaja belajar memasak hidangan ini karena aku dulu sering melewatkan makan di kelas.
Dia bilang, "Kamu selalu lupa makan, pasti karena belum ketemu sesuatu yang cocok di lidah, aku yakin akan menemukan hidangan yang selalu kamu idamkan."
Jadi, dia memasak berbagai macam hidangan untukku setiap hari. Akhirnya, dari ratusan pilihan, aku memilih iga rebus.
Hari itu, Jefry dengan bangga berkata, "Sekarang, kamu nggak bisa kabur lagi, aku telah menaklukkan perutmu."
"Mulai sekarang, hidangan ini khusus untuk Melda sayangku. Aku hanya akan masak untukmu."
Sekarang, aku malah melihat balasannya pada Kina.
[Baik, anggap saja ini hadiah untukmu.]
Jefry tertidur dengan puas, ponselnya tergenggam erat di tangannya. Dia bahkan tidak membalik badan.
Aku yang tidur di sampingnya sudah menangis.
Keesokan paginya, Jefry sibuk di dapur pagi-pagi sekali.
Melihatku bangun, dia bercanda denganku.
"Si Ngantuk, cuci tanganmu, ayo sarapan. Aku buatkan iga rebus kesukaanmu."
Aku mencibir dalam hati, 'Bukankah ini hanya sekalian buatkan punyaku?'
Aku berdiri di depan pintu dapur, sambil melipat tanganku dan menatapnya. "Apa tidak terlalu berminyak, makan iga rebus pagi-pagi begini?"
Takut ketahuan olehku, dia memasukkan kotak makan yang sudah dikemas ke rak penyimpanan.
Aku berbalik dan masuk ke kamar mandi. Aku khawatir air mataku akan mengalir tak terkendali.
Setelah Jefry berangkat ke sekolah, aku mengklik konsultasi pengacara.
"Tolong buatkan surat perjanjian cerai untukku, terima kasih."
Aku dan Jefry pacaran sejak kuliah. Saat baru menikah, kami tidak punya apa-apa, orang tuaku yang belikan rumah ini.
Setahun setelah pernikahan kami, karier Jefry berjalan lancar. Dia menjadi dosen di universitas ternama, penghasilannya cukup untuk menghidupi keluarga kami. Atas permintaannya, aku mengundurkan diri menjadi ibu rumah tangga.
Jadi, surat perjanjian cerainya sebenarnya cukup sederhana. Aku tidak menginginkan aset lainnya, aku hanya mau mengambil kembali rumah yang dibelikan orang tuaku pada kami.
Aku memiliki pendidikan yang layak, jadi mencari pekerjaan yang bagus tidak sulit bagiku.
Saat aku hendak mengirimkan surat perjanjian cerai yang telah disusun oleh pengacara pada Jefry, tiba-tiba aku menerima telepon dari rumah sakit.
"Bu Melda, Anda berhasil hamil. Usia kehamilan Anda tiga minggu. Selamat."
Bab 3
Aku menahan diri untuk tidak mengirimkan surat perjanjian itu, hatiku sangat kacau.
Aku dan Jefry sudah promil selama tiga tahun, tetapi tidak ada kabar baik dan sekarang aku hamil di saat seperti ini.
Aku menyentuh perutku, tiba-tiba aku ingin berusaha sekali lagi.
Jefry sangat mencintaiku. Kalau dia tahu aku hamil, pasti akan mengakhiri hubungannya dengan Kina.
Jadi, aku mengirimkan hasil tes kehamilan padanya.
Jefry langsung balas: [Melda, kamu hamil? Bagus! Aku akan menjadi ayah. Tunggu aku di rumah, aku akan segera kembali setelah pulang kerja.]
Namun, setelah menunggu lama, Jefry tidak kunjung muncul.
Hari sudah gelap, makanan di meja sudah dingin.
Aku agak gelisah. Aku pun menelepon Jefry beberapa kali, tapi ditolak olehnya. Aku tidak sabar, jadi pergi menemuinya di sekolah. Dia tidak ada kelas malam ini, semua murid yang kukenal menyapaku.
"Apa Bu Melda datang untuk menemui Pak Jefry? Aku melihatnya kembali ke asrama setelah mengajar."
Pihak kampus memang sengaja siapkan asrama untuk Jefry, tapi selain sesekali tidur siang, dia tidak pernah tinggal lama di sana.
Jefry selalu bilang, "Begitu kelas selesai, aku nggak sabar untuk kembali bersama Melda. Asrama ini kosong banget, nggak ada apa-apa di sana, nggak kayak di rumah yang penuh dengan jejakmu."
Aku sampai di asrama, mendapati lampu menyala dan pintunya sedikit terbuka.
Suara lembut Kina terdengar dari dalam, "Pak Jefry, aku buatkan cincin perak buatan tangan untukmu. Coba deh, lihat bagus nggak?"
Melalui celah pintu, aku melihat gadis itu dengan malu-malu menyelipkan cincin tersebut ke jari manis Jefry. Cincin perak itu dipakai barengan cincin kawin kami.
"Ukurannya pas, Pak Jefry. Pas banget, aku juga punya satu, dengan ukiran nama kita berdua."
Kina dengan gembira mengangkat cincin polos yang sama di jari manisnya sendiri.
Jefry tidak menahan tawa melihat kegembiraannya. Tiba-tiba, seolah terpikir sesuatu, dia melepas cincin tersebut dan buang ke bawah.
"Sudah kubilang, hubungan kita hanya sebatas fisik. Jangan coba-coba menggantikan Melda. Aku hanya akan memakai cincin kawinku dengan Melda di jari manisku."
Ekspresinya yang kejam agak meredakan suasana hatiku yang sudah buruk.
Kina terkejut, dia berlutut sambil menangis, mencari cincin itu.
"Maaf, Pak Jefry. Aku kebetulan melewati toko kerajinan tangan pasangan dan teringat kamu. Aku tak bermaksud menggantikan Bu Melda, tolong jangan marah. Kina tidak akan melakukannya lagi."
Kina menemukan cincin itu di bawah ranjang, lalu tertegun ketika melirikku sekilas di luar pintu.
"Ada apa?" tanya Jefry sembari mengerutkan kening.
"Nggak apa-apa."
Dia mengangkat matanya yang berlinang air mata, menyeka cincin itu berulang kali, lalu menggenggamnya erat-erat.
"Pak Jefry, aku mencintaimu. Cintaku murni..."
Kina berjinjit dan menciumnya. Jefry mencoba mendorongnya, tetapi dia tak kuasa menahan kelembutannya.
Akhirnya, Jefry mendesah pelan dan membalas ciumannya sekuat tenaga.
"Sayang, aku bisa memberimu apa pun kecuali cintaku."
Hatiku naik turun bersamaan dengan mereka, akhirnya larut menjadi buih di mulut mereka, yang kutelan bersama remah-remahnya.
Merekalah yang berselingkuh, tapi aku yang merasa sangat malu.
Lalu, aku berbalik dan pulang.
Setelah banyak pertimbangan, aku mencetak surat perjanjian cerai dan meletakkannya di meja samping ranjang Jefry.