Bab 4
Richelle hanya merasa kepalanya berdengung keras. Otaknya benar-benar berhenti bekerja pada saat itu. Dia tahu apa arti masuk ke kamar hotel bersama seseorang, tetapi dia tidak ingin menebak.
Dalam hatinya masih ada sedikit harapan. Mungkin Dave hanya mengantar Stevie kembali ke kamar?
Dia berjalan sampai ke depan pintu kamar. Namun, ketika dari balik pintu terdengar suara keduanya, suara napas tertahan yang tak bisa disembunyikan dan suara air yang seolah-olah penuh keintiman, harapan itu lenyap seketika.
Richelle tidak menerobos masuk. Dia sudah cukup menyedihkan, jadi tidak ingin membuat dirinya semakin terpuruk.
Sambil menutup mulut dengan tangan, dia menahan tangisan yang hampir pecah, lalu terhuyung-huyung melarikan diri dari hotel.
Malam itu, Richelle duduk di sofa menatap ke luar jendela. Dia terdiam sepanjang malam. Di kepalanya terus muncul bayangan tentang apa yang mungkin terjadi di kamar itu setelahnya, membuat hatinya sakit sampai tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Keesokan harinya, Dave baru pulang ke rumah. Pakaian di tubuhnya kusut parah. Ada noda cairan yang tidak jelas dan seluruh tubuhnya berbau parfum Stevie.
Mata Richelle merah karena semalaman tidak tidur. Dia menatapnya dan berkata pelan, "Kamu tidur dengan Stevie semalam."
Gerakan Dave yang sedang melepas dasi terhenti sejenak. Kemudian, dia membuka mulut. "Maaf, aku tahu ini salahku. Tapi semalam dia terminum sesuatu. Efek obatnya kuat dan hanya aku yang bisa membantunya ...."
"Tapi kalian tetap tidur bersama. Kamu masih ingat kalau kamu punya tunangan?" Suara Richelle bergetar. Tubuhnya gemetar saat berjalan mendekati Dave.
Dave yang tidak tidur semalaman merasa kepalanya berat dan kesabarannya pun menipis. "Aku sudah bilang aku hanya membantu. Dan itu hanya sekali. Jangan berpikir terlalu banyak. Aku pasti akan menikahimu. Pernikahan akan segera diadakan, jadi jangan membuat masalah."
Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan pergi dari rumah, seolah-olah tidak ingin menghadapi Richelle yang menurutnya sedang bersikap tidak masuk akal.
Pintu tertutup dengan keras. Richelle terjatuh ke lantai tanpa tenaga. Air mata mengalir tak terkendali. Namun, entah kenapa dia malah tertawa.
Dia merasa dirinya benar-benar bodoh. Sudah tahu Dave hanya memiliki rasa tanggung jawab terhadapnya, tetapi dia masih berharap akan sesuatu.
Entah sudah berapa lama duduk di sana, akhirnya dia seperti mayat hidup yang berjalan menuju kamar dan terlelap begitu saja.
Richelle terbangun karena ditarik paksa oleh Dave. Dia menyeretnya keluar dari rumah dan memasukkannya ke mobil, tanpa peduli seberapa keras Richelle berusaha melepaskan diri.
"Dave! Apa yang kamu lakukan?"
Mobil melaju kencang. Suara Dave gelap dan dingin. "Kamu tanya aku ngapain? Aku sudah bilang jangan bikin keributan! Kenapa kamu memotret dan menggunakan foto ranjang untuk mengancam Stevie?"
Richelle kebingungan. "Aku nggak melakukan hal seperti itu!"
"Kalau bukan kamu, siapa lagi? Siang ini Stevie meninggalkan surat pengunduran diri, lalu naik ke atap gedung! Kalau sampai dia kenapa-napa, aku nggak akan memaafkanmu!" Dave menggertakkan giginya dengan penuh amarah dan kebencian.
Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Richelle ditarik ke atap. Di sana, tampak Stevie sedang duduk di tepi, tampak rapuh dan putus asa.
Orang-orang yang ingin melihat sudah diblokir di bawah, jadi di atap hanya ada mereka bertiga.
Dave menatap Stevie dengan cemas. Suaranya lembut. "Stevie, aku sudah membawanya ke sini. Dia akan berjanji nggak akan menyebarkan foto-foto itu. Turunlah, di atas sana sangat berbahaya."
Dia sama sekali tidak memberi Richelle kesempatan untuk menjelaskan, menuduhnya begitu saja. Hatinya terasa seperti ditusuk jarum berkali-kali.
"Aku sudah bilang bukan aku pelakunya," kata Richelle dengan dingin.
Stevie berdiri. Matanya dipenuhi kesedihan saat berujar, "Dokter, setelah foto-foto itu tersebar, reputasiku pasti hancur. Lalu apa gunanya aku hidup?"
Dave panik luar biasa. Sambil menarik Richelle, dia perlahan mendekat. Suaranya bergetar. "Stevie, jangan bertindak gegabah. Aku nggak akan membiarkan foto itu tersebar ...."
Dia menenangkan Stevie sambil terus mendekat, hingga hanya berjarak dua langkah.
Saat Stevie sedikit lengah, Dave langsung melepaskan Richelle dan menarik Stevie ke dalam sisi atap. Namun, tubuh Richelle yang tertabrak kehilangan keseimbangan dan jatuh dari lantai empat.
Segalanya terasa melambat. Pemandangan Dave yang panik dan memeluk Stevie erat di pelukannya sungguh menusuk mata Richelle.
Richelle jatuh bebas. Dia menatap langit biru di atas sana, memejamkan matanya dengan putus asa.
Rasa sakitnya jauh lebih menyiksa daripada yang dia bayangkan. Bahkan air matanya pun belum sempat jatuh sebelum kesadarannya hilang.
Bab 5
Saat membuka mata lagi, Richelle sudah terbaring di ranjang rumah sakit. Seluruh tubuhnya terasa seperti remuk. Dia bahkan sudah tidak tahu lagi ini kali keberapa dia masuk rumah sakit.
Saat itu, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Itu panggilan dari petugas polisi yang biasa dia beri uang untuk menjaga ibunya. "Bu Richelle, ibumu di penjara sedang mendapat 'perlakuan khusus'. Apa kamu menyinggung seseorang?"
Napas Richelle sontak terhenti. "Kamu bilang apa?"
"Ada orang yang menyuruh atasan untuk 'mengurus' ibumu. Sekarang dia nggak diberi makan, ditindas oleh teman satu sel, dan setiap hari dipaksa berjemur di bawah matahari selama sepuluh jam!"
Kata-kata itu seperti petir di siang bolong. Dunia Richelle seakan-akan berputar. Suara di ponsel semakin lama semakin jauh.
Pintu kamar rumah sakit tiba-tiba terbuka dengan keras. Dave masuk.
Richelle perlahan mengangkat kepalanya, menatapnya, dan tiba-tiba semuanya menjadi jelas. "Kamu yang melakukannya."
Hanya Dave yang mampu melakukan hal seperti ini. Apalagi dia masih menganggap Richelle yang mengancam Stevie.
Wajah Dave tidak menunjukkan sedikit pun rasa bingung atau terkejut.
Richelle menatapnya seperti menatap orang asing. Suaranya bergetar. "Ibuku pernah menolong keluargamu. Kamu nggak bisa memperlakukannya seperti ini. Kesehatannya sangat buruk. Dia nggak akan sanggup menahan siksaan seperti itu."
Dave berjalan mendekat, lalu menekan pipi Richelle. Matanya dingin. "Benar, dia memang berjasa pada keluarga kami. Tapi bukan pada Stevie. Kalau kamu punya masalah, datanglah padaku. Semua ini aku yang tanggung. Tapi kenapa kamu harus menyakiti orang yang nggak bersalah?"
Pada akhir kalimatnya, cengkeramannya begitu kuat hingga wajah Richelle terasa seperti akan remuk.
Richelle menatapnya dengan mata penuh keteguhan. "Aku nggak mengambil foto itu, juga nggak pernah mengancam Stevie. Kalau kamu nggak percaya, periksa saja rekaman CCTV di depan hotel."
"Kalau bukan kamu, siapa lagi? Stevie berkepribadian lembut, nggak pernah punya masalah dengan siapa pun, kecuali kamu." Tatapan Dave dingin.
Tidak peduli seberapa keras Richelle membela diri, dia sudah memutuskan untuk tidak memercayai wanita itu.
Richelle menahan senyuman getir. Air mata menetes dari sudut matanya dan jatuh di punggung tangan Dave.
Dave merasakan kehangatan itu, seolah-olah ada sesuatu di dalam hatinya yang tersentuh sesaat, lalu padam lagi.
"Baiklah, aku tahu aku salah. Tolong suruh mereka lepaskan ibuku. Aku nggak akan pernah mendekati Stevie lagi."
Richelle menunduk, akhirnya menyerah. Dia tidak ingin lagi melawan karena semuanya hanya sia-sia. Dia hanya ingin ibunya selamat. Dia masih ingin membawa ibunya pergi dari sini.
Melihat Richelle mulai melunak, genggaman Dave pun mengendur. Nadanya ikut melembut. "Aku juga nggak ingin menyakiti Bibi. Tapi Stevie nggak bersalah. Dia juga nggak akan muncul lagi dalam kehidupan kita nanti. Kalau kamu nggak mau berhubungan dengannya, nggak apa-apa. Tapi jangan lukai dia."
Richelle merasakan keningnya disentuh lembut oleh kecupan singkat. Dia hanya mengangguk dengan tatapan kosong, seperti boneka tanpa jiwa.
Sayangnya, meskipun dia sudah begitu patuh, dia tetap saja gagal menyelamatkan ibunya. Keesokan harinya, Richelle menerima telepon dari penjara. Sepanjang perjalanan ke sana, pikirannya kosong. Ketika tersadar kembali, dia sudah berada di depan kamar jenazah.
Di atas ranjang dorong yang baru saja dibuka kainnya, terbaring ibunya. Wajahnya pucat tanpa suara ataupun napas. Richelle jatuh berlutut. Tangannya gemetar. Dia sampai tidak berani menyentuh tubuh ibunya.
Suaranya serak. Air matanya menetes di wajah ibunya yang dingin, tak mampu membawa sedikit pun kehangatan kembali. "Ibu ... bukankah Ibu bilang mau pergi bersamaku .... Bangunlah .... Kita sebentar lagi akan pergi .... Kenapa ... kenapa ...."
Di sampingnya, petugas polisi menjelaskan dengan lirih, "Serangan panas. Saat ditemukan, sudah terlambat."
Hari itu juga, Richelle membakar jenazah ibunya. Upacara pemakaman hanya dihadiri olehnya seorang diri.
Sebelum pemakaman dimulai, dia menelepon Dave 19 kali. Semuanya tidak diangkat. Saat hendak menutup telepon, dia melihat video terbaru di akun Stevie.
Video itu diambil di sebuah konser besar. Di sebelah Stevie, seorang pria menunduk dan menatapnya dengan lembut. Itu adalah Dave yang dicari-cari oleh Richelle.
Suara dalam video bising, lampu-lampu berkelap-kelip. Semua itu mengingatkannya pada masa lalu, ketika dia pernah mengundang Dave menonton pertunjukan band-nya di klub musik live.
Dave menjawab, "Kamu tahu aku nggak suka tempat yang ramai dan berisik."
Sekarang, dia rela menemani Stevie ke konser yang padat orang seperti itu. Richelle menatap layar, tersenyum getir, lalu tidak menelepon lagi.
Di rumah duka, dia membeli sebuah kalung, lalu memasukkan abu ibunya ke dalam kalung itu dengan tangannya sendiri. "Ibu, aku akan bawa Ibu pergi."
Bab 6
Richelle pulang larut malam. Di perjalanan turun hujan deras. Ketika tiba di rumah, seluruh tubuhnya sudah basah kuyup.
Begitu membuka pintu, Dave sudah pulang. Richelle sama sekali tidak menoleh ke arahnya dan langsung berjalan ke lantai atas. Baru saja sampai di tangga, tubuhnya tiba-tiba diselimuti oleh handuk dari belakang.
Suara Dave terdengar khawatir. "Kenapa nggak suruh aku jemput? Kamu sampai basah begini."
'Kalau aku minta kamu datang, kamu akan datang?' Kilatan sinis melintas di mata Richelle. Dia menepis tangan Dave dan naik ke lantai atas.
Setelah mandi dan keluar dari kamar mandi, Richelle melihat Dave sedang meniup segelas teh jahe agar tidak terlalu panas.
Sebenarnya Dave adalah orang yang sangat bertanggung jawab. Kalau tidak, mana mungkin selama lebih dari sepuluh tahun ini Dave begitu memperhatikannya, sampai-sampai Richelle sendiri tidak bisa membedakan antara rasa tanggung jawab dan cinta.
Begitu melihatnya keluar, Dave menarik Richelle duduk di tepi tempat tidur, lalu menyuapinya satu demi satu sendok. "Panas nggak? Cepat habiskan. Sebentar lagi kita akan menikah, jangan sampai kamu flu di waktu seperti ini."
Richelle menunduk, diam, dan meneguk habis minumannya. Ketika menatap punggung Dave yang keluar dari kamar, hatinya terasa hampa.
'Dave, seperti yang kamu mau, nggak akan ada pernikahan lagi ....'
Keesokan harinya, Richelle pergi ke kantor imigrasi untuk mengurus visa. Begitu keluar dari gedung, dia berpapasan dengan Dave dan para mahasiswa magangnya.
Dave melihat ke arah Richelle keluar, lalu sedikit mengerutkan kening. "Ngapain kamu ke sini?"
Richelle menjawab dengan tenang, "Ada anggota band yang mau ke luar negeri, aku bantu urus."
Dave tidak menanyakan lebih jauh. Bagaimanapun juga, dia tak pernah membayangkan kalau orang yang sebenarnya akan ke luar negeri itu adalah Richelle sendiri.
Salah satu mahasiswa magang berkata, "Hari ini kami mau makan bareng, Bu Richelle ikut juga ya."
Dave menambahkan, "Ayo, nanti kita pulang bareng."
Akhirnya, mereka makan di sebuah restoran hotpot. Richelle sempat melirik Dave. Karena dulu, setiap kali dia mengajak Dave makan hotpot, Dave selalu menolak dengan alasan baunya terlalu kuat.
"Aneh juga ya, biasanya Dokter Dave nggak suka tempat begini," ujar salah satu asisten sambil menyilangkan tangan. "Ini karena Stevie suka makan. Apa pun yang Stevie mau, mau itu hotpot, seblak, jajanan pinggir jalan, Dokter Dave pasti temani."
Richelle menunduk dan tersenyum getir, tak mengatakan apa pun.
Begitu duduk, mereka langsung menempatkan Dave dan Stevie bersebelahan, lalu seolah-olah baru sadar akan kehadiran Richelle. "Ah, maaf, Bu Richelle, aku lupa kamu ikut. Soalnya biasanya Dokter Dave selalu duduk bareng Stevie waktu makan bareng begini. Kamu nggak marah, 'kan?"
Rasa perih halus menjalar di dadanya. Richelle menggeleng pelan dan duduk di seberang mereka. Dari sana, dia bisa melihat jelas Dave yang membantu Stevie mengenakan celemek, mencampurkan bumbu sesuai seleranya. Pria itu tidak makan, hanya sibuk menyiapkan makanan untuk pujaan hatinya.
Richelle menggenggam sumpit erat-erat dan menunduk menatap mangkuknya.
Dave akhirnya menyadari keheningannya, lalu mengambilkan makanan secara asal dan menaruhnya di mangkuk Richelle. "Makan yang banyak."
Melihat potongan konyaku di mangkuknya, Richelle tersenyum pahit dan menyingkirkannya ke samping. Sejak kecil Richelle alergi parah terhadap konyaku, bahkan nyaris kehilangan nyawa karenanya. Sayangnya, Dave sudah melupakannya.
Selama makan, Richelle terus menunduk, tak menatap mereka sedikit pun. Sampai akhirnya, Stevie tiba-tiba bersuara, "Bu Richelle, kalungmu indah sekali. Boleh aku lihat sebentar?"
Richelle refleks memegang kalung di dadanya erat-erat dan hendak menolak, tetapi orang yang duduk di sebelah langsung meraih dan menarik kalung itu dari lehernya secara paksa. "Bu Richelle nggak mungkin pelit begitu, lihat saja."
Richelle mengulurkan tangan untuk menghentikan orang itu, lalu memandang Dave sambil berseru, "Nggak boleh!"
Dave tampak tidak senang karena Richelle membentak begitu keras. Alisnya berkerut. "Cuma kalung doang, kenapa sih? Biar Stevie lihat sebentar, apa salahnya? Sebelumnya aku bilang apa ke kamu?"
Bagaimana bisa pria ini tega menyebut hal seperti itu? Richelle menatapnya ketika Dave mengulurkan tangan untuk mengambil kalung itu untuk diberikan kepada Stevie. Dia berusaha merebutnya kembali.
Melihat itu, Stevie juga ikut mengulurkan tangan. Dia berpura-pura menolak. "Kalau Bu Richelle nggak kasih, ya sudah."
Namun, setelah ucapan itu dilontarkan, kalung itu terlepas dari tangan mereka dan jatuh ke panci panas hingga menyipratkan kuah ke tangan mereka.
Richelle panik dan hendak segera mengambilnya, tetapi jarinya langsung tersengat panas mendidih. Rasa sakitnya begitu tajam, seolah-olah jari-jarinya terpotong.
Biasanya dalam keadaan seperti ini, Dave akan segera menolongnya. Namun kali ini, saat Richelle mencari sosoknya dalam kepanikan, yang dia lihat justru Dave sedang memegang tangan Stevie yang sedikit melepuh, meniupnya dengan lembut.
Melihat Stevie hampir menangis, Dave langsung membawanya ke rumah sakit, bahkan tak sedikit pun menoleh pada Richelle yang hampir pingsan karena kesakitan.
Ketika Richelle akhirnya bisa kembali bernapas dengan tenang, restoran hotpot itu hampir tutup. Dia meminta staf restoran untuk membantu mengambil kalungnya dari panci. Setelah berhasil, Richelle membuka liontin yang penuh minyak itu. Abu di dalamnya sudah seluruhnya larut ke dalam kuah.
Richelle terduduk di lantai, memeluk kalung itu erat-erat, dan menangis pilu di restoran yang sunyi. Suaranya parau dan putus asa.
Seumur hidup ini, Richelle tidak akan pernah memaafkan Dave lagi.