Bab 3
Melihat dua pria di depannya yang terlihat tegang, Wenny berkata dengan tenang, "Ini hanya foto saja, bisa difoto lagi nanti."
"Karena sudah habis terbakar, nanti kita foto ulang saja. Kebetulan kita sudah lama nggak pergi liburan."
Yoga mencoba menenangkan situasi dan Sandro segera menambahkan, "Kali ini kita juga bisa ajak Hana. Dia sering bilang kalau dia belum pernah pergi liburan sebelumnya."
Mendengar kata-kata Sandro, Wenny kembali tersenyum pahit, menertawakan dirinya sendiri.
Yoga dan Sandro mengira dia setuju dengan usulan ini, dan langsung menghela napas lega.
Ketika mereka hendak masuk ke dalam, mereka melihat beberapa kotak besar yang tiba-tiba ada di ruang tamu. Tadi pagi saat mereka keluar, kotak-kotak ini belum ada di sana.
"Apa lagi ini?" Keduanya bertanya serempak.
Wenny melirik sejenak, lalu berkata, "Oh, aku sudah mengundurkan diri, rencananya mau cari pekerjaan baru."
Bukankah sebelumnya dia sangat menyukai pekerjaan ini?
Pertanyaan yang sama terlintas di benak Yoga dan Sandro.
Hari ini, sikap Wenny terasa sangat berbeda, dan entah kenapa, hati Yoga dan Sandro mulai gelisah.
Sandro hendak bertanya lebih lanjut, tetapi dering telepon tiba-tiba memecah keheningan.
Yoga menjawab telepon dan terdengar suara Hana di seberang yang panik dan kebingungan.
"Yoga, di rumahku tiba-tiba mati lampu. Aku takut sekali … aku harus bagaimana?"
Sandro, yang mendengarnya, langsung bereaksi cepat dan berbicara mendahului Yoga, "Hana, jangan takut. Aku akan segera ke sana."
Yoga mengernyitkan dahi, wajahnya yang biasanya tenang jelas menunjukkan ketegangan.
Karena begitu khawatir terhadap Hana, Yoga dan Sandro langsung mengambil kunci mobil dan buru-buru pergi.
Sementara itu, Wenny tetap tenang, dan setelah mereka pergi, dia menelepon tantenya.
Saat kecil, dia diasuh oleh tantenya, Reyna yang memperlakukannya dengan sangat baik, seperti anak sendiri.
Sekarang, karena akan pergi, dia ingin berpamitan dengan baik.
Mendengar bahwa Wenny ingin pulang untuk menikah, tantenya berbicara dengan berat hati, tetapi rasa kagetnya lebih besar. "Wenny, apa Yoga dan Sandro tahu kamu mau pulang untuk menikah?"
Wenny terdiam sejenak sebelum menjawab, "Mereka nggak tahu. Tante, tolong bantu aku merahasiakan ini. Aku nggak mau ada masalah lagi."
Setelah mendengar itu semua, Tante Reyna di ujung telepon terdiam sejenak.
Tante menghela napas panjang. "Aduh, memang, dari kecil hingga besar kamu itu kesayangan mereka. Siapa pun bisa melihat bahwa kedua anak itu menyukai kamu. Kalian selalu bersama, aku bahkan berpikir kamu akan memilih salah satu dari mereka untuk dinikahi, sayang sekali ...."
Wenny tersenyum tipis dan berkata dengan tenang, "Nggak ada yang perlu disayangkan. Kami memang nggak cocok."
Mendengar itu, Tante tidak memaksa lagi, hanya berkata, "Wenny, Tante tahu kamu pada akhirnya akan pulang. Tapi, Tante nggak menyangka akan secepat ini. Tante sudah melihatmu bertumbuh sejak kecil. Sebelum kamu pergi, mampir dulu ya. Kalau kamu sudah kembali ke Kota Jintara nanti, kita nggak tahu kapan bisa bertemu lagi ...."
Wenny tersenyum, suaranya terdengar sedikit manja. "Tentu saja, Tante. Aku punya beberapa hadiah untuk Tante. Aku juga sebenarnya nggak ingin berpisah dengan Tante."
Setelah itu, tantenya masih terus berbicara panjang lebar sebelum akhirnya menutup telepon.
Baru saja dia menutup telepon, telepon lain sudah masuk.
Kali ini, dari direktur perusahaan tempat Wenny bekerja.
"Wenny, karya desainmu sebelumnya memenangkan penghargaan mewakili perusahaan. Piala penghargaannya baru saja sampai. Karena kamu sudah mengundurkan diri dan belum mengambilnya, aku minta anak magang untuk mengantarnya ke rumahmu."
Begitu direktur selesai bicara, bel pintu berbunyi.
Wenny menutup telepon, membuka pintu, dan melihat Hana berdiri di sana sambil memegang piala penghargaan itu.
Bab 4
Hana memeluk piala itu, tetapi tidak ada kebahagiaan di wajahnya atas kemenangan Wenny. Dia juga tidak menyerahkan piala tersebut.
Dia malah menggigit bibirnya dan berkata dengan wajah sedih, "Kak Wenny, Direktur menyuruhku mengantarkan piala ini untukmu. Penghargaan ini sangat bergengsi, kamu hebat sekali."
"Aku mau meminta sesuatu, meski terdengar agak memalukan. Aku belum pernah menerima penghargaan ini, bisakah piala ini aku pinjam beberapa hari?"
Meminjam piala ini beberapa hari?
Ini pertama kalinya Wenny mendengar permintaan yang begitu konyol.
Dia mengernyitkan dahi, lalu tersenyum dingin seraya berkata, "Kalau sudah tahu agak memalukan, sebaiknya jangan ajukan permintaan seperti itu. Kalau kamu benar-benar mau, ikut saja kompetisi itu dan menangkan sendiri."
Setelah itu, dia mengulurkan tangannya untuk mengambil pialanya dari pelukan Hana.
Tidak menyangka sikap Wenny begitu dingin, wajah Hana langsung pucat, tampak seperti sangat tertekan. "Kak Wenny, kenapa kamu bicara seperti itu? Aku bukan mau mengambil milikmu, hanya menyimpannya di rumah sebagai motivasi untuk diriku sendiri, apa itu nggak boleh?"
Melihat Wenny berusaha mengambilnya, Hana memeluk piala itu dengan makin erat, tidak mau melepaskannya.
Di tengah perebutan itu, piala kristal tersebut jatuh ke tanah dengan suara keras dan seketika hancur berkeping-keping.
Yoga dan Sandro yang saat itu kebetulan lewat dan melihat kejadian tersebut, segera berlari mendekat dan langsung melindungi Hana dalam pelukan mereka.
"Hana!"
Keduanya mengelilingi Hana dengan wajah penuh kecemasan, dengan hati-hati memeriksa apakah dia terluka.
Yoga mengangkat rok Hana sedikit dan melihat kakinya berdarah akibat pecahan kaca. Dia meringis, menunjukkan rasa sakit dan kekhawatiran yang mendalam.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit!"
Tanpa menghiraukan keberatan Hana, Yoga langsung menggendongnya dan pergi.
Sementara itu, melihat pecahan kaca yang berserakan di lantai, ekspresi Sandro berubah muram. Lalu, dia bertanya dengan nada menuduh, "Wenny, kamu sudah punya segalanya. Kenapa kamu masih harus berebut barang dengan Hana?"
Berebut?
Mendengar kata itu, Wenny hampir tertawa karena marah.
Piala ini milikku. Aku berjuang selama tiga bulan untuk meraihnya. Ini adalah penghargaanku. Dia memeluknya seperti orang paling malang dan nggak mau melepaskannya. Tapi, sekarang kamu bilang aku yang merebutnya dari dia?
Dengan tubuh yang sedikit bergetar karena marah, dia menunjuk pecahan kaca di lantai dan berbicara dengan suara sedingin es.
"Sekarang dia bahkan sudah menghancurkan pialanya. Aku ingin Hana minta maaf padaku."
Wenny berpikir beberapa kata itu sudah cukup untuk menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Namun, tidak disangka Sandro justru tambah marah dan suaranya makin tinggi. "Aku pikir ada masalah besar, ternyata hanya sebuah piala. Mau berapa banyak pun bisa kamu dapatkan! Bagaimana mungkin itu lebih penting daripada Hana? Dia terluka karena kamu. Bukan dia yang harus minta maaf, tapi kamu yang harus minta maaf padanya!"
Setelah mengatakan itu, tanpa memedulikan reaksi Wenny, Sandro segera pergi untuk merawat Hana.
Melihat pecahan kaca yang berserakan di lantai, Wenny tertegun sejenak. Kata-kata Sandro terus terngiang di kepalanya.
Dia benar-benar menyuruhku meminta maaf kepada Hana?
Meminta korban untuk minta maaf kepada pelakunya?
Sandro, kamu benar-benar hebat! batinku.
Hatinya terasa sangat sakit, dan akhirnya dia menyadari bahwa kakinya sendiri juga terluka cukup parah.
Dia baru menyadari ada luka yang panjang dan dalam di kakinya, bahkan lebih parah dibandingkan Hana.
Wenny menggigit bibirnya sambil menahan rasa sakit, membersihkan pecahan di lantai, sebelum berbalik untuk mengobati lukanya sendiri.
Malam harinya, Wenny menerima pesan dari ibunya. Bu Maya mengirimkan lebih dari sepuluh model gaun pengantin dan memintanya memilih mana yang dia suka.
Wenny melihat semua model itu satu per satu sebelum menelepon ibunya.
Setelah berbicara sebentar, ibunya segera menyadari nada lelah di suara Wenny dan bertanya dengan cemas apakah ada sesuatu yang terjadi.
Mengingat semua hal yang dialaminya hari itu, mata Wenny terasa panas, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa, malah mengalihkan pembicaraan. "Ibu, urusanku di sini mungkin akan selesai dalam seminggu. Bagaimana persiapan pernikahannya?"
Saat itu, Yoga dan Sandro baru saja pulang ke rumah.
Mendengar kalimat terakhir dari Wenny, mereka berseru bersamaan.
"Pernikahan? Pernikahan apa?"
Bab 5
Entah sejak kapan, telepon di tangan Wenny sudah terputus.
Dia menenangkan emosinya sejenak, lalu berkata, "Sahabatku akan menikah, kenapa? Apa kalian mau ikut?"
Saat ini, Yoga dan Sandro makin dingin terhadapnya. Setelah dia kembali ke Kota Jintara, mereka tidak akan bertemu lagi, bahkan mungkin tidak bisa dianggap sebagai teman lagi.
Jadi, tidak perlu mengatakan yang sebenarnya kepada mereka, bahwa dia akan pulang ke Kota Jintara untuk menikah.
Mendengar kata-kata itu, Yoga dan Sandro langsung saling berpandangan dan merasa agak aneh.
Namun, mereka tidak terlalu memikirkannya, dan hanya berkata dengan santai, "Nggak, kamu saja yang pergi, aku sibuk di kantor."
Setelah itu, seolah-olah masih marah karena Wenny membuat Hana terluka, dengan wajah dingin Yoga mengambil dokumen dan masuk ke ruang kerjanya.
Sandro juga memasang wajah masam dan berkata, "Hari ini Hana sampai terluka karena kamu, sebaiknya kamu minta maaf padanya. Kalau nggak, aku nggak tertarik menemani kamu ke acara pernikahan apa pun."
Selesai berbicara, dia pun melangkah cepat ke kamarnya sendiri.
Wenny hanya tersenyum pahit tanpa berkata apa-apa.
Keesokan paginya, Wenny bangun untuk menyiapkan sarapan.
Begitu keluar, dia melihat ruang tamu penuh dengan lebih dari sepuluh vas yang diisi bunga segar, mengeluarkan aroma harum yang lembut.
Serbuk bunga tertiup angin, menyebar memenuhi ruangan.
Wajah Wenny langsung pucat, napasnya makin memburu.
Dia menderita asma dan alergi terhadap serbuk bunga!
Dia berusaha keras untuk bernapas. Napasnya terdengar berat, dadanya naik turun, dan pandangannya mulai gelap.
Namun, udara yang masuk ke paru-parunya makin berkurang, dan membuatnya sangat sulit bernapas.
"Obat … "
Dengan ingatan yang samar, Wenny melangkah terhuyung-huyung ke arah kotak obat, mencoba mengambil obat asmanya.
Namun, tangannya meraba-raba tanpa tenaga, dan tanpa sengaja, dia menjatuhkan beberapa vas bunga di atas lemari.
Prang …
Vas itu jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping. Bunga dan air di dalamnya berserakan di lantai, membuat ruangan makin kacau.
Yoga dan Sandro segera datang begitu mendengar suara pecahan vas yang nyaring.
Melihat lantai yang berantakan, mereka tidak sempat memikirkan keadaan Wenny, malah langsung marah besar.
"Kamu sedang apa, sih?"
Saat itu, Wenny baru saja berhasil mengambil obatnya. Dia hampir tidak bisa menjawab pertanyaan mereka.
Namun, Sandro dengan wajah cemas buru-buru melangkah, mendorongnya ke samping, lalu berjongkok untuk memungut bunga di lantai.
"Ah … "
Tubuh Wenny yang lemah didorong cukup keras, membuat lututnya terbentur sudut lemari. Kulitnya langsung terkelupas, memar dan bengkak.
Dengan tangan gemetar, dia memegang botol obatnya, napasnya makin berat.
Akhirnya, dia berhasil membuka tutup botol dan menemukan kepala semprotnya.
Seperti menemukan penyelamat, dia menyemprotkan obat ke dirinya sendiri sambil berjalan ke sudut ruangan dengan terpincang-pincang.
Setelah obat masuk ke saluran pernapasannya, tenggorokannya yang kering dan sakit mulai terasa sedikit lega.
Dia nyaris kehilangan nyawanya, tetapi saat itu, Yoga dan Sandro masih sibuk membersihkan bunga dan pecahan vas di lantai.