Bab 1

“Nona Chinta, anda benaran mau ganti nama? Kalau sudah diganti, nanti ijazah, kartu identitas dan paspor, semuanya juga harus diganti.”

Chinta Luna mengangguk kepalanya: “Iya benar.”

Staffnya masih menasehatinya: “Orang dewasa ganti nama sangat ribet, namamu yang sekarang juga enak didengar, mau nggak dipertimbangkan lagi?”

“Enggak lagi.”

Chinta menandatangani formulir penggantian nama: “Terimakasih.”

“Baik, namanya mau diganti jadi Cahya Arjuna, benar?”

“Iya benar.”

Cahya Arjuna, adanya cahaya dalam perjalanan jauh.

“Nona Chinta, anda benaran mau ganti nama? Kalau sudah diganti, nanti ijazah, kartu identitas dan paspor, semuanya juga harus diganti.”

Chinta Luna mengangguk kepalanya: “Iya benar.”

Staffnya masih menasehatinya: “Orang dewasa ganti nama sangat ribet, namamu yang sekarang juga enak didengar, mau nggak dipertimbangkan lagi?”

“Enggak lagi.”

Chinta menandatangani formulir penggantian nama: “Terimakasih.”

“Baik, namanya mau diganti jadi Cahya Arjuna, benar?”

“Iya benar.”

Cahya Arjuna, adanya cahaya dalam perjalanan jauh.

Seperti rencana masa depan yang dibuatin buat dirinya sendiri.

Dia mau meninggalin sini.

Chinta bertanya: “Permisi, apakah aku sekarang bisa pergi ganti nama paspor?”

“Bisa, ini bukti penggantian nama, kamu ambil ini ke lantai bawah sudah bisa ganti nama di paspor.”

Chinta dengan gerakan cepat menggantikan namanya di paspor.

Tetapi yang lainnya, ijazah dan kartu keluarga tidak digantinya.

Satu minggu lagi dia akan menggunakan paspor dan pergi, identitas sebelumnya ditinggalin saja, dia sudah tidak perlu.

Membawa paspor barunya keluar dari gedung layanan, seberangnya adalah bangunan ikon kota B.

Layar besar di gedung itu sedang menyiarkan wawancara Ravi Kaden CEO dari Perusahaan Kaden Global.

MCnya sangat peka menyadari gerakan kecilnya, dengan senyum bertanya: “Pak Ravi, aku lihat anda terus memegang cincin peraknya, tapi...sepertinya itu cincin yang sangat biasa, apakah ada yang spesialnya?”

Ravi senyum dengan lembut, dan mengangkat tangannya, “Ini cincin nikahku.”

“Ah? Maaf sekali, aku kira dengan hartamu sekarang, cincin nikahnya pasti cincin berlian, dan karatnya akan besar.”

Ravi menjawab: “Cincin nikah ini aku yang buatin sendiri, memoles perlahan-lahan dan bagian dalamnya ukir namaku dan istriku.”

“Wah, benaran ada 2 nama, satunya RK dan ...”

Ravi melengkapinya: “CL, istriku namanya Chinta Luna.”

“Wah, benaran iri sama istrimu, di kehidupan sebelumnya dia pasti menyelamatkan galaksi makanya bisa menikah dengan Pak Ravi.”

Ravi hanya bilang: “Sebenarnya aku yang menyelamatkan galaksi makanya bisa menikahinya.”

Orang jalanan pada mengeluarkan suara yang iri.

Hanya tokoh utama dan kejadian.....

Chinta senyum dengan menyindir.

Dulunya, dia dan Ravi Kaden sungguh saling mencintai, dari seragam sekolah sampai gaun nikah, mereka bersama selama 15 tahun.

Di pandangan teman sekolah dan guru, mereka adalah sepasang yang penuh dengan cinta.

Sampai di 2 bulan yang lalu.

Chinta menerima foto yang dikirim orang nggak kenal.

Wanita itu kelihatannya baru 20an tahun, tapi memakai stoking yang menggoda dan lingerie. Dari lehernya sampai depan dadanya penuh dengan kecupan.

Tidak perlu dipikir pun tahu, dia baru melakukan pertempuran penuh kasih sayang.

Dia melakukan pose V ke depan kamera.

Di jari telunjuknya, ada 1 cincin perak yang kelihatan kebesaran, harusnya model cowok.

Di atas cincinnya, ada ukiran nama: RK&CL.

Lalu, dia di kantor Ravi Kaden pernah melihat wanita ini.

Namanya Nanda 21 tahun baru lulus kuliah, dia adalah asisten pribadi Ravi.

Saat itu, sebenarnya Chinta sedikit bingung.

Dia mau sekali masuk ke kantor Ravi dan menanyainya: “Asisten pribadi, apakah seks juga termasuk?”

Tapi dia menyerah.

Foto itu, tubuh Nanda penuh dengan kecupan, sudah ada jawaban yang sangat jelas.

Chinta keluar dan meninggalkan sekumpulan orang yang masih kaget dan iri, pergi ke toko pembuatan perhiasan.

Saat melepaskan cincin dari jari manisnya, hatinya sangat sakit.

“Nona, perhiasan apa yang mau anda buat?”

“Cincin ini, bantu aku leburin.”

“Cincin ini ada ukiran harusnya mempunyai makna spesial, benaran mau leburin?”

“Iya, tolong dipercepat.”

Setengah jam kemudian, Chinta membawa pulang satu kotak perhiasan yang sangat cantik.

Saat Ravi pulang sudah malam jam 10an.

Ravi membawa satu ikat bunga segar: “Maaf Chinta, belakangan ini sibuk kerja tidak menemanimu. Ini bunga kesukaaan freesia, suka nggak?

Saat Ravi mendekati, Chinta mencium adanya bau parfum wanita.

Kepalanya putar sedikit dan melihat di jakunnya ada bekas gigitan kecil。

Bagian kerah kemejanya juga ada bekas lipstik wanita.

Merah merah, sangat jelas.

Chinta senyum dingin, kamu itu sibuk kerja, atau sibuk di Nanda sana bercocok tanam?

“Kenapa tidak bicara?”

Chinta mendorongnya: “Hanya sedikit lelah.”

“Aku gendong kamu pergi tidur?”

Sambil ngomong, Ravi sudah menurunkan badannya, siap-siap untuk menggendong.

Chinta mendorongnya lagi: “Kamu juga sudah capek, buruan mandi dan istirahatlah.”

Ravi mengulurkan tangannya ingin bergandeng, tapi menyadari sesuatu: “Chelsia, mana cincin nikahmu?”

Bab 2

“Sudah kulepas.”

“Itu buatanku sendiri, bukti cinta kita, kenapa dilepas?”

Chinta dengan tidak serius berkata: “Belakangan ini gendutan, ukurannya sudah tidak cocok.”

Muka Ravi baru baikan dan kembali senyum: “Kalau gitu, lain hari aku bawain ke toko perhiasan untuk perbaiki ukuran.”

“Nanti lihat lagi aja.”

“Oh iya, atas meja itu apa?”

Ravi menunjuk ke kotak perhiasan yang di atas meja, sedikit terkejut: “Chinta, ini kado yang kamu kasih ke aku?”

Chinta mengangguk kepalanya: “Iya.”

Dalam itu adalah perak kecil.

Chinta meleburkan cincin nikah mereka dan meletakkannya di sana.

Ravi malah sangat senang: “Hari ini hari apa? Chinta menyiapkan hadiah untukku?”

Hati Chinta makin dingin.

“Hari ini...adalah hari anniversary pernikahan kita.”

Muka Ravi seketika muram.

Dia membujuknya untuk senang: “Maaf Chinta, belakangan ini terlalu sibuk kerja, gimana kalau malam ini kita keluar makan? Aku sekarang langsung pesan resto...”

“Nggak perlu, aku sudah makan.”

“Kalau gitu, aku bawa kamu lihat pemadangan malam? jalan santai di samping sungai?”

“Aku sudah capek, mau tidur.”

Ravi membujuknya terus dengan memeluk pinggangnya dari belakang: “Ayo lah Chinta, kita sudah lama tidak jalan santai. Aku ngerasa belakangan ini kamu cuek denganku, ginian tetus aku akan curiga kamu sudah berubah hati.”

Aku yang berubah hati?

Dalam hatimu yang duluan ada orang lain.

Hatimu yang duluan ninggalin aku.

Kali ini, aku akan simpan hatiku selamanya, orangku juga, semua kusimpan.

Di perjalanan, Riva sambil menyetir menceritakan hal-hal yang dia dengar belakangan ini.

Chinta duduk di kursi depan dan melihat bagian luar mengabaikannya.

Karena tadi saat pakai sabuk pengaman, di sela-sela kursi ke pegang stoking wanita.

Jelas-jelas itu sudah ke pakai.

Chinta mengembalikannya lagi.

Anggap tidak terjadi apa-apa.

Sudah niat untuk pergi, maka dia juga tidak mau debat dengan Ravi lagi.

Selain mendengar kebohongan yang tidak berguna, apapun tidak bisa didapatinnya.

Tidak bisa didapatin, maka dia nggak mau lagi.

Sampai di tepi sungai, Riva turun terlebih dahulu dan bantu Chinta buka pintu: “Chinta, sudah sampai.”

Chinta sebenarnnya tidak mau datang, tapi sungai ini adalah tempat yang sering mereka datangi saat baru jadian.

Bermulai dari sini, maka berakhirlah di sini.

“Wah, ini bukannya Pak Ravi yang hari ini di TV! yang buatin cincin nikah sendiri!”

“Aku ingat. pria idaman ini!”

“Dia bantu istrinya halangi atasan pintu mobil, takut istrinya kena kepala, ahhhhh perhatian sekali!”

Saat ngomong, handphone Riva berbunyi.

Ravi dengan maaf berkata: “Maaf ya Chinta, kamu tunggu sebentar, masalah kerja, aku akan segera kembali.”

“Pergilah.”

“Kamu tuggu aku di sini, jangan kemana-mana.”

Orang sekitar berseru lagi.

“Pak Ravi ini menganggap istrinya kayak putrinya, takut istrinya tersesat.”

“Sayang banget sama istrinya!”

Hanya Chinta yang selalu tenang, berdiri di tepi sungai melihat permukaan sungai yang berkilau di malam hari.

Tadi saat Ravi lihat panggilan masuk, senyumannya tidak bisa ditahannya.

Manja, manis dan sedikit nakal.

Mana mungkin itu kerja?

Tapi Chinta juga malas membongkarnya.

Di tepi sungai sedikit dingin, jadi Chinta menunggu di dalam mobil.

Di layar mobil, akun sosial media Ravi masih login, dan terkoneksi dengan handphonenya.

Obrolan chatnya masih masuk terus.

Namanya “Kucing Kecil Ngemil”.

Ravi Kaden: Rindu aku?

Kucing Kecil Ngemil: Malam yang nggak ada kamu sedikit kesepian.

Ravi Kaden: Kucing genit, pagi ini sudah 7 kali masih nggak cukup?

Kucing Kecil Ngemil: Nggak cukup, aku masih mau lagi bang.

Ravi Kaden: Baik, tunggu besok kerja, di kantor aku puasin kamu.

Kucing Kecil Ngemil: Hihihihi, kalau gitu aku besok kerja pakai stoking hitam.

Obrolan chat makin belakang makin nggak bisa dilihat.

Penuh dengan kata-kata genit dan godaan.

Chinta cuman kerasa tubuhnya makin dingin, langsung matikan layarnya.

Tubuhnya gemetar terus, tidak tahu karena dingin atau karena emosi, kukunya menancap ke dalam daging.

Ravi sangat cepat sudah balik, kurang lebih 15 menit.

Saat duduk di mobil, dia memegang jantungnya dan membuang nafas besar: “Tadi selesai telepon tidak melihatmu, menakutiku aja, untungnya kamu nggak papa.”

Chinta sudah tidak mau lagi melihat mukanya yang pura-pura baik, hanya menunduk melihat tangannya sendiri.

“Luar dingin, jadi tunggu di dalam mobil.”

“Iya baik, lihat kamu suka di mana.”

Chinta tiba-tiba mengangkat kepalanya.

Melihat obrolan chat mereka, kalimat ini membuat Chinta mempunyai pengertian yang berbeda.

Lihat kamu suka di mana.

Stoking yang di sela kursi.

Jangan-jangan, mereka pernah melakukannya di tempat kursi ini?

Chinta seketika merasa mual, mendorong pintu langsung muntah.

Bab 3

Ravi sangat khawatir, buruan mendekati: “Chinta, kamu kenapa?”

Chinta muntah sampai pusing, sudah beberapa saat pun masih belum pulih.

Dia nggak ngerti.

Kenapa Ravi yang begitu mencintainya bisa selingkuh.

Apakah nggak takut ketahuan sama dia?

Atau Ravi ngerasa dia sudah sangat menutupi, bisa selamanya menyembunyikannya?

Angin malam menghembus, Chinta jadi lumayan sadar.

Ravi menanyainya: “Nggak papakan Chinta? Kalau tidak enak badan aku bawa ke rumah sakit.”

“Nggak perlu, mungkin tadi malam salah makan.”

“Kalau gitu, besok kamu ke perusahaan cari aku, kita makan bareng.”

Chinta senyum dingin.

Ke perusahaan lihat pertempuran kamu dan Nanda?

Chinta tiba-tiba mau isengin mereka.

“Ok, kalau gitu besok pagi aku ikut kamu ke perusahaan nemanin kamu kerja, baru makan bareng, malamnya pulang sama-sama.”

Ravi nggak sangka dia bisa setuju, mukanya jadi sedikit terpaksa: “Tapi belakangan ini kerjaku sibuk, mungkin tidak bisa temanin kamu terus.”

“Nggak papa, aku nunggu kamu di kantor.”

“...Baiklah.”

Sesampai di rumah, Ravi bilang mau bantuin Chinta siapin air hangat langsung ke kamar mandi, tetapi mengunci pintunya.

Chinta turun tangga, dan kembali duduk di mobil.

Setelah menyalakan mobil, layarnya langsung muncul obrolan terbaru.

Ravi Kaden: Ada perubahan, besok kita nggak bisa di kantor.

Kucing Kecil Ngemil: Ah, sedikit kecewa.

Ravi Kaden: Kucing genit jangan kecewa, abang bawa kamu ke atap gedung, makin menantang dan seru.

Kucing Kecil Ngemil: Hihihihi, abang paling hebat.

Saat Chinta balik ke kamar, Ravi keluar dari kamar mandi: “Chinta, air mandinya sudah disiapkan, pergi rendamlah.”

“Nggak perlu, aku mau istirahat.”

“Baiklah, kalau ngantuk tidurlah. Oh iya, kado yang kamu letak di atas meja boleh aku bukain sekarang?”

Chinta bilang: “Seminggu lagi baru kamu buka.”

“Kenapa harus tunggu seminggu? Aku mau sekarang lihat kado yang dipersiapkan Chintaku.”

“Karena......”

Karena seminggu lagi, akau akan pergi darimu selamanya.

“Karena seminggu lagi, kado ini baru bermakna.”

Ravi mencium keningnya: “Baik, dengar katamu.”

Esok paginya, handphone Ravi jam 6 sudah berbunyi.

Dia matiin lalu balikin badan peluk Chinta: “Biarin, tidur lagi sebentar.”

Tapi handphonenya terus-menerus berbunyi.

Ravi dengan jengkel mengkerutkan dahinya: “Belum waktu kerja, pagi-pagi sudah mendesak terus, suatu hari aku akan suruh kelompok eksekutif nggak berguna ini pergi.”

Dan matiin lagi.

Saat handphone berbunyi ke 3 kalinya, Ravi dengan emosi bangun, “Chinta kamu tidur lagi, aku nanyain masalah apa cari aku.”

Chinta iyain.

Berbalik badan, menghadapkan punggung ke dia.

Ravi mengambil handphonenya dan keluar dari kamar.

Nggak lama, sosoknya muncul di depan pintu lantai 1.

Luar berdiri seorang pengantar makan, kasih ke dia sekantong barang.

Ravi mengambilnya, tapi saat balik tangannya malah kosong.

Chinta menanyainya: “Masalah perusahaan sangat serius?”

Ravi menjawabnya: “Nggak terlalu, Chinta kamu jangan khawatir, istirahat dengan tenang, aku buatin sarapan.”

Nggak tahu karena merasa bersalah atau benaran khawatir dia salah makan, sarapan yang disiapin Ravi sangatlah mewah.

Susu, telur, roti, selai dan ada bubur gandum kesukaannya.

“Kedepannya kamu nggak boleh sembarangan makan lagi, aku bantu cariin mbak aja, tiap hari buatin makan.”

“Nggak perlu.”

“Dengar perkataan aku Chinta, kalau nggak aku nggak tenang saat kerja.”

“Ravi, bisa nggak aku tanyain sesuatu?”

“Tanya saja.”

Chinta meletakkan pisau dan garpu, dengan tenang bertanya: “Menurutmu benar nggak setelah 7 tahun nikah adalah fase atau momen terberat?”

Ravi langsung menunjukkan eskpresi sangat benci: “Itu hanyalah alasan para cowok untuk beralih cinta, aku berbeda, seumur hidup aku hanya mencintai Chintaku.”

“Seumur hidup hanya cinta aku?”

“Iya benar.”

“Kalau kamu suka cewek lain?”

“Kalau gitu aku akan disambar petir, mati dengan nggak tenang.”

Chinta senyum dengan sindir: “Sumpah yang begitu berat, kamu nggak takut benaran terjadi?”

“Yang aku ngomongin semuanya benar, untuk apa aku takutin?”

Chinta mengambil lagi pisau dan garpunya, mengoles selai ke rotinya.

Ravi bilang: “Chinta, kamu harus percaya sama aku.”

Chinta hanya bilang: “Makanlah.”

“Kamu masih nggak percaya aku? Apa harus aku kasih lihat hatiku baru kamu mau percaya?”

“Perusahaan masih ada yang menunggumu, jangan sampai telat.”

Ravi akhirnya merasa lega, duduk di depannya Chinta: “Biarin mereka tunggu, sekelompok orang nggak guna, aku akan pecat mereka.”

“Pecat dia, kamu tega?”

Yang dimaksud Chinta itu “dia” bukan “mereka”.

Chinta nggak tahu Ravi ngerti nggak maksudnya, cuman dengar dia menjawab: “Selain kamu, nggak ada yang aku nggak tega.”

Cinta Romantis Bagaikan Buih

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya