Bab 2
Karen berjalan mendekat dari belakang. Dengan sepatu hak tingginya, dia berdiri di hadapanku dan berkata, "Peter, kamu ini kenapa? Ini bahkan bukan pertama kalinya, kenapa harus repot begini?!"
Dia melambaikan tangannya dan para pengawal pun menyeretku ke ruang perawatan. Aku dipaksa berbaring dan tak bisa bergerak. Dengan mata terbuka lebar, aku hanya bisa menyaksikan darah merah itu mengalir keluar dari tubuhku.
Di ranjang sebelah, Joven menatapku dengan wajah pucat dan berkata, "Maaf, merepotkanmu lagi."
Aku menggigit bibir erat-erat, lalu menoleh ke arahnya, "Ini yang terakhir kalinya, aku nggak akan membiarkan kalian bertindak sesuka hati lagi."
"Karen, kita putus."
Karen tidak senang dan bertanya, "Apa-apaan sih kamu? Menyelamatkan nyawa orang itu kebaikan yang tak ternilai. Kamu sudah menyelamatkannya, aku pasti akan membalasnya untukmu."
Aku tertawa sinis, menjawab, "Membalas? Karen, kamu pikir kamu itu siapa? Dewa yang baik hati?"
"Sudah kubilang, kita putus. Mulai sekarang, jangan pernah cari aku lagi!"
Aku menarik napas dalam-dalam. Rasa sakit di dada terasa menusuk. Nenek ... bahkan pemakamannya saja belum sempat kuurus!
Aku benar-benar menyesal. Aku tak mau lagi ada hubungan apapun dengan Karen.
Setelah selesai donor darah, kepalaku terasa pusing dan berat. Baru saja hendak memejamkan mata, suara langkah kaki dari luar terdengar.
"Siapa yang melapor polisi?"
Aku langsung berseru, "Aku!"
Karen menatapku tak percaya, "Peter, kamu melapor polisi?!"
Aku bangkit perlahan dan menatap polisi, berkata, "Mereka memaksaku untuk donor darah. Para dokter ini juga memalsukan tanda tanganku tanpa izin. Aku mau mereka semua bertanggung jawab atas perbuatan ini!"
Nenek sudah tiada dan jasadnya masih terbujur di kamar jenazah. Semua orang ini adalah pelakunya, aku tak akan membiarkan mereka lepas begitu saja.
Seketika, wajah Karen menjadi pucat.
Namun, orang kaya selalu punya jalan keluar. Kurang dari satu jam, dia sudah dibebaskan.
Namun kali ini, raut wajahnya masih muram.
Dia mendapat peringatan keras dan harus menandatangani perjanjian serta menulis surat permintaan maaf untukku.
Aku memegang surat itu. Ini semacam jaminan hidup bagiku. Jika dia berani macam-macam lagi, aku tak akan ragu membuatnya viral.
Keluar dari kantor polisi, Karen menatapku dengan penuh amarah, "Peter, kamu sudah berani sekarang!"
Aku menjawab santai, "Karen, aku ingatkan satu hal, kali ini hanya pelajaran kecil untukmu. Selanjutnya ... oh bukan, nggak akan ada lagi selanjutnya di antara kita."
Karen berteriak marah, "Peter, jangan sampai menyesal kamu!"
Menyesal? Yang benar saja.
Bertemu Karen adalah penyesalan terbesar dalam hidupku. Jika bisa mengulang waktu, aku tidak akan pernah berurusan dengannya lagi!
Setelah kembali ke rumah sakit, para tenaga medis yang memaksaku donor darah langsung dipecat. Pengurus rumah sakit juga meminta maaf dan memohon agar aku memaafkan mereka. Aku tak banyak bicara, hanya mengambil catatan donor darahku selama beberapa tahun terakhir, lalu pergi.
Di sana terlihat golongan darah Joven, memang benar darahnya termasuk langka.
Namun, hasil tes kesehatannya jauh lebih sehat daripada yang kukira.
Aku diam-diam mengambil foto laporan itu dan pergi mengurus pemakaman nenek. Aku menguburkan abu jenazahnya di pemakaman umum pinggiran kota.
Setelah semuanya selesai, aku kembali ke kehidupanku.
Aku punya rumah sewaan di kota. Tadinya, aku pindah ke sana karena bertunangan dengan Karen. Sekarang, semuanya sudah kembali tenang dan aku hanya ingin menjalani hidup normal seperti biasa.
Begitu selesai beres-beres, aku rebahan di kasur. Tiba-tiba, ponselku bergetar, puluhan pesan masuk. Semuanya pesan dari Karen.
"Peter, kamu seriusan?"
"Cepat kembali sekarang dan aku akan memaafkanmu!"
"Pura-pura apa sih? Bukannya hanya mau aku minta maaf? Aku bahkan sudah minta maaf, apa lagi yang kamu mau?"
"Hanya beberapa kantong darah saja, perhitungan sekali?!"
Bab 3
Melihat semua pesan itu, aku hanya bisa tertawa pahit sambil menyimpan semua tangkapan layarnya. Siapa tahu suatu hari nanti akan berguna. Setelah itu, aku langsung memblokir kontak Karen.
Tak disangka, ternyata Karen masih belum menyerah.
Keesokan harinya, aku melihatnya berdiri di depan pintu rumahku dengan Joven di sampingnya.
"Apain kalian datang?"
"Joven mau mengucapkan terima kasih padamu. Jadi, aku membawanya datang. Sudahlah Peter, jangan diperpanjang lagi masalahnya."
Hingga saat ini, Karen masih bisa mengatakannya dengan begitu enteng. Aku pun tertawa sinis dan menjawab, "Lalu kenapa? Aku harus sujud kepadanya?"
"Karen, kamu sama sekali nggak takut pada hukum? Cepat pergi dari sini atau aku akan lapor polisi!"
Karen mulai marah, "Peter!"
Tiba-tiba, akhirnya Joven buka suara, "Peter, jangan marah. Aku tahu kamu kesal karena masalah tunangan itu."
"Salahku juga, ini semua salahku. Kesehatanku memang ... yah, bagaimana pun kalau kamu marah, pukul aku saja."
Saat dia bicara, aku melihat sorot matanya penuh kesombongan dan tantangan.
Aku menatapnya, teringat semua kejadian yang lalu. Tanpa pikir panjang, aku langsung meninju wajahnya!
"Peter, kamu gila?!"
Karen langsung mendorongku ke samping dan memapah Joven.
"Kenapa? Bukannya dia yang bilang, menyuruhku pukul saja? Kamu yang malah khawatir sekarang?"
"Pergi!"
Aku menunjuk ke arah pintu, menyuruh mereka pergi. Namun, Karen malah menamparku keras-keras!
"Keterlaluan kamu!"
"Apa yang kamu mau?! Apa nenekmu tahu kamu begitu bajingan?"
"Biar kutanya padanya, apa dia yang mengajarmu menjadi orang seperti ini?!"
Rasa sakit di hati langsung menghantam begitu keras hingga aku hampir tak bisa bernapas.
"Kamu masih punya muka menyebutnya? Dia sudah meninggal! Tepat di hari pertunangan kita!"
"Karen, kalau kamu benar-benar mau menemuinya, pergi mati saja!"
Aku menarik Karen dan mendorongnya keluar!
Karen tampak marah, "Peter, sebenci-bencinya kamu padaku, nggak perlu sampai mengutuk nenekmu sendiri! Orang macam apa kamu ini? Ayo Joven, kita pergi saja! Jangan hiraukan dia!"
Karen pun pergi bersama Joven.
Aku menatap keperginan mereka sambil mengepalkan tangan erat.
Nenek meninggal karena mereka, tapi mereka masih berani datang dan membuka lukaku seperti ini!
Dasar pasangan tak tahu malu, mereka pasti akan mendapat karmanya!
Tunggu saja, aku tak akan membiarkan mereka begitu saja!
Kemudian, aku menemui beberapa teman. Begitu aku menceritakan kematian nenekku, mereka langsung naik pitam.
"Peter, kenapa baru cerita sekarang?!"
Aku tersenyum pahit, menjawab, "Mereka memaksaku donor darah, dia bahkan bisa lolos dari hukuman begitu saja. Kita nggak boleh bertindak gegabah kalau nggak punya bukti yang kuat."
Dan juga aku benar-benar lelah. Tiga tahun ini, aku sudah mengorbankan kebahagiaanku sendiri dan kehilangan nenek karena kebodohanku.
Jika bukan karena diriku, nenek tak akan pergi.
Temanku menepuk pundakku dan menghibur, "Kalau butuh bantuan, bilang saja. Kami pasti membantumu."
"Peter, sebenarnya Karen bukan siapa-siapa di keluarganya. Dia masih terlalu muda, hanya sekedar dikirim keluar untuk belajar. Kita harus pikirkan caranya baik-baik!"
Aku mengangguk dan mulai berdiskusi dengan teman-teman. Aku kenal dengan Karen, dia tak akan menyerah begitu saja. Bagi dia, aku masih kantong darahnya. Dia tak akan melepaskanku begitu saja.
Sementara itu, setelah keluar dari rumahku, Joven mencoba menyarankan, "Karen, bagaimana kalau aku bicarakan lagi dengan dia?"
"Nggak perlu, jangan hiraukan dia!"
Namun, ada rasa tidak tenang dalam hati Karen. Beberapa hari ini, dia memang tak melihat nenek Peter. Mungkinkah apa yang dikatakan Peter itu benar?
Tiba-tiba, pihak rumah sakit meneleponnya, "Halo, apakah ini keluarga Wati? Kami ingin memberitahu bahwa barang-barang peninggalan Wati tertinggal di ruang gawat darurat. Kapan bisa datang mengambilnya?"
Kepala Karen langsung berdengung, seolah tidak percaya apa yang baru saja didengarnya.
"Apa? Barang peninggalan?"
"Benar, Wati meninggal dalam kecelakaan mobil pada 6 Juli lalu. Apakah kamu anggota keluarganya?"