Bab 1
Di pemakaman ibuku, tunanganku Charles datang bersama Chelsea untuk memberikan penghormatan terakhir.
Lalu di hadapan semua yang hadir, Charles membatalkan pernikahan kami dan memutuskan untuk menikahi Chelsea.
Saat aku ditertawakan oleh semua orang, Sugi, teman masa kecilku berlutut dan melamarku. Dia menyatakan bahwa dia sudah mencintaiku selama bertahun-tahun.
Aku tersentuh oleh ketulusannya dan setuju untuk menikah dengannya.
Setelah menikah selama tiga tahun, kami belum punya anak. Tapi Sugi malah menghiburku dan berkata dia nggak keberatan kalau nggak punya anak, kehadiranku sudah cukup baginya.
Tak lama kemudian, aku mendengar percakapannya dengan dokter, "Pak Sugi, pil KB yang Bapak minta sudah disediakan. Apa perlu terus diberikan pada Nyonya?
Sugi Yolanda menjawab dengan dingin, “Iya, jangan berhenti. Menikahinya cuma solusi sementara. Dalam hatiku, hanya Chelsea yang pantas jadi ibu anakku.
Ternyata pernikahan yang kuanggap bahagia hanyalah penipuan belaka.
Dia nggak mencintai aku. Kalau gitu, aku juga nggak mau dia lagi.
“Pak Sugi, pil KB yang Bapak minta sudah disediakan. Apa perlu terus diberikan pada Nyonya?”
Sugi Yolanda menjawab dengan dingin, “Iya, jangan berhenti. Menikahinya cuma solusi sementara. Dalam hatiku, hanya Chelsea yang pantas jadi ibu anakku.”
Sugi berkata dengan wajah penuh kasih sayang dan penyesalan, “Ibunya Jolin meninggal. Demi melindungi Chelsea, aku telah mengorbankan pernikahanku. Tak apa kalau aku nggak punya anak.”
“Siapa pun nggak bisa menggantikan posisi Chelsea dalam hatiku, termasuk anak yang mungkin kulahirkan bersama Jolin.”
Dokter berkata dengan ragu, “Pil KB itu beresiko merusak kesehatan kalau diminum terus-menerus. Setelah berhenti pun, kemungkinan besar akan sulit punya anak.”
Mata Sugi berkedip ragu sesaat, namun segera berubah menjadi pandangan penuh keyakinan dan berkata, “Nggak apa-apa. Lagian aku bisa menjaganya seumur hidup.”
Aku berdiri di luar pintu ruang kerja, badanku terasa beku. Rasanya seperti berjalan tanpa sepatu di atas es batu yang dingin.
Sugi tak menyadari kehadiranku. Aku berjalan sempoyongan ke kamar dan akhirnya ambruk tak berdaya di lantai.
Setelah menikah selama tiga tahun, kami belum punya anak. Aku selalu merasa ini salahku, karena badanku memang sudah lemah sejak kecil.
Aku sudah coba segala resep tradisional. Ada yang bikin mual dan hampir muntah, tapi tetap saja nggak hamil-hamil.
Aku merasa bersalah, tapi Sugi malah menghiburku dan berkata dia nggak keberatan kalau nggak punya anak, kehadiranku sudah cukup baginya.
Supaya aku nggak curiga, dia nggak pernah pakai pengaman. Membiarkanku terus bertanya-tanya, apakah aku mandul.
Baginya, kesehatanku dan hakku menjadi ibu tak ada artinya kalau dibandingkan dengan kebahagiaan Chelsea Joman.
“Jolin, kau kok duduk di lantai?” tanya Sugi sambil berjalan masuk ke kamar dan segera menopangku dengan wajah penuh perhatian.
“Nggak apa, tadi agak pusing.”
Sebenarnya aku nggak bohong. Dalam setahun ini, aku memang sering pusing.
Sugi memijat pelipisku dengan lembut dan berkata, “Sayang, aku ingin menggantikanmu menderita. Aku sakit hati melihatmu terus kesakitan.”
“Kau ‘kan sering sakit-sakitan, harus banyak makan makanan yang bergizi. Sini minum susu hangat dulu, biar badanmu terasa lebih enak.”
Melihat susu itu, hatiku terasa sakit.
Dulu setelah berhubungan intim, dia akan memberiku segelas susu supaya aku tidur nyenyak.
Aku kira itu wujud cintanya padaku. Ternyata itu cuman tipuan belaka.
“Sayang, aku lagi mual. Aku nggak mau minum itu.”
Sugi mencubit hidungku dan berkata dengan nada keras yang tak bisa dibantah, “Jolin, minum susu bisa menambah kalsium dan membantumu tidur nyenyak. Setelah minum ini, kau tidurlah. Nanti bangun, sakit kepalamu bakal hilang.”
Dengan membujuk dan paksaan, dia menekankan gelas itu ke bibirku dan nggak memberiku kesempatan untuk menolak.
‘Sugi, apa kau beneran tega merampas hakku untuk menjadi seorang ibu?’
Kau melihatku bersusah payah demi bisa hamil, makan semua makanan yang nggak kusukai. Tapi kenapa kau tetap nggak merasa kasihan padaku?
Aku menutup mataku dengan pasrah dan meminum habis susu itu.
Aku pelan-pelan ketiduran, tapi terbangun karena tiba-tiba merasa mual. Aku pun segera ke kamar mandi dan muntah sampai lemas.
Bab 2
Sugi buru-buru mau panggil dokter, tapi aku menghentikannya.
“Kadang pusing memang bisa mual dan muntah. Mungkin karena tadi pagi aku nggak sarapan. Nggak apa-apa.”
Sugi tampak lebih rileks, lalu menggendongku ke ranjang dengan lembut dan menyelimutiku dengan teliti.
Saat melakukan ini semua, raut wajah Sugi yang serius benar-benar membuatku sulit untuk mengaitkannya dengan semua kekejaman yang pernah dilakukannya.
Kalau bukan karena aku mendengarnya sendiri, aku nggak akan percaya dia bisa berakting sebaik itu.
Aku pura-pura tidur dan mendengar dia menelepon di kamar mandi, “Chelsea, kau tenang saja. Pokoknya, aku akan memberikan semua yang kau inginkan.”
Setelah itu dia keluar dari kamar mandi. Melihatku masih belum tidur, dia tertegun sejenak dan tersenyum.
“Kantor tiba-tiba ada urusan, kau istirahat baik-baik. Aku pergi dulu.”
Aku menganggukkan kepalaku. Setelah Sugi pergi, aku segera ganti pakaian dan pergi ke rumah sakit.
Proses tunggunya lama, aku takut aku salah tebak.
Aku juga takut karena konsumsi pil KB yang berlebihan, janin dalam rahim bakal nggak sehat.
Jadi saat ambil hasil tes, air mataku mengalir tak terkendali.
Aku beneran hamil!
Tanganku gemetaran memegang hasil tes. Aku menceritakan pada dokter bahwa aku rutin minum pil KB. Kata dokter, kondisi janin masih belum bisa dipastikan saat ini.
Tapi karena ini sudah terjadi, aku menganggapnya sebagai berkah. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi anakku dari segala bahaya.
Malam harinya, aku membuka laptop Sugi saat dia mandi.
Aku coba kata sandinya beberapa kali, tapi gagal. Hingga akhirnya aku masukkan hari ulang tahun Chelsea, laptopnya terbuka.
Ada folder rahasia di dekstop, lalu aku masukkan kata sandi yang sama. Setelah terbuka, isinya foto-foto Chelsea semua. Setiap lihat fotonya, hatiku makin sakit.
Aku, Sugi Yolanda dan Charles Ahmad sudah berteman sejak kecil. Mereka berdua seperti pengawal pribadiku yang selalu melindungiku sejak kecil.
Pas saat aku berumur 15 tahun, Chelsea pindah ke sekolah kami dan mulai berteman denganku.
Perjalanan sekolah yang awalnya bertiga kini berempat. Lambat laun, mereka bertiga selalu berjalan lebih cepat, sementara aku susah untuk mengejar mereka.
Rupanya bukan aku yang susah mengejar, tapi para ksatriaku sudah ada orang yang mereka sukai.
Dalam foto-foto itu, ada Chelsea yang tersenyum, tertidur di meja dan bahkan foto belakangnya saja. Semuanya disimpan Sugi kayak barang berharga.
Aku ambil ponsel Sugi dan membukanya. Semua sandinya adalah hari ulang tahun Chelsea.
Riwayat transfer dan pengeluarannya rumit, tapi ada dua pengeluaran bulanan yang tetap.
Satu pengeluaran sebesar 32 miliar untuk Chelsea setiap bulan dan satu lagi jumlahnya sedikit, tapi ditransfer tepat waktu di akhir bulan.
Aku catat nomor rekeningnya, lalu aku foto semua foto di laptop dan riwayat transaksinya dengan ponselku.
Aku mencoba transfer ke nomor rekening tersebut dan ternyata adalah seorang wanita yang tak kukenal.
Aku pun hapus foto nikah layar ponselku. Malam itu, aku pun semalaman nggak bisa tidur.
Pagi harinya, saat aku cuci muka di kamar mandi, alarm ponselku berbunyi dan Sugi pun mematikannya.
“Jolin, foto layar ponselmu kok berubah?”
Aku meliriknya sekilas dan berkata, “Kau ‘kan bilang kebahagiaan nggak perlu dipamer. Soalnya kau nggak pernah mau foto bareng, jadi aku ganti saja.”
Sugi mengelus hidungnya dengan canggung dan berkata. “Haha! Cinta itu disimpan dalam hati, kita tahu sendiri saja.”
Aku tersenyum sinis dan berkata, “Tapi tanpa diucapkan, siapa yang tahu kau suka siapa?”
Kelakuanku hari ini mengejutkannya, tapi dia juga nggak tahu apa salahnya.
“Sayang, kau hari ini kok bicaranya aneh-aneh?”
Aku tersenyum dan menjawab, “Nggak ada apa-apa. Kau cepetan ke kantor. Hari ini ada rapat penting, ‘kan? Jangan sampai telat.”
Sugi nggak banyak pikir dan menyiapkan sarapan untukku seperti biasanya. Sebelum pergi, dia mencium dahiku dan berkata, “Aku duluan ya. Kalau rindu, telepon aku.”
Aku mengangguk dan nggak membongkar kebohongannya.
Bab 3
Aku menemui teman pengacaraku dan memintanya mencetak dua surat perceraian untukku.
Dia menatapku dan ragu untuk berbicara, “Jolin, aku merasa ada yang aneh atas kematian ibumu.”
“Mana yang aneh?”
“Terlalu lancar, ‘kan? Awalnya aku sudah menyiapkan strategi litigasi kalau tersangka nggak mengakui kesalahannya.”
“Tapi dia tiba-tiba muncul dan mengakui kesalahannya. Meskipun ada beberapa bukti yang ditemukan, aku merasa semuanya terlalu lancar dan aneh.”
Dadaku tersesak. Tiba-tiba semua petunjuk terhubung di otakku.
“Lili, kau bisa bantu aku cek nomor rekening nggak?”
Lili menggelengkan kepalanya, tapi dia memperkenalkan seorang detektif swasta padaku.
Aku merasa ditarik maju ke depan oleh sesuatu. Seolah-olah ada kebenaran yang akan terungkap.
Aku pergi ke kantor Sugi dengan membawa surat perceraian.
Begitu masuk, aku mendengar para karyawan lagi ngobrol.
“Itu teman Pak Sugi, ‘kan? Dengar-dengar, dia baru pulang dari luar negeri. Jujur saja, aku merasa dia lebih cocok sama Pak Sugi.”
“Aku juga pikir gitu. Lihatlah betapa cantiknya dia. Dia lebih anggun dari istri Pak Sugi.”
"Lihatlah tasnya, permata di atasnya tampak mahal banget."
Aku berdiri di depan pintu kantor lantai teratas, lalu terdengar suara yang nggak asing.
“Chelsea, kita sudah sebulan nggak ketemu. Aku mau pergi mencarimu, tapi nggak ada alasan yang pas.”
“Iya, aku lagi persiapan kehamilan. Charles juga khawatir kalau aku pergi sendirian.”
“Benarkah?” tanya Sugi dengan penuh kekecewaan.
Dia lalu memaksakan sebuah senyuman dan berkata, “Kau bakal segera jadi seorang ibu, selamat ya.”
“Makasih. Oh iya, kasus tiga tahun yang lalu, berkat kau …”
“Sudah berlalu. Asalkan kau bahagia, yang lainnya nggak penting. Aku percaya kau bukan sengaja melukai orang.”
Chelsea tersenyum lebar dan berkata, “Waktu kecil, kau bilang kau mau jadi ksatriaku dan selalu melindungiku. Aku beneran terharu. Cuman, kalau Jolin tahu, dia pasti akan marah.”
Chelsea selalu menuduhku tanpa sengaja.
Seolah-olah dia telah menderita dan akulah penjahatnya.
Aku segera menangkap inti pembicaraan mereka, kasus tiga tahun yang lalu?
Aku cuman tahu ibuku dilanggar mobil tiga tahun yang lalu. Setelah itu, Chelsea melanjutkan studinya ke luar negeri dan Sugi melamarku …
Ini juga merupakan awal tragediku.
Pikiranku makin jernih, tapi aku pura-pura nggak tahu apa-apa dan membuka pintunya.
Melihatku, Sugi terkejut dan berkata, “Jolin, kau kok kemari? Kau pusing kok nggak istirahat di rumah?”
Aku tersenyum dan menatap ke arah Chelsea, “Aku mau lihat apa ada orang yang nggak pantas muncul di kantor suamiku.”
Chelsea sedikit tercengang dan hendak berbicara, tapi aku memalingkan kepalaku dan berkata, “Kau ‘kan bilang kalau aku rindu, telepon kau saja. Tapi kau nggak angkat teleponnya.”
Sugi mengambil ponselnya dengan panik dan melihat ada dua panggilan tak terjawab dariku.
Tampaknya dia menyetel ponselnya dalam mode senyap demi bernostalgia dengan Chelsea.
“Jolin, ternyata kau awasi Sugi segitu ketat. Kalau gitu, dia bakal capek.”
Chelsea merapikan rambutnya dan berkata dengan mata penuh bangga, “Pria itu ya, perlu sedikit kebebasan.”
“Makasih atas sarannya. Tapi ada beberapa pria yang diawasi seketat apa pun, isi hatinya tetap nggak bisa diketahui.”
Sugi tampak gugup dan segera menghampiriku, lalu menarik tanganku dan berkata, “Aku pasti bukan pria seperti itu. Kita sama Chelsea ‘kan teman.”
Melihat tampang gugupnya, aku malah tertawa.
Dia sama sekali nggak peduli dengan perasaanku, yang dia pedulikan adalah pendapatku terhadap Chelsea, karena takut aku menyulitkannya.