Bab 1
Pacarku, Bima Arya, divonis menderita kanker dan membutuhkan transplantasi hati.
Begitu tahu aku cocok jadi donor, tanpa ragu aku langsung memutuskan untuk menjalani operasi.
Dua per tiga hatiku diangkat, rasa sakitnya luar biasa. Namun, saat sadar, hal pertama yang kulakukan adalah memeriksa keadaannya.
Di depan kamarnya, aku mendengar dia berbicara dengan temannya.
"Kak Bima, kamu benar-benar genius. Bisa-bisanya kepikiran cara balas dendam sehebat ini."
Bima tertawa kecil.
"Kalau saja aku nggak mau buat masalah besar, sebenarnya aku ingin ambil ginjalnya buat main-main."
"Semua ini gara-gara Nimas, Vivi jadi gagal ujian masuk universitas dan harus kuliah di luar negeri. Sebulan lagi Vivi akan pulang ke dalam negeri dan saat itulah aku akan sepenuhnya putus dari Nimas."
Melalui celah pintu, aku melihat Bima Arya.
Saat itu dia sedang duduk di ranjang rumah sakit. Raut wajahnya tampak segar dan merah merona, sama sekali tidak terlihat seperti orang sakit.
Sementara itu, teman-temannya masih dengan penuh semangat membicarakan sesuatu.
"Waktu baru masuk kuliah, kamu menyuruh orang mengganggu Nimas sampai dia dikucilkan satu kelas dan selama sebulan nggak berani pulang ke asrama."
"Waktu mau lulus, kamu menyuruh orang menghapus tugas akhir dia. Gara-gara itu, putri Keluarga Eddie gagal meraih penghargaan dan malah diseret ke ruang kelas kosong untuk dipukuli sampai tangannya patah."
"Kalau dihitung sama kejadian yang sekarang, sudah 93 kali lho. Tinggal enam kali lagi, lalu bisa dibukukan jadi buku pengakuan cinta buat Kak Vivi. Kalau Kak Vivi lihat betapa tulusnya kamu, pasti dia akan sangat tersentuh!"
Perasaan jijik dan ngeri langsung menyelimuti hatiku.
Tak pernah terbayangkan, cinta yang selama ini kuanggap sebagai anugerah dari langit, ternyata hanyalah sebuah rencana balas dendam yang penuh perhitungan.
Aku buru-buru berbalik untuk pergi, tetapi karena baru saja menjalani operasi dan tubuhku sangat lemah, aku langsung terjatuh ke lantai.
Lukanya langsung terbuka lagi dan darah mengalir keluar melalui ujung bajuku.
Kondisiku memang sangat buruk. Dokter sudah berkali-kali menyarankan agar aku membatalkan niat untuk mendonorkan organ.
Akan tetapi, demi membuat Bima bisa cepat lepas dari penyakitnya, aku nekat menjalani operasi tanpa memedulikan keadaan tubuhku sendiri.
Ini adalah ruang perawatan intensif paling mewah di rumah sakit. Demi membuat Bima bisa beristirahat dengan tenang, seluruh lorong rumah sakit dikosongkan.
Saat ini, suara jatuhku langsung menarik perhatian semua orang.
Begitu Bima melihatku, ekspresinya seketika berubah.
"Nimas, kamu 'kan baru saja selesai operasi. Kenapa ada di sini?"
Tanpa menunggu jawabanku, Bima mendorong orang di sampingnya dengan keras.
"Cepat bawa Nimas ke sini, bantu rawat lukanya!"
Begitu perintah Bima terdengar, semua orang langsung panik. Mereka buru-buru membantuku berdiri, lalu membawaku ke sisi Bima.
Bima membelai wajahku dengan penuh rasa iba.
Dia mengambil cairan disinfektan dari atas meja, lalu berkata dengan lembut, "Dokter baru saja selesai operasi dan masih menyelesaikan urusan lainnya. Biar aku bantu bersihkan lukamu dulu, nanti setelah dokternya keluar, dia akan membalutnya lagi. Oke?"
Suaranya tetap selembut biasanya.
Kalau dilihat lebih saksama, sorot matanya tampak memancarkan rasa bersalah dan kasihan.
Namun, aku tahu, semua itu hanyalah topeng belaka.
Barulah hari ini aku sadar.
Selama tiga tahun Bima menolak perasaanku, tetapi sehari setelah hasil ujian masuk universitas diumumkan, dia tiba-tiba menyatakan cintanya padaku. Ternyata, itu semua demi membalas dendam atas nama cinta lamanya.
Sementara aku, dengan bodohnya mengira bahwa ketulusan hatiku berhasil meluluhkan Bima. Meskipun aku tahu dia pernah sangat mencintai Vivi, aku tetap rela menyerahkan segalanya padanya.
Aku memejamkan mata sambil menahan rasa sakit.
Luka yang perih membuatku menggertakkan gigi.
Bima membuka perban dan menyiramkan cairan disinfektan ke lukaku.
Dalam sekejap, rasa perih yang sangat menyengat menyerangku. Aku berteriak keras dan secara refleks mendorong Bima dengan keras.
Pinggang Bima membentur sudut pagar ranjang. Dia meringis kesakitan, lalu menendangku dari tempat tidur.
Aku menutupi lukaku, mengerang kesakitan di lantai.
Saat itu juga, dokter jaga akhirnya datang meski terlambat.
Melihat kondisiku yang parah, mereka segera memeriksa kondisiku.
Begitu menyentuh kulitku yang sudah rusak dan terkelupas karena korosi, mata dokter itu membelalak.
"Kalian apakan dia? Ini luka bakar karena natrium hidroksida konsentrasi tinggi."
"Apa? Nggak mungkin!"
Bima langsung pura-pura kaget, lalu menoleh ke arah meja, berpura-pura sangat menyesal.
"Aku beli cairan disinfektan dan antiseptik dari internet. Setelah operasi, aku cuma ingin lukanya nggak kena infeksi. Tadi waktu Nimas berdarah, aku panik dan langsung bantu bersihkan, nggak sempat baca dengan jelas."
"Maaf, ya, Sayang ... ini semua salahku. Aku menyakitimu lagi."
Dia memukul dadanya sendiri seolah-olah benar-benar sangat menyesal.
Namun, kalau dia benar-benar peduli padaku, mana mungkin dia menendangku sekeras itu.
Aku tidak berkata apa-apa, membiarkan dokter mengangkatku ke atas tandu dan membawaku pergi.
Saat menunggu lift, aku mendengar suara sorakan dari kamar Bima.
"Bima, kamu hebat banget. Kamu bisa menebak si Bodoh Nimas itu pasti akan datang mencarimu karena mencemaskanmu. Makanya kamu sengaja mengganti cairan disinfektan medis dengan natrium hidroksida. Perempuan murahan itu pasti terluka lagi dan sepertinya akan meninggalkan bekas luka permanen."
"Kalian lihat ekspresinya barusan? Benar-benar mengenaskan, seperti anjing liar. Aku sampai nggak bisa berhenti tertawa."
Jari-jariku tiba-tiba mengepal erat.
Meski dalam hati aku sudah tahu jawabannya, saat mendengarnya langsung, tetap saja rasanya sangat menyakitkan.
Setelah dokter pergi, aku segera mengambil ponsel dan memesan tempat di pusat rehabilitasi secepatnya.
Lalu, aku menekan nomor luar negeri yang sudah sangat familier.
"Bu, aku sudah pikirkan semuanya. Aku mau pulang."
Bab 2
Setelah menjalani pemulihan selama setengah bulan di tempat pemulihan, tubuhku akhirnya hampir pulih sepenuhnya.
Selama masa itu, Bima hanya menghubungiku sekali lewat telepon, dan setelah itu tidak ada kabar lagi darinya.
Melihat hari yang sudah disepakati dengan ibuku makin dekat, aku memaksakan diri yang masih belum sepenuhnya sembuh untuk pulang ke rumah dan membereskan barang-barang.
Tak kusangka, begitu pintu terbuka, aku justru melihat Bima sedang mengadakan pesta dengan teman-temannya.
Semua orang yang melihatku langsung tertegun.
Ekspresi Bima tampak bingung dan ragu. Dia secara refleks melangkah ke depan dan mengernyitkan dahinya.
"Nimas, kenapa kamu nggak balas pesanku?"
Namun, pandanganku justru tertuju pada gadis yang dia lindungi di belakangnya.
Gadis itu mengenakan gaun putih dengan rambut panjangnya yang terurai. Gadis itu adalah Vivi Halim, cinta lama Bima yang tak pernah padam di hatinya.
Melihat aku diam tak bergerak sambil menatap tajam ke arah Vivi, Bima jadi canggung dan menggaruk hidungnya.
"Vivi pulang ke tanah air lebih awal. Karena aku baru saja selesai operasi, aku nggak bisa buat acara besar, jadi cuma mengadakan penyambutan kecil buat dia di rumah."
Setelah mengatakan itu, dia malah menatapku dengan emosi.
"Masa kamu marah cuma karena hal sepele begini?"
Aku menggenggam ujung bajuku erat-erat.
Selama lima tahun bersama Bima, aku selalu merasa terusik dengan hubungannya yang dulu bersama Vivi.
Jadi, setiap kali aku mendengar dia menyebut nama itu, aku langsung merasa tidak nyaman dan mulai mempertanyakan siapa yang sebenarnya lebih penting baginya.
Namun, sekarang, pertanyaan itu sudah tak lagi berarti apa-apa bagiku.
Aku mengangguk pelan.
"Selamat datang kembali. Kalian lanjutkan saja acara kalian. Aku pulang cuma mau ambil sesuatu."
Sikapku ini membuat Bima tak bisa menahan diri untuk mengerutkan kening.
Dia memang selalu senang menyebut-nyebut Vivi di depanku, hanya demi melihatku tersiksa secara emosional, kehilangan kendali, dan berlarut dalam kesedihan.
Namun, aku yang sekarang, sudah terlalu tenang untuk terpancing.
Tepat saat aku berbalik hendak pergi, suara Vivi yang mengeluh terdengar.
"Nimas, aku sudah nggak menyalahkanmu soal kejadian waktu itu. Kenapa kamu masih bersikap dingin seperti ini?"
"Tinggallah sebentar. Ayo ikut merayakannya bareng kita, oke?"
Bima memang paling tidak tahan melihat Vivi bersedih.
Begitu mendengar ucapannya, dia langsung menarik lenganku dan memaksaku duduk di meja.
"Vivi sendiri sudah bilang nggak menyalahkanmu, jadi jangan pasang wajah jutek. Temani dia."
Begitu aku duduk, teman-teman Bima langsung mengerubungiku.
"Sebagai tanda ketulusanmu, Kak Nimas harus habiskan segelas ini dulu."
Melihat ekspresi mereka yang menyeringai penuh niat buruk, aku hanya bisa mencibir dingin dalam hati.
Mereka tahu betul aku baru saja menjalani operasi hati, tetapi masih saja membawakan alkohol. Apa mereka tidak merasa itu sudah terlalu keterlaluan?
Yang paling konyol adalah, aku yang dulu benar-benar tidak menyadari apa-apa, malah mengira mereka benar-benar merasa bahagia untukku.
Aku mendorong minuman itu, menolaknya.
"Dokter bilang aku nggak boleh minum alkohol sekarang."
"Sedikit saja, nggak akan kenapa-kenapa kok."
Beberapa dari mereka langsung menarik lenganku tanpa memberiku kesempatan bicara dan memaksa menuangkan minuman itu ke mulutku.
Aku terbatuk hebat karena tersedak.
Saat aku mencoba mundur, seseorang mendorongku dengan keras hingga aku jatuh tepat ke atas kue di depanku.
Krim yang lengket langsung menutupi hidung dan mulutku.
Rasa sesak yang sangat kuat menghantamku, sementara suara tawa tajam dan keras menggema dari orang-orang di sekitarku.
Ketika aku dengan susah payah bangkit kembali, wajahku terasa panas dan perih seperti terbakar.
Dengan susah payah aku membuka mataku dan yang kulihat adalah dasar kue yang seharusnya lembut dan empuk, ternyata penuh dengan deretan paku besi yang mencolok.
Vivi tertawa terbahak-bahak saat melihat keadaanku yang menyedihkan.
Salah satu pria di sana bahkan berkata kepadaku tanpa sedikit pun rasa bersalah.
"Maaf, ya, Kak Nimas, krim kue ini agak lembek, jadi aku sudah minta mereka untuk menaruh penyangga. Tapi, siapa sangka kamu serakus itu sampai wajahmu nempel semua di atasnya."
Seseorang di belakang bahkan bisik-bisik mengejek, bilang aku seperti sapi.
Mereka semua langsung tertawa terbahak-bahak sambil menepuk meja.
Aku menyeka krim dari wajahku, menahan amarah dan bersiap untuk pergi.
Namun, Vivi masih belum mau melepaskanku.
Dia menarik rambutku dengan kasar. Sorot matanya penuh rasa puas dan ejekan, lalu memberi isyarat kepada orang-orang di belakangnya.
"Eh, si Nimas cemberut tuh. Ayo kita bantu bersihkan mukanya. Jangan sampai dia marah ke Bima."
Mereka langsung setuju, lalu dengan tawa jahat, mereka kompak menyerangku.
Ketakutan yang sulit dijelaskan menghantamku.
Dulu, saat kecil, aku pernah diculik. Karena terus menangis, aku ditekan ke dalam air dan hampir mati tenggelam.
Sejak saat itu, aku punya ketakutan terhadap air.
Namun, walau aku sudah berjuang sekuat tenaga, Vivi tetap berhasil menyeretku ke dapur.
Kepalaku ditekan ke dalam bak cuci sayur.
Aliran air dingin menghantamku, aku menangis kesakitan.
Namun, tangan-tanganku diikat kuat di belakang, sementara mereka tertawa kejam dengan puas.
"Harus bersih total dong! Perempuan kotor sepertimu nggak pantas ada di sini!"
Karena terlalu lama kehabisan napas, kesadaranku mulai kabur.
Tepat saat aku hampir pingsan, Bima yang sejak tadi hanya menonton tiba-tiba angkat suara.
"Berhenti!"
Satu teriakan keras langsung menghentikan tindakan kejam itu.
Mereka buru-buru melepaskanku.
Bima berjalan ke arahku dan dengan lembut menyibak rambut panjangku.
"Maaf, Sayang. Kamu pasti kaget, ya?"
Namun, aku hanya diam dan menepis tangannya yang ingin memelukku, lalu dengan suara parau berkata, "Aku nggak apa-apa."
Mengabaikan ekspresinya yang tampak terluka, aku berbalik dan kembali ke kamar tidur.
Bab 3
Di luar ruangan, terdengar suara protes dari teman-teman lain.
"Cuma bercanda kok, Bima. Kenapa kamu tiba-tiba jadi nggak bisa diajak bercanda sih?"
Bima merendahkan suaranya, berusaha keras menahan amarah dalam hatinya.
"Nimas trauma sama air sejak kecil. Kalian nggak bisa asal main-main dengan hal yang paling dia takutkan!"
"Anggap saja ini balasan untuknya. Sekarang Vivi sudah balik, kamu nggak mau cepat-cepat dekat lagi sama dia?"
"Dulu, kamu juga sudah sering banget melakukan hal jahat, masa sekarang jadi perhitungan?"
Seseorang berkata dengan nada tak peduli.
Siapa sangka kalimat ini justru menyulut amarah Bima.
Dia menendang meja dengan keras.
"Dia baru selesai operasi, kalian malah seperti ini. Kalau sampai jahitannya lepas, kalian mau tanggung jawab?"
Mendengar itu, wajah Vivi langsung pucat.
Dia menatap Bima dalam-dalam, lalu bertanya dengan nada lirih.
"Bima, baru empat tahun kita nggak ketemu, kamu sudah berpaling hati?"
Tanpa ragu, Bima langsung menjawab.
"Nggak mungkin. Dari dulu sampai sekarang, satu-satunya orang yang aku cintai cuma kamu. Itu nggak akan pernah berubah sampai kapan pun!"
Mendengar ucapan itu, semua orang langsung bersorak dengan heboh.
Seseorang langsung memanfaatkan momen itu.
"Kak Vivi dan Kak Bima sebenarnya saling mencintai. Kalau bukan karena Nimas yang jadi penghalang, mereka pasti sudah menjalin hubungan sejak dulu."
"Nimas itu sangat nggak tahu malu. Kita harus kasih dia pelajaran yang setimpal, biar dia tahu kalau kebaikan dan kejahatan pasti akan mendapat balasannya!"
"Dulu, waktu dia mencelakai Kak Vivi, dia pakai cara kecelakaan mobil sampai kaki Kak Vivi cedera. Makanya, Kak Vivi jadi nggak bisa ikut ujian masuk sekolah seni. Supaya Kak Vivi bisa melampiaskan kemarahannya, kita harus membuat kakinya patah juga!"
Teman-teman Bima ramai-ramai menyetujuinya.
Namun, ekspresi Bima berubah.
"Jangan! Tubuh Nimas sudah nggak sanggup menahan luka seperti itu lagi!"
Di tengah keheningan, Vivi tiba-tiba menangis.
"Bima, kamu pernah bilang padaku, kamu menjalin hubungan dengannya cuma karena ingin membalaskan dendamku. Sekarang, aku sudah kembali, kenapa kamu masih terus membelanya?"
"Kamu sendiri yang melihat betapa parahnya cedera kakiku waktu itu. Sekarang, aku cuma ingin mendapatkan keadilan untuk diriku sendiri, tapi kamu bahkan nggak mau memberikannya?"
Bima langsung panik.
Dia memeluk Vivi dan mencium bibirnya.
Setelah menatap Vivi lama, Bima berkata pada teman-temannya dengan suara parau.
"Jangan keterlaluan, aku nggak ingin berutang budi padanya."
Mendengar semua ucapan mereka, dadaku terasa sesak.
Hanya demi membuat Vivi bahagia, aku bahkan rela mengabaikan nyawaku sendiri?
Kalau begitu, jangan salahkan aku kalau aku membalas dendam.
Aku mengambil ponselku dan mengirim pesan kepada ibu.
Setelah selesai berdiskusi, mereka pergi sambil terus berceloteh.
Bima membuka pintu kamar tidur dan duduk di sisi tempat tidurku.
Mungkin karena melihat wajahku yang pucat dan tubuhku meringkuk di balik selimut membuatnya merasa iba, dia pun membungkuk, ingin menciumku.
Namun, aku mendorongnya menjauh.
Jari-jarinya sempat kaku, lalu akhirnya ia hanya tersenyum lembut.
"Sayang, hari ini kamu sudah sangat tersakiti. Aku sudah memesan restoran romantis yang sangat ingin kamu datangi. Besok siang jangan lupa datang, ya?"
Hatiku terasa dingin, aku hanya mengangguk pelan sambil mengiyakan.
Keesokan paginya, Bima beralasan bahwa ia harus pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan dan menyuruhku agar berangkat lebih dulu ke restoran dengan mobil.
Saat aku menerima kunci itu, aku bertanya dengan nada pelan.
"Bima, kalau kamu diberi kesempatan sekali lagi, apa kamu masih akan memilih untuk bersamaku saat itu?"
Ada keraguan dan berat hati di matanya, tetapi ia tetap tersenyum dan mengusap rambutku.
"Jangan aneh-aneh. Seumur hidupku, cuma kamu yang aku cintai. Aku cuma akan mencintai kamu seorang."
Melihat punggung Bima yang makin menjauh, aku tersenyum tipis.
Ini adalah kesempatan terakhir yang kuberikan padanya.
Aku melangkah ke garasi, masuk ke dalam mobil, dan menyalakannya dengan tenang.
Mobil melaju keluar dari kompleks perumahan dan langsung mengikuti GPS dan mengambil jalur cepat.
Di jalan ini, kecepatan minimum kendaraan adalah seratus mil per jam.
Sementara itu, Bima dan teman-temannya sedang berdiri di vila yang mereka sewa khusus, memegang teropong, mengamati mobilku dari kejauhan.
Sebelum sampai di tujuan, ada satu tikungan tajam.
Saat mobil berbelok, bukannya melambat seperti seharusnya, justru kecepatannya bertambah. Ban mobil menggesek keras ke aspal, mengeluarkan suara melengking yang menyakitkan telinga.
Alat penyadap yang dipasang di dalam mobil langsung mengirimkan suara jeritanku secara langsung.
"Ada apa ini? Mobilnya malah mengebut!"
"Bima, kamu di mana? Aku takut sekali. Aku nggak mau mati!"
Suara tangis dan jeritanku justru membuat mereka tertawa terbahak-bahak, seperti serigala haus darah.
Mereka hanya berdiri diam, menyaksikan dengan mata kepala sendiri mobilku kehilangan kendali dan menabrak pembatas jalan.
Suara tabrakan keras terdengar, bodi mobil penyok dan terhenti di tempat.
Bima memimpin teman-temannya bertepuk tangan.
"Begitu dia keluar dan menelepon, aku akan bilang padanya kalau kita sudah putus."
Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Asap tebal tiba-tiba keluar dari bagian depan mobil, lalu api menyala hebat.
Di hadapan semua orang, mobil itu meledak hebat, menyisakan puing-puing yang berserakan.