Bab 1
Aku dan Bagas Saputra telah bersama selama 15 tahun dan hubungan kami selalu penuh kebahagiaan.
Namun, semuanya berubah setelah munculnya seorang wanita.
Sifat Bagas berubah asing. Dia menggunakan berbagai cara untuk memaksaku bercerai.
Aku terus bertahan. Meskipun hati ini terluka parah, aku tetap berharap dia akan kembali padaku.
Namun akhirnya, aku tersadar.
Ada kalanya, sebuah kisah cinta memang harus berakhir.
Hari ini aku ditemani ayahku menghadiri lelang tahunan di Kota Dipa.
Lelang kali ini sangat penting, baik bagiku maupun ayah.
Sebab, barang peninggalan ibuku akan dilelang di acara kali ini.
Pemilik rumah lelang ini adalah teman lama ayah sehingga kami bisa mendapat tempat duduk di barisan paling depan. Setelah beberapa sesi berlangsung, akhirnya kalung rubi milik ibuku dikeluarkan.
"Dua miliar." Tanpa ragu, aku langsung menawarkan harga tinggi.
"Sepuluh miliar."
Beberapa detik kemudian, seseorang langsung menawar dengan harga berkali-kali lipat.
Suara itu terdengar agak familiar.
Aku menoleh dan ternyata yang menawar adalah asistennya Bagas Saputra.
Asisten itu juga melihatku, tapi tatapannya tampak gugup dan dia segera mengalihkan pandangannya.
Seorang asisten jelas tidak mungkin punya sepuluh miliar. Tawaran ini pasti dari Bagas.
Melihat ekspresi wajahnya, aku langsung paham untuk siapa kalung wanita ini akan diberikan.
Kini, wanita bernama Sari Juwita itu adalah kesayangan Bagas, bagaikan permata di hatinya.
"Bukankah itu asistennya Bagas?"
Ayah mengenalinya. "Apakah dia sedang membantumu tawar harga? Memangnya kamu nggak beri tahu dia bahwa kamu datang juga hari ini?"
Aku menggelengkan kepala.
Terakhir kali Bagas pulang ke rumah sudah lebih dari sebulan yang lalu. Kami hampir tidak pernah berbicara lagi sejak saat itu.
Bahkan jika aku memberitahunya, dia juga tidak akan peduli.
Saat melihat ekspresiku, ayah sepertinya menyadari sesuatu. Wajahnya berubah tegang, kemudian dia mengangkat papan penawaran. "Dua belas miliar."
"Dua puluh miliar."
Tanpa ragu, asistennya Bagas kembali mengangkat papan tawaran.
"Tiga puluh miliar," sahut ayahku lagi.
"Enam puluh miliar!"
Tangan ayahku bergetar seolah ingin mengangkat papan lagi, tapi akhirnya dia menyerah. Papan itu pun jatuh lemas di pangkuannya.
Perusahaan kami hanyalah bisnis kecil. Kami tidak punya uang sebanyak itu.
"Tok, tok, tok."
Tiga ketukan palu menandai akhir dari lelang tersebut.
Aku dan ayah hanya bisa menatap dengan mata terbuka lebar saat barang peninggalan ibuku dikembalikan ke dalam kotaknya dan dibawa pergi.
Lelang selanjutnya pun tidak lagi menarik perhatian kami.
Begitu acara selesai, aku langsung berdiri dan berjalan menuju asistennya Bagas.
"Pak Toni," panggilku.
Toni berhenti melangkah, lalu berbalik menatapku.
"Kenapa kamu bisa datang ke acara lelang ini?" tanyaku pada Toni.
Aku masih menyimpan secuil harapan dalam hatiku.
Mungkin saja bukan Bagas yang menyuruhnya datang.
Sebelum Toni sempat menjawab, terdengar suara riang dari lantai atas, "Nona Lina, dia menemaniku datang."
Aku mendongak dan melihat seorang gadis turun dari tangga. Dia mengenakan gaun berwarna merah muda dengan tali di leher.
Wajahnya yang bulat imut dan putih halus itu dilapisi riasan lucu, mengikuti tren yang sedang populer. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tapi justru terlihat mungil dan menggemaskan.
Inilah tipe wanita yang disukai Bagas saat ini.
Demi dia, Bagas bersikeras memaksaku untuk bercerai.
Lantai atas adalah ruang VIP, tempat yang hanya bisa diakses oleh orang-orang yang punya cukup uang dan status.
Sebagai istrinya Bagas, aku tidak punya kualifikasi yang cukup untuk bisa berada di sana. Lucunya, Sari bisa.
Sari berjalan menghampiriku dengan wajah yang berpura-pura polos dan tak berdosa.
"Kak Bagas tahu aku suka kalung rubi ini, tapi dia sedang sibuk urusan bisnis di luar kota dan nggak bisa pulang, jadi dia menyuruh Pak Toni untuk menemani aku ke sini," ujar Sari dengan nada manis dan alis sedikit terangkat. "Aku nggak menyangka Nona Lina juga suka kalung ini."
Bab 2
Aku menatapnya dengan dingin. "Kamu seharusnya memanggilku Nyonya Saputra."
"Oh, maaf. Aku lupa." Sari menutup mulutnya seolah-olah terkejut. Gerakannya dibuat-buat agar terlihat imut, sementara wajahnya penuh sindiran. "Tapi bukankah Nyonya Saputra akan segera bercerai? Memanggilmu Nona Lina seharusnya nggak masalah, bukan?"
Dia hanyalah seorang karyawan kecil di Grup Saputra, tapi sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat padaku.
Sebab, dia tahu betul bahwa kini statusku sebagai Nyonya Saputra hanyalah simbol belaka. Cepat atau lambat, status ini akan menjadi miliknya.
"Pak Toni, cepat ambil kalungnya," ujar Sari sambil berbalik ke arah Toni. "Kak Bagas barusan bilang dia sudah mendarat. Dia akan segera datang menjemputku. Dia pasti tidak sabar melihatku memakai kalung rubi ini!"
Saat melihat wajah Sari yang penuh kemenangan dan membayangkan kalung peninggalan ibuku akan dikenakan di lehernya, aku benar-benar merasa jijik.
Namun, aku menahan amarahku karena teringat ayahku. "Sari Juwita, jual kalung itu padaku. Terserah kamu mau buka harga berapa. Aku bisa cicil."
"Tapi aku sudah janji pada Kak Bagas bahwa aku akan memakai kalung ini saat makan malam romantis bersamanya nanti."
Sari pura-pura terpojok. "Bagaimana kalau kamu ikut bertemu dengan Kak Bagas dan bicara langsung padanya?"
"Bicara apa lagi!"
Suara ayahku yang marah terdengar dari belakang.
Dia berjalan cepat menghampiriku, lalu mencengkeram lenganku dengan kencang. "Cerai dengannya sekarang juga!"
"Ayah!"
Aku buru-buru menahan ayahku. "Kalung ibu masih ada di tangannya."
"Aku nggak mau kalung itu lagi! Ayo pulang denganku!" Ayah menarikku dengan paksa.
Aku menolak untuk pergi.
Ayah menatapku dengan kecewa. "Dia sudah memperlakukanmu dengan begitu buruk dan bahkan boleh dibilang harga dirimu diinjak-injak oleh mereka. Jangan bilang kamu masih mau melanjutkan pernikahan ini?"
"Ayah ... aku hanya ingin berbicara dengannya." Aku tidak berani menatap tatapan kecewa ayah.
"Kamu!"
Tangan ayah bergetar karena marah, sementara matanya menempel tajam padaku. "Di dunia ini ada begitu banyak pria, kenapa kamu ngotot bersama dengannya?"
Aku menunduk.
Memang benar di dunia ini ada banyak pria, tetapi yang aku cintai hanyalah Bagas Saputra.
Ayah menghempaskan tanganku. "Baiklah, teruslah terjebak dalam kebodohanmu! Suatu hari nanti kamu pasti akan menyesal!"
Setelah melontarkan kalimat itu, ayah berbalik dan pergi dengan kesal.
Sari melirikku dengan sinis. Tepat saat Toni kembali dengan membawa kalung itu, Sari berkata padaku, "Ayo, ikut aku."
Aku mengikuti langkahnya keluar dari ruang lelang, lalu melihat mobil yang tidak asing itu terparkir di sana.
Saat itu, kami bersama-sama memilih mobil ini. Aku menyukai warna putih, sementara Bagas lebih suka hitam. Ketika saatnya mengambil keputusan akhir, Bagas malah tanpa ragu memilih putih.
Aku sempat bertanya padanya, kenapa dia tidak memilih warna yang disukainya, padahal dia yang lebih sering menggunakan mobil ini. Dia menjawab, "Aku membeli mobil ini untuk membawamu ke tempat-tempat yang kamu suka. Lina, apa pun yang kamu suka, itulah yang akan aku beli."
Kini orang yang masuk ke dalam mobil malah bukan aku, tapi Sari. Dia bahkan duduk di samping Bagas.
Sementara aku berdiri di luar mobil, menatap Bagas yang menurunkan jendela. Pasangan mata yang dulunya penuh cinta itu kini menatapku dengan dingin.
"Kak Bagas, aku akhirnya mendapatkan kalung ini, tapi dia juga menginginkan kalung ini dan memintaku untuk memberinya."
Sari berkata dengan suara manja, "Kak Bagas, bagaimana ini?"
"Ini adalah barang peninggalan ibuku." Aku menatap tajam Bagas.
Kami sudah bersama selama 15 tahun, jadi dia tentu tahu betapa sedihnya aku ketika ibuku meninggal. Ibuku tidak meninggalkan apa pun, kecuali kalung ini yang ditemukan setelah kecelakaan.
Bab 3
Kalung ini adalah satu-satunya kenangan yang aku dan ayahku miliki tentang ibuku.
Aku melihat pupil Bagas menyusut sejenak, tetapi detik berikutnya dia malah merangkul bahu Sari dan berkata dengan tenang, "Kalau kalung ini begitu penting bagimu, kenapa kamu nggak menawarkan harga lebih tinggi saat lelang tadi?"
Aku menatap tangannya yang terletak di bahu Sari. Bekas cincin di jari manisnya sudah memudar.
"Aku nggak punya uang sebanyak itu."
"Itu masalahmu," kata Bagas sambil memandangku. "Kalau saja kamu lebih cepat setuju untuk bercerai, uang ganti rugi yang aku berikan pastinya cukup untuk membeli kalung rubi ini."
Kata-katanya terasa seperti pisau tajam yang menghunjam tepat di hatiku.
"Jadi, kamu membantu Sari mendapatkan kalung ini hanya untuk memaksaku bercerai?"
Aku bahkan merasakan nyeri saat mengucapkan kata-kata itu. "Bagas, bagaimana kamu bisa memperlakukanku seperti ini?"
"Aku sudah nggak memiliki perasaan padamu lagi, Lina. Kenapa kamu nggak mau lepas tangan?"
Pada akhirnya, aku tetap tidak bisa mendapatkan kembali kalung ibuku dari Sari.
Setelah pulang ke rumah, pikiranku dipenuhi oleh pertanyaan terakhir Bagas.
Aku duduk termenung di sofa, memandang meja kopi dan lukisan di ruang tamu. Semua itu adalah hasil dekorasi kami bersama.
Kami pernah merencanakan masa depan dengan penuh harapan, bagaimana bisa dia tiba-tiba jatuh cinta pada orang lain?
Aku tidak ingin percaya semua yang terjadi ini.
Meskipun Bagas sudah berhubungan dengan Sari secara terbuka dan semua orang yang mengenal kami tahu bahwa dia telah memiliki kekasih baru, aku tetap tidak mau bercerai.
Aku tidak sudi.
Aku menatap foto kami yang terletak di atas meja, seolah-olah bisa melihat kembali saat-saat ketika kami baru bersama.
Aku dan Bagas bertemu saat kami duduk di bangku SMA. Aku adalah siswa teladan, sementara dia adalah anak nakal. Dia duduk di belakangku dan sering menarik ekor rambutku.
Saat aku menatapnya dengan marah, dia justru menyodorkan selembar kertas kepadaku.
"Lina, aku suka padamu. Mau nggak kamu pacaran denganku?"
Sejak hari itu, dia mulai bangun pagi-pagi, menungguku di depan rumahku, lalu menemaniku berangkat dan pulang sekolah.
Lambat laun, orang tuaku tahu tentang keberadaannya, begitu pula orang tuanya.
Kedua keluarga kami bahkan pernah makan bersama untuk membicarakan hubungan kami.
"Kalian masih pelajar, jadi jangan pacaran dulu," nasihat ibunya. "Jangan sampai merugikan anak orang."
Dia terus mengangguk, tetapi diam-diam menggenggam tanganku di bawah meja.
Tahun terakhir SMA, ibuku mengalami kecelakaan mobil yang tragis.
Mobilnya meledak, bahkan sisa tubuhnya pun tidak ada yang tersisa.
Sosok ayahku berubah tua hanya dalam waktu semalam, bisnisnya merosot tajam, sementara aku menangis terus hingga tidak bisa pergi ke sekolah. Aku bahkan didiagnosis menderita depresi.
Bagas meminta izin untuk menemaniku.
"Lina, jangan bersedih. Kamu masih punya aku dan ayahmu."
Dia mengelus kepalaku dan memelukku dengan lembut.
Berkat kehadirannya, aku perlahan-lahan mulai pulih dan berhasil mengikuti ujian akhir. Namun, dampak kejadian itu membuatku gagal masuk ke kampus impianku.
Demi tetap bersamaku, Bagas mengorbankan kesempatan untuk masuk ke kampus yang lebih baik dan memilih kampus lain di kota yang sama denganku.
Aku mengatai dirinya bodoh, tetapi dia hanya tersenyum sambil menggenggam tanganku. "Kekasihku begitu cantik. Kalau kita terpisah dan kamu digoda oleh pria lain di kampus, apa yang bisa aku lakukan?"
Itu adalah pertama kalinya dia mengucapkan kata-kata yang begitu mesra padaku. Kata kekasihku membuatku tersipu dan berdebar-debar.
Aku pun mengumpulkan keberanian untuk bertanya, "Sebenarnya, bagaimana perasaanmu terhadapku?"
Bagas terdiam sejenak. Telinganya memerah dan dia terlihat canggung.
"Apakah aku belum menunjukkan perasaanku dengan cukup jelas?"