Bab 7
Vanesa tidak membaca surat itu, langsung mengambilnya. Dia menatap Hanna sembari berkata, "Katakan pada Steven kalau pengacaraku akan menghubunginya untuk urusan perceraian selanjutnya."
Setelah berkata demikian, Vanesa berbalik, hendak pergi.
Hanna berdiri, lalu bertanya, "Nona Vanesa, apakah Regan ada di tempatmu?"
Vanesa menghentikan langkahnya, melirik ke arah Hanna.
Hanna berkata dengan nada lembut yang penuh dengan permohonan, "Sudah beberapa hari aku nggak bertemu dengan Regan. Bolehkah aku naik untuk menemuinya?"
Sebenarnya, Vanesa sangat tidak ingin Hanna menginjakkan kaki di studionya.
Namun, Regan adalah anak Hanna. Setelah bercerai dengan Steven nanti, Vanesa bahkan tidak bisa dianggap sebagai ibu tirinya.
Setelah memikirkan tentang hal ini, Vanesa baru saja akan berbicara ketika suara anak kecil yang polos terdengar lebih dulu.
"Ibu!"
Vanesa menoleh, melihat Regan yang sudah berlari ke arah mereka!
Regan memeluk Vanesa.
Vanesa tanpa sadar mengulurkan tangan untuk menangkapnya, mengusap kepalanya karena kebiasaannya. "Kenapa kamu berlari turun sendirian?"
"Kak Lucy menemaniku turun dengan lift. Dia baru pergi setelah melihatku masuk ke kafe."
Regan memeluk Vanesa, sementara dia menggosokkan pipi kecilnya di pelukan Vanesa. Kemudian, dia bertanya, "Ibu, kenapa lama sekali di luar? Aku merindukanmu!"
Vanesa tersenyum simpul, tampak tak berdaya.
'Anak ini memang pandai bertingkah manja,' pikir Vanesa.
Interaksi di antara keduanya jatuh ke dalam pandangan Hanna. Tubuh rampingnya sedikit bergetar, wajah cantiknya langsung memucat.
"Regan …."
Ketika Regan mendengar suara itu, dia mengangkat kepala. Tanpa diduga, pandangannya bertatapan dengan pandangan terluka Hanna.
Tubuh kecilnya membeku.
Vanesa juga terkejut, jelas merasakan ketidaknyamanan Regan.
Dia baru saja akan melepaskan Regan ketika suara langkah kaki terdengar dari belakang.
"Hanna."
Ketika Vanesa menoleh, dia melihat Steven.
Pria itu mengenakan jaket panjang hitam. Tubuhnya tinggi dan tegap, sementara wajahnya menunjukkan ekspresi dingin.
Vanesa melihatnya berjalan dengan langkah besar ke sisi Hanna. Steven melepaskan jaketnya untuk menutupi kepala Hanna.
Hanna dilindungi dengan erat dalam pelukannya.
Vanesa menatap semua ini dengan linglung. Rasa sakit yang penuh dengan kepahitan menyebar tak terkendali di dadanya.
Steven menundukkan kepala, lalu berkata dengan nada lembut pada Hanna yang ada dalam pelukannya, "Ada yang mengambil foto diam-diam."
Saat Hanna mendengar ini, dia menunjukkan ekspresi panik. Kedua tangannya mencengkeram kemeja di dada Steven dengan erat, wajah cantiknya yang membuat banyak penggemar terpesona itu terbenam di dada Steven.
Steven melindungi Hanna sambil melangkah pergi.
Ketika melewati sisi Vanesa, pria itu hanya mengatakan satu kalimat, "Antar Regan pulang, aku akan menjemputnya nanti."
Pria itu hanya memberi tahu, tidak membutuhkan tanggapan Vanesa.
Vanesa memeluk Regan, melihat Steven yang melindungi Hanna naik mobil melalui jendela kaca kafe.
Steven yang seperti ini benar-benar menunjukkan sosok seorang pria sejati.
Selama proses ini, tidak hanya wajah Hanna, bahkan sehelai rambut pun tidak terlihat dari balik jaket hitam itu.
Mobil Maybach pun melaju pergi.
Vanesa menundukkan kepala, melihat surat cerai di tangannya dengan bibir yang terkatup keras. Rasa panas yang mengalir di pelupuk matanya ditekannya kembali sekali lagi.
"Ibu, apa kamu baik-baik saja?" tanya Regan.
Vanesa kembali tersadar, langsung bertatapan dengan pandangan khawatir dan peduli Regan.
Dia mengambil napas dalam-dalam, tersenyum dengan susah payah, lalu menjawab, "Aku nggak apa-apa."
Regan mengamati raut wajah Vanesa.
Melihat Vanesa sepertinya tidak berbeda dengan biasanya, Regan pun merasa lega.
Vanesa tidak apa-apa, tetapi Regan masih ingat ekspresi sedih ibunya tadi!
Ketika memikirkan bahwa dirinya sudah membuat ibunya sedih, Regan merasa sangat bersalah.
Vanesa melihat waktu.
Waktu pemeriksaan yang dijanjikan dengan temannya sudah hampir tiba.
Dia mengusap kepala Regan sambil berkata, "Regan, Ibu harus pergi dulu untuk mengurus sesuatu. Bisakah kamu kembali ke studio dan menungguku?"
"Nggak mau!" Regan sekarang ingin sekali segera bertemu dengan Hanna, tetapi dia tidak berani memberi tahu Vanesa apa yang ada dalam pikirannya.
Regan memutar bola matanya, lalu berkata, "Ibu, kamu sudah beberapa hari nggak pulang ke rumah. Tadi Ayah menyuruh Ibu untuk mengantarkanku pulang dulu. Apakah ada hal penting yang ingin Ayah bicarakan denganmu?"
Hal penting apa yang ingin dibicarakan Steven dengannya? Mungkin itu hanya masalah perceraian saja.
Namun, bagaimana mungkin Vanesa bisa mengatakan tentang hal ini pada Regan?
Ini adalah urusan orang dewasa, tidak seharusnya melibatkan anak yang tidak bersalah.
"Ibu, ayo pulang ke rumah denganku!" Regan menarik tangan Vanesa, lalu berkata dengan manja, "Ayolah! Aku sudah beberapa hari nggak bertemu dengan Ayah, aku merindukan Ayah!"
Vanesa menghela napas, lalu menjawab dengan terpaksa, "Baiklah. Kalau begitu Ibu akan mengantarmu pulang dulu."
"Hore!" Regan merasa sangat senang. "Ibu baik sekali!"
Vanesa mengusap kepalanya. Ketika melihat wajah kecil Regan yang lucu dan polos, dia mendesah dalam hati.
Selama lima tahun pernikahan ini, mungkin hanya ketergantungan dan perasaan Regan terhadapnya yang nyata.
Selain itu, semuanya adalah kebohongan, hanya khayalan belaka.
…
Setengah jam kemudian, Vanesa dan Regan kembali ke Mansion Resta.
Steven masih belum pulang, sementara Regan sudah menjadi tidak sabaran setelah menunggu hanya sepuluh menit.
"Bu, bisakah Ibu menelepon Ayah untuk menanyakan kapan dia akan pulang?" tanya Regan.
Vanesa juga mengira Steven akan segera pulang. Dia ingin langsung pergi ke rumah sakit ketika Steven pulang.
Namun, masalahnya sekarang, Steven tidak mengangkat teleponnya meski panggilannya tersambung.
Ini terjadi tiga kali berturut-turut.
Vanesa merasa tidak berdaya, tetapi tetap menghibur Regan, "Ayahmu mungkin sedang sibuk."
Regan mengerutkan kening.
'Mungkinkah Ibu menangis, jadi Ayah sedang menghiburnya hingga nggak sempat mengangkat telepon?' pikir Regan.
Setelah memikirkan ini, Regan menjadi makin cemas. Dia bahkan mulai menyesali mengapa dia memeluk Vanesa tadi. Jika dia tidak memeluk Vanesa, Hanna tidak akan merasa sedih!
Makin Regan memikirkannya, makin kesal dirinya. Bahkan tatapan yang dia berikan pada Vanesa pun dipenuhi dengan kebencian.
Hanya saja, Vanesa saat ini sedang mengirim pesan WhatsApp pada sahabatnya, tidak menyadari emosi Regan.
Vanesa: [Ada sedikit masalah yang menundaku. Kita lakukan pemeriksaannya besok saja.]
Sahabat Vanesa: [Besok aku bekerja shift pagi, kamu bisa langsung datang saja.]
Vanesa: [Baiklah.]
Sahabat Vanesa: [Melihat keadaanmu, aku yakin kamu pasti belum menggunakan alat tesnya.]
Vanesa melirik tas di sampingnya dengan perasaan yang agak bersalah, lalu membalas: [Sekarang aku akan melakukannya.]
Sahabatnya pun mengirimkan beberapa emoji sebagai balasan.
Vanesa membalas dengan emoji yang bertuliskan "aku bersalah". Kemudian, dia mengambil tasnya, bangkit berdiri, lalu berkata, "Regan, Ibu mau ke toilet sebentar."
Regan tidak meresponnya.
Vanesa mengira dia sedang merasa kesal karena Steven, jadi tidak terlalu memikirkannya. Vanesa pun berbalik naik ke lantai dua.
Setelah mendengar suara pintu kamar utama di lantai dua tertutup, Regan langsung berlari kembali ke kamarnya, mengambil jam tangan telepon yang dibelikan Hanna dari bawah bantal.
Kontak pertama di telepon itu adalah kontak Hanna, jadi Regan pun meneleponnya.
Telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya diangkat.
"Regan?"
Suara Steven yang rendah dan serak terdengar dari telepon. Terdengar juga napas yang terengah-engah.
Regan merasa sedikit terkejut ketika bertanya, "Ayah? Kenapa Ayah yang mengangkat teleponnya? Di mana Ibu?"
"Ibu kelelahan dan baru saja tertidur. Ada apa?" jawab Steven.
Ketika Regan mendengar ini, hatinya merasa makin cemas. "Apakah Ibu menangis?"
Steven tidak menyangkal, "Sekarang sudah nggak apa-apa."
"Aku khawatir dengan Ibu. Ayah, aku sudah berada di rumah sekarang. Bisakah kamu menjemputku? Aku ingin bersama dengan Ibu!" ujar Regan.
"Baiklah, sekarang Ayah akan pulang untuk menjemputmu."
Setelah menutup telepon, Regan merasa sangat senang. Dia diam-diam menyembunyikan jam tangan telepon di saku jaketnya, lalu keluar kamar dan berlari turun.
Regan duduk di sofa, menyalakan televisi, lalu menonton dengan gembira sambil menunggu ayahnya menjemputnya.
Sementara itu, di kamar mandi kamar utama, Vanesa memegang alat tes kehamilan di tangannya dengan ujung jari yang memutih ....
Bab 8
Dari halaman terdengar suara mobil.
Steven sudah pulang.
Vanesa memegang alat tes kehamilan, lalu membuka pintu kamar mandi.
Di bawah, terdengar suara gembira Regan.
"Ayah!"
Vanesa turun menyusuri tangga satu per satu.
Regan berdiri di atas sofa dengan tangan terbuka ke arah Steven, lalu berkata, "Ayah, peluk aku!"
Steven membungkuk untuk mengangkat Regan.
Vanesa memperhatikan bahwa Steven sudah mengganti pakaiannya.
Saat mengingat kembali pada tiga panggilan telepon yang tidak dijawab tadi ....
Kebenaran yang kejam makin jelas di hadapan Vanesa.
Langkah Vanesa berhenti di anak tangga terakhir. Buku-buku jari di tangannya yang memegang alat tes kehamilan itu tampak memutih.
Regan memeluk leher Steven, melihat ke arah Vanesa, lalu berujar, "Ibu, Ayah ingin mengajakku bermain. Apakah Ibu ingin ikut dengan kami?"
Vanesa melirik Regan, lalu mengalihkan pandangan ke wajah Steven.
Hari ini, Steven tidak memakai kacamata. Matanya yang dalam itu tidak menunjukkan emosi sedikit pun.
Akhirnya, pria itu mengalihkan pandangan padanya, tampak dingin seperti biasa.
"Terima kasih atas kerja kerasmu selama beberapa hari ini. Aku akan berada di Kota Amarai beberapa waktu ini, jadi aku akan menjaga Regan."
Suara Steven terdengar rendah dan merdu. Hanya saja, setiap katanya mengandung jarak.
Jarak terhadap Vanesa.
Vanesa tersenyum simpul ketika mendengarnya, sementara matanya mulai menjadi panas.
Dia merasa ironis.
Ironis karena kegembiraan yang muncul di hatinya ketika melihat hasil tes di kamar mandi tadi.
Ketika Regan melihat Vanesa diam saja, hatinya merasa agak cemas.
Dia masih ingat bahwa Vanesa mengatakan ingin keluar mengurus sesuatu ketika mereka berada di kafe tadi. Alasan Regan bertanya seperti itu, sepenuhnya karena dia yakin bahwa Vanesa tidak akan setuju.
Namun, bagaimana kalau Vanesa setuju? Apa yang harus dia lakukan?
'Aku ingin pergi menemui Ibu dengan Ayah!' pikir Regan.
"Ibu?" Regan mencoba memanggil dengan ragu.
Vanesa mengalihkan pandangannya, langsung bertatapan dengan mata Regan yang tampak sedikit cemas.
Pikiran Vanesa kacau, tidak sempat menyelidiki emosi apa yang ada di mata Regan saat ini. Dia hanya berkata dengan acuh tak acuh, "Ibu nggak ikut. Kalian bersenang-senanglah."
Sebenarnya Vanesa tahu bahwa Steven kemungkinan besar akan membawa Regan menemui Hanna. Namun, dia tiba-tiba merasa tidak peduli lagi, tidak ingin mengurus hal ini lagi.
Regan menghela napas lega.
"Kalau begitu, Ibu sebaiknya beristirahat dengan baik di rumah." Regan melanjutkan sambil melihat ke arah Steven, "Ayah, ayo cepat kita pergi!"
Steven menanggapi dengan acuh tak acuh. Dia berbalik sambil menggendong Regan. Ketika melewati meja kopi, ujung matanya melirik surat cerai itu.
Hanya saja, kata 'cerai' di atas surat itu tertutup oleh mainan Regan.
Langkah Steven terhenti sejenak.
Vanesa terus memperhatikan Steven. Jadi, ketika pandangan pria itu jatuh pada surat cerai di atas meja, napas Vanesa seakan terhenti.
Meskipun tahu bahwa Steven akan mengajukan perceraian, Vanesa tidak pernah menyangka bahwa surat cerai ini akan diserahkan ke tangannya oleh kekasih Steven, ibu kandung Regan.
Sebelum hari ini, Vanesa mengira bahwa meskipun tidak ada cinta di antara mereka, setidaknya mereka adalah pasangan suami istri yang saling menghormati.
Vanesa tidak pernah menyangka, pernikahan yang dia jalani dengan penuh rasa syukur, serta tanpa penyesalan ini, akan berakhir ketika dia mengetahui … bahwa semuanya adalah tipu daya yang direncanakan Steven dengan cermat demi kekasihnya.
Demi melindungi kekasih hatinya, Steven rela mempertaruhkan pernikahannya sendiri. Dia membuat sebuah penjara bernama pernikahan untuk Vanesa, mengurungnya di penjara itu. Dia melihat Vanesa bertingkah seperti badut yang rela mengorbankan segalanya untuk anak yang dilahirkan kekasihnya.
Apakah dalam lima tahun ini Steven tidak pernah merasa bersalah sedikit pun?
Vanesa mengingat kembali adegan ketika Hanna memberikan surat cerai padanya. Hatinya marah dan sakit.
Pada saat ini, Steven sedang menunduk menatap surat cerai itu.
Pria itu mengerutkan kening sedikit, bersiap mengulurkan tangan untuk mengambilnya.
Vanesa akhirnya tidak bisa menahannya lagi, langsung melangkah mendekati Steven.
Alat tes kehamilan di tangannya hampir pecah karena cengkeramannya.
Emosi yang tertahan selama ini sudah mencapai puncaknya di saat ini.
"Steven ...."
"Ayah, ayo cepat kita pergi!"
Suara Regan yang mendesak memotong kata-kata Vanesa, juga menghilangkan niat Steven untuk menyelidiki lebih lanjut.
Steven tersenyum simpul, lalu membalas, "Baiklah, kita akan pergi sekarang."
Setelah berkata demikian, dia langsung pergi sambil menggendong Regan.
Dari awal sampai akhir, Steven bahkan tidak melirik Vanesa sekali pun.
Sampai akhirnya suara mobil di luar makin menjauh.
Tubuh Vanesa yang kaku seakan kehilangan tenaga. Dia berpegangan pada sandaran sofa, lalu berjongkok perlahan.
Dia menundukkan kepala. Dalam penglihatannya, dua garis merah yang jelas itu menjadi makin kabur.
Air mata yang panas menetes, jatuh di atas dua garis merah itu.
Seandainya Steven melirik Vanesa sekali saja, dia akan menemukan alat tes kehamilan yang dipegangnya.
Sayangnya, pandangan dan hati Steven sama. Sejak awal sampai akhir, tidak akan pernah berhenti padanya.
Vanesa berjongkok di lantai, air mata membasahi wajahnya. Manor Resta yang besar ini terasa kosong, hanya suara tangisan tertahan Vanesa yang bergema lama.
…
Setengah jam kemudian, Vanesa mengirimkan foto melalui WhatsApp pada temannya.
Sahabat Vanesa: [Akurasi alat tes kehamilan ini tinggi. Besok kamu bisa datang dengan perut kosong untuk pemeriksaan.]
Vanesa: [Aku ingin langsung membuat janji untuk melakukan aborsi.]
Sahabat Vanesa terkejut membaca pesan ini.
Detik berikutnya, temannya itu langsung menelepon.
Saat ini, emosi Vanesa sudah kembali tenang. Dia sedang mengemasi barang-barangnya.
Ketika melihat nama Stella di layar telepon, Vanesa meletakkan pakaian yang sedang dilipatnya, lalu mengambil ponsel untuk menjawabnya.
"Apa Steven tahu?" Suara Stella Anston yang berada di seberang telepon terdengar serius. Dia melanjutkan, "Kamu harus memikirkan semua ini dengan baik. Ini adalah anak pertamamu."
"Dia nggak tahu." Suara Vanesa terdengar sangat pelan. "Kami akan bercerai. Dia sudah punya Regan, jadi dia nggak akan peduli dengan kehidupan yang datang secara nggak sengaja ini."
Setelah mendengar ini, Stella yang ada di seberang juga terdiam sejenak.
Stella memahami tentang kondisi pernikahan Vanesa dan Steven.
"Meskipun dulu aku nggak begitu optimis dengan dirimu dan Steven, lima tahun ini aku sudah melihatmu menjalin hubungan yang cukup harmonis dengan pasangan ayah dan anak itu. Aku bahkan sempat mengira kalian akan hidup seperti ini selamanya. Siapa sangka .... Haih! Apa kamu tahu perasaan ini? Rasanya seperti aku sudah mengikuti serial drama dengan serius, tapi tiba-tiba berakhir dengan buruk!" ujar Stella.
Vanesa mengedipkan matanya yang perih.
Vanesa tidak bisa menceritakan segala macam hal pada Stella secara mendetail. Jika ingin menyalahkan, Vanesa hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan hatinya, sudah mencintai orang yang salah.
"Besok aku akan datang ke tempatmu." Suara Vanesa terdengar tegas.
Stella menghela napas sedih beberapa kali, lalu berkata, "Aku nggak bisa langsung melakukannya besok. Aku harus melakukan pemeriksaan dulu. Kita akan bicarakan nanti saat kamu datang."
"Ya."
Setelah menutup telepon, Vanesa meletakkan ponselnya, lalu melanjutkan berkemas.
Meskipun Steven memberikan Mansion Resta ini untuknya, Vanesa tidak berniat untuk terus tinggal di sini.
Dia tahu bahwa Steven pasti juga tidak akan peduli dengan rumah ini. Jadi, Vanesa berencana menjual rumah ini setelah mereka bercerai nanti.
Bagaimanapun juga, ini adalah rumah yang sudah dia tinggali selama lima tahun. Ada banyak barang-barang keperluan sehari-hari di sini.
Vanesa hanya mengemas beberapa pakaian dan tas sehari-hari untuk dibawa. Sisanya, terserah pada Steven untuk mengurusnya. Jika Steven malas mengurusnya, nanti Vanesa akan sekalian membersihkannya saat menjual rumah ini.
Setelah selesai berkemas, Vanesa menandatangani surat cerai, lalu meletakkan surat cerai itu di meja kopi yang paling mencolok.
Saat melangkah keluar dari Mansion Resta, Vanesa menarik dua koper. Dia menutup pintu, langsung pergi tanpa menoleh lagi.
Bab 9
Pada awal tahun, Vanesa sudah membeli sebuah unit di Kompleks Acacia yang ada di sebelah studionya.
Rumah itu berukuran 140 meter persegi dengan tiga kamar tidur. Dia dan ibunya masing-masing akan mendapatkan satu kamar, sementara satu kamar kecil lagi akan Vanesa ubah menjadi sebagai ruang kerja.
Rumah itu sudah jadi, tetapi Vanesa meminta perusahaan dekorasi untuk mendesain ulang interiornya. Tiga bulan yang lalu, mereka sudah menyelesaikan semuanya. Jadi, Vanesa bisa langsung pindah.
Vanesa meletakkan koper di rumah barunya, lalu pergi ke studio.
Dia bekerja merestorasi barang sampai dini hari. Baru ketika Vanesa menyentuh batas kemampuannya, dia menyeret tubuh lelahnya kembali ke ruang istirahat.
Setelah mandi, Vanesa berbaring di tempat tidur, lalu menutup mata untuk tidur nyenyak.
Hanya saja, malam itu dia tidak tidur terlalu nyenyak. Vanesa bermimpi tentang banyak hal. Namun, dia tidak mengingat apa-apa setelah terbangun.
Sambil mengusap kepalanya yang berdenyut, Vanesa masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat melangkah keluar, ponselnya yang berada di atas meja samping tempat tidur bergetar.
Ternyata Steven yang menelepon.
Vanesa tidak mengangkatnya.
Vanesa bisa menebak bahwa telepon ini pasti karena Regan.
Karena tekad Vanesa untuk bercerai sudah bulat, dia akan memutuskan segala hubungan.
Bagaimanapun juga, Regan adalah anak kandung Hanna. Vanesa merasa Regan akan perlahan mengalihkan ketergantungannya pada Hanna setelah menghabiskan waktu bersama ibu kandungnya itu.
Setelah mengganti baju, Vanesa memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu pergi menuju rumah sakit.
…
Di departemen kandungan rumah sakit, di ruang periksa pribadi Stella.
"Menurut tanggal haid terakhir dan hasil USG, kamu hamil lima minggu lebih empat hari."
Stella menyerahkan laporan hasil pemeriksaan pada Vanesa.
Vanesa menerimanya, melihat gambaran hitam putih pada laporan hasil pemeriksaan. Hatinya tidak bisa tidak menegang.
"Selain itu, anakmu ini …." Stella menunjuk kantung kehamilan kecil di atas, lalu melanjutkan, "Sepertinya kembar."
Begitu mendengar ini, Vanesa langsung terkejut.
Dia mengangkat kepala untuk menatap Stella, lalu bertanya, "Apa kamu yakin?"
"Sekarang usia kandunganmu baru lima minggu lebih, hanya terlihat ada dua kantung kehamilan."
Stella menjelaskan, "Kalau sudah sampai usia kandungan tujuh minggu, kamu bisa memeriksa detang jantung di kedua kantung kehamilan ini. Baru pada saat itu kita bisa memastikan apakah kamu hamil anak kembar atau bukan. Kantung kehamilan ganda seperti milikmu ini umumnya adalah kembar fraternal. Mungkin mereka bisa menjadi sepasang kembar berbeda jenis kelamin!"
Vanesa mencengkeram hasil pemeriksaan, mengerucutkan bibir pucatnya beberapa kali, tetapi tetap tidak bisa mengatakan apa-apa.
Stella tahu bahwa hati Vanesa mulai luluh.
Bagaimanapun juga, ini adalah darah dagingnya sendiri. Terlebih lagi, mereka mungkin kembar. Siapa pun pasti akan merasa enggan melepaskannya.
Ditambah lagi, ini adalah anak Vanesa dan Steven.
Stella sangat memahami perasaan Vanesa terhadap Steven.
Stella bahkan merasa di dunia ini mungkin tidak akan ada lagi orang yang seperti Vanesa. Selama lima tahun penuh, dengan alasan membalas budi, Vanesa sudah mencintai seorang pria tanpa mengeluh, meski pria itu bisa mengajukan perceraian kapan saja.
Dalam pernikahan ini, Vanesa mencinta dengan begitu rendah hati.
Sedangkan Steven …. Mungkin dari awal sampai akhir, dia tidak pernah menjalankan kewajibannya sebagai suami.
"Aku akan memikirkannya lagi."
Setelah beberapa saat, Vanesa mengangkat pandangannya untuk menatap Stella, lalu berujar, "Aku akan memberitahumu kalau aku sudah memutuskan."
Mata cantik Vanesa tampak sedikit merah serta mengandung air mata. Di dalam matanya, tampak kebingungan yang jelas.
Stella yang melihat ini merasa hatinya sakit. Dia berkata, "Kamu harus membuat keputusan dalam waktu 12 minggu."
"Baiklah." Vanesa memasukkan laporan hasil pemeriksaan ke dalam tas, lalu menambahkan, "Jangan beri tahu siapa pun tentang kehamilanku."
"Aku tahu."
Stella masih harus pergi bekerja, jadi Vanesa tidak ingin mengganggunya.
Setelah meninggalkan departemen kandungan, Vanesa turun dengan menggunakan lift.
Sesampainya di lantai satu, Vanesa berjalan keluar dari lift. Begitu mengangkat pandangan, dia langsung melihat Steven yang sedang menggendong Regan, tampak baru masuk dari pintu besar rumah sakit.
Ada koyo penurun panas yang tertempel di dahi Regan.
Vanesa terkejut.
Ketika Regan melihat Vanesa, wajah kecilnya yang pucat langsung penuh senyuman. "Itu Ibu!"
Langkah Steven berhenti, lalu dia melihat ke arah Vanesa.
"Ibu!"
Regan berteriak pada Vanesa.
Steven berjalan mendekati Vanesa sambil menggendong Regan.
Vanesa benar-benar menyayangi Regan. Dia menyentuh wajah Regan, merasakan suhu tubuhnya yang cukup tinggi.
Vanesa bertanya, "Kenapa dia bisa tiba-tiba demam?"
Steven menjawab dengan acuh tak acuh, "Semalam dia makan es krim."
Ketika mendengar ini, Regan memainkan jari-jarinya dengan perasaan bersalah.
Sebenarnya, itu karena Hanna membelikannya es krim untuk pertama kalinya. Regan merasa enggan untuk menyia-nyiakan, jadi dia menghabiskan satu kotak penuh.
Namun, Regan tidak berani mengatakan yang sebenarnya. Jika sampai Vanesa tahu Regan sudah memakan satu kotak penuh es krim, pasti Vanesa akan menyalahkan Hanna!
Regan merasa bahwa Hanna begitu lembut, serta begitu menyayanginya. Bagaimana mungkin dia akan membiarkan Vanesa menyalahkan Hanna?
Regan merasa takut Vanesa akan terus bertanya, jadi dia langsung mengulurkan tangan, "Ibu, bisakah kamu menggendongku?"
Vanesa tanpa sadar ingin mengangkat tangannya. Namun, mengingat dirinya sekarang sedang hamil, gerakannya terhenti.
Dia mengusap kepala Regan sambil berkata, "Ibu sedang nggak enak badan. Biarkan Ayah yang menggendongmu."
Begitu mendengar ini, Regan langsung cemberut, merasa tidak senang.
Ini adalah pertama kalinya Vanesa menolak untuk menggendongnya.
Meskipun Vanesa sedang sakit, Regan ingat bahwa dulu Vanesa tetap bersedia menggendongnya saat sedang sakit.
Mungkinkah Vanesa marah?
Regan mengamati Vanesa dengan hati-hati.
Saat melihat wajah Vanesa yang memang tidak terlalu sehat, Regan langsung merasa gugup.
"Ibu, apakah Ibu marah padaku?" Regan menatap Vanesa dengan tatapan menyedihkan, lalu berujar, "Aku salah. Aku nggak seharusnya makan es krim diam-diam tanpa sepengetahuan Ibu. Aku berjanji nggak akan makan es krim lagi."
Vanesa memang tidak pernah memberikan es krim pada Regan, karena Regan menderita penyakit asma bawaan. Selain itu, fungsi pencernaan Regan tidak begitu baik sejak dia kecil. Dokter pengobatan tradisional mengatakan bahwa Regan harus menghindari makanan manis dan dingin.
Vanesa hendak menjelaskan pada Regan, tetapi Steven sudah lebih dulu berkata, "Ibu nggak akan marah padamu."
Nada bicara Steven terdengar sangat yakin, sama sekali tidak merasa Vanesa akan membantah.
Bulu mata Vanesa bergetar, sementara dia diam-diam mengatupkan bibirnya.
Regan menatap Vanesa, lalu bertanya, "Ibu, apa kamu benar-benar nggak marah?"
Vanesa tersenyum simpul pada Regan. "Tentu saja Ibu nggak marah."
"Kalau begitu, bisakah Ibu menemaniku hari ini?" Regan berbicara dengan nada yang makin sedih serta mata yang memerah, "Aku merasa nggak enak badan, aku ingin makan bubur buatan Ibu."
Vanesa ragu sebentar, lalu mengangguk. "Baiklah."
…
Setelah Regan diperiksa oleh dokter, ternyata tenggorokannya meradang. Dokter memberikan resep obat, menyarankan agar Regan makan makanan yang ringan, banyak minum air, serta istirahat yang cukup di rumah.
Setelah kembali ke Mansion Resta, Steven menggendong Regan naik untuk beristirahat.
Sementara itu, Vanesa pergi ke dapur untuk memasak bubur.
Setengah jam kemudian, Vanesa membawa bubur yang sudah matang naik.
Pintu kamar anak setengah terbuka, membuat suara Regan bisa terdengar.
"Ibu, kamu jangan khawatir. Dokter mengatakan kalau aku akan langsung sembuh setelah minum obat .... Ini bukan salah Ibu. Kalau bukan Ibu yang membelikan es krim, aku nggak akan tahu kalau es krim ternyata enak sekali .... Ada juga biskuit, keripik, serta permen lolipop yang begitu lezat! Aku belum pernah memakan camilan sebanyak ini sebelumnya!"
Gerakan Vanesa yang hendak mendorong pintu berhenti sejenak.
Regan masih melanjutkan kata-katanya.
"Ibu Vanesa nggak akan marah. Dia hanya akan merasa kasihan padaku saat mengetahui aku sedang sakit. Sekarang dia sedang memasakkan bubur untukku di bawah! Ibu, Ibu sedang nggak sehat, jadi beberapa hari ini aku nggak akan pergi ke tempat Ibu. Aku takut Ibu akan tertular .... Ibu nggak perlu mengkhawatirkanku. Ibu Vanesa akan merawatku dengan baik!"
Vanesa berdiri di luar pintu, sementara tangannya yang memegang nampan tampak sedikit mengencang.
Hanna ternyata memberikan Regan begitu banyak makanan tidak sehat!
Yang lebih tidak Vanesa duga, hubungan Regan dan Hanna sudah sedekat ini dalam beberapa hari saja ....
Vanesa tahu dia tidak berhak merasa keberatan. Namun, saat melihat anak yang dibesarkannya dengan sepenuh hati berulang kali memanggil Hanna 'Ibu', hati Vanesa tidak bisa tidak merasa perih.
Darah memang lebih kental dari air. Tak peduli seberapa tulusnya Vanesa memperlakukan Regan, itu tetap tidak bisa mengalahkan ikatan darah.
Dari awal hingga akhir, Vanesa hanya orang luar.
…
Ketika Regan selesai berbicara dengan Hanna, dia baru mengingat Vanesa.
Dia berteriak dari dalam kamar, tetapi Vanesa tidak menjawab.
Akhirnya, Regan turun sendiri ke dapur untuk mencarinya.
Namun, tidak ada siapa pun di dapur.
Ketika Regan melangkah keluar dari dapur, dia melihat ada sepiring bubur di atas meja makan.